Anda di halaman 1dari 41

Pendahuluan

 Lanjut usia (lansia)  tahap akhir kehidupan


manusia.
 Proses penuaan disebut “senescence” (latin :
menjadi tua) ditandai oleh penurunan bertahap
pada fungsi semua sistem tubuh- kardiovascular,
pernafasan,genitourinarius,endokrin, dan
kekebalan dll.
 Berdasarkan WHO , lansia dibagi menjadi 3
golongan :
- Usia lanjut (elderly) : 60 -75 tahun.
- Umur tua (old) : 75-90 tahun
- Umur sangat tua (very old) : > 90 tahun
Populasi usia lanjut termasuk yang sehat
(well-old)  tidak menderita penyakit
dan
Lanjut usia yang sakit(sick-old)menderita
suatu kelemahan yg mengganggu fungsi
dan memerlukan perhatian medik atau
psikiatrik
Masalah Emosional pada usia lanjut
 Kehilangan tema yg menonjol menandai
pengalaman emosional usia lanjut.
 Kesedihan akibat kehilangan/kematian :
- Pasangan
- Teman
- Keluarga dan
- Rekan kerja
 Perubahan status pekerjaan dan prestasi
 Menurunnya kemampuan fisik dan
kesehatan
 Energi emosional dan fisik beradaptasi
untuk kehilangan.
 Hidup sendiri stress besar (10% lansia)
 75% lansia hidup sendiri wanita
 permasalahan yang sering dihadapi usia
lanjut :
- Kesepian
- Gangguan kesehatan fisik
- Penyakit yang menyerang otak
- Kesulitan keuangan
 Depresi  respon maladaptif terhadap
kehilangan yang pada usia lanjut menyerupai
demensia senilis
 Ditandai :
- Gangguan napsu makan dan tidur
- Hilangnya minat terhadap yang disenangi.
- Ucapan-ucapan yg mencela diri sendiri.
- Pikiran/kehidupan tidak berguna
- Gangguan ingatan
- kesulitan berkonsentrasi
- Pertimbangan yang buruk dan
- mudah marah
 Insiden bunuh diri tinggi (40 per 100.000).
 Pria  karena penyakit fisik
 Wanita karena penyakit mental.

- Penyakit medis kronik berpengaruh buruk


terhadap masalah emosional
Sikap menghadapi kematian
 Tanatologi  suatu proses pengkajian
mengenai proses yang terlibat dalam
reaksi terhadap kematian baik mereka
yang hampir meninggal maupun berduka.
 Reaksi terhadap kematian :
- Kematian tepat waktu (timely death)
- Tidak tepat waktu (untimely death)
 Kematian :
- Disengaja (bunuh diri)
- Tidak disengaja (trauma atau penyakit))
- Agak disengaja (penyalahgunaan obat,
ketergantungan alkohol, merokok)
RESPON BERDUKA
Tahap respon berduka menurut
Kubler - Ross :
 Denial
 Anger
 Bargainning
 Depression
 Acceptance
1. Denial (Penolakan)
 Reaksi pertama
 Syok, tidak percaya, mengerti, atau
mengingkari kenyataan.
 Reaksi fisik :
- Letih - lemah - pucat
- mual - diare - menangis
- gangguan pernafasan - gelisah
- detak jantung cepat
- tidak tahu berbuat apa
 Berlangsung beberapa menit hingga beberapa
tahun
 Dokter  komunikasi dgn pasien dan
keluarga dgn cara menghormati
dan langsung ttg penyakit/prognosis dan
pilihan pengobatan.
 Komunikasi efektif menentramkan pasien
Sikap yang dilakukan :
 Memberikan kesempatan pasien untuk
mengungkapkan perasaan
 Menunjukan sikap menerima dengan
ikhlas dan mendorong pasien untuk
berbagi rasa
 Memberi jawaban yang jujur terhadap
pertanyaan pasien tentang sakit,
pengobatan
2. Anger (Marah)
 Pasien menjadi frustasi, mudah tersinggung dan
marah karena mereka sakit.
 Suatu respon yg sering , “ Mengapa saya ?”
 Kemarahan timbul sering diproyeksikan kepada
Tuhan, nasibnya, teman , anggota keluarga atau
dirinya sendiri.
 Perilaku :
- agresif - bicara kasar
- menyerang orang lain - menolak pengobatan
- menuduh dokter atau perawat tidak kompeten
 Respon fisk :
- muka merah - denyut nadi cepat
- gelisah - susah tidur
- tangan mengepal
Sikap yang dilakukan :
- Mengijinkan dan mendorong pasien
mengungkapkan rasa marah secara verbal
tanpa melawan kemarahan :
◦ Menjelaskan kepada keluarga bahwa
kemarahan pasien sebenarnya tidak ditujukan
kepada mereka.
◦ Membiarkan pasien menangis
◦ Mendorong pasien untuk membicarakan
kemarahannya
3. Bargainning (Tawar – menawar)

 Penundaan kesadaran atas kenyataan


terjadinya kehilangan.
 Berupaya melakukan tawar – menawar
dengan memohon kemurahan Tuhan.
 Berunding dengan dokter, teman atau
Tuhan
Sikap yang harus dilakukan :
Membantu pasien mengungkapkan rasa bersalah
dan takut :
◦ Mendengarkan ungkapan dengan penuh perhatian
◦ Mendorong pasien untuk membicarakan rasa takut
atau rasa bersalahnya
◦ Bila pasien selalu mengungkapkan “kalau” atau
“seandainya ….” beritahu pasien bahwa perawat
hanya dapat melakukan sesuatu yang nyata.
◦ Membahas bersama pasien mengenai penyebab rasa
bersalah dan rasa takutnya.
4. Depression ( Depresi)
 Menunjukan sikap menarik diri
 Kadang bersikap sangat penurut
 Tidak mau bicara
 Menyatakan keputusasaan
 Rasa tidak berharga
 Bisa muncul keinginan bunuh diri
 Gejala fisik :
- menolak makan - susah tidur
- letih - libido turun
Depresi oleh karena :
 efek penyakit terhadap kehidupan
-Kehilangan pekerjaan
-Kesulitan ekonomi
-Tidak berdaya
-Tidak mempunyai harapan dan isolasi dari
teman dan keluarga.
 Menantikan akhir kehidupan
Sikap yang harus dilakukan :
- Membantu pasien mengidentifikasi rasa bersalah
dan takut :
◦ Mengamati perilaku pasien dan bersama dengannya
membahas perasaannya
◦ Mencegah tindakan bunuh diri atau merusak diri
sesuai derajat risikonya
- Membantu pasien mengurangi rasa bersalah :
◦ Menghargai perasaan pasien
◦ Membantu pasien menemukan dukungan yang
positif dengan mengaitkan dengan kenyataan cop
y

◦ Memberi kesempatan menangis dan righ


t
mengungkapkan perasaan 201
0 by
◦ Bersama pasien membahas pikiran negatif yang putr

selalu timbul
a
pas
bar
ww
w.ra
fani.
co.c
c
5. Acceptance (Penerimaan)
 Reorganisasi perasaan kehilangan
 Pikiran tentang objek yang hilang akan mulai
berkurang atau hilang beralih ke objek baru.
 Menerima kenyataan kehilangan
 Mulai memandang ke depan.
 Apabila dapat memulai tahap ini dan menerima
dengan perasaan damai  tuntas
 Apabila kegagalan masuk ketahap penerimaan
 mempengaruhi dalam mengatasi perasaan
kehilangan selanjutnya
Sikap yang harus dilakukan :
Membantu pasien menerima kehilangan yang
tidak bisa dielakan :
◦ Membantu keluarga mengunjungi pasien
secara teratur
◦ Membantu keluarga berbagi rasa
◦ Membahas rencana setelah masa berkabung cop
y

terlewati
righ
t
201

◦ Memberi informasi akurat tentang kebutuhan


0 by
putr
a

pasien dan keluarga. pas


bar
ww
w.ra
fani.
co.c
c
Merawat pasien yang hampir
meninggal
 Tugas utama dokter merawat pasien yang
hampir meninggal adalah memberikan
pertimbangan yang menghibur dan
melanjutkan bantuan.
 Tanda dari perawatan yang tepat :
- Berkunjung secara teratur
- Mempertahankan kontak mata
- Menyentuh dengan tepat
- mendengarkan apa yang dikatakan pasien dan
- mau menjawab pertanyaan dengan cara yang
menghargai.
 Paling penting  bersikap jujur dgn bijaksana.
 Perlu bertanya kepada pasien seberapa besar
keiinginan utk mengetahui penyakit dan
harapannya
 Pasien, keluarga dan anggota staf RS bervariasi
pengetahuannya tentang penyakit pasien.
 Hal ini dapat diklasifikasikan dalam :
 Pengetahuan terbuka (open awareness) 
Anggota staf RS, keluarga dan pasien jelas
diagnosis, pengobatan dan prognosis penyakit
 Pengetahuan saling berpura-pura (mutual
pretense awareness)mengetahui tetapi
pura-pura tidak tahu.
 Pengetahuan yang diduga-duga (suspected
awareness) Pasien menduga-duga.
 Pengetahuan tertutup (Closed
awareness) semua orang mengetahui
kec. Pasien.

Jika bisa ditoleransi oleh semua yang


berkepentingan  pengetahuan terbuka
Intervensi keluarga
 Membangun hubungan dengan keluarga
 Mengijinkan anggota keluarga berbicara
ttg kehidupan mereka dan tekanan-
tekanan yang dialami
 Stress eksternal berat spt ancaman
kematian anggota keluarga  konflik bisa
membesar.
 Buka saluran komunikasi diantara keluarga
 Anggota keluarga takut membicarakan
dengan pasien ttg ancaman kematian
mengacaukan diri sendiri dan pasien,
 Pasien yg hampir meninggal tidak mau
membicarakan ancaman kematian
membebani keluarga.
 Mendorong masing-masing untuk
mengungkapkan perasaannya.
Sikap terhadap kematian dalam
siklus kehidupan
Dukacita, Berkabung dan Kehilangan.
- Istilah dukacita berkabung dan kehilangan
 reaksi psikologis seseorang yang
mengalami kehilangan bermakna.
- Dukacita  perasaan subjektif yg
dicetuskan oleh kematian seseorang yg
dicintai.
 Berkabung proses dimana dukacita
dihilangkan (ekspresi kemasyarakatan dari
perilaku dan tindakan setelah kehilangan,
 Kehilangan suatu keadaan ditinggalkan
oleh seseorang akibat kematian, dan
berkenaan dengan didalam keadaan
berkabung.
Jenis berduka
1. Dukacita normal
Perasaan, perilaku, dan reaksi yang normal
2. Dukacita antisipatif (anticipatory Grief)
Terjadi lebih dahulu berakhir pada saat terjadinya
kehilangan yang diperkirakan .
3. Dukacita patologis (abnormal)
Rentangan dukacita yang terlambat-sangat
kuat berkepanjangan ide bunuh diri.

Risiko tinggi :
- Kehilangan tiba-tiba / melalui keadaan
menakutkan
- Terisolasi secara sosial.
- Mereka yang bertanggung jawab atas
kematian (nyata atau kayalan).
- Mereka yang mempunyai riwayat
kehilangan yang traumatik,
- Mereka yang bergantung kepada orang
yang meninggal.
4. Dukacita yang ditunda, ditekan atau
disangkal.
 Tidak adanya ekspresi dukacita pada saat
kehilangan dimana hal tersebut biasanya
diperkirakan.
 Kemungkinan patogenik
Tempat perawatan orang yang hampir
meninggal
 Hospice care :
- Suatu tempat tinggal dimana diberikan
perawatan kepada pasien yang hampir
meninggal.
Tujuannya : kenyamanan fisik dan psikologis.
- Konsep : rasa kemanusiaan dari perawatan
terminal dengan menolong pasien yang
hampir meninggal dan keluarganya
melakukan pilihan terakhir dengan
bermartabat dan terkendali
- Berdasarkan tempat dibagi :
- Inpatient hospice
- Out patient hospice
 Ditangani multidisiplin : dokter, psikiater,
perawat, ahli gizi, rehabilitasi medik,
pekerja sosial, sukarelawan, rohaniawan.
 Kualitas interaksi  direfleksikan dalam
kemampuan tim  menyediakan layanan
yang optimal
MENINGGAL SECARA TERHORMAT

 MAKNA seseorang diperlakukan secara


manusiawi bahkan saat telah meninggal
sekalipun.
 RESPECT/ Rasa hormat  prinsip, individu
harus dihargai & perawatan yang dilakukan
dilandasi dengan prinsip tersebut.
PERSOALAN KONTROVERSIAL
 PEMBERIAN PERALATAN
PERPANJANGAN HIDUP
contoh : ventilator, resusitasi
kardiopulmoner, pemberian nutrisi enteral
atau parenteral .
 EUTANASIA
 DNR ( Do Not Resusitate)
Namun tetap ada upaya  memberikan
rasa nyaman, mengurangi rasa nyeri & rasa
sesak tetap dilakukan sampai saat terakhir
hidup penderita.
KESIMPULAN
 Perawatan paliatif bagi lansia menjelang
kematian  bagian penting dalam
pelayanan geriatri.
 Puncak perawatan paliatif  terjadinya
kematian.
 Pengelolaan kematian harus dikerjakan
dengan sebaik-baiknya
KESIMPULAN
 Perawatan bagi lansia menjelang kematian
 bagian penting dalam pelayanan
geriatri.
 Puncak perawatan paliatif  terjadinya
kematian.
 Pengelolaan kematian harus dikerjakan
dengan sebaik-baiknya