Anda di halaman 1dari 35

DIAGNOSIS

PENYAKIT AKIBAT
KERJA
Pelatihan Diagnosis PAK 8-13 Juli 2019
Pusdiklatkes Prov DKI Jakarta
Narasumber
O BBPPK Jakarta
O Drg Diah (Direktorat Kesjaor Kemenkes RI)
O Dr. Nusye E. Zamsiar, MS, SpOK
O Dr. dr. Dewi Soemarko, MS, SpOK
O Dr. Liem Jen Fuk, MKK, SpOK
O Dr. Suryo Wibowo, MKK, SpOK
O Dr. Susan H. Manungkalit, MS, SpKL
O Dr. Retno Wibawanti, SpKp
O Dr. Agustina, SpOK
O Dr. Ine Nutfiliana, MKK (Direktorat Kesjaor Kemenkes
RI)
.......

• ILO (2003) : 270 juta kecelakaan kerja pertahun


Diperkirakan 160 juta penyakit akibat kerja pertahun
2,2 juta kematian karena penyakit / kecelakaan
akibat kerja setiap tahun

ILO/WHO memperkirakan kerugian akibat


penyakit dan kecelakaan akibat kerja di
negara maju mencapai 4-5% GDP (Gross
Domestic Product)
dan di negara-negara berkembang bahkan
bisa mencapai 10 – 20% GNP (Gross National
Product)

03/03/2019 4

Pelatihan PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS(Maret 2019)


PERMASALAHAN KESEHATAN
PEKERJA
PEKERJA:
-Sifat, Perilaku, Budaya,
Pengetahuan
-Cara kerja
-Ketahanan tubuh dan Gizi
-Kesakitan dan kecacatan

LINGKUNGAN:
PELAYANAN KES - Fisik, Kimia,
KERJA: Biologi,
Ergonomi &
-SDM Psikososial
-Sarana kesehatan - Pimpinan &
-Jejaring Yankes Pemimpinan
kurang faham

KESEJAHTERAAN:
-Pendapatan
-Pengembangan diri
-Pendidikan rendah 6
Sumber: DitKesja Kemenkes
Pelatihan PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS (Maret 2019)
Data BPJS KETENAGAKERJAAN
2016 : Kasus Kecelakaan Kerja 114.450 kasus
2017 : Kasus Kecelakaan Kerja 130.926 kasus
(25 kasus diantaranya merupakan kasus Penyakit Akibat
Kerja )

Akibat kecelakaan Disabilitas


kerja: Kematian
• Dalam 1 tahun: 6000 - 7000 kasus
disabilitas/tahun dengan penyebaran tidak
merata di Indonesia
• Data penyakit akibat kerja sering tidak
terlaporkan atau masih dilaporkan sebagai
Kecelakaan Akibat Kerja 7

Pelatihan PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS(Maret 2019)


Pelatihan PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS(Maret 2019)
Definisi
PERDOKI(ILO, WHO,ACOEM)

• Penyakit Akibat Kerja (Occupational Diseases)


penyakit yg mempunyai penyebab spesifik atau asosiasi kuatdng
pekerjaan yg sebab utama terdiri dari satu agen penyebab yg sdh
diakui (evidance basedada)

• Penyakit yang Berhubungan dengan Pekerjaan


(Work RelatedDisease)
penyakit yg mempunyai beberapa agen penyebab, dimana faktor
pekerjaan memegang peranan penting bersama dengan faktor risiko
lainnya dalam berkembangnya penyakit
Note: Dalam Diagnosis Okupasi, kedua nya dianggap PAK

25

Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019


Definisi
• Penyakit diperberat oleh pekerjaan atau Penyakit yang
mengenai Populasi Pekerja - (Disease affecting
working population)

penyakit yang terjadi pada populasi pekerja tanpa adanya


agen penyebab di tempat kerja, namun dapat diperberat
oleh kondisi lingkungan pekerjaan yang buruk bagi
kesehatan.

• Penyakit Bukan Penyakit akibat kerja

Umumnya termasuk penyakit umum (yang ada pada


masyarakat umum)
Pajanan tidak menyebabkan penyakit akibat kerja

Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019


Langkah 1:
7 LANGKAH DIAGNOSIS OKUPASI Diagnosis
(untuk menentukan Diagnosis Penyakit AkibatKerja)
Langkah 7:
Tentukan Diagnosis PAK / Langkah 2:
Pajanan di
Diperberat Pekerjaan / lingkungan kerja
Bukan PAK / tambah data

Langkah 3:
Langkah 6:
Adakah hubunhgan antara
Adakah faktor lain diluar Pajanan dengan Diagnosis
pekerjaan? Klinis?

Langkah 4:
Langkah 5:
Apakah pajanan yg
Courtesy: Dewi S Adakah faktor individu
dialami cukup besar?
Soemarko, Astrid B yg berperan?
Sulstomo, PERDOKI
(2006)

Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019


1. DIAGNOSIS KLINIS

- lakukanlah sesuai
prosedur medis yang
berlaku
- bila perlu lakukan
pemeriksaan penunjang
- rujukan ke Spesialis lain

34

Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019


2. PAJANANYGDIALAMI

- Pajanan saat ini dan pajanansebelumnya


- Beberapa pajanan  1 penyakit atau sebailknya
- Lakukan anamnesis :
* deskripsi pekerjaan sec. Kronologis
* periode waktu kerja masing-masing
* apa yg diproduksi
* bahan yg digunakan
* cara bekerja
lebih bernilai bila ditunjang dataobjektif

Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019


Menentukan Pajanan di tempat kerja

Menanyakan pajanan yg ada saat ini dan


sebelumnya (fisik, biologi, kimia, psikososial)
daftar pertanyaan
Kecelakaan atau kejadian dalam penggunaanbahan
kimia , spt menumpahkanbahan
Bekerja dengan pajanan pd tempat ygterbatas,
bahan baru, perubahan proses kerjadll.

Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019


Penyebab PAK

Golongan fisika:
–Bising, Radiasi, Suhuekstrem,
Tekanan udara (hipo/hiperbarik),
Vibrasi, Penerangan, radiasi
Golongan Kimiawi:
–Semua bahan kimia dalam
bentuk debu, uap, gas,larutan,
kabut

Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019


Penyebab PAK
Golongan biologis:
Bakteri, virus, jamur dll.
Golongan Fisiologis/ergonomis:
Desain tempat kerja, beban
kerja
Golongan Psikososial:
Stress psikis, monotoni kerja, tuntutan
pekerjaan, remote area, dll

31

Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019


Body Map
Discomfort

Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019


Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019
Langkah

3. HUBUNGANPAJANANDENGANPENYAKIT(EBM/KONSENSUS)
- Lakukan identifikasi pajanan
- Evidence based : pajanan-penyakit
- Bila tdk ada : pengalaman  penelitian awal
4. JUMLAH PAJANAN CUKUP ?
- Perlu tahu patifisiologi penyakit & bukti epidemiologis
- Dapat dengan : kualitatif (cara kerja, lingkungan
kerja, proses kerja
- Penting pengamatan
- Masa kerja
- APD sesuai dan tepat?
Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019
Langkah

5. FAKTOR INDIVIDU YANG BERPERAN


- Berapa besar berperan
- Riwayat atopi/ alergi
- Riwayat penyakit dalam keluarga
- Higien perorangan

6. FAKTOR LAIN DI LUAR PEKERJAAN


- Pajanan lain yg dapat menyebabkan penyakit (bukan
faktor pekerjaan)
- Rokok, pajanan di rumah, hobi

37

Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019


Langkah 7

7. MENENTUKAN DIAGNOSISOKUPASI
- Kaji semua langkah-langkah
- Bukti + referensi  PAK?
- Hasil: -PAK,
- diperberat oleh pekerjaan
- bukan PAK
- perlu data tambahan
Ada hub sebab akibat pajanan – penyakit&
faktor pekerjaan faktor yg dianggap paling bermakna
thd terjadinya penyakit

Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019


Kriteria kasusOkupasi

1. Pasien harus mempunyai pekerjaan / bekerja


menghasilkan dana / uang
2. Ada keluhan pada saat datang / dilakukan
pemeriksaan
3. Jangan memaksakan untuk membuat
diagnosis penyakit akibat kerja (yang
dilakukan membuat 7 langkah Diagnosis
Okupasi
4. Hasil Diagnosis Okupasi:
PAK/ Penyakit diperberat pekerjaan / Bukan PAK/
Masih butuh data
Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019
Contoh Identifikasi bahaya potensial dan kecelakaan kerja

Courtesy by: dr. Joko Prasetyo (NPM1006732591)


Kasus Carpal Tunnel Syndrome pada Perawat
di Ruang Operasi

Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019


7 langkah Diagnosis Okupasi

Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019


Lanjutan 7 langkah DiagnosisOkupasi

Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019


Penyakit Akibat Kerja
ILO Convention No. 121 di Geneva pada December 1991  Penyakit karena
agen, penyakit sesuai target organ dan keganasan

ICD 10 – OH , secara umum dibagi menjadi:


1. Diseases caused byagents
1. Diseases caused by chemicalagents
2. Diseases caused by physicalagents
3. Diseases caused by biological agents
2. Diseases by target organ
1. Occupational respiratory diseases
2. Occupational skin diseases
3. Occupational musculoskeletal diseases
3. Occupational cancer
4. Others

Keputusan Presiden RI no 22/1993  diganti dengan PerPres tahun 2017


Penyakit yang timbul karena hubungan kerja
Penyakit yang timbul karena hubungan kerja adalah penyakit yang
disebabkan
oleh pekerjaan atau lingkungan kerja
 31 kelompok penyakit
Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019
Pelatihan PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS(Maret 2018)
Pasien

Anamnesis &
pemeriksaan

Ragu . Konsul Spesialis Klinik terkait


Diagnosis klinis . Rujuk KeRS

Ragu
- Konsul Spesialis Ked. Okupasi /
Diagnosis okupasi BKKM/RS
- PemeriksaanLingkungan,
Biomarkerdll

Penatalaksanaan
kasus Ragu

Penatalaksanaan Penatalaksanaan
klinis/medis okupasi

73

Pelatihan PAK PERDOKI-Prepared by DS, NEZ, AS-Mar 2019


Tatalaksana PAK
O Tatalaksana medis
O Standar Profesi
O Standar Pelayanan
O Standar Prosedur Operasional
O Tatalaksana Okupasi
O Pada Individu Pekerja
O Pada Komunitas Pekerja
Tatalaksana Okupasi
O Pada Individu Pekerja
O Pelayanan Kelaikan Kerja (Fit to Work)
O Pelayanan Kembali Kerja (Return to Work)
O Penilaian Kecacatan
kompetensi dokter spesialis okupasi kerja
O Pada Komunitas Pekerja
O Pelayanan Pencegahan PAK
O Penemuan Dini PAK
URGENSI PENCATATAN dan PELAPORAN
PENYAKIT AKIBAT KERJA
CEGAH PENYAKIT
CEGAH PENINGKATAN KEPARAHAN
CEGAH KECACATAN

PERBAIKAN LINGKUNGAN KERJA


PENURUNAN BIAYA KESEHATAN

“Hari Kerja Hilang Karena Sakit (Absen)”


“Kecacatan – Kematian”
PRODUKTIVITAS KERJA

DEFISIT
JKN
PENGUATAN REGULASI
DI BIDANG KESEHATAN KERJA
• Disepakatinya Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan Kerja
“Standar Diagnosa dan Tatalaksana Penyakit”
(termasuk penyakit akibat kerja)
• Perpres No.7 Tahun 2019 tentang Penyakit Akibat Kerja
“Diagnosis penyakit akibat kerja dilakukan oleh dokter dan dokter spesialis yang kompeten di bidang
kesehatan kerja”
• Perpres No.82 Tahun 2018 tentang JKN
“Ketentuan lebih lanjut mengenai kendali mutu dan kendali biaya JKN diatur dengan Peraturan Menteri”
• Revisi Permenkes No.56 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Penyakit Akibat Kerja
“ Kompetensi dokter di bidang kesehatan kerja diperoleh dari pendidikan formal dan pelatihan yang
terstandar sesuai ketentuan peraturan perundangan mengenai pelatihan bidang kesehatan”

30

KONSENSUS TATALAKSANA PENYAKIT AKIBAT KERJA


KONSENSUS TATALAKSANA
PENYAKIT AKIBAT KERJA
TAHUN 2018
1. Penegakkan Diagnosis Penyakit Akibat
Kerja dengan Prinsip 7 Langkah
Diagnosis
2. Katagori Penetapan Penyakit Akibat
Kerja
a. Penyakit Akibat Kerja yang Spesifik
pada Pekerjaan tertentu
b. Dugaan Penyakit Akibat Kerja
c. Penyakit Akibat Kerja yang
Kompleks
3. Mekanisme rujukan dan rujuk balik
(Permenkes no. 56/2016 ttg penyelenggaraan
pelayanan Pemyakit akibat kerja)
Pencatatan
• Setiap fasilitas pelayanan kesehatan penyelenggara pelayanan penyakit akibat kerja
wajib melakukan pencatatan kasus diduga penyakit akibat kerja dan kasus penyakit
akibat kerja di dalam rekam medis.
• Pencatatan penyakit akibat kerja dilakukan sebagai bagian dari surveilans kesehatan
pekerja.
Pelaporan
• Penyelenggaraan pelayanan penyakit akibat kerja dilaporkan secara berjenjang
sebagai bagian dari surveilans kesehatan pekerja. Pelaporan dilakukan secara
berjenjang mulai dari pelayanan kesehatan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota,
dilanjutkan ke dinas kesehatan provinsi, dan Kementerian Kesehatan melalui
Direkrorat Jenderal Kesehatan Masyarakat.
• Pelaporan terkait dengan pembiayaan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Kesehatan dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan disesuaikan
dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
SISTEM PELAPORAN Klaim Pembiayaan
PENYAKIT AKIBAT KERJA Aplikasi Pcare dan V Claim
BPJS Kes –Perpres
BPJS TK,
82
Perpres 7
TASPEN, ASABRI
Surveilans Nasional Permenkeu 141
KEMENTERIAN KESEHATAN Rev Permenkes 56
Aplikasi SitKo Pemangku
DINAS KESEHATAN Kepentingan Terkait
(Disnaker, Tempat
kerja)

Aplikasi SitKo Feed Back - Perbaikan


Lingkugan Kerja
RUMAH SAKIT
PUSKESMAS

Klinik/Dr Praktek Swasta


KLINK
PERUSAHAAN
UMKM UMKM UMKM Pos UKK
Peserta JKN - Peserta JKK Formal, Informal, ASN, Informal Pos UKK Informal
Peserta JKN - Bukan Peserta JKK TNI, Polri
Penutup

 Pekerja memiliki peran strategis dalam meningkatkan derajat


kesehatan masyarakat
 Permasalahan kesehatan pekerja mencakup penyakit umum
pada pekerja (penyakit menular dan tidak menular), Penyakit
Akibat Kerja dan kecelakaan kerja.
 Deteksi dini Penyakit Akibat Kerja sangat penting dalam
Program K3 sebagai bagian dari upaya pengendalian risiko di
tempat kerja dan preventif serta promotif kesehatan kerja.
 Penerapan sistem Pencatatan dan Pelaporan Penyakit Akibat
Kerja memerlukan kerjasama semua pihak baik internal
instansi, sinergi lintas program dan sektor lain.