Anda di halaman 1dari 2

FRINGE BENEFIT

Dasar Hukum
Fringe Benefit Latar Belakang
• Pasal 4 ayat (3) huruf d UU PPh • Dimunculkan dalam UU PPh tahun 2000 dimana tarif PPh Badan dan PPh
-> Dikecualikan dari Objek Pajak PPh OP sama besar
(Kecuali diberikan oleh Non WP, WP yang menggunakaan tarif • Memindahkan beban PPh dari karyawan ke pemberi penghasilan.
final, atau WP dengan penghitungan deemed/norma) • Dengan perubahan tarif PPh seperti saat ini, pergeseran pengenaan PPh
• Pasal 9 ayat (1) huruf e UU PPh atas imbalan berupa natura atau kenikmatan ke sisi Wajib Pajak pemberi
-> Tidak bisa dijadikan biaya/pengurang penghasilan penghasilan menjadi kurang relevan dengan kondisi saat ini
Isu
• Dalam prakteknya, pemberian fringe benefit dapat disalahgunakan pihak yang tidak berhak (Pemberian kepada komisaris/pemegang
saham)
• Terdapat kecenderungan potential tax loss (Perbedaan tarif PPh, dimana Tarif PPh Badan < PPh OP)
• Ada kecenderungan bagi perusahaan untuk membayarkan dividennya dalam bentuk fringe benefit sebagai bentuk upaya tax saving
• Pengenaan PPh-nya sangat tergantung dengan performa laporan keuangan pemberi kerja (WP Badan Rugi maka natura tidak dipajaki).
• Fringe benefit seperti dalam UU PPh akan dapat dijadikan sebagai salah satu pintu Tax Planning.
Alternatif
1. Pengenaan pajaknya dikembalikan kepada pihak yang seharusnya menanggung PPhnya, dalam hal ini adalah karyawan yang
menikmati tambahan kemampuan ekonomis akibat pemberian fringe benefit tersebut.
2. Pengenaan pajaknya dibebankan kepada karyawan, namun dalam hal pengeluaran fringe benefit tersebut tidak mudah diatribusikan
secara tepat kepada pihak karyawan maka pengenaan pajaknya dibebankan kepada pihak pemberi kerja.
3. Pengenaan pajaknya tetap berada di pihak pemberi kerja namun pengenaan pajaknya dipisahkan dari pengenaan PPh atas laba usaha
pemberi kerja (Tarif berbeda bagi pemberian natura).
4. Dilakukan pembatasan fringe benefit yang diberikan oleh pemberi kerja.
5. Apabila penerima fringe benefit selain karyawan/pegawai perusahaan, maka diusulkan merupakan objek pajak dan tidak boleh
dibebankan sebagai biaya pada perusahaan. Untuk natura kepada Pemegang saham, dianggap penghasilan dividen.