Anda di halaman 1dari 73

Alur Penyusunan Kebijakan Pilkades Serentak

di Kab. Sukabumi

UU No. 5 Thn
2014 Ttg ASN
Postur dan
UU No. 23 Thn
UU No. 30 Ttg performance
2014 Ttg
Adm. Pem. birokrasi
Pemda
Pemda
- PP Ttg
Kewenangan
Prakondisi - PP Ttg OPD
(UU No. 32 Thn
2004)
PP No. 43 thn 2014 jo.
PP No. 47 Thn 2015 Ttg
Peraturan Pelaksanaan
Perda No. 9
Perbup
UU No. 6 Thn UU 6/2014

2014 ttg Desa Tahun 2015 No. 51


tentang Tahun
Permendagri No. 112
Desa
Tahun 2015 tentang
Pemilihan Kepala Desa 2015
Latar belakang
 Peraturan Bupati Sukabumi Nomor: 23 Tahun 2013 Tentang
Pedoman Tata Cara Pemilihan, Pencalonan, Pengangkatan,
Pelantikan Dan Pemberhentian Kepala Desa Di Kabupaten
Sukabumi yang menjadi pedoman Pilkades sudah tidak relevan
dengan perkembangan.
 Penyusunan Kebijakan Pilkades Serentak merupakan Amanat
UU Nomor 6 Tahun 2014, PP Nomor 43 Tahun 2014 Jo. PP
Nomor 47 Tahun 2015, Permendagri No. 112 Tahun 2015, dan
Perda No. 9 Tahun 2015 tentang Desa,
 Perda No. 9 Tahun 2015 telah mengatur tentang Pemilihan dan
Pemberhentian Kepala Desa pada Pasal 30-73, dan pasal 30
berbunyi :
Ketentuan mengenai tata cara pemilihan Kepala Desa serentak
diatur dengan Peraturan Bupati
 Pasal 1 huruf 4
 Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan
nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan
masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang
berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat
berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau
hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem
pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 Kepala Desa adalah pejabat Pemerintah Desa yang
mempunyai wewenang, tugas dan kewajiban untuk
menyelenggarakan rumah tangga Desanya dan
melaksanakan tugas dari Pemerintah dan Pemerintah
Daerah;
KEBIJAKAN PILKADES SERENTAK
Pasal 3
1. Pemilihan Kepala Desa dilaksanakan secara serentak diseluruh wilayah Daerah dan dapat
dilaksanakan bergelombang paling banyak 3 (tiga) kali dalam jangka waktu 6 (enam) tahun.
2. Pemilihan Kepala Desa dilaksanakan secara serentak sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan pada waktu yang sama diseluruh desa.
3. Pemilihan Kepala Desa dilaksanakan secara bergelombang sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dapat dilaksanakan dengan mempertimbangkan :
 pengelompokan waktu berakhirnya masa jabatan Kepala Desa di wilayah Daerah;
 kemampuan keuangan daerah; dan/atau
 ketersediaan PNS di lingkungan Kabupaten yang memenuhi persyaratan sebagai penjabat Kepala Desa.
 Pemilihan Kepala Desa bergelombang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan interval
waktu paling lama 2 (dua) tahun.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa dilaksanakan pada
waktu yang sama diwilayah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan
Keputusan Bupati.

Pasal 4
1. Dalam hal terjadi kekosongan jabatan kepala Desa pada masa penyelenggaraan pemilihan
kepala Desa serentak, Bupati menunjuk Penjabat Kepala Desa.
2. Penjabat Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berasal dari Pegawai Negeri Sipil
Daerah.
Tahapan Pilkades (Pasal 5)
 persiapan;
 pencalonan;
 pemungutan suara; dan
 penetapan
Tahapan Persiapan (Pasal 6)
 pemberitahuan BPD kepada Kepala Desa tentang akhir masa
jabatan yang disampaikan 6 (enam) bulan sebelum berakhir
masa jabatan;
 pembentukan panitia pemilihan kepala desa oleh BPD
ditetapkan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari setelah
pemberitahuan akhir masa jabatan;
 laporan akhir masa jabatan kepala desa kepada Bupati
disampaikan dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari setelah
pemberitahuan akhir masa jabatan;
 perencanaan biaya pemilihan diajukan oleh panitia kepada
Bupati melalui camat dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari
setelah terbentuknya panitia pemilihan; dan
 persetujuan biaya pemilihan dari Bupati dalam jangka waktu 30
(tiga puluh) hari sejak diajukan oleh panitia.
Tahap Pencalonan (Pasal 7)
 Pengumuman dan pendaftaran bakal calon;
 Penelitian kelengkapan persyaratan administrasi, klarifikasi,
serta penetapan dan pengumuman nama calon;
 Penetapan calon kepala Desa;
 Penetapan daftar pemilih tetap;
 Pelaksanaan kampanye calon kepala Desa;dan
 Masa tenang.
Tahap Pemungutan Suara (Pasal 8)
 Pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara;
 Penetapan calon yang memperoleh suara terbanyak;
dan/atau
 Dalam hal calon yang memperoleh suara terbanyak lebih
dari 1 (satu) orang, maka diadakan pemungutan suara
ulang.
Tahap Penetapan (pasal 9)
 Laporan panitia pemilihan mengenai calon terpilih kepada
BPD ;
 Laporan BPD mengenai calon terpilih kepada Bupati
melalui Camat;
 Penerbitan keputusan Bupati mengenai pengesahan dan
pengangkatan Kepala Desa;dan
 Pelantikan kepala Desa terpilih.
Biaya Pilkades (Pasal 10)
1) Biaya Pemilihan Kepala Desa dibebankan pada Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten.
2) Dana bantuan dari Angaran Pendapatan dan Belanja Desa
untuk kebutuhan pada pelaksanaan pemungutan suara.
Panitia Pilkades (Pasal 11)
1. Panitia Pilkades Tingkat Kabupaten
Panitia Pemilihan Tingkat Kabupaten terdiri dari unsur OPD yang membidangi Pemerintahan
Desa, unsur Kecamatan dan unsur lain yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati.
- Unsur lain terdiri atas :
 Kepolisian;
 TNI;
 Kejaksaan Negeri;
 Pengadilan Negeri;
 Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pemerintahan;
 OPD yang membidangi Keuangan;
 OPD yang membidangi Perencanaan;
 OPD yang membidangi Pengawasan;
 OPD yang membidangi Polisi Pamong Prajadan Perlindungan Masyarakat;
 OPD yang membidangi Kesehatan;
 OPD yang membidangi Pendidikan;
 OPD yang membidangi Kependudukan dan Catatan Sipil;
 OPD yang membidangi Kesatuan Bangsa dan Politik;
 Kementerian Agama;
 Bagian Hukum;
 Bagian Tata Pemerintahan;
 RSUD; dan
 Perguruan Tinggi.
Lanjutan Panitia Pilkades ….
2. Panitia Pilkades Tingkat Desa
terdiri atas unsur perangkat desa, lembaga
kemasyarakatan, dan tokoh masyarakat desa yang
ditetapkan dengan Keputusan BPD
Tugas Panitia Pilkades Tingkat
Kabupaten (Pasal 12 ayat 2)
 merencanakan, mengkoordinasikan dan menyelenggarakan semua tahapan pelaksanaan
pemilihan tingkat kabupaten;
 melakukan bimbingan teknis pelaksanaan pemilihan kepala desa terhadap panitia pemilihan
kepala desa tingkat desa;
 menetapkan jumlah surat suara dan kotak suara;
 memfasilitasi pencetakan surat suara dan pembuatan kotak suara serta perlengkapan
pemilihan lainnya;
 memverifikasi persyaratan administrasi hasil penyaringan bakal calon dari Panitia Pemilihan
Tingkat Desa;
 memfasilitasi pelaksanaan uji kompetensi bakal calon kepala desa;
 memfasilitasi pelaksanaan test kesehatan dan bebas narkoba;
 memberikan pembekalan kepada BPD, Panitia Pemilihan Tingkat Desa, para calon kepala desa
dan para pendukung dan/atau tim sukses masing-masing calon.
 memfasilitasi penyelesaian permasalahan pemilihan kepala desa tingkat kabupaten;
 melakukan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemilihan; dan
 melaksanakan tugas dan wewenang lain yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati.
Tugas Panitia Pilkades Tingkat Desa
(Pasal 13)
 merencanakan, mengkoordinasikan, menyelenggarakan, mengawasi dan mengendalikan semua
tahapan pelaksanaan pemilihan;
 merencanakan dan mengajukan biaya pemilihan kepada Bupati melalui camat;
 menyiapkan surat suara, kotak suara dan perlengkapan pemilihan lainnya sesuai dengan rencana
biaya yang telah diajukan dan mendapat persetujuan Bupati;
 melakukan pendaftaran dan penetapan pemilih;
 mengadakan penjaringan dan penyaringan bakal calon;
 menetapkan calon yang telah memenuhi persyaratan hasil verifikasi dan uji kompetensi yang
dilakukan oleh Panitia Pemilihan Tingkat Kabupaten, serta test kesehatan dan bebas narkoba
yang dilaksanakan di RSUD yang ditunjuk;
 menetapkan tata cara pelaksanaan pemilihan;
 menetapkan tata cara pelaksanaan kampanye;
 melaksanakan pemungutan suara;
 melaksanakan penghitungan suara;
 menetapkan hasil rekapitulasi penghitungan suara dan mengumumkan hasil pemilihan;
 menetapkan calon Kepala Desa terpilih; dan
 melakukan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemilihan.
Pembentukan Panitia Pilkades Tk. Desa
Pasal 14
 Panitia Pemilihan Tingkat Desa dibentuk dalam rapat
pleno BPD dan ditetapkan dengan Keputusan BPD yang
selanjutnya disampaikan secara tertulis oleh BPD kepada
Bupati melalui camat.
Panitia Pilkades Tk. Desa (Pasal 15)
 Panitia Pemilihan Tingkat Desa berjumlah 11 orang terdiri
dari:
 Ketua;
 Wakil Ketua;
 Sekretaris;
 Bendahara;dan
 Anggota sebanyak 7 (tujuh) orang.
 Apabila jumlah TPS lebih dari 1 (satu), maka Panitia Pemilihan
Tingkat Desa dapat mengusulkan kepada BPD penambahan
jumlah anggota sebanyak 7 (tujuh) orang untuk setiap TPS.
 Apabila terdapat penambahan jumlah anggota Panitia Pemilihan
Tingkat Desa, maka pembiayaan untuk honor dan operasional
dibebankan kepada APB Desa.
 Apabila diantara anggota Panitia Pemilihan Tingkat Desa ada
yang berhalangan tidak dapat melaksanakan tugas
keanggotaannya dalam Panitia Pemilihan Kepala Desa maka
dapat diusulkan dan diganti berdasarkan Keputusan BPD.
Pasal 17
 Jumlah, lokasi, bentuk, dan tata letak TPS ditetapkan oleh panitia pemilihan.
 TPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditentukan lokasinya di tempat
yang mudah dijangkau, termasuk oleh penyandang cacat, serta menjamin
setiap pemilih dapat memberikan suaranya secara langsung, umum, bebas,
rahasia, jujur, dan adil.
 Jumlah pemilih di TPS ditentukan panitia pemilihan.
 Dalam menentukan jumlah TPS, panitia pemilihan dapat memperhatikan
jumlah hak pilih berdasarkan kelipatan 5.000, yakni:
 Jumlah hak pilih sampai dengan 5.000 dilaksanakan pada 1 lokasi TPS
 Jumlah hak pilih antara 5.001 sampai dengan 10.000 dapat dilaksanakan pada
2 lokasi TPS;
 Jumlah hak pilih antara 10.001 sampai dengan 15.000 dapat dilaksanakan
pada 3 lokasi TPS;
 Jumlah hak pilih antara 15.001 sampai dengan 20.000 dapat dilaksanakan
pada 4 lokasi TPS;]
Masa Kerja Panitia Pilkades (Pasal 18)
 Masa kerja Panitia Pemilihan Kepala Desa terhitung
sejak pembentukan sampai dengan pelaksanaan
pelantikan kepala desa terpilih.
Pemilih (pasal 19)
(1) Pemilih adalah mereka yang memenuhi syarat-syarat:
 penduduk desa setempat yang dibuktikan dengan kepemilikan KK dan KTP atau tanda
bukti yang sah sebagai penduduk desa yang bersangkutan berupa surat keterangan
kependudukan yang dikeluarkan oleh Kepala Desa dan diketahui oleh Camat setempat;
 bagi penduduk yang belum memiliki dokumen kependudukan ( KK dan KTP), paling sedikit
telah berdomisili selama 6 (enam) bulan di Desa yang bersangkutan terhitung pada saat
pengesahan DPS dengan melampirkan surat keterangan domisili dari Kepala Desa
berdasarkan keterangan dari RT/RW setempat;
 terdaftar sebagai pemilih dalam DPT yang ditetapkan oleh panitia pemilihan kepala desa;
 tidak sedang terganggu jiwa atau ingatannya;
 pada saat hari pemungutan suara telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah/pernah
kawin;
 tidak dicabut hak pilihnya sesuai dengan Putusan Pengadilan yang mempunyai
kekuatanhukum tetap;
 tidak sedang menjalani hukuman pidana atau kurungan berdasarkan Putusan Pengadilan
yang mempunyai kekuatan hukum tetap.
(2) Pemilih hanya didaftar 1 (satu) kali dalam daftar pemilih.
(3) Pemilih yang telah terdaftar dalam daftar pemilih ternyata tidak lagi memenuhi syarat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak dapat menggunakan hak memilihnya.
Data Pemilih (Pasal 20)
 Panitia Pemilihan dapat menggunakan DPT pemilihan terakhir (Pemilihan Presiden,
Pemilihan Gubernur, Pemilihan Legislatif, dan Pemilihan Bupati).
 Panitia Pemilihan melakukan perbaikan DPT pemilihan terakhir sebagaimana
dimaksud pada ayat (1)berdasarkan kondisi nyata penduduk desa setempat yaitu:
 pemilih yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat
(1);
 pemilih yang telah memenuhi syarat usia pemilih, yaitu pada hari dan tanggal
pemungutan suara Pemilihan Kepala Desa sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun;
 pemilih yang belum berumur 17 (tujuh belas) tahun, tetapi sudah/pernah kawin;
 pemilih yang pindah domisili;dan
 pemilih yang meninggal dunia.

 Dalam pelaksanaan perbaikan DPT pemilihan terakhir tersebut, Panitia wajib


melibatkan Ketua RW dan RT setempat.
 DPT pemilihan terakhir yang telah diperbaiki tersebut, disusun berurutan
berdasarkan dusun, rukun warga (RW) dan rukun tetangga (RT) dan ditetapkan
menjadi DPS Pemilihan Kepala Desa oleh Panitia Pemilihan.
Pasal 21
 DPS yang telah ditetapkan, diumumkan di Kantor/Balai Desa dan/ atau di
tempat-tempat yang strategis lainnya untuk mendapatkan tanggapan dari
masyarakat.
 Jangka waktu pengumuman DPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dilaksanakan selama 3 (tiga) hari terhitung sejak tanggal ditetapkannya DPS.
 Dalam jangka waktu pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
pemilih atau anggota keluarganya dapat mengajukan usul perbaikan kepada
Panitia Pemilihan mengenai:
 a. penulisan nama dan/atau identitas lainnya;
 b. Pemilih yang terdaftar sudah meninggal dunia;
 c. Pemilih terdaftar ganda;
 d. Pemilih yang belum berumur 17 tahun tetapi telah/pernah kawin belum
terdaftar;
 e. Pemilih yang terdaftar sudah tidak memenuhi syarat sebagai pemilih.
 Apabila usul perbaikan daninformasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
diterima, makaPanitia Pemilihan mengadakan perbaikan DPS.
Pasal 22
 Panitia Pemilihan mencatat data/nama pemilih baru sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 20 ke dalam Daftar Pemilih Tambahan.
 Pencatatan data pemilih dalam Daftar Pemilih Tambahan dilaksanakan
paling lama 3 (tiga) hari terhitung sejak hari pengumuman DPS
berakhir.
 Daftar Pemilih Tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
diumumkan oleh Panitia Pemilihan di Kantor/Balai Desa dan Rukun
Tetangga (RT) atau di tempat-tempat yang strategis lainnya selama 3
(tiga) hari terhitung sejak penetapan Daftar Pemilih Tambahan untuk
mendapat tanggapan dari masyarakat.
 Dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3), pemilih
baru dapat mengajukanusul atas perbaikan penulisan nama dan/atau
identitas lainnya.
 Apabila usul sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat diterima,
dalam jangka waktupaling lama 2 (dua) hari Panitia Pemilihan
mengadakan perbaikan Daftar Pemilih Tambahan.
Pasal 23
 DPS dan Daftar Pemilih Tambahan yang sudah diperbaiki,
disahkan menjadi DPT oleh Ketua Panitia Pemilihan disaksikan
oleh Ketua BPD, Calon serta dengan dibuatkan berita acara.
 Pengesahan DPT sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dilaksanakan dalam Rapat PanitiaPemilihan paling lama 3 (tiga)
hari sejak berakhirnya pengumuman Daftar Pemilih Tambahan.
 DPTsebagaimana dimaksudpada ayat (1), diumumkan di
Kantor/Balai Desa dan/atau di tempat-tempat yang strategis
lainnya dalam jangka waktu 3 (tiga) hariterhitung sejak
disahkannya DPT.
 Apabila DPT telah diumumkan sebagaimana dimaksud pada
ayat (3), maka Panitia Pemilihantidak menerima tanggapan atau
usulan masyarakat dalam bentuk apapun.
Pasal 24
 DPT yang telah ditetapkan digunakan sebagai bahan
pembuatan surat suara, pemberitahuan dan/atau undangan,
formulir-formulir dan alat perlengkapan pemilihan lainnya.
Pencalonan Kepala Desa (Pasal 25)
Calon Kepala Desa yang dapat dipilih paling sedikit berjumlah 2 (dua) orang
dan sebanyak-banyak berjumlah 5 (lima) orang yang memenuhi
persyaratan :
 warga negara Republik Indonesia;
 Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
 Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta
mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika;
 Terdaftar sebagai penduduk dan bertempat tinggal di Desa setempat
paling kurang 1 (satu) tahun sebelum pendaftaran;
 Berpendidikan paling rendah tamat sekolah menengah pertama atau
sederajat;
 Berusia paling rendah 25 (dua puluh lima) tahun pada saat mendaftar;
Lanjutan …..
 Bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa;
 berkelakuan baik;
 Tidak sedang menjalani hukuman pidana penjara;
 Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam
dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih, kecuali 5 (lima) tahun
setelah selesai menjalani pidana penjara dan mengumumkan secara jujur dan terbuka
kepada publik bahwa yang bersangkutan pernah dipidana serta bukan sebagai pelaku
kejahatan berulang-ulang;
 Tidak sedang dicabut hak pilihnya sesuai dengan putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap;
 berbadansehat;
 Tidak pernah menduduki jabatan sebagai Kepala Desa definitif selama 3 (tiga) kali
masa jabatan;
 bebas penyalahgunaan Narkoba; dan
 lulus uji kompetensi calon Kepala Desa yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan
Kabupaten.
Pasal 26
 Persyaratan administrasi bakal calon kepala desa :
 ijazah SMP/ MTsyang sederajat dilegalisasi oleh Kepala Sekolah serta
melampiri ijazah sebelumnya;
 ijazah SMP/MTs yang sederajat dilegalisasi oleh Kepala Dinas
Pendidikan tingkat Kabupaten/ Kota, serta melampiri ijazah
sebelumnya;
 domisili bakal calon kepala desa paling kurang 1 (satu) tahun yang
dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk Elektronik atau Surat
Keterangan telah melakukan perekaman data kependudukan yang
ditanda tangani oleh Pejabat yang berwenang;
 berkelakuan baik yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Catatan
Kepolisian yang dikeluarkan oleh Kepolisian Resort;
 keterangan pemeriksaan kesehatan dari RSUD yang ditunjuk oleh
pemerintah daerah; dan
 keterangan bebas penyalahgunaan narkoba dari Badan Narkotika atau
lembaga lain yang berwenang.
Pasal 27
 Dalam hal bakal calon yang memenuhi
persyaratansebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1)
kurang dari 2 (dua) orang, panitia pemilihan
memperpanjang waktu pendaftaran selama 3 (tiga) hari.
 Dalam hal bakal calon yang memenuhi persyaratan tetap
kurang dari 2 (dua) orang setelah perpanjangan, waktu
pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bupati
menunda pelaksanaan pemilihan Kepala Desa sampai
dengan waktu yang ditetapkan kemudian.
 Apabila dalam tenggang waktu sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) masa jabatan Kepala Desa berakhir, Bupati
mengangkat penjabat Kepala Desa dari Pegawai Negeri
SipilDaerah.
Penelitian Berkas, Penetapan dan Pengumuman
Calon (Pasal 28)
 Panitia Pemilihan Tingkat Desa meneliti berkas administrasi
Bakal Calon Kepala Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal
25 setelah pendaftaran ditutup.
 Apabila setelah diteliti oleh Panitia Pemilihan Tingkat Desa
ternyata terdapat kekurangan tentang syarat administrasi yang
telah ditetapkan, bakal calon Kepala Desa yang bersangkutan
diberi kesempatan untuk melengkapi dan memberikan
penjelasan.
 Waktu untuk melengkapi syarat administrasi dan memberikan
penjelasan adalah selama 2 (dua) hari kerja terhitung sejak
pemberitahuan adanya kekurangan persyaratan.
 Apabila setelah diteliti oleh Panitia Pemilihan Tingkat Desa
terdapat keragu-raguan hal tersebut dikonsultasikan kepada
Panitia Pemilihan Tingkat Kabupaten.
Lanjutan ……

 Persyaratan bakal calon Kepala Desa yang telah diteliti oleh


Panitia Pemilihan Tingkat Desa dan dinyatakan tidak memenuhi
syarat, maka berkas persyaratan calon kepala desa tersebut
dikembalikan secara tertulis oleh panitia pemilihan dengan
disertai tanda bukti penerimaan dari bakal calon yang
bersangkutan.
 Bakal calon Kepala Desa yang dinyatakan memenuhi syarat
administrasi oleh Panitia Pemilihan Tingkat Desa diajukan
kepada Panitia Pemilihan Tingkat Kabupaten untuk
diikutsertakan dalam test kesehatan, bebas narkoba dan uji
kompetensi.
 Hasil test kesehatan, bebas narkoba dan uji kompetensi yang
dilakukan oleh Panitia Pemilihan Tingkat Kabupaten dijadikan
dasar penetapan calon kepala desa oleh Panitia Pemilihan
Tingkat Desa.
Pasal 29
 Panitia Pemilihan Tingkat Desa menetapkan dan
mengumumkan calon kepala desa.

Pasal 30
 Test kesehatan dan bebas narkoba dilaksanakan oleh
Panitia Pemilihan Tingkat Kabupaten dengan menunjuk
RSUD sebagai penyelenggara.
 Uji kompetensi dilaksanakan oleh Panitia Pemilihan
Tingkat Kabupaten dengan menunjuk Perguruan Tinggi
atau lembaga lain yang kompeten sebagai penyelenggara.
Calon Kepala Desa yang berasal dari
Kepala Desa (Pasal 31)

 Kepala Desa yang akan mencalonkan kembali mengajukan izin


cuti kepada Bupati atau Pejabat yang ditunjuk;
 Izin cuti yang dikeluarkan oleh Bupati atau Pejabat yang
ditunjuk terhitung sejak ditetapkan sebagai calon sampai
dengan selesainya pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa;
 Selama masa cuti, kepala desa dilarang menggunakan fasilitas
pemerintah desa untuk kepentingan sebagai calon kepala desa;
 Dalam hal kepala desa cuti, tetap diberikan penghasilan tetap;
dan
 Dalam hal kepala desa cuti, Sekretaris Desa melaksanakan
tugas dan kewajiban Kepala Desa.
Calon Kepala Desa yang berasal dari
Perangkat Desa (Pasal 32)
 perangkat Desa yang akan mencalonkan diri dalam Pemilihan
Kepala Desa mengajukan izin cuti kepada Kepala Desa;
 izin cuti yang dikeluarkan oleh Kepala Desa terhitung sejak
yang bersangkutan terdaftar sebagai Bakal Calon Kepala Desa
sampai dengan selesainya pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa;
 selama masa cuti, perangkat desa dilarang menggunakan fasilitas
pemerintah desa untuk kepentingan sebagai calon kepala desa;
 dalam hal perangkat desa cuti tetap diberikan penghasilan
tetap; dan
 tugas perangkat desa dirangkap oleh perangkat desa lainnya
yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa.
Calon Kepala Desa yang berasal dari
Anggota BPD (Pasal 33)

 Anggota BPD yang akan mencalonkan diri dalam


Pemilihan Kepala Desa mengajukan pengunduran diri
kepada Bupati; dan
 Keputusan Bupati tentang Pemberhentian Anggota BPD
dijadikan salah satu syarat pendaftaran bakal calon kepala
desa.
Calon Kepala Desa yang berasal dari Pegawai
Negeri Sipil termasuk TNI/Polri (Pasal 34)
 Pegawai Negeri Sipil yang akan mencalonkan diri dalam Pemilihan Kepala
Desa harus mendapatkan izin tertulis dari pejabat pembina kepegawaian;
 Dalam hal Pegawai Negeri Sipil, terpilih dan diangkat menjadi Kepala Desa,
yang bersangkutan dibebaskan sementara dari jabatannya selama menjadi
Kepala Desa tanpa kehilangan hak sebagai Pegawai Negeri Sipil;
 Pegawai Negeri Sipil yang terpilih dan diangkat menjadi Kepala Desa
sebagaimana dimaksud pada huruf b berhak mendapatkan tunjangan kepala
desa dan penghasilan lainnya yang sah;
 Anggota TNI/ Polri yang akan mencalonkan diri dalam Pemilihan Kepala
Desa harus mendapatkan izin tertulis dari institusinya sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan
 Anggota TNI/ Polri yang terpilih dan diangkat menjadi Kepala Desa, berhak
mendapatkan tunjangan kepala desa dan penghasilan lainnya yang sah.
Penentuan Nomor Urut dan Tanda Gambar Calon
Kepala Desa (Pasal 35)

 Penentuan nomor urut dan tanda gambar calon kepala desa,


dilaksanakan dalam suatu Rapat Pleno Panitia Pemilihan Tingkat
Desa yang disaksikan oleh para Calon Kepala Desa, Camat atau
pejabat yang ditunjuk, Unsur Forum Koordinasi Pimpinan
tingkat Kecamatan, BPD dan masyarakat.
 Penentuan nomor urut sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dengan cara pengundian oleh Panitia Pemilihan.
 Tanda Gambar Calon Kepala Desa, berupa kotak segi empat
yang memuat nomor, foto dan nama calon.
 Keputusan tentang nomor urut dan tanda gambar dituangkan
dalam Berita Acara Hasil Pengundian Nomor Urut dan Tanda
Gambar Calon Kepala Desa.
Pembekalan Pelaksanaan Pemilihan Kepala
Desa (Pasal 36)

 Panitia Pemilihan Tingkat Kabupaten beserta Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Tingkat
Kecamatan melakukan pembekalan kepada Panitia Pemilihan Tingkat Desa, para calon kepala
desa beserta saksi dari masing-masing calon kepala desa.
 Panitia Pemilihan Tingkat Kabupaten beserta Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Tingkat
Kecamatan memandu para calon kepala desa untuk membuat pernyataan kesepakatan
bersama mengenai pelaksanaan pemilihan kepala desa dan dituangkan didalam Berita Acara
Hasil Kesepakatan Para Calon Kepala Desa.
 Berita Acara Hasil Kesepakatan Para Calon Kepala Desa, ditanda tangani oleh seluruh calon
kepala desa dan Panitia Pemilihan Tingkat Desa bermaterai cukup, serta disaksikan dan ditanda
tangani oleh Forum Koordinasi Pimpinan Tingkat Kecamatan.
 Tindasan/Copy Berita Acara Hasil Kesepakatan Para Calon Kepala Desa disampaikan kepada:
 para Calon Kepala Desa;
 panitia Pemilihan Tingkat Desa;
 BPD;
 forum Koordinasi Pimpinan Tingkat Kecamatan; dan
 panitia Pemilihan Tingkat Kabupaten.
Kampanye Calon Kepala Desa (Pasal 37)

 Bentuk,waktu dan tempat/ lokasi kampanye ditentukan dan ditetapkan oleh Panitia Pemilihan Tingkat Desa.
 Bentuk kampanye dilakukan dengan cara:
 pertemuan terbatas;
 tatap muka dan dialog;
 penyebaran bahan kampanye kepada umum;
 pemasangan alat peraga di tempat kampanye dan ditempat lain yang ditentukan oleh panitia;dan
 Kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan
 Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dititikberatkan pada penyampaian visi, misidan program
kerja yang akan dilaksanakan.
 Waktu pelaksanaan kampanye:
 pelaksanaan Kampanye dimulai 7 (tujuh) hari setelah penentuan nomor urut dan tanda gambar calon
kepala desa atau setelah selesai pelaksanaan pembekalan sampai dengan masa tenang;
 waktu kampanye dimulai Pukul 09.00 WIB sampai dengan Pukul 21.00 WIB;
 jadwal pelaksanaan kampanye disesuaikan dengan jumlah calon kepala desa dan pelaksananya oleh
masing-masing calon kepala desa atau tim kampanye dari pendukung utama calon kepala desa;
 jadwal pelaksanaan kampanye bersama difasilitasi oleh Panitia Pemilihan Tingkat Desa; dan
 tim kampanye dari pendukung utama calon kepala desa sebagaimana dimaksud pada huruf c wajib
melaporkansusunan tim kampanye dimaksud kepada Panitia Pemilihan Tingkat Desa.
Lanjutan ……
 Jadwal waktu dan tempat kampanye yang tidak digunakan oleh salah satu calon kepaladesa, tidak dapat
dipergunakan oleh calon kepala desa lainnya.
 Dalam pelaksanaan kampanye, calon kepala desa dilarang :
 mempersoalkan Dasar Negara Pancasila dan dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
 menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan dan Calon Kepala Desa lainnya;
 menghasut atau mengadu domba calon Kepala Desa, perseorangan, dan/atau kelompokmasyarakat;
 menggunakan kekerasan, ancaman kekerasan atau menganjurkan menggunakankekerasan;
 mengganggu keamanan, ketentraman dan ketertiban umum;
 merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye calon Kepala Desa lainnya;
 menggunakan fasilitas dan/atau anggaran pemerintah, Pemerintah Daerah danPemerintah Desa;
 menggunakan tempat ibadah dan/atau tempat pendidikan;
 melakukan pawai atau arak-arakan dengan berjalan kaki dan/atau menggunakan kendaraan; dan
 mengikutsertakan kepala desa, perangkat desa dan anggota BPD;
 Sanksi pelanggaran terhadap pelaksanaan kampanye berupa:
 teguran tertulis;
 pencabutan pamflet, spanduk dan tanda gambar; dan
 penghentian kegiatan kampanye.
 Kampanye berakhir 3 (tiga) hari sebelum hari pelaksanaan pemungutan suara.
Masa Tenang (Pasal 38)

 Masa tenang dilaksanakan selama 3 (tiga) hari sebelum


hari pemungutan suara.
 Pada saat masa tenang seluruh atribut kampanye calon
kepala desa yang terpasang harus sudah diturunkan oleh
tim kampanye masing-masing calon kepala desa, kecuali
yang berada di tempat pemungutan suara
Tahapan Pelaksanaan Pemungutan Suara dan
Penghitungan Suara
Pasal 39
 Paling lambat 3 (tiga) hari sebelum pelaksanaan pemungutan suara, Panitia Pemilihan Tingkat
Desamenyampaikan surat pemberitahuan dan/atau undangan kepada penduduk desa yang berhak memilih,
dengan tanda bukti penerimaan.
 Dalam surat pemberitahuan dan/atau undangan dicantumkan nama pemilih sesuai dengan DPT dan tempat
pemungutan suara diselenggarakan;
 Nama-nama yang tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap tetapi belum menerima suratpemberitahuan
dan/atau undangan dapat meminta kepada Panitia Pemilihan selambat-lambatnya pukul 24.00WIB, sehari
sebelum hari pemungutan suara dilaksanakan.

Pasal 40
 Saksi yang ditugaskan pada pelaksanaan pemungutan suara dan penghitungan suara harus dilengkapi dengan
surat mandatdari masing-masing calon kepala desa.

Pasal 41
 Pemungutan suara dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia jujur dan adil.
 Hak pilih memberikan hak suaranya didalam bilik suara dengancara mencoblos tanda gambar kotak segi
empat yang memuat nomor, foto dan nama calon kepala desa dengan menggunakan alat coblos yang
disediakan.
 Hak pilih hanyadiberi kesempatan 1 (satu) kaliuntuk memilih calon kepala desa.
 Hak pilih yang berhalangan hadir karena sesuatu alasan tidak dapat diwakilkan.
Pelaksanaan Pemungutan Suara (Pasal 42)

 Pelaksanaan pemungutan suara dilaksanakan dalam 1 (satu)


lokasi TPS atau lebih yang ditetapkan oleh Panitia Pemilihan
Tingkat Desa, dengan mempertimbangkan jumlah hak pilih.
 Bagi desa yang TPS nya 1 (satu) lokasi, penghitungan suara
dilaksanakan pada TPS tersebut.
 Bagi desa yang TPS nya lebih dari 1 (satu) lokasi, untuk
penghitungan suaranya dilaksanakan pada 1 (satu) lokasi TPS
yang telah ditetapkan oleh Panitia Pemilihan Tingkat Desa.
 Dalam hal penghitungan suara yang dilaksanakan pada 1 (satu)
lokasi TPS sebagaimana dimaksud pada ayat (3), kotak suara
yang berisi surat suara hasil pemungutan suara diberi
pengaman berupa segel dan selanjutnya dibawa menuju lokasi
penghitungan suara.
Pasal 43
 Susunan acara dalam pemungutan suara dan penghitungan suara:
 pembukaan oleh Ketua Panitia Pemilihan Tingkat Desa/ panitia lainnya yang
ditunjuk;
 memperkenalkan para calon kepala desa dan penjelasantentang tatacara
pelaksanaan pemungutan suara oleh ketua Panitia Pemilihan Tingkat Desa/ panitia
lainnya yang ditunjuk yang meliputi tatacara pencoblosan, surat suara yang sah
dan tidak sah, nama dan tandagambar para calon, pemeriksaan bilik suara dan
kotak suara serta hal-hal lain yang diperlukan;
 pelaksanaan pemungutan suara;
 pembacaan pernyataan calon kepala desa setelah selesai pelaksanaan pemungutan
suara;
 pelaksanaan penghitungan suara;
 pengesahan hasil penghitungan suara (termasuk penandatanganan Berita Acara
Hasil Pemilihan Kepala Desa oleh ketua Panitia Pemilihan Tingkat Desa dan calon
kepala desa/saksi);
 tutup.

 Dalam hal TPS yang tidak dijadikan tempat penghitungan suara, susunan acara
hanya sampai dengan pelaksanaan pemungutan suara.
Pasal 44
 Perlengkapan untuk keperluan pemungutan suara dan penghitungan suara,
terdiri dari:
 daftar Hak Pilih sebanyak 3 (tiga) rangkap;
 surat suara sebanyak jumlah DPT ditambah paling banyak 5 % (lima
perseratus) dari jumlah DPT atau sesuai dengan hasil kesepakatan para
calon;
 Kotak suara sebagai tempat penyimpanan surat suara yang sudah
dicoblos oleh pemilih;
 bilik suara sebagai tempat untuk pencoblosan surat suara;
 alat pencoblos berupa paku dan bantalan;
 karton dan alat tulis untuk rekapitulasi penghitungan suara;
 tinta untuk memberi tanda bagi pemilih yang sudah menggunakan hak
pilihnya;
Lanjutan ……
 pengaman kotak suara berupa gembok + anak kunci dan segel; dan
 meja dan kursi.
 Kotak suara , dengan ketentuan sebagaiberikut:
 berukuran ± tinggi 80 cm, panjang ± 50 cm dan lebar ± 50 cm;
 bahan dari kayu atau bahan lain yang tidak mudah rusak; dan
 jumlah kotak suara disesuaikan dengan kebutuhan.

 Bilik suara, dengan ketentuan sebagai berikut:


 Berukuran ± 1 x 2 m;
 Terbuat dari bahan yang dapat melindungi kerahasiaan pemilih;
 Jarak dan jumlah bilik suara disesuaikan dengan kebutuhan.

 Tambahan surat suara, digunakan sebagai cadangan untuk pengganti surat suara yang
keliru memilih dan surat suara yang rusakdengan disertai Berita Acara.
 Surat suara harus sudah disiapkan 1 (satu) hari sebelum pemungutan suara dan
disimpan di kantor desa/tempat lain serta dijamin keamanannya.
Pasal 45
 Pada saat pemunggutan suara, pemilih difabel dapat
dibantu oleh keluarga, atau orang lain atas permintaan
yang bersangkutan.
 Keluarga atau orang lain yang ditunjuk untuk membantu
pemilih difabel sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
merahasiakan pilihan yang bersangkutan.
Pasal 46
 Waktu pemungutan suara dimulai pada pukul 07.00 WIB dan berakhir pada pukul 14.00 WIB.
 Pada saat pemungutan suara dilaksanakan, panitia pemilihan berkewajiban untuk menjaminagar
pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa dapat berjalan lancar, tertib, aman dan teratur.
 Pada saat berlangsunganya pemungutan suara, setiap 2 (dua) jam sekali atau berdasarkan
kesepakatan para calon kepala desadapat dilakukan pemeriksaan bilik suara oleh para calon
kepala desa/ saksi, ketua panitia pemilihan, ketua BPD, dan Unsur Forum Koordinasi Pimpinan
Tingkat Kecamatan.
 Apabila terdapat pemilih yang meminta penggantian surat suara karena salah pilih atau rusak,
panitia dapat memberikan surat suara pengganti hanya 1 (satu) kali.
 Surat suara karena salah pilih atau rusak sebagaimana dimaksud pada ayat 4 disimpan oleh
panitia untuk diamankan.
 Apabila terjadi keadaan force majeur pada waktu pemungutan suara sebagaimana dimaksud
pada ayat 1 (satu), Panitia Pemilihan dapat mengakhiri, menutup sementara atau menambah
waktu pemungutan suara berdasarkan kesepakatan para calon kepala desa dan dibuatkan
Berita Acara Kesepakatan.
 Keadaan force majeur sebagaimana dimaksud pada ayat (6) berupa bencana alam dan/atau
keadaan lain yang tidak memungkinkan untuk dilaksanakannya pemungutan suara sesuai jadwal.
 Pada saat berlangsungnya pemungutan suara, terjadi permasalahan yang menyangkut hak pilih
dan/atau permasalahan lain, diselesaikan pada saat itu juga berdasarkan kesepakatan para calon
kepala desa/ saksi, Panitia Pemilihan Tingkat Desa, BPD, dan Unsur Forum Koordinasi Pimpinan
Tingkat Kecamatan.
Pasal 47
 Panitia Pemilihan Tingkat Desa mengumumkan bahwa pelaksanaan
pemungutan suara telah ditutup dan akan dilanjutkan acara penghitungan
suara dengan terlebih dahulu masing-masing calon membacakan pernyataan.
 Penghitungan suara dilakukan oleh Panitia Pemilihan Tingkat Desa dengan
disaksikanoleh para calon kepala desa dan /atau saksi yang ditunjuk, unsur
BPD dan dapat dihadiri oleh Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Tingkat
Kecamatan.
 Pada saat penghitungan suara, masyarakat dapat menyaksikan ditempat yang
telah ditentukan.

Pasal 48
 Sebelum pelaksanaan penghitungan suarapanitiapemilihan mengatur:
 susunan tempat penghitungan suara, papan penghitungan dan tempat duduk
saksi;
 alat keperluan administrasi lainnya;
 penempatan kotak suara di tempat yang telah ditentukan.
Pasal 49
 Pelaksanaan penghitungan suara dimulai paling lama 30 (tiga puluh) menit setelahpelaksanaan
pemungutan suara ditutup.
 Sebelum penghitungan suara dimulai, petugas menghitung:
 jumlah pemilih yang memberikan suara berdasarkan DPT;
 bagi desa yang jumlah TPSnya lebih dari 1 (satu), petugas melakukan rekapitulasi jumlah pemilih
yang memberikan suara berdasarkan salinan DPT setiap TPS;
 jumlah surat suara yang dikembalikan oleh pemilih karena rusak atau salah coblos; dan
 jumlah surat suara yang tidak terpakai.
 Apabila karena sesuatu hal pelaksanaan penghitungan suara tidak dapat dilakukan di tempat
yang telah ditentukan, panitia pemilihan dapat memindahkan lokasi penghitungan suara ke
tempat lain yang memungkinkan untuk diadakannya penghitungan suara.
 Mekanisme penghitungan suara, dilakukan dengan urutan sebagai berikut:
 membuka kotak suara dengan disaksikan oleh saksi;
 mengeluarkan satu persatu surat suara dari kotak suara dan dibacakan;
 pada saat surat suaradibacakansebagaimana dimaksud pada huruf b harus diperlihatkan kepada
saksi masing-masing calon.
 saksi masing-masing calon menyatakan sah dan tidaknya setiap surat suara yang diperlihatkan;
 pada saat surat suara dibacakan sebagaimana dimaksud pada huruf c panitia pemilihan
mencatat pada kertas rekapitulasi perolehan suara masing-masing calon kepala desa; dan
 setiap lembar surat suara yang sudah dihitung, dihimpun dan diikat setiap 10 (sepuluh) lembar
surat suara.
Pasal 50
 Surat suara dinyatakan sah apabila :
 surat suara ditandatangani dan dicap oleh ketua panitia;
 dicoblos dalam kotak segi empat yang memuat nomor, foto, dan nama calon;
 dicoblos lebih dari satu kali coblosan pada kotak segi empat yang sama;
 terdapat dua tanda coblosan pada kotak segi empat pada garis yang lurus;
 terdapat tanda coblosan besar tapi masih pada kotak segi empat;
 dicoblos tepat pada garis kotak segi empat; dan/atau
 dicoblos oleh alat yang disediakan oleh panitia.
 Surat suara dinyatakan tidak sah apabila :
 surat suara tidak ditandatangani dan tidak dicap oleh ketua panitia;
 terdapat tanda coblosan lebih dari 1 (satu)pada garis yang tidak lurus;
 surat suara rusak atau dicorat - coret;
 dicoblos tapi tidak tembus (bentol);
 dicoblos diluar kotak segi empat; dan
 dicoblos bukan dengan alat yang disediakan oleh panitia.
 Apabila terdapat surat suara diluar kondisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) maka
penetapan sah dan tidak sahnya surat suara dimaksud ditentukan oleh panitia pemilihan
berdasarkan kesepakatan para calon kepala desa dan/atau para saksi yang ditunjuk pada saat
itu juga sebelum proses penghitungan suara dilanjutkan.
Pasal 51
 Pada saat pemungutan suaradilaksanakan, para calon kepala desa berada di TPS sesuai dengan
waktu dan tempat yang sudah ditentukan.
 Dalam hal lokasi TPS lebih dari 1 (satu) para calon kepala desa berada pada 1 (satu) lokasi TPS
yang ditetapkan sebagai tempat penghitungan suara oleh Panitia Pemilihan Tingkat Desa,
sedangkan pada TPS yang lainnya hanya dipasang foto masing-masing calon kepala desa sesuai
dengan nomor urut.

Pasal 52
 Pada saat penghitungan suara dilaksanakan, para calon kepala desa berada di tempat
penghitungan suara atau dapat mewakilkan kepada saksi yang ditunjuk sesuai dengan waktu
dan tempat yang sudah ditentukan

Pasal 53
 Setelah selesai penghitungan suara, panitia pemilihan segera membuat Berita Acara
Penghitungan Suara.
 Berita Acara Penghitungan Suara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditandatangani oleh
Ketua PanitiaPemilihan dan dapat ditandatangani oleh para saksi calon kepala desa.
 Panitia Pemilihan Tingkat Desa membacakan Berita Acara Hasil Penghitungan Suara.
Pasal 54

 Panitia Pemilihan Tingkat Desa melaporkan hasil pelaksanaan


pemilihan kepala desa kepada BPD dengan melampirkan :
 surat Keputusan BPD tentang Pembentukan Panitia Pemilihan
Kepala Desa;
 daftar Hadir Panitia Pemilihan Tingkat Desa;
 surat Mandat Saksi;
 surat Pernyataan yang dibacakan para calon kepala desa setelah
selesai pemungutan suara;
 pernyataan Kesepakatan Para Calon Kepala Desa.
 berita Acara Penghitungan Suara
Pasal 55
 Calon kepala desa yang dinyatakan terpilih adalah calon kepala
desa yang memperoleh suara terbanyak.

Pasal 56
 Dalam hal terdapat lebih dari 1 (satu) calon kepala desa yang
memperoleh suara terbanyak dengan jumlah perolehan suara
yang sama, maka diadakanpemungutan suara ulang yang hanya
diikuti oleh calon kepala desa yang memperolah suara
terbanyak tersebut.
 Pemungutan suara ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dilaksanakan selambat-lambatnya1 (satu) bulan setelah
pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa
Pasal 57
 Keberatan terhadap proses pelaksanaan pemilihan kepala
desa harus diselesaikan pada setiap tahapan sebelum
tahapan selanjutnya dilaksanakan
Penetapan (pasal 58)
 BPD berdasarkan laporan Hasil Pelaksanaan Pemilihan
Kepala Desa dari Panitia Pemilihan Tingkat Desa
mengusulkan Calon Kepala Desa Terpilih kepada
Bupati melalui Camat dengan tembusan kepada
Kepala Desa.
 Bupati menetapkan Pengesahan dan Pengangkatan
Kepala Desa dengan Keputusan Bupati.
Pelantikan (Pasal 59)
 Sebelum Calon Kepala Desa Terpilih dilantik diwajibkan
mengikuti Program Pembinaan Peningkatan Kapasitas Aparatur
Pemerintah Desa yang diselenggarakan oleh Pemerintah
Daerah.
 Program Pembinaan Peningkatan Kapasitas Aparatur
Pemerintah Desa, meliputi :
 pengetahuan dasar tentang penyelanggaran
pemerintahan desa;
 pembangunan desa;
 wawasan kebangsaan;
 kamtibmas;
 etika dan disiplin; dan
 materi lain sesuai kebutuhan.
Pasal 60
 Calon Kepala Desa terpilih dilantik oleh Bupati atau Pejabat
yang ditunjuk paling lama 30 (tigapuluh) hari setelah penerbitan
Keputusan Bupati.
 Sebelum memangku jabatannya, Kepala Desa terpilih
bersumpah/berjanji, sebagai berikut: “Demi Allah/Tuhan, saya
bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya
selaku Kepala Desa dengan sebaik-baiknya, sejujur jujurnya, dan
seadil-adilnya; bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan
dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara; dan
bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
serta melaksanakan segala peraturan perundang-undangan
dengan selurus-lurusnya yang berlaku bagi Desa, daerah, dan
Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Pasal 61
 Kepala Desa memegang jabatan selama 6 (enam) tahun
terhitung sejak tanggal pelantikan.
 Kepala Desa dapat menjabat paling banyak 3 (tiga) kali
masa jabatan secara berturut-turut atau tidak secara
berturut-turut.
PEMBERHENTIAN KEPALA DESA (Pasal 62)
 Kepala Desa berhenti karena:
 meninggal dunia;
 Permintaan sendiri;atau
 diberhentikan.
 Kepala Desa diberhentikan karena:
 berakhir masa jabatannya;
 Tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap
secara berturut-turut selama 6 (enam) bulan;
 Tidak lagi memenuhi syarat sebagai Kepala Desa; atau
 Melanggar larangan sebagai Kepala Desa.
 adanya perubahan status Desa menjadi kelurahan, penggabungan 2 (dua) Desa
atau lebih menjadi 1 (satu) Desa baru, atau penghapusan Desa;
 tidak melaksanakan kewajiban sebagai kepala Desa; atau
 dinyatakan sebagai terpidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap.
 Pemberhentian Kepala Desa ditetapkan dengan Keputusan Bupati.
Pasal 63
 Kepala Desa diberhentikan sementara oleh Bupati setelah dinyatakan
sebagai terdakwa yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5
(lima) tahun berdasarkan register perkara dipengadilan.

Pasal 64
 Kepala Desa diberhentikan sementara oleh Bupati setelah ditetapkan
sebagai tersangka dalam tindak pidana korupsi, terorisme, makar, dan/atau
tindak pidana terhadap keamanan negara.

Pasal 65
 Kepala Desa yang diberhentikan sementara Pasal 63 dan Pasal 64
diberhentikan oleh Bupati setelah dinyatakan sebagai terpidana berdasarkan
putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Pasal 66
 Kepala Desa yang diberhentikan sementara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 63 dan Pasal 64 setelah melalui proses
peradilan ternyata terbukti tidak bersalah berdasarkan putusan
pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, paling
lama 30 (tigapuluh) hari sejak penetapan putusan pengadilan
diterima oleh Kepala Desa, Bupati mengaktifkan kembali Kepala
Desa yang bersangkutan sebagai Kepala Desa sampai dengan
akhir masa jabatannya.
 Apabila Kepala Desa yang diberhentikan sementara
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah berakhir masa
jabatannya, Bupati harus merehabilitasi nama baik Kepala Desa
yang bersangkutan.
Pasal 67
 Dalam hal Kepala Desa diberhentikan sementara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 63 dan Pasal 64, Sekretaris Desa
melaksanakan tugas dan kewajiban Kepala Desa sampai dengan
adanya putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap.

Pasal 68
 Dalam hal sisa masa jabatan Kepala Desa yang diberhentikan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 tidak lebih dari 1 (satu)
tahun, Bupati mengangkat Pegawai Negeri Sipil dari Pemerintah
Daerah sebagai penjabat Kepala Desa sampai dengan
terpilihnya Kepala Desa.
 Penjabat Kepala Desa melaksanakan tugas, wewenang,
kewajiban, dan hak Kepala Desa
Pasal 69
 Dalam hal sisa masa jabatan Kepala Desa yang diberhentikan sebagaimana di
maksud dalam Pasal 64 lebih dari 1 (satu) tahun, Bupati mengangkat
Pegawai Negeri Sipil Daerah sebagai penjabat Kepala Desa.
 Penjabat Kepala Desa sebagai mana dimaksud pada ayat (1) melaksanakan
tugas, wewenang, kewajiban, dan hak Kepala Desa sampai dengan
ditetapkannya Kepala Desa.
 Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dipilih melalui
Musyawarah Desa yang memenuhi persyaratan
 Musyawarah Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan paling
lama 6 (enam) bulan sejak Kepala Desa diberhentikan.
 Kepala Desa yang dipilih melalui Musyawarah Desa sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) melaksanakan tugas Kepala Desa sampai habis sisa masa
jabatan Kepala Desa yang diberhentikan.
PEMILIHAN KEPALA DESA ANTAR WAKTU
MELALUI MUSYAWARAH DESA

Pasal 70
 Dalam hal Kepala Desa berhenti dan sisa masa jabatan Kepala Desa lebih 1 (satu)
tahun, dilakukan pemilihan Kepala Desa Antar Waktu melalui musyawarah desa.
 Untuk mengisi kekosongan jabatan Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
Bupati mengangkat Pegawai Negeri Sipil Daerah sebagai Penjabat Kepala Desa.
 Penjabat Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) melaksanakan tugas,
wewenang, kewajiban, dan hak Kepala Desa sampai dengan ditetapkan Kepala Desa.
 Persyaratan calon Kepala Desa Antar Waktu sesuai dengan persyaratan calon Kepala
Desa.
 Musyawarah desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan paling lama 6
(enam) bulan sejak Kepala Desa diberhentikan.
 Kepala Desa yang dipilih melalui musyawarah desa sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) melaksanakan tugas Kepala Desa sampai habis sisa masa jabatan Kepala Desa
yang diberhentikan.
Pasal 71
 Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70
dilaksanakan melalui mekanisme, sebagai berikut :
 Sebelum penyelenggaraan Musyawarah Desa, dilakukan kegiatan yang
meliputi:
 Pembentukan Panitia Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu oleh BPD paling lama
dalam jangka waktu 15 (limabelas) hari terhitung sejak kepala desa diberhentikan
berdasarkan Keputusan Bupati;
 Pengajuan biaya pemilihan kepala desa antar waktu dengan beban APBDesa oleh
Panitia Pemilihan kepada Penjabat Kepala Desa paling lambat dalam jangka waktu
30 (tigapuluh) hari terhitung sejak panitia terbentuk;
 Pemberian persetujuan biaya pemilihan oleh Penjabat Kepala Desa paling lama
dalam jangka waktu 30 (tigapuluh) hari terhitung sejak diajukan oleh Panitia
Pemilihan;
 Pengumuman dan Pendaftaran Bakal Calon Kepala Desa oleh Panitia Pemilihan
dalam jangka waktu 15 (limabelas) hari;
 Penelitian kelengkapan persyaratan administrasi Bakal Calon Kepala Desa oleh
Panitia Pemilihan dalam jangka waktu7 (tujuh) hari; dan
 Penetapan Calon Kepala Desa Antar Waktu oleh Panitia Pemilihan paling sedikit 2
(dua) orang dan paling banyak 3 (tiga) orang yang dimintakan pengesahan
musyawarah desa untuk ditetapkan sebagai Calon Kepala Desa yang berhak
dipilih dalam Musyawarah Desa.
Lanjutan ……..
 BPD menyelenggarakan musyawarah desa yang meliputi kegiatan:
 Penyelenggaraan Musyawarah Desa dipimpin oleh Ketua BPD yang teknis
pelaksanaan pemilihannya dilakukan oleh panitia pemilihan;
 Pengesahan Calon Kepala Desa yang berhak dipilih oleh Musyawarah Desa
melalui musyawarah mufakat atau melalui pemungutan suara;
 Pelaksanaan Pemilihan Calon Kepala Desa oleh Panitia Pemilihan melalui
mekanisme musyawarah mufakat atau melalui pemungutan suara yang telah
disepakati dalam Musyawarah Desa;
 Pelaporan Hasil Pemilihan Calon Kepala Desa melalui Musyawarah Desa oleh
Panitia Pemilihan kepada BPD;
 Pengesahan calon terpilih melalui musyawarah desa;
 Pelaporan hasil pemilihan kepala desa melalui musyawarah desa kepada BPD
dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah musyawarah desa mengesahkan calon
kepala desa terpilih;
 Pelaporan Calon Kepala Desa Terpilih hasil Musyawarah Desa oleh ketua BPD
kepada Bupati paling lambat 7 (tujuh) hari setelah menerima laporan dari Panitia
Pemilihan;
 Penerbitan Keputusan Bupati tentang Pengesahan Pengangkatan Calon Kepala
Desa Terpilih paling lambat 30 (tigapuluh) hari sejak diterimanya laporan dari
BPD;dan
 Pelantikan Kepala Desa oleh Bupati atau Pejabat yang ditunjuk paling lama 30
(tigapuluh) hari sejak diterbitkan Keputusan Bupati tentang Pengesahan
Pengangkatan Calon Kepala Desa Terpilih dengan urutan acara pelantikan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 72
 Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 70 dan Pasal 71 dilaksanakan
setelah Peraturan Bupati yang mengatur tentang pemilihan
Kepala Desa Antar Waktu ditetapkan.
 Sambil menunggu ditetapkannya Peraturan Bupati
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bupati mengangkat
Penjabat Kepala Desa dari Pegawai Negeri Sipil Daerah.
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN (Pasal 73)
 Pembinaan dan pengawasan yang berkaitan dengan
pelaksanaan pemilihan Kepala Desa dilakukan oleh Bupati.
JANGAN PANDANG SEBELAH MATA
TETAPI JANGAN DITIRU….

Selesai ……..
 Penghuni surga itu terdiri dari tiga kelompok, yaitu :
Penguasa yang adil dan disenangi, orang yang
mempunyai sifat kasih sayang dan lunak hati kepada
sanak keluarga dan setiap muslim, serta orang miskin
yang menjaga kehormatan dirinya sedangkan ia
mempunyai keluarga (HR. Muslim)

Anda mungkin juga menyukai