Anda di halaman 1dari 19

DINAS KESEHATAN PROPINSI JAWA TENGAH

TH 2004
Konstitusi WHO : Kesehatan adalah Hak Asasi
Manusia.

Hakekat Safe Community adalah suatu upaya oleh masyarakat,


dari masyarakat dan untuk masyarakat didorong oleh
pemerintah sebagai fasilitator menuju terciptanya kondisi sehat
dan aman sebagai perwujudan hak asasi manusia tersebut.

Public Safety Center ( Pusat Layanan Terpadu dalam satu sistem )


merupakan ujung tombak Safe Community, yang terdiri dari
komponen Polisi ( 110 ), Pemadam Kebakaran ( 113 ) dan
Ambulans ( 118 ) sudah menjadi kebutuhan masyarakat apalagi di
kota besar utk memberikan pelayanan cepat (Quick Response)
karena prinsip pelayanan gawat darurat adalah “ time saving is
live and limb saving “.
I. Upaya yang telah dilakukan s/d th 2005:
1. Penyusunan & Penggandaan Pedoman Kegawat
daruratan terpadu : KLL dan Kegawat daruratan
Obstetri Neonatal.
2. Sosialisasi kegawat daruratan lintas sektor :
melibatkan PMI, Kepolisian dan tokoh masyarakat.
3. Melakukan Pelatihan Kegawatdaruratan bagi tenaga
Puskesmas/RS dan IGD – untuk jalur pantura , jalur
pantai selatan,jalur penghubung dan perbatasan.
4. Pelatihan kegawat daruratan bagi petugas TKHI kloter.
5. Pelatihan kegawat daruratan dan evakuasi bagi petugas
TKHI di embarkasi.
6. Mobil ambulance bagi Puskesmas Salam Kab.
Magelang(antisipasi bencana Gunung Merapi), Perahu
ambulance bagi Pulau Karimun Jawa, dan Perahu
ambulance bagi Puskesmas Kampung laut di Cilacap.
7. Pertemuan pembentukan organisasi kegawatdaruratan
Propinsi Jawa Tengah .
8. Studi banding ke DIY ( Dinas Kes & RS Sarjito. )
9. Studi banding ke Sulawesi Selatan : Makasar dan Pare pare.
10 Pertemuan tehnis lintas pelaku : Dinkes , RS Kariadi
Semarang, RS Margono Purwokerto, RS Dr Moewardi
Surakarta, PMI, Kepolisian dll.
11. Tahun 1998/1999 Pengadaan : Suction pump
untuk 60 Puskesmas dan 139 alat curretage
untuk 139 Puskesmas dalam rangka
Puskesmas PONED.
12. Tahun 1999/2000 Pengadaan : Tabung
oksigen untuk 54 Puskesmas, Infant resusitator
untuk 191 Puskesmas, Curretage set untuk 168
Puskesmas.
13. Tahun 2000 pengadaan : Pemenuhan
penerima emergency kit dan minor surgery untuk
73 Puskesmas.
14. Tahun 2001 : Pemenuhan peralatan PPGD
untuk 58 Puskesmas dan Nebulizer untuk 20
Puskesmas, serta Bronkhodilator untuk 40
Puskesmas.
15. Tahun 2002 :Pemenuhan peralatan Poned dan
PPGGD untuk 63 Puskesmas Perbatasan
Propinsi Jawa Tengah : Suction pump set,
oksigen set, curretage set, brankard , kabonet
obat, kabinet instrument steril, emergensi set.
16. Tahun 2002: Pemenuhan peralatan laboratorium
Puskesmas penunjang PPGD. Untuk 73
Puskesmas
17. Tahun 2003 : Pemenuhan peralatan penunjang PPGD
untuk 90 Puskesmas
18. Tahun 2004 : Pemenuhan peralatan PPGD ( O2 lengkap
dan EEG ) untuk 51 Puskesmas
19.Telah tersusunnya PROTAP Penaggulangan KLB dan
Bencana Propinsi Jawa Tengah, yang didistribusikan ke
Dinkes Kab /Kota serta PUSKESMAS se Jateng .
20. Telah dilakukan sosialisasi Safe Community di 21
Kab/Kota ( 60% dari 35 Kab/Kota yang ada di Jawa
Tengah. Dari 21 Kab/Kota tersebut ditunjuk 1 RS
menjadi center Safe Community yaitu RSUP Dr. Kariadi
Semarang dan dibantu 3 Subcenter yaitu : RSUD Prof.
Margono Purwokerto, RSUD Dr. Moewardi Surakarta
dan RSU Tugurejo Semarang.
21. Untuk peningkatan SDM telah dilakukan
beberapa kegiatan meliputi :
- Workshop dan sosialisasi BSB di propinsi.
- Workshop dan sosialisasi BSB di RSUD Prof.
Margono Purwokerto, RSU Tugurejo Semarang
dan RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
- Gladi/simulasi BSB di RSUP Dr. Kariadi
Semarang, RSUD Prof. Margono Purwokerto,
RSU Tugurejo Semarang dan RSUD Dr. Moewardi
Surakarta.
- Pelatihan PPGD untuk Dokter RSU yang bertugas
di IGD
- Pelatihan PPGD untuk dokter & perawat Puskesmas
- Pelatihan PPGD untuk sopir ambulans
- Simulasi bersama Bencana dan Pemilu
- Bantuan Dokter PTT untuk RSU center dan subcenter.
- Pelatihan ketrampilan PPGD unt PRAMUKA Saka
Bhakti Husada (SBH )
- PERTISAKA ( Perkemahan Bakti Saka) unt SAKA Bhakti Husada
PRAMUKA DI Buper Abhiyoso Kab. KUDUS
22. Penyusunan draft pedoman BSB
23.Telah dilaksanakan KMD( Kursus Mahir Dasar) dan KML (Kursus Mahir
Lanjutan ) untuk Pamong Satuan Karya Bhakti Husada Pramuka di
lingkungan Dinas Kesehatan dan institusi Pendidikan Kesehatan ,dengan
Nilai Tambahan SPGDT

24. Uji Coba Kegiatan Safe Community di Puskesmas oleh Depkes RI tahun 2004
di Prop. Jawa Tengah di 2 lokasi yaitu Kab.Rembang (Pusk. Sluke & Pusk.
Sarang) & Kota Semarang (Pusk. Pegandan & Pusk. Ngaliyan
GLADI PENANGGULANGAN
BENCANA PRAMUKA SIAGA BENCANA
DI PERTISAKA KUDUS
II. Hambatan dan Tantangan pada Pelaksanaan :
1. Masing-masing lintas program dan sektor terkait
mempunyai kesibukan sendiri-sendiri sehingga sulit
mengadakan koordinasi.
2. Kemampuan tenaga kesehatan yang belum
seluruhnya mendapat pelatihan gawat darurat
3. Kondisi peralatan medis & peralatan penunjang
khususnya di sarana pelayanan kesehatan dasar
yang sangat minim.
4. Sarana komunikasi di yankes dasar yang sebagian
besar belum tersedia.
5. Ambulans 118 belum berfungsi
II. Hambatan dan Tantangan pada Pelaksanaan :
5. Kondisi sarana transportasi di pelayanan
kesehatan dasar yang sebagian besar sudah
tidak layak pakai.
6. Dukungan dana di kab/kota yang telah
mendapatkan sosialisasi belum optimal.
7. Leading sektor yang menangani belum jelas
sehingga masing berjalan sendiri-sendiri.
8. Belum ada monitoring dan evaluasi.
• TIM GERAK CEPAT (TGC)
 Sulitnya koordinasi linprog  pd saat kejadian,
masing-2 prog punya kesibukan.
• BUKU PROTAP PENANGG.KLB & BENCANA
PROP.JATENG
 Jumlah buku blm mencukupi permintaan daerah 
baru terpenuhi unt. DinKes Kab/Kota & Pusk
• SOSIALISASI BUKU PROTAP PENANGG.KLB & BENCANA
PROP.JATENG
- Belum semua Kab/Kota menyebarluaskan ke Pusk.
- Sosialisasi PROTAP belum optimal , terutama yang
Lintas Sektor.
PENANGG.KLB & BENCANA
 Kurangnya sarana & pra sarana :
 Transportasi
 Dana unt.BSB
 Belum semua Kab/Kota mengalokasikan dana untuk
penangg.KLB & Bencana
 Jejaring komunikasi cepat dr Pusk s/d
Propinsi
 Perlu adanya kerjasama kelembagaan yang
lebih operasional sehingga tercipta sinergi
dari berbagai potensi yang ada
 Dari dana yang sudah dialokasikan di daerah
selama ini difokuskan pada tanggap darurat,
sementara untuk Mitigasi dan Kesiapsiagaan
belum mendapatkan prioritas
III. Pemecahan Masalah :
1. Dinas Kesehatan Propinsi memposisikan diri sebagai
leading sektor.
2. Mengadakan diklat mengenai kegawatdaruratan bagi
petugas & masyarakat.
3. Berupaya mencukupi kebutuhan peralatan, sarana
transportasi & sarana komunikasi sesuai dengan standar
4. Mengadakan pertemuan koordinasi secara rutin
walaupun tanpa kehadiran seluruh tim.
5. Memberikan masukan kepada kab/kota agar mengajukan
kegiatan safe community melalui APBD Kab/ Kota.
6. Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala.
7. Mengingat banyaknya komponen yang terlibat dalam penang
gulangan Bencana ,maka diperlukan pengintegrasian kegiatan
sesuai kompetensi masing-masing komponen.
8. Dalam rangka Kesiapsiagaan Satkorlak PBP Propinsi, maupun
Satlak PBP Kabupaten / Kota hendaknya dibuat rencana
Kontingensi,sehingga dapat diketahui beberapa kekuatan dan
potensi yang dimiliki serta kebutuhan apa yang diperlukan.
9. Untuk menarik minak Anggota Pramuka agar menjadi kader
kesehatan yang baik, perlu memberi reward berupa sertifikasi
yang mempunyai Sipil Evek.
10.Memperbanyak Pelatih Pramuka yang mempunyai spesikasi
trampil KMD dan KML dengan nilai Plus SPGDT