Anda di halaman 1dari 35

MATA PELAJARAN

PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM & BUDI PEKERTI

Meniti Hidup
dengan
Kemuliaan
Oleh : Farid Usman
Mata Pelajaran PAI & BP
Mata Pelajaran PAI & BP

Cermati kisah berikut!


Hidup mulia atau mati syahid! Sebuah ungkapan
yang bermakna ajakan untuk hidup secara mulia atau
mati secara syahid. Jika direnungkan, ungkapan
tersebut memiliki makna yang sangat dalam. Hidup
mulia adalah dambaan setiap manusia ketika hidup di
dunia. Mati syahid adalah salah satu cara
mendapatkan anugerah Allah Swt. kelak di akhirat,
yaitu surga yang penuh dengan kenikmatan. Jadi,
hidup mulia danagar
yang beriman matiselalu
syahidberada
adalahdiungkapan yang
jalan Allah Swt. Agar lebih jelas
selalu memotivasi
memahami orangtersebut, cermatilah pengalaman hidup Nabi Yusuf
ungkapan
as. berikut ini.
Ketika usianya masih sangat belia, ia dicemplungkan dengan sengaja
ke sebuah perigi oleh saudara-saudaranya sendiri. Ia memang selamat
setelah ditemukan oleh serombongan kafilah. Namun, mereka membawa
Yusuf kecil ke Mesir dan menjualnya sebagai hamba sahaya. Untuk
beberapa lama ia pun hidup sebagai pembantu di rumah seorang
Mata Pelajaran PAI & BP

Sejalan dengan usianya yang tumbuh dewasa, ujian pun


mendatanginya. Istri si pejabat bersiasat merayu dan menggoda Si
Tampan Yusuf. Inilah ujian yang amat berat karena pada akhirnya, Yusuf-
lah yang kemudian menjadi tertuduh melakukan perbuatan mesum
kepada majikannya..
َ‫ن وَأَ ُكن ِّمن‬
َّ ‫ب إِّلَ ۡي ِّه‬ ۡ َ‫ن أ‬
ُ ‫ص‬ ُ ‫ف َعنِّي َك ۡي َد‬
َّ ‫ه‬ ۡ َ‫ه وَإِّ ََّّل ت‬
ۡ ‫ص ِّر‬ ِّ ِۖ ‫ي إِّلَ ۡي‬ َّ ‫ي ِّم‬
ٓ ِّ‫ما ي َۡد ُعونَن‬ ُّ ‫ن أَح‬
َّ َ‫َب إِّل‬ ُ ‫ٱلس ۡج‬
ِّ َ ‫َقا‬
ِّ‫ل رَب‬

َ َٰ ‫ۡٱل‬
٣٣ َ‫ج ِّه ِّلين‬
33. Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada
memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan
dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk
(memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang
yang bodoh“. Seperti yang kalian ketahui, Nabi Yusuf as. pun akhirnya
memang dipenjara. Inilah episode memilukan dari kehidupan manusia.
Mata Pelajaran PAI & BP

Apa yang selanjutnya terjadi terhadap Nabi Yusuf as., apakah ia


terpuruk dan tenggelam dalam kesengsaraan? Tidak! Tetapi lihatlah,
penjara justru menjadi batu ujian terhadap kenabian Yusuf as. Dan yang
lebih membahagiakannya adalah melalui episode itu, Allah Swt.
Mempertemukan kembali Yusuf dengan orang tua dan saudara-
saudaranya.
Catatlah tiga istilah kunci ini yaitu pengendalian diri, prasangka baik,
dan persaudaraan. Nabi Yusuf as. adalah sosok terpuji karena
kemampuannya mengendalikan diri untuk tidak memenuhi nafsu setan istri
seorang pejabat Mesir. Lagi, ia pun berhasil mengendalikan diri untuk
tidak secara semena- mena menuntut balas atas saudara-saudaranya
yang telah berbuat keji tehadap dirinya. Padahal, kalau mau sebagai
pejabat tinggi pasti sangat mudah baginya menuntut balas. Di saat-saat ia
menanggung cobaan berat dengan dibuang ke perigi, kemudian dilelang
sebagai hamba sahaya, dan dipenjara karena dituduh memerkosa, tidaklah
pernah ia berprasangka buruk kepada Allah Swt. atas takdir yang
Mata Pelajaran PAI & BP

Ia pun tidak menaruh prasangka buruk terhadap saudara-


saudaranya yang keji. Bahkan Nabi Yusuf as. memilih untuk
menghimpun mereka dalam keutuhan keluarga yang penuh
persaudaraan.

Aktivitas 1

Setelah kamu membaca kisah di atas, bagaimana pendapatmu tentang


kisah tersebut? Apa yang kamu lakukan jika hal tersebut menimpa
dirimu? Apakah akan menuruti “ajakan setan” untuk memenuhi hawa
nafsu ataukah melawannya dengan segala daya dan upaya?
Mata Pelajaran PAI & BP

Mengkritisi Sekitar Kita

Cermati gambar dan wacana berikut!

Sumber: Dok. Kemendikbud Sumber: Dok. Kemendikbud Sumber: Dok. Kemendikbud

Gambar 6.2 Gambar 6.3 Gambar 6.3


Alam adalah anugerah Allah Tetap berbaik sangka kepada Memberikan hadiah kepada
yang harus dijaga. Allah Swt. walaupun sedang orang lain sebagai tanda
sakit. persaudaraan.
Mata Pelajaran PAI & BP
Perhatikan berbagai gejala yang terjadi di masyarakat kita. Keserakahan manusia
dalam berbagai usaha eksploitasi alam, telah menimbulkan bencana yang
mengerikan, dan telah “membunuh” ribuan manusia. Tidak hanya oleh bencana alam,
kematian banyak manusia secara sia-sia juga disebabkan oleh penggunaan jalan raya
dengan semena-mena, konsumsi minuman dan obat- obatan terlarang, kekerasan dan
bentrokan antarkeyakinan, antardesa, dan bahkan antarsaudara.
Angka kriminalitas pun makin menanjak tinggi, berjalan secara paralel dengan
perilaku korupsi yang mungkin lebih tinggi. Pada sisi lain, sebagian masyarakat hidup
dengan perasaan sensitif, saling curiga, beringas, egois, dan individualis.
Semua hal tersebut di atas telah menimbulkan kerugian yang sangat luar
biasa. Kerugian tersebut tidak saja bersifat materi, tetapi juga nonmateri.
Kerugian materi berupa tingginya biaya hidup, biaya untuk berobat,
kehilangan sumber penghasilan, dan lain sebagainya mungkin dapat diatasi
dengan berbagai bantuan dari pihak lain. Akan tetapi, kerugian nonmateri,
seperti hilangnya rasa aman dan nyaman, hidup dalam ketakutan, hingga
hilangnya nyawa dengan sia- sia, tentu saja tidak dapat diganti atau dibayar
dengan benda yang sangat mahal sekalipun.
Mata Pelajaran PAI & BP

Oleh karena itu, untuk mencegah hal tersebut tidak ada jalan atau cara lain yang
harus ditempuh kecuali selalu menjalankan perintah agama serta aturan- aturan
yang berlaku di masyarakat, baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Berupa
peraturan-peraturan pemerintah, dan berupa nilai-nilai moral-etik yang ada di
masyarakat.

Aktivitas 2

Amati berbagai gejala di atas! Buatlah kemungkinan-kemungkinannya. Apa


penyebab semua fenomena itu dapat terjadi? Apa kemungkinan-
kemungkinan yang dapat kamu lakukan untuk mencegah atau mengurangi
semua itu?
Mata Pelajaran PAI & BP

A. Memahami Makna Pengendalian Diri, Prasangka Baik, Husnuẓẓan dan


Persaudaraan (Ukhuwah)
1. Pengendalian Diri (Mujāhadah an-Nafs)
Pengendalian diri atau kontrol diri (Mujāhadah an-Nafs) adalah menahan diri dari
segala perilaku yang dapat merugikan diri sendiri dan juga orang lain, seperti sifat
serakah atau tamak. Dalam literatur Islam, pengendalian diri dikenal dengan istilah
aś-śaum, atau puasa. Puasa adalah salah satu sarana mengendalikan diri. Hal
tersebut berdasarkan hadis Rasulullah saw. yang artinya: “Wahai golongan pemuda!
Barangsiapa dari antaramu mampu menikah, hendaklah dia nikah, kerana yang
demikian itu amat menundukkan pemandangan dan amat memelihara kehormatan,
tetapi barangsiapa tidak mampu, maka hendaklah dia puasa, kerana (puasa) itu
menahan nafsu baginya.” (H.R. Bukhari)
Jadi, jelaslah bahwa pengendalian diri diperlukan oleh setiap manusia agar dirinya
terjaga dari hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt.
Dapatkah kamu memberikan contoh perilaku yang menunjukkan sikap
pengendalian diri? Diskusikan dengan teman-temanmu.
Mata Pelajaran PAI & BP

2. Prasangka Baik (ḥusnuẓẓan)


Prasangka baik atau ḥusnuẓẓan berasal dari kata Arab, yaitu ḥusnu yang artinya
baik, dan ẓan yang artinya prasangka. Jadi, prasangka baik atau positive thinking
dalam terminologi Islam dikenal dengan istilah ḥusnuẓẓan. Istilah ḥusnuẓẓan adalah
sikap orang yang selalu berpikir positif terhadap apa yang telah diperbuat oleh
orang lain. Lawan dari sifat ini adalah buruk sangka (su’uẓẓan), yaitu menyangka
orang lain melakukan hal-hal buruk tanpa adanya bukti yang benar. Dalam ilmu
akhlak, ḥusnuẓẓan dikelompokkan ke dalam tiga bagian, yaitu ḥusnuẓẓan kepada
Allah Swt. ḥusnuẓẓan kepada diri sendiri, dan ḥusnuẓẓan kepada orang lain.
Prasangka baik adalah sifat yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang
yang beriman. Sebaliknya, prasangka buruk adalah sifat yang harus dijauhi dan
dihindari. Mengapa demikian? Dapatkah kamu menjelaskan dan mengemukakan
dampak positif dari perilaku ḥusnuẓẓan, serta dampak negatif dari perilaku su’uẓẓan?
Mata Pelajaran PAI & BP

3. Persaudaraan (ukhuwwah)
Persaudaraan (ukhuwwah) dalam Islam dimaksudkan bukan sebatas hubungan
kekerabatan karena faktor keturunan, tetapi yang dimaksud dengan persaudaraan
dalam Islam adalah persaudaraan yang diikat oleh tali aqidah (sesama muslim) dan
persaudaraan karena fungsi kemanusiaan (sesama manusia makhluk Allah Swt.).
Kedua persaudaraan tersebut sangat jelas dicontohkan oleh Rasulullah saw., yaitu
mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anṣar, serta menjalin hubungan
persaudaraan dengan suku-suku lain yang tidak seiman dan melakukan kerja sama
dengan mereka.
Mata Pelajaran PAI & BP

B. Ayat-Ayat al-Qur’ān tentang Pengendalian Diri, Prasangka Baik,


dan Persaudaraan (ukhuwah)
1. Q.S. al-Ḥujurāt/49:12
a. Lafal Ayat dan Artinya

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka,


sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari
kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing
sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”
Mata Pelajaran PAI & BP

Aktivitas 3
1. Bacalah ayat di atas dengan tartil sesuai dengan kaidah tajwid yang
benar. Lakukan bersama teman-teman sekelasmu secara berpasangan dan
bergantian.
2. Hafalkan ayat tersebut untuk memperkaya perbendaharaan hafalan ayat
dengan menggunakan bantuan alat perekam atau pun saling
memperdengarkan dengan sesama teman di kelas.
3. Hafalkan arti ayat di atas agar makin bertambahnya kecintaan kepada al-
Qur’an dan bertambah keimanan kepada Allah Swt.
4. Carilah ayat lain yang berhubungan dengan perilaku Husnussan!
Mata Pelajaran PAI & BP

b. Hukum Tajwid

Lafal Hukum Tajwid Lafal Hukum Tajwid

Mad Jāiz Munfaśil Idgām Mutamassilain

Alif Lam Syamsiyah Ikhfa’ Syafawi

Aktivitas 4
Temukanlah hukum tajwid lainnya yang terkandung di dalam ayat di atas.
Baik itu berupa mad, izhar, ikhfa’, iqlab, Idgam bigunnah, Idgam
bilagunnah, izhar syafawi, ikhfa’ syafawi, Idgam mutamassilain, dan
lainnya.
Mata Pelajaran PAI & BP
2. Q.S. al-Hujurāt/49:10
a. Lafal Ayat dan Artinya

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara


kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu
mendapat rahmat.”

Aktivitas 5
1. Bacalah ayat di atas dengan tartil sesuai dengan kaidah tajwid yang
benar.Lakukan bersama teman-teman sekelasmu secara berpasangan dan
bergantian.
2. Hafalkan ayat tersebut untuk memperkaya perbendaharaan hafalan
ayat dengan menggunakan bantuan alat perekam ataupun saling
memperdengarkan dengan sesama teman di kelas.
3. Hafalkan arti ayat di atas agar makin bertambahnya kecintaan kepada al-
Qur’an dan bertambah keimanannya kepada Allah Swt.
4. Carilah ayat lain yang berhubungan dengan perilaku persaudaraan.
Mata Pelajaran PAI & BP
b. Hukum Tajwid

Lafal Hukum Tajwid Lafal Hukum Tajwid

Alif Lam Syamsiyah Izhār Syafawi

Ikhfa’ Tafkhim

Aktivitas 6
Temukan hukum tajwid lainnya yang terkandung di dalam ayat di atas. Baik
itu berupa mad, izhar, ikhfa’, iqlab, Idgam bigunnah, Idgam bilagunnah,
izhar syafawi, ikhfa’ syafawi, Idgam mutamassilain, dan lainnya.
Mata Pelajaran PAI & BP

c. Kandungan Ayat
Pada ayat di atas Allah Swt. menegaskan ada dua hal pokok yang perlu diketahui.
Pertama, bahwa sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Kedua, jika
terdapat perselisihan antarsaudara, kita diperintahkan oleh Allah Swt. untuk
melakukan iślah (upaya perbaikan atau perdamaian).
Apakah indikasi dari suatu persaudaraan? Rasulullah saw. bersabda, “Demi
Allah yang menguasai diriku! Seseorang di antara kalian tidak dianggap beriman
kecuali jika dia menyayangi saudaranya sesama mukmin sama seperti dia
menyayangi dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari)
Selain itu Rasulullah saw. juga menegaskan, “Seorang muslim adalah orang yang
lidah dan tangannya tidak menyakiti muslim lain, dan orang yang berhijrah adalah
orang yang meninggalkan semua larangan Allah.” (H.R. Bukhari)
Mata Pelajaran PAI & BP

Aktivitas 7

Diskusikan dengan sesama temanmu. Bagaimana cara yang harus


dilakukan jika di kelasmu ada teman yang sedang “marahan” sehingga
antara teman yang satu dan yang lainnya tidak saling bertegur sapa dan
berinteraksi.
Mata Pelajaran PAI & BP

C. Hadis tentang Pengendalian Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan


1. Hadis tentang Pengendalian Diri
Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Orang yang perkasa bukanlah orang yang menang dalam perkelahian, tetapi orang
yang perkasa adalah orang yang mengendalikan dirinya ketika marah.” (H.R. Bukhari
dan Muslim)

2. Hadis tentang Prasangka Baik


Rasulullah saw. bersabda:

“Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka itu


adalah perkataan yang paling dusta.” (H.R. Bukhari)
Mata Pelajaran PAI & BP
3. Hadis tentang Persaudaraan
Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir ra. bahwa Rasulullah saw. Bersabda:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan


saling menyayangi, seperti satu tubuh. Apabila satu organ tubuh merasa sakit, akan
menjalar kepada semua organ tubuh, yaitu tidak dapat tidur dan merasa demam.”
(H.R. Muslim)

Aktivitas 8
Hafalkan ketiga hadis atau salah satu hadis hadis di atas berikut artinya.
Tuliskan hadis yang kamu hapalkan dan laporkan kepada gurumu.
Mata Pelajaran PAI & BP

Pesan-Pesan Mulia
Simaklah kisah berikut. Kemudian cermati secara saksama pelajaran yang
terkandung di dalamnya.
Kisah Habil dan Qabil
Qabil adalah salah seorang anak Nabi Adam as. yang bersaudara kembar dengan
Iqlima. Sementara Habil adalah anak Nabi Adam as. yang bersaudara kembar
dengan Labuda. Iqlima terlahir dengan paras yang cantik, sementara Labuda tidak
secantik Iqlima. Semua keturunan Nabi Adam as. hidup damai sampai mereka
dewasa.
Kemudian, turun perintah Allah Swt. agar Nabi Adam as. menikahkan anak-
anaknya. Allah Swt. memerintahkan agar anak yang terlahir sebagai saudara kembar
harus dinikahkan dengan anak kembar yang lain. Dengan ketentuan tersebut, Qabil
harus menikah dengan Labuda, dan Habil harus menikah dengan Iqlima.
Mata Pelajaran PAI & BP

Ketika Nabi Adam as. menyampaikan perintah tersebut, Qabil tidak menyetujuinya.
Pasalnya, sudah lama Qabil menyukai Iqlima. Dia menolak menikahi Labuda, dan tetap
akan menikahi Iqlima. Dengan bijak, Nabi Adam as. mengingatkan Qabil bahwa
ketentuan Allah Swt. harus ditaati. Namun, Qabil tetap pada kehendaknya untuk
menikahi Iqlima, saudara kembarnya yang lebih cantik. Akhirnya, dengan memohon
petunjuk Allah Swt. dengan bijaksana Nabi Adam as. memerintahkan Qabil dan Habil
untuk berkurban. Siapa pun yang kurbannya diterima oleh Allah Swt., segala kebutuhan
dan keinginannya akan dikabulkan oleh Allah Swt., termasuk keinginan Qabil untuk
menikahi Iqlima.
Setelah semuanya dirasa siap, Qabil dan Habil pun mempersembahkan kurbannya
masing-masing di atas bukit dengan disaksikan oleh semua anggota keluarga. Qabil
mempersembahkan hasil pertaniannya. Ia sengaja memilih gandum dari jenis yang
jelek. Habil mempersembahkan seekor kambing terbaik dan yang paling ia sayangi.
Kemudian, dengan perasaan berdebar-debar, mereka menyaksikan dari jauh. Tak lama
berselang, tampak api besar menyambar kambing persembahan Habil, sedangkan
gandum persembahan Qabil tetap utuh yang berarti kurban Habillah yang diterima.
Mata Pelajaran PAI & BP

Melihat kenyataan tersebut, Qabil yang berperangai tidak baik dan terpengaruh
hasutan iblis, menaruh dendam kepada Habil. Terpikir olehnya, agar keinginannya
menikahi Iqlima, tidak ada cara lain kecuali membunuh Habil. Ketika terdapat
kesempatan untuk melaksanakan niat jahatnya tersebut, Qabil benar-benar
melaksanakannya. Ketika Habil sedang seorang diri, Qabil datang menghampirinya
dengan niat untuk membunuh saudaranya itu. Mengetahui hal tersebut, Habil
mengingatkan Qabil agar senantiasa mengingat Allah Swt. dan hendaklah takut
kepada-Nya. Habil berkata kepada Qabil, “Sungguh jika kamu menggerakkan
tanganmu untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan
tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan
seru sekalian alam.” (Q.S. al-Mā’idah/5:28)
Setelah Habil terbunuh, Qabil merasa bingung. Diguncang-guncangkan
tubuh saudaranya itu, namun tetap tidak bergerak. Lalu jenazah Habil dibawa
ke sana- kemari dengan perasaan kacau, tak tahu apa yang harus
dilakukannya. Ia merasa sangat menyesal sehingga air matanya berlinang
membasahi pipinya.
Mata Pelajaran PAI & BP

Dalam kebingungannya, Allah Swt. menurunkan ilham melalui dua ekor burung
gagak yang bertarung untuk memperebutkan daging mayat Habil. Salah seekor dari
burung gagak itu tewas dalam pertarungan tersebut. Kemudian, burung gagak yang
masih hidup menggali tanah, menarik gagak yang telah menjadi bangkai untuk
dimasukkan ke dalam tanah yang telah digali dengan cakarnya, kemudian
menimbunnya dengan tanah.
Demikianlah, Qabil meniru perbuatan burung gagak itu. Ia menggali tanah dan
menguburkan mayat Habil dan menimbunnya dengan tanah. Menyadari dirinya telah
melakukan kesalahan yang sangat besar, Qabil pun merasa ketakutan. Ia kemudian
tidak berani untuk pulang ke rumah, bahkan pergi meninggalkan kedua orang tua dan
saudara-saudaranya. Ia benar-benar tidak kembali lagi, pergi masuk hutan keluar
hutan, menaiki gunung, dan menuruni lembah tak jelas arah dan tujuan.

Disarikan dari berbagai sumber


Aktivitas 8 Mata Pelajaran PAI & BP

Aktivitas 8

Setelah membaca kisah di atas, bagaimana perasaanmu? Tentu prihatin,


bukan? Diskusikan dan kemukakan kepada gurumu, hubungan sifat
pengendalian diri, Husnussan, dan persaudaraan sesuai dengan kisah di
atas.
Mata Pelajaran PAI & BP

Menerapkan Perilaku Mulia


Amati kisah pendek berikut ini. Tulislah analisismu mengenai hal-hal penting yang
berkaitan dengan nilai-nilai dan sikap mulianya.

Aku Ingin Satu Angka Lagi


Semua orang pasti mengetahui siapakah
Rudi Hartono itu? Dia adalah legendaris
badminton yang saat itu telah tujuh kali
menjadi juara pertandingan bulu tangkis All
England di Wimbledon, Inggris. Tetapi Sumber: Dok. Kemendikbud
Gambar 6.5
belum banyak orang yang mengetahui Mentaati tata tertib di mana saja berada
merupakan perilaku mulia.
bahwa suatu ketika pahlawan bulu tangkis
ini berada pada keadaan yang amat sangat
terjepit.
Mata Pelajaran PAI & BP

Kala itu Rudi Hartono harus mempertahankan gelarnya sebagai juara dunia. Ia harus
menghadapi Strue Johnson, juara bulu tangkis dari Swedia. Ini adalah lawan sekaligus
musuh bebuyutannya. Stadion Wimbledon pun riuh-rendah sesaat sebelum keduanya
memulai pertandingan. Sementara itu, rakyat Indonesia deg-degan mendengarkan siaran
langsung pertandingan melalui Radio Republik Indonesia (RRI).
Pertandingan pun dimulai. Adu pukul shuttel-cock pun cepat memanas. Sialnya, pada set
pertama Rudi Hartono kalah. Set kedua dimulai, adu pukul dan adu smash pun makin
mengharu-biru semua penonton. Kali ini benar-benar celaka, di ujung set kedua Rudi
Hartono tertinggal angka dalam posisi 0-14. Seluruh pendengar RRI (waktu itu masih
sangat sedikit penduduk Indonesia yang memiliki TV) yang mengikuti pertandingan itu
menjadi tegang. Jika salah pukul, pasti Rudi Hartono akan kalah.
Untung, Strue Johnson melakukan kesalahan. Shuttel-cock pun berpindah ke tangan
Rudi. Nah, ketika akan memukul shuttel-cock itulah Rudi Hartono berkata dalam hati
kecilnya, “Aku ingin satu angka saja!”
Mata Pelajaran PAI & BP

Lalu ia pun memukulnya ke arah lawan. Masuk! Strue Johson tak mampu
menahan shuttel-cock. Satu angka untuk Rudi, jadilah 1-14. Rudi pun kembali
memukul shuttel-cock. Seperti tadi, kali ini hati kecilnya kembali berkata, “Aku
ingin satu angka saja!”
Demikianlah, satu demi satu angka direbut oleh Rudi Hartono. Posisi angka
pun berubah drastis menjadi 14-14. Strue Johnson tercengang tak habis-habis,
mengapa dirinya sampai terkejar begitu cepat oleh lawannya. Inilah yang
menyebabkan mentalnya jatuh. Set kedua pun dimenangkan Rudi Hartono
dengan sangat amat sulit.
Di set ketiga, Strue Johnson kehabisan napas seiring dengan mentalnya yang
melorot. Dengan mudah set ketiga dimenangkan Rudi Hartono. Inilah yang
kemudian mengantar Rudi Hartono menjadi juara dunia bulu tangkis kedelapan
kali!
Disarikan dari berbagai sumber
Mata Pelajaran PAI & BP

Sekarang analisis beberapa contoh perilaku yang mencerminkan sikap


pengendalian diri, ḥusnuẓẓan, dan persaudaraan, baik di lingkungan keluarga,
sekolah, masyarakat sekitar, hingga masyarakat dunia!
A. Pengendalian Diri (Mujāhadah an-Nafs)
1. Bersabar dengan tidak membalas terhadap ejekan atau cemoohan teman yang
tidak suka terhadap kamu.
2. Memaafkan kesalahan teman dan orang lain yang berbuat “aniaya” kepada kita.
3. Ikhlas terhadap segala bentuk cobaan dan musibah yang menimpa, dengan terus
berupaya memperbaiki diri dan lingkungan.
4. Menjauhi sifat dengki atau iri hati kepada orang lain dengan tidak membalas
kedengkian mereka kepada kita.
5. Mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan Allah Swt. kepada kita, seta tidak
merusak nikmat tersebut. Seperti menjaga lingkungan agar selalu bersih, menjaga
tubuh dengan merawatnya, berolahraga, mengonsumsi makanan dan minuman yang
halal, dan sebagainya.
Mata Pelajaran PAI & BP

B. Prasangka Baik (Ḥusnuẓẓan)


1. Memberikan apresiasi atas prestasi yang dicapai oleh teman atau orang
lain dalam bentuk ucapan atau pemberian hadiah.
2. Menerima dan menghargai pendapat teman/orang lain meskipun
pendapat tersebut berlawanan dengan keinginan kita.
3. Memberi sumbangan sesuai kemampuan kepada peminta-minta yang
datang ke rumah kita.
4. Turut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial baik di lingkungan rumah,
sekolah, ataupun masyarakat.
5. Mengerjakan tugas-tugas yang diberikan kepada kita dengan penuh
tanggung jawab.
Mata Pelajaran PAI & BP

C. Persaudaraan (Ukhuwwah)
1. Menjenguk/mendoakan/membantu teman/ orang lain yang sedang sakit
atau terkena musibah.
2. Mendamaikan teman atau saudara yang berselisih agar mereka sadar
dan kembali bersatu.
3. Bergaul dengan orang lain dengan tidak memandang suku, bahasa,
budaya, dan agama yang dianutnya.
4. Menghindari segala bentuk permusuhan, tawuran, ataupun kegiatan
yang dapat merugikan orang lain.
5. Menghargai perbedaan suku, bangsa, agama, dan budaya
teman/orang lain.
Mata Pelajaran PAI & BP

Gambar 6.6
Bersalam-salaman sangat
dianjurkan
dalam ajaran Islam.

Sumber: Dok.
Kemendikbud
Mata Pelajaran PAI & BP

1. Pengendalian diri (mujāhadah an-nafs) adalah perilaku sebagai upaya untuk


tetap berada dalam setiap kebaikan dan terhindar dari sifat-sifat yang dapat
membinasakan dirinya, orang lain, maupun lingkungan.
2. Berbaik sangka (Ḥusnuẓẓan) adalah sifat di mana orang lain dipandang
sebagai sesuatu yang baik dan harus diperlakukan dengan baik, kecuali jika
diketahui dengan fakta bahwa orang tersebut harus diwaspadai dan diperingati.
3. Dalam Q.S. al-Ḥujurāt/49:10 kita diperintahkan oleh Allah Swt. agar senantiasa
menjaga dan menciptakan perdamaian, memberikan nasihat kebaikan, dan
mendamaikan perselisihan saudara dengan saudara yang lain.
4. Dalam Q.S. al-Ḥujurāt/49:12 dijelaskan perintah agar berprasangka baik
(Ḥusnuẓẓan) kepada setiap orang, kita pun diperintahkan menghindari dan
menjauhkan diri dari berburuk sangka kepada sesama saudara kita, karena
berburuk sangka akan merusak keimanan dan merusak persaudaraan.
MATA PELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM & BUDI PEKERTI

TERIMA KASIH
& SAMPAI
JUMPA LAGI
Oleh : Farid Usman