Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN

KEPERAWATAN
KLAMIDIA &
TRIKOMONIASIS
OL E H :
AR DHI KHOI R UL HAKI M
DES I K A UL FA R ISA
ASKEP KLAMIDIA
CHLAMIDIA
Infeksi Chlamydia sebagai suatu penyakit menular seksual (STI = Sexually
Transmitted Infection) dapat melibatkan beberapa organ, yaitu cerviks,
urethra, salping, uterus dan epidydimis
Chlamydia merupakan bakteri obligat intraselular, hanya dapat
berkembang biak di dalam sel eukariot hidup dengan membentuk
semacam koloni atau mikrokoloni yang disebut Badan Inklusi (BI).
Manifestasi Infeksi Chlamydia
Infeksi Ocular
Infeksi Genital
Infeksi Saluran Pernafasan
Penularan Infeksi Chlamydia
Chlamydia merupakan penyakit menular seksual yang dapat ditularkan
melalui hubungan seksual baik secara oral, anal dan vagina dengan
pasangan yang terinfeksi serta penularan dari seorang ibu kepada
bayinya saat persalinan.
Gejala-Gejala Infeksi Chlamydia
Pada umumnya infeksi Chlamydia, biasanya tanpa gejala, atau pada
orang yang terinfeksi dan memperhatikannya, dapat diketahui gejala-
gejala tertentu dalam beberapa minggu atau bulan, tergantung
keparahan dari infeksinya (severity) dan pengobatan yang dilakukannya.
Bila tidak tertangani dengan baik, gejalanya bisa berbeda-beda.
Gejala-Gejala Infeksi Chlamydia
Pada wanita pre-pubertas: adanya vaginal discharge dan berbau
(vaginitis)
Pada wanita post pubertas: adanya discharge dan bau yang berasal dari
cerviks yang terinfeksi.
Pada wanita dewasa: hampir 80% tidak ada gejala (asimptomatik).
Pada pria: rasa terbakar/panas sewaktu buang air kecil, discharge yang
mild, sticky, milky atau mucus-like dari penis, sakit dan pembengkakan
testis (yang bila tidak diobati dapat menimbulkan infertilitas)
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Infeksi Chlamydia
Umur
Status Pernikahan dan Paritas
Sosial Ekonomi
Pasangan Seksual
Infeksi Menular Seksual
Perilaku: Pengetahuan, Sikap dan Tindakan
Pelayanan Kesehatan
Sanitasi
Penyebab
Sindroma Gejala Tanda
Paling Umum
Vaginal Unusual vaginal Abnormal vaginal Vaginitis:
discharge discharge Discharge – Trichomoniasis
Vaginal itching – Candidiasis
Dysuria Cervicitis:
(pain on urination) – Gonorrhoea
Dyspareunia – Chlamydia
(pa in during sexual
intercourse)
Urethral Urethral discharge Urethral discharge Gonorrhoea
discharge Dysuria (if necessary ask Chlamydia
Frequent urination patient
to milk urethra)
Genital ulcer Genital sore Genital ulcer Syphilis Chancroid
Genital herpes
KOMPLIKASI
Radang panggul
Radang pelvis
Infertilitas
Endometritis postpartum
Epididimitis
Konjungtivitis
pneumonia
Pemeriksaan Chlamydia
trachomatis
Biakan
Pemeriksaan Mikroskopik
Deteksi Antigen Langsung
1) Direct Fluorescent Antibody (DFA)
2) Enzym Immuno Assay (EIA)
Serologik
Test DNA Chlamydia
Cara pencegahan.
Penyuluhan kesehatan dan pendidikan seks
Pemeriksaan pada remaja putri yang aktif secara seksual harus
dilakukan secara rutin.
Puasa mekukan hubungan seks
Batasi partner seksual
Gunakan kondom dengan benar
Cek kesehatan
TERAPI
Terapi yang biasanya digunakan adalah Antibiotika, minum obat secara
teratur
Partner seksualnya juga harus diobati

Obat antibiotik :
Doksisiklin 2 x 100mg selama 1 minggu atau lebih
Tetrasiklin 4 x 500 selama 1 minggu atau lebih
Eritromisin 4 x 500mg selama 1 minggu atau lebih
Azitromisin 1 gram dosis tunggal
ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
a. Riwayat
Riwayat penyakit dahulu : gatal-gatal pada kemaluan dan adanya
keputihan.
Riwayat penyakit sekarang : nyeri pada bagian pelvis, nyeri saat buang
air kecil.
Riwayat penyakit keluarga : tidak ada penyakit yang berhubungan
dengan klamidia
b. Pemeriksaan fisik
INSPEKSI :
Adanya keputihan
Adanya bercak-bercak keputihan pada celana dalam laki-laki.
Kulit kelamin berwarna kemerah-merahan.
Palpasi :
Kelenjer inguinal dipalpasi untuk mengetahui adanya nyeri tekan
dan bengkak. Wanita diperiksa untuk adanya nyeri tekan abdominal dan
rahim. Mulut dan tenggorokan untuk mencari tanda peradangan atau
eksudat.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman:nyeri berhubungan dengan rasa terbakar,
bau atau gatal-gatal akibat infeksi.
2. Ansietas berhubungan dengan lamanya penyembuhan penyakit
gejala yang muncul.
3. Disfungsi seksual berhubngan dengan keterbatasan yang
dimungkinkan oleh gejala-gejala(kelelahan ,penurunan libido,
depresi) rasa penolakan oleh pasangan.
4. Harga diri rendah berhubungan dengan peraasaan malu karena
penyakit yang diderita, koping individu tidak efektif
5. Resiko infeksi berhubungan dengan penularan penyakit yang
terpajan.
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan proses penyakit.
INTERVENSI KEPERWATAN
Gangguan rasa nyaman:nyeri berhubungan dengan rasa terbakar, bau atau gatal-gatal akibat infeksi.
Mandiri:
Kaji keluhan nyeri,perhatikan lokasi,frekwensi dan waktu.
Dorong pengungkapan perasaan
Kaji tanda-tanda non ferbal nyeri
Berikan tindakan kenyamanan non farmakologis
Bantu pasien dalam mengambil posisi yang nyaman
Ajarkan teknik relaksasi
Berikan lingkungan
Observasi efek -efek yang diinginkan dan efek samping obat-obatan
Kolaborasi
Berikan analgesic atau antipiretik
Konsul dengan dokter jika tindakan gagal untuk penghilangan nyeri adekuat atau bila perubahan dosis
atau interpal obat nyeri diperlukan
Hasil yang dharapkan
Ansietas berhubungan dengan lamanya penyembuhan penyakit gejala
yang dialami.
Mandiri :
Jamin pasien tentang kerahasiaan dalam batasan situasi tertentu
Pertahankan hubungan yang baik dengan pasien .
Berikan informasi akurat dan konsisten mengenai prognosis
Hindari argumantasimengenai persepsi pasien terhadap situasi tertentu.
Waspada terhadap tanda-tanda penolakan depresi misalnya,manarik
diri,marah
Berikan lingkuangan terbuka dimana pasien akan merasa amanuntuk
mendiskusikan perasaan atau menahan diri untu berbicara
Izinkan pasien mengekspresikan rasa marah, takut, dan putus asa
Berikan informasi bahwa perasaannya adalah normal
Kolaborasi;
Rujuk pada konseling psikiatri
ASKEP
TRIKOMONIASIS
DEFINISI
Trikomoniasis merupakan infeksi saluran urogenital yang dapat bersifat
akut atau kronis dan merupakan penyakit menular seksual yang
disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis. Parasit ini paling sering
menyerang wanita, namun pria dapat terinfeksi dan menularkan ke
pasangannya lewat kontak seksual. Vagina merupakan tempat infeksi
paling sering pada wanita, sedangkan uretra (saluran kemih) merupakan
tempat infeksi paling sering pada pria.
ETIOLOGI
Resiko untuk terkena penyakit ini tergantung aktivitas
seksual orang tersebut. Beberapa faktor resiko untuk
terkena penyakit ini antara lain :
Jumlah pasangan seksual selama hidupnya

Pasangan seksual saat ini

Tidak memakai kondom saat berhubungan seksual


MANIFESTASI KLINIS Akut

Sekret vagina keruh kental berwarna kekuning-kuningan,


kuning hijau, berbau tidak enak dan berbusa.

Dinding vagina tampak kemerahan dan sembab. Selain itu


didapatkan rasa gatal dan panas di vagina.

Rasa sakit sewaktu berhubungan seksual mungkin juga


merupakan keluhan utama yang dirasakan penderita dengan
trikomoniasis.

Pasien dengan trikomoniasis dapat juga mengalami perdarahan


pasca sanggama dan nyeri perut bagian bawah. Bila sekret
banyak yang keluar, dapat timbul iritasi pada lipat paha atau di
sekitar bibir vagina.
MANIFESTASI KLINIS Kronis
1. Gejala lebih ringan dan sekret vagina biasanya tidak berbusa.
2. Berbeda dengan wanita, pada pria biasanya tidak memberikan
gejala. Kalaupun ada, pada umumnya gejala lebih ringan
dibandingkan dengan wanita. Gejalanya antara lain iritasi di dalam
penis, keluar cairan keruh namun tidak banyak, rasa panas dan nyeri
setelah berkemih atau setelah ejakulasi.
Pemeriksaan Diagnostic
Pemeriksaan Spekulum; Pemeriksaan spekulum untuk
menginspeksi vagina dan serviks secara langsung.
MACAM SPEKULUM :
1. Graves (speculum cocor bebek), speculum yang lebih umum
digunakan. Daun – daunnya lebih lebar dan melengkung pada sisinya.
2. Pedersen, mempunyai daun yang lebih sempit dan rata, dipakai untuk
wanita dengan introitus kecil.
A . P E N G O B ATA N D A PAT D I B E R I K A N S E C A R A T O P I K A L ATA U S I S T E M I K .
1 ) S E C A R A T O P I K A L D A PAT B E R U PA :
B A H A N C A I R A N B E R U PA I R I G A S I , M I S A L N YA H I D R O G E N P E R O K S I D A 1 - 2 % D A N

Penatalaksanaan
L A R U TA N A S A M L A K TAT 4 %
B A H A N B E R U PA S U P O S I T O R I A , B U B U K YA N G B E R S I F AT T R I K O M O N O A S I D A L
J E L D A N K R I M YA N G B E R I S I Z AT T R I K O M O N O A S I D A L

2) SECARA SISTEMIK (ORAL) :


O B AT YA N G S E R I N G D I G U N A K A N T E R G O L O N G D E R I V AT N I T R O M I D A Z O L S E P E R T I :
M E T R O N I D A Z O L : D O S I S T U N G G A L 2 G R A M ATA U 3 X 5 0 0 M G / H A R I S E L A M A 7
HARI
NIMORAZOL : DOSIS TUNGGAL 2 GRAM
TINIDAZOL : DOSIS TUNGGAL 2 GRAM
OMIDAZOL : DOSIS TUNGGAL 1,5 GRAM
Penatalaksanaan
A. Pengobatan dapat diberikan secara topikal atau sistemik.
1) Secara topikal dapat berupa :
Bahan cairan berupa irigasi,misalnya Hidrogen peroksida 1- 2 % dan
larutan asam laktat 4%
Bahan berupa supositoria,bubuk yang bersifat trikomonoasidal
Jel dan krim yang berisi zat trikomonoasidal

2) Secara sistemik (oral) :


Obat yang sering digunakan tergolong derivat nitromidazol seperti :
Metronidazol : dosis tunggal 2 gram atau 3 x 500 mg / hari selama 7 hari
Nimorazol : dosis tunggal 2 gram
Tinidazol : dosis tunggal 2 gram
Omidazol : dosis tunggal 1,5 gram
Pengobatan Mitra Seksual

Mitra seksual harus diobati sesuai dengan


rejimen penderita. Dosis yang dianjurkan untuk
mitra seksual pria adalah dosis multiple selama
7 hari. Efektifitas dosis tunggal belum banyak
diteliti. Latief melaporkan 40% kegagalan
pengobatan pada pria dengan dosis tunggal.
Pengobatan pada kehamilan
Pengobatan Trichomoniasis dalam kehamilan perlu dilakukan.
Mengingat bahwa infeksi pada bayi dapat mengakibatkan secret vagina
yang berlebihan, piuria dan irritability. Metronidazol kontra indikasi
dalam kehamilan trimester I, sedangkan obat yang lain tidak ada yang
manjur, oleh karena itu metronidazol diberikan pada trimester II atau ke
III dengan dosis tunggal sebanyak 2 gram.
Komplikasi
1) Infeksi pelvis
2) Pada kehamilan :
lahir premature

bayi berat lahir rendah

selulitis posthysterectomy
Pencegahan
Karena trikomoniasis merupakan penyakit menular seksual, cara terbaik
menghindarinya adalah tidak melakukan hubungan seksual. Beberapa
cara untuk mengurangi tertularnya penyakit ini antara lain:
1. Pemakaian kondom dapat mengurangi resiko tertularnya penyakit
ini.
2. Tidak pinjam meminjam alat-alat pribadi seperti handuk karena
parasit ini dapat hidup di luar tubuh manusia selama 45 menit.
3. Bersihkan diri sendiri segera setelah berenang di tempat pemandian
umum.
Konsep Asuhan Keperawatan
PENGKAJIAN
Pemeriksaan fisik
a. Pemeriksaan Bagian Luar
Inspeksi
a. Rambut pubis, distribusi, bandingkan sesuai usia perkembangan klien
b. Kulit dan area pubis, adakah lesi, eritema, visura, leokoplakia dan eksoria
c. Labia mayora, minora, klitoris, meatus uretra terhadap pemebengkakan ulkus, keluaran dan nodul

b. Pemeriksaan Bagian Dalam


Inspeksi Serviks: ukuran, laserasi, erosi, nodula, massa, keluaran dan warnanya
Palpasi
a. Raba dinding vagina: Nyeri tekan dan nodula.
b. Serviks: posisi, ukuran, konsistensi, regularitas, mobilitas dan nyeri tekan
c. Uterus: ukuran, bentuk, konsistensi dan mobilitas
d. Ovarium: ukuran, mobilitas, bentuk, konsistensi dan nyeri tekan
Diagnosa
1) Nyeri b/d reaksi infeksi
2) Cemas b/d penyakit
3) Perubahan kenyamanan b/d infeksi pada system reproduksi
4) Disfungsi seksual b/d perubahan kesehatan seksual
5) Resiko terhadap infeksi b/d kontak dengan mikroorganisme
6) Risiko penularan b/d kurang pengetahuan tentang sifat menular dari
penyakit
7) Harga diri rendah b/d penyakit
8) Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi mengenai penyakit,
prognosis dan kebutuhan pengobatan
Intervensi
Disfungsi seksual b/d perubahan kesehatan seksual
Kriteria hasil:
Menceritakan masalah mengenai fungsi seksual, mengekspresikan
peningkatan kepuasan dengan pola seksual. Melaporkan keinginan
untuk melanjutkan aktivitas seksual
Intervensi:
e. Kaji riwayat seksual mengenai pola seksual, kepuasan,
pengetahuan seksual, masalah seksual
f. Identifikasi masalah penghambat untuk memuaskan seksual
g. Berikan dorongan bertanya tentang seksual atau fungsi seksual
Intervensi
Resiko terhadap infeksi b/d kontak dengan mikroorganisme
Kriteria hasil:
Klien mampu memperlihatkan teknik cuci tangan yang benar, bebas dari
proses infeksi nasokomial selama perawatan dan memperlihatkan
pengetahuan tentang fakor resiko yang berkaitan dengan infeksi dan
melakukan pencegahan yang tepat.
Intervensi:
a. Teknik antiseptik untuk membersihan alat genetalia.
b. Amati terhadap manefestasi kliniks infeksi.
c. Infomasikan kepada klien dan keluarga mengenai penyebab, resiko-resiko
pada kekuatan penularan dari infeksi.
d. Terapi antimikroba sesuai order dokter.
clear
TERIMAKSIH