Anda di halaman 1dari 58

LAPORAN KASUS

ACNE VULGARIS

Pembimbing :
dr. Ayu Nur Ain H., Sp.KK

Disusun oleh :
Almira Nur Arofah
1713020033

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO


Identitas Pasien

Nama : Ny. E
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 27 tahun
Alamat : Songgom
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : SMA
Status Pernikahan : Menikah
Suku Bangsa : Jawa
ANAMNESIS
• wajah terasa nyeri dan perih di wajah sejak sejak 1 tahun yang lalu. Pasien
mengatakan, awalnya bintik-bintik warna merah terdapat dibagian pipi kanan
dan kiri, berkelompok dan terasa gatal. Bintik-bintik warna merah tersebut lama
RPS kelamaan muncul cairan berwarna putih seperti nanah.
• Pasien sudah pernah memeriksakan diri ke klinik kecantikan dan melakukan
tindakan laser, akan tetapi keluhannya tidak kunjung membaik dan bintik bintik
merah di wajah malah bertambah banyak

• Pasien mengatakan tidak pernah mengalami keluhan kulit wajah seperti ini,

RPD keluhan sebelumnya hanya muncul jerawat sejak 1 tahun terakhir hilang timbul
dan dirinya tidak merasa bahwa telah tergigit oleh serangga dan tidak sedang
mengkonsumsi obat-obatan. Riwayat alergi disangkal.

RPK • Tidak ada keluhan serupa dengan pasien


PEMERIKSAAN
FISIK
KU, Kesadaran, TTV,
BB

Kepala
Wajah
Telinga
Leher
Thorax
Abdomen
Genitalia
Ekstremitas Atas
Ekstremitas Bawah
STATUS DERMATOLOGIKUS
Distribusi : Regional
Ad Regio : Facial
Lesi : papul dan pustul multipel sebagian diskret sebagian konfluens,
bentuk bulat, ukuran milier, menimbul dari kulit dengan ukuran
terbesar 0,5 cm x 0,5 cm x 0,5 cm, terkecil 0,1 cm x 0,1 cm x 0,1
cm berbatas tegas.
Efloresensi : Multipel pustul, papul dengan dasar eritem, ukuran Ø 0,1-0,3cm,
komedo, yang sebagian diskret dan sebagian konfluensi.
DIAGNOSIS BANDING
• Acne Vulgaris
• Erupsi Akneiformis
• Folikulitis

DIAGNOSIS
• Acne vulgaris gradasi sedang
PENATALAKSANAAN
Tatalaksana Umum
• Mencuci wajah minimal 2 kali sehari

Medikamentosa
• Antibiotik oral Doksisiklin 2x100mg/hari selama 6-12 minggu,
• Topikal Retinoid  1x1 malam hari
• Terapi rumatan  Komunikasi, informasi, edukasi (KIE), Topikal Retinoid, BPO
Non-medikamentosa
• Tidak menggaruk lesi
• Tetap mandi
• Perawatan kulit termasuk ekstrasi komedo
• Mengurangi kecemasan dan ketidakpahaman pasien
Tindakan
• Ekstraksi komedo
KOMPLIKASI PROGNOSIS
Quo ad vitam : Ad bonam
-Skar akne Quo ad fungtionam : Dubia ad bonam
-Hiperpigmentasi post inflamasi Quo ad sanationam : Dubia ad bonam
Quo ad kosmetikum : Dubia ad bonam
TERIMAKASIH 
Definis
 Akne vulgaris adalah peradangan kronik folikel pilosebasea yang ditandai dengan
adanya komedo, papul, pustul, nodus, dan jaringan parut yang terjadi akibat
kelainan aktif tersebut seperti hipertrofik dan hipotrofik.
 Predileksi akne vulgaris pada daerah-daerah wajah, bahu bagian atas, dada, dan
punggung
Epidemiologi
 Insiden terjadinya akne vulgaris lebih banyak pada anak perempuan dibanding
anak laki-laki dengan usia sekitar 13% pada anak usia 6 tahun dan 32% pada
anak usia 7 tahun. Sejak saat itu tidak ada evolusi yang signifikan mengenai usia
timbulnya jerawat. Menurut studi yang berbeda dari literatur berbagai negara, usia
awal rata-rata 11 tahun pada anak perempuan dan 12 tahun pada anak laki-lak
Etiologi
 Akne vulgaris dapat disebabkan oleh beberapa faktor:
 Sebum
 Bakteri
 Herediter
 Hormon
 Diet
 Iklim
 Faktor iatrogenik
Patogenesis
Patogenesis akne vulgaris tidak diketahu tapi dipengaruhi banyak faktor. Ada empat
hal penting yang berhubungan dengan terjadinya akne, yakni peningkatan sekresi
sebum, adanya keratinisasi folikel, bakteri, dan peradangan (inflamasi).
 Peningkatan sekresi sebum
 Hiperkornifikasi saluran pilosebasea
 Bakteri
 Produksi peradangan
Peningkatan sekresi sebum
Gambar 2 : Progress pathogenesis akne 7
Gambar 3: Jalur metabolism steroid
Hiperkornifikasi saluran pilosebasea
Gejala Klinis
 Kebanyakan pasien dengan AV datang dengan lesi onset yang bertahap saat
memasuki masa puber. Beberapa kasus dapat ditemukan pada neonatus atau
bayi.
 Predileksi :
 Muka
 Bahu
 Dada bagian atas
 Punggung bagia atas
 Leher, lengan atas dan glutea kadang-kadang terkena
 Erupsi kulit polimorf, dengan gejala predominan salah satunya, komedo,papul
yang tidak beradang, dan pustul, nodus dan kista yang beradang. Dapat disertai
rasa gatal, namun umumnya keluhan penderita adalah keluhan estetis.

 Komedo adalah gejala patognomonik bagi acne berupa papul miliar yang di
tengahnya mengandung sumbatan sebum, bila berwarna hitam akibat
mengandung unsur melanin disebut komedo hitam atau komedo terbuka (black
komedo, open comedo
 Sedangkan bila berwarna putih karena letaknya lebih dalam sehingga tidak
mengandung unsure melanin disebut komedo putih atau komedo
tertutup.Adapula bentuk acne yang berupa papul eriematus,pustule, kista, dan
abses
Komedo Tertutup Komedo Terbuka
Klasifikasi
 Akne meliputi berbagai kelainan kulit yang hampir mirip satu dengan
lainnya, sehingga diperlukan penggolongan / klasifikasi untuk
membedakannya. Plewig dan Kligman dalam buku Acne: Morphogenesis
and Treatmant (1975) mengklasifikasikan acne sebagai berikut:
Akne :

 A. Akne vulagris dan varietasnya:1

 Akne tropikalis

 Akne fulminan

 Pioderma fasialis

 Akne mekanika
 Akne venenata akibat kontaktan eksternal dan varietasnya:
 Akne kosmetika
 Pomade acne
 Akne klor
 Akne akibat kerja
 Akne deterjen

 Akne komedonal akibat agen fisik dan varietasnya:


 Solar comedones
 Akne radiasi (sinar X, kobal)
Gradasi Akne
 Ringan, bila :1
 Beberapa lesi tak beradang pada 1 predileksi
 Sedikit lesi tak beradang pada beberapa tempat predileksi
 Sedikit lesi beradang pada 1 predileksi
 Sedang, bila :1
 Banyak lesi tak beradang 1 predileksi.
 Beberapa lesi taka beradang pada lebih dari 1 predileksi
 Beberapa lesi beradang pada 1 predileksi
 Sedikit lesi beradang pada lebih dari 1 predileksi
 Berat, bila :1
 Banyak lesi tak beradang pada lebih dari 1 predileksi
 Banyak lesi beradang pada 1 atau lebih predileksi

 Catatan : Sedikit < 5, beberapa 5-10, banyak > 10 lesi


 Tak beradang : komedo putih, komedo hitam,papul
 Beradang : pustul, nodus, kista.
Diagnosis
 Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, dan
tes laboratorium.

 Pemeriksaan Hitopatologis
 Gambaran yang spesifik berupa sebukan sel radang pada pilosebasea. Pemeriksaan
mikrobiologi terhadap jasad renik yang memiliki peran pada etiologi dan patogenesis
penyakit dapat dilakukan di laboratorium mikrobiologi. Namun hasilnya sering tidak
memuaskan.
 Pemeriksaan Laboratorium
 Pemeriksaan kadar lipid dalam kulit dapat dilakukan. Pada akne vulgaris kadar
asam lemak meningkat dan oleh karena itu pada pencegahan dan pengobatan
digunakan cara untuk menurunkannya.

 Pemeriksaan ekskohleasi sebum,yaitu pengeluaran sumbatan sebum dengan


komedo ekstraktor (sendok unna).
Diagnosis Banding
 Erupsi Akneiformis
 Disebabkan oleh induksi obat, misalnya kortikosteroid, INH, barbiturate, bromide,yodida,
difenil hidantoin, trimetadion,ACTH, dan lainnya. Klinis berupa erupsi papulo pustule
mendadak tanpa adanya komedo di hampir seluruh bagian tubuh. Dapat disertai demam
dan dapat terjadi di semua usia
Folikulitis
DEFINISI
 radang folikel rambut, paling sering pada kulit kepala dan ekstremitas
 penyebab, terutama: stafilokokus
FOLIKULITIS

Peradangan folikel rambut ketiak Peradangan folikel rambut kepala


Folikulitis
GAMBARAN KLINIK
papul atau pustul yang eritematosa dan bagian tengahnya
terdapat rambut, biasanya multipel.
Lokasi: pada daerah berambut

DD
Acne vulgaris
Impetigo
Folikulitis
TERAPI:
 menjaga kebersihan kulit
 makanan tinggi protein & kalori
 antibiotika sistemik, mis: eritromisin
 antibiotika topikal, mis: asam fusidat
 bila ada eksudasi, dikompres dengan NaCl
 Rosasea
 penyakit peradangan kronik di
daerah muka dengan gejala
eritema, pustule, teleangiektasi dan
kadang-kadang disertai hipertrofi
kelenjar sebasea. Tidak terdapat
komedo kecuali bila kombinasi
dengan acne
 Dermatitis Perioral
 terutama pada wanita dengan gejala
klinis polimorf eritema, papul,
pustule, di sekitar mulut yang terasa
gatal.
Penatalaksanaan
 Non-Medikamentosa :
 Perawatan kulit muka
 Perawatan kulit dan rambut
 Kosmetika dan bahan-bahan lain
 Diet
 Emosi dan factor psikosomatik
Medikamentosa
 Pengobatan Topikal :
 Bahan iritan yang dapat mengelupas kulit (peeling)
 Benzoil peroksida (1,2.5,5,10 %) lotion dan gel.
 Bersifat lipofilik dan efektif utuk menekan pertumhuhan P.aches.
 Sulfur Topikal dan Sodium Sulfacetamide
 Untuk mengeringkan dan antibacterial. (lotion, cream, foam, dan juga masker)
 Asam Azelaic Topikal
 Menekan inhibisi sintesis protein.
 Retinoid Topikal
 Komedolitik dan antiinflamasi.
 Ada beberapa macam retinoid: Adapalene, Tretionin, Tazarotane
 Antibiotik Topikal (Klindamisin dan Ertitromisin)
 Menghibisi Propionibacterium acnes pada ribosom 50S sehingga menghambat sintesis
proteinnya.
 Antiperadangan topical
 Salep atau cream kortikosteroid ringan atau sedang
 Hidrokortison 1-2,5% atau injeksi Triamsinolon 10 mg/cc pada lesi nodulo-kistik.
 Lainnya, misalnya etil laktat 10% untuk menghambat pertumbuhan jasad renik.
 Pengobatan Sistemik :
 Antibiotik Sistemik
 Doksisiklin 20 mg, 2x1 (sebagai antiinflamasi)
 Minosiklin 1 mg/kgbb.hari
 Eritromisin 500 mg, 2x1
 Azitromisin 500 mg/hari selama 4 hari
 Cefaleksin 500 mg 2x1 dalam 10 hari
 Kontrasepsi Oral dan Antiandrogen
 Estrogen-progestin 50 mg untuk menekan produksi sebum.
 Spironolakton 50-200 mg. dosis 100-200 mg/hari bermanfaat untuk mengurangi produksi
sebum.

 Retinoid Sistemik 120-150 mg/kgbb.


Retinoid
 Adalah senyawaan alami atau sintetik turnan retinol yg berkhasiat spt vitamin
A.
 Fungsi retinoid: dalam penglihatan, pengaturan proliferasi dan diferensiasi sel
dan pertumbuhan tulang, pertahanan imun, dan supresi tumor.
 Vit A pengaruhi diferensiasi epitel, hendak digunakan utk obati peny kulit, tetapi
banyak efek samping.
 Modifikasi molekuler lahirkan senyawaan dgn margin of safety yg lebar:
retininol, tretinoin (all-trans-retinoic acid), isotretinoin (13-cis-retinoic acid),
alitretinoin (9-cis-retinoic acid); aromatic retinoid (acitrecin); arotinoid
(tarazotene, bexarotene); adapalene (turunan naphtoic acid)
Retinoid
 Asam retinoid mengaktifkan 2 jenis reseptor, yaitu retinoic acid receptors (RARs) dan
retinoic X receptors (RXRs). Kompleks ligand-receptor ini ikat promotor region gen
target dan atur ekspresi gen. Produk yg dihasilkan oleh ekspresi gen ini memberi efek
farmakologik dan efek samping obat ini. Terdapat 3 isoform reseptor (α,β,γ), kulit berisi
RARα dan RARβ.
 Generasi 1 dan 2 retinoid tak selektif ikat reseptor, hingga timbulkan banyak efek
samping. Generasi 3 lebih selektif, lebih disukai.
 Efek samping: kulit kering, mimisan krn mukosa kering, konjungtivitis, dan rambut
rontok. ES yg ringan: nyeri otot, pseudotumor cerebri, perubahan suasana perasaan.
 Retinoid adalah teratogenik, tak digunakan pada wanita usia subur.
 Indikasi: penyakit radang kulit, kanker kulit, kulit hiperproliferatif, photoageing
Retinoid
 Tretinoin: utk acne vulgaris, kurangi hiperkeratinisasi yg akan bentuk
mikrokomedone; utk kulit photoaging (keriput, kasar, dan hiperpigmentasi),
diberikan topikal.
 Adepalene: indikasi sama dengan tretinoin; stabil di sinar matahari, kurang
meradang.
 Tazarotene (generasi 3): utk psoriasis dan acne vulgaris, ikat ketiga jenis RAR,
berikan topikal 1 kali sehari, utk psoriasis dapat dicampur dengan steroid.
 Alitretinoin: ikat semua jenis reseptor retinoid, utk kelainan kulit pd sindr.
Kaposi; ES adalah eritema, desquamasi, terbakar, stinging, fototoksik.
Dikontraindikasikan pd wanita hamil.
Retinoid
 Isotretinoin: utk acne vulgaris nodulokistik berat dan acne nodular recalcitrant yang
berat ; dosis adalah 0.5-2.0 mg/kgBW selama 15-20 minggu; indikasi lain utk acne
rosacea, hidradenitis suppurativa, dan gram-negative folliculitis. ES: cheilitis, kukosa
kering, mimisan, mata kering, blepharoconjunctivitis, erupsi eritematous, xerosis,
rambut rontok, fotosensitivitas, dislipidemia, myalgia dan artralgia, hiperostosis,
teratogenik bila diminum 1 bulan pertama kehamilan.
 Acitrecin: utk psoriasis, ditarik karena toksik.
 Bexarotene: selektif ikat RXR, digunakan utk limfoma kulit set T, dimetabolisir oleh
CYP3A4. ES: hipotiroidism, dislipidemia, leukopenia, pankreatitis.
 Defisiensi Vit. A timbulkan metaplasia squamosa. Retinoid, oral atau topikal, obati
premalignancy kulit dan cegah kanker kulit, diberikan dalam dosis toksik.
 Beta-carotene: precursor vit A dari sayur, antioksidan, kurangi fotosensitivitas pada
protoporfiria eritropoetik.
Terdapat dalam 2 bentuk yaitu :
a. Tretinoin (all-trans retinoic acid atau ATRA), satu bentuk aktif retinol yang terdapat
pada semua jaringan kecuali retina.
b. Isotretinoin (13-cis retinoic acid), merupakan hasil isomerisasi tretinoin.
 Terdapat 3 generasi retinoid sintetik :

1. Generasi pertama: suatu retinoid non-aromatik yang diproduksi dengan cara modifikasi
kelompok polar dan rantai samping polyene vitamin A, termasuk di dalamnya tretinoin dan
isotretinoin.
2. Generasi kedua: retinoid monoaromatik, termasuk di dalamnya etretinat dan metabolitnya
yaitu asitretin. Etretinat dan metabolik asam bebasnya, asitretin, memperlihatkan indeks
terapeutik 10 kali lebih menguntungkan dari ATRA.

3. Generasi ketiga: retinoid poliaromatik, termasuk di dalamnya karotinoid yaitu adapalen dan
tazaroten ,yang berkembang sebagai terapi topikal dan bexarotene (oral dan topikal). Obat
tersebut merupakan generasi retinoid dengan indeks terapeutik yang lebih aman.
Dicerna sebagai retinyl ester
Makanan mengandung retinol retinyl ester bergabung dengan
dan sebagai provitamin A
(vitamin A) Chylomicrons
karotenoid

Menjadi chylomicron retinyl


Dalam darah berikatan dengan Disimpan di hepar dalam
esters dan lipoprotein retinyl
RBP bentuk ester
esters

Retinol berubah menjadi ATRA


Menjadi retinol-RBP ATRA berikatan dg CRBP-1
di keratinosit

Memicu proses diferensiasi,


proliferasi, respons imun dan
respon inflamasi

Metabolisme Retinoid Alami


Mekanisme isotretinoin di acne
Cara isotretinoin mengobati jerawat

Langsung memicu Tidak langsung memicu


transkripsi gen transkripsi gen

Membentuk ikatan retinoid + reseptor di kulit Menurunkan regulasi gen AP-1 (regulator protein
(RARs dan RXRs) di inti sel 1) dan NF-IL6 (nuclear factor IL6)

Membentuk kompleks heterodimer Berperan dalam proses proliferasi dan


inflamasi
Mengubah siklus protein sel SEB-1
sebosit dan keratinosit

Menurunkan ukuran kel. Sebasea dan Menghambat bakteri yang


penurunan sekresi sebum tergantung sebum (P. acnes)
 Indikasi retinoid sistemik:
1. Psoriasis
2. Akne
3. Cutaneous T-cell lymphoma (CTCL)
4. Kelainan keratinisasi
5. Photoaging
6. Lesi kulit prakanker dan kanker
7. Lupus eritematosus
 Kontraindikasi:

1. Moderate-severe liver dysfunction


2. Severe kidney disfunction
3. Ibu hamil dan menyusui
4. Wanita usia subur yang tidak dapat/patuh memakai kontrasepsi selama 2-3 tahun selama
dan setelah 2-3 tahun terapi asitretin
5. Hiperlipidemia terutama hipertrigliserida yang tak terkontrol
6. Terapi dengan obat-obatan yang dapat mempengaruhi retinoid
7. Terapi dengan obat-obatan yang bersifat hepatotoksik
8. Diabetes melitus yang tak terkontrol
9. Pengguna Alkohol
Dosis isotretinoin
 Dosis harian isotretinoin yang direkomendasikan adalah 0,5 - 1 mg/kgBB/hari.

 Pada penggunaan isotretinoin dalam jangka panjang perlu memulai perawatan


dengan dosis yang kecil yaitu kurang dari 0,5 mg/Kg BB/hari dengan akumulasi
total dosis 120-150 mg/Kg BB.
Efek Samping
a. Mukokutan
b. Okular
c. Muskuloskeletal
d. Sistem saraf
e. Hepar
f. Abnormalitas lipid
g. Teratogenik
Skrining pretreatment dan monitoring terapi
retinoid
 Bedah Kulit
 Bedah scalpel
 Bedah listrik
 Bedah kimia
 Bedah beku
 Dermabras
Komplikasi
 Semua tipe lesi akne mempunyai potensial untuk meninggalkan bekas. Hamper
semua lesi akne meninggalkan eritema sementara setelah pemyembuhan. Pada
jenis kulit yang lebih tebal, hipepigmentasi postinflamatori dapat bertahan setelah
beberapa bulan setelah penyembuhan lesi akne. Pada beberapa individu lesi akne
dapat mengakibatkan jaringan parut yang menetap.
Prognosis
 Onset dari akne vulgaris sangat bervariasi, dimulai dari 6 hingga 8 tahun dan
kemudian tidak timbul lagi hingga umur 20 atau lebih.Kejadian akne ini biasanya
diikuti oleh remisi yang terjadi secara spontan. Walaupun rata-rata pasien akan
mengalami penyembuhan pada usia awal 20an tapi ada juga yang masih menderita
akne hingga decade ketiga sampai decade keempat.
 Akne pada wanita biasanya berfluktuasi berkaitan dengan siklus haid dan biasanya
bermunculan sesaat sebelum menstruasi.Kemunculan akne ini tidak seharusnya
berhubungan dengan perubahan aktivitas glandula sabaseus, dimana tidak terjadi
peningkatan produksi sebum pada fase luteal dalam siklus menstruasi.
 Pada umumnya prognosis dari akne ini baik, pengobatan sebaiknya dimulai pada
awal onset munculnya akne dan cukup baik untuk menghindari sekuele