Anda di halaman 1dari 44

MODUL INTI -3

EDUKASI KEPATUHAN PENGOBATAN


ARV

Disajikan pada Pelatihan Tes HIV


April 2018
Tujuan Pembelajaran
• Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mempelajari materi peserta mampu melakukan
edukasi kepatuhan pengobatan ARV
• Tujuan Pembelajaran Khusus
Peserta mampu:
1. Menjelaskan tentang obat dan pengobatan ARV
2. Menjelaskan pentingnya kepatuhan pada pengobatan ARV
3. Menjelaskan faktor-faktor yang menghambat kepatuhan
pengobatan ARV
4. Melakukan tahapan dan kegiatan edukasi kepatuhan
minum obat .
Pokok Bahasan
1. Pengenalan ARV
2. Pentingnya kepatuhan pada
pengobatan ARV
3. Faktor-faktor yang menghambat
kepatuhan pengobatan ARV
4. Tahapan dan kegiatan edukasi
kepatuhan minum obat .
Pokok Bahasan 1.Pengenalan ARV
Penetapan rejimen yang digunakan
dalam pengobatan ARV
Berdasarkan pada 5 aspek yaitu:

Efektivitas
Efek samping / toksisitas
Interaksi obat
Adherence
Prinsip

• Penggunaan rejimen 3 Jenis Obat


• Membantu pasien agar akses ke ARV lebih dekat,
mudah- membantuk kepatuhan minum obat
• Petugas kesehatan perlu memikirkan cara
bagaimana akses ARV lebih dekat dan mudah –
contoh : merujuk ke sarana kesehatan yang dekat
rumah pasien
Sebelum mulai
• Yakinkan bahwa status klien adalah HIV positif
• Lakukan evaluasi Klinis:
– Tentukan stadium klinis
– Diagnosis dan pengobatan IO
– Profilaksis IO dan adherence terhadap pengobatan IO
– Pertimbangkan apakah perlu memberikan ARV saat
ini atau perlu penundaan karena adanya IO atau
hambatan adherence
• Bahas dengan Odha mengenai kemungkinan
adherence terhadap ARV
• Edukasi mengenai tujuan terapi ARV
Rekomendasi Inisiasi ART pada
Dewasa dan Anak – Masa Lalu

Populasi Rekomendasi

Dewasa dan anak Inisiasi ART pada orang terinfeksi HIV stadium klinis 3 dan 4, atau jika
> 5 tahun jumlah CD4 ≤ 350 sel/mm3
Inisiasi ART tanpa melihat stadium klinis dan berapapun jumlah CD4:
 Koinfeksi TBa
 Koinfeksi Hepatitis B
 Ibu hamil dan menyusui terinfeksi HIV
 Orang terinfeksi HIV yang pasangannya HIV negatif (pasangan
serodiskordan), untuk mengurangi risiko penularan
 LSL, PS, Waria, atau Penasunb
 Populasi umum pada daerah dengan epidemi HIV meluas

Anak < 5 tahun


Inisiasi ART tanpa melihat stadium klinis dan berapapun jumlah CD4c
keterangan
a Pengobatan TB harus dimulai lebih dahulu, kemudian obat ARV diberikan
dalam 2-8 minggu sejak mulai obat TB, tanpa menghentikan terapi TB.
Pada ODHA dengan CD4 kurang dari 50 sel/mm3, ARV harus dimulai
dalam 2 minggu setelah mulai terapi TB. Untuk ODHA dengan meningitis
kriptokokus, ARV dimulai setelah 5 minggu pengobatan kriptokokus.

b Dengan memperhatikan kepatuhan

c Bayi umur < 18 bulan yang didiagnosis terinfeksi HIV dengan cara
presumtif, maka harus segera mendapat terapi ARV. Bila dapat segera
dilakukan diagnosis konfirmasi (mendapat kesempatan pemeriksaan PCR
DNA sebelum umur 18 bulan atau menunggu sampai umur 18 bulan
untuk dilakukan pemeriksaan antibodi HIV ulang), maka perlu dilakukan
penilaian ulang apakah anak pasti terdiagnosis HIV atau tidak. Bila
hasilnya negatif, maka pemberian ARV dihentikan.
Rekomendasi Inisiasi ART pada
Dewasa dan Anak – Saat ini
• Semua Pasien HIV tanpa memandang nilai
CD4 dan stadium klinis
• Para petugas kesehatan wajib menggunakan
indikasi pengobatan ARV yang baru sebagai
bagian dari layanan berkesinambungan
Jenis obat ARV yg tersedia di Indonesia

NRTI NNRTI PI
Zidovudine (AZT) Nevirapine (NVP) Lopinavir/ritonavir (LPV/r)
Lamivudine (3TC) Efavirenz (EFV)
Emtricitabine (FTC) Rilpivirine (RPV)
Abacavir (ABC)

NtRTI
Tenofovir (TDF)
Paduan ART untuk Dewasa
Paduan pilihan

TDF + 3TC (atau FTC) + EFV dalam bentuk KDT

Paduan alternatif
• AZT + 3TC + NVP
• AZT + 3TC + EFV
• TDF + 3TC (atau FTC) + NVP
• AZT + 3TC + *EFV400
• TDF + 3TC (atau FTC) + *EFV400
*Belum direkomendasikan pada pengguna rifampisin dan ibu hamil

Rilpivirin (RPV) adalah obat alternatif pada ODHA yang tidak dapat mentoleransi EFV
dan NVP. Namun, RPV sebaiknya tidak digunakan pada ODHA dengan CD4 < 200
sel/mm3 atau viral load banyak > 100.000 kopi/mL karena efektivitasnya lebih rendah
pada kondisi tersebut.
Paduan ART
untuk Remaja (10-19 tahun)

Paduan pilihan
TDF+3TC (atau FTC)+EFV

Paduan alternatif
• TDF +3TC (atau FTC)+*EFV400
• AZT+3TC+EFV
• AZT+3TC+NVP
• AZT+3TC+EFV*400
• TDF+3TC (atau FTC)+NVP
*Belum direkomendasikan pada pengguna rifampisin dan
ibu hamil
Paduan ART untuk Anak (3-10 Tahun)
Paduan pilihan

AZT+3TC+EFV

Paduan alernatif
• ABC+3TC+NVP
• ABC+3TC+EFV
• AZT+3TC+NVP
• TDF+3TC (atau FTC)+EFV
• TDF+3TC (atau FTC)+NVP
Paduan ART untuk anak <3 tahun
Paduan pilihan
(ABC atau AZT)+3TC+LPV/r

Paduan alternatif
(ABC atau AZT)+3TC+NVP
Penugasan 1.
Permainan Padanan Kartu
Pokok Bahasan 2.
Pentingnya kepatuhan pada
pengobatan ARV
Penyebab ketidak
patuhan Minum Obat
•ARV belum dapat menyembuhkan HIV

•Kondisi fisik Odha

•Efek samping obat

•Bentuk ARV yang tersedia terbatas

•Mekanisme hubungan pasien-petugas


Kesehatan

•Sistem layanan yang tersedia

•Akses ARV terbatas

•Issu sosial
Prinsip kepatuhan
Minum Obat

•Informasi cara pemberian

•Pengetahuan arti durasi obat

•Ketepatan dosis yang harus


terpenuhi
Ketidakpatuhan minum obat
mempengaruhi keberhasilan
hasil pengobatan •Supresi virus tidak sempurna

•Perusakan sistem imun berlanjut

•Hitung sel CD4 turun

•HAART tercapai

•Munculnya strain virus yang resisten

•Pilihan pengobatan masa mendatang


terbatas

•Biaya meningkat bagi individu


maupun program ARV
Konseling
dukungan dan
Kepatuhan
•Konseling merupakan dukungan
utama untuk program pengobatan

•Pengobatan harus sejalan dengan


kegiatan sehari-hari klien

•Melibatkan pasangan/keluarga
sebagai pendukung utama
Penugasan 2. Diskusi Kelompok. Pentingnya
Kepatuhan minum obat ARV
Pokok Bahasan 3. Faktor-Faktor yang
Menghambat Kepatuhan
Empat hambatan utama
dalam Kepatuhan  Hambatan yang berasal dari pasien
baik kondisi fisik, mental, lingkungan
sekitar dan aspek sosial lainnya

 Hambatan yang berasal dari ARV


termasuk diantaranya rejimen, interaksi
obat, efek samping obat

 Hambatan yang berasal dari sistem


kesehatan

 Hambatan yang berasal dari gejala sisa


yang disebabkan oleh penyakit
oportunistik
 Resistensi
 Pilihan obat
Tantangan dalam
Terapi Antitrtroviral
 Efek samping obat
 Interaksi obat
 Pendanaan terbatas
 Mitos dalam pengobatan HIV seperti
penggunaan jamu, buah merah,dll
 Geografi Indonesia yang beragam
merupakan tantangan untuk supply dan
logistik
 Tidak adanya motivasi dari pasien untuk
minum obat
 Gangguan Kejiwaan
 Problem Napza
 Sistem pelayanan kesehatan
Hambatan dari
pasien

 Pasien tidak mengerti mengenai status penyakit,


prognosa dan rencana pengobatan
 Kekuatirkan dapat menularkan penyakit kepada
keluarga
 Kekuatiran pasien akan penolakan
 menderita gangguan jiwa
 Ketakutan pasien atas jaminan kerahasiaan
 Riwayat penyakit yang pernah diderita pasien
sehubungan dengan HIV
 Dalam pengaruh Napza
 Pembiayaan
Hambatan yang
berasal dari infeksi  Progresif Multifokal enselopati, suatu
penyakit yang disebabkan oleh JC
oportunistik
virus pada jaringan otak yang
menyebabkan pasien kehilangan
kemampuan kognitif, dimensia, defisit
neurologi, afasia, ataxia dan akhirnya
koma
 Gejala sisa yang timbul akibat infeksi
toxoplasma, kriptokokus, tuberkulosis
pada otak maupun jaringan selaput
otak.
 Pasien sedang dalam fase akut
penyakit infeksi. Pada kondisi ini
dokter tidak memberikan ARV
bersamaan dengan pengobatan infeksi
oportunistik untuk menghindari
timbulnya gejala sindrom pemulihan
kekebalan ( IRIS)
Skrinning
dan Kondisi diatas dapat diketahui dari catatan medis
Asessmen medis dokter

Pertimbangkan keluarga maupun lingkungan


dimana Odha tinggal

Pertimbangan jika pasien dalam stadium terminal


atau tidak ada pendukung PMO

Pertimbangkan risiko resistensi ketika hal diatas


tidak terpenuhi
Proses mengatasi
hambatan
 Menggunakan obat Program yang telah disediakan oleh
pemerintah secara gatis ( ARV dan OBAT IO)

 Membentuk sistem satelit untuk memudahkan layanan

 Membuat pencatatan dan pelaporan untuk kepentingan


permintaan obat dan perencanaan

 Manajemen suplai dan logistik yang adekuat

 Membuat sistem pelayanan satu atap

 Mempunyai pokja untuk CST, dimana pokja ini bertugas


sebagai koordinator dan pembuat rencana kerja sehubungan
dengan pelayanan HIV

 Membuat survei kepuasan pelanggan


Alat Bantu bagi klien
•Kartu Berobat
dalam Kepatuhan
minum obat
•Jadwal minum obat

•Jurnal efek samping

•PMO
Penugasan 3. Diskusi Kelompok. Hambatan
Kepatuhan Pengobatan ARV
Wawancara Yang Memotivasi (Motivational
Interviewing/MI)

Gaya konseling yang bersifat direktif


(mengarahkan)
Berpusat pada klien
Untuk mempeeroleh perubaan perilaku dengan
cara membantu klien dan mengatasi sikap
mendua
Penerapan MI menggunakan 4 skill dan 4
Teknik
4 Skill (Keterampilan):
Seni bertanyadan Probing
Seni Mendengar Reflektif
Seni Afirmasi
Seni Mmberi Informasi

4 Teknik:
Menghindari jebakan “Saya pakar”
Menangani Sikap Mendua
Menahan reaksi Meluruskan
Menangani Peerlawanan
Seni Mendengar Reflektif:
Bukan hanya mendengar, akan tetapi mendengarkan; Mengamati; dan Menginterpretasikan
isyarat verbal maupun nonverbal

Tingkatan Refleksi:
Refleksi sederhana

Refleksi kompleks:

Para phrase
Refleksi Perasaan
Refleksi Dua sisi
Merangkum
Seni Afirmasi:
Mendukung/Memberi Semangat
Menonjolkan Hal Positif
Mengenali dan Mengakui nilai yang melekat pada klien sebagai manusia

Seni Memberi Informasi:


Tidak semua informasi penting bagi klien
Perhatikan “timing” yang tepat
Dikenal Model”Ask-Tell-Ask”
Ungkapan Perubahan /Change Talk
Adalah pernyataan yang memotivasi klien dan perkataan apapun yang
mendukung perubahan dari diri klien

Tingkatan Cange Talk :


Pada dasarnya 2:
Ungkapan Persiapan :
Saya ingin berubah
Saya bisa berubah
Penting untuk berubah
Saya perlu berubah
Ungkapan Pergerakan
Saya akan membuat perubahan
Saya siap dan mau berubah
Saya telah mengambil tindakan untuk berubah
Empat Teknik MI:
Menghindari perangkap /Jebakan Saya Pakar
Menangani Sikap Mendua
Menahan Reaksi/Refleks Untuk Meluruskan
Menangani Perlawanan/Bergulir Bersama
Perlawanan
Pokok Bahasan 4. Tahapan dan Kegiatan
Edukasi Kepatuhan Pengobatan ARV
Tahap Pertama
• Pengkajian di catatan medis untuk melihat apa saja tindakan
yang telah diberikan dan melihat rencana dokter untuk
memberikan ARV

• Melakukan pengkajian singkat dan cepat untuk kondisi mental,


personality dan kemungkinan pasien masih menggunakan
Napza

• Mengkaji pengertian dan persepsi pasien tentang penyakit

• Mengkaji persepsi keluarga tentang kondisi yang diderita oleh


pasien.

• Menyakinkan pasien untuk aspek konfidensialitas tidak akan


keluar dari system pelayanan kesehatan
Tahap kedua
• Pengkajian lebih dalam tentang persepsi pasien
mengenai HIV, penularan dan cara pencegahan untuk
tidak menularkan kepada orang lain

• Menjelaskan rencana pemberian ARV yang telah


ditetapkan oleh dokter

• Menjelaskan semua aspek yang berhubungan dengan


ARV (regimen,dosis,efek samping, akses dll)

• Analisa aspek sosial lain yang dapat menghambat


kepatuhan minum obat dan solusinya jika memungkinkan

• Memberikan informasi mengenai Hepatitis B, C bila pasien


menderita ko-infeksi hepatitis B atau C
Tahap ketiga
• Pengulang apa yang sudah didapat pada pertemuan pertama dan kedua

• Memberikan kesempatan untuk bertanya sehubungan dengan penyakit


dan rencana pengobatan

• Informasi dasar mengenai kewaspadaan standar dapat diajarkan pada


pertemuan ini untuk mengurangi ketakutan dari keluarga pasien untuk
tertular HIV.

• Petugas pada pertemuan ketiga ini, jika pada pertemuan pertama dan
kedua berhasil menggali informasi, mendapatkan kepercayaan, pasien
mau terbuka, akan bisa menentukan apakah pasien akan
direkomendasikan untuk mendapatkan ARV atau tidak
Tahap keempat
•Pada pertemuan terakhir, petugas kembali menjelaskan ulang seluruh
rencana pemberian ARV, efek samping, cara minum obat dan evaluasi
terakhir

•Petugas harus mengambil keputusan apakah pasien memenuhi syarat


non medis untuk ARV.

•Jika syarat terpenuhi, petugas melaporkan secara verbal dan tertulis


kepada dokter ART dapat dimulai

•Jika syarat tidak terpenuhi, petugas memberi informasi secara rinci


penyebabnya
Penugasan 4. Bermain Peran. Edukasi
Kepatuhan minum Obat ARV
TERIMA KASIH