Anda di halaman 1dari 20

PENGADILAN PAJAK

UU. NOMOR 14 TAHUN 2002


Nama Anggota Kelompok :
1.Rizki Nur Sa’diyah
(041711333143)
2.Nur Isnaini Safarina
(041711333236)
3.Mega Novitasari
(041711333244)
PENGADILAN PAJAK UU. NOMOR 14 TAHUN 2002

Banding sebagaimana dimaksud dalam Pengadilan Pajak


adalah Hak wajib pajak yang telah diatur dalam Pasal 27
UU KUP
Di Indonesia untuk pertama kalinya dibentuk institusi yg
SEJARAH
menanganiPENGADILAN
sengketa Pajak,PAJAK
yaitu Institusi Pertimbangan Pajak yang
dibentuk pada Tahun 1915 (Stbl No. 707) yg berkedudukan di
Batavia (Jakarta) Kemudian disempurnakan Dengan stbl Nomor 29
Tahun tentang Ordonantie tot Regeling van het Bereop in Belasting
zaken yg berkedudukan di Batavia (Jakarta). Pada Tahun 1950
badan ini berganti nama menjadi Majelis Pertimbangan Pajak
(MPP) yang bertugas memberi keputusan atas surat permohonan
banding tentang pajak-Pajak negara dan pajak-pajak daerah.
Kemudian sejak awal Tahun ditetapkan Undang-undang Nomor 17
Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak. Dengan
ditetapkannya UU ini maka penangan banding pajak beralih ke
Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP). Kemudian dengan
berlakunya UU Nomor 14 Tahun tanggal 12 April maka
PENJELASAN UMUM
1. Pengadilan Pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan
kehakiman bagi Wajib Pajak atau penanggung pajak yang mencari
keadilan terhadap sengketa pajak.
2. Sengketa adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara
WP/PP dgn Pejabat yg berwenang sbg akibat dikeluarkannya keputusan
yg dpt diajukan Banding atau Gugatan kpd Pengadilan Pajak berdasarkan
peraturan per-UU-an perpajakan termasuk Gugatan atas pelaksanaan
penagihan berdasarkan UU Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
3. Banding adalah upaya hukum yang dilakukan oleh WP atau Penanggung
Pajak terhadap suatau keputusan yg dpt diajukan banding berdasarkan
peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
4. Gugatan adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh Wajib Pajak at/
Penanggung Pajak terhadap pelaksanaan penagihan atau terhadap
keputusan yg dpt diajukan gugatan berdasarkan peraturan perundang-
undangan perpajakan yang berlaku.
KEDUDUKAN PENGADILAN PAJAK

Pengadilan Pajak adalah badan peradilan yang


melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi Wajib Pajak
atau penanggung Pajak yang mencari keadilan terhadap
Sengketa Pajak. Pengadilan Pajak berkedudukan di
Ibukota Negara; Sidang Pengadilan Pajak dilakukan di
tempat kedudukannya dan apabila dipandang perlu
dapat dilakukan di tempat lain yang ditetapkan oleh
Ketua Pengadilan;
PEMBINAAN PENGADILAN PAJAK

Pembinaan teknis peradilan bagi Pengadilan Pajak dilakukan oleh


Mahkamah Agung; Pembinaan organisasi, administrasi dan keuangan
dilakukan oleh Departemen Keuangan; Pembinaan tidak boleh
mengurangi kebebasan Hakim dalam memeriksa dan memutus
Sengketa Pajak.
SUSUNAN PENGADILAN PAJAK

Susunan Pengadilan Pajak terdiri dari Pimpinan, Hakim Anggota,


Sekretaris dan Panitera; Pimpinan Pengadilan Pajak terdiri dari seorang
Ketua dan paling banyak 5 (lima) orang Wakil Ketua;
KEKUASAAN PENGADILAN PAJAK
Pengadilan Pajak mempunyai tugas dan wewenang memeriksa dan
memutus Sengketa Pajak; Dalam hal banding, hanya memeriksa dan
memutus sengketa atau keputusan keberatan, kecuali ditentukan lain
oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku; Dalam hal Gugatan,
memeriksa dan memutus sengketa atas pelaksanaan penagihan Pajak
atau keputusan pembetulan atau keputusan lainnya sebagaimana diatur
dalam UU KUP; Mengawasi kuasa hukum yang memberikan bantuan
hukum kepada pihak-pihak yang bersengketa dalam sidang Pengadilan
Pajak yang diatur dengan Keputusan Ketua.
SYARAT-SYARAT BANDING
Persyaratan Banding :
1. Banding diajukan dengan Surat Banding dlm Bhs Indonesia kpd Pengadilan Pajak.
2. Banding diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterima Keputusan yang
dibanding, kecuali diatur lain dalam peraturan per-UU-an pajak.
3. Jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak mengikat apabila jangka waktu
dimaksud tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaan pemohon Banding.
4. Terhadap 1 (satu) Keputusan diajukan 1 (satu) Surat Banding.
5. Banding diajukan dengan disertai alasan-alasan yang jelas, dan dicantumkan tanggal diterima surat
keputusan yang dibanding.
6. Pada Surat Banding dilampirkan salinan Keputusan yang dibanding.
7. Selain dari persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) serta Pasal 35,
dalam hal Banding diajukan terhadap besarnya jumlah Pajak yang terutang, Banding hanya dapat
diajukan apabila jumlah yang terutang dimaksud telah dibayar sebesar 50% (lima puluh persen).
8. Melampirkan data dan bukti-bukti pendukung
PENGAJUAN GUGATAN PERMOHONAN GUGATAN
DIAJUKAN OLEH : AHLI WARIS.

Wajib Pajak sendiri. Seorang Pengurus. Kuasa Hukum. Pengampu (dalam hal
pailit). Pihak yang menerima pertanggungjawaban (dlm hal, Peleburan,
pemekaran liquidasi, dll).
SYARAT-SYARAT GUGATAN
Persyaratan Gugatan :
1. Gugatan diajukan dengan Surat Gugatan dlm Bhs Indonesia ke Pengadilan
Pajak.
2. Gugatan diajukan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal
pelaksanaan penagihan pajak.
3. Gugatan diajukan dalam jangka waktu 30 (tigapuluh) hari sejak tanggal
keputusan diterima (selain gugatan point 2 di atas).
4. Jangka waktu tsb di atastidak mengikat apabila jangka waktu dimaksud tidak
dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaan penggugat.
5. Perpanjangan jangka waktu tsb adalah 14 hari terhitung sejak berakhirnya
keadaan di luar kekuasaan penggugat tersebut.
6. Terhadap 1 Keputusan atau 1 pelaks penag diajukan 1 (satu) Surat Gugatan.
7. Gugatan diajukan dengan disertai alasan-alasan yang jelas.
PELAKSANAAN PUTUSAN

Putusan Pengadilan Pajak langsung dapat dilaksanakan dengan


tidak memerlukan lagi keputusan pejabat yang berwenang kecuali
peraturan per-UU- mengatur lain. Apabila putusan Pengadilan
Pajak mengabulkan sebagian atau seluruh Banding, kelebihan
pembayaran Pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga
2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat)
bulan, sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan
perpajakan yang berlaku.
PELAKSANAAN PUTUSAN(LANJTN)

Salinan putusan atau salinan penetapan Pengadilan Pajak dikirim kepada para
pihak dengan surat oleh Sekretaris dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak
tanggal putusan Pengadilan Pajak diucapkan, atau dalam jangka waktu 7 (tujuh)
hari sejak tanggal putusan sela diucapkan. Putusan Pengadilan Pajak harus
dilaksanakan oleh Pejabat yang berwenang dalam jangka waktu 30 (tiga puluh)
hari terhitung sejak tanggal diterima putusan. Pejabat yang tidak melaksanakan
putusan Pengadilan Pajak dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan kepegawaian yang berlaku.
PENINJAUAN KEMBALI

Permohonan peninjauan kembali sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 77 ayat (3) hanya dapat diajukan 1 (satu) kali kepada
Mahkamah Agung melalui Pengadilan Pajak. Permohonan
peninjauan kembali tidak menangguhkan atau menghentikan
pelaksanaan putusan Pengadilan Pajak. Permohonan peninjauan
kembali dapat dicabut sebelum diputus, dan dalam hal sudah
dicabut permohonan peninjauan kembali tersebut tidak dapat
diajukan lagi.
ALASAN PENINJAUAN KEMBALI

Permohonan peninjauan kembali hanya dapat diajukan berdasarkan alasan-alasan


sebagai berikut: Apabila putusan Pengadilan Pajak didasarkan pada suatu kebohongan
atau tipu muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan
pada bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu; Apabila terdapat
bukti tertulis baru yang penting dan bersifat menentukan, yang apabila diketahui pada
tahap persidangan di Pengadilan Pajak akan menghasilkan putusan yang berbeda; Apabila
telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih dari pada yang dituntut, kecuali
yang diputus berdasarkan Pasal 80 ayat (1) huruf b dan c; Apabila mengenai suatu bagian
dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan sebab-sebabnya; atau Apabila
terdapat suatu putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
JANGKA WAKTU PENINJAUAN KEMBALI

Jangka Waktu Permohonan peninjauan kembali :


Pengajuan permohonan peninjauan kembali berdasarkan alasan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 huruf a dilakukan dalam jangka
waktu paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak diketahuinya kebohongan
atau tipu muslihat atau sejak putusan Hakim pengadilan pidana memperoleh
kekuatan hukum tetap. dimaksud dalam Pasal 91 huruf b dilakukan dalam
jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak ditemukan surat-
surat bukti yang hari dan tanggal ditemukannya harus dinyatakan di bawah
sumpah dan disahkan oleh pejabat yang berwenang. dimaksud dalam Pasal
91 huruf c, huruf d, dan huruf e dilakukan dalam jangka waktu paling lambat
3 (tiga) bulan sejak putusan dikirim.
PENINJAUAN KEMBALI OLEH MA
JANGKA WAKTU PUTUSAN
PENINJAUAN KEMBALI OLEH MA
Mahkamah Agung memeriksa dan memutus permohonan peninjauan kembali
dengan ketentuan :
a. dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak permohonan peninjauan kembali
diterima oleh Mahkamah Agung telah mengambil putusan, dalam hal
Pengadilan Pajak mengambil putusan melalui pemeriksaan acara biasa
b. b. dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak permohonan peninjauan kembali
Pengadilan Pajak mengambil putusan melalui pemeriksaan acara cepat.
Putusan atas permohonan peninjauan kembali sebagaimana dimaksud dalam
point (1) di atas harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.
PENYELESAIAN SENGKETA DI BIDANG PERPAJAKAN
(MENGUBAH PS. 23 AYAT (2))
Ketentuan sekarang:
Gugatan diajukan ke Pengadilan Pajak terhadap:
a. Pelaksanaan SP, SPMP atau Pengumuman Lelang
b. Keputusan yg berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan, selain Ps 25 ayat (1) &
Ps. 26
c. Keputusan Pembetulan Ps. 16 yang berkaitan dengan STP
d. Keputusan sebagaimana dimaksud Ps. 36 yang berkaitan dengan STP
Usulan Perubahan:
Menambah objek gugatan yaitu Keputusan Pencegahan Alasan Perubahan: Meningkatkan
kepastian hukum sehingga penanganan sengketa pajak hanya dilakukan oleh badan peradilan
pajak
Usulan Penambahan:
KEBERATAN & BANDING (MENAMBAH PS. 26A)
Untuk memberikan kesempatan yang luas kepada
WP berkaitan dgn permohonan keberatannya,
dalam tata cara pengajuan dan penyelesaian
permohonan keberatannya, antara lain diatur WP
dapat hadir untuk memberikan keterangan atau
memperoleh penjelasan Ps. 26A: Tata cara
pengajuan & penyelesaian permohonan keberatan
diatur dgn Keputusan Menteri Keuangan Alasan
Penambahan: Untuk lebih memberikan keadilan
KEBERATAN & BANDING
(MENAMBAH PS. 27 AYAT (4A))
Usulan Penambahan:
Apabila diminta oleh WP untuk pengajuan
banding, DJP wajib memberikan keterangan
tertulis hal-hal yg menjadi dasar Keputusan
keberatan Alasan Penambahan: WP dapat
menyusun banding dgn alasan yang kuat
Lebih memberikan keadilan - Transparansi