Anda di halaman 1dari 34

BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNLAM/RSUD ULIN


BANJARMASIN
2019
 Jumlah anak di Indonesia adalah
sepertiga penduduk Indonesia atau
sekitar 85 juta anak.
 Masih banyak pola pikir dan perilaku
yang menjadikan anak sebagai
obyek dan properti orang dewasa
 Norma perlindungan anak dan hak
anak belum banyak dipahami dan
belum dipraktekkan.
 UUD Negara RI pasal 28 B ayat 2 :
”Setiap anak berhak atas
kelangsungan hidup, tumbuh, dan
berkembang serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi”
 UU No 23 Tahun 2002 tentang
Perindungan Anak
Non diskriminasi
Kepentingan terbaik baik bagi
anak
Hak hidup, kelangsungan hidup
dan perkembangan
Mendengarkan pendapat anak
Anak adalah seseorang yang belum
berusia 18 (delapan belas) tahun,
termasuk anak yang masih dalam
kandungan
 (UU PA 23/2002 Pasal 1 ayat 1)
physical abuse
(kekerasan
secara fisik)
social abuse
sexual (kekerasan
(kejahatan) secara social)
secara seksual)
psychological
abuse (kekerasan
secara psikologis)

Bentuk Child Abuse, Suharto (1997 : 365-366)


Hasil Riset KPAI, pada tahun 2012 di 9 Provinsi di Indonesia
 Kasus anak kelas 1 SD “menganiaya”
temannya hingga meninggal, Makassar,
April 2014
 Kasus Renggo yang meninggal terindikasi
mengalami kekerasan di sekolah oleh
temannya, Jakarta Timur, Mei 2014
 Kasus guru menggigit hidung muridnya,
Kudus Jawa Tengah, April 2014
 Kasus murid dicubit 34 teman sekolahnya
atas instruksi guru karena terlambat,
Bandung, Maret 2014
 Kasus murid dihukum makan cabe di
Sekolah Swasta Jakarta, Maret 2014
 Di Jakarta Timur Akhir Oktober 2013, bayi 9
bulan meninggal karena diperkosa dan
disodomi pamannya. Vaginanya robek hingga
menembus rahim dan anusnya melebar.
 Di Jambi Februari 2013, bayi 9 bulan diperkosa
tetangga (18 th) yang sudah beristri,
kemaluannya sampai berdarah.
 ECPAT terjadi kenaikan 450 % kejahatan
seksual online selama 4 tahun. Hingga 2012
jumlah kasus 18.000 kasus.
 KPAI tahun 2014 bahwa 90 % anak pelaku
tindak pidana kekerasan seksual di Lapas
Anak Nusa Tenggara Timur mengaku terbiasa
melihat konten pornografi.
 Fakta kekerasan anak
memperlihatkan bahwa dari 1026
responden anak, tercatat:
 91% responden anak mengaku masih
mendapatkan perlakuan tindak
kekerasan di keluarga.
 87,6% responden anak mengaku
mengalami tindak kekerasan di
lingkungan sekolah
 17,9% responden anak yang pernah
mengalami bentuk perlakuan
kekerasan di masyarakat.
Hasil Riset KPAI, pada tahun 2012 di 9 Provinsi di Indonesia
14 jenis perilaku kekerasan anak dalam lingkungan keluarga
yakni :
 menjewer,
 mencubit,
 menendang,
 memukul dengan tangan,
 memukul dengan benda,
 menghukum hingga jatuh sakit,
 melukai dengan benda berbahaya, kekerasan fisik,
 membandingkan dengan saudara,
 membentak dengan suara keras,
 menghina di hadapan teman atau orang lain,
 menyebut “bodoh”, “pemalas”, “nakal”,
 mencap dengan sebutan jelek/jahat,
 kekerasan psikis lainnya.
 Pelaku kekerasan terhadap anak dalam
lingkungan keluarga adalah orang-orang
terdekat anak. 51,1% ibu terlibat menjadi
pelaku kekerasan dalam bentuk mencubit
anak, 48,1% ayah melakukan kekerasan dalam
bentuk membentak anak dengan suara
keras/kasar, 16,4% saudara melakukan
kekerasan dengan cara memukul dengan
tangan.
Hasil Riset KPAI, pada tahun 2012 di 9 Provinsi di Indonesia
 Teridentifikasi 4 jenis perilaku kekerasan yang
dialami anak dalam lingkungan pendidikan
yakni menjewer, mencubit, membentak
dengan suara keras, menghina di hadapan
teman atau orang lain.
 Pelaku kekerasan terhadap anak dalam
lingkungan pendidikan adalah adalah guru,
teman sekelas dan teman lain kelas, ditemukan
fakta, 31,8% guru pernah menjewer anak,
49,1% teman sekelas pernah mencubit anak,
dan 20,7% teman lain kelas menghina anak
dihadapan teman lainnya.
RINCIAN TABEL DATA
KASUS PENGADUAN ANAK BERDASARKAN KLASTER PERLINDUNGAN ANAK
KOMISI PERLINDUNGAN ANAK INDONESIA
TAHUN 2011 - 2014

TAHUN
NO KLASTER / BIDANG JUMLAH
2011 2012 2013 2014
1 Sosial dan Anak Dalam Situasi Darurat 92 79 246 87 504
2 Keluarga dan Pengasuhan Alternatif 416 633 931 452 2432
3 Agama dan Budaya 83 204 214 59 560
4 Hak Sipil dan Partisipasi 37 42 75 47 205
5 Kesehatan dan Napza 221 261 438 216 1136
6 Pendidikan 276 522 371 249 1480
7 Pornografi dan Cyber Crime 338 175 247 196 806
8 ABH dan Kekerasan 188 530 420 432 1511
a Kekerasan Fisik 129 110 291 142 669
b Kekerasan Psikis 49 27 127 41 244
Kekerasan Seksual (Pemerkosaan, Sodomi,
c 329 746 590 621 2286
Pencabulan, Pedofilia)
9 Trafficking dan Eksploitasi 160 173 184 93 610
10 Lain-Lain 10 10 173 78 271
TOTAL 2178 3512 4311 2713 12714
Keterangan Data : Januari 2011 – Agustus 2014

Sumber Data :
1. Pengaduan Langsung, Surat, Telp, Email
2. Pemantauan Media (Cetak, Online, Elektronik)
3. Hasil Investigasi Kasus
4. Data Lembaga Mitra KPAI Se-Indonesia

Komisi Perlindungan Anak Indonesia


Bidang Data Informasi dan Pengaduan 2014
RINCIAN TABEL DATA
KASUS PENGADUAN ANAK BERDASARKAN KLASTER PERLINDUNGAN ANAK
KOMISI PERLINDUNGAN ANAK INDONESIA
TAHUN 2011 - 2014
TAHUN
NO KLASTER / BIDANG JUMLAH
2011 2012 2013 2014
6 Pendidikan
a Tawuran Pelajar 20 71 52 36 179
b Diskiminasi Pendidikan / Intimidasi 69 53 41 32 195
c Sarana & Prasarana Sekolah Kurang 50 66 60 41 217
d Bulliying (Kekerasan di Sekolah) 61 130 91 87 369
e Anak Membolos Sekolah 5 8 14 5 32
f Anak Putus Sekolah (Drop Out) 11 21 15 12 59
g Tidak Lulus Ujian Nasional (UN) 58 103 5 2 168
Anak Korban Kebijakan (Pungli di Sekolah,
h Penyegelan Sekolah, Tidak Boleh Ikut Ujian, 60 63 56 23 202
dsb)
Media Pembelajaran / Buku Pelajaran Yang
i 4 7 37 11 59
Tidak Mendidik
TOTAL 338 522 371 249 1480
Keterangan Data : Januari 2011 - Agustus 2014

Sumber Data :
1. Pengaduan Langsung, Surat, Telp, Email
2. Pemantauan Media (Cetak, Online, Elektronik)
3. Hasil Investigasi Kasus
4. Data Lembaga Mitra KPAI Se-Indonesia

Komisi Perlindungan Anak Indonesia


Bidang Data Informasi dan Pengaduan 2014
RINCIAN TABEL DATA
KASUS PENGADUAN ANAK BERDASARKAN KLASTER PERLINDUNGAN ANAK
KOMISI PERLINDUNGAN ANAK INDONESIA
TAHUN 2011 - 2014
TAHUN
NO KLASTER / BIDANG JUMLAH
2011 2012 2013 2014
8 ABH dan Kekerasan
a Kekerasan Fisik 126 110 291 142 669
b Kekerasan Psikis 49 27 127 41 244
Kekerasan Seksual (Pemerkosaan, Sodomi,
c 329 746 590 621 2286
Pencabulan, Pedofilia)
d Pembunuhan 50 132 127 168 477
e Pencurian 15 118 92 89 314
f Penculikan 32 75 68 48 223
g Kecelakaan Lalu Lintas 14 161 97 76 348
h Bunuh Diri 12 35 17 23 87
i Aborsi 6 9 19 28 62
j Kepemilikan Senjata Tajam 0 25 45 55 125
k Penganiayaan / Pengeroyokan / Perkelahian 61 32 22 74 189
TOTAL 633 1413 1428 1236 4710
Keterangan Data : Januari 2011 - Agustus 2014

Sumber Data :
1. Pengaduan Langsung, Surat, Telp, Email
2. Pemantauan Media (Cetak, Online, Elektronik)
3. Hasil Investigasi Kasus
4. Data Lembaga Mitra KPAI Se-Indonesia

Komisi Perlindungan Anak Indonesia


Bidang Data Informasi dan Pengaduan 2014
1. Orang tua mengalami perlakuan salah atau trauma
pada masa anak-anak.
2. Orang tua yang agresif dan emosional.
3. Orang tua tunggal.
4. Pernikahan dini dan belum siap secara emosional
dan ekonomi.
5. Sering terjadi KDRT.
6. Kemiskinan dan tidak mempunyai pekerjaan.
7. Jumlah anak banyak dan keluarga besar.
8. Adanya konflik dengan hukum.
9. Ketergantungan obat, alkohol, atau sakit jiwa.

Hasil Monitoring dan Telaah KPAI, pada tahun 2012 di 9 Provinsi di Indonesia
1. Orang tua tidak mempunyai konsep
pola asuh
2. Pemenuhan kebutuhan tidak hanya
fisik tetapi psikis
3. Ada kasih sayang perhatian yang
hilang pada masa golden age
4. Pola komunikasi yang satu arah
5. Pemenuhan kebutuhan tidak seimbang
6. Keluarga broken home
7. Profil pelaku cybercrime
• Sistem dan peraturan sekolah tidak
memiliki perspektif perlindungan anak:
metode pengajaran yang lebih banyak
ceramah
• Guru dan penyelenggara sekolah
belum memiliki paradigma tentang
perlindungan anak, guru lebih banyak
mengajar daripada mendidik
• Guru belum memahami UU
Perlindungan Anak
• Punishment lebih sering dari reward;
• Siswa yang melakukan kekerasan dipicu oleh
permasalahan yang dibawa dari rumah.
• Sistem BK di sekolah masih bersifat penanganan
terhadap anak yang bermasalah, seharusnya
BK juga bekerja untuk pencegahan dari awal
dan memetakan permasalahan setiap anak,
sehingga sekolah mengetahui bagaimana
riwayat keluarga.
• Anak didik masih menjadi objek pendidikan,
belum menjadi subjek pendidikan
1. Orangtua tidak memiliki konsep pengasuhan
2. Kurang mendapat ”kasih sayang” psikis dan
psikologi di rumah
3. Anak tidak menemukan jati diri di rumah
sehingga mencari pengakuan di luar rumah.
4. Ingin diakui sebagai anggota kelompok
5. Waktu luang yang tidak dimanfaatkan
dengan baik.
6. Masyarakat acuh tak acuh dan kurang
sensitif pada kewaspadaan komunitas
Kekerasan anak secara seksual, dapat
berupa perlakuan pra kontak seksual
antara anak dengan orang yang lebih
besar (melalui kata, sentuhan, gambar
visual, exhibitionism), maupun
perlakuan kontak seksual secara
langsung antara anak dengan orang
dewasa (incest, perkosaan, eksploitasi
seksual)
Paparan pornografi menjadi pemicu
kuat tindakan kejahatan seksual
87% anak mengakses situs porno
secara tidak sengaja
53% mengakses di rumah sendiri
Penggunaan akses internet tanpa filter
Kominfo dan Bareskrim Polri sendiri
kesulitan mengakses situs-situs
pembobol
 Kasus JIS: Awal April 2014, Anak usia dini/TK
menjadi korban kekerasan seksual oleh
petugas cleaning service di sekolah
internasional.
 Kasus Sukabumi: Awal Mei 2014, 110 anak
menjadi korban sodomi yang dilakukan oleh 1
orang pelaku.
 Kasus Cirebon: Anak usia 9 tahun menjadi
pelaku kejahatan seksual.
 Kasus Emon Tegal dengan korban lebih dari
100 anak, Mei 2014
 Kejahatan seksual guru perempuan kepada
murid laki-laki (3,5 tahun) di TK Internasional di
Jakarta Utara (Mei 2014)
FAKTA TENTANG ANAK MENGAKSES
PORNOGRAFI

 Survey Perhimpunan Masyarakat Tolak


Pornografi (MTP) terhadap 1.178 siswa SMA
di DKI Jakarta pada tahun 2006
menunjukkan bahwa para pelajar yang
mengakses pornografi disebabkan karena
dua hal; dorongan dari teman sebaya dan
media pornografi yang bebas.
 Kekerasan seksual meningkat akibat dari
menonton pornografi
 Addictive: Membuat orang kecanduan,
perpustakaan pornografi, pelanggan abadi,
 Escalation: Meminta lebih
 Desensitization: Tidak sensitif terhadap
kejahatan seksual
 Act out: butuh pelampiasan

Cline: 1986 (Psikolog Amerika yang meneliti Bahaya Pornografi)


 Tontonan kita tidak ramah anak, tidak
sesuai dengan usia anak
 Kekerasan yang ada di film menjadi
lumrah, biasa, dan wajar jika ditiru
PENGOBATAN DAN 1. Layanan Medis
LAYANAN 2. Pemeriksaan
KESEHATAN Medikolegal
(KURATIF) 3. Layanan
Psikosial
4. Rujukan

PENANGANAN
KORBAN

REHABILITASI SOSIAL,
PEMULANGAN, PENEGAKAN HUKUM
REINTEGRASI SOSIAL
 Dilema, antara tabu dan kriminal
 Dilaporkan
 Menyembunyikan identitas korban
 Disembuhkan secara integratif
sehingga tidak berpotensi menjadi
pelaku lain
 Orang tua tetap mendampingi
 Memperbaiki pola komunikasi dan
pengasuhan
 Menciptakan lingkungan yang ramah
untuk anak
 Mendampingi proses pemulihan psikologis
 Mendampingi proses reintegrasi di
masyarakat sekolah
 Membangun kepercayaan diri anak dan
menyalurkan bakat minatnya
TERIMA
KASIH