Anda di halaman 1dari 41

Pemeriksaan Fisik Sistem

Kardiovaskular
Pembimbing : dr. Irma Mardiana, Sp.JP

Azifa Anisatul Umma


41171096100046
• Keadaan Umum :
 Sakit ringan, Sakit sedang, Sakit berat
• Kesadaran :
 Compos mentis, apatis, delirium, somnolen, sopor, koma
• Keadaan khusus:
 Tampak sesak, lemah, pucat
• Status Gizi : berat badan, tinggi badan, IMT
 Underweight : < 18.5
 Normoweight : 18.5 – 22.9
 Overweight : 23 – 24.9
 Obesitas grade I : 25 – 29.9
 Obesitas grade II : >30

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Tanda vital
Tekanan Klasifikasi tekanan darah JNC VIII :
darah Optimal : <120/<80 mmHg
Normal : <135/<85 mmHg
Prehipertensi: 120-139/80-89 mmHg
Hipertensi derajat I : 140-159/90-99 mmHg
Hipertensi derajat II : >160/>100 mmHg
Napas Frekuensi : - Normal 14-24x/menit
- Bradipneu <14x/menit
- Takipneu >24x/menit
Irama : Regular/Iregular
Kedalaman : Hiperpneu/Hipopneu
Sifat : Torako-abdominal/abdominal-torakal
Tipe : Kussmaul, Biot, Cheyne-Stokes
Nadi Frekuensi :
Normal 60-100x /menit
Takikardi >100 x/Menit
Bradikardi <60x/menit
Irama : Regular/Iregular
Isi : cukup/tidak
Suhu 36.5-37.50C = normal.
(Axilla)

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Centre for obesity research and education.2007
Irama nadi

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Status generalis
Kepala Bentuk & ukuran, benjolan, deformitas, nyeri tekan
Rambut : penyebaran, warna, mudah dicabut

Wajah Simetris, bengkak/benjolan, sianosis/tdk , pucat/tdk

Mata Sklera  ikterik/anikterik, Konjungtiva  anemis/tidak anemis, pupil : bentuk,


ukuran, midriasis, miosis

Hidung Deformitas, Nyeri tekan, Septum deviasi, Sekret

Mulut dan Bibir : Sianosis, fisura, ulkus atau benjolan


tenggorak Selaput lendir : Stomatitis
Gigi geligi : jumlah, karies dentis
Lidah : selaput, tremor, papil, fisura, glositis.
Tonsil : ukuran, kripta, detritus, membran
Dinding faring posterior

Telinga Daun telinga, liang telinga (serumen, sekret), nyeri tekan, tes pendengaran

Kulit Warna, Suhu raba, Jaringan Parut, Pigmentasi, Turgor, Edema

Leher Pembesaran KGB, kelenjar tiroid, JVP, denyut karotis

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Pemeriksaan tekanan vena jugularis
 Meminta pasien untuk tidur terlentang dengan batal pada sudut 45°.
 Miringkan kepala pasien sedikit menjauhi sisi leher yang akan diperiksa
 Menekan vena jugularis kanan dengan 1 jari disebelah atas clavicula
 Menekan vena disebelah atas dekat mandibula dengan jari lain.
 Melepaskan tekanan disebelah bawah dekat clavicula
 Menunjuk dimana vena yang terisi waktu inspirasi biasa
 Membuat bidang datar melalui angulus ludovici sejajar lantai
 Menghitung tingginya tekanan vena
 Tulis hasil yang di dapat. Normalnya 5-2 sampai 5+2.
 JVP meningkat pada keadaan gagal jantung, dilatasi jantung kanan.

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Pemeriksaan denyut karotis

 Pasien diposisikan elevasi kepala 30°


 Inspeksi daerah medial m. sternocleido-mastoideus untuk
menemukan pulsasi A. carotis

• Palpasi arteri karotis pada daerah 1/3 bawah kiri menggunakan


jari telunjuk dan jari tengah
• Auskultasi arteri karotis kiri

Textbook of Physical Diagnosis. History and Examination. 5th edition. Elsiever, 2007.
Textbook of Physical Diagnosis. History and Examination. 5th edition. Elsiever, 2007.
Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
TORAKS DAN PARU

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Inspeksi Toraks

 Inspeksi umum :
 Melihat tampak sesak atau tidak
 Ada tidaknya napas cuping hidung
 Menilai warna kulit : sianosis atau tidak, pucat atau tidak
 Mendengarkan bunyi napas tambahan
(wheezing/stridor)
 Ada tidaknya jari tabuh (PPOK, asma kronik)
 Ada tidaknya benjolan, gynecomastia.
 Ada tidaknya retraksi m. intercostal

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Toraks anterior
 Teknik pemeriksaan : Posisi tidur terlentang atau duduk

Inspeksi toraks anterior Bentuk dada, deformitas, asimetri

Palpasi toraks anterior Nyeri tekan, massa, ekspansi dada, fremitus taktil

Perkusi toraks posterior Menentukan batas paru belakang kanan dan kiri

Auskultasi toraks anterior Bunyi napas :


Vesikuler

Bunyi napas tambahan :


Bunyi diskontinu (Crackles atau rales)
Bunyi kontinu (Ronkhi, wheezing)

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Teknik Perkusi

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Toraks posterior

 Teknik pemeriksaan : Posisi duduk

Inspeksi toraks posterior Gerakan simetris


Retraksi sela iga

Palpasi toraks posterior Nyeri tekan, massa, ekspansi dada, fremitus taktil

Perkusi toraks posterior Menentukan batas paru belakang kanan dan kiri

Auskultasi toraks posterior Bunyi napas :


Vesikuler
Bronkovesikuler
Bronkial

Bunyi napas tambahan :


Bunyi diskontinu (Crackles atau rales)
Bunyi kontinu (Ronkhi, wheezing)

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Bunyi napas

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Pemeriksaan fisik jantung
Jantung

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
PEMERIKSAAN FISIK

Pertimbangan umum :
 Pasien tidur berbaring
 Pakaian atas pasien harus disiapkan dalam
keadaan terbuka.
 Ruang pemeriksaan harus tenang untuk
menampilkan auskultasi yang adekuat.
 Pencahayaan terang
 Tetap selalu menjaga privasi pasien
 Prioritaskan dan perhatikan untuk tanda-tanda
kegawatan.

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Teknik pemeriksaan

 Posisi berbaring telentang dengan posisi kepala


dinaikkan 30 derajat
 Posisi decubitus lateral kiri
 Duduk dengan tubuh membungkuk ke depan

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Teknik pemeriksaan

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
INSPEKSI
Denyut apeks jantung (iktus kordis)
• Tujuan : Menentukan lokasi iktus cordis
• Dengan sikap duduk, tidur terlentang atau berdiri iktus kordis dapat
terlihat di ICS V linea midclavicula sinistra.
• Pada anak : ICS IV linea midclavicula sinistra
• Iktus terjadi karena kontraksi ventrikel pada waktu sistolik.
• Pada pembesaran ventrikel kiri  iktus kordis tergeser ke arah kiri.

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Palpasi iktus cordis

Iktus cordis
Penilaian :
Lokasi iktus
cordis

Textbook of Physical Diagnosis. History and Examination. 5th edition. Elsiever, 2007.
Palpasi iktus cordis

Normal : teraba di ICS 5 linea


midclavicular sinistra

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Palpasi thrill (getaran)
 Getaran/thrill : vibrasi disamping pulsasi.
 Seringkali terdapat pada kelainan katup akibat adanya
aliran turbulen yang kasar dalam jantung atau dalam
pembuluh darah besar
 Disertai adanya bising jantung

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Perkusi

• Ketukan harus tetap dan


tidak boleh terlalu keras
• Tujuan : Menentukan besar dan batas-
batas jantung
• Suara jantung pada perkusi  redup
• Suara paru pada perkusi  sonor
• Suara hati pada perkusi  pekak Teknik Perkusi

• Suara lambung pada perkusi  timpani-redup

Textbook of Physical Diagnosis. History and Examination. 5th edition. Elsiever, 2007.
Batas Kiri Jantung

 Tentukan batas paru-lambung  2 jari diatas batas tersebut  perkusi ke


arah medial
 Perubahan antara bunyi sonor (paru-paru)  redup (jantung).
 Normal
 Atas : ICS II di linea parasternalis sinistra (pinggang jantung)
 Bawah : ICS V 1 sentimeter medial dari linea midclavicula sinistra
(tempat iktus)

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Batas Kanan Jantung
 Tentukan batas paru-hepar  2 jari diatas batas tersebut 
perkusi ke arah medial
 Perubahan antara bunyi sonor (paru-paru)  redup (jantung).
 Normal :
 ICS III-IV linea parasternalis dextra

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Auskultasi Jantung
31
Bunyi jantung

Perhatikan :

 Lokalisasi dan asal bunyi jantung


 Menentukan BJ I (Sistolik) dan BJ II (Diastolik)
 Ada tidaknya BJ III dan BJ IV
 Intensitas dan kualitas bunyi
 Irama dan frekuensi BJ
 Bunyi jantung lain yang menyertai BJ utama

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Lokasi dan Posisi Auskultasi

Lokasi bunyi jantung :

- Apeks : bunyi jantung katup mitral


- Sela iga IV-V sinistra & dextra: katup
tricuspid
- Sela iga II sinistra : katup pulmonal
- Sela iga II dextra : katup aorta

Textbook of Physical Diagnosis. History and Examination. 5th edition. Elsiever, 2007.
Bunyi Jantung
 Bunyi Jantung I - Bunyi sistolik.
Terjadi karena getaran menutupnya katup atrioventrikularis (katup mitral dan
katup trikuspid).
 Bunyi Jantung II - Bunyi diastolik.
Terjadi akibat getaran menutupnya katup aorta dan a. Pulmonalis
Untuk menentukan mana BJ I dan Bj II : meraba a. Radialis atau a. Karotis dimana
BJ I terdengar bertepatan dengan denyut a. Radialis atau a. karotis

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
34 Bunyi Jantung III
• Bunyi Jantung III : terdengar setelah bunyi jantung II, terjadi selama fase cepat
pengisian ventrikel kiri. Didengar pada area apeks.
BJ I – BJ II + BJ III = Get, gallop Rhythm

Fisiologis : pada anak & dewasa muda.

Patologis : pada lansia menandakan gagal jantung, gallop S3 menunjukkan tanda


gagal ventrikel, pada regurgitasi mitral, regurgitasi aorta, VSD, PDA.

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Bunyi Jantung IV
 Bunyi IV (atrial gallop) : terdengar sebelum BJ I. Di dengar di
apeks.
 Terjadi selama fase pengisian atrium ke ventrikel
 Terjadi karena kontraksi atrium yang lebih kuat karena terapat
bendungan di ventrikel.
 Biasa terdapat pada infark miokard dan hipertrofi ventrikel kiri.

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Splitting

 Pada keadaan tertentu terjadi


bunyi jantung mendua 
splitting
 Dapat terjadi pada kelainan-
kelainan jantung seperti
pada RBBB dan ASD yang
penutupan katupnya tidak
terjadi bersamaan.

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Bising Jantung (Cardiac Murmur)
 Murmur terjadi karena getaran-getaran dalam jantung atau dalam pembuluh-pembuluh
darah besar dekat jantung akibat aliran darah yang melalui suatu penyempitan atau akibat
aliran darah balik yang abnormal (regurgitasi).
 Perhatikan :
 Fase dimana bising tersebut terjadi.
Bising terdapat antara BJ I dan BJ II (=bising systole), ataukah bising terdapat antara
BJ II dan BJ I (=bising diastole).
Cara termudah untuk menentukan bising systole atau diastole ialah dengan
membandingkan terdengarnya bising dengan saat terabanya iktus atau pulsasi a. carotis,
maka bising itu adalah bising systole.
 Intensitas dan nada bising
 Lokasi bising
 Apakah bising yang terdengar berubah-ubah menurut posisi badan atau pernafasan.

Textbook of Physical Diagnosis. History and Examination. 5th edition. Elsiever, 2007.
Derajat intensitas bising
Derajat Deskripsi
1 Bising sangat lemah, sehingga diperlukan usaha untuk dapat
mendengarnya
2 Bising halus namun dapat didengar segera

3 Bising prominen namun belum keras


4 Keras, dengan getaran “thrill” yang teraba
5 Sangat keras, disertai getaran
6 Sangat keras, disertai getaran ( mungkin tidak dengan stetoskop sudah
terdengar)

Intensitas bising mengeras : pada keadaan peningkatan curah jantung,


dinding dada tipis.
Intensitas bising melemah : kondisi gemuk, dada berotot kekar, gangguan
obstruksi paru, cairan pada ruang perikard atau curah jantung menurun.
` Mid systolic Murmur
mulai setelah S1 &
berakhir sebelum S2

Pansystolic (holosystolic)
Murmur terdengar pada
seluruh fase sistolik

Latesystolic Murmur
terdengar pada akhir
fase sistolik

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Early Diastolic
Murmur terdengar
setelah SII

Mid Diastolic Murmur


terdengar pada
pertengahan fase diastole

Late Diastolic
(Presystolic) Murmur
terdengar pada akhir
fase diastolik

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Abdomen

Inspeksi Bentuk abdomen, massa.


Auskultasi Bising usus, bruit
Palpasi Nyeri tekan, pembesaran hepar dan lien
Perkusi Timpani, shifting dullness
ekstremitas
Atas Deformitas, suhu raba, clubbing finger, splinter
hemorrhage, edema
Bawah Deformitas, suhu raba, edema

Splinter hemorrhage

Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking. Chapter 7. The Cardiovascular System.
Terima Kasih