Anda di halaman 1dari 34

KESEHATAN JIWA PADA MASA NIFAS

Metra Sastra, SKM MPH


Dinas Kesehatan Prov Sumatera Barat

Padang 12 JUlI 2018


SISTEMATIKA PEMBAHASAN
I. • LATAR BELAKANG

II. • DEFINISI KESEHATAN

III. • KESEHATAN JIWA

IV. • RUANG LINGKUP KESWA

V. • 1000 HPK

VI • MASALAH-MASALAH PADA MASA NIFAS

VII. • KESIMPULAN DAN SARAN


DEFINISI KESEHATAN
UU.KES. No 36 Tahun 2009
ADALAH KEADAAN SEHAT BAIK
SECARA FISIK, MENTAL, SPIRITUAL
MAUPUN SOSIAL YANG
MEMUNGKINKAN SETIAP ORANG
UNTUK HIDUP PRODUKTIF SECARA
SOSIAL DAN EKONOMIS.

UNSUR KESEHATAN PARIPURNA


UU.KESEHATAN. NO 36 th 2009
KESEHATAN ADALAH KEADAAN S EHAT BAIK SECARA FISIK,
MENTAL, SPIRITUAL MAUPUN SOSIAL YANG MEMUNGKINKAN SETIAP
ORANG UNTUK HIDUP PRODUKTIF SECARA SOSIAL DAN EKONOMIS

KESEHATAN
JIWA BAGIAN NO HEALTH
INTEGRAL WITHOUT
MENTAL
DARI HEALTH
KESEHATAN

4
KESEHATAN JIWA
(WHR, 2001)
MENTAL HEALTH
• Mental health is state of wellbeing in which the individual
realises his or her own abilities, can cope with normal stress of
life, can work productively and fruitfully, and is able to make a
contribution to his or her community

KESEHATAN JIWA
• Menyadari sepenuhnya kemampuan dirinya
• Mampu menghadapi stres kehidupan yg wajar
• Mampu bekerja produktif
• Dapat berperan serta dalam lingkungan hidupnya

5
TUJUAN PEMBANGUNAN KESEHATAN
(UU KESWA NO 18/2014)
• Terwujudnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
• Upaya kesehatan jiwa dengan pendekatan promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif.
• Upaya kesehatan jiwa harus diselenggarakan secara terintegrasi,
komprehensif, dan berkesinambungan oleh Pemerintah, Pemda,
dan/atau masyarakat.
• Menjamin ketersediaan dan keterjangkauan sumber daya dalam
upaya kesehatan jiwa.
• Meningkatkan mutu upaya layanan kesehatan jiwa sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
• Memberikan kesempatan bagi ODMK dan ODGJ melaksanakan
kewajibannya sbg warga negara RI.
Beban Global Penyakit
WMHD 2012
Depression:
PENYEBAB UTAMA BEBAN PENYAKIT WHD 2017
Depression:
A Global Crisis BERDASARKAN DALYs LET’S TALK
Disability Adjusted Life Years
NO 1990 2020 2030
1 Infeksi pernafasan Penyakit jantung iskemik HIV/AIDS
bawah
2 Diare DEPRESI MAYOR UNIPOLAR DEPRESI MAYOR
UNIPOLAR
3 Keadaan yang timbul Kecelakaan lalu lintas Penyakit Jantung
pada periode perinatal Iskemik

4 DEPRESI MAYOR Penyakit Serebrovskuler


UNIPOLAR
5 Penyakit jantung PPOK
iskemik
6 Penyakit Serebro Infeksi pernafasan bawah
vaskuler (Global Burden of Disease – WHO)
MASALAH KESWA DAN KESEHATAN FISIK NO HEALTH
SALING TERKAIT DAN MEMPENGARUHI WITHOUT
MENTAL
HEALTH

• DEPRESI • JANTUNG
• GANGGUAN JIWA • STROKE
YANG LAZIM • DIABETES
• SKIZOFRENIA • HIV/ AIDS
• GGN. KOGNITIF • MALARIA
• ALKOHOL/ ZAT • TUBERCULOSIS
PSIKOAKTIF • GGN. TUMBUH
KEMBANG PADA
• DEPRESI ANAK
MATERNAL • KEMATIAN BAYI
• PSIKOSIS
MATERNAL

*WHO, Pan American Health Organisation, the EU Council of Ministers, the World Federation of Mental Health
(UU NO 18 TH 2014 TENTANG KESWA) •Mempertahankan & Meningkatkan derajat keswamas secara optimal.
•Menghilangkan stigma pelanggaran HAM ODGJ.
PROMOTIF •Meningkatkan pemahaman & penerimaan masyarakat terhadap
Keswa.
RUANG LINGKUP KESWA

•Mencegah terjadinya masalah Keswa.


•Mencegah timbulnya atau kambuhnya gangguan jiwa.
PREVENTIF •Kurangi faktor resiko.
•Cegah timbulnya dampak psikososial.

•Penyembuhan atau pemulihan.


•Pengurangan penderitaan
KURATIF •Pengendalian disabilitas
•Pengendalian gejala penyakit.

•Mencegah atau mengendalikan disabilitas.


REHABILITA •Memulihkan fungsi sosial.
TIF •Memulihkan fungsi okupasional.
•Memberdayakan kemampuan ODGJ untuk mandiri di Masyarakat
Upaya Promotif - Preventif Kesehatan Jiwa Lansia
• Pendekatan Siklus Kehidupan (Continuum of
Care) dan Kelompok Risiko (Population at Risk) Pelayanan bagi
• Terintegrasi pada semua tingkat layanan anak SMP/A & • Deteksi dini
keswa lansia
kesehatan dan kegiatan LP/LS remaja • (demensia/
depresi, dll)
Pelayanan
bagi anak • Keswa Renaja
• Konseling: Adiksi
SD HV/AIDS
Pelayanan
• Life skill remaja
bagi balita • Mindfulness

Pelayanan
Persalinan, Deteksi Dini
bagi bayi keswa anak usia
nifas &
sekolah
Pemeriksaan neonatal
• Pemantauan
Kehamilan
perkembangan
Pelayanan • Deteksi Dini
• Pola asuh dan Keswa Anak
PUS & WUS
tumbuh kembang
anak
• Deteksi dini • Deteksi dini pd
• Deteksi Dini Keswa Bulin, gg perkembangan
Keswa Ibu Bufas dan Buteki anak
• Konseling Hamil •
Pranikah • Stimulasi Janin
dalam
Kandungan
Prevalensi Gangguan Mental Emosional
menurut Provinsi di Indonesia,

11
Indonesia: Riset Kesehatan Dasar
Prevalensi Nasional Gangguan Mental Emosional
(Depresi & Cemas) ≥15 th: 11,6%  ± 19 juta orang

11,6%

12 12
 Prevalensi nasional Gangguan mental emosional
(ansietas dan depresi): 11.6 % dari penduduk > 15
tahun (19 Juta orang)
 Prevalensi nasional Gangguan jiwa berat (psikotik,
skizofrenia) 0,46 % penduduk. (>1 juta orang )
(Riskesdas 2007)
 Masalah treatment gap > 90%, penelitian di
Leuwilang Jawa Barat menunjukkan treatment gap
96,5%
 Kasus Pasung diperkirakan sekitar 20.000 orang
diseluruh Indonesia.

13
• Gangguan jiwa berat (Riskesdas )
– 4,6 per 1000 penduduk
– Prevalensi tertinggi 20,3 per 1000 di Prov. DKI
Jakarta
• Prov. Nanggroe Aceh Darussalam 18,5 per 1000
• Prov. Sumatera Barat 16,7 per 1000
• Prov. Nusa Tenggara Barat 9,9 per 1000
• Prov. Sumatera Selatan 9,2 per 1000
– Prov. Maluku terendah 0,9 per 1000

14
PENYEBAB UTAMA DISABILITAS
WHR, 2001
(DALYs)
PROYEKSI

R 2000 2020
a
n
k
1 Infeksi Respirasi Bawah Peny. Jantung Iskemik
2 Kondisi Perinatal Gangguan Depresi
3 HIV/AIDS Kecelakaan Lalulintas
4 Gangguan Depresi Peny. Serebrovaskular
5 Diare PPOM
16
*TIDAK ADA KESEHATAN TANPA KESEHATAN JIWA
NO HEALTH WITHOUT MENTAL HEALTH
Hubungan penyakit fisik dan jiwa
• CHD
• Depresi • Stroke
• Gangguan jiwa • Diabetes
yang lazim • HIV/ AIDS
• Skizofrenia • Malaria
• Ggn. Kognitif • Tuberculosis
• Alkohol/ zat • Ggn. tumbuh
psikoaktif kembang pada
• Depresi maternal anak
• Psikosis maternal • Kematian bayi

17
*WHO, Pan American Health Organisation, the EU Council of Ministers, the World Federation of Mental Health
•Masalah-
Masalah pada
VI Masa Nifas
Latar Belakang
Masa nifas akan menyebabkan terjadinya perubahan - perubahan
pada organ reproduksi. Begitupun halnya dengan kondisi kejiwaan
( psikologis ibu, juga mengalami perubahan. Dari yang semula
belum memiliki anak, kemudian lahirlah seorang bayi mungil nan
lucu yang kini mendampingi ibu. Menjadi orang tua merupakan
suatu krisis tersendiri dan ibu harus mampu melewati masa
transisi. Secara psikologi, seorang akan mengalami gejala - gejala
psikiatrik setelah melahirkan. Beberapa penyesuaian dibutuhkan
oleh seorang wanita dalam menghadapi aktivitas dan peran
barunya sebagai ibu pada beberapa minggu atau bulan pertama
setelah melahirkan baik dari segi fisik maupun fisik. Sebagian
wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi ada
sebagian lainnya yang tidak berhasil menyesuaikan diri dan
mengalami gangguan – gangguan psikologis dengan berbagai
gejala atau sindrom yang oleh yang oleh para peneliti dan klinisi
disebut Depresi Post Partum.
Sekitar 10% wanita setelah melahirkan mengalami post
natal depression atau postpartum depression
Gejala dari postpartum depresi ini yaitu merasa letih,
mudah putus asa, depresi, serangan panik, tidak tertarik
untuk melakukan hubungan seksual, sulit tidur walaupun
sangat lelah, tegang, pikiran obsesif dan tidak terkontrol,
mempunyai rasa bersalah yang berlebihan terhadap
sesuatu. (Jhaquin, 2010:39)
Fenomena Psikologis pada Masa Nifas

Beberapa hal yang perlu diperhatikan bidan dan keluarga untuk


membantu ibu beradaptasi pada masa nifas adalah peran dan
fungsinya ibu menjadi orang orang tua, respon dan dukungan
psikososial dari keluarga, sejarah riwayat, dan pengalaman masa
kehamilan dan persalinannya,harapan,keinginan dan aspirasi pada saat
hamil dan melahirkan. Semuanya saling berkaitan selama proses
adaptasi nifas. Ketidakbahagiaan masa kehamilan akan memperburuk
adaptasi fase nifasnya. Jadi hal-hal yang perlu diperhatikan selama
masa nifas ialah:
1. Kondisi fisiknya, seperti kesehatan organ reproduksi ibu
2. Gizi dan lingkungna nifas yang bersih.
3. Pemberian dukungan dari suami atau kelurga besarnya.
4. Perhatian dan kasih saying
5. Menghibur ibu saat sedih
6. Menemani saat ibu merasa kesepian.
Masalah- Masalah Psikologis pada Masa Nifas
Postpartum Blues
Postpartum blues atau sering juga disebut maternity
blues atau sindroma ibu, baru dimengerti sebagai
suatu sindroma gangguan efek ringan yang sering
tampak dalam minggu pertama setelah persalinan
dapat terjadi begitu selesai proses kelahiran dan
biasanya akan hilang setelah beberapa hari sampai
seminggu setelah melahirkan. Seseorang yang baru
melahirkan dapat terkena perubahan mood secara
tiba-tiba/ tak terduga, merasa sedih, menangis tak
henti tanpa sebab, kehilangan nafsu makan, tak
tenang, gundah dan kesepian.
Postpartum blues atau sering juga disebut maternity blues atau
sindroma ibu ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut :
1)Cemas tanpa sebab.
2)Menangis tanpa sebab.
3)Tidak sabar.
4)Tidak percaya diri.
5)Sensitif mudah tersinggung.
6)Mersa kurang menyayangi bayinya.
7)Cenderung menyalahkan diri sendiri.
8)Gangguan tidur dan gangguan nafsu makan.
9)Kelelahan.
10)Mudah sedih.
11)Cepat marah.
12)Mood mudah berubah, cepat menjadi sedih dan cepat pula
gembira.
13)Perasaan terjebak, marah kepada pasangan dan bayinya.
14)Perasaan bersalah.
15)Pelupa
Masalah- Masalah Psikologis pada Masa Nifas

Postpartum Blues
Tidak ada perawatan khusus untuk postpartum
blues jika tidak ada gejala yang signifikan.
Empati dan dukungan keluarga serta staf
kesehatan diperlukan. Jika gejala tetap ada
lebih dari dua minggu diperlukan bantuan
professional
Gejala Depresi Pasca Melahirkan
Depresi pasca-melahirkan dan depresi [klinis] yang terjadi sebelum
dan selama kehamilan punya gejala-gejala yang sama. Anda punya
depresi pasca-melahirkan jika mengalami lima atau lebih gejala-
gejala berikut ini hampir setiap hari, pada sebagian besar waktu,
selama setidaknya dalam jangka dua minggu berturut-turut:
Sangat sedih, kosong, dan kehilangan harapan
Menangis di sepanjang waktu,Kehilangan minat atau kurang bisa
menikmati hobi atau hal-hal yang biasanya dilakukan,Kehilangan
selera atau makan terlalu banyak, atau kehilangan/pertambahan
berat badan tanpa disengaja
Merasa sangat tidak berguna atau punya rasa bersalah yang ekstrem
Gelisah atau justru tidak aktif/lamban
Sukar berkonsentrasi atau membuat keputusan
Merasa bahwa hidup ini tidak layak untuk dijalani
Faktor penyebab depresi post partum
1. Faktor kostitusional: ganguan post partum berkaitan dengan
status paritas riwayat obstetri pasien yang meliputi riwayat hamil
sampai bersalin serta ada komplikasi dari kehamilan dan persalinan
sebelumnya dan terjadi lebih banyak pada wanita
primipara.Primipara lebih umum menderita blues karena setelah
melahirkan wanita primipara berada dalam proses adaptasi,kalau
dulu hanya memikirkn diri sendiri begitu bayi lahir jika ibu tidak
paham perannya ia akan menjadi bingung sementara bayinya harus
tetap di rawat.
Faktor penyebab depresi post partum
1. Faktor kostitusional: ganguan post partum
berkaitan dengan status paritas riwayat obstetri
pasien yang meliputi riwayat hamil sampai
bersalin serta ada komplikasi dari kehamilan dan
persalinan sebelumnya dan terjadi lebih banyak
pada wanita primipara.Primipara lebih umum
menderita blues karena setelah melahirkan
wanita primipara berada dalam proses
adaptasi,kalau dulu hanya memikirkn diri sendiri
begitu bayi lahir jika ibu tidak paham perannya ia
akan menjadi bingung sementara bayinya harus
tetap di rawat.
Faktor penyebab depresi post partum
2. Faktor fisik: Perubahan fisik setelah proses
kelahiran dan memuncaknya ganguan mental
slama 2 minggu pertama menunjukan bahwa
faktor fisik di hubungkan dengan kelahiran
pertama merupakan faktor penting.Perubahan
hormon scara drastis setelah melahirkan dan
periode laten selama 2 hari diantara kelahiran
dan munculnya gejala. Perubahan ini sangat
berpengaruh pada keseimbangan.Kadang-kadang
progesteron naik dan estrogen menurun secara
cepat setelah melahirkan merupakan penyebab
yang sudah pasti.
Faktor penyebab depresi post partum
3. Faktor psikologis: Peralihan yang cepat dari
keadaan dua dalam satu pada akhir kehamilan
menjadi dua induvidu yaitu ibu dan anak
bergantung pada penyesuaian pesikologis
induvidu. Klaus dan kennel mengindikasikan
pentingnya cinta dan penangulangan masa
peralihan ini untuk memulai hubungan baik
antara ibu dan anak.
Faktor penyebab depresi post partum
4. Faktor sosial : Paykel mengemukakan bahwa
pemukiman yang tidak memadai lebih sering
menimbulkan depresi pada ibu-ibu selain
kurangnya dukungan dalam perkawinan
Pencegahan depresi post partum
Pencegahan terbaik adalah denga mengurangi faktor resiko terjadinnya ganguan
psikologis pada ibu hamil dan ibu pasca persalinan (post partum).Hal-hal yang
dapat di lakukan untuk mengurangi faktor resiko yaitu:
. Pemberian dukungan dari pasangan, keluarga, lingkungan,maupun
profesional selama kehamilan, persalinan dan pasca persalinan dapat mencegah
depresi
2. cepat proses penyembuhan.
3. Mencari tahu tentang ganguan psikologis yang mungkin terjadi pada ibu
hamil yang bru saja melahirkan sehingga jika terjadi gejala dapat di kenali dan di
tangani segera.
4. Konsumsi makanan sehat,istirahat cukup dan olaraga minimal 15 menit
perhari dapat menjaga suasana hati tetap baik.
5. Mencegah pengambilan keputusan yang berat selama kehamilan,
6. Mempersiapkan diri secara mental dengan membaca buku atau artikel
tentang kehamilan dan persalinan serta mendengarkan pengalaman wanita lain
yang pernah melahirkan dapat mermbantu menguranggi ketakutan.
7. Menyiapkan seseorang untuk membantu keperluan sehari-hari(memasak
membersihkan rumah,belanja dll).
•KESIMPULAN
DAN SARAN
VII.
Kesimpulan
Sebagian besar ibu yang mengalami depresi
postpartum adalah ibu yang berumur 20 –35 tahun,
berpendidikan dasar, tidak bekerja, multipara,
berpenghasilan di bawah UMK, memiliki
pengetahuan kurang, dukungan keluarga yang
kurang baik serta ibu dengan waktu tempuh menuju
pelayanan kesehatan dengan rentang waktu 5–15
menit. Dukungan keluarga merupakan determinan
yang paling mempengaruhi terjadinya depresi
postpartum.
Saran
Bagi pelayanan kesehatan perlu deteksi dini atau
screening terhadap kemungkinan terjadinya depresi
postpartum. Semua ibu melahirkan hendaknya
dilakukan pengkajian postpartum depresi dengan
menggunakan EPDS ataupun instrumen lain yang
direkomendasikan seperti yang di kembangkan oleh
Beck yaitu, Beck Depression Inventory (BDI).
Selain itu, antisipasi terjadinya depresi
postpartum bisa dilakukan sejak awal kehamilan
yaitu pada saat ibu melakukan antenatal care (ANC)
hendaknya ibu dan keluarga diberikan pendidikan
kesehatan mengenai perubahan psikologis pada
saat kehamilan, melahirkan serta nifas serta kiat-kiat
dalam mencegah dan mengatasi gangguan psikologis
erdas intelektual, emosional
dan spiritual
mpati dalam berkomunikasi
efektif Terima-Kasih
ajin beribadah sesuai agama dan
keyakinan
nteraksi yang bermanfaat bagi
kehidupan
sah, Asih dan Asuh Tumbuh
Kembang dalam Keluarga &
Masyarakat