Anda di halaman 1dari 36

KEBIJAKAN DAN STRATEGI

PROGRAM PENGENDALIAN
FILARIASIS DAN KECACINGAN

Subdit Filariasis dan Kecacingan, Direktorat P2PTVZ


Kemenkes RI 2016
PROGRAM UNGGULAN, INTERVENSI DAN
TEROBOSAN
PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
PENYAKIT TULAR VEKTOR DAN ZOONOTIK

Program Intervensi Terobosan


1. Pengendalian 1. Pencegahan 1. Kampanye kelambu di
Penyakit Malaria Penyakit daerah endemis tinggi
2. Pengendalian Tular Vektor malaria
Penyakit Filarisasis dan Zoonotik 2. Pelaksanaan Bulan
dan Kecacingan 2. Pengendalia Eliminasi Kaki Gajah
3. Pengendalian n Vektor dan (BELKAGA)
Penyakit Arbovirosis : Faktor Risiko 3. Gerakan “1 rumah 1
DBD, Chikunya dan 3. Penemuan jumantik” untuk
JE dan mencegah demam
4. Pengendalian tatalaksana berdarah
Penyakit Zoonosis: penderita 4. Pengendalian zoonosis
Flu Burung, Rabies, 4. Deteksi dini multi sektor mulai dari
Antraks, dan perencanaan,
Leptospirosis dan Pes penanggulan pelaksanaan sampai
gan KLB evaluasi
5. Pengendalian
5. Pendekatan 5. Pengendalian vektor
Vektor “One Health” terpadu

Seluruh program ini berdampak pada penurunan


AKI, AKB, Stunting, kejadian penyakit menular
FILARIASIS (Penyakit Kaki Gajah)

 Merupakan penyakit menular menahun yg disebabkan


oleh cacing filaria, ditularkan oleh nyamuk

 Menimbulkan kecacatan menetap, stigma sosial,


hambatan psikologis

 Menurunkan kwalitas SDM dan menimbulkan kerugian


ekononomi

 Merupakan salah satu Penyakit Tropik Terabaikan


(NTDs/Neglected Tropical Diseases). Ada 17 NTDs
prioritas WHO, dimana di Indonesia ada 8 penyakit
(kusta, frambusia, filariasis, schistosomiasis, kecacingan
(STH), taeniasis, dengue dan chikungunya, rabies)
SIKLUS PENULARAN KAKI GAJAH
Situasi Filariasis di Indonesia Tahun 2015 (1)

• Daerah Endemis Filariasis


239 of 514 Kab/kota

• Spesies:
– Wuchereria bancrofti,
– Brugia malayi,
– Brugia timori (kawasan
Nusa Tenggara Timur)
Situasi Filariasis di Indonesia s/d tahun 2015 (2)

Total kasus kronis se Indonesia s/d 2014 adalah: 14.932 kasus, tersebar di 418 kab/kota di 34 Provinsi
KASUS KRONIS FILARIASIS

Di Kaki Pada Anak Di Tangan

Di Kaki Di Payudara Di Skrotum


Pengendalian
Penyakit Kaki Gajah
di Indonesia
* Pengendalian Kaki Gajah di Indonesia dimulai sejak
45 tahun yang lalu (1970)
* Pemerintah bertekad mewujudkan Indonesia Bebas Kaki
Gajah tahun 2020
* Untuk mempercepat terwujudnya Indonesia Bebas Kaki
Gajah akan diadakan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (BELKAGA)
setiap bulan Oktober selama 5 tahun (2015-2020)
* Keberhasilan terwujudnya Indonesia Bebas Kaki Gajah
ditentukan oleh dukungan semua pihak baik dijajaran
pemerintah maupun seluruh lapisan masyarakat, termasuk
kalangan swasta dan dunia usaha
 Pemberian Obat Pencegahan
Massal (POPM) Filariasis
setahun sekali selama 5
tahun berturut-turut 
Memutuskan mata rantai
penularan filariasis

 Penatalaksanaan Kasus
Filariasis Mencegah dan
membatasi kecacatan
 241 Kab/Kota Endemis Filariasis
 51 Kab/Kota telah melaksanakan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis selama 5 Tahun
 190 Kab/Kota akan melaksanakan POPM sampai dengan tahun 2020, dengan jumlah penduduk sebesar
83 juta jiwa

Dukungan dari semua pihak diperlukan, baik dijajaran pemerintah maupun seluruh lapisan masyarakat,
termasuk kalangan swasta dan dunia usaha.
 Pelaksanaan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (BELKAGA)
AKSELERASI ELIMINASI
FILARIASIS 2020

KAMPANYE NASIONAL POPM


FILARIASIS
 Pelaksanaan Pemberian Obat Pencegahan
Massal (POPM) Filariasis di kabupaten/kota
endemis dalam waktu serentak dengan jumlah
sasaran yang besar
Pemberian  Obat  Pencegahan  Massal  (POPM)  ditargetkan  pada  105  juta  penduduk 
yang  tinggal  di  241  kabupaten/kota  endemis  di  seluruh  Indonesia.  Belkaga  telah 
dicanangkan oleh Menteri Kesehatan RI pada tanggal 1 Oktober 2015  di Cibinong, 
Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
 Bulan dimana setiap penduduk kabupaten/kota endemis Kaki Gajah
serentak minum obat pencegahan.
 Dilaksanakan setiap bulan Oktober selama 5 tahun berturut-turut
(2015-2020)
 Dicanangkan Menteri Kesehatan tgl 1 Oktober 2015 di Cibinong,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pada saat yang bersamaan di Provinsi
endemik lainnya dilakukan pencanangan oleh gubernur.
 BELKAGA menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah
daerah. Pelaksanaannya memerlukan dukungan kementerian dan
lembaga terkait.
PERAN PUSAT

1.Penyediaan Obat (DEC dan Albendazole)


2.Penyediaan Norma, Standar, Pedoman, Kriteria
3.Asistensi Teknis dan Bimtek
4.Stimulan operasional melalui dana Dekon

PERAN DAERAH

1.Menjamin ketersediaan dana operasional POPM


Filariasis selama 5 tahun berturut-turut
2.Menjamin tata laksana kasus kronis filariasis
3.Menjamin keberlangsungan promosi kesehatan
dan pengendalian nyamuk penular filariasis
Kegiatan
BELKAGA 2015
KOMITMEN PEMERINTAH
TERHADAP BELKAGA
PELAKSANAAN
BELKAGA
DI KABUPATEN
BOGOR
BELKAGA 2016

 Seluruh kab/kota yang belum & diskontinyu harus mulai


melaksanakan POPM se-kabupaten/kota tahun 2016
 Cakupan yang diharapkan minimal 85 % dari jumlah
penduduk sasaran dan 65% dari total penduduk
 Penyuluhan yang efektif sebelum POPM filariasis, agar
semua penduduk sadar untuk minum obat
 Segera dibentuk KAPFI Provinsi dan Tim Ahli Pengobatan
Filariasis Kab/Kota
 Peningkatan upaya integrasi lintas sektor & lintas program
MANFAAT GANDA POPM FILARIASI

1. MENCEGAH FILARIASIS

2. MENCEGAH CACINGAN
KECACINGAN
N
A
G
IN
C
A
C
A
D
A
SP
A
W
MASALAH CACINGAN
- Sampai 2014 Survei pada anak Sekolah
Dasar menunjukkan Prevalensi cacingan
antara 0 – 85,9% (survei di 175
kab/kota)
- Rata-rata prevalensi 28,12%
- Cakupan pengobatan rendah
MASALAH - Pengetahuan masyarakat tentang cacingan
masih rendah
CACINGAN - Kemampuan petugas utk penanggulangan
cacingan belum optimal
- Komitmen masih kurang

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


- Keadaan Tanah dan Iklim Tropis
- Personal Hygiene (Lingkungan)
- Sosial Ekonomi
- Kepadatan Penduduk
DAMPAK CACINGAN
Infestasi cacing

Darah dihisap
KH & Protein dihisap
c. Tambang, cambuk
(cacing gelang)
Lemas ANEMIA

GIZI BURUK mengantuk


BBLR Perdarahan
Kemampuan belajar turun/ ibu bersalin
sering tidak masuk sekolah

Prestasi belajar menurun Kematian Kematian

Produktivitas menurun

Sosek rendah
SASARAN

1. Anak Usia Dini (1-6 tahun)


 di Posyandu, PAUD

2. Anak Usia Sekolah (7-12 tahun)


 di SD/MI
STRATEGI PEMBERIAN OBAT CACING
Upaya Akselerasi Pemberian Obat Cacing