Anda di halaman 1dari 17

Akses Vaskular

Gilang Widratama Putra


1807101030011
Cairan dan Elektrolit
• Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi
tubuh tetap sehat.
• Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan
salah satu bagian dari fisiologi homeostatis.
• Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan
perpindahan berbagai cairan tubuh.
• Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut) dan zat
tertentu (zat terlarut).
• Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut) dan zat
tertentu (zat terlarut).
• Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel
bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan.
• Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan,
minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian
tubuh.
• Cairan intraseluler adalah cairan yang berda di dalam sel di seluruh
tubuh.
• Cairan Ekstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri
dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan
interstitial dan cairan transeluler.
• Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam sistem vaskuler,
cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel.
• Cairan transeluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan
serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna.
Komposisi elektrolit dalam tubuh
Kondisi Gawat Darurat ( Pediatri Gawat Darurat)
• Triase adalah proses skrining secara cepat terhadap semua anak sakit
segera setelah tiba di rumah sakit untuk mengidentifikasi ke dalam
salah satu kategori berikut:
• EMERGENCY SIGNS: memerlukan penanganan kegawatdaruratan
segera.
• PRIORITY SIGNS: harus diberikan prioritas dalam antrean untuk
segera mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan tanpa ada
keterlambatan.
• NON-URGENT: merupakan sehingga dapat menunggu sesuai
gilirannya untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan.
• Tanda kegawatdaruratan, konsep ABCD:
• Airway. Apakah jalan napas bebas? Sumbatan jalan napas (stridor)
• Breathing. Apakah ada kesulitan bernapas? Sesak napas berat
(retraksi dinding dada, merintih, sianosis)?
• Circulation. Tanda syok (akral dingin, capillary refill > 3 detik, nadi
cepat
• dan lemah).
• Consciousness. Apakah anak dalam keadaan tidak sadar (Coma)?
Apakah kejang (Convulsion) atau gelisah (Confusion)?
• Dehydration. Tanda dehidrasi berat pada anak dengan diare (lemah,
mata cekung, turgor menurun).
• Pada kondisi dimana dibutuhkan cairan segera, serta kondisi
penurunan kesadaran, pertolongan pertama pra-rumah sakit pada
pasien yang mengalami henti jantung atay syok, perlu dipasangkan
akses vaskuler untuk segera memenuhi kebutuh cairan secara cepat
Prosedur
1. Persiapan pasien
2. Persiapan alat dan obat-obatan
3. Pemilihan lokasi
4. Teknik pemasangan
Persiapan Pasien
Jelaskan kepada pasien atau keluarganya mengenai risiko dan
keuntungan teknik ini saat melakukan informed consent
Persiapan Alat dan Obat-obatan
• Jarum intraosseus atau jarum suntik ukuran gauge 15 atau 18
• Syringe 5-10 mL dan jarum suntik steril untuk infiltrasi
• Lidokain 1%
• Kassa steril, plester
• Sarung tangan steril
• Larutan Povidon Iodine
• Syringe 50 mL, set infus, threeway stop cock, konektor, dan cairan
resusitasi
Pemilihan Lokasi
Bayi dan Balita Anak besar
Neonatus: tibia proksimal, tepat di bawah lempeng Tibia proksimal sebagai pilihan utama
pertumbuhan, distal dari tuberositas tibia
Bayi 6-12 bulan: 1 cm distal dari tuberositas tibia Humerus proksimal
Anak>1 tahun : 2 cm distal dari tuberositas tibia Tibia distal, di atas malleolus medial
Teknik Pemasangan
1. Posisikan tungkai dengan meletakan bantal pasir kecil/botol infus di
belakang lutut
2. Bersihkan permukaan lokasi dan keringkan
3. Anestesi local dengan teknik infiltrasi
4. Pegang jarum intraosseus dengan tangan yang dominan
5. Masukan jarum pada titik yang ditandai pada tibia proksimal, 1-3
cm di bawah tuberositas tibia
6. Arahkan jarum dengan sudut 60o – 90o, sedikit ke arah kaudal,
menjauh dari sendi lutut guna menhindari kerusakan plat epifisis
pertumbuhan
7. Cara penusukan dengan memutar seperti gerakan bor, untuk mencegah
jarum menjadi bengkok
8. Jarum harus menembus kulit dan jaringan subkutan, kemudian didorong
menembus korteks tulang, sampai terasa hilangnya tahanan
9. Keluarkan stilet, lakukan aspirasi sumsum tulang. Jika sumsum mengalir
lambat, lakukan aspirasi menggunakan spuit 5 mL
10. Jika sumsum tulang tidak dapat diaspirasi, dorong larutan garam
fisiologis steril sebanyak 5-10 mL dengan menggunakan syringe. Tahanan
harus terasa minmal. Raba dan amati daerah betis, awasi kemungkinan
terjadi ekstravasasi. Jika ya, maka upaya lebih lanjut di lokasi tersebut
harus dihindari
11. Jika tidak ditemukan aliran balik maupun ekstravasasi, sambungkan set
infus dengan threeway stopcock pada jarum intraosseus yang telah
terpasang, lakukan fiksasi jarum dengan bantalan kassa dan plester.
Meskipun drainase gravitasi cukup, infus bertekanan dengan
menggunakan pompa darah atau syringe mungkin diperlukan selama
resusitasi
12. Bila diperlukan,challenge cairan dapat dilakukan dengan menggunakan
threeway stopcock dan syringe 50 mL
13. Pencarian akses IV terus dilakukan
14. Lepas akses intraosseus jika sudah didapatkan akses IV(max 1-2jam)
15. Tekan lokasi pemasangan jarum intraosseus selama 5 menit
16. Tutup dengan kassa steril