Anda di halaman 1dari 32

GANGGUAN KONVERSI

Oleh :
Siti Patimah P 2608 B
GaluhYudhi Widhi Saputra P 2611 B
Cindy Arionata P 2626 B

Perseptor : dr. Rini Gusya Liza, M. Ked (KJ), SpKJ

BAGIAN PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS


RSUP DR M DJAMIL PADANG
2018
PENDAHULUAN
Gangguan Konversi

Hilangnya asosiasi antara


berbagai proses mental
Disosiatif seperti identitas pribadi
dan memori, sensori dan
fungsi motorik

Didapatkan hilangnya fungsi seperti :


Memori (amnesia psikogenik)
Berjalan-jalan dalam keadaan trans (fugue)
Berkaitan dengan Fungsi motorik (paralisis dan
Gangguan Kecemasan pseudoseizure)
Fungi sensorik (anesthesia sarung tangan
dan kaus kaki, glove and stocking
anaesthesia).
pendahuluan
Batasan • membahas dari definisi, epidemiologi, etiologi,
tanda dan gejala, factor risiko, diagnosis,

masalah komplikasi, tatalaksana dan pencegahan dari


gangguan konversi

Tujuan • untuk mempelajari dan memahami definisi,


epidemiologi, etiologi, tanda dan gejala, factor

penulisan risiko, diagnosis, komplikasi, tatalaksana dan


pencegahan dari gangguan konversi

Metode • menggunakan studi kepustakaan yang


merujuk pada berbagai literatur seperti
penulisan textbook dan jurnal
TINJAUAN PUSTAKA
Gangguan konversi (conversion
disorders) menurut DSM-IV
 Suatu gangguan yang ditandai oleh adanya satu atau
lebih gejala neurologis (sebagai contohnya paralisis,
kebutaan, dan parastesia) yang tidak dapat dijelaskan
oleh gangguan neurologis atau medis yang diketahui.
 Faktor psikologis berhubungan dengan awal atau
eksaserbasi gejala
 Adapun menurut PPDGJ III gangguan konversi atau
disosiatif adalah adanya kehilangan (sebagian atau
seluruh) dari integrasi normal antara: ingatan masa
lalu, kesadaran akan identitas dan penghayatan segera
(awareness of identity and immediate sensations), dan
kendali terhadap gerakan tubuh.
Epidemiologi

Prevalensi • 1 berbanding 10.000 kasus dalam populasi

Perbandingan • Wanita 90% atau lebih


Gender

• Gangguan konversi bisa terkena oleh


Tempat orang di belahan dunia manapun, walaupun
struktur dari gejalanya bervariasi
Etiologi
Perjalanan penyakit gangguan konversi ini bisa terjadi
sewaktu-waktu dan trauma masa lalu pernah terjadi
kembali, dan berulang-ulang sehingga terjadinya gejala
gangguan konversi.

Dalam beberapa referensi menyebutkan bahwa trauma


yang terjadi berupa :
 Kepribadian yang labil :
 Pelecehan seksual
 Pelecehan fisik
 Kekerasan rumah tangga ( ayah dan ibu cerai )
 Lingkungan sosial yang sering memperlihatkan
kekerasan
Tanda dan Gejala
 Hilang ingatan (amnesia) terhadap periode
waktu tertentu, kejadian dan orang
 Masalah gangguan mental, meliputi depresi
dan kecemasan,
 Persepsi terhadap orang dan benda di
sekitarnya tidak nyata (derealisasi)
 Identitas yang buram
 Depersonalisasi
Faktor Risiko
Orang-orang dengan
pengalaman gangguan
psikis kronik, seksual
ataupun emosional
semasa kecil

Anak-anak dan dewasa


yang juga memiliki
pengalaman kejadian
yang traumatik
Diagnosis
Untuk diagnosis pasti maka hal-hal berikut ini
harus ada :
 1. Ciri-ciri klinis yang ditentukan untuk
masing-masing gangguan yang tercantum
pada F44.
 2. Tidak ada bukti adanya gangguan fisik
yang dapat menjelaskan gejala tersebut.
 3. Bukti adanya penyebab psikologis dalam
bentuk hubungan waktu yang jelas dengan
problem dan peristiwa yang stressful atau
hubungan interpersonal yang terganggu
(meskipun disangkal pasien)
F44.0 Amnesia Disosiatif
 Ciri utama adalah hilangnya daya ingat, biasanya
mengenal kejadian penting yang baru terjadi yang
bukan disebabkan karena gangguan mental ogranik
atau terlalu luas untuk dijelaskan.

 Bentuk umum dari amnesia disosiatif melibatkan


amnesia untuk identitas pribadi seseorang, tetapi
daya ingat informasi umum adalah utuh.
 Diagnostik pasti memerlukan :
◦ 1. Amnesia, baik total maupun persial, mengenai
kedian baru yang bersifat stress atau traumatic.
◦ 2. Tidak ada gangguan otak egmency
F44.1 Fugue Disosiatif
 Memiliki semua ciri amnesia disosiatif
ditambah gejala perilaku melakukan
perjalanan meninggalkan rumah. Pada
beberapa kasus, penderita mungkin
menggunakan identitas baru
 Pasien dengan fugue disosiatif telah
berjalan jalan secara fisik dari rumah dan
situasi kerjanya dan tidak dapat mengingat
aspek penting identitas mereka
sebelumnya (nama, keluarga, pekerjaan)
 Untuk diagnosis pasti harus ada :
◦ 1. Ciri-ciri amnesia disosiatif
◦ 2. Dengan sengaja melakukan perjalanan
tertentu melampaui jerak yang biasa
dilakukannya sehari-hari.
◦ 3. Tetap memepertahankan kemampuan
mengurus diri yang mendasar dan melakukan
interaksi sosial sederhana dengan orang yang
belum dikenalnya.
F.44.2 Stupor Disosiatif
 Stupor Disosiatif bisa didefinisikan sebagai
sangat berkurangnya atau hilangnya
gerakan –gerakan voulunter dan respon
normal terhadap rangsangan luar, seperti
misalnya cahaya, suara, dan perabaan (
sedangkan kesadaran dalam artian
fisiologis tidak hilang ).
 Untuk diagnosis pasti harus ada :
◦ 1. Stupor
◦ 2. Tidak ditemukan adanya gangguan fisik atau
gangguan psikiatrik lain yang dapat
menjelaskan keadaan stupor tersebut.
◦ 3. Adanya masalah atau kejadian-kejadian baru
yang penuh stress
F44.3 Gangguan Trans dan
Kesurupan
 Merupakan gangguan-gangguan yang menunjukkan
adanya kehilangan sementara penghayatan akan
identitas diri dan kesadaran terhadap
lingkungannya; dalam beberapa kejadian, individu
tersebut berperilaku seakan-akan dikuasai oleh
kepribadian lain, kekuatan gaib atau malaikat.

 Gangguan trans yang terjadi selama suatu keadaan


skizofrenik atau psikosis akut disertai halusinasi
atau waham atau kepribadian multiple tidak boleh
dimasukkan dalam kelompok ini
F44.4-F44.7 Gangguan Konversi dari
Gerakan dan Penginderaan
 terdapat kehilangan atau gangguan dari gerakan
ataupun kehilangan pengideraan

 pasien biasanya mengeluh tentang adanya penyakit


fisik, meskipun tidak ada kelainan fisik yang dapat
ditemukan untuk menjelaskan keadaan-keadaan itu.

 penilaian status mental pasien dan situasi sosialnya


biasanya menunjukkan bahwa ketidakmampuan akibat
kehilangan fungsinya membantu pasien dalam upaya
untuk menghindar dari konflik yang kurang
menyenangkan atau untuk menunjukkan
ketergantungan atau penolakan secara tidak langsung
 Untuk diagnosis pasti :
◦ 1. Tidak didapat adanya tanda kelainan fisik.
◦ 2. Harus diketahui secara memadai mengenai
kondisi psikologis dan sosial serta hubungan
interpersonal dari pasien, agar memungkinkan
menyusun suatu formulasi yang meyakinkan
perihal sebab gangguan itu timbul
F44.4 Gangguan Motorik Disosiatif
 Bentuk yang paling lazim dari gangguan ini
adalah kehilangan kemampuan untuk
menggerakkan seluruh atau sebagian dari
anggota gerak
 Pralisis dapat bersifat parsial dengan
gerakan yang lemah atau lambat atau total
 Berbagai bentuk inkoordinasi dapat
terjadi, khusussnya pada kaki dengan
akibat cara jalan yang bizarre.
 Dapat juga disertai gemetar
F44.5 Konvulsi Disosiatif
 Dapat menyerupai kejang epileptic dalam
hal gerakannya akan tetapi jarang disertai
lidah tergigit, luka serius karena jatuh saat
serangan dan inkontinensia urin, tidak
dijumpai kehilangan kesadaran tetapi
diganti dengan keadaan seperti stupor
atau trans.
F44.6 Anestesia dan Kehilangan
Sensorik Disosiatif
 Bagian kulit yang mengalami anestesi sering kali
mempunyai batas yang tegas yang menjelskan
bahwa hal tersebut lebih berkaitan dengan
pemikiran pasien mengenai fungsi tubuhnya
daripada dengan pengetahuan kedokterannya

 Meskipun ada gangguan penglihatan, mobilitas


pasien serta kemampuan motoriknya sering kali
masih baik.

 Tuli disosiatif dan anosmia jauh lebih jarang terjadi


dibandingkan dengn hilang rasa dan penglihatan
F44.7 Gangguan Konversi Campuran
 Campuran dari gangguan-gangguan
tersebut di atas.
F44.8 Gangguan Konversi lainnya

• Ciri-ciri dari gangguan ini adalah “jawaban kira-kira”, yang


Sindrom ganser biasanya disertai beberapa gejala disosiatif lainnya

Gangguan • adanya dua atau lebih kerpibadian yang jelas pada satu individu
dan hanya satu yang tampil untuk setiap saatnya. Masing-masing
kepribadian kepribadian tersebut adalah lengkap, dalm arti memiliki ingatan,
perilaku dan kesenangan sendiri-sendiri yang mungkin sangat
multiple berbeda dengan kepribadian pramorbidnya

Gangguan konversi
sementara terjadi
pada masa kanak
dan remaja
Komplikasi
 Mutilasi diri
 Gangguan seksual
 Alkoholisme
 Depresi
 Gangguan saat tidur,mimpi buruk,
insomnia atau berjalan sambil tidur
 Gangguan kecemasan
 Gangguan makan
 Sakit kepala berat
Penatalaksanaan
1. Terapi obat
1. Biasanya pasien diberikan obat berupa anti-
depresan dan obat anti-cemas untuk membantu
mengontrol gejala mental pada gangguan
konversi ini

 Barbiturat kerja sedang dan singkat, seperti


tiopental, dan natrium amobarbital yang
diberikan secara intravena
 Benzodiazepine seperti lorazepam 0,5-1 mg
tab
2. Hipnosis
menciptakan keadaan relaksasi yang dalam dan
tenang dalam pikiran
Saat terhipnotis, pasien dapat berkonsentrasi
lebih intensif dan spesifik
3. Psikoterapi
◦ penanganan primer terhadap gangguan
konversi ini
◦ Terapinya akan membantu anda mengerti
penyebab dari kondisi yang dialami
4. Terapi kesenian kreatif
◦ tipe terapi ini menggunakan proses kreatif
untuk membantu pasien yang sulit
mengekspresikan pikiran dan perasaan
mereka. Seni kreatif dapat membantu
meningkatkan kesadaran diri. Terapi seni
kreatif meliputi kesenian, tari, drama dan
puisi
5. Terapi kognitif
◦ bisa membantu untuk mengidentifikasikan
kelakuan yang negatif dan tidak sehat dan
menggantikannya dengan yang positif dan
sehat, dan semua tergantung dari ide dalam
pikiran untuk mendeterminasikan apa yang
menjadi perilaku pemeriksa
pencegahan
 Anak- anak yang secara fisik, emosional
dan seksual mengalami gangguan, sangat
beresiko tinggi mengalami gangguan
konversi
 bersegeralah mengobati secara sugesti,
agar penangan tidak berupa obat anti
depresan ataupun obat anti stress
Terima Kasih