Anda di halaman 1dari 187

PENULISAN RESEP

dr. Adi Arianto, M. Biomed


1
Enam langkah rutin terapi/pemberian obat:

• Tentukan masalah pasien


• Tentukan tujuan pengobatan
• Memilih obat dan menentukan kecocokan obat
untuk pasien
• Tulis resep yang benar
• Beri informasi obat dan instruksi pemakaian obat
pada pasien
• Monitor dan / atau hentikan pengobatan

2
FILOSOFI RESEP

• Filosofi dasar peresepan menurut Bernhard


Fantus menyatakan bahwa resep adalah kunci
dari seluruh upaya terapi seorang dokter kepada
pasiennya.
• Resep dibuat berdasarkan pada diagnosis (yang
didasarkan pada patofisiologi) dan prognosis
kasus di satu sisi, serta pengetahuan
Farmakologi dan Terapi seorang dokter di sisi
lainnya.
3
• Penulisan resep adalah langkah yang
dilakukan dokter untuk penderitanya
setelah melakukan anamnesis,
menegakkan diagnosis dan prognosis
serta memutuskan bahwa diperlukan
terapi farmakologis.

4
• Terapi farmakologis dapat bersifat
profilaktik, simtomatik, atau kausal dan
diwujudkan dalam bentuk resep.

5
Tujuan Pembelajaran

Mampu
memberikan obat &
menulis resep yang
baik dan rasional
6
• Motto yang harus diingat dalam
farmakoterapi adalah 4T1W:
1. Tepat obat
2. Tepat dosis
3. Tepat bentuk sediaan obat (disingkat:
BSO)
4. Tepat signatura/cara pakai
5. Waspada efek samping
7
PENGERTIAN RESEP
• Resep adalah suatu permintaan tertulis
dari dokter, dokter gigi, atau dokter
hewan yang diberi ijin berdasarkan
peraturan perundang-udangan yang
berlaku kepada apoteker untuk
menyediakan dan menyerahkan obat-
obatan bagi penderita.

8
• Menurut undang-undang, yang
dibolehkan menulis resep adalah :
• dokter umum
• dokter spesialis
• dokter gigi
• dokter hewan.

9
• Pada prinsipnya resep adalah bentuk
komunikasi antara dokter dan apoteker,
maka prinsip dasar komunikasi berlaku
dalam penulisan resep yaitu kejelasan
informasi dari dokter sehingga dapat
dipahami oleh apoteker.

10
• Menurut cara peracikan obat maka resep
dibagi atas formula magistralis dan
officinalis
• Pada resep formula magistralis atau
dikenal juga sebagai resep racikan, resep
disusun sendiri oleh dokter.

11
• Pada resep dengan formula officinalis
dokter meresepkan obat standar sesuai
buku pedoman obat, macam obat terbatas
dengan BSO sederhana.

12
Pemilihan obat
Faktor penderita
keadaan, umur,
kondisi sosial ekonomi
penderita

Pertimbangan pemilihan Faktor penyakit 


bentuk sediaan obat Tujuan pengobatan,
(BSO) berat-ringan penyakit,
lokasi.

Faktor obat  Sifat


fisikokimiawi obat, rasa
obat
13
Kriteria resep yang rasional menurut
WHO
1. Jumlah obat setiap datang maksimal 2.
2. Nama generik digunakan pada semua obat
(100%).
3. Peresepan antibiotika <30% dari semua
peresepan.
4. Peresepan obat injeksi <20% dari semua
peresepan.
5. Peresepan obat esensial/formularium pada
semua obat (100%).

14
Penulisan resep LENGKAP

• Penulisan resep yang lengkap harus terdiri dari:


1. Inscriptio  nama dokter, alamat, SIP, kota, tanggal, R/
(recipe)
2. Prescriptio  nama obat, bentuk obat, jumlah obat, cara
pembuatan (kalo racikan), dll
3. Signatura  cara pemakaian, BSO, jumlah obat, waktu
minum
4. Pro  nama pasien, umur, BB (terutama anak2), alamat
5. Subscriptio  paraf atau tanda tangan

15
Ketentuan dan kaidah penulisan resep yang benar

1. Secara hukum dokter yang menandatangani


suatu resep bertanggungjawab sepenuhnya
tentang resep yang ditulisnya untuk penderita.
2. Resep ditulis sedemikian rupa sehingga
dapat dibaca oleh apoteker tanpa keraguan.
3. Resep ditulis dengan tinta sehingga tidak mudah
terhapus.
4. Tanggal resep dituliskan harus tertera dengan
jelas.

16
• Umur penderita harus dicantumkan dengan jelas,
terutama pada anak. Ini penting bagi apoteker untuk
mengkalkulasi apakah dosis obat yang ditulis pada
resep sudah cocok dengan umur si anak.
• Di bawah nama penderita hendaknya dicantumkan
alamatnya. Hal ini penting dalam keadaan darurat
(misalnya salah obat) sehingga penderita dapat
langsung dihubungi.
• Alamat penderita pada resep juga akan mengurangi
kesalahan/tertukarnya pemberian obat bila penderita
dengan nama yang kebetulan sama.

17
• Untuk jumlah obat yang diberikan dalam resep,
hindarilah menggunakan angka desimal untuk
menghindari kemungkinan kesalahan. Contoh: Untuk
obat yang diberikan dalam jumlah kurang dari satu gram
maka ditulis dalam miligram; misalnya jika obat diberikan
setengah gram maka ditulis 500 mg (bukan 0,5 gram).
• Untuk obat yang dinyatakan dengan satuan Unit jangan
disingkat menjadi U.

18
• Untuk obat atau jumlah obat berupa
cairan, dinyatakan dengan satuan ml,
hindari menulis satuan cc atau cm3.

19
Komponen resep dan penulisan resep pada
keadaan tertentu

I. INSCRIPTIO
• Identitas dokter: Nama, alamat dan nomor izin
praktek dokter. Dapat dilengkapi dengan nomor
telepon, jam praktek serta hari praktek.
• Nama kota & tanggal penulisan resep.
• Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan
resep. Tanda ini adalah singkatan dari recipe
yang berarti ”harap diambil”.
• Ctt: Sebagian literatur menggolongkan tanda R/ sebagai
superscriptio (terpisah dari inscriptio).
• 20
II. PRAESCRIPTIO
• Inti resep dokter atau komposisi berisi:
Nama setiap jenis/bahan obat, dan jumlah
bahan obat (mg, g, ml, l) dengan angka
Arab. Untuk penulisan jumlah obat dalam
satuan biji (tablet, kapsul, botol) dalam
angka Romawi.

21
Jenis/bahan obat dalam resep terdiri dari:

– Remedium cardinale: obat pokok yang mutlak harus


ada, dapat berupa bahan tunggal atau beberapa
bahan.
– Remedium adjuvans: bahan yang membantu kerja
obat pokok, tidak mutlak ada dalam tiap resep.
– Corrigens: bahan untuk memperbaiki rasa (corrigens
saporis), warna (corrigens coloris) atau bau obat
(corrigens odoris).
– Konstituens atau vehikulum: bahan pembawa,
seringkali perlu terutama pada formula magistralis.
Misalnya konstituens obat minum umumnya air.

22
• Perintah pembuatan bentuk sediaan obat
yang dikehendaki, misalnya f.l.a. pulv =
fac lege artis pulveres = buatlah sesuai
aturan, obat berupa puyer.

23
III. SIGNATURA
• Aturan pemakaian obat (frekuensi, jumlah
obat dan saat obat diminum, informasi
lain), umumnya ditulis dengan singkatan
dalam bahasa Latin. Aturan pakai ditandai
dengan signa yang disingkat dengan S.

24
• Identitas pasien di belakang kata Pro:
Nama pasien, umur, alamat lengkap. Bila
penderita seorang anak harus ditulis
umurnya.
• Bila resep untuk orang dewasa
dicantumkan Tuan/Nyonya/Bapak/Ibu
diikuti nama penderita dan umurnya.

25
IV. SUBSCRIPTIO
• Tanda tangan atau paraf dokter penulis
resep untuk menjadikan suatu resep
otentik.
• Resep obat dari golongan narkotika harus
dibubuhi tandatangan dokter, tidak cukup
dengan paraf saja.

26
• Resep yang mengandung obat
golongan narkotika:
• Tidak boleh ada tanda iter (iterasi), m.i
(mihi ipsi), dan u.c (usus cognitus).
Mihi ipsi artinya untuk pemakaian
sendiri.
• Resep tidak boleh diulang, harus
dengan resep asli, resep baru.

27
• Resep yang perlu penanganan segera:
• CITO (segera)
• STATIM (penting)
• URGENT (sangat penting)
• PIM (periculum in mora = berbahaya bila ditunda)
• Urutan yang didahulukan: PIM, Urgent, Statim, dan
Cito
• Penulisan tanda segera di atas digarisbawahi dan
diberi tanda seru, kemudian diparaf/tandatangan di
belakang Cito (CITO! paraf).

28
Contoh resep formula magistralis
dr. Aliya Mustika
SIP No. 228/DKK/2002 inscriptio

Jl. Perintis Kemerdekaan 19, Padang, Telp. 714656


Praktek tiap hari kerja (Jam 16.00-‐20.00)
inscriptio Padang, 5 Agustus 2015

m.f. pulv. dtd. No. XV da in cap

S.t.d.d. cap1 p.c.


subscriptio

Pro : Tn. Marzuki

Umur : 30 tahun
Alamat
: Jl. Abdul Muis 23 Jati, Padang
signatura

29
Contoh resep formula officinalis

dr. Aliya Mustika


SIP No. 228/DKK/2002

Jl. Perintis Kemerdekaan 19, Padang, Telp. 714656


Praktek tiap hari kerja (Jam 16.00-‐20.00)
Padang, 5 Agustus 2015

R/ Tetracyclin cap 250 mg No. XX

S.q.d.d. cap.1 p.c.

R/ Paracetamol tab No. X


500 mg
S.p.r.n. tab.1 max.t.d.d

Pro : Tn. Marzuki

Umur : 30 tahun
Alamat
: Jl. Abdul Muis 23 Jati, Padang

30
dr. A
Jalan Kenari 50 Jakarta
SP/SIP.01/DU/19xxx Tilp/Hp. 0816xxx

Jkt, tgl 29 Desember 2006


R/
Parasetamol 100 mg
Phenobarbital 10 mg
SL qs

Mfla pulv dtd No X S 3 dd pulv I

Nama pasien : by B Umur : 11 bln


Alamat : jl Gatutkaca No. 01 Jkt

31
Nama dokter Alamat SP/SIP
Identitas Dokter Tilp/Hp

................., tgl....................
Obat R/
Superscriptio Remidium cardinale ................................ 10 mg
Inscriptio/prescriptio (obat pokok)
Remidium adjuvan .................................. 2 mg
Subscriptio (obat tambahan)
Corrigens (vehiculum) ............................ qs (mengubah
Signatura rasa/bau/aroma obat,zat pembawa)
Mfla............................................................. No ......
(perintah pembuatan bentuk sediaan obat)
S ...................................................................................
(tandailah)
Paraf/tanda tangan

Nama pasien Umur Alamat


Identitas Pasien

32
Pedoman penulisan resep dokter

• Ukuran blangko resep (lebar 10-‐12 cm, panjang


15-‐18cm).
• Penulisan nama obat:
– Dimulai huruf besar.
– Ditulis secara lengkap atau dengan singkatan
resmi (menurut Farmakope Indonesia atau
nomenklatur Internasional), misal Asetosal
atau disingkat Ac.salic.

33
• Penulisan jumlah obat:
– Satuan berat : mg, g
– Satuan volume/ unit : ml, l, UI
– Penulisan jumlah obat dlm satuan biji : Romawi
– Penulisan alat penakar : C = sendok makan (15 ml)
– Cth = sendok teh (5 ml)

34
• Penulisan jadwal dosis/aturan pemakaian:
– Ditulis secara benar.
– Pemakaian yang rumit ditulis dengan S.U.C (signa usus
cognitus = pemakaian diketahui).

35
• Setiap selesai penulisan resep diberi tanda penutup
berupa garis penutup atau tanda pemisah diantara dua
R/ dan paraf atau tanda tangan.
• Penulisan tanda iter (iteretur) dan N.I (Ne Iteretur)
disebelah kiri atas dari resep apabila diulang/tidak
diulang seluruhnya. Bila tidak semua resep diulang,
maka ditulis dibawah setiap resep. Demikian juga untuk
N.I.

36
• Tanda Cito atau PIM (resep segera dilayani)
dituliskan disebelah kanan atas.

37
Tepat Dosis
• Dosis yang lazimnya menyembuhkan.Tercantum
Dosis lazim dalam literatur

• Dosis yang tertulis dalam resep. Dipengaruhi


berat ringannya penyakit dan kondisi penderita
Dosis terapi (Dosis geriatri umumnya lebih kecil dari dosis
dewasa; Dosis bayi lebih kecil dibandingkan
dosis anak

Perhatikan Dosis • Dosis maksimum yang dapt diberikan tanpa


menimbulkan bahaya.
Maksimum: • Terdapat dalam farmakope indonesia.

• Adalah dosis pemakaian sekali, per oral untuk


Dosis yang dewasa.
tercantum dalam • Kalau yang dimaksud bukan dosis tersebut diatas
harus denganketerangan yang jelas. Misalnya
resep pemakaian sehari, dosis anak, dosis perinjeksi,
dll. 38
Dosis Maksimum Anak
Untuk DM anak tidak • DM anak dihitung dengan membandingkan
terdapat dalam literatur. kebutuhan anak terhadap DM dewasa.

• Young : n/(n+12) x DM dewasa n= umur


dalam tahun
Rumus • Fried : m/150 x DM dewasa m= umur dalam
bulan
• Clark ; w/70 x DM dewasa w = berat badan
anak dalam kg

• Obat yang mempunyai cara perhitungn


tersendiri untuk anak : obat sulfa dan antibiotik
Rumus tersebut tidak • Obat yang sensitif untuk anak (morfin dan obat
berlaku untuk obat bius lainnya, laksansia kuat)
berikut • Obat dimana anak lebih tahan ( phenobarbital
dan barbiturat lainnya, cloral hidrat, belladona
extract,atropin)
39
Tepat Cara Pemberian Obat
Agar efek pengobatan sesuai yang
diinginkan

Peroral: tablet salut enterik, tablet


kunyah,Tablet effervescent,Tablet
bukal & sublingual, Prolonged action
tablet, tablet suppositoria

Parenteral, Rektal,Topikal,Inhalasi

40
Tepat Waktu Pemberian Obat

Agar mendapat efek yang p.c = lambung berisi, utk obat


optimal, Efek samping minimal, yang merangsang lmukosa
Tidak mengganggu kebiasaan ambung, obat yagn
pasien menyebabkan mual

d.c = saat makan, untuk obat


yang mempengaruhi a.c = lambung kosong
pencernaan makanan (pepsin,
vitamin)

41
Formula Resep
• Resep yang formula obatnya disusun sendiri oleh
dokter penulis resep dan menentukan dosis serta
Magistralis BSO sendiri sesuai penderita yang dihadapi.
(racikan • Untuk dapat menyusun ini dokter harus memahami sifat
obat, mengetahui obat tak tercampurkan dan berusaha
sendiri) untuk menghindari

• Resep dimana obatnya adalah buatan suatu industri


Specialitis atau komposisinya telah ditentukan oelh industri
(Obat • Obat yang ditulis dengan nama dagang tidak boleh
Paten) diganti dengan obat lain, bila boleh diganti tuliskan
loco” dibelakang nama dangang (loco = substitusi)

Officinalis • Resep dimana obatnya/komposisi telah ternantum


dalam buku resmi.
42
Seni menulis resep
Tentukan obat yang diberikan

Mencari dosis lazim seseuai


umur/BB penderita

Mencari DM

Menentukan DT sesuai berat


ringannya penyakit.
Penulisan resep : bahasa latin,
bahasa indonesia, campuran
43
Aturan dosis (dosis dan jadwal pemberian)
obat

• DOSIS
• Dosis yang ideal adalah dosis yang diberikan per
individual. Hal ini mengingat bahwa respon penderita
terhadap obat sangat individualistis.
• Penentuan dosis perlu mempertimbangkan:
1) kondisi pasien (seperti: umur, berat badan, fisiologi dan fungsi
organ tubuh)
2) kondisi penyakit ( akut, kronis, berat/ringan)
3) Indeks terapi obat (lebar/sempit)
4) variasi kinetik obat
5) cara/rumus perhitungan dosis anak ( pilih yang paling teliti)

44
• Perhitungan dosis pada anak secara ideal
menggunakan dasar ukuran fisik (berat badan
atau luas permukaan tubuh).
• Apabila dosis anak dihitung dengan
perbandingan dengan dosisi dewasa, yaitu
dengan memakai rumus perhitungan dosis anak
(antara lain Young, Clark), maka perlu
diperhatikan tentang ketelitian dari rumus yang
dipakai.

45
• JADWAL PEMBERIAN
• Jadwal pemberian ini meliputi frekuensi,
satuan dosis per kali dan saat/waktu
pemberian obat. Dalam resep tertuang
dalam unsur signatura.

46
• FREKUENSI
• Frekuansi artinya berapa kali obat yang
dimaksud diberikan kepada pasien. Jumlah
pemberian tergantung dari waktu paruh obat,
BSO, dan tujuan terapi.
• Obat anti asma diberikan kalau sesak (p.r.n)
namum bila untuk menjaga agar tidak terjadi
serangan asma dapat diberikan secara teratur
misal 3 x sehari (t.d.d).

47
• SAAT/WAKTU PEMBERIAN
• Hal ini dibutuhkan bagi obat tertentu supaya dalam
pemberiannya memiliki efek optimal, aman dan mudah
diikuti pasien.
• Misal: Obat yang absorbsinya terganggu oleh makanan
sebaiknya diberikan saat perut kosong 1/2 – 1 jam
sebelum makan (1/2 – 1 h. a.c), obat yang mengiritasi
lambung diberikan sesudah makan (p.c) dan obat untuk
memepermudah tidur diberikan sebelum tidur (h.s), dll.

48
• LAMA PEMBERIAN
• Lama pemberian obat didasarkan perjalanan penyakit
atau menggunakan pedoman pengobatan yang sudah
ditentukan dalam pustaka/RS.
• Misalkan pemberian antibiotika dalam waktu tertentu (2
hari setelah gejala hilang untuk menghindari resistensi
kuman, obat simtomatis hanya perlu diberikan saat
simtom muncul (p.r.n), dan pada penyaklit kronis (misal
asma, hipertensi, DM) diperlukan pemberian obat yang
terus menerus atau sepanjang hidup (ITER!)

49
• Ada 3 formula resep yang dapat digunakan untuk
menyusunan preskripsi dokter (Formula marginalis,
officialis aau spesialistis). Pemilihan formula tersebut
perlu mempertimbangkan:
• Yang dapat menjamin ketepatan dosis (dosis individual)
• Yang dapat menajaga stabilitas obat
• Agar dapat menjaga kepatuhan pasien dalam meminum
obat
• Biaya/harga terjangkau

50
• Preskripsi lege artis maksudnya adalah
ditulis secara jelas, lengkap (memuat 6
unsur yang harus ada di dalam resep) dan
sesuai dengan aturan/pedoman baku
serta menggunakan singkatan bahasa
latin baku, pada blanko standar (ukuran
lebar 10-12 cm, panjang 15-18 cm)

51
Pemberian informasi bagi penderita yang tepat

• Cara atau aturan harus tertulis lengkap dalam resep,


namun dokter juga masih harus menjelaskan kepada
pasien. Demikian pula hal-hal atau peringatan yang
perlu disampaikan tentang obat dan pengobatan, misal
apakah obat harus diminum sampai habis/tidak, efek
samping, dll. Hal ini dilakukan untuk ketaatan pasien dan
mencapai rasionalitas peresepan

52
PEDOMAN CARA PENULISAN RESEP DOKTER

• Ukuran blanko resep (ukuran lebar 10-12 cm, panjang


15-18 cm)
• Penulisan nama obat (Bagian Inscriptio):
– Dimulai dengan huruf besar
– Ditulis secara lengkap atau dengan singkatan resmi
(dalam farmakope Indonesia atau nomenklatur
internasional) misal: ac. Salic; acetosal
– Tidak ditulis dengan nama kimia (missal: kali chloride
dengan KCl) atau singkatan lain dengan huruf capital
(missal clorpromazin dengan CPZ)

53
• Penulisan jumlah obat
– Satuan berat: mg (milligram), g, G (gram)
– Sataun volume: ml (mililiter), l (liter)
– Satuan unit: IU/IU (Internasional Unit)
– Penulisan jumlah obat dengan satuan biji
menggunakan angka Romawi. Misal: - Tab Novalgin
no. XII
Tab Stesolid 5 mg no. X (decem)
• m.fl.a.pulv. dt.d.no. X

54
Penulisan alat penakar:

• Dalam singkatan bahasa latin dikenal:


• C. = sendok makan (volume 15 ml) Cth. =
sendok teh (volume 5 ml)
• Gtt. = guttae (1 tetes = 0,05 ml)

55
• Catatan: Hindari penggunaan sendok teh
dan sendok makan rumah tangga karena
volumenya tidak selalu 15 ml untuk
sendok makan dan 5 ml untuk sendok teh.
Gunakan sendok plastik (5 ml) atau alat
lain ( volume 5, 10, 15 ml) yang disertakan
dalam sediaaan cair paten.

56
– Arti prosentase (%)
• 0,5% (b/b) 0,5 gram dalam 100 gram
sediaan
• 0,5% (b/v) 0,5 gram dalam 100 ml sediaan
• 0,5% (v/v) 0,5 ml dalam 100 ml sediaan
– Hindari penulisan dengan angka desimal
(misal: 0,...; 0,0....; 0,00...)

57
• Penulisan kekuatan obat dalam sediaan
obat jadi (generik/paten) yang beredar di
pasaran dengan beberapa kekuatan,
maka kekuatan yang diminta harus
ditulis, misalkan Tab.
• Primperan 5 mg atau Tab. Primperan 10
mg

58
• Penulisan volume obat minum dan berat
sediaan topikal dalam tube dari sediaan
jadi/paten yang tersedia beberapa
kemasan, maka harus ditulis, misal:
– Allerin exp. Yang volume 60 ml atau 120 ml
– Garamycin cream yang 5 mg/tube atau
15mg/tube

59
• Penulisan bentuk sediaan obat
(merupakan bagian subscriptio) dituliskan
tidak hanya untuk formula magistralis,
tetapi juga untuk formula officialis dan
spesialistis
• Misal: m.f.l.a.pulv. No. X
• Tab Antangin mg 250 X Tab Novalgin mg
250 X

60
• Penulisan jadwal dosis/aturan pemakaian
(bagian signatura)
– Harus ditulis dengan benar
• Misal: s.t.d.d. pulv. I.p.c atau
s.p.r.n.t.d.d.tab.I

61
• Untuk pemakaian yang rumit seperti pemakaian
”tapering up/down” gunakan tanda s.u.c (usus
cognitus = pemakaian sudah tahu). Penjelasan
kepada pasien ditulis pada kertas dengan
bahasa yang dipahami.

62
• Setiap selesai menuliskan resep diberi
tanda penutup berupa garis penutup
(untuk 1 R/) atau tanda pemisah di antara
R/ (untuk > 2R/) dan paraf/tanda tangan
pada setiap R/.
• Resep ditulis sekali jadi, tidak boleh ragu-
ragu, hindari coretan, hapusan dan
tindasan.

63
• Penulisan tanda Iter (Itteretur/ harap diulang) dan N.I.
(Ne Iterretur/tidak boleh diulang)
• Resep yang memerlukan pengulangan dapat diberi
tanda: Iter n X di sebelah kiri atas dari resep untuk
seluruh resep yang diulang. Bila tidak semua resep,
maka ditulis di bawah setiap resep yang diulang.
• Resep yang tidak boleh diulang, dapat diberi tanda: NI di
sebelah kiri atas dari resep untuk seluruh resep yang
tidak boleh diulang. Bila tidak semua resep, maka ditulis
di bawah setiap resep yang diulang.

64
• Penulisan tanda Cito atau PIM
• Apabila diperlukan agar resep segera
dilayani karena obat sangat diperlukan
bagi penderita, maka resep dapat diberi
tanda Cito atau PIM dan harus ditulis di
sebelah kanan atas resep.

65
DOSIS OBAT DALAM PRESKRIPSI

• Dosis tepat sangat dibutuhkan supaya efek dari obat


optimal dan resiko efek samping sekecil mungkin.
Besaran dosis terapi obat biasanya dicantumkan dalam
rentangan/kisaran dosis, misalkan 250- 500 mg.
• Rentangan dosis ini menunjukkan kadar obat yang aman
yang dapat diberikan dalam praktek pengobatan. Bila
dokter memberikan dosis di bawah/ di atas dosis
rentangan, maka dapat memberikan efek yang
merugikan bagi pasien dan dapat menimbulkan
pertanyaan bagi apotek yang menerima resep tersebut.

66
• Dosis obat dalam preskripsi adalah besarnya dosisi per
kali untuk pasien dan mungkin dalam sehari dapat
diberikan beberapa kali sesuai dengan frekuensi
pemberian yang tertulis di dalam resep.
• Penentuan dosis tersebut didapatkan darai dosis terapi
(dosis lazim) yang tercantum dalam literatur. Untuk dosis
anak biasanya dicantumkan dengan misalnya 20-40
mg/kg BB/hari.

67
• Sehingga perlua adnya penentuan dosis yang
cermat bagi anak. Ada beberapa obat yang
mencantumkan dosis hanya untuk orang
dewasa, sehingga bila obat itu akan diberikan
kepada anak maka perlu perhituanan dengan
membandingkan dengan dosis dewasa, dengan
menggunakan rumus ( misalkan R. Clark, R.
Young, dll)

68
CARA MENGHITUNG DOSIS ANAK

• Ada beberapa cara dalam menghitung dosis


anak. Untuk itu, dipilih yang dapat menunjukkan
pengetrapan dosis individual.
• Untuk obat-obat yang mempunyai rentang terapi
sempit, maka memerlukan ketelitian yang tinggi
dalam menentukan dosis untuk anak. Contoh:
Hitunglah dosis Amoxycillin untuk anak berumur
4 tahun dengan BB 17 kg

69
• Diketahui: Dosis Amoxycillin anak di
bawah BB 20 kg adalah 20-40 mg/kg BB/
hari diberikan dalam dosis terbagi tiap 6-8
jam.
• Untuk dosis dewasa adalah 250-500 mg,
diberikan tiap 6-8 jam.

70
• Perhitungan:
• Berdasarkan individual dengan ukuran
fisik BB:
• 17 X (20-40) mg = 340- 780 mg/hari
• Bila dipilih diberikan 3X sehari, maka dosis
per kali pemberian = 113,33 - 226,67 mg

71
• Berdasarkan dosis dewasa dengan rumus
Clark
• 17 X (250-500) mg = 60,71 – 121,43
• 20 mg/kali

72
• Berdasarkan dosis dewasa dengan rumus
Young
• 4 x (250-500) mg = 62,5-125 mg/kali
• 16

73
• Berdasarkan dosis dewasa dengan Tabel
J.Hahn:
Anak 4 tahun, BB 13,0-16,3 kg = 23%
dosis dewasa
• = 57,5-115 mg/kali

74
• Hasil di atas menunjukkan bahwa cara
perhitungan tersebut menghasilkan dosis yang
berbeda. Dengan mempertimbangkan kondisi
penyakit dan kondisi penderita, maka dokter
dapat menentukan besarnya dosis per kali dan
per hari dalam resepnya.
• Misalkan diputuskan memberikan amoxycillin
per kali 125 mg
• Bila frekuensinya 3 kali sehari, maka dosis per
hari adalah 375 mg.
75
• R/ Paracetamol mg 120
Sacch. Lactis q.s
m.f.l.a. pulv.d.t.d. No. X
s.p.r.n.t.d.d.pulv I (febris)

76
• Ambilkan paracetamol 120 mg dan sacch
lactis secukupnya, campur dan buatlah
menurut aturan puyer sebanyak 10
bungkus, masing-masing bungkus
mengandung 120 mg paracetamol dan
sacch lactis secukupnya. Tandailah: bila
panas dapat diberikan 3 X sehari 1
bungkus

77
• R/ Paracetamol 1200 gram
Sacch. Lactis q.s
m.f.l.a. pulv. No. X
s.p.r.n.t.d.d.pulv I (febris)

78
• Ambilkan paracetamol 1200 gram dan
sacch lactis secukupnya, campur dan
buatlah menurut aturan puyer sebanyak
10 bungkus. Tandailah: bila panas dapat
diberikan 3 X sehari 1 bungkus

79
DOSIS ANAK MENURUT J.HAHN
Umur Berat Badan (kg) Perbandingan Dosis terhadap Dosis Dewasa (%)

Baru lahir 2.7 - 3.5 4

1 bulan 3.2 - 4.0 5

2 bulan 4.0 - 4.8 6

3 bulan 4.7 - 5.6 8

4 bulan 5.2 - 6.2 9

5 bulan 5.8 - 6.8 9

6 bulan 6.4 - 7.4 10

7 bulan 6.8 - 7.9 11

8 bulan 6.9 - 8.3 12

9 bulan 7.4 - 8.7 12

10 bulan 7.5 - 9.1 13

11 bulan 7.7 - 9.5 13

12 bulan 7.7 - 10 14

80
2 tahun 10.1 - 12.5 18

3 tahun 11.6 - 14.5 21

4 tahun 13.0 - 16.3 23

5 tahun 14.2 - 17.8 28

6 tahun 16.0 - 20.3 29

7 tahun 17.5 - 22.8 31

8 tahun 19.0 -24.8 34

9 tahun 21.2 - 27.3 38

10 tahun 23.5 - 29.8 42

11 tahun 25.6 - 32.3 46

81
12 tahun 29.7 - 34.8 50

13 tahun 33.7 - 37.3 54

14 tahun 36.7 - 42.5 61

15 tahun 40.2 - 48.5 70

16 tahun 44.4 - 53.4 77

17 tahun 49.1 - 57.4 83

18 tahun 53.1 - 61.3 89

19 tahun 61.4 - 63.3 92

20 tahun 54.2 - 65.0 94

82
BENTUK SEDIAAN
OBAT PADAT
1. Tablet
2. Kapsul
3. Serbuk Bagi
4. Serbuk Tak terbagi
5. Pil
6. Suppositoria
7. Ovulla
BENTUK SEDIAAN
OBAT PADAT
BENTUK SEDIAAN
OBAT PADAT
BENTUK SEDIAAN
OBAT PADAT
BENTUK SEDIAAN
OBAT PADAT
BENTUK SEDIAAN
OBAT PADAT
BENTUK SEDIAAN
OBAT CAIR
1. Solutio (larutan)
2. Suspensio (suspensi)
3. Emulsi
4. Eliksir
5. Guttae (tetes)
6. Injectio (injeksi)
7. Aerosol
BENTUK SEDIAAN
OBAT CAIR
BENTUK SEDIAAN
OBAT CAIR
BENTUK SEDIAAN
OBAT CAIR
BENTUK SEDIAAN
OBAT CAIR
BENTUK SEDIAAN
SETENGAH PADAT
1. Linimentum (obat gosok)
2. Ungentum (salep)
3. Pasta
4. Sapo (sabun)
5. Emplastrum (plester)
6. Krim
7. Gel
BENTUK SEDIAAN OBAT
SETENGAH PADAT
BENTUK SEDIAAN OBAT
SETENGAH PADAT
BSO : PULVERES (magistralis)
Dosis sekali miuum Dosis sekali miuum x jumlah puyer

R/ Codein HCL 0,004 R/ Codein HCL 0,060


Ephedrin HCL 0,005 Ephedrin HCL 0,075
Luminal 0,015 Luminal 0,225
Saccharin q.s Saccharin q.s
M.f. Pulv. dtd no.XV M.f. Pulv. no.X V
S.3.dd. Pulv I S.3.dd. Pulv I

Pro :An.T Pro :An.T

 m.f. Pulv. dtd. = miscefac pulveres da tales dosis = campur


dan buat puyer, berikan dengan dosis seperti tersebut di atas.
 S. ...dd. = Signa.. de die = tandailah ...kalisehari
97
BSO : kapsul (magistralis)
R/Aminophyllin 0,100 R/Aminophyllin 0,100
Prednisolon 0,005 Prednisolon 0,005
Luminal 0,030 Luminal 0,030
M.f.pulv.dtd. No.X da in caps M.f.caps.dtd. N o.X
S.3.dd.caps I prn S.3.dd.caps I pr n

Pro :Tn. B Pro :Tn. B

Ket : p.r.n = pro re nata = bila perlu

98
BSO : kapsul (magistralis)
R/ Parasetamol 500 mg
DMP 15 mg
CTM 1 mg
m.f caps dtd. no.X
S. p.r.n. 3 dd tab I

Pro :Tn.A

99
BSO : kapsul (spesialitis)
R/Eritromec 500 mg caps no. X Apabila sediaan obat
S.o 8.h caps I mempunyai > 1 dosis
yang tersedia,
Pro:Tn H cantumkan dosis yang
akan diberikan pada
penderita. Misal sediaan
250 mg, 500, 750 mg

Ket : o.8. h = omni 8 hora = tiap 8 jam

100
BSO :Tablet
R/ Bioneuron tab no.XV R/Yariflam 25 mg tab no. XV
S.1.dd tab I S.2.dd tab I

Pro : Ny.I Pro : Ny.M

BSO :Tablet Sublingual BSO :Tablet Effervescent


R/ Cedocard subling tab no X. R/ calc. D. Redoxon tab no X
S. h.s. tab Isubling S. 1 dd tab I c aqua 200 ml

Pro :Tn. K Pro :Tn. O

 h.s. = hora somni = sebelum tidur


 c = cum = dengan
101
BSO :Tablet lozenges/isap
BSO :Tablet buccal
R/FG.Troches tab no X R/ Sandopart buccal tab no.X
S.o.4.h. loz.I S 3.dd tab I buccal

Pro :Tn E Pro : Ny.C

BSO :Tablet Sachet BSO : bedak/powder


R/ Fluimicil sachet no.XII R/ caladine powd. Fl. No I
S.3 .dd sachet I S.u.e

Pro :Tn. K Pro :An. S

 S.u.e = signatur usus externus = tandai untuk pemakaian luar


 Loz :isap
 Buccal : taruh dalampipi 102
BSO :Tablet intravaginal Tablet intravaginal dg aplikator
R/ flagystin vag.Tab no.VI R/ Canesten SD.Vag.Tab. c aplikator no. I
S.1 dd tab I vag. S.u.c

Pro : Ny.H Pro : Ny.N

BSO :Tablet kontrasepsi Tablet supositoria/intrarektal


R/microgynon tab kartu no I R/dulcolax supp. tab no.VI
S. u.c. S. 1 dd.Supp. I p.r.n

Pro : Ny. E Pro :Tn S

• Vag. : intravagina
• S.u.c = signatur usus cognitus = cara pemakaian sudah tahu
• Supp : lewat anal taruh daerah rektum 103
BSO : solutiones (magistralis)
R/ Codein HCL mg 60
CTM mg 20
Sir.Thymi ml 20
Pot.alba c tussim ad ml 100
M.f.Potio
S. p.r.n. 4 dd. Cth.I

Pro :An. N

Ket :
• Potio = obat untuk diminum
• Cth. = cochlear theae = sendok teh = 5 cc
• fl. =botol
104
SPESIALITIS
Solutiones obat dalam Solutiones obat luar
R/ Antiza fl. No. I R/ Betadine sol. 30 ml fl. NoI
S. p.r.n. 3 dd. Cth II S. u.e.

Pro :Tn. J Pro : Ny.J

Elixir
R/ batugin elixir fl. No.I
S. 3 dd. C I

Pro :Tn.Y

C =Cochlear = sendok makan (15 cc)


105
Guttae/tetes mulut Guttae/tetes telinga
R/Tempra drops. fl. No.I R/ Sofradex ear drops. fl.No.I
S. p.r.n 3 dd. gtt 0,8 ml S. 3 dd. gutt auricII

Pro :An.Z Pro :Tn..Z

Guttae/tetes mata
R/ Neosporin eye drops.fl. No.I
S 3 dd. gtt I ODS

Pro :An.D
Ket :
Gutt = guttae = tetes
Auric : dalam telinga
ODS= Oculi dextra sinistra = mata kanan dan kiri 106
Guttae/spray hidung Guttae/tetes hidung
R/ afrin nasal spray. fl.No.I R/ antistin-Privin drops. fl.No.I
S. 2 dd. Nasal sprayI S. 3 dd. gutt nasal II

Pro : Ny.U Pro :Tn.R

Inhaler Gargarisma/kumur
R/ alupent inhaler fl no I R/ betadine gargle&mouthwash fl. No.I
S.p.r.n 3 dd. Puff.I S. 3 dd.Garg.

Pro :Tn.Y Pro :Tn.Y

Ket :
 Puff = semprot
 Garg = kumur dan buang 107
Enema
R/ stesolid 10 mg rectal tube no.II R/ Microlax enema tube no I
S.p.r.n. Rectal tube I S.m. tube I

Pro :An.L Pro :Tn. S


m.= Misce = campur

Suspensi obat luar Suspensi obat dalam


R/ caladin lotion fl no I R/ decolsin susp. Fl no.I
S.u.e S. 3 dd C I

Pro : Ny.J Pro :Tn.Y

108
Injeksi
R/ zotam 1 gram vial no.I Wadah injeksi ada 3
Aqua pro injection 5 ml amp No. IV macam : ampul untuk
S.i.m.m dosis tunggal,
vial/flacon untuk dosis
Pro : Ny.T ganda, botol dipakai
untuk larutan injeksi
R/ tixon vial no. I volume besar.
S.i.m.m

Pro : Ny.T

Ket : i. m.m = in manum medici = berikan pada dokter


109
BSO : ointment cream
R/ Kemicetin oint 2 % tube no I R/ Daktarin cr.Tube no I
S.u.e S.u.e

Pro :Tn.Y Pro :Tn.Y

Gel Gel
R/ Daktarin oral gel 20 g tube no I R/ Albothyl gel c aplikator tube no I
S.4 dd.cth ½ S.u.c

Pro :Tn.Y Pro :Tn.Y

110
Cito : berbahaya bila Iter : ulangi
ditunda

dr. Ave dr. Ave


Alamat : Alamat :
Jambi,tgl Jambi,tgl
CITO Iter 3x
R/ ampicilin injeksi amp.No.III R/ INH tab no.XXX
S.i.m.m S.t.dd.tab I

Pro :TnA. Pro :Tn C.

111
• Istilah-‐istilah dan singkatan Latin yang
berkaitan dengan penulisan resep
• a.c. = ante coenam = sebelum makan
• a.n. = ante noctem = malam sebelum tidur
• ad us. ext. = ad usum externum = untuk obat luar
• ad. us. int = ad usum internum = untuk obat dalam
• agit. = agitation = kocok
• alt. hor. = alternis horis = tiap jam
• aq.dest. = aqua destilata = air suling

112
• c. = cohlear = sendok makan =15 ml
• c.th. = cochlear theae = sendok teh
= 5 ml
• caps. = capsulae = kapsul
• collut.or. = collutio oris = obat kumur
(cuci mulut)
• collyr. = collyrium = obat cuci mata

113
• da.in.dim = da in dimidio = berilah
separuhnya
• d.in 2plo = da in duplo = berilah dua
kali banyaknya
• d.c. = durante coenam = sedang
makan
• d.d. = de die = sehari

114
• 1.d.d.=s.d.d. = semel de die = sekali
sehari
• 2.d.d.=b.d.d.=b.i.d.=bis de/in die = dua
kali sehari
• 3.d.d.=t.d.d.=t.i.d.= ter de/in die = tiga
kali sehari

115
• 4.d.d.=q.d.d.=q.i.d.=quarter de/in die = empat
kali sehari
• d.t.d = da tales doses = berilah sekian
takaran
• dext. = dexter = kanan
• dext.et sin. = dexter et sinister = kanan
dan kiri
• o.d./o.s. = oculus dexter et oculus sinister=mata
kanan dan mata kiri

116
• f. = fac= buat, harap dibuatkan
• f.l.a = fac lege artis = buat menurut
semestinya
• fls. =fles = botol
• g. = gramma = gram
• gr. = granum = 65 mg, grain

117
• garg. = gargarisma = obat kumur
• gtt. = guttae = tetes
• gtt.ad aur = guttae ad aures = tetes
telinga
• gtt.auric = guttae auriculares = tetes telinga
• gtt.nasal = guttae nasals = tetes hidung
• gtt.ophth.= guttae ophthalmicae= tetes mata

118
• h. = hora = jam
• h.s. = hora somni = jam sebelum tidur
• i.m.m. = in manum medici = berikan ke
tangan dokter
• inj. = injectio = obat suntik
• iter. = iteratur = harap diulang
• iter. 1x = iteretur 1 x = harap diulang satu
kali

119
• ne iter. = ne iteratur = tidak diulang
• lin. = linimentum = obat gosok
• lot.= lotio = obat cair untuk pakai luar
• m. = misce = campurlah

120
• m.f. = misce fac = campurlah dan
buatlah
• m.f.l.a. = misce fac lege artis=
campur&buat menurut semestinya
• man. = mane = pagi
• m.et .v. = mane et vespere = pagi dan
sore
• mg. = milligramma = miligram
121
• o.h. = omni hora = tiap jam
• o.b.h. = omni bihorio = tiap 2 jam
• o.t.h. = omni trihorio = tiap 3 jam
• o.4.h. = omni quaterhorio = tiap 4 jam
• o.m. = omni mane = tiap pagi
• o.n. = omni nocte = tiap malam
• o.h.c. = omni hora cochlear= tiap jam 1
sendok makan
122
• p.c. = post coenam = sesudah makan
• p.r.n. = pro re nata = kalau perlu
• pulv. = pulvis = serbuk (tunggal)
• pulv. = pulveres = serbuk terbagi
(puyer)
• pulv. adsp. = pulvis adspersorius=
serbuk tabur (bedak)

123
• R/ = recipe = ambillah
• S = signa = tanda
• S.L. = saccharum lactis = gula susu
(bahan pemanis obat)
• s.q. = sufficiante quantitate = dengan
jumlah yang cukup
• q.s. = quantum satis = secukupnya

124
• si op. sit = si opus sit = bila perlu
• sol. = solutio = larutan
• u.c. = usus cognitus = aturan
pakai diketahui
• u.n. = usus notus = aturan pakai
diketahui
• ung. = unguentum = salep

125
• u.e. = usum externum = dipakai
untuk luar
• u.i.= usum internum = dipakai untuk
dalam
• S.s.d.d.c = semel de die cochlear= 1
kali sehari sekali sendok makan

126
• t.d.d.c. = ter de die cochlear = 3 kali
sehari sekali sendok makan

127
Contoh resep yang lengkap
– Skenario 1
• Ny. Nensi, berusia 50 tahun, memeriksakan diri ke sebuah Puskesmas di
dengan keluhan sakit kepala sejak beberapa hari yang lalu. Dokter
Puskesmas melakukan pemeriksaan dan menegakkan diagnosis hipertensi
esensial derajat I. Setelah memberikan informasi dan edukasi diet serta
anjuran kegiatan fisik kepada pasien, dokter akan memberikan obat diuretik
oral hydrochlorothiazide dalam bentuk sediaan tablet 12,5 mg. Obat ini
diberikan sebanyak satu tablet, satu kali sehari di pagi hari, dan harus
diminum setiap hari untuk pengendalian tekanan darah. Pada pengobatan
pertama ini dokter berencana memberikan obat untuk sepuluh hari.
Setelah tiga hari pengobatan pasien diminta datang kembali untuk monitor
keberhasilan terapi.
• Jika anda adalah dokter di atas, bagaimana anda menuliskan resep untuk
Ny. Nensi?

128
PUSKESMAS
Jl. RAJA ALI HAJI

Dokter : Andi Budiman

Tanggal : 6 Agustus 2015

R/ Hydrochlorothiazide tab 12,5 mg No.X

S.s.d.d.tab.1 mane

Pro : Ny. Nensi

Umur : 50 tahun
Alamat
: Jl. HANG TUAH

129
• Skenario 2
• Qonita, 10 tahun, dibawa ibunya berobat ke dokter praktek umum
karena matanya tampak merah sejak satu hari yang lalu. Pada
anamnesis diketahui bahwa kedua mata terasa gatal dan lengket
namun penglihatan tidak terganggu. Pada pemeriksaan tampak
konjungtiva merah dan banyak sekret kental kekuningan pada
kelopak mata. Dokter menegakkan diagnosis konjungtivitis
bakterialis dan meresepkan antibiotik topikal dalam bentuk tetes
mata. Tetes mata ini mengandung bahan aktif Chloramphenicol
dengan konsentrasi 0.5% dan diberikan sebanyak 2 tetes pada
tiap mata dengan frekuensi pemberian setiap 4 jam.
• Jika anda adalah dokter di atas, bagaimana anda menuliskan resep
untuk Qonita?

130
dr. Firman Abdiansyah

SIP No. 337/DKK/2010

Jl. Budi Kemuliaan, HP:081378632020 Praktek tiap hari


kerja jam 16.00-‐21.00

Batam, 6 Agustus 2015


R/ Chloramphenicol 0.5% gtt. ophth. fls. No.I

S.o.4.h.gtt.2 o.d./o.s.

Pro : Qonita

Umur : 10 tahun

Alamat: Jl. Raja Haji Fisabilillah

131
• Skenario 3
• Tito, 22 tahun, datang ke instalasi gawat darurat (IGD) sebuah
rumah sakit dengan keluhan tertusuk paku pada telapak kaki
kanannya satu hari yang lalu ketika sedang bekerja memperbaiki
dinding rumahnya. Pada pemeriksaan tampak luka tusuk yang kecil
namun cukup dalam. Dokter jaga IGD berencana memberikan terapi
profilaksis tetanus dengan memberi injeksi serum anti tetanus (anti
tetanus serum/ATS) pada Tito sebanyak 250 IU immunoglobulin
tetanus manusia. Dokter menuliskan resep untuk satu ampul ATS
dan sebuah spuit 1 ml kemudian meminta keluarga Tito untuk
segera menebusnya di apotik rumah sakit kemudian menyerahkan
ATS dan spuit kepada dokter jaga.
• Jika anda adalah dokter jaga tersebut, bagaimana anda menuliskan
resep di atas?
132
• Sebelum Tito pulang, dokter jaga meresepkan obat antibiotik
amoxycillin tablet 500 mg yang diminum 3 kali satu tablet
sehari, metronidazole tablet 500 mg yang diminum 3 kali satu
tablet sehari, dan antinyeri mefenamic acid tablet 500 mg yang
diminum bila kaki terasa nyeri dengan pemberian maksimal 4 kali
satu tablet sehari setelah makan. Jika anda dokter tersebut,
bagaimana anda menuliskan resepnya? Jumlah obat yang diberikan
adalah untuk lima hari, kecuali untuk mefenamic acid yang diberikan
untuk tiga hari, dan resep tidak boleh diulang.

133
INSTALASI GAWAT DARURAT Cito!
RUMAH SAKIT KOTA BATAM

Dokter : Meisya Nurrahmah

Tanggal : 6 Agustus 2015

R/ ATS amp. No.I


S.i.m.m

R/ Spuit 1 ml No. I

S.i.m.m

Pro : Tito

Umur : 22 tahun

Alamat: Jl. Raja Haji Fisabilillah

134
N.I. INSTALASI GAWAT DARURAT

RUMAH SAKIT KOTA BATAM


Dokter : Meisya Nurrahmah

Tanggal : 6 Agustus 2015

R/ Amoxycillin tab 500 mg No. XV

S.t.d.d.tab.1

R/ Metronidazole tab 500 mg No. XV

S.t.d.d.tab.1

R/ Mefenamic acid tab 500 mg No. XII

S.p.r.n.max.q.d.d.tab.1 p.c.

Pro : Tito

Umur : 22 tahun

Alamat: Jl. Raja Haji Fisabilillah

135
• Contoh resep yang dapat dibaca dan sulit
dibaca (identitas dokter sengaja dihilangkan)

136
Kelompok obat Golongan AINS

• Aspirin
• Merupakan obat yang paling banyak
digunakan sebagai analgesik, antipiretik
dan antiinflamasi.
• Tersedia dalam bentuk tablet 100 mg
untuk anak dan tablet 500 mg untuk
dewasa.

137
• Indikasi : Antipiretik. Dewasa 325 –
650 mg tiap 3 – 4 jam
• Anak-anak 15 – 20 mg/kgBB tiap 4 – 6
jam (DM < 3,6 g/hari)

138
• Acetaminophen (Parasetamol).
• Efek analgetik dapat menghilangkan nyeri
ringan sampai sedang, dan menurunkan
suhu tubuh diduga juga berdasarkan efek
sentral seperti aspirin.

139
• Sediaan. Parasetamol tersedia sebagai
obat tunggal berbentuk tablet 500 mg atau
sirup yang mengandung 120 mg/5 ml.
• Dewasa 300 mg – 1 g/ kali (maks 4 g/hari)
• Anak 6 – 12 thn 150 – 300 mg/kali (maks 1,2 g/hari)
• 1 – 6 thn 60 – 120 mg/kali (maks 6x sehari)
• Bayi < 1 thn 60 mg/kali (maks 6x sehari)

140
• Asam mefenamat dan Meklofenamat
• Asam mefenamat digunakan sebagai
analgetik. sebagai antiinflamasi kurang
efektif dibanding aspirin. Meklofenamat
digunakan sebagai antiinflamasi pada
terapi artritis reumatoid dan osteoartritis.

141
• Karena efek toksiknya maka tidak
dianjurkan untuk diberikan pada anak
dibawah 14 tahun dan wanita hamil dan
pemberian tidk lebih dari 7 hari.

142
• . Dosis asam mefenamat 250 – 500 mg 2
– 3 x sehari
• Meklofenamat 200 – 400 mg sehari

143
• Natriumdiklofenak.
• Dosis Dewasa 100 – 150 mg sehari
(terbagi 2 atau 3 dosis)
• Indometazin
• Digunakan untuk pengobatan artritis
reumatoid dan sejenisnya. Juga memiliki
efek antiinflamasi, analgetik – antipiretik
yang sama dengan aspirin.
144
• Dosis. 2 – 4 x 25 mg sehari. Untuk
mengurangi gejala reumatik di malam hari
diberikan 50 – 100 mg sebelum tidur.
• Piroksikam
• Tidak dianjurkan diberikan pada wanita hamil,
penderita tukak lambung dan penderita yang
sedang minum antikoagulaan
• Dosis untuk penyakit inflamasi 10 – 20 mg
sehari.
145
• Fenilbutazon dan Oksifenbuazon
• Fenilbutazon tersedia dalam bentuk tablet
salut gula 100 mg dan 200 mg
• Indikasi. Digunakan untuk mengobati
penyakit pirai akut, artritis reumatoid dan
gangguan sendi.
• Dosis untuk atritis reumatoid 3 – 4 x 100
mg/hari selama seminggu
146
Golongan Narkotik

• Morfin
• Efek analgetik Morfin dan opioid lain
sangat efektif dan tidak disertai oleh
hilangnya fungsi sensorik lain yaitu rasa
raba, rasa getar, penglihatan dan
pendengaran, bahkan persepsi stimulasi
nyeri pun tidak selalu hilang setelah
pemberian morfin dosis terapi.

147
• Dosis Morfin untuk nyeri pasca bedah 10
mg/70 kgBB subkutan
• Meperidin
• Efek analgetik serupa dengan morfin, efek ini
mulai timbul 15 menit setelah pemberian oral
dan mencapai puncak dalam 2 jam.
• . Meperidin HCl tersedia dalam bentuk tablet 50
mg dan 100 mg dan ampul 50 mg/ml.

148
• Metadon
• Efek analgetik 7,5 – 10 mg metadon sama
kuat dengan efek 10 mg morfin.
• Tersedia dalam bentuk tablet 5 dan 10 mg
dan sediaan suntikan dalam ampul atau
vial dengan kadar 10 mg/ml. Dosis
analgetik metadon oral untuk dewasa 2,5
– 15 mg, dan dosis parenteral 2,5 10 mg

149
Kelompok obat batuk

• Golongan Opioid (Kodein)


• Penghambatan refleks batuk dapat
dipertanggungjawabkan pada batuk yang tidak
produktif dan hanya iritatif.
• Kodein tersedia dalam bentuk tablet
mengandung 10, 15, 20 mg kodein. Dosis
tunggal 32 mg kodein peroral memberikan efek
analgetik sama besar dengan efek 600 mg
aspirin. Dosis sebagai antitusif dewasa 10 mg

150
Golongan Antitusif non opioid

Dekstrometorfan
• Obat ini meningkatkan ambang rangsang
refleks batuk secara sentral dan
kekuatannya sama dengan kodein.
• Tersedia dalam bentuk tablet 10 mg dan
sirop dengan kadar 10 mg dan 15 mg/5
ml.
• Dosis. Dewasa 10 – 30 mg (3 – 4 x
sehari).
151
Noskapin
• Pada dosis terapi obat ini tidak berefek
terhadap SSP kecuali sebagai antitusif.
• Dosis 3 – 4 x 15 – 30 mg sehari
• Dosis tunggal 60 mg pernah digunakan
untuk batuk paroksimal.

152
• Ekspektoran
• Ekspektoran adalah obat yang dapat
merangsang pengeluaran dahak dari saluran
napas.
• Amonium klorida
• Pemberian dosis besar dapat menimbulkan
asidosis metabolik, dan hati-hati
penggunaannya pada pasien dengan
insufisiensi hati, ginjal dan paru-paru.
• .Dosis dewasa 300 mg (5 ml) tiap 2 – 4 jam.
153
• Gliseril guaiakolat
• Tersedia dalam bentuk sirop 100 mg/5 ml.
Dewasa 2 – 4 x 200 – 400 mg sehari

154
• Mukolitik
• Adalah obat yang dapat mengencerkan
sekret saluran napas sengan jalan
memecaha benang- benang mukoprotein
dan mukopolisakarida dari sputum.

155
• Bromheksin
• Digunakan sebagai mukolitik pada
bronkitis atau kelainan saluran napas yng
lain. Juga digunakan secara lokal di
bronkus untuk memudahkan pengeluaran
dahak pasien yang dirawat di ugd.
• Dosis oral dewasa 3 x 4 – 8 mgsehari

156
• Ambroksol
• Suatu metabolit bromheksin diduga sama
cara kerja dan penggunaannya.
• Asetilsistein
• Diberikan secara semprotan atau obat
tetes hidung
• Menurunkan viskositas sekret paru pada
pasien radang paru.
157
Pulveres (puyer)
• Penulisan resep utk puyer
• Contoh:
R/ amoksisilin 100mg
s. lact q.s.
m.f. pulv. dtd. no. XXI
S 3dd pulv I p.c

• s. lact q.s.  artinya ditambahkan s. lactis secukupnya.


• m.f. pulv. dtd. No. XXI  buat dan campurlah dalam bentuk
pulveres (puyer), masing2 dengan dosis diatas sebanyak 21
buah.
• Jika obatnya lebih dari 1 (misalkan acetosal ama luminal ama
codein), ketiga obat itu ditulis terpisah2 (dibikin 3 baris)
Contoh Kasus
• An. Puri, 18bln, BB 12kg, dibawa ke dokter karena
demam tinggi sejak 2 hari lalu.
• Berikan antibiotik dan antipiretik per oral dalam bentuk
puyer
– Amoksisilin, dosis anak 25-50 mg/kg BB/hari, 3x
sehari, selama 7 hari, minum sesudah makan, puyer
masukan ke dalam kapsul
– Parasetamol, dosis anak 10-15 mg/kg BB/kali, 3x
sehari, selama 3 hari, minum sesudah makan bila
demam
Penyelesaian
• Pertama untuk antibiotiknya (amoksisilin) kita
hitung dulu dosis yg diperlukan
– Dosis 25-50 mg/kg BB/ hari  karena anaknya 12 kg
 300 – 600 mg / hari (misal diambil dosis
300mg/hari)
– Karena itu per hari, jadinya per kali minum 100mg
– Butuh 21 buah krn minum 3x sehari selama 7 hari
• Untuk antipiretiknya (parasetamol)
– Dosis 10-15mg/kg BB/kali  120 – 180mg/kali
– per kali minum
– Butuh 9 buah krn 3x sehari selama 3 hari
• Amoksisilin • Parasetamol
R/ Amoksisilin 100mg R/ Parasetamol 120mg
s. lact. q.s.
s. lact. q.s.
m.f. pulv. dtd. No. XXI da
in caps m.f. pulv. dtd. No. X
S 3dd caps I p.c. S 3dd pulv I p.c. p.r.n
** da in caps artinya demam
masukan ke dalam
kapsul
** jumlahnya 10 digenapin
Contoh kasus
• Nn. Intan, 18 thn, BB 42kg, datang ke
dokter karena demam dan tenggorokan
sakit untuk menelan. diagnosis faringitis
• Berikan terapi untuk pasien
– Antibiotik  amoksisilin, 3x sehari 500mg,
selama 7 hr, sesudah makan
– Antipiretik  parasetamol, 3x sehari 500mg,
selama 3 hari, sesudah makan, bila demam
Penyelesaian
• Antibiotik  amoksisilin
– Dosis 500mg 3x sehari selama 7 hari
– Jumlah yg diperlukan  21 buah
• Antipiretik  parasetamol
– Dosis 500mg 3x sehari selama 3 hari
– Jumlah yg diperlukan  9 buah 
digenapkan 10 buah
Penulisan resep

• Amoksisilin • Parasetamol
R/ Caps amoksisilin 500mg R/ Tab parasetamol 500 mg
no. XXI no. X
S 3 dd caps I p.c
S 3 dd tab I p.c. p.r.n demam
** bentuk sediaannya bisa
diliat di MIMS
Sirup
• Mengandung byk gula  sering jd bentuk obat pilihan
utama untuk anak-anak
• Biasanya bentuk kemasannya dalam flask (fls)
• Takaran minumnya biasanya sesuai dengan ukuran
sendok asli / bawaannya
• Biasa sering ada istilah forte  artinya dosis yg
tingginya
• Contoh amoksisilin sirup ada yg 125mg/5cc atau ada jg
yg 250mg/5cc  nah yg 250mg/5cc ini bisa disingkat
jadi amoksisilin sirup forte
Contoh kasus
• An. Puri, 18bln, BB 12kg, dibawa ke
dokter krn demam tinggi sejak 2 hari lalu.
• Berikan antibiotik sirup
– Amoksisilin, dosis anak 25-50 mg/kg BB/hari,
3x sehari, selama 7 hari, minum sesudah
makan,
Penyelesaian
• 25-50mg/kg BB/hari 300 – 600mg/hari
 100 – 200mg/kali
• Karena 100-200mg/kali minum dan
ukurannya ada yg 125mg/5cc ama
250mg/5cc  kita pilih yg 125mg/5cc
• 3x7  21 kali minum  21x 5cc  105 cc
• 1 botol amoksisilin sirup isinya 60ml, jadi
butuh 2 botol
Penulisan resep
R/ Amoksisilin syr 125mg/5cc fls No. II
S 3dd c.orig I p.c.
Sendok original/bawaan
dari obatnya (dlm hal ini
5cc)
Contoh kasus
• Resepkan obat kumur berikut untuk
pasien faringitis!
– Solusio povidon iodin 1% dikumur 2x sehari
(kumur untuk faring)

• Penyelesaian:
R/ Sol Povidon iodin 1% fls No. I
S 2 dd garg Flask  botol
kaca
Solusio
Contoh kasus
• Tn. T, 44 th, mengeluh gatal2 di kepala dan berketombe.
Selain itu di lipat paha kanan dan kiri juga terdapat
bercak merah kehitaman yg gatal.
• DK : tinea kapitis dan tinea kruris
• Tulis resep untuk terapi topikal
– Tinea kapitis  Ketokonazol 2% shampo. 1 botol
isinya 100ml. Oles dan bilas setelah 5-10 menit, 2x
seminggu selama 14 hari, pada pagi hari.
– Tinea kruris  Ketokonazol krim 2% (pilihan
kemasan ada tube yg 5g dan 10g), 2x sehari (pagi
dan malam) selama 3 hari, oleskan pada bagian yang
sakit.
Penulisan resep
• Tinea kapitis • Tinea kruris
R/ Shampo Ketokonazol 2% R/ cream ketokonazol 2% tube 10g
100ml fls No.I No.I
S 2x seminggu o.m. S u.e. 2dd applic part dol m.et.v
** o.m. (omni mane)  tiap ** u.e (usus externum)  untuk
pagi obat luar
**applic part dol  oleskan pada
daerah yang sakit
**m.et.v (mane et vespere)  pagi
dan malam
Infus dan Injeksi
• Untuk infus dan injeksi kita butuh:
– Obatnya  bentuknya biasanya bubuk/serbuk  jadi jgn lupa utk
ngeresepin air utk ngelarutin obatnya
– Water for Injection
– Infus setnya (kalo ga ada infus set ya gak mungkin bisa nginfus)
– Spuit (ada ukurannya)
– Cairan infusnya (e.g. dextrose, dll)
– Kanul intravena
• Masing2 diatas ini butuh peresepan sendiri2 ya.
Perhitungan tetes2an infus
• 1cc infus dewasa  20 tetes
• 1cc infus anak  60 tetes
• 1cc blood set  15 tetes
• Contoh perhitungan
– 100 cc infus + obat 30 ccdalam 30 menit untuk
infus orang dewasa
– (100+30) x 20 : 30 = 86 tetes/menit
Contoh kasus
• Tn. A 40 th, ke IGD dgn keluhan demam tinggi
sore hari. Kesadaran berkabut, bradikardi relatif,
lidah kotor, nyeri abdomen, hepatomegali
• DK : demam tifoid
• Resepkan terapi antibiotik sediaan injeksi
– Ceftriakson injeksi 1g, 1x3g dalam dextrose 5%
100cc selama 30menit selama 3-5 hari
– **setiap 1g obat harus larutkan ke dalam 10mL
aquabidest pro injeksi IV
Penyelesaian
• Dextrose 5%  cairan infusnya  mesti dimasukin obatnya 3g
ke cairan infus ini.
• Setiap hari cuman diinfus sekali selama 30 menit  terapi
selama 3-5 hari. Anggeplah kita pake yg 5 hari.
• Total obat yg diperluin  15 vial (3g x 5hr)
• Karena obat 3g/hari, jadi kita butuh Water for injection (WfI)
sebanyak 30ml untuk pelarutnya
• Sediaan WfI yg tersedia itu 25ml/flc. Jadi dalam 1 hari butuh 2
flc.
• Karena kita selama 5 hari  butuh 10flc WfI
• Butuh spuitnya yg 10cc krn kita mesti campur obatnya dgn
10ml WfI tiap 1g
Untuk
Penulisan resepnya
R/ Inj Ceftriaxon 1g vial No.XV
S pro inj
R/ Spuit 10cc No. V
S pro inj
R/ Water for Injection flc No. X
S pro inj
Boleh diganti
R/ Infus set No.I Sol (solusio)
S pro infus
R/ Infus Dextrose 5% 100cc kolf No. V
Ukurannya
S pro infus
Venflon ini nama
R/ Kanul intravena (Venflon) 18 No.I merknya. Boleh ditulis
kanul intravenanya.
S pro infus
Obat tetes
• Telinga  auric
• Mata  oculo
Contoh kasus tetes mata
• Tn. Tegar 55 th, ke IGD krn mata kanan kiri merah dan pedih kalo
kena cahaya. 2 hr lalu krn kemasukan serpihan logam.
Pengelihatan buram
• DK: ulkus kornea ODS e.c. bakteri
• Berikan obat
– Antibiotik topikal gentamycin tetes mata (solusio)  1 tetes tiap
jam pada mata kanan dan kiri
– Antibiotik topikal gentamycin salep  oles 1x sehari malam hari
sebelum tidur pada mata kanan dan kiri
– Siklopegik sulfas atropin tetes mata  1 tetes 3x sehari pada
mata kanan dan kiri
Penulisan resep
R/ Gentamycin eyedrops fls No.I Tiap jam

S omnihora gtt I o.d.s


R/ Gentamycin eye ointment 5g tube No.I
S 1dd applic o.d.s a.n.
R/ Sulfas atropin eyedrops fls No.I Ante noctem 
sebelum tidur
S 3dd gtt I o.d.s

Oculo dextra sinistra 


mata kanan kiri
180
Latihan penulisan resep
• Ny.Y 65 tahun mengeluh nyeri kedua lutut, sudah
1 berlangsung selama 2 hari ini. Mempunyai riwayat
hipertensi. Saat pemeriksaan tensi 180/90 mmHg.
• Anda sebagai dokter, buatlah resep untuk pengobatan Ny.Y

• An. S, 4 bulan,menderita demam sudah berlangsung 1hari


2 ini. Anak rewel. Dari pemeriksaan fisik tidak didapatkan
tanda-tanda infeksi.
• Anda sebagai dokter, buatlah resep untuk pengobatan An.S

• Tn K. Mengeluh sesak nafas, dari pemeriksaan fisik


terdapat tanda infeksi saluran nafas atas dan wheezing.Tn.
3 K mempunyai riwayat asma.
• Anda sebagai dokter, buatlah resep untuk pengobatan Tn.
K 181
• Anda sebagai dokter akan memberikan pengobatan pada
An. L 4th, selama 5 hari berupa amoksilin dosis ¼
tab/minum, dan pengobatan simptomatis jika perlu
4 arasetamol 1/3 tab/minum, CTM 1/3 tab/minum,
dexamethason ¼ tab/minum.
• Butlah resep obat tersebut dalam bentuk serbuk.Secara
tepat dan rasional.

• Ny.Y mengeluh gatal-gatal di selangkangan. Gatal


5 dirasakan mengganggu aktivitasnya. Dari pemeriksaan fisik
ditemukan tanda tinea kruris di selangkangan kanan.
• Anda sebagai dokter, buatlah resep untuk pengobatan Ny.Y

• Tn. L, 35 tahun dari hasil pemeriksaan menunjukkan


6 infeksi daluran nafas atas yang telah berlangsung 5 hari.
Telah diobati dengan obat warung tapi tidak ada perbaikan.
• Anda sebagai dokter, buatlah resep untuk pengobatan Tn.L182
• Tn. K, 59 th, menderita DM dan hipertensi. Saat
7 pemeriksaan GDS menunjukkan 300. tensi 190/100mmHg
• Anda sebagai dokter, buatlah resep untuk pengobatan Tn.K

• An R, 7 tahun, menderita demam selama 3 hari, batuk


8 berdahak, pilek. Dari pemeriksaan fisisk didapatkantonsil
meradang, merah dan eksudat (+)
• Anda sebagai dokter, buatlah resep untuk pengobatanAn.R

• An.M, 12 tahun, mengeluh pusing, sakit kepala, mata berair


9 dan keluar kotoran mata. Dari pemeriksaan mata didapatkan
kedua mata merah, eksudat kekuningan (+)
• Anda sebagai dokter, buatlah resep untuk pengobatanAn,M
183
• An K. Datang ke praktek anda setelah sebelumnya
mengalami kejang. Selama 5 menit. Dari pemeriksaan fisik
didapatkan suhu 49 C, tidak ditemukan tanda infeksi lain.
10 Anda memberikan antikejang untuk persediaan darurat jika
kejang berulang.
• Anda sebagai dokter, buatlah resep untuk pengobatanAn.
K

• Ny. H mengalami nyeri saat BAK, BAK sedikit-seditit.Dari


11 pemeriksaan fisik didapatkan tanda infeksi sluran kemih
bawah.
• Anda sebagai dokter, buatlah resep untuk pengobatan Ny.H

• Nn. L, 16 tahun mengalai dismenorea.Yang dirasakan


12 mengganggu aktivitasnya.
• Anda sebagai dokter, buatlah resep untuk pengobatan nn.L
184
• Tn. Q, 45 tahun mengeluh nyeri dada yang menjalar ke
lengan kiri berlangsung sekitar 1menit. Dari pemeriksaan
13 fisik tidak didapatkan kelainan
• Anda sebagai dokter, buatlah resep untuk pengobatanTn
Q.

• Anda sebagai dokter akan memberikan pengobatan pada


An. L 4th, selama 5 hari berupa amoksilin dosis ¼
tab/minum, dan pengobatan simptomatis jika perlu
14 arasetamol 1/3 tab/minum, CTM 1/3 tab/minum,
dexamethason ¼ tab/minum.
• Butlah resep obat tersebut dalam bentuk serbuk.Secara
tepat dan rasional.

• An.T, 4 bulan, mengalami dmem 2 hari, sebelumnya


sudah diberi obat turun panas tapi tidak ada perubahan.
15 Dari pemeriksaan fisik didapatkan rokhibasah halus
minimal, dan masuk kategori pneumonia ringan
• Anda sebagai dokter, buatlah resep untuk pengobatan
185
An.T
• Ny. M. diberikan pengobatan trisulfa 600 mg, codein HCL
16 15 mg, Luminal 10 mg, OBH. Diberikan 4 kali sehari satu
sendok makan selama 5 hari.
• Buatlah resepnya

• An, K, 3 th, diberikan eritromisin 125 mg, prednisosn 3 mg

17 da fenobrbital 20 mg. Dosis tersebut merupakan dosis sekali


minum. Cara pemakaian 4x sehari 1 bungkus selama 4 hari
• Buatlah resepnya. Ket (DM eritromisisn 0,5/4; penobarbital
0,3/0,6)
187