Anda di halaman 1dari 15

GIGANTISME

 Kelenjar hipofisis anterior → GH (growth hormon)


 Ada beberapa kelainan sekresi hormon
pertumbuhan, diantaranya panhipopituitarisme,
dwarfisme, gigantisme, dan akromegali
Definisi

Gigantisme

kondisi seseorang yang ditandai


dengan adanya kelebihan
pertumbuhan, dengan tinggi dan
besar diatas normal yang
disebabkan oleh sekresi Growth
Hormone (GH) berlebihan dan
terjadi sebelum dewasa atau
sebelum proses penutupan epifisis
Epidemiologi

 Gigantisme sangat jarang dijumpai.


 Di Eropa, setiap tahunnya hanya dilaporkan 3-4
kasus dari 1 juta penduduk.
 Di Indonesia juga sangat jarang.
 Terjadi pada anak-anak 6-15 tahun.
 Tidak ada perbedaan insidens yang bermakna antara
laki-laki dan perempuan.
Etiologi

 Adenoma hipofisis → hormon pertumbuhan yang


berlebihan
 Karna kelainan hipotalamus yg mengarah pada
pelepasan GH secara berlebihan
Manifestasi Klinik

 frontal bossing  Memiliki gangguan


 Prognatism penglihatan
 nafsu makan yang  Kelemahan dan sensasi
berlebihan kesemutan di lengan dan
 gambaran wajah yang
kaki
kasar dan pembesaran  Hiperglikemi → DM
tangan dan kaki  Sakit kepala
 Jari-jari tangan dan kaki  Lidah menebal
menebal
 Bertubuh tinggi lebih
dari 2 meter
Pemeriksaan diagnostik

 Laboratorium
 Pemeriksaan GH
 Pemeriksaan IGF-1

 Radiologi :
 CT-Scan

 MRI
Penatalaksanaan

 Tujuan pengobatan adalah:


 Menormalkan tubuh kembali kadar GH atau IGF1/SM-C
 Memperkecil tumor atau menstabilkan besarnya tumor

 Menormalkan fungsi hipofisis

 Mencegah komplikasi akibat kelebihan kadar GH/IFG1


atau SM-C akibat pembesaran tumor.
 Dalam hal ini dikenal 3 macam terapi, yaitu:
Terapi pembedahan adalah cara pengobatan utama.
 Dikenal 2 macam pembedahan tergantung dari besarnya
tumor yaitu:
1. Bedah makro dengan melakukan pembedahan pada batok kepala (TC
atau Trans Cranial) dan
2. Bedah mikro (TESH/ Tans Ethmoid Sphenoid Hypophysectomy).
Cara terakhir TESH ini dilakukan dengan cara pembedahan melalui
sudut antara celah intra orbita dan jembatan hidung antara kedua mata
untuk mencapai tumor hipofisis.
3. Indikasi radiasi adalah sebagai terapi pilihan secara tunggal, kalau
tindakan operasi tidak memungkinkan dan menyertai tindakan
pembedahan atau masih terdapat gejala aktif setelah terapi
pembedahan dilakukan.
Terapi medikamentosa :
digunakan jika pembedahan tidak berhasil dengan baik.
1. Octreotide ( (long acting somatostatin analogue)
 Cara pemberian melalui subkutan. Dosis: dosis rata-rata
adalah 100-200 mikrogram diberikan setiap 8 jam.
Perbaikan klinis yang dicapai.
a) Menurunkan kadar HP menjadi dibawah 5
mikrogram/ 1 pada 50 kasus
b) Menormalkan kadar IGF1/ SM-C pada 50% kasus
c) Penyusunan tumor
 Efek samping: ringan dan mempunyai sifat sementara
yaitu nyeri local/di daerah suntikan dan kram perut.
2. Bromocriptine (agonis dopamin)
 Dianjurkan memberikan dosis 2,5 mg sesudah makan
malam, dan dinaikkan secara berkala 2,5 mg setiap 2-4
hari. Perbaikan klinis yang dicapai antara lain adalah:
a) Ukuran tangan dan jari mengecil, dan
b) Terjadi perbaikan gangguan toleransi glukosa
 Efek samping yang terjadi adalah vaso spasme digital,
hipotensi ortostatik, sesak nafas ringan, nausea,
konstipasi, dll.

3. Lanreotide
4. Cabergoline
5. pegvisomant
Komplikasi

 Obstruksi jalan nafas atas disertai sleep apnea


(henti nafas saat tidur)
 Diabetes melitus atau intoleransi glukosa terganggu
 Carpal Tunnel Syndrome
Prognosis

 Pada pasien gigantisme tergantung pada lamanya


proses kelainan berlangsung dan besarnya tumor.
Referensi

 Repository USU
 FK UNAIR