Anda di halaman 1dari 45

Endoftalmitis dan Panoftalmitis

Pembimbing : dr. Ilhamiyati, Sp. M

Mella Intaniabella Ngapriba 201910401011004


Endoftalmitis
Definisi
Endoftalmitis adalah : Suatu
peradangan pada struktur bagian dalam
bola mata, seperti uvea dan retina yang
terkait dengan adanya eksudat di humour
vitreus tanpa melibatkan sklera dan kapsula
tenon, yang biasanya terjadi akibat adanya
infeksi.
Epidemiologi
• Kejadian rata – rata tahunan adalah sekitar 5/ 10.000 pasien
yang dirawat.
• Sebagian besar kasus endophthalmitis eksogen (sekitar 60%)
terjadi setelah operasi intraokular.
• Amerika Serikat  endoftalmitis post katarak adalah bentuk
yang paling umum dengan sekitar 0,1 - 0,3% dari operasi
menimbulkan komplikasi ini.
• Post traumatic endophthalmitis terjadi pada 4 - 13% dari semua
cedera penetrasi okular.
• Kejadian endophthalmitis yang disebabkan oleh benda asing
intraokular adalah 7 - 31%.
Etiologi
Penyebab Infeksius :
 Bakteri
• Bakteri gram (+) >>> : S. epidermidis dan S. Aureus 
endoftalmitis akut bakterial.
• Bakteri lain : Streptococcus, Pseudomonas, Pneumococcus,
dll.
 Jamur
• Jarang terjadi.
• Fungi yang sering membuat endoftalmitis di antaranya
adalah : aspergillus, fusarium dan candida.
Etiologi
Penyebab Non – Infeksius :
 Post operative steril endophtalmitis.
 Post – traumatic steril endophthalmitis.
 Tumor intraokular.
 Phacoanaphylactic endophthalmitis.
Klasifikasi
Pasca bedah katarak
Post – operatif
akut
Pasca operasi filtrasi
antiglaukoma

Post - operatif
Eksogen kronis Pseudofaki kronis

Endoftalmitis Post – traumatik


endoftalmitis

Bakteri
Endogen

Jamur
Patofisiologi
Endoftalmitis Eksogen

Trauma
Mengenai
penetrasi Terbentuk
Luka di Organisme bagian lain
mengenai pus dalam
kornea masuk : uvea dan
korpus bola mata
retina
vitreum
Patofisiologi
Endoftalmitis Endogen

Mikroorganisme Penetrasi Mengenai bagian


menyebar Menembus Terbentuk pus
mengenai korpus lain : uvea dan
secara barrier mata dalam bola mata
hematogen vitreum retina
Manifestasi Klinis
Endoftalmitis Bakteri Endoftalmitis Jamur
1. Nyeri akut, Gejala selama beberapa hari
2. Kemerahan pada mata, sampai minggu.
3. Pembengkakan, 1. Penglihatan kabur,
4. Penurunan visus. 2. Rasa nyeri,
3. Penurunan visus,
4. Infeksi C. albicans 
didahului demam tinggi
Pemeriksaan Fisik
Visus Menurun
Palpebra Edema, hiperemi
Konjungtiva Hiperemi, kemosis
Kornea Edema
BMD Hipopion
Iris Edema
Pupil Yellow refleks
Funduskopi Vitreus kabur
Injeksi siliar

Kornea keruh

Hipopion
Yellow Refleks

Hipopion
Diagnosis
• Anamnesis
• Pemeriksaan fisik :
• Pemeriksaan visus,
• Inspeksi struktur luar,
• Funduskopi
• Pemeriksaan penunjang :
1. Laboratorium
2. Radiologi
• Pemeriksaan laboratorium :
1. Pewarnaan gram dan kultur dari aqueous
humour atau vitreous humour yang
dilakukan oleh spesialis mata
2. Endoftalmitis eksogen: sampel vitreous
(vitreous tap)
Endoftalmitis endogen:
1. Cek darah lengkap dengan hitung jenis sel
darah putih
2. Laju Endap Darah ( Erythrocyte
Sedimentation Rate)
• Pemeriksaan radiologi :
1. Foto roentgen thorax
3. USG Jantung
Diagnosis Banding
Toxic Anterior Segment Syndrome (TASS)
• Disebabkan oleh pengenalan substansi zat beracun
selama operasi yang umumnya disebabkan oleh
instrumen, cairan, atau lensa intraokular
• Awitan dimulai pada 12-24 jam post-operasi
• Penglihatan kabur, edema kornea, peningkaan TIO
• Kultur bakteri  (-)
Anne M.Menke. Endophthalmitis and TASS : Prevention, Diagnosis, Investigation,
Response. Ophtalmic Mutual Insurance Company : 2010
UVEITIS ENDOFTALMITIS
Non purulen Purulen
Injeksi silier Hiperemi difus
- Kemosis
Hipopion (jarang) Hipopion (sering)
Penatalaksanaan

TUJUAN

Mensterilkan Mengurangi Mempertahankan


mata kerusakan pengelihatan
jaringan
Penatalakasanaan

Non-
Farmakologi
farmakologi

Operatif Pencegahan
Non Farmakologi
• Edukasi tentang kebersihan/ hygine
Terapi Farmakologi
• Antibiotik
Pemberian : Intravitreal, topikal dan sistemik
• Steroid
• Suportif (Siklopegik & Obat-antiglaukoma)
Antibiotik Intravitreal
• Diberikan sedini mungkin
• Prosedur dilakukan secara transkonjungtiva
dengan anastesi lokal dari area pars plana (4-
5mm dari limbus)
Antibiotik Intravitreal
• Penggunaan kombinasi dua obat [untuk gram (+) & gram
(-)]
 Pilihan pertama
Vancomycin 1mg dalam 0.1ml + Ceftazidine 2.25 mg dalam
0.1ml
 Pilihan kedua
Vancomicin 1 mg dalam 0.1ml + amikacin 0.4 mg dalam
0.1 ml
 Pilihan ketiga
Vancomicin 1 mg dalam 0.1ml + gentamicin 0.2 mg dalam
0.1 ml
Antibiotik topikal
• Vancomicin (50 mg/ml) atau Cefazolin (50
mg/ml)
Dan

• Amikacin (20 mg/ml) atau Tobramycin


(15mg%)
Antibiotik sistemik
• Ciprofloxacin IV 2 x 200 mg (3 – 4 hari), diikuti 500 mg
oral 2 x 500 mg selama 6 – 7 hari.
• Vankomisin IV 2 x 1 gr dan ceftadizim IV 3 X 2 gr.
• Cefazolin IV 4 x 1,5 gr dan amikasin IV 3 X 1 gr.
Steroid
– Dexamethasone intravitreal 0.4 mg dalam 0.1
ml
– Dexamethasone 4 mg (1 ml) subkonjungtiva selama 5
– 7 hari
– Steroid sistemik. Terapi harian dengan
prednisolone 60 mg diikuti dengan 50 mg, 40
mg, 30 mg, 20 mg, dan 10 mg selama 2 hari.
Terapi tambahan
Membatasi
kerusakan
jaringan e.c
Steroid inflamasi

Tetes mata atropin


1% Siklopegik
ATAU
Hematorpine 2% 2-
3 hari sekali
Anti
glaukoma
Disarankan utk pasien dengan peningkatan TIO:
1. Acetazolamide 3x250mg
2. Timolol 0,5% 2x1
Tindakan Operasi
• Vitrectomy adalah tindakan bedah dalam terapi
endophthalmitis
• Vitrectomy penting dalam pengelolaan
endoftalmitis yang tidak responsif terhadap
terapi medikamentosa
Pencegahan
1. Identifikasi keadaan pasien yang memiliki
faktor resiko sebelum operasi (blepharitis,
kelainan drainase lakrimal, adanya infeksi
yg aktif)
2. Persiapan operasi, termasuk :
• Pov. Iodine 5-10%
• Sarung tangan steril
• Profilaksis topikal / perikoular antibiotik
• Profilaksis intravitreal (pada kasus – kasus
trauma)
Prognosis
Prognosis tergantung :
• Durasi dari endoftalmitis, jangka waktu infeksi
sampai penatalaksanaan, virulensi bakteri dan
keparahan dari trauma

• Bila sudah terlihat hipopion, dapat diambil


kesimpulan bahwa keadaan endoftalmitis sudah
lanjut sehingga prognosis lebih buruk
Daftar Pustaka
1. Benz MS, Scott IU, Flunn HW. Endophtalmits isolates and antibiotic sensitivites: A 6 years review of culture proven cases. Am J
Ophtalmol 2004; 137:1:38-42.
2. Callegan MC, Elenbert M, Parke DW. Bacterial endophthalmitis: Epidemiology, therapeutics, and bacterialhost interactions. Clin Microbiol
Rev 2002;15:1:111-24.
3. Cooper Ba, Holekamp Nm, Bohigian G, Thompson PA. Case- control study of endophthalmitis after cataract surgery comparing scleral
and corneal wounds. Am J Ophtalmol 2003; 136: 300-5.
4. Gan IM, Ugahary LC, van Dissel JT, Feron E, PeperkampE, Veckeneer M et al. Intravitreal dexamethasone as adjuvant in the treatment
of postoperative endophthalmitis:a prospective randomized trial. Graefes Arch Clin Exp Ophthalmol.2005;243(12):1200-5.
5. Hanscom TA. Postoperative edophthalmitis. Clin Infect Dis 2004; 38:4:542-6.
6. Hatch WV, Cernat G, Wong D, Devenyi R, Bell CM. Risk factors for acute endophthalmitis after cataract surgery: a population-based
study. Ophthalmology 2009;116(3):425-30.
7. Ilyas S. Dalam: Penuntun IlmuPenyakit Mata. Jakarta, FKUI: 2013;
8. Kalamalarajah S, Silvestri G, Sharma N. Surveillance of endophthalmitis following cataract surgery in the UK. Eye 2004; 18:6: 580-7.
9. Lunstrom M, Wejde G, Stenevi U. Endophthalmitis after cataract surgery: a nationwide prospective study avaluating incidence in relation
to incision type and location. Ophthalmology 2007;114: 1004-9.

10. Maguire JI. Postoperative endophthalmitis: optimal management and the role and timing of vitrectomy surgery. Eye 2008;22(10):1290-
300.
11. Miller JJ,Scott IU, Flynn HW. Endophthalmitis caused by Streptococcus pneumoniae. Am J Ophtalmol 2004; 138:2:231-6.
12. Khurana AK. Comprehensive ophthalmology. 4th ed. Anshan publishers 2007.
13. Prajna NV, Sathish S, Rajalakshmi PC, George C. Microbiological profile of anterior chamber aspirates following uncomplicated cataract
surgery. Indian J Ophthalmol 1998;46(4):229-32.
14. Scheidler V, Scott IU, Flun HW. Culture-proven endogenous endophtalmitis:Clinical features andvisual acuity outcomes. Am J Ophtalmol
2004;137:4
15. Smith SR, Kroll AJ, Lou PL, Ryan EA. Endogenousbacterialand fungal endophthalmitis. Int OphthalmolClin 2007;47(2):173-83.
16. Ojaimi Elvis and David T Wong. Endophthalmitis, Prevention and Treatment.University of Toronto.2013
17. Trofa D, Gácser A, Nosanchuk JD. Candida parapsilosis,an emerging fungal pathogen. Clin Microbiol Rev 2008;21(4):606-25.
18. Anne M.Menke. Endophthalmitis and TASS : Prevention, Diagnosis, Investigation, Response. Ophtalmic Mutual Insurance Company :
2010
Panoftalmitis
Definisi
Panoftalmitis adalah : Suatu
peradangan pada struktur bagian dalam
bola mata, seperti uvea dan retina yang
terkait dengan adanya eksudat di humour
vitreus yang melibatkan sklera dan kapsula
tenon, yang biasanya terjadi akibat adanya
infeksi.
Pneumococcus adalah organisme yang paling sering
menyebabkan panoftalmitis, disamping Streptococcus,
Staphylococcus dan E. coli. Selain itu jamur (seperti
Candida albicans, Histoplasma, Cryptococcus, dll), parasit
(seperti Toxoplasma, Toxocara, dll), serta virus (seperti
CMV, HIV, dll).
Panoftalmitis biasanya disebabkan oleh masuknya
organisme piogenik kedalam mata melalui luka pada
kornea yang terjadi secara kebetulan atau akibat operasi
atau mengikuti perforasi suatu ulkus kornea.
PATOFISIOLOGI
• Trauma penetrasi  mengenai korpus vitreumkemudian
bagian lain seperti uvea dan retina juga ikut terkena.

• Bila pada kasus perforasi ulkus kornea atau mengikuti infeksi


pasca bedah intra-ocular, peradangan dimulai dengan
iridocyclitis dan jika infeksi tidak terlalu virulent, dapat
dikontrol dengan pengobatan sedini mungkin. Tapi jika kuman
terlalu virulent, peradangan purulen berangsur – angsur
menyebar ke bagian uvea posterior dan mengenai seluruh
jaringan uvea dan retina, akhirnya terjadi pembentukan pus
dalam bola mata meskipun diobati.
MANIFESTASI KLINIS
Subjektif Objektif

Demam, mual muntah Oedem konjungtiva

Penurunan visus Reaksi siliar hebat

Nyeri pada bola mata Chemosis konjungtiva

Nyeri kepala kornea keruh, BMD hipopion

Mata merah, bengkak


PEMERIKSAAN PENUNJANG
• DL
• Kultur darah, urin, sputum dan
tinja
PENATALAKSANAAN

• Antibiotik (Vancomycin dan obat - obat sulfa)  bakteri


• Amfotererisin B150 mikrogram  jamur
• Pyrimetamine, 25 mg peroral per hari, sulfadiazine, 0,5 g
per oral empat kali sehari selama 4 minggu parasit
• Sulfasetamid dan antivirus  virus
• Jika mata sudah tidak bisa diselamatkan  eviserasi
• Pengangkatan isi bola mata dengan

Eviserasi meninggalkan bagian dinding bola mata,


sklera, otot ekstra okuli, dan saraf optik.

• Pengangkatan keseluruhan isi bola mata

Enukleasi termasuk nervus optikus.

• Pengangkatan dari keseluruhan isi rongga

Eksenterasi mata, termasuk otot, sistem kelenjar


lakrimal, nervus optikus dan bagian
tulang orbita.