Anda di halaman 1dari 19

PENGERTIAN

 Hukum perdata adalah hukum yang mengatur hubungan


hukum antara orang atau badan hukum yang satu dengan
yang lain dalam masyarakat dengan menitikberatkan pada
kepentingan perseorangan.

 Dari sisi fungsi, Hukum Perdata dibagi 2 (dua):


- Hukum Perdata Materiil, yaitu aturan hukum yang mengatur
hak dan kewajiban perdata;
- Hukum Perdata Formil, yaitu hukum yang mengatur
bagaimana cara melaksanakan hukum perdata materiil.
Sistematika Hk. Perdata
 MENURUT ILMU PENGETAHUAN / ILMU HUKUM:

Hukum Perorangan • tentang manusia sebagai subjek dalam hukum

• perihal hubungan-hubungan hukum yang timbul


Hukum Keluarga dari hubungan kekeluargaan

• perihal hubungan-hubungan hukum yang dapat


Hukum Kekayaan dinilai dengan uang.

• hal ikhwal tentang benda atau kekayaan


Hukum Waris seorang jikalau ia meninggal.

3
Sistematika Hk. Perdata
 MENURUT KUHPer / B.W. (BURGERLIJK WETBOEK):

Buku I : • memuat hukum tentang hak dan kewajiban


Tentang Orang; diri seseorang dan hukum kekeluargaan.

Buku II :
• memuat hukum perbendaan serta hukum waris.
Tentang Benda;

Buku III: • memuat hukum kekayaan, mengenai hak-hak dan kewajiban


yang berlaku terhadap orang-orang atau pihak-pihak tertentu
Tentang Perikatan; yang saling berhubungan.

Buku IV:
• memuat perihal alat-alat pembuktian dan akibat-akibat lewat
Tentang Pembuktian dan waktu terhadap hubungan-hubungan hukum.
Lewat Waktu (Daluwarsa)
4
 Buku I BW mengatur mengenai Subjek Hukum.

 Hakikat Subjek Hukum adalah penyandang hak


dan/atau kewajiban, jadi subjek hukum dapat memiliki
hak saja, atau memiliki kewajiban saja, atau keduanya
sekaligus sebagai penyandang hak dan kewajiban.

 Orang dalam Buku I BW disebut dengan subjek


hukum, yang terdiri dari:
 MANUSIA ( NATURLIJK PERSOON )
 BADAN HUKUM (RECHTS PERSOON )

5
N.E.Algra menyatakan setiap orang mempunyai hak dan kewajiban, yang
menimbulkan wewenang hukum (rechtsbevoegheid),

Subekti mengatakan bahwa subjek hukum adalah “pembawa hak atau


subyek di dalam hukum, yaitu orang”

Mertokusumo mengatakan bahwa subjek hukum adalah “segala sesuatu


yang dapat memperoleh hak dan kewajiban dari hukum”. Hanya manusia
yang dapat jadi subjek hukum.

Syahran mengatakan subjek hukum adalah “pendukung hak dan


kewajiban”
6
WUJUD SUBJEK HUKUM :
 MANUSIA ( NATURLIJK PERSOON )
Manusia adalah subjek hukum dalam arti
biologis, sebagai gejala alam, sebagai
makhluk budaya yang berakal, berperasaan,
berkehendak, dan memiliki hak serta
kewajiban sejak lahir hingga meninggal dunia.

 BADAN HUKUM (RECHTS PERSOON )


subjek hukum dalam arti yuridis, sebagai
gejala dalam hidup bermasyarakat,
sebagai perkumpulan ciptaan manusia
berdasarkan hukum, mempunyai hak dan
kewajiban seperti manusia.

7
√ Pasal 1 B.W.
Menikmati hak-hak kewarganegaraan tidak
tergantung pada hak-hak kenegaraan.
√ Pasal 2 B.W.
Anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan
dianggap telah lahir, setiap kali kepentingan si anak
menghendakinya. Bila telah mati sewaktu dilahirkan,
dia dianggap tidak pernah ada.
√ Pasal 3 B.W.
Tiada suatu hukuman pun yang mengakibatkan kematian
perdata, atau hilangnya segala hak-hak kewargaan.
8
BERKUMPUL-lah
BEDA MANUSIA DAN BADAN HUKUM

9
MANUSIA
Makhluk ciptaan Perkumpulan ciptaan
Tuhan, punya akal, manusia berdasarkan
perasaan, kehendak hukum, dapat
dan dapat mati; dibubarkan oleh
pembentuknya.

BADAN HUKUM
Mempunyai kelamin,
dapat kawin, dapat Tidak dapat kawin.
berkeluarga. Tidak dapat warisan.
Dapat menjadi ahli
waris.
Manusia Sebagai Subjek Hukum
√ Seorang manusia dinyatakan sebagai Subjek Hukum harus
memenuhi syarat dewasa atau sudah kawin.
√ Pengertian dewasa menurut B.W. adalah sebagai mana diatur
dalam Pasal 1330 yaitu “belum dewasa adalah mereka yang
belum mencapai umur genap 21 tahun, dan atau lebih dulu
telah kawin…”
√ Perkembangan menurut hukum internasional terkait dengan
pengertian anak adalah mereka yang belum genap berusia 18
tahun.
√ Orang yang telah dewasa dianggap “cakap” melakukan
perbuatan hukum, termasuk juga orang yang tidak berada
dibawah pengampuan.

11
Kecakapan di dalam hukum adalah
kewenangan dan kemampuan subjek hukum
untuk melakukan perbuatan hukum dan
bertindak dalam hubungan keperdataan
secara sendiri.
ORANG YANG DINYATAKAN TIDAK CAKAP UNTUK MELAKUKAN
PERBUATAN HUKUM ADALAH:
(Pasal 1330 B.W.)

• Orang-orang yang belum dewasa (belum mencapai usia 21 tahun), orang yang
belum dewasa ini seluruh perbuatan hukumnya diwakili oleh orang tua atau
walinya.
• Orang ditaruh dibawah pengampuan (curatele) yang terjadi karena gangguan
jiwa, pemabuk, pemboros, kurang cerdas. Orang dibawah pengampuan
seluruh perbuatan hukumnya diwakili oleh pengampunya.
• Orang wanita dalam hal-hal yang ditetapkan oleh UU, misalnya penjualan harta
bersama dalam perkawinan yang dilakukan oleh istri harus mendapat
persetujuan dari suami. Tanpa persetujuan suami maka seorang istri dapat
dianggap tidak cakap.
• Orang-orang yang UU memperbolehkan atau melarangnya. Misalnya, menurut
UU Perseroan Terbatas (PT), yang dapat mewakili perbuatan hukum PT
adalah Direktur, maka pegawai selain Direktur dianggap tidak cakap mewakili
PT jika tidak ada pemberian kuasa dari Direktur.
Pengampuan adalah keadaan orang yang telah dewasa yang
disebabkan sifat-sifat pribadinya dianggap tidak cakap mengurus
kepentingannya sendiri atau kepentingan orang lain yang menjadi
tanggungannya, sehingga pengurusan itu harus diserahkan kepada
seseorang yang akan bertindak sebagai wakil menurut undang-undang
dari orang yang tidak cakap tersebut. Orang yang telah dewasa yang
dianggap tidak cakap tersebut disebut curandus, sedangkan orang
yang bertindak sebagai wakil dari kurandus disebut pengampu
(curator).
(Pasal 433-462 B.W.)
Yang dapat ditempatkan di bawah pengampuan adalah orang yang
telah dewasa yang berada dalam keadaan keborosan.

Sedangkan, yang wajib ditempatkan di bawah pengampuan adalah


orang yang telah dewasa, yang selalu berada dalam keadaan:
a. dungu (Belanda: onnozelheid, Inggris: imbecility);
b. sakit ingatan (Belanda: krankzinnigheid, Inggris: lunacy); atau
c. mata gelap (Belanda: razernij, Inggris: rage).
? Apakah orang yang telah dewasa, yang
berada dalam keadaan dungu, sakit
ingatan, atau mata gelap juga wajib
ditempatkan di bawah pengampuan
apabila orang ini kadang-kadang cakap
menggunakan pikirannya?
≠ Akibat ditaruhnya seseorang di bawah pengampuan, perbuatan-
perbuatan hukum yang dilakukannya setelah itu semuanya batal demi
hukum.
≠ Pengadilan akan mengangkat seorang pengampu.
≠ Pengampuan berakhir apabila sebab-sebab yang mengakibatkannya
telah hilang.
“Kurang cerdas” dapat diperbaiki dengan belajar,

“Kurang cakap” dapat dihilangkan dengan pengalaman,

Namun “tidak jujur” sulit diperbaiki.

18