Anda di halaman 1dari 23

PATOFARMAKOLOGI

GERIATRI
(ORANG TUA)
PENDAHULUAN
Setiap orang akan mengalami proses penuaan yang dipengaruhi oleh
faktor endogen maupun eksogen. Target adalah tua secara sehat.
FAKTOR ENDOGEN DAN EKSOGEN
Yang termasuk faktor endogen :
Selular
Anatomi
Organ
Yang termasuk faktor eksogen :
Gaya hidup
Lingkungan
PARAMETER USIA LANJUT USIA MUDA
ETIOLOGI ENDOGEN (DARI EKSOGEN (DARI
DALAM TUBUH), LUAR TUBUH)
KARENA FUNGSI
ORGAN SUDAH
MENURUN
TERSEMBUNYI JELAS NYATA

KUMULATIF/ SPESIFIK/TUNGGAL
MULTIPLE
TELAH LAMA BARU TERJADI
TERJADI
PERJALANAN KRONIK/MENAHUN, SELF LIMITING
PENYAKIT PROGRESIF
◦ Di luar negeri : pasien masuk ke rumah sakit langsung dikelompokkan ke
pediatri, geriatri atau dewasa. Selanjutnya baru ditangani.
◦ Efek samping penggunaan obat pada geriatri 2,5 x lebih besar
dibandingkan usia muda
◦ Adverse evect : efek yang tidak diinginkan, belum tentu drug related
◦ Side effect : efek samping dari penggunaan obat. Misalnya : meninggal
karena mengkonsumsi suatu obat
◦ Organ yang sering dipengaruhi oleh suatu obat pada
geriatri :
Kardiovaskuler
CNS
Ginjal
◦ Yang harus diwaspadai pada geriatri adalah penggunaan
obat tanpa resep (obat bebas terbatas), penggunaannya
terkadang salah dibandingkan obat berbahaya (keras)
yang diberikan ketika dirawat di rumah sakit
◦ Penyakit yang sering terjadi pada geriatri : artritis dan
hipertensi
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
1.Perubahan farmakologi/fisiologi karena usia (endogen)
- Fungsi organ menurun
- Berhubungan dengan efek samping obat (farmakokinetika dan
farmakodinamika)
- 70% efek samping obat karena faktor di atas
- Dosis dapat diperkirakan
2.Problem praktis : berkaitan dengan penggunaan obat
- Tidak mengerti atau salah penggunaan
- Kemampuan visual menurun, misalnya : nama obat hampir sama, tetapi
efek jauh berbeda
- Pendidikan
- Waktu penggunaan obat
3.Pengaruh orang lain
4.Polifarmasi
5.Menurunnya terapetik window : jarak antara respon terapi dan respon
toksik. Semakin meningkatknya usia, jarak antara respon terapi dan
respon toksik makin kecil, sehingga mudah untuk mengalami efek
toksik.
Perubahan Farmakokinetika pada
Geriatri

1. Absorpsi
Motilitas usus menurun, suplai darah menurun
absorpsi tertunda
Mempengaruhi transport aktif dari gula (sukrosa),
vitamin dan mineral → sukrosa tidak bisa dipecah
menjadi monosakarida → akibatnya sukrosa
meretensi air di saluran pencernaan → terjadi diare
Luas permukaan absorpsi menurun, akibatnya :
obat tidak 100% terabsorpsi frekuensi diare meningkat
untuk obat yang tidak terabsorpsi
◦ pH lambung meningkat, akibatnya :
absorpsi obat asam lemah menurun
absorpsi obat basa lemah atau obat tidak tahan asam
meningkat
Apa yang terjadi jika obat salut enterik pecah di lambung
akibat pengaruh kenaikan pH lambung pada geriatri? Jawab
: bila obat pecah di lambung maka obat akan terurai hanya
sedikit, karena usus jauh lebih basa dibandingkan pH
lambung yang meningkat. Kebanyakan obat yang disalut
adalah obat yang dapat mengiritasi, sehingga jika pecah di
lambung, maka akan dapat mengiritasi lambung.
Pengatasan masalah : meningkatkan laju
pengosongan lambung dengan banyak minum
◦ Pengosongan lambung menurun, akibatnya :
waktu kontak obat dengan lambung meningkat →
untuk obat-obat yang dapat mengiritasi lambung
seperti aspirin, efek iritasi meningkat.
Menunda absorpsi obat di usus, karena obat lama
berada di lambung
2. Distribusi
BMI rendah → BMI yang dipakai dewasa muda
Dosis obat-obat diestimasi dari BMI orang dewasa muda,
sedangkan geriatri BMInya lebih rendah. Sehingga jika
dipakai dosis yang sama dengan orang dewasa, maka efek
toksik akan meningkat (karena terapetik window pada
geriatri menurun)
Total + % fase air dalam tubuh menurun
Total + % lemak, rendah dibandingkan dewasa muda
Pada orang tua, akumulasi lemak meningkat → volume
distribusi obat lipofil menjadi tinggi → efek toksik
meningkat
Contoh : amiodaron (obat kalium antagonis) → t1/2
meningkat → efeknya : pasien merasa lemah
Cairan ekstra selular lebih rendah
Kadar albumin plasma menurun → % obat yang tidak terikat
meningkat → efek toksik meningkat. Hal ini berbahaya
untuk obat yang range terapinya sempit dan ikatan
proteinnya tinggi
3.Metabolisme
Semakin tua → massa hati makin menurun →
enzim yang diproduksi semakin menurun → aliran
darah ke hati makin menurun (usia 25-65 aliran
darah ke hati menurun 25%). Contoh obat yang
suplainya ke hati menurun dengan menurunnya
aliran darah : fenilbutazon, benzodiazepin.
Untuk pro drug → drug → onset of actionnya
menjadi lebih lama
Untuk drug → aliran darah ke hati menurun → obat
yang dimetabolisme sedikit (dipengaruhi oleh
enzim juga yang semakin menurun) → efek toksik
meningkat
Metabolisme → Tahap I → merubah senyawa/obat
non polar menjadi polar → proses ini lebih
dominan proses oksidasi dan demetilasi
Metabolisme → Tahap II → tahap konjugasi.
Konjugat yang tidak dibentuk di hati → hati hanya
menggandengkan obat dengan konjugatnya.
Perubahan aliran darah dan massa hati → aktifitas enzim, khususnya
tahap I
Oksidatif : diazepam + turunannya
Demetilasi : imipramin, teofilin, amitriptilin
Tahap II tidak ditemukan
Obat yang high hepatic extraction ratio → metablismenya
menurun dengan bertambahnya usia → efek toksik
meningkat → ada hubungannya dengan laju aliran darah ke
hati
Contoh : propranolol, nitrat, lidokain, barbiturat
Usia bertambah → kemampuan hati untuk merecovery dari
kerusakan melemah. Contoh : virus hepatitis dan alkoholism
Malnutrisi dan penyakit pada usia lanjut juga berpengaruh
terhadap kerja hati → pada penyakit gagal jantung koroner
→ aliran darah ke hati menurun
4. Ekskresi
Organ ekskresi : ginjal, paru, hati, kulit
Jika fungsi ginjal menurun → eliminasi obat
menurun → terjadi akumulasi obat → efek toksik
meningkat
Usia meningkat → kapasitas ekskresi tubulus
menurun
Antara 20-90 tahun → filtrasi glomerulus menurun
sampai 50% dengan penurunan rata-rata 35%
Jumlah nefron menurun
Fungsi ginjal harus dimonitoring : kreatinin serum,
BUN. Serum kreatinin kurang akurat untuk
mengukur fungsi ginjal pada usia lanjut karena
serum kreatinin dipengaruhi oleh massa otot. BUN
dipengaruhi diet, kehilangan darah, kerusakan
jaringan. Pemeriksaan kreatinin klirens lebih cocok,
kreatinin dibuang ke ginjal.
Perubahan Farmakodinamika pada
Geriatri

Perubahan farmakodinamika pada geriatri berbeda dari


orang ke orang tergantung sensitifitas pada reseptor.
1. Perubahan kadar transmitter / enzim
- ach, dopamin, 5HT
- aktifitas mao inhibitor
- respon β adrenergik
- meningkatnya ambang sakit misalnya pada orang diabetes
- ada juga yang menurunkan ambang sakit
2. Perubahan homeostasis
- gangguan baroreseptor → pengaruh pada tekanan darah
- hipotensi karena obat
- gangguan pengaturan suhu tubuh
3. Perubahan sensitifitas respon akibat meningkatnya usia
- sensitifitas respon menurun
- konsentrasi O2 menurun
- aliran darah serebral menurun
- transmitter acth menurun
- penurunan fungsi obat
Perubahan farmakodinamika lebih bervariasi antara 1 dengan
yang lainnya (dari usia muda sudah terjadi)
Sulit diestimasi
Usia lanjut → BA β blocker → tapi efek tidak terpengaruh →
pengaruh pada sensitifitas reseptor
Dosis teofilin meningkat → efek bronkodilator menurun
Verapamil → lebih sensitif pada dosis normal
Obat dengan indeks terapetik sempit, kalau lupa apakah sudah
dimakan atau belum dianggap sudah dimakan, sedangkan
antibiotik kebalikannya, agar tidak terjadi resistensi