Anda di halaman 1dari 33

REFERAT

RABIES

Alce Apri Feranita Suki, S.Ked


(1408010070)
Pembimbing : dr.Asep Purnama, Sp.PD
BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
FK UNDANA-RSUD DR.T. C. HILLERS MAUMERE
2018
Pendahuluan

Rabies (penyakit anjing gila)


merupakan penyakit zoonosis yang Sampai dengan tahun 2015, Rabies
disebabkan oleh Lyssa Virus (Virus tersebar di 25 provinsi dengan jumlah
rabies) dan ditularkan ke manusia kasus gigitan yang cukup tinggi.
melalui gigitan hewan penderita rabies

9 provinsi bebas rabies, diantaranya 5


World Health Organization (WHO) menyatakan
bahwa sekitar 55.000 orang per tahun mati
provinsi bebas historis (Papua, Papua
karena rabies, 95% dari jumlah itu berasal dari Barat, Bangka Belitung, Kepulauan
Asia dan Afrika. Sebagian besar dari korban Riau, dan Nusa Tenggara Barat), dan 4
sekitar 30-60% adalah anak-anak usia kecil di provinsi dibebaskan (Jawa Tengah, DI
bawah 15 tahun dan 40% terjadi pada anak-anak
diatas 15 tahun Yogyakarta, Jawa Timur, dan DKI
Jakarta).
Definisi
• Rabies atau penyakit anjing gila adalah
penyakit hewan menular yang disebabkan
oleh virus dari genus Lyssa virus (dari bahasa
Yunani Lyssa yang berarti mengamuk atau
kemarahan), bersifat akut serta menyerang
susunan saraf pusat, hewan berdarah panas
dan manusia.
Etiologi
• Virus rabies dengan
bentuk seperti peluru
yang dikelilingi oleh
paku-pakuglikoprotein.
Glikonukleoproteinnya
tersusun dari
nukleoprotein, phospho
rylated atau phosphopr
otein dan polimerase
Epidemiologi
Penularan
gigitan
Virus rabies ditularkan ke manusia melalui
hewan penular Rabies seperti anjing,
kucing dan kera atau luka yang terkena
air liur hewan penderita rabies.
Bervariasinya masa inkubasi cepat atau lambat
tergantung pada:

a. Dalam atau tidaknya luka bekas gigitan


b. Luka tunggal atau luka jamak
c. Dekat atau tidaknya luka gigitan dengan
susunan saraf pusat (seperti luka yang
terjadi di daerah bahu ke atas
mempunyai masa inkubasi yang lebih
pendek)
d. Jumlah virus yang masuk ke tubuh
Hewan-hewan utama yang menularkan rabies (HPR=Hewan
Penular Rabies) pada umumnya berbeda untuk setiap
benua :

a. Eropa : rubah dan kelelawar


b. Timur tengah : Serigala dan anjing
c. Afrika : anjing, mongoose dan antelop
d. Asia : Anjing
e. Amerika Utara : Rubah, sigung, rakun, dan
kelelawar pemakan serangga
f. Amerika Selatan : anjing dan kelelawar

Di Indonesia hewan penular utama yaitu anjing sebesar 98%,


monyet dan kucing sebesar 2%
Pathogenesis
Pathogenesis
• Gambaran
patognomonik dalam
infeksi rabies adalah
terdapatnya badan
negri yang khas yang
terdapat dalam
sitoplasma sel ganglion
besar hewan yang
terinfeksi rabies.
Gejala klinis pada manusia
Stadium Prodromal Stadium Sensoris Stadium Eksitasi Stadium Paralisis

• Gejala awal yang • nyeri, rasa panas • Tonus otot-otot akan • Gejala tidak khas,
terjadi adalah perasaan disertai kesemutan aktivitas simpatik terdapat monoplegi
gelisah, demam, padatempat bekas luka menjadi meninggi atau paraplegi flaksid,
malaise, mual, sakit kemudian disusul dengan gejala berupa kematian karena
kepala, gatal, merasa dengan gejala cemas eksitasi atau ketakutan kelumpuhan otot
seperti terbakar, dan reaksi yang berlebihan, rasa haus, nafas.
kedinginan, kondisi berlebihan terhadap ketakutan terhadap
tubuh lemah dan rasa ransangan sensoris. rangsangan cahaya,
nyeri di tenggorokan tiupan angin atau
selama beberapa hari suarakeras.
• Penderita menjadi
bingung, gelisah, dan
rasa tidak nyaman.
Kebingungan menjadi
semakin hebat dan
berkembang menjadi
argresif, halusinasi, dan
selalu ketakutan.Tubuh
gemetar atau kaku
kejang.
Gejala klinis pada hewan
Stadium Prodromal Stadium Eksitasi Stadium Paralisis
(2-3 hari) (3-7 hari) (berlangsung sangat singkat)
• mencari tempat-tempat • Hewan mulai garang, • Hewan mengalami kesulitan
yang dingin/gelap, menyerang hewan lain menelan, suara parau,
menyendiri, reflek ataupun manusia yang sempoyongan, akhirnya
kornea berkurang, pupil dijumpai dan hipersalivasi. lumpuh dan mati
melebar dan hewan terlihat • Dalam keadaan tidak ada
acuh terhadap tuannya. provokasi hewan menjadi
• Hewan menjadi sangat murung terkesan lelah dan
perasa, mudah terkejut dan selalu tampak seperti
cepat berontak bila ada ketakutan.
provokasi. Dalam keadaan • Hewan mengalami fotofobia
ini perubahan perilaku atau takut melihat sinar
mulai diikuti oleh kenaikan sehingga bila ada cahaya
suhu badan. akan bereaksi secara
berlebihan dan tampak
ketakutan.
Diagnosis
Stadium awal Stadium lanjut
• yang penting diperhatikan • Kepekaan terhadap sinar,
ialah adanya riwayat gigitan suara, angin yang meninggi
hewan seperti anjing, • Air liur dan air mata keluar
kucing, kera atau hewan lain secara berlebihan
penular rabies • Yang khas dari penderita
• didahului sakit kepala, lesu, rabies adalah adanya rasa
takut kepada air yang
mual muntah, nafsu makan berlebihan (hydrophobia)
menurun, gugup dan nyeri
• Kejang-kejang yang disusul
tekan pada bekas luka dengan kelumpuhan
gigitan.
Pemeriksaan penunjang
• Isolasi virus rabies yang didapatkan dari
spesimen air liur, cairan serebrospinal, air
mata, jaringan mukosa mulut atau urin
penderita.
• FAT (fluorescent antibody test).
• Mikroskopis seller.
• Biologis.
Tatalaksana
Pemberian VAR dan SAR
• Pre exposure
• Post exposure
Pre exposure
Pemberian kekebalan kepada petugas-petugas pelaksana program P2 Rabies
yang mempunyai resiko tinggi tertular rabies : dokter, para
medis, dokter hewan, para veteriner, para petugas diagnostik dan
vaksinator hewan.

Dosis dan Cara Pemberian VAR untuk pengebalan sebelum digigit HPR (Pre-
Exposure Immunization)
Pemberian VAR atau VAR dan SAR setelah gigitan
(Post exposure immunization)
• Luka resiko rendah
a. Penderita kasus GHPR yang belum pernah
mendapat VAR
VAR harus diberikan pada semua penderita
GHPR yang belum pernah mendapat VAR
sebelumnya. VAR yang digunakan saat ini
adalah Purified Vero Rabies Vaccine (PVRV),
sedangkan Suckling Mouse Brain Vaccine
(SBMV) tidak digunakan lagi.
b.Penderita kasus GHPR yang sudah pernah
mendapat VAR
Kasus GHPR yang sebelumnya mendapat
VAR lengkap dalam 3 bulan sebelumnya tidak
memerlukan pemberian VAR. Bila lebih dari 3
bulan sampai 1 tahun diberikan VAR 1 kali dan
bila lebih dari 1 tahun dianggap penderita
baru yang harus diberikan VAR lengkap.
• Luka resiko tinggi
Setiap kasus GHPR resiko tinggi harus diberikan VAR dan SAR.
Pencegahan
a. Pemeliharaan hewan piaraan dilaksanakan dengan tanggung jawab
dan memperhatikan kesejahteraan hewan, jangan diliarkan, atau
dikeluarkan dari rumah tanpa pengawasan atau tanpa tali ikatan.

b. Berikan vaksin anti rabies pada hewan peliharaan secara berkala di


Pusat Kesehatan Hewan (Puskewan), Dinas Kesehatan Hewan atau
Dinas Peternakan, atau ke dokter hewan.

c. Segera melapor ke puskesmas/Rumah Sakit terdekat apabila digigit


oleh hewan tersangka rabies untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies
(VAR) sesuai indikasi.

d. Apabila melihat hewan dengan gejala rabies, segera laporkan ke


Pusat Kesehatan Hewan (Puskewan), Dinas Peternakan/yang
membawahi bidang peternakan atau Dinas Kesehatan Hewan
Komplikasi
Diagnosis Banding
• Tetanus • Ensefalitis
masa inkubasinya Tidak dijumpai hidrofobia
yang pendek, adanya
trismus, kekakuan otot
yang persisten diantara
spasme, status mental
normal, cairan
serebrospinal biasanya
normal dan tidak
terdapat hidropobia.
Prognosis
• Tanpa penanganan sekitar 8 hari,
• Dengan penangan suportif beberapa bulan.
• Kebanyakan penderita meninggal karena
sumbatan jalan nafas,kejang, kelelahan atau
kelumpuhan total
Penutup
• Rabies merupakan penyakit infeksi akut pada sistem saraf
pusat (otak) disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini
merupakan penyakit zoonosa (zoonosis) yaitu penyakit
infeksi yang ditularkan dari hewan ke manusia melalui
pajanan atau Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yaitu
anjing, kera, musang, anjing liar, kucing.
• Tidak ada terapi untuk penderita yang sudah menunjukkan
gejala rabies; penanganan hanya berupa tindakan suportif
dalam penanganan gagal jantung dan gagal nafas.
Perawatan intensif hanyalah metode
untuk memperpanjang dan bila mungkin menyelamatkan
hidup pasien dengan mencegah komplikasi respirasi dan
kardiovaskuler yang sering terjadi