Anda di halaman 1dari 59

Laporan Kasus

WEIL’S DISEASE

Pembimbing :
dr. Lenni Evalina Sihotang, Sp.PD

Oleh:
Frederick (150100112)
Christine Bonuria Siregar (150100152)
Lushalani A/P Krishnamurthi (150100194)
LATAR
BELAKANG
Leptospirosis adalah jenis
zoonosis yang umum
dijumpai, terutama di
daerah tropis.
• mengerti dan
memahami
TUJUAN • menerapkan teori-teori
terhadap pasien
• persyaratan

• memberikan manfaat
MANFAAT terhadap penulis dan
pembaca
WEIL’S DISEASE

Weil’s disease is a severe form of


leptospirosis. This is a type of bacterial
infection. It’s caused
by Leptospira bacteria.
DEFINISI

Leptospirosis dapat menyebabkan penyakit seperti influenza


yang dapat sembuh dengan sendirinya atau penyakit yang
jauh lebih serius. Ini dikenal sebagai Weil disease, dan dapat
berkembang menjadi kegagalan multiorgan dengan potensi
kematian.
ETIOLOGI
genus Leptospira
dari famili
Leptospiraceae, terpelihara dalam
ordo Spirochaetales tubulus ginjal hewan
tertentu

lingkungan basah atau lembab


mulai dari air permukaan, tanah
lembab, serta air keran
urin, darah, atau
jaringan dari hewan
yang membawa bakteri
tsb

terinfeksi dengan
bakteri jika mata, Tanah yang
mulut, hidung atau kulit terkontaminasi dengan
yang luka kontak bakteri tsb
dengan:

Dapat juga
terkontaminasi jika
digigit oleh hewan yang
terinfeksi.
EPIDEMIOLOGI
Tersebar di Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah
Istimewa Yogyakarta (DIY), Lampung, Sumatera Utara,
Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Bali, Nusa
Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan,
Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat

Jumlah pasien laki-laki dengan


leptospirosis lebih tinggi
dibandingkan perempuan
Patogenesis
Paparan
urin atau Menyebar Ke
Penetrasi
hewan secara seluruh
jaringan
yang hematogen organ
terinfeksi

Dapat bertahan
Mengikat ke faktor
dari serangan
H pada
neutrofil, monosit,
komplemen
dan makrofag
Fase Leptospirosis
MANIFESTASI KLINIS
WEIL’S
• Demam DISEASE
• Nyeri Otot
• Sakit Kepala
• Hati
• Batuk
• Ginjal
• Mual Muntah
• Jantung
• Otak
• Paru
LEPTOSPIROSIS
PENEGAKKAN DIAGNOSA
leukopenia atau Peningkatan SGOT
leukositosis , SGPT, serum amilase
ANAMNESA
trombositopeni dan lipase dapat pula
peningkatan LED ditemukan

microscopic DITEMUKANNYA
agglutination test LEPTOSPIRA PADA
Polymerase Chain
(MAT) dan enzyme URIN, DARAH,
Reaction (PCR).
linked immunosorbent CAIRAN
assay (ELISA) SEREBROSPINAL
TATALAKSANA
mendeteksi dan mengatasi keadaan dehidrasi,
hipotensi, perdarahan dan gagal ginjal

Pemberian
antibiotik
harus
dimulai
secepat
mungkin
KOMPLIKASI
Weil’s Disease

• Ikterus, disertai perdarahan, azotemia,


gangguan kesadaran, dan demam
kontinu disertai gangguan organ
lainnya

• Manifestasi klinis disebabkan


leptospira merusak pembuluh darah
pada organ
Ginjal
• AKI terjadi pada 40-60% pasien
• Invasi interstisium, tubulus, dan lumen  nefritis
interstisial, nekrosis tubulus
Hepar
• Kerusakan hepatoseluler  cholestasis intrahepatik
 ikterik
Otot rangka
• Nekrosis lokal
• Betis, abdomen, dan region parasternal.
Paru-paru
• Pulmonary hemorrhage  acute respiratory distress syndrome.
• Penyebab kematian yang paling sering pada pasien leptospirosis.
• Hemorrhagic pneumonitis  batuk, sesak, dan hemoptisis.
Kardiovaskuler
• Aritmia, sering terjadi atrial fibrilasi.
• Myokarditis, perikarditis, dan efusi.
• Pada otopsi dijumpai interstisial edema, infiltrasi myokardium,
dan arteritis arteri koroner.
Susunan saraf pusat
• Meningitis
PROGNOSIS

Leptospirosis anikterik biasanya lebih memiliki


prognosis yang baik.

Tanpa adanya jaundice, penyakitnya hampir sama sekali


tidak fatal.

Tingkat keparahan kasus weil’s disease ialah 15-40%,


dan semakin meningkat pada penderita diatas 60 tahun.
BAB III
STATUS ORANG SAKIT
ANAMNESIS PRIBADI

Nama : Tn. R
Umur : 44 Thn
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status Perkawinan : Sudah Menikah
Pekerjaan : Perani
Agama : Kristen
Alamat : Desa Parmonangan Sibora
Anamnesis Penyakit
Sesak Nafas

Demam (+) Mata memerah

Nafsu makan
Batuk (+) Mual, Muntah (+) penurun

Nyeri Betis Petani

Tinggal di Samosir
PEMERIKSAAN FISIK DIAGNOSTIK
Keadaan umum:
Sensorium: compos mentis
Tekanan Darah: 110/70mmHg
Nadi: 92 x/i, reg, t/v cukup
Pernafasan: 20x/i
Temperatur: 37 oC

Keadaan penyakit:
Pancaran wajah: normal Anemia (-), Ikterus (-),
Dyspnoe (-), Sianosis (-),
Sikap paksa: (-) Edema (-), Purpura (-)
Refleks fisiologis: (+) Turgor Kulit : Sedang
Refleks patologis: (-)

Keadaan Gizi: Baik


68 68 TB : 165 cm
𝐵𝑊 = × 100% = × 100% = 104 %
(165 − 100) (65)
BB : 68 kg
KEPALA
Mata :Konjungtiva palpebra pucat (-/-), ikterus (-/-), pupil : isokor,
ukuran reflex cahaya direk (+/+), indirek (+/+), kesan : -
Lain-lain : Konjungtiva Hiperemis
Telinga : Dalam batas normal
Hidung : Dalam batas normal
Mulut : Lidah, gigi geligi dan tonsil/faring : Dalam batas normal

LEHER
Struma: tidak membesar
Pembesaran kelenjar limfa: (-)
Posisi Trakea: Medial, TVJ : R-2 cmH2O
Kaku kuduk : (-), Lain-lain : dalam batas normal
THORAX DEPAN
Inspeksi :
Bentuk : Simetris Fusiformis
Pergerakan : Tidak ada pernafasan yang tertinggal pada kedua
lapangan paru, retraksi (-)
Palpasi :
Nyeri Tekan : Tidak ada
Fremitus Suara : Stem fremitus kanan = kiri
Iktus : Teraba
Perkusi :
Paru
Batas Paru Hati R/A: Relatif : ICS V linea midklavikularis dextra
Absolute : ICS VI linea midklavikularis
dextra
Peranjakan : +/- 1 cm
Jantung
Batas Atas Jantung : ICS II Linea parasternalis sinistra
Batas Kiri Jantung : ICS IV Linea midclavicularis sinistra
Batas Kanan Jantung : ICS IV Linea parasternalis dextra

Auskultasi :
Paru
Suara Pernafasan : Vesikuler
Suara Tambahan : Ronchi (-), Wheezing (-)
Jantung
M1 > M2, P2 > P1, T1 > T2, A2 > A1, desah sistolis (-), tingkat
(-), desah diastolis (-), lain-lain (-)
HR : 92x/menit, reguler, intensitas : cukup
THORAX BELAKANG
Inspeksi : Simetris fusiformis
Palpasi : Stem Fremitus kanan = kiri
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler
ABDOMEN
Inspeksi
Bentuk : Simetris
Gerakan Lambung/Usus : Tidak Terlihat
Vena Kolateral : Tidak Terlihat
Caput Medusa : Tidak Terlihat
Palpasi
Dinding Abdomen : Soepel, Nyeri Tekan (-)
Murphy’s Sign : (-)

HATI
Pembesaran, permukaan, dan pinggir : Tidak Teraba
Nyeri tekan : Tidak dijumpai

LIMFA
Pembesaran : (-), Schuffner : (-), Haecket : (-)

GINJAL
Ballotement : (-), Lain-lain : dalam batas normal

UTERUS/OVARIUM: Tidak diperiksa


Perkusi
Pekak hati : (+)
Pekak beralih : (-)

Auskultasi
Peristaltik Usus : (+)
Lain-Lain : dalam batas normal

Pinggang
Nyeri Ketuk Sudut Kosto Vertebra : (-)
INGUINAL, GENITALIA LUAR : Tidak dilakukan pemeriksaan
Pemeriksaan Colok Dubur (RT) : Tidak dilakukan

ANGGOTA GERAK ATAS


Deformitas Sendi : (-) Telapak Tangan Sembab : (-)
Lokasi : (-) Sianosis : (-)
Jari Tabuh : (-) Eritema Palmaris : (-)
Tremor Ujung Jari : (-) Lain-Lain : (-)
ANGGOTA GERAK BAWAH
Kiri Kanan
Edema : (-) (-)
Arteri Femoralis : (+) (+)
Arteri Tibialis Posterior: (+) (+)
Arteri Dorsalis Pedis : (+) (+)
Refleks KPR : (+) (+)
Refleks APR : (+) (+)
Reaksi Fisiologis : (+) (+)
Reaksi Patologis : (-) (-)
Lain-Lain : Nyeri betis Nyeri betis
Pemeriksaan Laboratorium Rutin
Darah Kemih Tinja
Hb = 11,4 g % Warna = Kuning Jernih Warna :
Eritrosit = 3,82x 106/mm3 Protein = (-) Konsistensi :
Leukosit= 8,07 x 103/mm3 Eritrosit :
Reduksi = (-)
Trombosit = 24 x 106/mm3 Leukosit :
Bilirubin = (-)
Ht = 30 % Amoeba / Kista :
Urobilinogen = (+)
LED = - mm/jam
Telur Cacing :
Hitung Jenis Sedimen Ascaris :
Eosinofil = 0,9 % Eritrosit = 0-1/ lpb Ancylostoma :
Basofil = 0,2 % Leukosit = 2-3/ lpb T. trichiura :
Neutrofil Batang dan Silinder = 0-1/ lpb Kremi :
Segmen = 91,90 %
Epitel = 5-7/ lpb
Limfosit = 3,7 %
Monosit = 3,3 %
RESUME
ANAMNESIS
Keluhan Utama : Sesak Nafas
Telaah: Hal ini dialami pasien 1 minggu dan memberat
dalam 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien febris yang
naik turun dalam 1 minggu ini. Nausea dan vomitus
dijumpai. Dijumpai nafsu makan menurun. Batuk dijumpai
sesekali. Dijumpai konjungtiva hiperemis 2 hari setelah
masuk rumah sakit. Nyeri pada betis dijumpai +/- 3 hari
sebelum masuk rumah sakit. Pasien bekerja sebagai petani
dan terkadang tidak memakai sepatu. Pasien tinggal di
Samosir.
STATUS PRESENS
Keadaan Umum : Sedang
Keadaan Penyakit : Sedang
Keadaan Gizi : Normal

PEMERIKSAAN FISIK
Vital Sign
TD : 110/70 mmHg RR : 20x/i
HR : 92 x/i Temp : 36,3oC

Kulit : Normal
Kepala : Mata kesan konjungtiva
hiperemis
Leher : Dalam batas normal
Thorax : Dalam batas normal
Abdomen : Dalam batas normal
Ekstremitas Superior : Dalam batas normal
Ekstremitas Inferior : Nyeri Betis
LABORATORIUM RUTIN

DARAH : Trombosit = 24 000


BUN = 83 mg/dL
Ureum = 178 mg/dL
Kreatinin = 2,36 mg/dL
KEMIH : Dalam batas normal
TINJA : (-)
DIAGNOSIS BANDING
1. Suspect Weil’s Disease + AKI Stadium Injury +
Trombositopeni
2. Dengue Fever + AKI Stadium Injury + Trombositopeni
3. Typhoid Fever + AKI Stadium Injury + Trombositopeni
4. Malaria + AKI Stadium Injury + Trombositopeni
5. Viral Hepatitis + AKI Stadium Injury + Trombositopeni

DIAGNOSIS SEMENTARA

Suspect Weil’s Disease + AKI Stadium Injury +


Trombositopeni
PENATALAKSANAAN

Aktivitas : Tirah Baring


Diet : MB
Tindakan Suportif : IVFD NaCL 0,9 %
Medicamentosa : Paracetamol 500 mg/8 jam/PO
Inj. Ampicillin 1 gr/6 jam/IV
Domeperidone 10mg/8 jam/PO
Rencana Penjajakan Diagnostik /
Tindakan Lanjutan

1.MDT 2.LFT, GGT, ALT

3.Tes Serologis 4. ELISA Ig M

5. PCR 6. MAT
BAB IV
FOLLOW UP
30/07/2019
S: Sesak nafas, demam, mual, nafsu makan menurun, nyeri betis.
O: Sensorium : Compos Mentis
Tekanan darah : 100/60 mmHg
Nadi : 90x/i
Pernafasan : 28x/i
Temperatur : 37,3°C

Kepala Abdomen
Mata: Anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) Inspeksi: Simetris
Auskultasi : Peristaltik (+)
Leher Perkusi: Timpani
TVJ R-2 cm H2O Palpasi: Soepel, H/L/R tidak
teraba, Nyeri tekan
Thoraks epigastrium kanan (-)
Inspeksi: Simetris
Palpasi: SF kanan = kiri, kesan normal Ekstremitas
Perkusi: Sonor Edema (-/-)
Auskultasi: SP : Vesikuler, ST : (-) Nyeri betis (+/+)
A: - Dengue fever + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Leptospirosis + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Malaria + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Typhoid fever + AKI St. Injury + Trombositopeni

P: - Tirah baring
- Diet MB
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/IV
- Paracetamol 500 mg/8 jam/PO

R: - Foto Thorax
- Cek IgM IgG Anti Dengue
- Cek fungsi ginjal
- Cek urinalisa
- Cek rumple leed
- Cek faal hemostasis
01/08/2019
S: Sesak nafas berkurang, demam (+), mual (+), nafsu makan berkurang, nyeri betis (+).

O: Sensorium : Compos Mentis Fungsi Ginjal


Tekanan darah : 100/60 mmHg BUN : 83 mg/dL
Nadi : 90x/i Ureum : 178 mg/dL
Pernafasan : 24x/i
Kreatinin 2,36 mg/dL
Temperatur : 38,1°C
Pemeriksaan Fisik sama seperti sebelumnya
Urinalisa
Serologi Warna : Kuning jernih
IgM Anti Dengue : - Glukosa : -
IgG Anti Dengue : - Bilirubin : -
Protein : -
Faal Hemostasis Leukosit : -
PT : 15”
APTT : 39,8” Darah : -
TT : 14,5”
INR : 1,09 Rumple leed (-)
Foto Thorax : tidak tampak kelainan pada cor dan pulmo
A: - Leptospirosis + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Dengue fever + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Malaria + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Typhoid fever + AKI St. Injury + Trombositopeni

P: - Tirah baring
- Diet MB
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/IV
- Paracetamol 500 mg/8 jam/PO

R: - Cek serologi Hepatitis B, Hepatitis C


- Cek serologi HIV
03/08/2019
S: Sesak nafas berkurang, demam (+), mual (+), nafsu makan berkurang, nyeri betis (+).

O: Sensorium : Compos Mentis Abdomen


Tekanan darah : 100/60 mmHg Inspeksi: Simetris
Nadi : 88x/i Auskultasi : Peristaltik (+)
Pernafasan : 24x/i
Perkusi: Timpani
Temperatur : 37,7°C
Kepala :
Palpasi: Soepel, H/L/R
Mata : Anemis (-/-), Sklera ikterik (+/+), tidak teraba, Nyeri tekan
konjungtiva hiperemis (+/+) epigastrium kanan (-)

Leher Ekstremitas
TVJ R-2 cm H2O Edema (-/-)
Nyeri betis (+/+)
Thoraks
Inspeksi: Simetris
HBsAg : Non Reaktif
Palpasi: SF kanan = kiri, kesan normal
Perkusi: Sonor
Anti HCV : Non Reaktif
Auskultasi: SP : Vesikuler, ST : (-) Anti HIV (Rapid I) : Non
Reaktif
A: - Susp. Weil’s Disease + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Dengue fever + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Malaria + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Typhoid fever + AKI St. Injury + Trombositopeni

P: - Tirah baring
- Diet MB
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/IV
- Paracetamol 500 mg/8 jam/PO

R: - Cek LFT
- Cek serologi Leptospira
- MDT
05/08/2019
S: Sesak nafas (-), demam (-), mual (-), nafsu makan berkurang, nyeri betis (-).

O: Sensorium : Compos Mentis


Tekanan darah : 120/60 mmHg
Nadi : 72x/i
Pernafasan : 20x/i
Temperatur : 36°C

Pemeriksaan fisik sama seperti sebelumnya

Malaria (-)

Fungsi Hati :
Bilirubin Total : 6,6 mg/dL
Bilirubin Direk : 5,9 mg/dL
AST/SGOT : 60 U/L
ALT/SGPT : 42 U/L
Albumin : 2,8 g/dL
A: - Susp. Weil’s Disease + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Dengue fever + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Malaria + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Typhoid fever + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Viral Hepatitis
P: - Tirah baring
- Diet MB
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/IV
- Paracetamol 500 mg/8 jam/PO

R: - Follow up hasil serologi leptospira


07/08/2019
S: Nafsu makan berkurang
O: Sensorium : Compos Mentis
Tekanan darah : 110/60 mmHg
Nadi : 88x/i
Pernafasan : 24x/i
Temperatur : 36,3°C

Pemeriksaan fisik sama seperti sebelumnya


A: - Susp. Weil’s Disease + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Dengue fever + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Malaria + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Typhoid fever + AKI St. Injury + Trombositopeni
- Viral Hepatitis
P: - Tirah baring
- Diet MB
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/IV
- Paracetamol 500 mg/8 jam/PO
R: - Follow up hasil serologi leptospira
BAB V
DISKUSI KASUS
TEORI PASIEN

1. Definisi

Leptospirosis adalah infeksi zoonosis


yang paling umum di dunia. Ditransmisikan
dari hewan yang terinfeksi melalui urin, baik Pasien bekerja sebagai petani.

secara langsung atau melalui tanah atau air Pasien datang dengan keluhan sesak
yang terinfeksi. nafas, demam, dan mual yang disertai
nafsu makan yang berkurang. Pasien
Hal ini dapat menyebabkan penyakit
juga mengeluhkan nyeri pada betis.
seperti influenza yang dapat sembuh dengan
sendirinya atau penyakit yang jauh lebih
serius. Ini dikenal sebagai Weils’s disease,
dan dapat berkembang menjadi kegagalan
multiorgan dengan potensi kematian.
2. Manifestasi Klinis Pasien bekerja sebagai petani.
Anamnesis Pada pasien ditemukan :
Infeksi dapat terjadi secara langsung  Demam
maupun tidak langsung akibat paparan urin  Mual
atau hewan yang terinfeksi. Transmisi terjadi
 Nyeri betis
melalui luka, kulit yang terbuka, atau membran
mukosa.  Konjungtiva hiperemis
Diagnosis leptospirosis ditegakkan  Ikterik
berdasarkan anamnesis termasuk di dalamnya  Penurunan nafsu makan
pekerjaan apakah termasuk dalam kelompok  Sesak nafas
risiko tinggi, gambaran klinis dan
laboratorium. Pada pemeriksaan fisik  Batuk
didapatkan demam, bradikardi, nyeri tekan
otot, ikterik, injeksi silier, hepatomegali, dan
limfadenopati. Penelitian Pohan di Jakarta
menyatakan bahwa 5 gejala tersering
leptospirosis berturutturut adalah demam
(100%), mual dengan atau tanpa muntah
(95,6%), nyeri otot (86,8%), injeksi silier
(85,3%), dan ikterik (69,1%).
Kepala
2. Manifestasi Klinis Mata: Anemis (-/-), sklera ikterik (+/+),
Pemeriksaan Fisik konjungtiva hiperemis (+/+)
Leher
TVJ R-2 cm H2O
Thoraks
Inspeksi: Simetris
Palpasi: SF kanan = kiri, kesan normal
Perkusi: Sonor
Auskultasi: SP : Vesikuler, ST : (-)
Abdomen
Inspeksi: Simetris
Auskultasi : Peristaltik (+)
Perkusi: Timpani
Palpasi: Soepel, H/L/R tidak teraba, Nyeri
tekan epigastrium kanan (-)
Ekstremitas
Edema (-/-)
Nyeri betis (+/+)
3. Pemeriksaan Penunjang Darah Lengkap

- Pemeriksaan Laboratorium Rutin Hb =11,4 g %


Eritrosit = 3,82x 106/mm3
Leukosit= 8,07 x 103/mm3
Trombosit = 240x 106/mm3
Ht = 31 %

Hitung Jenis
Eosinofil = 0,9 %
Basofil = 0,2 %
Neutrofil Batang dan Segmen= 91,9 %
Limfosit = 3,7 %
Monosit = 3,3 %

Foto Thorax : tidak dijumpai kelainan pada


- Foto Thorax
cor dan pulmo
3. Pemeriksaan Penunjang IgM anti dengue : -

- Serologi IgG anti dengue : -

HBsAg : Non reaktif

Anti HCV : Non reaktif

Anti HIV (Rapid I) : Non reaktif

Fungsi Hati
- Fungsi Hati
Bilirubin total 6,6 mg/dl

Bilirubin direk 5,9 mg/dl

AST/SGOT 60 U/L (N= 5-34 U/L)

ALT/SGPT 42 U/L (N= 0-55 U/L)


3. Pemeriksaan Penunjang
Fungsi Ginjal
- Fungsi Ginjal
BUN = 83 mg/dL (N= 9-21 mg/dL)
Ureum = 178 mg/dL (N= 19-44 mg/dL)
Kreatinin = 2,36 mg/dL (N= 0,7=1,3
mg/dL).

- Faal Hemostasis Faal Hemostasis


PT : 15”
APTT : 39,8”
TT : 14,5”
INR : 1,09
BAB VI
KESIMPULAN
Pasien laki-laki berusia 44 tahun bernama Tn.
Rawasimen didiagnosa menderita Suspect
Weil’s Disease + AKI Stadium Injury +
Trombositopeni. Pasien dirawat di RSUP H.
Adam Malik Medan dan diberi tatalaksana tirah
baring, diet MB, IVFD NaCl 0,9% 20 gtt/i
makro, Paracetamol 500 mg/8 jam/PO. Inj.
Ceftriaxone 1 gr/12 jam/IV. Pasien akan
dirawat di RSUP H. Adam Malik Medan sampai
keadaan pasien membaik. Rencana tindakan
lanjutan yaitu menunggu hasil MDT, Tes
serologis, PCR, LFT GGT ALT, ELISA Ig M,
MAT.
TERIMAKASIH
ATAS
PERHATIANNYA