Anda di halaman 1dari 71

Gerontologi

Dan Sindroma Geriatri


Definisi Gerontologi
• Geron = lanjut usia
• Logos = ilmu
• Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari
perubahan yang terjadi dari usia dewasa
muda ke lanjut usia dengan pendekatan
biologis, psikologis dan sosial
Mengapa Perlu belajar Gerontologi?
Prosentase populasi lansia terus meningkat sementara
prosentase populasi balita terus menurun
Year Age<5 Age 65+
1950 13.4 5.2
1960 14.2 5.3
1970 14.1 5.5
1980 12.2 5.9
1990 11.9 6.2
2000 10.1 6.9
2010 9.3 7.7
2020 8.5 9.4
2030 7.6 11.8
2040 7.1 14.3
2050 6.7 16.1
Source: United Nations Department of Economic and Social Affairs,
Population Division. World Population Prospects. The 2004 Revision.
New York: United Nations, 2005.
Distribusi Penduduk Regional
usia > 60 tahun

700

600

500
1950
1990
400 2025

300

200

100

0
Oceania Nth Sth Africa Europe Asia
america america
Source: World Population Prospects UN
Pertumbuhan Penduduk Lansia di Indonesia
• Sejak 1970:
– Prosentasi penduduk usia 0-14 terus menurun
– Prosentase penduduk usia produktif (15-59) akan terus
meningkat sampai tahun 2020 kemudian mulai menurun
• Prosentase penduduk lansia (> 60 tahun)
– 1990: 6 %
– 2010: 8 %
– 2025: 14 %
– 2050: 25 %.
Piramida Penduduk Indonesia
1970 dan 2025
INDONESIA’S POPULATION PROJECTION:
2010-2035
Umur (years) 2010 2020 2035
0-4 23.310.083 21.897.201 21.327.333
5-9 21.335.101 22.330.024 21.408.847
10-14 22.928.295 23.385.593 21.483.717
15-19 21.117.125 22.513.283 21.723.677
20-24 20.115.922 22.449.598 22.141.433
25-29 21.550.886 20.760.726 23.112.476
30-34 20.054.660 20.149.695 22.180.874
35-39 18.714.346 20.562.447 22.056.796
40-44 16.711.618 19.759.161 20.299.451
45-49 14.199.518 17.990.738 19.506.237
50-54 11.692.162 15.840.691 19.559.400
55-59 8.544.642 13.201.661 18.261.410
60-64 6.126.737 10.264.552 15.870.518
65-69 4.746.522 7.147.948 12.972.101
70-74 3.443.408 4.607.658 9.558.730
75+ 3.927.762 5.176.479 10.497.528
Total 238.520.797 268.039.475 301.962.563
Teori Penuaan
• Teori penuaan berusaha menjelaskan bagaimana
perubahan spesifik bisa terjadi sebagai bagian dari
proses penuaan
• Masih sulit membedakan mana yang sebab dan
mana yang akibat
• > 400 teori  banyak yang masih belum diketahui
tentang penuaan
• Terus bertambahnya jumlah dan panjangnya usia
orang yang hidup sampai usia lanjut memberi
peluang untuk mempelajari proses penuaan: dari
usia 80 sampai 125
Teori Penuaan
Teori Biologis
• Menjelaskan perubahan anatomis dan fisiologis
seiring bertambahnya usia

Teori Psiko-Sosial
• Menjelaskan proses berpikir dan tingkah laku
pada orang yang menjadi lansia
Teori Biologis Penuaan
Teori Genetik Teori Nongenetik
• Mutasi somatik • Immunologis /
• Terprogram Autoimmune
• Gen • Radikal bebas
• Kesalahan • Wear & Tear
• Cross link atau Collagen
Teori Biologis Genetik Penuaan
• Teori Mutasi Somatik: mutasi menyebabkan
kegagalan fungsional yang akhirnya
menyebabkan kematian
• Teori Terprogram (selular): tiap organisme
terprogram untuk hidup selama waktu
tertentu (jumlah tahun hidup)
• Teori Gen: setelah selang waktu proporsi sel
yang membawa DNA abnormal DNA
meningkat dan fungsi jaringan terganggu
Teori Biologis Non Genetik Penuaan
• Teori Autoimun: tendensi tubuh menolak
jaringan tubuhnya sendiri meningkat seiring
bertambahnya usia
• Teori Radikal Bebas: zat kimia tertentu yang
terakumulasi dalam tubuh menyebabkan
kerusakan yang menghasilkan perubahan
dalam penuaan
• Teori ‘Wear and Tear’: membandingkan tubuh
manusia dengan mesin yang rusak karena
pemakaian terus menerus
Teori Psiko-sosial Penuaan
• Teori Penarikan Diri: proses penuaan menyebabkan penarikan
diri yang bersifat mutualis dan tidak terhindarkan 
berkurangnya interaksi antara orang yang menua dengan orang
lain.
• Teori Kontinuitas: kepribadian dasar, sikap dan tingkah laku
tidak berubah sepanjang hidup
• Teori Aktivitas:
– Mendukung pemeliharaan aktifitas reguler, peran dan
kegiatan sosial
– Orang yang dapat mencapai usia optimal adalah orang yang
tetap aktif
– Ketika peran berubah, orang menemukan aktifitas pengganti
sesuai dengan perannya
Definisi Geriatri
• Geron = lanjut usia
• Eatri = kesehatan
• Geriatri: cabang ilmu kedokteran yang
mempelajari kesehatan dan penyakit pada
lansia, perawatan komprehensif pada lansia
dan kesejahteraan dari pengasuh (caregiver)
informal
• Citations: AGHE (Association for Gerontology
in Higher Education) 2001, Butler, 2008
Perubahan Gejala Penyakit
pada Pasien Lansia
Presentasi penyakit atipikal (Ham 2002):
1. Tidak jelas (vague)
2. Berubah (altered)
3. Tidak dikeluhkan (non-presentation /under-
reporting)
Presentasi Penyakit Tidak Jelas
Gejala non-spesifik yang mungkin merupakan
gejala dari penyakit spesifik (Ham, 2002):
– Bingung (confusion)
– Tidak merawat diri (self neglect)
– Jatuh (falls)
– Inkontinensia
– Apatis
– Anorexia
– Dyspnea
– Lelah, lemah, tidak bertenaga (Fatigue)
Presentasi Penyakit Berubah (Altered)
Penyakit Presentasi Atipik
Penyakit infeksi •Tak ada demam
•Sepsis tanpa leukocytosis dan demam
•Jatuh, nafsu makan dan intake cairan
berkurang, kebingungan, perubahan status
fungsional
"Silent" myocardial •Tak ada nyeri dada
infarction •Gejala tidak jelas kelelahan, nausea dan
penurunan status fungsional.
•Presentasi klasik: keluhan sesak nafas lebih
sering dijumpai daripada nyeri dada
Penyakit “Tersembunyi" Pada Lansia
(Ham, 2002)
• Depresi • Gangguan Pendengaran
• Inkontinensia • Demensia
• Kekakuan • Masalah gigi
muskuloskeletal • Gizi buruk
• Jatuh • Disfungsi seksual
• Alkoholisme • Osteoarthritis
• Osteoporosis
Sindroma Geriatri
• Sindroma geriatri dipakai untuk menggambarkan
ciri-ciri unik kondisi kesehatan yang biasa
dijumpai pada lansia tetapi tidak sesuai dengan
kategori penyakit tertentu
• 4 Sindroma Geriatri yang umum:
– Instability: Jatuh
– Incontinence: inkontinensia
– Intellectual impairment: gangguan kognitif (delirium,
dementia dan depresi),
– Immobility: immobilitas dan luka tekan (ulcus
decubitus)
Sindroma Geriatri
• 4 faktor resiko yang dijumpai pada semua
sindroma geriatri adalah:
– usia lanjut
– gangguan kognitif dasar
– gangguan fungsional dasar
– gangguan mobilitas
Jatuh
• Jatuh merupakan salah satu penyebab utama
kematian pada lansia
• Data di Amerika Serikat:
– 70% kematian yang berhubungan dengan jatuh terjadi
pada lansia
– 1 dari 7 kasus jatuh pada lansia menyebabkan fraktur
– lansia usia 75 tahun ke atas yang mengalami patah panggul
aktibat jatuh: 50 % meninggal dalam 1 tahun setelah jatuh
– 1/3 lansia berusia 65 tahun yang tinggal di rumah ke atas
jatuh tiap tahun
– 67 % lansia yang tinggal di rumah jompo jatuh tiap tahun
– Resiko jatuh meningkat 50 % pada lansia berusia 80 tahun
ke atas
Faktor Resiko Jatuh
• Gangguan kognitif • Defisit sensoris
• Obat • Pemakaian alkohol
• Gangguan mobilitas, • Hipotensi Postural
cara berjalan, • Depresi
keseimbangan • Pemakaian alat bantu
• Riwayat jatuh gerak (kacamata, alat
• Penyakit akut atau bantu dengar, walker)
kronik • Kerentanan (Frailty /
• Masalah lingkungan deconditioning)
• Ketakutan akan jatuh
Asesmen Pasien Jatuh
Anamnesis
a. Aktifitas ketika jatuh
b. Gejala sebelum jatuh: kepala terasa ringan,
palpitasi, dyspnea, nyeri dada, vertigo, bingung,
inkontinensia, pingsan
c. Lokasi jatuh
d. Saksi yang melihat peristiwa jatuh
e. Riwayat jatuh sebelumnya (sama atau beda)
f. Riwayat penyakit sebelumnya
g. Obat-obat yang diminum
Asesmen Pasien Jatuh
Pemeriksaan fisik
a. Ketajaman penglihatan
b. Sistem kardiovaskuler: tekanan darah, nadi (berbaring dan berdiri),
arrhythmia, murmur, bruits
c. Tungkai: arthritis, edema, masalah podiatri, sepatu yang tidak pas,
kekuatan otot dan Range of motion.
d. Sistem Neurologik: status mental, cara berjalan dan keseimbangan,
membungkuk, membelok, naik turun tangga, berdiri dengan mata
tertutup, i.e. the timed “up and go” yaitu pasien bangkit dari kursi
dengan sandaran lengan, berjalan 3 m dan kembali ke kursi (Tinetti
2003)
e. Romberg test: berdiri 1 menit dengan kaki menutup dan mata tertutup
f. Luka karena jatuh
g. Pemakaian alat bantu (kacamata, alat bantu dengar, walker)
Intervensi untuk Pasien Jatuh
Faktor Intrinsik:
a. Periksa obat-obat yang diminum (benzodiazepin dan obat anti
hipertensi bisa menyebabkan hipotensi postural)
b. Periksa status kognitif
c. Periksa kondisi ‘mood’ (depresi)
d. Periksa alat bantu (kacamata, alat bantu dengar, walker)
e. Tingkatkan kekuatan otot
f. Periksa cara berjalan dan keseimbangan – fisioterapi
g. Pemakaian alat bantu untuk mobilitas (tongkat, walker, railing)
h. Evaluasi inkontinensia
i. Nilai pengertian pasien tentang resiko jatuh dan cara mencegah
j. Nilai pengertian pasien dari pengasuh tentang resiko jatuh dan
cara mencegah
Intervensi untuk Pasien Jatuh
Faktor Ekstrinsik:
a. Periksa lingkungan (penerangan, keset, lantai yang tidak
rata, kabel listrik)
b. Periksa sepatu atau sandal pasien (stabil dan pas
ukurannya)
c. Pakai alarm kalau keluar kamar
d. Railing untuk kamar mandi dan toilet
e. Toilet duduk dinaikkan
f. Singkirkan barang-barang yang bisa menyebabkan
tersandung
Inkontinensia Urin
Definisi: kondisi medis yang ditandai dengan hilanganya kendali pada kandung
kemih yang berakibat pada kebocoran urin/mengompol
15–30% lansia menderita inkontinensia urin
Beberapa tipe dari inkontinensia urin:
1. Inkontinensia Stress terjadi pada saat ada tekanan yang mendesak seperti
batuk, bersin, tertawa, olahraga dan mengangkat beban berat
2. Inkontinensia Urgensi umumnya disebabkan oleh infeksi saluran kemih,
masalah pencernaan, dan penyakit neurologis dan ditandai dengan
keinginan berkemih yang tiba-tiba, terus menerus mendesak diikuti
dengan berkemih secara tidak sadar
3. Inkontinensia Overflow: ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih
dan disebabkan oleh sumbatan pada uretra
4. Inkontinensia Campuran: campuran dari dua atau lebih tipe inkontinensia
urin
5. Inkontinensia Fungsional: dialami oleh lansia akibat gangguan fisik atau
mental yang mencegah mereka untuk berkemih ke toilet
Inkontinensia Urin Akut Reversibel
• D : Delirium
• R : Restriksi mobilitas, retensi urin
• I : Infeksi, inflamasi, Impaksi
• P : Poliuria, farmasi
Faktor Resiko
• Immobilitas • Diabetes
• Gangguan kognitif • Stroke
• Obat-obatan • Deplesi Estrogen
• Aktifitas fisik high- • Kelemahan otot
impact panggul
• Kendala lingkungan • Childhood nocturnal
enuresis (ngompol
malam hari pada masa
kanak-kanak)
Asesmen Pasien Inkontinensia: Anamnesis
Aspek Keterangan

Dokter 50% pasien tidak menyampaikan keluhan ini sehingga dokter


bertanya mengira tak ada masalah dengan inkontinensia
Gejala Diagnostis tergantung dari gejala, usia, jenis kelamin dan
Spesifik patologi yang melatar belakangi gejala
Precipitant urgency menandakan Detrussor Overactivity (DO),
misalnya merasa ingin kencing ketika melihat air mengalir dari
kran, cuci tangan, hawa dingin, dll
Mengompol ketika batuk, tertawa, membungkuk, dll, sensitif
terhadap stres, misalnya merasa urgensi kencing sebelum
mengompol memberi kesan stress-induced urge UI;
ngompol walaupun pasien tidak sedang bergerak atau
menetes terus menerus memberi kesan Intrinsic urethral
Sphincter Deficiency
Asesmen Pasien Inkontinensia: Anamnesis
Aspek Keterangan
Gejala Spesifik Frequensi, nocturia, aliran urin yang lambat, hesitancy,
interrupted voiding, straining, dan terminal dribbling biasanya
dijumpai pada DO, DHIC (detrusor hyperactivity with impaired
contractility), BOO (bladder outlet obstruction), detrusor
underactivity, dan banyak penyakit lain
Karakteristik Onset, frequency, volume, waktu, dan precipitants (misalnya obat,
Inkontinensia caffeine, alcohol, aktifitas fisik, batuk)
Urin
Faktor-faktor Kondisi kesehatan dan obat-obatan yang berhubungan dengan
terkait inkontinensia urin
Kualitas hidup Tanyakan bagaimana dampak dari inkontinensia urin terhadap
hidup pasien dan pengasuh, misalnya kegiatan sehari-hari, sosial,
emosional, hubungan interpersonal (sexual), konsep diri dan
persepsi kesehatan secara umum, aspek apa yang paling terasa
mengganggu
Asesmen Pasien Inkontinensia:
Pemeriksaan Fisik
Aspek Keterangan
Umum Orthostatic vital signs, kesadaran, kognisi, status fungsional
Cardiovascular Volume overload, peripheral edema
Abdomen, Palpasi vesica urinaria; massa rectal dan impaction
Punggung Lekukan atau seberkas rambut bisa merupakan tanda incomplete
spina bifida
Musculoskeletal Mobilitas dan ketangkasan gerakan
Neurologis Cervical disease ditandai terbatasnya rotasi dan fleksi lateral,
interossei wasting, dan Babinski’s sign
Integritas akar Sensasi perineal; tonus sphincter anal; anal “wink” dan
Sacral bulbocavernosus reflex
Genitourinaria Pria: periksa prostat, phimosis, paraphimosis, dan balanitis
Wanita: periksa mukosa vagina untuk atrophy dan pelvic support
Asesmen Pasien Inkontinensia: Testing
Aspek Keterangan
Voiding Catat kencing 48-hour: waktu dan kondisi baik saat kontinent
maupun inkontinent, frekuensi, jumlah urin total sehari dan
malam hari, inkontinensia yang berhubungan dengan aktifitas
(minum kopi, oleh raga).
Clinical Dalam kondisi vesica urinaria penuh, pasien mengendorkan
stress test perineum, dan batuk keras untuk inkontinensia stres
Urine flow Bila Peak flow 12 mL/sec dan volume urine yang keluar 200 mL
rate berarti bukan BOO; flow rate yang rendah tidak spesifik
Postvoiding Dilakukan dengan kateter dan bila residu urin 50 mL bisa
residual menyebabkan frequency atau nocturia, exacerbasi inkontinensia
urgensi dan stress; bila residu 200 ml kemungkinan kelemahan
otot detrusor weakness atau BOO, dan hydronephrosis pada
pasien pria (jarang pada lansia wanita)
Tes Fungsi ginjal, glucose, calcium, vitamin B12, urinalysis and kultur;
Laboratoris sitologi urin dan cystoscopy bila ada hematuria atau nyeri pelvis;
PSA pada pasien pria dan skrining kanker bila perlu
Penatalaksanaan Inkontinensia Urin
1. Non farmakologis
– Diet: kopi, alkohol
– Latihan: penguatan otot dasar panggul, bladder training, kateterisasi
intermiten
2. Farmakologis:
– inkontinensia urgensi: antikolinergik seperti Oxybutirin, Propanteine,
Dicylomine, flavoxate, Imipramine.
– inkontinensia stress: alfa adrenergic agonis, yaitu pseudoephedrine untuk
meningkatkan retensi urethra
– sfingter relax: kolinergik agonis seperti Bethanechol atau alfakolinergik
antagonis seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi, dan terapi diberikan
secara singkat
3. Operatif:
– inkontinensia tipe stress dan urgensi, bila terapi non farmakologis dan
farmakologis tidak berhasil.
– Inkontinensia overflow perlu pembedahan untuk menghilangkan retensi
urin, misalnya karena tumor, batu, divertikulum, hiperplasia prostat, dan
prolaps pelvic (pada wanita)
Delirium
• Definisi: sindroma mental organik akut dengan
gejala utama penurunan kesadaran (clouding
of conciousness) disertai gangguan atensi,
persepsi, orientasi, proses pikir, daya ingat
(memori), perilaku psikomotor (agitasi) dan
siklus tidur. (Kaplan 1998)
Faktor Resiko Delirium
• Usia tua
• Dementia
• Penyakit kardiovaskuler
• kanker
• pernah mengalami delirium
• ketergantungan pada alkohol
• Diabetes
• penurunan pacaindera (misalnya gangguan
penglihatan, pendengaran)
• Malnutrisi
(Ismail HC: Sindrom Mental Organik)
Etiologi Delirium
Intrakranial:
– Epilepsi dan keadaan paska kejang
– Trauma otak (terutama gegar otak)
– Infeksi: Meningitis, Ensefalitis
– Neoplasma
– Gangguan vaskular
Etiologi Delirium
Ekstrakranial:
– Infeksi sistemik
– Gangguan elektrolit
– Obat-obatan: antikolinergik, antikonvulsan, antiparkinson,
steroid, dll
– Racun: karbon monoksida, logam berat, dll
– Disfungsi Endokrin (hipofungsi atau hiperfungsi)
– Penyakit organ non endokrin: hati, ginjal, paru, jantung, dll
– Defisiensi tiamin, Vit B12, asam folat, asam nikotinik
– Post operatif
– Trauma kepala atau seluruh tubuh
Asesmen Pasien Delirium
Gambaran klinis:
1. Gangguan kesadaran (clouding of conciousness)
2. Gangguan persepsi (ilusi, halusinasi terutama halusinasi
penglihatan).
3. Gangguan orientasi, mula-mula disorientasi waktu.
4. Gangguan proses pikir dan pembicaraan (gangguan
konsentrasi, perseverasi, flight of ideas, inkoherensi, delusi).
5. Gangguan memori.
6. Gangguan afek.
7. Gangguan psikomotor.
8. Disfungsi otonomik, sulit kontrol BAK.
9. Gangguan siklus tidur bangun.
Penatalaksanaan Pasien Delirium
• Penegakan diagnosis dan menemukan etiologi
• Farmakologik:
– Mengatasi etiologi
– Mengurangi kecemasan atau agitasi dengan
antipsikotik seperti haloperidol, benzodiazepin
Dementia
• Ganggguan kognitif global
• Ireversibel
• Bukan disebabkan oleh gangguan indera
(terutama penglihatan dan pendengaran)
• biasanya progresif
Penyebab Dementia
•Alzheimer’s •Cushing’s, Addison’s, Thyroid,
•Lewy Body parathyroid, diabetes
•Frontotemporal •Vitamin B12, thiamine,
•Parkinson’s nicotine deficiency
•Other extrapyramidal •Normal pressure
syndromes hydrocephalus, Head injury,
•Huntington’s space occupying lesion,
•Vascular multiple sclerosis
–Stroke •Syphilis, HIV, encephalitis,
–Small vessel ischaemia Creutzfeld Jacob Disease

Adapted from Eastley R., Assessment of Dementia, in Dementia, Eds Burns, O’Brien & Ames
Dementia: beberapa penyebab yang
“Reversibel”
•Obat-obatan •Gangguan Liver
•Depresi •Normal pressure hydrocephalus
•Penyebab metabolik •Subdural haematoma
•Gangguan Thyroid •Neoplasma
•Defisiensi Vitamin B12
•Hypercalcaemia

Adapted from Eastley R., Assessment of Dementia, in Dementia, Eds Burns, O’Brien & Ames
Dementia: Diagnosis

• adanya defisit kognitif • gangguan memori


multipel • paling sedikit satu dari gejala
• gangguan fungsi bekerja dan berikut:
sosial
–aphasia
• penurunan fungsi
dibandingkan sebelumnya –apraxia
–agnosia
–Gangguan fungsi
eksekutif

Dari Diagnostic and Statistical Manual of mental disorders IV edition revised 2000,
American Psychiatric Association
Dementia: Gejala Diagnostik
Gangguan memori:
–gangguan memori merupakan gejala utama
– gangguan kemampuan untuk mempelajari hal baru
– lupa hal yang sudah dipelajari sebelumnya
–Kehilangan benda-benda, lupa sedang memasak, tersesat di daerah
yang sudah amat dikenal, tidak mau minum obat teratur
–Lupa keluarga sendiri, alamat rumah, nama sendiri, pekerjaan
sebelumnya
Gangguan berbahasa: aphasia
– bahasa jadi sederhana, tidak kompleks
– kesulitan menyebut nama orang atau benda
– Repetisi/pengulangan
– kesulitan mengerti bahasa oral dan tulis
–Akhirnya tidak bisa bicara lagi karena tidak bisa mengingat bahasa/kata
Dementia: Gejala Diagnostik
Apraxia : kesulitan melakukan tugas motorik walaupun tak
ada gangguan syaraf, otot dan sendi
– kesulitan mengerti perintah
– tak dapat menginterpretasi kekuatan
– tak dapat menginterpretasi sensasi
–Misalnya: lupa cara mandi, gosok gigi
Agnosia
– kesulitan mengenal orang atau benda
– kesulitan mengenali benda biasa, anggota keluarga,
bahkan dirinya sendiri di foto atau di cermin
Dementia: Gejala Diagnostik
Fungsi eksekutif:
– Kemampuan berpikir abstrak
– kemampuan memutuskan, memberikan alasan, insight
– Merencanakan, menginisiasi, menentukan urutan
kegiatan, dan memonitor kegiatan yang kompleks
– Membuat keputusan yang salah
– Tak dapat mengatur keuangan
– Melakukan tindakan yang bisa membahayakan karena
kehilangan ‘insight’
Dementia: Gejala Diagnostik
Tingkah Laku
•Delusi, terutama paranoia • tidak merawat diri, rumah
•Halusinasi. Terutama visual maupun makanan
• Apatis
•Iritabilitas, agressif (verbal
dan fisik) • gangguan tidur
• Gangguan mood:
•Resistiv, sulit diberitahu
Anxiety
•Agitasi, berjalan-jalan terus,
Depression
tersesat
• banyak menuntut, mencari
•menarik diri perhatian dan repetitif

Adapted from Hecker J., Dementia and Alzheimer’s Disease in A Practical Guide to Geriatric Medicine. Ratnaike R
Asesmen Dementia
• Anamnesis (alloanamnesis) – paling penting
• Pemeriksaan fisik
• Tes neuropsikometrik: MMSE
• Tes laboratorium
FBP, U&E, TFT, B12, folate, BSL, syphilis serology,
ESR, Urinalysis, calcium +/- lumbar puncture, EEG
• Imaging: CT, MRI, SPECT, PET
Tes Skrining Kognitif: MMSE
Mini Mental State Examination

• MMSE yang sudah •Orientasi


distandarisasi (Molloy et al •Registrasi, Recall
1991) •Atensi
• Floor and ceiling effects •Kalkulasi
• budaya barat, pengaruh • bahasa
pendidikan dan bahasa
• konstruksi Visual
• tak ada tes fungsi eksekutif
Tes Skrining Kognitif: MMSE
• Komponen:
– Orientasi waktu: tanggal, bulan, tahun, musim
– Orientasi tempat
– Registrasi: menulangi dan mengingat nama 3 benda yang
disebut
– Menyebut nama benda yang ditunjuk
– Membaca
– Melakukan perintah
• Scoring:
– ringan 22-27
– sedang:10-21
– Berat 0-9
Geriatric Depression Scale (GDS),
Yesavage 1983
• Versi original 30 pertanyaan cut off score 11-14, Versi
pendek 15 pertanyaan, cut off score 5-10
• Pertanyaan GDS:
– Secara umum, apakah Anda merasa puas dengan hidup
Anda?
– Apakah Anda mengurangi berbagai kegiatandan hobi
Anda?
– Apakah Anda merasa hidup Anda hampa?
– Apakah Anda sering merasa bosan?
– Apakah Anda hampir selalu bersemangat?
Dementia: Alzheimer’s Disease
• 60% Dementia
• Degenerasi neuron: beta amyloid plaques dan
neurofibrillary tangles
• Onset awal dihubungkan dengan mutasi gen
• Gejala pokok adalah hilangnya memori, plus domain
lain dan bersifat progresif
• Therapi: cholinesterase inhibitors (donepezil,
galantamine, rivastigmine) atau memantine
• Ada obat-obat baru yang sepertinya menjanjikan
Alzheimer’s Disease: Natural
History

Adapted from Hecker J., Dementia and Alzheimer’s Disease in A Practical Guide to Geriatric Medicine. Ratnaike R
Penatalaksanaan Pasien Dementia
• Obati penyebab yang reversibel!
• Edukasi keluarga
• Terapi farmakologik untuk gangguan memori,
depresi, agitasi
• Pengendalian faktor resiko vaskuler
• Non farmakologik:
– Keamanan lingkungan
– Pengendalian mood dan tingkah laku
Depresi, Delirium dan Dementia
Parameter Depresi Delirium Dementia
Onset Beberapa minggu Cepat dan pendek, Beberapa bulan sampai
mendadak, beberapa beberapa tahun
jam /hari
Durasi 3-6 bulan, bisa kronis Beberapa hari - 3 5 - 15 tahun
minggu
Gejala Afek datar, Disorientasi, Gejala tak jelas,
awal Hypochondriasis, kesadaran berkabut , intellek hilang,
fokus pada gejala, mood fluktuatif, menyangkal atau
Apatis, tak ada upaya pikiran kacaru, tak menyembunyikan gejala,
untuk melakukan mengerti tugas perhatian mudah teralih,
tugas berupaya melaksanakan
tugas
Memori Normal atau baik Memori baru Terganggu, cara berpikir
baru memori awal maupun terganggu, tapi yang harus konkrit
lama terganggu lama utuh
Depresi, Delirium dan Dementia
Parameter Depresi Delirium Dementia
Intelek Melambat atau Terganggu Terganggu, keputusan
menolak untuk tidak tepat,
merespons menyangkal ada
masalah
Penilaian Buruk Terganggu, banyak Terganggu, keputusan
menjawab ‘tidak tahu’, tidak tepat,
sulit membedakan menyangkal ada
fakta dari halusinasi masalah
Pola Lebih buruk di Mengantuk siang hari, Lebih buruk di malam
diurnal pagi hari, tidur halusinasi malam hari, hari, “Sundowning,” ,
terganggu insmnia, mimpi buruk pola tidur terbalik
Depresi, Delirium dan Dementia
Parameter Depresi Delirium Dementia
Afek Menarik diri, Labil, bervariasi, Mudah teralh, dangkal,
perhatian terbatas, apatis, takut/panic, labil, kecemasan yang
putus asa, euphoria, tidak pas, depresi,
tertekan terganggu curiga
Orientasi Utuh Disorientasi, tapi Disorientasi
biasanya tidak
terhadap orang,
ada periode ‘jelas’
Tingkat Utuh Terganggu Utuh
kesadaran
Gejala Delusi Delusi Delusion lambat,
psikotik halusinasi
Luka Tekan / Ulcus Decubitus
• Definisi: kerusakan jaringan yang terlokalisir karena
kompresi jaringan yang lunak diatas tulang yang
menonjol (bony prominence) dalam jangka waktu
lama
• Faktor resiko utama adalah immobilitas
• Cara mencegah immobilitas:
– Mendorong mobilitas fungsional
– Edukasi keluarga atau perawat
– Rehabilitasi dini
– Pemakaian alat bantu yang sesuai
– Fisioterapi bila perlu
Luka Tekan / Ulcus Decubitus
• Kompresi jaringan menyebabkan gangguan
suplai darah pada daerah yang tertekan.
• Kompresi lama menyebabkan insufisiensi
aliran darah, anoksia atau iskemi jaringan dan
akhirnya mengakibatkan kematian sel.
Faktor Resiko Luka Tekan
• Ekstrinsik: tekanan, gesekan, goresan,
kelembaban, urin, dan feses.
• Intrinsik: ketebalan kulit, lemak subkutan,
kekuatan tensil kolagen, dan elastisitas kulit
menurun karena usia, nutrisi dan hidrasi,
immobilitas, gangguan sensasi dan penurunan
kesadaran
Pencegahan Luka Tekan
• Pemeriksaan kulit tiap hari
• Mandi dg sabun lembut, hindari air hangat dan
gesekan berlebih
• Obati inkontinensia
• Pakai pelembab kulit
• Jangan pijat bagian ‘bony prominence’
• Pasang bantal di bagian ‘bony prominence’
• Sering ganti posisi tubuh
• Untuk pengguna kursi roda, angkat bokong tiap 15
menit
Penatalaksanaan Luka Tekan
• Asesmen pasien secara holistik, yaitu kondisi
fisik, nyeri, kesehatan psikososial, luka tekan
dan komplikasinya
• Bersihkan luka
• Pakai cairan yang tidak membunuh sel, jangan
pakai hydrogen peroxide, Dahen’s Solution,
atau Betadine
• Irigasi luka
• Rawat luka dengan kasa yang sesuai
Referensi
Diagnostic and Statistical Manual of mental disorders
IV edition revised 2000, American Psychiatric
Association
Eastley R., Assessment of Dementia, in Dementia, Eds
Burns, O’Brien & Ames
Elizabeth K Keech PhD, RN, Elise Pizzi MSN, GNP-BC,
Geriatric Syndromes,
Geriatric Functional Assessment, Division of Geriatric
Medicine Department of Internal Medicine 2003,
http:// www.med.umich.edu/lrc/coursepages/
m1/HGD/GeriatricFunctionalAssess.pdf
Referensi
Ham, R., Sloane,D. & Warshaw,G. (2002). Primary Care
Geriatrics: A Case Based Approach. pp 32-33.St Louis
Hecker J., Dementia and Alzheimer’s Disease in A Practical
Guide to Geriatric Medicine. Ratnaike R
Ismail HC : Sindrom Mental Organik, http//
www.Sindromamental organik.com
James J. Peters VA, Geriatrics, Palliative Care and
Interprofessional Teamwork Curriculum, Module # 4: Geriatric
Syndromes , Bronx Medical Center, Geriatric Research,
Education & Clinical Center, Mount Sinai School of Medicine,
Brookdale Department of Geriatrics and Adult Development,
http://www.nynj.va.gov/docs/Module04.pdf
Referensi
James J. Peters VA, Geriatrics, Palliative Care and
Interprofessional Teamwork Curriculum, Module # 8:
Depression, Dementia & Delirium, Bronx Medical
Center, Geriatric Research, Education & Clinical
Center, Mount Sinai School of Medicine, Brookdale
Department of Geriatrics and Adult Development,
http://www.nynj.va.gov/docs/Module08.pdf
Jonathan M. Flacker,MD, What Is a Geriatric Syndrome
Anyway? GERIATRICS & AGING • October 2003 • Vol
6, Num 9 pp 58-59, Division of Geriatric Medicine
and Gerontology, Emory University School of
Medicine, Atlanta, GA, USA.
Referensi
Jose Vin, Consuelo Borra and Jaime Miquel, Critical
Review Theories of Ageing, Life, 59(4 – 5): 249 – 254,
April –May 2007
Kaplan HI, Sadock BJ: Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat
(Edisi Bahasa Indonesia), Edisi I, Widia Medika,
Jakarta, 1998: 210-215
Oxford Textbook of Geriatric Medicine (Oxford Medical
Publications)(2nd - August 2000) : by J. Grimely
Evans, T. Franklin Williams (Editor), J. Grimley Evans
(Editor) By Oxford University Press;
Referensi
Sharon K. Inouye, MD, MPH,w Stephanie Studenski,
MD,z§ Mary E. Tinetti, MD,k and George A. Kuchel,
MD, Geriatric Syndromes: Clinical, Research, and Policy
Implications of a Core Geriatric Concept, JAGS 55:780–
791, 2007
United Nations Department of Economic and Social
Affairs, Population Division. World Population
Prospects. The 2004 Revision. New York: United
Nations, 2005.
Vaunette Payton Fay, Ph.D., Theories of Aging,
http://www.philadelphia.edu.jo/academics/
ibashayreh/uploads/Age_Theories.ppt
Referensi
Diagnostic and Statistical Manual of mental disorders
IV edition revised 2000, American Psychiatric
Association
Molloy , DM and Standish, TIM, Mental Status and
Neuro ps ycho 1 ogica 1 Assessment: A Guide to the
Standardized Mini-Mental State Examination,
International Psychogeriatrics, Vol. 9, Suppl. 1, 7997,
pp. 87-94 , http://www.dementia-assessment.com.au/
guidelines/ Guide_Standardised_MMSE.pdf
Referensi
Tinetti, M. E. (2003). Preventing falls in elderly persons.
New England Journal of Medicine 348, 42-49
Yesavage, J.A., Brink, T.L., Rose, T.L., Lum, O., Huang, V.,
Adey, M.B., & Leirer, V.O. (1983). Development and
validation of a geriatric depression screening cale: A
preliminary report. Journal of Psychiatric Research,
17, 37-49