Anda di halaman 1dari 18

OLEH :

Benediktus R. Kayame

PEMBIMBING :
dr. Josef William Wattimury, Sp.OG (K)
Definisi

Persalinan preterm didefinisikan sebagai


persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 20- 37
minggu hari sejak hari pertama haid terakhir
(HPHT) atau antara hari ke 140 dan 259 dengan
berat lahir janin kurang dari 2500gram
Epidemiologi

Pada laporannya WHO menuliskan Indonesia


menempati peringkat ke 5 negara dengan bayi
preterm terbanyak di dunia (675.700 bayi)
setelah India (3,5 juta bayi), Tiongkok (1,2 juta
bayi), Nigeria (773.600 bayi), dan Pakistan
(748.100 bayi). dan 5 negara ini menyumbang
60% dari semua kelahiran preterm di seluruh
dunia.
Etiologi
 Kehamilan multipel
 Polihidramniom
 Anomali uterus
 Dilatasi serviks > 2cm pada usia kehamilan 32 minggu
 Riwayat abortus 2 kali atau lebih pada trimester II
 Riwayat persalinan preterm sebelumnya
 Penggunaan cocain dan amphetamine
 Operasi besar pada abdomen
 Merokok
Patogenesis

•Infeksi intra uterine

•Aktivasi maternal-fetal hipotalamus-hipofisis-


axis adrenal

•Perdarahan desidua

•Peregangan uterus
Infeksi Intra Uterine
Infeksi bakterial dalam uterus
dapat terjadi antara jaringan
maternal dan fetal membran
(dalam koriodesidual space),
dalam fetal membran (amnion
dan korion), dalam placenta,
dalam cairan amnion, dalam
tali pusat. Infeksi pada fetal
membran disebut
korioamnionitis, infeksi pada
tali pusat disebut funisitis,
infeksi pada cairan amnion
disebut amnionitis. Infeksi
jarang terjadi pada kehamilan
prematur akhir (34-36 minggu),
dan lebih sering terjadi pada
usia kehamilan kurang dari 30
minggu
Aktivitas Maternal-Fetal Hipotalamus-Hipofisis-Axis Adrenal
Perdarahan Desidua
•Perdarahan desidua merupakan perdarahan yang terjadi
didalam desidua yaitu jaringan endometrium yang
membatasi uterus, yang berhubungan dengan membran
janin dan plasenta.

•Perdarahan desidua menyebabkan penurunan fungsi


dari pembuluh darah uteroplasenta sehingga
menyebabkan kekurangan oksigen pada janin yang akan
melepaskan CRH
Peregangan Uterus

•Peregangan uterus yang berlebihan seperti


polihidramnion, kehamilan multipel dan kelainan
anatomi uterus dapat meningkatkan risiko persalinan
preterm spontan.

•Mekanisme yang ditimbulkan adalah peregangan


dapat meningkatkan aktivasi miometrium,
pengeluaran prostaglandin dan sitokin, serta
meningkatkan reseptor oksitosis pada miometrium
sehingga terjadi persalinan preterm
Diagnosis
Faktor Mayor Faktor Minor

•Kehamilan multipel
• Polihidramniom
• Anomali uterus
• Dilatasi serviks > 2cm pada usia
kehamilan 32 minggu
• Riwayat abortus 2 kali atau lebih
•Perdarahan pervaginam
pada trimester II setelah 12 minggu
•Riwayat persalinan preterm • Riwayat pyelonefritis
sebelumnya • Merokok
• Riwayat menjalani prosedur
operasi pada serviks (cone biopsy, • Riwayat abortus
loop electrosurgical excision
procedure)
• Penggunaan cocain dan
amphetamine
• Operasi besar pada abdomen .
 Suatu kehamilan dikatakan rendah
terhadap persalinan premature
apabila hasil skoring resikonya antara
1-5; resiko sedang pada skor 6-9 dan
resiko tinggi bila nilai skoringnya 10
atau lebih.
Gejala Klinis
• Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu atau 140 dan 259
hari.

• Kontraksi uterus (HIS) yang teratur yaitu berulang 7-8 kali


atau 2-3 kali dalam 10 menit.

• Merasakan gejala seperti kaku di perut, menyerupai rasa


kaku seperti menstruasi, rasa tekanan intrapelvik, nyeri
punggung bawah (low back pain).

• Mengeluarkan lendir bercampu darah pervaginam.

• Pemeriksaan dalam menunjukkan serviks telah mendatar 50-


80%, atau telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm.

• Selaput amnion sering kali telah pecah.

• Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina ischiadika.


Penatalaksanaan
 Tirah baring (Bedrest)
 Pemberian tokolitik
 Pemberian steroid
 Pemberian antibiotik
 Pemberian Brain Protector
 Perencanaan persalinan
•Nifedipine : .awal 30 mg/oral , dilanjutkan 30 mg/ 8jam sampai kontraksi
menghilang,. diberikan 20mg, jika timbul kontraksi berulang, sedangkan dosis
perawatan 3x10mg. Dosis masksimum 40mg/6jam
Pemberian
tokolitik •Terbutalin : 250 ug secara i.v dilanjutkan dengan pemberian per infus 10 ug/menit.
Pengobatan dipertahankan sampai 8 jam, kemudian dilanjutkan dengan pemberian
subkutan 250 ug setiap 4 jam selama 24 jam.

Betametason :1 x 12 mg i.m. dengan jarak pemberian 24 jam.


Pemberian
Steroid Deksametason 2 x 6 mg i.m. dengan jarak pemberian 12 jam.

eritromisin 3 x 500 mg selama 3 hari


Antibiotika
ampisilin 3 x 500 mg selama 3 hari
Dalam laporan penelitian, ibu dengan persalinan preterm di
berikan terapi MgSO4 mempunyai penurunan inseden “cerebral
Braind palsy” pada bayi.
Protection
4 gr i.v (MgSO4 40% 100 cc) selama 30menit dan 6 gr (MgSO4
40% dalam RL 500 cc dalam 6 jam

•Untuk kehamilan <32 minggu sebaiknya ibu dirujuk ke tempat


Perencanaan yang mempunyai fasilitas neonatal intensive care unit (NICU).
Persalinan
•Kehamilan 24- 37 minggu diperlakukan sesuai dengan risiko
obstetrik lainnya dan disamakan dengan aturan persalinan aterm
Komplikasi

Pada Ibu :

Pada ibu setelah


persalinan preterm,
infeksi endometrium
lebih sering terjadi
sehingga
menyebabkan sepsis
Pencegahan
Primer Sekunder

- Memberikan
pendidikan kepada •Modifikasi aktivitas ibu
semua wanita usia (tirah baring, pembatasan
reproduksi diberikan aktifitas kerja, tidak
berhubungan seksual
pendidikan mengenai
selama kehamilan).
faktor – faktor resiko
persalinan preterm. •Pemberian sumplemen
- Mengkonsumsi nutrisi
suplemen nutrisi
- Menghentikan •Peningkatan perawatan
konsumsi rokok bagi wanita yang beresiko
- Melakukan asuhna
•Pemberian progesteron.
prenatal.
- Melakukan perawatan
periodontal