Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN KASUS

GANGGUAN BIPOLAR DAN


P E NYAL AHG UNA AN NA PZ A
D I A N K U R N I A DW I S A P U T R I

Pembimbing
dr. H. Jaya Mualimin, Sp.KJ, M.Kes

SMF Kesehatan Jiwa


Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
RSJD Atma Husada Mahakam
BAB 1 -ASSESMEN MEDIK KASUS
Data Medis Pasien Resume Psikiatri
Identitas Pasien : Resume IGD Psikiatri
• Nama : Tn. A Pasien datang bersama keluarga ke IGD Atma Husada
• Jenis Kelamin : Laki-laki Mahakam Samarinda pada tanggal 19 Februari 2019
• Usia : 30 tahun dengan tujuan rehabilitasi dengan riwayat pemakaian
• No. RM : 2019.02.00.36 sabu-sabu sejak tahun 2016. Pasien riwayat rehabilitasi
• Pekerjaan : Polisi pada tahun 2018 namun sampai saat ini masih
• Agama : Kristen mengkonsumsi sabu. Saat datang pasien dalam kondisi
• Mulai Rawat Inap : 19 Februari 2019 gelisah. Dari keterangan orang tua pasien, selama 3 hari
• Status Pernikahan : Belum Menikah sebelum masuk rumah sakit pasien tidak bisa tidur, selalu
• Pendidikan : SMA merasa gelisah, marah-marah, serta merusak barang-
• Tanggal Pemeriksaan : 05 Mei 2019 barang di rumah.
Identitas Penanggung Jawab : Keluhan Utama: Gelisah dan tidak bisa tidur sejak 3
• Nama : Tn. P hari SMRS.
• Jenis Kelamin : Laki – laki
• Hubungan : Ayah
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien laki-laki, duduk di depan pemeriksa dengan penampilan tampak rapi, tenang dan kooperatif.
• DM : Selamat sore pak, perkenalkan saya dian dokter muda. Bapak, saya bermaksud bertanya-tanya
sedikit tentang kondisi bapak hari ini. Dengan bapak siapa saya berbicara?
• Tn A : Sore mba, nama saya A
• DM : Bapak gimana kondisi bapak hari ini?
• Tn A : saya biasa-biasa aja mbak.
• DM : Baik, apakah sekarang ada keluhan bapak? Bagaimana perasaan bapak akhir-akhir ini?
• Tn. A : Keluhan tidak ada. Cuma rasanya masih malas untuk kemana-mana. Maunya tidur terus. Malas
disuruh-suruh.
• DM : Bapak saya dengar bapak lebih memilih untuk di ruangan ini aja ya daripada bergabung dengan
teman-teman yang lain? Kenapa seperti itu?
• Tn A :Ya, tidak apa-apa mba. Lebih enak disini daripada harus sama-sama mereka. Saya tidak suka
disuruh-suruh.
• DM : Oh begitu, bapak apa tidak kesepian jika sendiri aja diruangan terus?
• Tn A :Ya kadang kesepian. Cuma, saya lebih suka sendiri seperti ini.
• DM : Bapak bagaimana perasaan bapak sekarang? Masih mendengar bisikan-bisikan pak?
• Tn A : Sekarang sudah nda ada. Biasa aja mba, cuma ya kadang rasanya sedih.
• DM : Sedih kenapa bapak? Sudah sejak kapan sering merasa sedih?
• Tn A :Ya, memang dari dulu saya suka merasa sedih mbak. Sejak lebih 2 tahun terakhir ini kadang perasaan saya tiba-tiba
sedih. Rasanya kayak gelisah, takut sama yang saya lakukan. Sedih aja rasanya, kesepian seperti tidak punya siapa-siapa.
Kalau sudah sedih itu saya jadi malas melakukan apa-apa. Rasanya tidak mau ketemu orang, makan pun kadang malas.
Maunya di rumah saja sendirian.
• DM : Sejak 2 tahun ini apa bapak sering merasa perubahan mood yang tiba-tiba? Misalnya bapak dari senang-senang aja
langsung sedih?
• Tn A :Ya kadang. Kadang saya itu merasa sangat semangat untuk bekerja. Kalau sudah mucul semangatmnya saya itu
sampai bisa bergadang berjam-jam. Tapi, jeleknya saya itu saya suka loncat-locat kalau kerja. Kadang belum selesai ini, saya
sudah mau kerjakan yang itu lagi. Jadi kayak tidak fokus. Tapi selama lebih dari 2 tahun ini saya lebih sering merasa sedih.
Terutama kalau lagi berhenti tidak pakai. Rasanya stress pikiran tidak tenang. Pokoknya tidak enak.
• DM : Berubahnya moodnya bapak itu mulai terjadi saat bapak sudah pakai atau belum pak?
• Tn A : Sebelumnya sebenarnya saya itu sudah mulai ada kearah sana mbak. Jadi sebelum pakai saya sudah sering merasa
sedih, tidak ada semangat, kerjaan tidak ada yang beres. Jadi seperti tidak fokus. Tapi kadang itu saya tiba-tiba semangat
sendiri, seperti enak mau melakukan ini-itu. Kalau sudah muncul rasa semangat itu rasanya banyak yang mau saya kerjakan.
Itu semua kejadiaannya sebelum saya pakai.
• DM : Ingat tidak bapak apakah ada kejadian yang mengawali mood yang sering sedih sejak 2 tahun ini?
• Tn A : Saya orangnya sebenarnya tidak ada pernah punya masalah dalam bergaul. Saya mudah saja bergaul. Saya ini sering
diandalkan sama orang tua saya. Kadang saya merasa, agak beban dengan itu semua. Tapi ya, saya coba kuat untuk bisa jadi
seperti ayah saya. Saya itu kadang khawatir saya tidak bisa jadi seperti yang ayah saya mau. Ditambah lagi kan saya waktu
itu ada masalah dengan pasangan saya. Saya juga sering cekcok dengan kakak saya hanya karna masalah sepele. Kadang
saya ini bingung kenapa masalah ini begini. Saya coba jadi yang terbaik, coba buktikan ke orang-orang tapi hasilnya begini.
• DM : Jadi, apakah karena itu penyebab awal bapak pakai saat itu karena?
• Tn A : Awalnya memang itu karena diajak oleh teman. Pas itu saya lagi ada masalah sama pasangan saya. Saya
baru diputusin, jadi saya itu sedih betul. Kepikiran terus menerus. Tidak enak sekali. Rasanya hidup saya ini
sedih sekali. Baru kemudian ada teman saya menawarkan untuk pakai. Jadi lah awalnya saya coba-coba.
Akhirnya sampai sekarang tidak bisa lepas.
• DM : Kalau bapak sudah pakai itu rasanya bagaimana?
• Tn A : Rasanya semua masalah lupa mbak. Tidak ada lagi saya merasa sedih. Kayak lupa semua kalau saya
punya masalah. Saya juga rasanya jadi makin semangat kerja. Bisa kerjain macam-macam pokoknya. Rileks yang
saya rasakan. Enak semua rasanya di badan
• DM : Bapak sudah pernah coba berhenti?
• Tn A : Iya, sudah pernah. Beberapa kali saya coba berhenti. Tapi akhirnya kembali lagi. Kalau saya tidak pakai
itu rasanya stress, ada yang kurang. Badan saya tidak enak. Melakukan apa-apa semuanya serba salah. Maunya
marah-marah terus.
• DM : Berapa lama bapak coba tidak pakai? Selama 3 bulan itu, apa yang bapak lakukan untuk mengalihkan?
• Tn A : Paling lama saya tidak pakai itu 3 bulan.Ya, saya coba cari aktivitas. Coba dekatin diri ke Tuhan. Sering
ikut kegiatan kegamaaan. Sebenarnya saya pengen berhenti, kasian keluarga saya.
• DM : Selama disini, bagaimana dengan aktivitas sehari hari seperti makan, minum, ibadah dan mandi pak?
Apakah masih dilakukan secara mandiri?
• Tn A : Untuk makan saya kadang tidak bernafsu. Cuma kadang ya makan saja. Hari ini enak aja, mau saya
makan maupun minum. Untuk ibadah masih saya lakukan terus. Kalau mandi memang saya kadang malas.
Pengennya sekarang tidur saja. Malas melakukan apa-apa.
• DM : Apakah saat sedih ini atau sebelumnya ada usaha untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain?
• Tn A : Tidak ada kalau mau sakitin diri sendiri. Kalau sedih ya bawaaannya mau sendiri saja. Malas
bertemu dengan siapa-siapa.
• DM : Bapak kan kemarin ada sempat mendengari bisikan-bisikan, boleh dijelaskan bagaimana suaranya?
Apakah suaranya dari dalam kepala atau terdengar ditelinga? Kemudian suara laki-laki atau perempuan?
• Tn A : di telinga mbak, rasanya dekat suaranya. Biasanya muncul kalau mau saya tidur. Awalnya muncul
itu seperti bisikan kalau ibu saya yang di kemo itu bisa sembuh dengan bantuan dari roh kudus. Bisikan-
bisikannya itu sering saat saya mau tidur aja baru terdengar.
• DM : Apakah bapak hanya mendengar suara atau melihat sosoknya juga pak?
• Tn A : hanya suara saja mbak
• DM : Baik pak, kemarin bapak kesini diantar oleh siapa?
• Tn A : Sama orang tua saya.
• DM : Baik Bapak apakah ada yang ingin ditanyakan atau di sampaikan lagi?
• Tn A : tidak mbak
• DM : Baik Tn A terimakasih atas kerjasamanya, selamat sore
• Tn. A : sore mba.
Riwayat Penyakit Dahulu Susunan Keluarga saat ini
Pasien mulai menggunakan sabu-sabu pada
tahun 2016 dan menjalani rehabilitasi pada Susunan JK Umur Hubun Sifat
tahun 2018. keluarga gan
Riwayat Penyakit Keluarga 1.Tn. P L 63 tahun Ayah Keras dan
Tidak ada riwayat penyakit keturunan di tegas
dalam keluarga pasien, baik yang memiliki
2. Ny. J P 55 tahun Ibu Tegas dan
tanda-tanda atau gejala seperti pasien maupun
kelainan medis yang lain. Pengertian

Genogram 3. Ny. I P 33 tahun Anak Keras


4.Tn A L 30 tahun Anak Penyendiri
3.Tn A L 23 tahun Anak Penyendiri

Gambaran Premorbid
Rasa percaya diri yang sangat tinggi namun tidak diikuti
dengan kemampuan pertahanan diri saat dalam kondisi
mengalami masalah.
Riwayat Pribadi
• Riwayat sekolah : Pasien bersekolah hingga tamat
Masa kanak-kanank awa (0-3 tahun) SLTA dan berlanjut sekolah pendidikan khusus
• Riwayat prenatal, kehamilan, dan kelahiran secara untuk polisi air. Pasien tidak memiliki masalah
pervaginam. Tidak ada penyulit selama kehamilan berkaitan dengan pelajaran selama bersekolah.
dan persalinan. • Riwayat psikoseksual : Selama sekolah pasien
• Perkembangan awal : Selama bayi, pasien dalam mengaku tidak pernah melakukan hubungan
keadaan sehat dan tidak ada riwayat trauma dan seksual
kejang demam. Pertumbuhan dan
• Masalah emosi remaja : Emosi pasien sering
perkembangannya normal seperti anak lainnya.
berubah terutama sejak 2 tahun terakhir.
Masa kanak-kanak pertengahan (3-11 tahun)
• Latar belakang agama : Semua anggota keluarga
• Pasien menghabiskan masa kanak-kanak bersama pasien beragama Kristen.
orang tuanya. Pasien sulit bergaul dengan teman
sebayanya dan cenderung menutup diri. Masa dewasa
Masa kanak-kanak akhir (pubertas sampai • Riwayat pekerjaan : pasien sudah bekerja. Pasien
remaja) mengaku bisa mengikuti seluruh pekerjaannya dan
• Hubungan dengan teman sebaya : Hubungan
senang dengan pekerjaannya.
dengan teman sebaya cukup baik namun tidak • Seksualitas dewasa : pasien belum menikah dan
bisa terbuka dengan orang lain saat memiliki tidak menjalin hubungan dengan lawan jenis saat
masalah ini.
Pemeriksaan Fisik Status Neurologis
• GCS : E4 V5 M6
• Keadaan Umum: Penampilan rapi, tenang dan
• Refleks fisiologis : Belum dievaluasi
kooperatif
• Refleks patologis : Belum dievaluasi
• Kesadaran : Compos mentis
• Meningeal sign : Belum dievaluasi
• Tanda vital : TD=130/90 mmHg, t= 36,4oC Pemeriksaan Psikiatri
N=86x/menit, RR= 20x/menit, • Kesan Umum : Tampak rapi, kooperatif, tenang

• Kepala : Ikterus (-/-), sianosis (-/-), • Kontak :Verbal (+), visual (+)
anemis (-/-) • Kesadaran : Komposmentis
• Orientasi : Orientasi waktu (+), tempat (+),
• Leher : Tidak terdapat benjolan orang (+)
• Dada : Simetris kiri & kanan • Atensi/Konsentrasi: Atensi (+)
• Jantung : S1S2 tunggal reguler, murmur (-) • Emosi/Afek : Mood stabil, afek tampak sedih,
kesesuaian (+)
• Paru :Vesikular (+/+), whe (-/-),
• Proses Berpikir : Koheren, linier, waham (-)
rho (-/-) • Intelegensi : Ingatan baik, pengetahuan baik
• Peru : Soefl, bising usus normal • Persepsi : Halusinasi auditorik (+), ilusi (-)

• Anggota gerak : Akral hangat, ekstremitas • Psikomotor : Dalam batas normal

lengkap • Kemauan : Activity Daily Living (ADL) mandiri


Pemeriksaan Penunjang 13. Penatalaksanaan
• Laboratorium Darah Lengkap: hasil Non farmakologi
normal • Psikoedukasi keluarga
• Psikoterapi suportif
12. Diagnosis Multiaksial • Pasien di rawat di rumah sakit (MRS)
• Axis I : F.15 (Gangguan mental untuk menjalani rehabilitasi
dan perilaku akibat penggunaan Farmakologi
stimulansia lain) + F. 32.1 ( Episode • Merlopam 2x1 mg
depresi sedang)
• Depakote 500 mg (1-0-0)
• Axis II : Ciri kepribdaian tertutup
• Sertraline 50 mg (1-0-0)
• Axis III : Tidak ada diagnosis
• Clozapine 25 mg 0-0-1
• Axis IV :-
• Axis V : GAF scale 70-61
Catatan Rawat Inap Pasien
19 Februari 2019 22 Februari 2019
• S : pasien tenang, emosi stabil, bisa • S : pasien tenang, emosi stabil, bisa
diarahkan. diarahkan.
• O : TD 103/60 mmHg • O : TD 130/80 mmHg
•A : F.15 + F.32.1 • A : F.15 + F.32.1
• P : •P :
• Haldol 5 mg 2 x ½ • Pre detoksifikasi
• Merlopam 2 mg 2 x1 • Pro MMPI Test
• Sertraline 50 mg 1-0-0 • Pro EEG
• Haldol 5 mg 2 x ½
• Merlopam 2 mg 2 x1
• Sertraline 50 mg 1-0-0
Catatan Rawat Inap Pasien
3 Maret 2019 4 Maret 2019 -31 Maret 2019
• S : mual (+) muntah (+) • S : Halusinasi (+), emosi stabil.
• O : TD 120/70 mmHg •O : TD 110/80 mmHg
• A : F.15 + F.32.1 • A : F.15 + F.32.1
• Domperidon 2x1 • Haldol 5 mg 2 x ½
• Ranitidin 2x1 • Merlopam stop pada tangal 10
• Haldol 5 mg 2 x ½ maret 2019
• Merlopam 2 mg 2 x1 • Clozapin 2 mg 0-0-1
• Sertraline 50 mg 1-0-0 • Sertraline 50 mg (1-0-0)
Catatan Rawat Inap Pasien
1 April-4 Mei 2019
• S : Halusinasi sudah tidak ada. Emosi
stabil
• O : TD 120/80 mmHg
•A : F.15 ++ F.32.1
• Clozapin 2 mg 0-0-1
• Haldol 5 mg 2 x ½
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A NG G UA N B I P O L AR -DEFI NI SI

• Gangguan bipolar merupakan gangguan jiwa bersifat episodik dan ditandai oleh
gejala-gejala manik, hipomanik, depresi dan campuran, biasanya
rekuren serta dapat berlangsung seumur hidup.
• Ada empat jenis GB tertera di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders V-Text Revision (DSM-V TR) yaitu GB I, GB II. gangguan siklotimia, dan GB
yang tak dapat dispesifikasikan.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A NG G UA N B I P O L AR -ET I OLOGI

Faktor biologi : NE, Serotonin, dopamin

Faktor genetik  1 orang tua dengan gangguan mood, anaknya akan


memiliki risiko antara 10-25% untuk menderita gangguan mood. Jika
kedua orang tuanya menderita gangguan mood, maka kemungkinannya
menjadi 2 kali lipat.

Faktor psikososial stressor yang dipicu oleh lingkungan. Stressor


pertama perubahan biologik otak yang sifatnya bertahan lama 
perubahan berbagai neurotransmitter
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A NG G UA N B I P O L AR -M ANI FESTA SI K L I NI S
Terdapat dua pola gejala dasar pada Gangguan bipolar yaitu, episode depresi dan episode mania

Episode mania Episode depresi Mayor


• Grandiositas atau percaya diri berlebihan • Mood depresif atau hilangnya minat atau rasa
senang
• Berkurangnya kebutuhan tidur
• Menurun atau meningkatnya berat badan atau
• Cepat dan banyaknya pembicaraan nafsu makan
• Lompatan gagasan atau pikiran berlomba • Sulit atau banyak tidur
• Perhatian mudah teralih • Agitasi atau retardasi psikomotor
• Kelelahan atau berkurangnya tenaga
• Peningkatan energi dan hiperaktivitas
• Menurunnya harga diri
psikomotor
• Ide-ide tentang rasa bersalah, ragu-ragu dan
• Meningkatnya aktivitas bertujuan (social, menurunnya konsentrasi
seksual, pekerjaan dan sekolah) • Pesimis
• Tindakan-tindakan sembrono (ngebut, • Pikiran berulang tentang kematian, bunuh diri
boros, investasi tanpa perhitungan yang (dengan atau tanpa rencana) atau tindakan
matang). bunuh diri.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A NG G UA N B I P O L AR -M ANI FESTA SI K L I NI S

Episode Campuran Episode Hipomanik


Paling sedikit satu minggu pasien Paling sedikit empat hari, secara menetap, pasien
mengalami episode mania dan mengalami peningkatan mood, ekspansif atau
irritable yang ringan, paling sedikit terjadi gejala
depresi yang terjadi secara
(empat gejala bila mood irritable) yaitu:
bersamaan. Misalnya, mood
• Grandiositas atau meningkatnya kepercayaan diri
tereksitasi (lebih sering mood
disforik), iritabel, marah, serangan • Berkurangnya kebutuhan tidur
panic, pembicaraan cepat, agitasi, • Meningkatnya pembicaraan
menangis, ide bunuh diri, insomnia • Lompat gagasan atau pemikiran berlomba
derajat berat, grandiositas, • Perhatian mudah teralih
hiperseksualitas, waham kejar dan • Meningkatnya aktifitas atau agitasi psikomotor
kadang-kadang bingung.
• Pikiran menjadi lebih tajam
• Daya nilai berkurang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A NG G UA N B I P O L AR -DIAG NOSI S

Gangguan Bipolar I Gangguan bipolar I, episode manic sekarang ini


Gangguan bipolar I, episode manic tunggal • Saat ini dalam episode manic
• Hanya mengalami satu kali episode manic • Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami
dan tidak ada rwayat depresi mayor satu kali episode manik, depresi, atau campuran.
sebelumnya. • Episode mood pada kriteria A dan B bukan
• Tidak bertumpang tindih dengan skizoafektif dan tidak bertumpang tindih dengan
skizofrenia, skizofreniform, skizoafektif, skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham,
Gangguan waham, atau dengan Gangguan atau dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat
psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan. diklasifikasikan.
• Gejala-gejala tidak disebabkan efek • Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek
fisiologik langsung zat atau kondisi medic fisiologik langsung zat atau kondisi medik
umum umum.
• Gejala mood menyebabkan penderitaan • Gejala mood menyebabkan penderitaan yang
yang secara klinik cukup bermakna atau secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam social, menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan
pekerjaan dan aspek fungsi penting dan aspek fungsi penting lainnya.
lainnya.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A NG G UA N B I P O L AR -DIAG NOSI S

Gangguan Bipolar I Gangguan bipolar I, episode hipomanik saat ini


Gangguan bipolar I, episode campuran saat ini • Saat ini dalam episode hipomanik
• Saat ini dalam episode campuran
• Sebelumnya, paling sedikit, pernah
• Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami
mengalami episode manik, depresi atau satu episode manic atau campuran
campuran
• Gejala mood menyebabkan penderita yang
• Episode mood pada kriteria A dan B tidak
dapat dikategorikan skizoafektif dan tidak secara klinik cukup bermakna atau hendaya
bertumpang tindih dengan skizofrenia, social, pekerjaan atau aspek fungsi penting
skizifreniform, Gangguan waham, atau
Gangguan psikotik yang tidak diklasifikasikan lainnya
• Gejala-gejala tidak disebabkan efek oleh • Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat
fisiologik langsung zat atau kondisi medik dikategorikan sebagai skizoafektif dan tidak
umum
bertumpang tindih dengan skizofrenia,
• Gejala mood menyebabkan penderitaan
yang secara klinik cukup bermakna atau skizofreniform, Gangguan waham, dan dengan
menimbulkan hendaya dalam social, Gangguan psikotik yang tidak dapat
pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya.
diklasifikasikan.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A NG G UA N B I P O L AR -DIAG NOSI S

Gangguan Bipolar I Gangguan bipolar I, Episode Yang tidak dapat


diklasifikasikan saat ini
Gangguan bipolar I, episode depresi saat ini
• Kriteria, kecuali durasi, saat ini, memenuhi
• Saat ini dalam episode depresi mayor
kriteria untuk manik, hipomanik, campuran atau
• Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami episode depresi.
episode manik dan campuran
• Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami
• Episode mood pada kriteria A dan B tidak
satu episode manik atau campuran.
dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan
tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, • Episode mood pada kriteria A dan B tidak dapat
skizofreniform, Gangguan waham, dan dengan dikategorikan sebagai skizoafektif dan tidak
Gangguan psikotik yang tidak dapat bertumpang tindih dengan skizofrenia,
diklasifikasikan. skizofreniform, Gangguan waham, atau dengan
• Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik Gangguan psikotik yang tidak dapat
langsung zat atau kondisi medik umum diklasifikasikan di tempat lain.
• Gejala mood menyebabkan penderitaan yang • Gejala mood menyebabkan penderitaan yang
secara klinik cukup bermakna atau secara klinik cukup bermakna atau menimbulkan
menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan, hendaya dalam social, pekerjaan, atau aspek fungsi
atau aspek fungsi penting lainnya. penting lainnya.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A NG G UA N B I P O L AR -DIAG NOSI S
Gangguan Bipolar II Pengelompokkan PPDGJ
• Satu atau lebih episode depresi mayor yang disertai • F31 Gangguan Afek bipolar
dengan paling sedikit satu episode hipomanik. • F31.0 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Klinik
Hipomanik
Gangguan Siklotimia • F31.1 Gangguan afektif Bipolar, Episode kini Manik
Tanpa Gejala Psikotik
• Paling sedikit selama dua tahun, terdapat
• F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik
beberapa periode dengan gejala-gejala dengan gejala psikotik
hipomania dan beberapa periode dengan
gejala-gejala depresi yang tidak memenuhi • F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif
Ringan atau Sedang
criteria untuk Gangguan depresi mayor.
Untuk anak-anak dan remaja durasinya • F31.4 gangguan afektif bipolar, episode kini depresif
paling sedikit satu tahun. berat tanpa gejala psikotik
• Selama periode dua tahun di atas penderita • F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif
Berat dengan Gejala Psikotik
tidak pernah bebas dari gejala-gejala pada
kriteria A lebih dari dua bulan pada suatu • F31.6 Gangguan Afektif Bipolar Campuran
waktu. • F31.7 Gangguan Afektif Bipolar, kini dalam Remisi
• Tidak ada episode depresi mayor, episode • F31.8 Gangguan Afektif Bipolar Lainnya
manik, episode campuran, selama dua tahun • F31.9 Gangguan Afektif Bipolar YTT.
gangguan tersebut
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A NG G UA N B I P O L AR -DIAG NOSI S B A NDI NG

Skizofrenia

Depresi berat

Intoksikasi obat

Hiper dan hipotiroid

Skizoafektif
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A NG G UA N B I P O L AR -TATA L A KSA NA

Episode mania
atau hipomania • Antidepresan
• Mood stabilizer
• Mood Stabilizer • Antipsikotik atipikal
• Antipsikotik atipikal • Mood stabilizer +
• Mood stabilizer + antidepresan
antipsikotik atipikal. • Antipsikotik atipikal +
antidepresan1
Farmakoterapi
Episode
depresi
Table 1 Penatalaksanaan kedaruratan agitasi akut.

Lini I • Injeksi IM Aripiprazol efektif untuk pengobatan agitasi pada pasien dengan episode mania atau
campuran akut. Dosis adalah 9,75mg/injeksi. Dosis maksimum adalah 29,25mg/hari (tiga kali
injeksi per hari dengan interval dua jam). Berespons dalam 45-60 menit.
• Injeksi IM Olanzapin efektif untuk agitasi pada pasien dengan episode mania atau campuran
akut. Dosis 10mg/ injeksi. Dosis maksimum adalah 30mg/hari. Berespons dalam 15-30 menit.
Interval pengulangan injeksi adalah dua jam. Sebanyak 90% pasien menerima hanya satu kali
injeksi dalam 24 jam pertama. Injeksi lorazepam 2 mg/injeksi. Dosis maksimum Lorazepam 4
mg/hari. Dapat diberikan bersamaan dengan injeksi IM Aripiprazol atau Olanzapin. Jangan
dicampur dalam satu jarum suntik karena mengganggu stabilitas antipsikotika

• Injeksi IM Haloperidol yaitu 5 mg/kali injeksi. Dapat diulang setelah 30 menit. Dosis maksimum adalah 15
Lini II
mg/hari.
• Injeksi IM Diazepam yaitu 10 mg/kali injeksi. Dapat diberikan bersamaan dengan injeksi haloperidol IM.
Jangan dicampur dalam satu jarum suntik.
Tabel 2 Terapi mania.

Lini I Litium, divalproat, olanzapin, risperidon, quetiapin, quetiapin XR,


aripiprazol, litium atau divalproat + risperidon, litium atau divalproat +
quetiapin, litium atau divalproat + olanzapin, litium atau divalproat +
aripiprazol

Lini II Karbamazepin, ECT, litium + divalproat, paliperidon


Lini III Haloperidol, klorpromazin, litium atau divalproat haloperidol, litium +
karbamazepin, klozapin

Tidak Gabapentin, topiramat, lamotrigin, risperidon


direkome + karbamazepin, olanzapin + karbamazepin
ndasikan
Tabel 3 Penatalaksanaan episode depresi akut.

Lini I Litium, lamotrigin, quetiapin, quetiapin XR, litium atau divalproat +


SSRI, olanzapin + SSRI, litium + divalproat

Lini II Quetiapin + SSRI, divalproat, litium atau divalproat + lamotrigin

Lini III Karbamazepin, olanzapin, litium + karbamazepin, litium atau divalproat +


venlafaksin, litium + MAOI, ECT, litium atau divalproat atau AA + TCA, litium
atau divalproat atau karbamazepin + SSRI + lamotrigin, penambahan topiramat

Tidak direkomendasikan Gabapentin monoterapi, aripiprazol monoterapi


Tabel 4 Terapi rumatan GB I.1
Lini I Litium, lamotrigin monoterapi, divalproat, olanzapin, quetiapin, litium
atau divalproat + quetiapin, risperidon injeksi jangka panjang (RIJP),
penambahan RIJP, aripirazol
Lini II Karbamazepin, litium + divalproat, litium + karbamazepin, litium atau
divalproat + olanzapin, litium + risperidon, litium + lamotrigin,
olanzapin + fluoksetin
Lini III Penambahan fenitoin, penambahan olanzapin,
penambahan ECT, penambahan topiramat,
penambahan asam lemak omega-3, penambahan okskarbazepin
Tidak Gabapentin, topiramat atau antidepresan monoterapi
direkomen
dasikan
Tabel 5 Terapi akut depresi, GB II.1 Tabel 6 Terapi Rumatan GB II.1
Lini I Litium, lamotrigin Lini I Quetiapin
Lini II Divalproat, litium atau divalproat atau Lini II Litium, lamotrigin, divalproat, litium atau
antipsikotika atipik + antidepresan, divalproat + antidepresan, litium + divalproat,
kombinasi dua dari: litium, lamotrigin, antipsikotika atipik + antidepresan
divalproat, atau antipsikotika atipik Lini Antidepresan monoterapi (terutama untuk
Lini III Karbamazepin, antipsikotika atipik, III pasien yang jarang mengalami hipomania)
ECT
Tidak Gabapentin
direkomend
asikan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A NG G UA N B I P O L AR -TATA L A KSA NA

Terapi psikososial

• Terapi kognitif
• Terapi interpersonal
Nonfarmakoterapi • Terapi perilaku
• Terapi berorientasi
psikoanalitik
• Terapi keluarga
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A N G G U A N P E N YA L A H G U N A A N N A P Z A - D E F I N I S I

NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain)  bahan/zat/obat


yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh
terutama otak/susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan
kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan,
ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi)
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A N G G U A N P E N YA L A H G U N A A N N A P Z A - K L A S I F I K A S I

Golongan depresan  mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis


ini menbuat pemakainya merasa tenang, pendiam dan bahkan
membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri. Golongan ini
termasuk Opioida (morfin, heroin/putauw, kodein), Sedatif
(penenang), hipnotik (otot tidur), dan tranquilizer (anti cemas)

Golongan stimulan  merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan


kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif, segar
dan bersemangat. Zat yang termasuk golongan ini adalah :
Amfetamin (shabu, esktasi), Kafein, Kokain.

Golongan halusinogen  menimbulkan efek halusinasi yang bersifat


merubah perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya
pandang yang berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu.
Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis. Golongan ini
termasuk : Kanabis (ganja), LSD, Mescalin
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A N G G U A N P E N YA L A H G U N A A N N A P Z A - FA K T O R

Faktor
Faktor Teori Faktor
psiko-
genetik perilaku neurokimia
dinamik
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A N G G U A N P E N YA L A H G U N A A N N A P Z A - G E J A L A K L I N I S

Perubahan fisik :

• Pada saat menggunakan NAPZA: jalan sempoyongan, bicara pelo


(cadel), apatis (acuh tak acuh), mengantuk, agresif,curiga
• Bila kelebihan dosis (overdosis): nafas sesak, denyut jantung dan
nadi lambat, kulit teraba dingin, nafas lambat/berhenti, meninggal.
• Bila sedang ketagihan (putus zat/sakau): mata dan hidung berair,
menguap terus menerus, diare, rasa sakit diseluruh tubuh, takut
air sehingga malas mandi, kejang, kesadaran menurun.
• Pengaruh jangka panjang, penampilan tidak sehat, tidak peduli
terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi tidak terawat dan
kropos, terhadap bekas suntikan pada lengan atau bagian tubuh
lain (pada pengguna dengan jarum suntik)
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A N G G U A N P E N YA L A H G U N A A N N A P Z A - G E J A L A K L I N I S

Perubahan sikap :
• Prestasi sekolah menurun, sering tidak mengerjakan tugas sekolah, sering membolos,
pemalas, kurang bertanggung jawab.
• Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi hari, mengantuk dikelas atau
tempat kerja.
• Sering berpegian sampai larut malam, kadang tidak pulang tanpa memberi tahu lebih
dulu
• Sering mengurung diri, berlama-lama dikamar mandi, menghindar bertemu dengan
anggota keluarga lain dirumah.
• Sering mendapat telepon dan didatangi orang tidak dikenal oleh keluarga,kemudian
menghilang
• Sering berbohong dan minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tak jelas
penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau milik
keluarga, mencuri, terlibat tindak kekerasan atau berurusan dengan polisi.
• Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, marah, kasar sikap bermusuhan,
pencuriga,tertutup dan penuh rahasia.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A N G G U A N P E N YA L A H G U N A A N N A P Z A - D I A G N O S I S

F10. Gangguan Mental dan perilaku akibat penggunaan alkohol

F 11. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan opioid

F 12. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kanaboida

F 13. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan sedativa atau hipnotika

F 14. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kokain

F 15. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan stimulansia lain termasuk kafein

F 16. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan halusinogenika


BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A N G G U A N P E N YA L A H G U N A A N N A P Z A - S A S A R A N
TERAPI

Perbaikan dalam fungsi


psikologi dan penyesuaian
Mengurangi fungsi sosial dalam masyarakat.
frekuensi dan
keparahan relaps.

Abstinensia atau
mengurangi
penggunaan NAPZA
bertahap sampai abstinensia
total.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA G A N G G U A N P E N YA L A H G U N A A N N A P Z A - TA H A PA N
TERAPI

Fase terapi
lanjutan
Fase terapi • Tergantung pada
detoksifikasi keadaan klinis, strategi
terapi harus ditekankan
• Rawat inap dan rawat jalan kepada kebutuhan
Fase penilaian • Intensive out – patient individu agar tetap bebas
(assesment phase) treatment obat atau menggunakan
• Terapi simptomatik program terapi subtitusi
• Rapid dotoxification, ultra (seperti antagonis –
rapid detoxification naltrexon, agonis
• Detoksifikasi dengan metadon, atau partial –
menggunakan: kodein dan agonisbrupenorfin.
ibuprofen, klonidin dan Umumnya terapi yang
naltrexon, buprenorfin,
metadon baik berjalan antara 24
sampai 36 bulan.
TERIMA K ASIH