Anda di halaman 1dari 22

REFARAT

ENSEFALITIS TOKSOPLASMA
PADA ODHA

Disusun Oleh:
Lisnasari
1765050113
Pembimbing:
dr. Marijanty Learny, Sp.S
Acquired Immune kumpulan gejala penyakit
Deficiency yang disebabkan oleh Human
Syndrome (AIDS) Immunodeficiency Virus
(HIV).

Infeksi yang disebabkan oleh


parasit protozoa intraseluler.
Orang yang imunokompeten
dengan infeksi primer.
Toksoplasmosis
Toxoplasma gondii biasanya
tanpa gejala
ETIOLOGI

AIDS HIV

ENZIM REVERSE
LIMFOSIT
TRANSCRIPTASE
T HELPER
Infeksi oportunistik
infeksi yang timbul akibat penurunan
kekebalan tubuh.

infeksi ini dapat timbul karena mikroba (


bakteri, jamur, virus) yang berasal dari luar
tubuh, maupun yang sudah ada dalam tubuh
manusia namun dalam keadaaan normal
terkendali oleh kekebalan tubuh.
TOXOPLASMOSIS

• Toxoplasma gondii merupakan parasit


intraseluler yang menyebabkan infeksi
asimtomatik pada 80 % manusia sehat, tetapi
menjadi berbahaya pada ODHA.

• Toxoplasmosis pada ODHA terbanyak


disebabkan oleh reaktivasi infeksi laten.
Pada manusia infeksi toxoplasmosis gondii
melalui makanan dapat terjadi melalui dua
mekanisme :
• makanan yang tercemar ookista yang berasal
dari tinja kucing
• melalui daging yang mengandung kista
jaringan akibat kurang matang dimasak.
Life cycle of Toxoplasma gondii. The cat is the definitive host in which the sexual phase of the cycle is completed. Oocysts
shed in cat feces can infect a wide range of animals, including birds, rodents, grazing domestic animals, and humans. The
bradyzoites found in the muscle of food animals may infect humans who eat insufficiently cooked meat products,
particularly lamb and pork. Although human disease can take many forms, congenital infection and encephalitis from
reactivation of latent infection in the brains of immunosuppressed persons are the most important manifestations. CNS,
central nervous system. (Courtesy of Dominique Buzoni-Gatel, Institut Pasteur, Paris; with permission.)
• Ensefalitis toksoplasma (ET) merupakan
manifestasi utama toksoplasmosis pada
ODHA.
• Bila tidak medapat terapi profilaksis, ODHA
dengan serologi toksoplasma positif
mempunyai kemungkinan 30-50 % untuk
menderita ensefalitis toksoplasmosis.
Gejala klinis
• Demam, sakit kepala, deficit neurologic fokal
dan penurunan kesadaran merupakan
manifestasi klinis utama dari ensefalitis
toksoplasma.
• Hemiparesis merupakan deficit fokal yang
paling sering dijumpai  40-50 % kasus
• Kejang sebagai gejala utama dijumpai pada
15-30 % kasus.
• Gejala lain adalah ataksia dan gangguan
lapangan pandang.
Diagnosis
• Diagnosis presumtif ensefalitis toxoplasmosis
berdasarkan gejala klinis neurologi yang
progresif pada ODHA dengan nilai CD4 < 200
sel/µl dan disertai gambaran neuro imaging
(CT/MRI) yang sesuai.
• Pemeriksaan MRI lebih sensitive daripada CT
scan dalam menemukan lesi ensefalitis
toksoplasmosis.
Toxoplasmic encephalitis in a 36-year-old patient with AIDS. The multiple lesions are
demonstrated by magnetic resonance scanning (T1 weighted with gadolinium
enhancement). (Courtesy of Clifford Eskey, Dartmouth Hitchcock Medical Center,
Hanover, NH; with permission.)
Pemeriksaan serologi
• T gondii serologi berguna untuk
mengidentifikasi pasien terinfeksi HIV pada
risiko toksoplasmosis berkembang.
• Tes serologi yang digunakan umumnya paling
mendeteksi keberadaan anti-T gondii IgG
dan IgM
• Pada ensefalitis toksoplasma biasanya
dijumpai IgG yang positif, sedangkan IgM
negatif
• Antara 97% dan 100% dari pasien terinfeksi
HIV dengan ensefalitis toksoplasma memiliki
antibodi IgG anti-T gondii.
• IgG titer puncak dalam 1-2 bulan setelah
infeksi
Penatalaksanaan
• Standar terapi ensefalitis toksoplasma kombinasi
pirimetamin dan sulfadiazine.
• Keduanya bersifat aktif terhadap bentuk takizoit yang
menyebabkan kelainan patologik pada ensefalitis
toksoplasma, namun tidak aktif terhadap bentuk
kista jaringan.
• Karena itu untuk mencegah kekambuhan, setelah
terapi fase akut selesai, harus dilanjutkan dengan
terapi rumatan jangka panjang.
• Asam folinat (leukoforin), harus ditambahkan dalam
regimen standar untuk mencegah efek samping
toksisitas pirimetamin pada system hematologi.
Rekomendasi terapi ensefalitis toxoplasma pada
ODHA
Fase akut (3-6minggu) Rumatan(profilaksis sekunder)

Pilihan pertama Pirimetamin oral 200 mg hari pertama, Pirimetamin oral 25-50 mg/hari +
selanjutnya 50-75 mg/hari + leukovarin oral leukovarin oral 10-20 mg/hari +
10-20 mg/hari + sulfadiazine oral 1000- sulfadiazine oral 500-1000 mg/hari
1500 mg/hari

Pilihan kedua Pirimetamin + leukovarin (dosis diatas) + Pirimetamin + leukovarin (dosis


klindamisin oral atau i.v 4 x 600 mg diatas) + klindamisin oral 4x 300-
450 mg
Piliha ketiga Pirimetamin + leukovarin (dosis di atas) + Pirimetamin + leukovorin (dosis di
salah satu : atovaquone oral 2 x 1500 mg, atas) + salah satu antibiotic
azitromisin oral 1x900-1200mg, tersebut dosis sama
klaritromisin oral 2x 500 mg, dapson oral
1x 100 mg, minosiklin oral 2 x 150-200 mg
• Terapi dapat dihentikan bila terjadi perbaikan
system imun yaitu bila nilai CD4 > 200 sel/µl
selama lebih dari 6 bulan.
• Terapi profilaksis diberikan kembali jika CD4
turun < 200 sel/µl.
• Bila CD4 < 100 sel/µl:
profilaksis dengan trimetoprim-
sulfametoksazole (960 mg) 1x1 tab namun bila
pasien alergi :
• Dapson oral + pirimetamin
• Dapson oral +pirimetamin + leukovorin
• Atovaquone oral +pirimatamin +leukovorin
TERIMA KASIH