Anda di halaman 1dari 20

BUNUH BAYI

DISUSUN OLEH :
Yetti Trisnawati

Pembimbing :

dr. Nasrun, S.H


I. PENDAHULUAN

Bunuh bayi ( Infantisida ) adalah


pembunuhan yang dilakukan oleh
seorang ibu atas anaknya ketika
dilahirkan atau tidak berapa lama
setelah dilahirkan, karena takut
ketahuan ia melahirkan.
Pengaturan KUHP

Bunuh Bayi
• Pasal 341 KUHP
• Pasal 342 KUHP
KUHP tentang Pembunuhan Anak
Pasal 341 : Seorang ibu karena takut akan ketahuan melahirkan
anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian,
dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena
membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama 7
tahun.

Pasal 342 : Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yan


ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa ia akan
melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama
kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena
melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana, tindak
pidana penjara paling lama 9 tahun.
Tiga Unsur Penting Pada Bunuh Bayi
1. Si pelaku haruslah ibu kandung korban
2. Alasan pembunuhan ialah karena takut ketahuan akan
melahirkan anak
3. Pembunuhan segera dilakukan pada saat anak dilahirkan
atau tidak berapa lama kemudian
MOTIF BUNUH BAYI
• Anak yang tidak sah
• Orang tua yang terlalu miskin
• Tabu (anggapan bahwa bagi
perempuan dianggap kurang
berarti)
Pemeriksaan Kedokteran Forensik
1. Apakah Bayi Lahir Hidup atau Mati

Pemeriksaan
1. Bentuk Dada
2. Tinggi Diafragma
3. Perubahan pada Paru
4. Tes Apung Paru
Perubahan pada Paru
Belum Pernah Bernafas
• Volumenya kecil dan terletak rapat disepanjang tulang
belakang.
• Gambarannya hitam, dan padat seperti jaringan hati,
tidak tampak pembuluh darah pada permukaannya.
• Tidak ada tanda-tanda pada iga.
• Jaringan paru tidak mengalami krepitasi jika ditekan.
• Jika jaringan paru diremas didalam air akan
mengeluarkan gelembung, akibat proses dekomposisi
gas.
• Tidak ada vesikel udara yang pada permukaan paru.
Perubahan pada Paru
Sudah Pernah bernafas
• Volumenya 4 sampai 6 kali lebih besar. Bagian
Jantung ada yang tertutup jaringan paru.
• Gambarannya merah atau merah jambu, dan pada
perabaan seperti spons.Pembuluh darah tampak
pada permukaan paru.
• Terlihat tanda yang jelas pada iga.
• Jaringan paru mengalami krepitasi.
• Gelembung udara yang keluar kecil-kecil dan
berukuran sama. Gelembung ini berasal dari udara
inspirasi
• Pada permukaan paru bisa tampak vesikel udara.
Pemeriksaan FORENSIK pada Bayi

1. Lahir Hidup atau Lahir Mati ?


• Lahir Hidup (Live birth) : keluar atau dikeluarkannya
hasil konsepsi yang lengkap, yang setelah pemisahan,
bernapas atau menunjukkan tanda kehidupan lain
tanpa mempersoalkan usia gestasi, sudah atau
belumnya tali pusat dipotong dan plasenta dilahirkan
• Lahir Mati (Still Birth) : kematian hasil konsepsi
sebelum keluar atau dikeluarkan dari ibunya, tanpa
mempersoalkan usia kehamilan (baik sebelum ataupun
setelah kehamilan berumur 28 minggu dalam
kandungan)
Kematian ditandai oleh :
Janin yang tidak bernapas atau tidak menunjukkan
tanda kehidupan lain, seperti denyut jantung, denyut
nadi tali pusat, atau gerakan otot rangka
Test Apung Paru
Syarat : Belum ada pembusukan lanjut.

Test Apung Paru POSITIF :

Bayi pernah bernafas karena adanya udara residu dalam aveoli.

Test Apung Paru NEGATIF :

• Bayi lahir tak pernah bernafas


• Adanya pernafasan yang dangkal kemudian diserap jaringan paru.
• Bayi sudah mengalami pembusukan tingkat lanjut.
• Uji Apung Paru
oJika paru tenggelam, si anak dianggap lahir mati
sedangkan apabila mengapung berarti si anak lahir
hidup
oDilakukan dengan teknik tanpa sentuh (no touch
technique)
2. Apakah terdapat tanda perawatan?
• Tali Pusat
o Tali pusat telah terikat, diputuskan dengan gunting atau pisau lebih
kurang 5 cm dari pusat bayi dan diberi obat antiseptik
o Kadang ibu menyangkal pembunuhan → partus presipitatus
o Partus presipitatus → Tali pusat akan terputus dekat perlekatannya
pada uri atau pusat bayi dengan ujung yang tidak rata
Penyebab Kematian ?
Paling sering : Asfiksia Mekanik
Seperti : penjeratan, pencekikan dan pembekapan serta
membenamkan ke dalam air :
Yang harus di perhatikan :
• Adanya tanda-tanda mati lemas ?
• Keadaan mulut dan sekkitarnya ?
• Keadaan di daerah leher dan sekitarnya ?
• Adanya luka-luka tusuk atau luka sayat ?
• Adanya tanda-tanda terendam seperti tubuh yang basah dan
berlumpur, telapak tangan dan telapak kaki yang pucat dan keriput
?
Bila sudah ditemukan tanda-tanda bayi lahir hidup
(sudah bernapas), maka harus ditentukan penyebab
kematiannya. Bila terbukti bayi lahir mati (belum
bernapas) maka ditentukan sebab lahir mati atau sebab
mati antenatal atau sebab mati janin (fetal death).

Budiyanto A, dkk. Pembunuhan Anak Sendiri dalam Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Kedokteran Forensik FKUI.
1997:hal.165-76.
Perbedaan antara Trauma Lahir dengan Kekerasan
pada Kepala
Cidera Kepala pada Persalinan Cedera kepala akibat benturan

• Memar terdapat pada bagian • Memar tedapat di mana saja


kepala yang menonjol. pada bagian tubuh.
• Jarang terjadi laserasi, kecuali • Pada kulit kepala tampak
jika digunakan forceps. laserasi.
• Fraktur pad tulang tengkorak • Fraktur pada tulang tengkorak
hanya berupa retakan, biasanya jenis comminuted
biasanya pada tulang parietal dan depressed.
dan arahnya menuju ke • Sering ditemukan adanya
bawah. kontusio, laserasi dan
• Jarang disertai dengan cedera perdarahan.
Kesimpulan
• Pembunuhan anak sendiri adalah pembunuhan yang dilakukan
ibu kandungnya sendiri dan alasan atau motivasi untuk
melakukan kejahatan tersebut adalah karena si ibu takut
ketahuan bahwa ia telah melahirkan anak, oleh karena anak
tersebut adalah sebagai hasil hubungan gelap, yang dilakukan
ketika dilahirkan atau tidak berapa lama setelah dilahirkan.
• Penyebab kematian pada pembunuhan anak sendiri adalah mati
lemas (asfiksia). Cara paling sederhana, konvensional, dan
paling sering pada kasus pembunuhan anak sendiri adalah
dengan pembekapan. Pembekapan dapat dilakukan dengan
meletakkan tangan pada muka, menutup hidung dan mulut
dengan benda misalnya dengan bantal atau meletakkan korban
pada kantung plastik.
Terima Kasih