Anda di halaman 1dari 35

PCC DAN OBAT-OBAT ILEGAL

20 NOVEMBER 2017
DISKUSI PUBLIC BERSAMA HIMAFARMA
“LARI KE BAWAH”
MATERI
A Pendahuluan

B PCC dan Obat ilegal

C Tinjauan hukum kasus PCC dan obat ilegal

D Peran apoteker

E Penutup
A. PENDAHULUAN
KENDARI
12 september 2017
• Ditemukan puluhan korban diduga menggunakan PCC
• Pasien hilang kesadaran, kejang dan meninggal dunia
Tanggal 13 sept 2017
• 50 orang korban PCC dibawa ke rumah sakit, 1 orang meninggal

Data terbaru
• Jumlah korban 76 orang, 1 meninggal dunia
TEMUAN DI WILAYAH LAIN

Kepulauan Riau (Kompas, 16 september 2017)


• 12 ton serbuk DMP, THP dan Carisoprodol di Bintan yang dikirim dari Batam.
• Telah ditangkap 3 tersangka, 1 orang merupakan Apoteker (MR) yang membeli serbuk
obat dari India.
• Rencananya bahan obat tersebut akan dikirim ke Jakarta.
Papua Barat (Antaranews.com, 19 September 2017)
• 90 kemasan PCC (total 896) butir disita dari 2 pelaku di Kaimana, Papua barat

Purwokerto (detiknews.com, 19 september 2017


• Ditemukan sebuah Ruko diduga pabrik PCC, terdapat 3 mesin cetak, mesin pencampur,dan
pengering pil)
• Ditemukan tramadon, trihex, kafein dan zenith
TEMUAN DI WILAYAH LAIN (2)
Makassar (Kompas.com, 18 September 2017)
• Ditemukan 29 ribu butir PCC di PBF pada tanggal 15 September 2017.
• Terdapat 5 apotek yang dicurigai menjual PCC.
• PCC yang didapatkan dari pasar Pramuka Jakarta akan diedarkan ke Sulawesi Barat,
Sulawesi Tenggara dan Papua.
Banjarmasin (tribunnews.com, 19 September 2017)
• 12 juta butir sediaan farmasi ilegal (Carnophen, Trihexylphenidil, tramadol, seledryl)

Surabaya (Kompas.com, 19 September 2017)


• Ditemukan 1,2 juta tablet PCC

Cimahi (Kompas.com, 18 September 2017)


• Ditemukan pabrik PCC
PRESS RELEASE PP IAI

• KLB (KEJADIAN LUAR BIASA) PIL PCC DAN DITANGKAPNYA SEJAWAT APOTEKER DI
KENDARI ADALAH 2 (DUA) KEJADIAN YANG BERBEDA
• KLB PIL PCC DENGAN PULUHAN KORBAN DAN 1 MENINGGAL KARENA PIL PCC
YANG DI DAPAT DARI JALUR ILEGAL
• DI APOTEK QQ DITEMUKAN PETUGAS MENYAMAR OBAT TRAMADOL PRODUKSI
PROMED YG TELAH DITARIK IJIN EDAR NYA + SIA, SIPA DAN SERTIFIKAT KOMPETENSI
DARI APOTEKER SUDAH KADALUARSA
•  SETELAH ITU BERITA SIMPANG SIUR
• TIM ADVOKASI SUDAH DITURUNKAN OLEH PP IAI
B. PCC DAN OBAT ILEGAL

PCC
Kepanjangan Paracetamol, Carisoprodol, Caffeine (Nama paten: Somadril Compositum)

Indikasi Relaksasi otot (muscle relaxant)

Efek samping Jika dikonsumsi menghasilkan metabolit MEPROBAMAT yang bersifat


tranquilizer/penenang, ketergantungan

Izin Edar Dicabut BPOM sejak tahun 2013 karena ada resiko tinggi
penyalahgunaan dalam dosis besar efek nge “Fly”

Obat ilegal adalah obat yang diproduksi, disimpan atau dikonsumsi tidak
sesuai peruntukan & peraturan perundang-undangan.
•Tanpa izin produksi
•Dikonsumsi tidak sesuai •Kandungan tdk sesuai
PRODUKSI •Palsu produk
aturan
•Kemas ulang

PENGGUNAAN
MO PEREDARAN

•Tanpa izin edar · Palsu SP


PENYIMP •Beli tnp resep · Jual tnp resep
•Simpan / miliki tanpa izin ANAN
11
•Palsu resep · Jual obat rehab
ALPRAZOLAM KLONAZEPAM
• Alprazolam ·Alganax • Riklona
• Zypraz ·Xanax

DIAZEPAM TRIHEXYPHENIDYL

• Valium • Hexymer / obat kuning


• Diazepam

TRAMADOL HCI DEXTROMETHORPHAN

• Tramadol • Komix 12
1. Sakaw : sakit karena lagi 'nagih'. 26. Selinting : 1 batang rokok/ganja.
2. BD : sebutan untuk bandar 27. Inex : Ecstasy.
narkoba. 28. Amphet : amphetamine
3. Parno : paranoid karena ngedrugs. 29. Snip : pakai putauw lewat hidung
4. Junkies : sebutan untuk pecandu. (dihisap).
5. Relaps : kembali lagi ngedrugs 30. Ngedrag : baker putauw diatas timah.
karena 'rindu'.
6. Bong : alat mengisap shabu. 31. Bokul : beli barang.
7. O-de : over dosis. 32. Gepang : punya putauw/ heroin.
8. PT : sebutan lain putauw 33. Gitber : giting berat/mabok berat.
(heroin). 34. Spirdu : sepaket berdua.
9. Ngubas atau nyabu : pakai shabu-shabu. 35. Betrik : dicolong/ nyolong.
10. Bedak/etep putih : sebutan lain putauw/heroin.
11. Wakas : ketagihan. 36. Koncian : simpanan barang.
12. Pakauw : pakai putauw. 37. BB : barang bukti.
13. Kipe/cucauw/nyipet/ ngecam : 38. Coke : kokain.
nyuntik/memasukan obat ke tubuh. 39. Jokul : jual.
14. Pedauw/badai : teler/mabok 40. Bokauw : bau.
15. Ubas : shabu.
16. Kertim : kertas timah. 41. Kurus : kurang terus.
17. Afo : aluminium foil. 42. Gantung : setengah mabok.
18. Bhironk : orang Nigeria/pesuruh. 43. BT/snuk : pusing/ buntu.
19. Insul/spidol : alat suntik. 44. Boat/ boti : obat.
20. Paket/pahe : pembelian heroin/putauw 45. Abses : salah tusuk urat/bengkak.
dalam jumlah terkecil.
21. Gauw : gram. 46. KW : kualitas.
22. Sperempi : ¼ gram. 47. Mupeng : muka pengen.
23. Setangki : ½ gram. 48. Pyur : murni. 13
24. Giber/giting/gonjes : mabok/teller. 49. BT : Bad Trip (halusinasi yang
25. Hawai/cimeng/rasta/ serem).
ulah/gele/buda/stik : ganja. 50. Teken : minum obat/pil/kapsul.
C. TINJAUAN HUKUM

1. Tiga Asas Norma Hukum :


a.Lex superior derogat legi inferior (norma hukum yang lebih tinggi kedudukannya harus
diutamakan daripada norma hukum yang lebih rendah kedudukannya).

b. Lex specialis derogat legi generalis (norma hukum yang bersifat khusus harus
diutamakan daripada norma hukum yang lebih umum sifatnya).

c.Lex posterior derogat legi priori (norma hukum yang terbaru keberadaannya harus
diutamakan daripada norma hukum yang terdahulu keberadaannya).
a. Pasal 111 UU RI No. 35 Th 2009 :
Ayat 1 : stiap orang tnp hak / melawan hukum menanam, memelihara,
memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan narkotika gol I bentuk
tanaman

Plg singkat : 4 th Plg sedikit : 800 jt


Plg lama : 12 th Plg byk : 8 miliar

Pasal 111 UU RI No. 35 Th 2009 :


Ayat 2 : dlm hal perbuatan menanam, memelihara, memiliki, menyimpan,
menguasai / menydiakan narkotika gol I bentuk tanaman lbh dr 1 Kg atau 5
batang pohon
Seumur hidup
Maksimum : 8 miliar 15
Plg singkat : 5 th
+ 1/3
Plg lama : 20 th
b. Pasal 112 UU RI No. 35 Th 2009 :
Ayat 1 : stiap orang tnp hak / melawan hukum memiliki, menyimpan,
menguasai atau menyediakan narkotika gol I bukan tanaman

Plg singkat : 4 th Plg sedikit : 800 jt


Plg lama : 12 th Plg byk : 8 miliar

Pasal 112 UU RI No. 35 Th 2009 :


Ayat 2 : dlm hal perbuatan memiliki, menyimpan, menguasai / menydiakan
narkotika gol I bukan tanaman lbh dr 5 gram

Seumur hidup
Maksimum : 8 miliar 17
Plg singkat : 5 th
+ 1/3
Plg lama : 20 th
b. Pasal 114 UU RI No. 35 Th 2009 :
Ayat 1 : stiap orang tnp hak / melawan hukum menawarkan utk dijual,
menjual, membeli, menerima, mjd perantara dalam jual beli, menukar, atau
menyerahkan narkotika gol I

Plg singkat : 5 th Plg sedikit : 1 miliar


Plg lama : 20 th Plg byk : 10 miliar

Pasal 114 UU RI No. 35 Th 2009 :


Ayat 2 : dlm hal perbuatan menawarkan utk dijual, menjual, membeli,
menerima, mjd perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan
narkotika gol I bentuk tanaman lbh dr 1 Kg / 5 batang pohon atau bkn
tnaman 5 Gram
Mati,Seumur hidup
Maksimum : 10 miliar 18
Plg singkat : 6 th
+ 1/3
Plg lama : 20 th
i. Pasal 127 ayat (1) UU RI No. 35 Th 2009 :
a. Narkotika gol I bagi diri sendiri. Pidana plg lama 4 th
b. Narkotika gol II bagi diri sendiri. Pidana plg lama 2 th
c. Narkotika gol III bagi diri sendiri. Pidana plg lama 1 th

Pasal 127 ayat (3) UU RI No. 35 Th 2009 :


Ayat 3 : dlm hal penyalahguna dimksd ayat (1) dpt dibuktikan / terbukti sbg
korban lahgun narkotika, penyalahguna tsb wajib menjalani rehabilitasi
medis & rehabilitasi sosial.

19
a. Golongan I : b. Golongan II :
1. Brolafetamina 1. Amfetamina
2. Etisklidina 2. Deksamfetamina
3. …. 3. …
26. Tenosiklidina 60. Vinilbital

c. Golongan III : d. Golongan IV :


1. Amobarbital 1. Allobarbital
2. Buprenorfina 2. Alprazolam
3. … 3. …
4. Siklobarbital 16. Etklorvinol
20
Pasal 59 ayat (1) UU RI No. 5 Tahun 1997 :
a. Psikotropika Gol I bagi diri sendiri.
b. Memproduksi / menggunakan dlm proses produksi psikotropika Gol I
c. Mengedarkan Psikotropika Gol I
d. Mengimpor Psikotorpika Gol I selain utk kepentingan ilmu pengetahuan
e. Tanpa hak memiliki, menyimpan dan atau membawa Psikotropika Gol I

Plg singkat : 4 th Plg sedikit : 150 jt


Plg lama : 15 th Plg byk : 750 jt

21
Pasal 62 UU RI No. 5 Tahun 1997 :
tanpa hak, memiliki, menyimpan dan atau membawa psikotropika

Plg lama : 5 th Max : 100 jt

Pasal 69 UU RI No. 5 Tahun 1997 :


Percobaan atau perbantuan untuk melakukan tindak pidana psikotropika dipidana
sama dengan jika tindak pidana tersebut dilakukan

Plg lama : 5 th Max : 100 jt


23
Pasal 71 UU RI No. 5 Tahun 1997 :
Ayat (1) : bersekongkol atau bersepakat untuk melakukan, melaksanakan,
membantu, menyuruh turut melakukan, menganjurkan atau mengorganisasikan
suatu tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, Pasal 61, Pasal 62,
atau Pasal 63 dipidana sebagai permufakatan jahat

Pasal 71 UU RI No. 5 Tahun 1997 :


Ayat (2) : Pelaku tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana

Ditambah 1/3

24
Pasal 196 UU RI No. 36 Th 2009 :
Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan
farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan/atau
persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan mutu

Plg lama : 10 th Max : 1 miliar

Pasal 197 UU RI No. 36 Th 2009 :


Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan
farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar

Plg lama : 15 th Max : 1,5 miliar


25
Pasal 198 UU RI No. 36 Th 2009 :
Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukan
praktik kefarmasian

Max : 100 juta

26
D. PERAN APOTEKER MENCEGAH PEREDARAN
OBAT ILEGAL
Produksi
• Memastikan bahwa obat yang diproduksi telah mendapatkan izin edar.

Distribusi
• Memastikan bahwa pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat dilakukan sesuai
dengan standar, diantaranya bahwa obat yang disalurkan memiliki izin edar, dan diproduksi
oleh industri farmasi yang memiliki izin sesuai ketentuan yang berlaku
Pelayanan
• Menjaga etika profesi
• Melaksanakan standar pelayanan
• Mengikuti peraturan terkait dengan perizinan
• Memberikan edukasi pada masyarakat terkait penggunaan obat yang benar
• Memastikan obat yang layani adalah obat yang memiliki izin edar
E. PENUTUP

• BAHWA PELAYANAN KEFARMASIAN OLEH APOTEKER MENJADI KATA KUNCI BAGI PELAYANAN
KEFARMASIAN YANG MELINDUNGI MASYARAKAT DAN MENINGKATKAN KESELAMATAN PASIEN.
• ORGANISASI PROFESI PERLU MENGUATKAN KEMBALI PENERAPAN STANDAR DAN ETIKA
PROFESI SELURUH ANGGOTANYA DALAM RANGKA MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN.
• KERJASAMA LINTAS SEKTOR ANTARA KEMENTERIAN KESEHATAN, KEMENTERIAN DALAM
NEGERI, BADAN POM, ORGANISASI PROFESI, PENEGAK HUKUM, DAN MASYARAKAT PERLU
DITINGKATKAN DALAM RANGKA PERLINDUNGAN MASYARAKAT DARI PEREDARAN SEDIAAN
FARMASI ILEGAL.
DOKUMENTASI
• AZKA : DOSIS PCC MENYEBABKAN KEJANG?
ADAKAH CARA TERTENTU MEMBEDAKAN OBAT BIASA DAN ILLEGAL?
• EDWIN : SIKAP KITA SAAT ADA KONSUMEN YANG MENCURIGAKAN
NOOR : SUDAH ADAKAH FOLLOW UP IAI
• APOTEKER YANG MENJUAL BEBAS OBAT SEPERTI TRAMADOL