Anda di halaman 1dari 76

STUNTING TERLAMBAT DIKENALI 105 cm 125 cm 100 cm

(BARU DAPAT DILIHAT SETELAH 2


TAHUN)

Usia 2
tahun Usia 4
2 bulan tahun
4 bulan
7 thn 7 thn 4 thn

Stunting:
• Dilihat berdasarkan Panjang Badan per Umur
(PB/U) atau Tinggi Badan per Umur (TB/U).
• Nilai Z-score <-2,0 1 2
setelah anak lahir, tetapi baru nampak setelah anak berusia 2 tahun).
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari
STUNTING Sel Otak pada Anak Normal dan Stunted
Pengalaman dan bukti Internasional menunjukkan bahwa
kekurangan gizi kronis sehingga anak lebih pendek untuk usianya.
(kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal
Menghambat Pertumbuhan Ekonomi dan Produktivitas
Stunting disebabkan STUNTING
kehidupan setelah lahir, tetapi baru Nampak setelah anak berusia 2 tahun)
oleh factor Multidimensi sehingga STUNTING
penanganannya perlu dilakukan Stunting berdampak
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada pada
anak balitatingkat
akibat dari kecerdasan, kerentanan
Hilangnya
Stunting berdampak 11% tingkat
pada terhadap
GDP kecerdasan, kerentanan terhadap
Stunting
kekurangan gizi kronis
adalah sehingga anak tumbuh
kondisi gagal terlalu pada
pendek
anakuntuk
balitausianya.
akibat dari Stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap
penyakit, menurunkan produktifitas dan kemudian menghambat Mengurangi
oleh Multisektor penyakit,
(kekurangan menurunkan
gizi terjadi
kekurangan gizisejak bayisehingga
kronis produktifitas,
dalam kandungan
anak terlaludan pada masa
pendek dampak
untuk awal
usianya. kedepannya
pertumbuhan
penyakit, ekonomi, meningkatkan
menurunkan menghambat
kemiskinan
produktifitas dan ketimpangan.
dan kemudian menghambat
(kekurangan
setelah anak gizibaru
lahir, tetapi terjadi sejak bayi
nampak dalam
setelah kandungan
anak berusia 2dan pada masa awal
tahun). pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan pendapatan
dan ketimpangan.
pertumbuhan ekonomi,
setelah anak lahir, tetapi dan
baru nampak setelah
Sel Otak pada Anak Normal dan Stunted
anakmeningkatkan
berusia 2 tahun). kemiskinan
Pengalaman sertamenunjukkan
dan bukti Internasional kesenjangan.
pekerja dewasa
bahwa stunting….
Pengalaman dan bukti Internasional menunjukkan bahwa stunting….
Sel Otak pada Anak Normal dan Stunted hingga 20%
1. Praktek pengasuhan Menghambat Pertumbuhan Ekonomi dan ProduktivitasPasar kerja
Menghambat Pertumbuhan Ekonomi dan ProduktivitasPasar kerja
yang tidak baik 2 Singapura Tingkat ‘Kecerdasan’ Anak
Indonesia Hilangnya 11% GDP
Hilangnya 11% GDP
2. Terbatasnya layanan 17 di urutan 64 terendah dari Mengurangi
Vietnam Mengurangi
Memperburuk kesenjangan/inequ
pendapatan
65 negara* pendapatan
kesehatan termasuk pekerja
pekerja dewasa
dewasa
hingga
hingga 20%
20%
layanan ANC-Ante Natal 50 Thailand Mengurangi 10% dari Kem
2 Singapura
2 Singapura Tingkat ‘Kecerdasan’
Tingkat ‘Kecerdasan’
AnakAnak total pendapatan seumur hidup antar
Care, Post Natal dan Indonesia
Indonesia
pembelajaran dini yang 17 1752 Vietnam
Vietnam Malaysia di urutan 64 terendah
di urutan daridari
64 terendah
Memperburukkesenjangan/inequality
Memperburuk kesenjangan/inequality
65 negara*
65 negara*
berkualitas 50 50 Thailand Mengurangi10%
Mengurangi 10%dari
dari Kemiskinan
Kemiskinan
Thailand
64 Indonesia total pendapatan seumur hidup
total pendapatan seumur hidup antar-generasi
antar-generasi
Malaysia 52 52
3. Kurangnya akses ke Malaysia
*Asesmen yang dilakukan pada tahun 2012 oleh OECD PISA (Organisation for Economic Co-
makanan bergizi 64 64 IndonesiaIndonesia
operation and Development - Programme for International Student Assessment ), suatu
*Asesmen yang dilakukan pada tahun 2012 oleh OECD PISA (Organisation for Economic Co-
*Asesmen yang dilakukan pada tahun 2012 oleh OECD PISA (Organisation for Economic Co-
organisasi global bergengsi, terhadap
operation andkompetensi
Development - 510.000
Programme pelajar usia 15
for International tahun
Student dari ),65suatu
Assessment
4. Kurangnya akses ke air operation and Development - Programme for International Student Assessment ), suatu
organisasi global bergengsi, terhadap kompetensi 510.000 pelajar usia 15 tahun dari 65
negara, termasuk Indonesia,
organisasidalam bidang membaca, matematika, dan science. 2
bersih dan sanitasi global bergengsi, terhadap kompetensi 510.000 pelajar usia 15 tahun dari 65
negara, termasuk Indonesia, dalam bidang membaca, matematika, dan science. Sumber : diolah dari laporan World Bank Investing inEarly Yearsbrief, 2016
Sumber : diolah dari laporan World Bank Investing in Early Yearsbrief, 2016
negara, termasuk Indonesia, dalam bidang membaca, matematika, dan science.
Sumber : diolah dari laporan World Bank Investing in Early Yearsbrief, 2016
AKIBAT STUNTING… 3 G

Gagal tumbuh; Berat Lahir Gangguan perkembangan Gangguan metabolisme


Rendah, kecil, pendek, kurus, tubuh, berisiko gemuk dan
kognitif, nilai sekolah dan terkena penyakti tidak
daya tahan rendah, mudah sakit keberhasilan pendidikan menular
3
PREVALENSI STUNTING (TB/U) TAHUN 2015-2017
BALITA USIA 0-59 BULAN, PER PROVINSI
(PEMANTAUAN STATUS GIZI 2015-2017)
8 PROVINSI
mengalami
PENINGKATAN
PREVALENSI
berturut-turut
selama 3 tahun

5W 1H

• Apakah signifikan penurunannya?


Mengalami PENURUNAN PREVALENSI BERTURUT-TURUT selama 3 tahun • Mengapa bisa?
• Apa saja yang telah dilakukan?
• Adakah program khusus daerah?
• PERLU PENELITIAN LEBIH LANJUT !!
PEMANTAUAN DAN EVALUASI MELALUI e-PPGBM
DEFINISI : KEGIATAN PENGAMATAN SECARA TERATUR DAN TERUS
MENERUS TERHADAP STATUS GIZI MASYARAKAT SEBAGAI DASAR UNTUK
MEMBUAT KEPUTUSAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN STATUS GIZI
MASYARAKAT”. (FAO,WHO, UNICEF pada Kongres Pangan Sedunia, Roma 1974, dan Publikasi
Metodologi Surveilans Gizi, 1976, )

Mengamati secara terus menerus, tepat waktu dan teratur


TERHADAP:
Keadaan gizi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
UNTUK:
Tindakan Segera, Dasar Perumusan Kebijakan, Perencanaan Program, Monitoring Dan
Evaluasi Program Gizi Masyarakat
MONITORING DAN EVALUASI

Sumber Informasi Surveilans Gizi

Real Time
(Laporan Kasus Gizi Buruk)

Rutin (Laporan Status Gizi Balita dan Kinerja Gizi


melalui e-PPGBM)

Survey (PSG, PKG)


SIKLUS SURVEILANS GIZI
Hasil PSG dan Laporan Rutin :
Peran setiap Lini
1. Apa Masalah Gizi??
1. Pusat :
2. Dinkes Provinsi: 2. Siapa yg mangalami Masalah Gizi?
3. Dinkes Kab/Kota: 3. Dimana Lokasinya?
4. Puskesmas: 4. Kapan masalah terjadi?
5. Lintas Sektor OPD : 5. Bagaimana kondisinya?
Intervensi yang tepat
(spesifik & sensitif)
Apakah Penyebab langsung dari masalah gizi ??
 asupan makanan yang tidak cukup, atau
 penyakit infeksi.

Penyebab akar masalah kurang gizi adalah:


 Ketidakcukupan makanan
 Kesehatan lingkungan,
 akses pelayanan kesehatan (geografik)
 Kemiskinan
 Politik dan ekonomi
Sumber : Diagram siklus 3 A menggambarkan masalah terkait gizi WHO, 2013
PENGUATAN SURVEILANS GIZI
KABUPATEN
LOKUS PENINGKATAN KAPASITAS OLEH:
STUNTING UNIVERSITAS, POLTEKKES DAN
LITBANG KESEHATAN & GIZI

PUSKESMAS
LOKUS
STUNTING
TPG DAN KADER :
SURVEILANS • E-PPGBM
• PEMANTAUAN
DESA LOKUS GIZI PERTUMBUHAN
STUNTING • PELATIHAN PMBA
• ASUHAN GIZI
(JML POSYANDU) PUSKESMAS
• HEALTH PROMOTION
KELUARGA
INTERVENSI
Uraian Survey PSG Laporan Rutin
(ePPGBM)
Sumber Data Community Based Fasility Based
Sasaran Survey (sample) Total Coverage
Jenis Data • Status Gizi, • Status Gizi
• Kinerja Program, • Kinerja Program
• Konsumsi Gizi
Petugas Enumerator Kader, Tenaga Kesehatan
dan Enumerator
Integrasi - PIS-PK
Versi e-PPGBM
Versi Android
TOOLS Kata kunci: ppgbm

Versi Offline
http://localhost:8010/index.html

Versi online
Sigiziterpadu.gizi.kemkes.go.id

Penggabungan data
offline ke online:
1. Backup data di offline
2. Login online
3. Restore data di online

Tenaga kesehatan di Puskesmas memiliki Username dan Password setelah registrasi ke Dinas Kesehatan Kab/Kota.
Dashboard data gizi dari PPGBM diakses di : http//www.gizi.kemkes.go.id
LANGKAH – LANGKAH SURVEILANS GIZI MENGGUNAKAN e-PPGBM
POSYANDU PUSKESMAS KABUPATEN/KOTA PROVINSI PUSAT

PENGUMPULAN PENGUMPULAN DATA


I DATA RUTIN 1. DATA RUTIN PENGUMPULAN DATA:
PENYAJIAN PENYAJIAN
POSYANDU PUSKESMAS LAPORAN FASYANKES
2. PIS-PK  identitas

N, T, 2T ANALISIS N/D, D/S  ANALISIS & ADVOKASI ADVOKASI


Desa, Status Gizi FEEDBACK
Konfirmasi

Apabila 2T PENYAJIAN  Tabel/Peta


rujuk ke PENYAJIAN
Feedback
Puskesmas
II
ADVOKASI
ADVOKASI

IMPLEMENTASI KEPUTUSAN
IMPLEMENTASI KEPUTUSAN/  KEBIJAKAN
KEPUTUSAN/KEBIJAKAN KEBIJAKAN  PERENCANAAN

INTERVENSI
MEKANISME KEGIATAN SURVEILANS GIZI

Orientasi Tingkat Pusat • Penyesuaian Rincian Anggaran Dekon PSG


(Peserta Provinsi) • Metodologi Pelaksanaan
• Rencana Orientasi tingkat Provinsi

Orientasi Tingkat • Metodologi Pelaksanaan


Provinsi • Tugas enumerator
(Peserta Kab/Kota dan • Teknis Pelaksanaa
enumerator)

Persiapan Pelaksanan di
• Rekap Data Sasaran
Kab/Kota
• Validasi Data Sasaran
(Peserta Puskesmas dan
• Input Data oleh Enumerator
enumerator)

Pengumpulan Data di • Pengumpulan Data Sasaran dari Posyandu


Puskesmas • Validasi Data Sasaran
ALUR PELAKSANAAN
POSYANDU PUSKESMAS KABUPATEN
Pengiriman pencatatan Laporan
REKAPITULASI REKAPITULASI
PENGUMPULAN DATA DATA RUTIN dari DATA RUTIN DARI
RUTIN POSYANDU POSYANDU PUSKESMAS
feedback feedback

informasi Entry data/


feedback

informasi
feedback ePPGBM
Data individu
by name by address Entry data
EPPGBM menjadi
sumber data dan ENUMERATOR
informasi untuk
kegiatan Surveilans Gizi
PUSAT PROVINSI SEKTOR LAIN

PEMANFAATAN INFORMASI
SURVEILANS SOSIAL, KESEHATAN, PANGAN DAN GIZI

TRANSFORMASI RR GIZI
• Data yang dikumpulkan berupa data individu, bukan data agregat;
• Jenis data: Individual Data, Antropometri, dan Indikator Kinerja termasuk indicator pemantauan
pertumbuhan dan asi ekslusif;
• Analisis/interpretasi data untuk feedback dilakukan oleh sistem dalam bentuk tabel dan peta;
• Dilakukan oleh Puskesmas dan Pustu melalui posyandu (kader) 16
PENGUATAN MANAJEMEN PUSKESMAS
PUSKESMAS
IMPLEMENTASI
PENYUSUNAN INTERVENSI
BINA RUK EVIDENCE PERMASALAHAN PENGAWASAN
PENDATAAN
PERSIAPAN KELUARGA BASED SESUAI PENGENDALIA
KELUARGA
DESA/KEL PENDEKATAN KESEPAKATAN N & PENILAIAN
KELUARGA PADA RPK SBG
PRIORITAS
MASALAH

Kunjungan Tabulasi & Triangulasi & Lokmin Bulanan dan


rumah Analisis Analisis atau tribulanan

Sosialisasi, P1 P2 P3
Pengorganisasian
Pengawasan
Pembiayaan & Penggerakaan
Perencanaan Pengendalian
Pendataan Pelaksanaan Penilaian
ANUNG untuk PIS PK KALTENG 17
OPTIMALISASI KEGIATAN GIZI DI POSYANDU

LANGKAH-LANGKAH

18
SIAK
Integrasi SIKDA Generik- Keluarga Sehat-
(NIK, NKK, data
kependudukan)
SIGiziTerpadu

PERTUKARAN INFORMASI KESEHATAN

SIGizi SIKDA Generik Keluarga


Terpadu Puskesmas Sehat
INTEGRASI SAAT INI SIGIZI (e-PPGBM) DENGAN APLIKASI KELUARGA SEHAT (KS)
Bayi/Balita

Bayi/balita Bayi/Balita
Bayi/balita
berkunjung
berkunjung
Integrasi
Tgl : 12 – 09 -
Tgl : 12 – 08 -2017 SIGizi – Aplikasi Keluarga 2017
Sehat
Melalui web service
1 Indikator yang
12 Indikator KS
5
didata
Bayi/Balita X • ASI Ekslusif
• ASI Ekslusif • Pemantauan
• Pemantauan Pertumbuha
Pertumbuhan dan n dan
perkembangan 4 8 perkembang
Bayi/Balita an
Fasyankes A • --- (NIK Bayi/Balita) Rumah Keluarga Bayi/Balita X
Bayi/Balita
2 • ---
6
3 7

SIGizi Terpadu

Data E ntry Server SIGizi Server Aplikasi Aplikasi Keluarga


Sehat
di Fasyankes A Keluarga Sehat
Terpadu
Data Entry
di Keluarga Bayi/Balita X
INTEGRASI SAAT INI SIGIZI (e-PPGBM) DENGAN APLIKASI KELUARGA SEHAT (KS)
DAFTAR BALITA STUNTING (SANGAT PENDEK)
LOKUS STUNTING: DESA, KAB PASAMAN PROV SUMBAR 2018

22
HASIL PEMANTAUAN PERTUMBUHAN BALITA DI SALAH
SATU LOKUS STUNTING

23
Kondisi Lingkungan Balita Stunting di Kab Pasaman
Jamban menjadi masalah prioritas termasuk Perilaku Masyarakat
Dampak Masalah Gizi

Produktivitas Rendah

Daya saing rendah

Pertumbuhan dan Perkembangan Tidak Optimal

Meningkatkan Risiko Penyakit Infeksi dan


Penyakit Kronik
Imunitas rendah

26
17 negara, diantara 117 negara dengan tiga masalah gizi balita :
STUNTING, WASTING dan OVERWEIGHT

Albania
Bhutan Azerbaijan

INDONESIA juga termasuk di dalam 47 negara Syria Arab Rep. Iraq


dari 122 negara yang mempunyai masalah
Stunting pd Balita dan Anemia pada WUS

Posisi Indonesia untuk cakupan 3 Intervensi


(IMD, ASI eksklusif, TTD u/Ibu Hamil) Indonesia Papua
masih RENDAH New Guinea
Zambia Sao Tome & Mozambique
Principe

Benin Comoros Botswana

Djibouti Egypt Sierra Leone

Libya

27
Hanya 36% balita 6-23 bulan yang
mengkonsumsi
“asupan makanan berkecukupan
(minimum)” (SDKI, 2012)
14% balita mengalami diare dua
minggu sebelumnya
(SDKI, 2012)

24% BAB di tempat terbuka


(JMP, 2013)
14% tidak memiliki akses ke
sumber air bersih (JMP,
2013)

12% berada di bawah


garis kemiskinan
(SUSENAS, 2012)
28
SITUASI GIZI DI INDONESIA
KEKURANGAN GIZI KELEBIHAN GIZI

Gizi Lebih
KVA
controlled emerging 11,9%
GAKI

Gizi Kurang 19,6% PTM


• Diabetes Melitus 2,1% • Stroke 12,1%
37,2% Stunting un-finished • Gagal Ginjal 0,2% • Hipertensi 25,8%
• Jantung Koroner 1,5% • Kanker 1,4%

Anemia 37,1% bumil


28,1%balita
29
KELANJUTAN MDGs
2000 2015 2030

SDGs Goals Target Indikator

MDGs Goals Target Indikator TOTAL 17 169 ±220-300

TOTAL 8 18 63 KESEHATAN 4 19 31
TERKAIT
KESEHATAN 5 9 32 5 22 20
KESEHATAN
PENEKANAN SDGs:
5P : PEOPLE, PLANET, PEACE, PROSPERITY AND PARTNERSHIP

DAMPAK POSITIF MDGs BAGI SEKTOR KESEHATAN:


a. Meningkatnya kesadaran isu kesehatan
b. Meningkatnya alokasi anggaran kesehatan
c. Menyatunya arah pembangunan kesehatan
d. Integrasi monitoring dan evaluasi untuk isu-isu prioritas
ANUNG UNTUK ISMKMI JAMBI 2016
30
SDGs = UNFINISHED BUSINESS + PERHATIAN BARU
UNFINISHED BUSINESS: HAL BARU DALAM SDGs:
1. Masalah gizi diarahkan pada solusi
1. Penurunan prevalensi balita
berkelanjutan: Integrasi dengan
kekurangan gizi (gizi buruk dan gizi
peningkatan akses pangan dan produksi
kurang)
pertanian
2. Penurunan angka kematian bayi (AKB) 2. Universal Health Coverage
dan balita (AKBa) 3. Kematian akibat PTM dan pengendalian
3. Penurunan angka kematian ibu (AKI) tembakau
4. Penyalahgunaan narkotika dan alkohol
4. Penurunan prevalensi HIV dan AIDS (%)
5. Kematian dan cedera kecelakaan lalu
dari total populasi
lintas
5. Peningkatan pengetahuan 6. Kontaminasi dan polusi air, udara, tanah
komprehensif tentang HIV dan AIDS 7. Penanganan krisis dan kegawatdaruratan
pada penduduk berusia 15-24 tahun
8. Kesetaraan gender sebagai cross-cutting
6. Kesenjangan akses air minum dan issue
sanitasi layak (dalam konteks PHBS) 9. Remaja sebagai aktor penting kesehatan
ANUNG UNTUK ISMKMI JAMBI 2016
seksual dan reproduksi 31
DAMPAK YANG DIHARAPKAN SDGs
PENGURANGAN KEMISKINAN,
1 PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN YANG
MERATA, MATA PENCAHARIAN DAN
PEKERJAAN LAYAK

2 AKSES MERATA KEPADA PELAYANAN DAN


JAMINAN SOSIAL

KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN DAN


3 MEMPERTINGGI KETAHANAN TERHADAP
BENCANA

PEMERINTAHAN YANG DITINGKATKAN


4 KUALITASNYA DAN AKSES MERATA KEPADA
KEADILAN BAGI SEMUA ORANG
Kategori area cross-cutting:
(United Nations Partnership for Development 2016-2020)
HAM, Kepemudaan, Kesetaraan Jender, HIV/AIDS,
Manajemen Data dan Statistik ANUNG UNTUK ISMKMI JAMBI 2016 32
10 HAL YANG PERLU DIPERKUAT PADA ERA SDGs (LESSON
LEARNT MDGs)
(Bappenas, 2015)

1. Pengurangan kesenjangan dalam pencapaian target bidang kesehatan antarprovinsi dan


antarkabupaten/kota serta antar tingkat sosial ekonomi
2. Mobilisasi sumberdaya untuk bidang kesehatan yang berasal dari dunia usaha, masyarakat, termasuk
kerjasama dengan mitra pembangunan
3. Ketersediaan data indikator bidang kesehatan yang terintegrasi pada sistem perencanaan dan penganggaran
jangka pendek maupun jangka menengah
4. Database indikator bidang kesehatan di tingkat kabupaten dan kota
5. Diperkuatnya strategi komunikasi dan advokasi bidang kesehatan terhadap seluruh pemangku kepentingan
6. Pemahaman definisi operasional untuk setiap indikator baik di Pusat maupun di daerah
7. Fasilitasi dari Pusat kepada Daerah terutama kabupaten dan kota
8. Kerjasama lintas sektor dan lintas program bidang kesehatan
9. Pemantauan dan evaluasi pencapaian bidang kesehatan
10. Dukungan program dan kegiatan untuk pencapaian target bidang kesehatan.
ANUNG UNTUK ISMKMI JAMBI 2016 33
17 TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
SDGs/ #GlobalGoals 17 Goals, 169 TARGET

34
PERHATIAN KHUSUS SEKTOR KESEHATAN
Tujuan #1: Mengakhiri segala bentuk kemiskinan di manapun
Dalam kaitannya dengan JKN  Target 1.3 tentang cakupan jaminan sosial
(7 target) JAMINAN KESEHATAN NASIONAL
Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan meningkatkan gizi, serta mendorong
pertanian yang berkelanjutan [8 target]
GIZI MASYARAKAT
Menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala
usia [13 target]
SISTEM KESEHATAN NASIONAL
Menjamin kesetaraan gender serta memberdayakan seluruh wanita dan anak perempuan
[9 target]
AKSES KESPRO, KB
Menjamin ketersediaan dan pengelolaan air serta sanitasi yang berkelanjutan bagi semua
orang [8 target]
SANITASI DAN AIR BERSIH
35
GIZI DALAM KERANGKA SDGs
Tujuan #2: “Mengakhiri kelaparan, mencapai
ketahanan pangan dan meningkatkan gizi, serta
mendorong pertanian yang berkelanjutan”
1. Menjamin akses pangan yang aman, bergizi, dan mencukupi bagi semua orang,
khususnya masyarakat miskin dan rentan termasuk bayi, di sepanjang tahun.
2. Mengakhiri segala bentuk malnutrisi, termasuk mencapai target internasional
2025 untuk penurunan stunting dan wasting pada balita
3. Mengatasi kebutuhan gizi remaja perempuan, wanita hamil dan menyusui, serta
lansia.
Perhatian baru:
1. Beban ganda gizi
2. Ekonomi Meningkat  Konsumsi Berlebih  Ketahanan Pangan
Terganggu (perlu perhatian pada tujuan #12: Konsumsi
Berkelanjutan)
3. Diarahkan pada solusi berkelanjutan, yaitu integrasi dengan
peningkatan akses pangan dan produksi pertanian 36
INDIKATOR GIZI MASYARAKAT 2015-2019

MENKES WHA 2025


DIT. GIZI
MASYARAKAT 1. ↓ AKI per 100.000 1. ↓ proporsi balita
kelahiran pendek 40%
1. % bumil KEK yg 2. ↓ AKB per 1.000 2. ↓ proporsi balita
mendapat PMT kelahiran hidup kurus < 5%
2. % bumil yang DITJEN KESMAS 3. ↓ prev. anemia 3. ↓ BBLR 30%
mendapat TTD ibu hamil
1. % persalinan di 4. Tidak ada kenaikan
3. % bayi usia s/d 6
fasyankes (PF) 4. ↓ BBLR proporsi anak gizi
bln yg mendapat
2. % kunjungan 5. ↑ bayi usia <6 lebih
ASI eksklusif
4. % bayi baru lahir neonatal pertama bulan mendapat 5. ↓ proporsi ibu
mendapat IMD ASI ekslusif usia subur anemia
(KN1)
5. % balita kurus yg 6. ↓ prev. gizi kurang sebanyak 50%
mendapat pada balita 6. ↑ % ibu yang
3. % ibu hamil KEK 7. ↓ prev. wasting memberikan ASI
makanan
tambahan anak balita Eksklusif selama 6
6. % remaja puteri 8. ↓ prev. stunting bulan paling
yg mendapat TTD baduta kurang 50% 37
KEGIATAN UNGGULAN KESEHATAN MASYARAKAT
KESEHATAN KELUARGA
1. Peningkatan Kapasitas Teknis PROMKES DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KESEHATAN LINGKUNGAN
dan Manajemen Kesehatan Peningkatan kapasitas tenaga promkes di poskesdes, 1. Peningkatan kapasitas SDM
Keluarga bagi petugas pusk, kab/kota, prov, pusat 2. Pembinaan dan kemitraan
puskesmas (terintegrasi) 1. Peningkatan promkes dan pemberdayaan melalui kesling (TTU, sekolah,
2. ANC Terpadu berbagai media pontren, instansi, Kab/kota
3. Reagen dan sarana deteksi 2. Pendampingan peningkatan promkes dan sehat dsb)
risiko bumil pemberdayaan masyarakat ke prov dan kab/kota 3. STBM
4. Paket kelas ibu 4. Penyehatan air minum dan
5. Konseling IMD dan KB Pasca sanitasi dasar
salin 5. Peningkatan Higiene Sanitasi
6. KN Lengkap Pangan
7. Buku KIA 6. Pengamanan Limbah, udara
8. Pendidikan Kespro dan radiasi
9. UKS Kit
10. PKPR GIZI MASYARAKAT Peningkatan
kapasitas petugas gizi (1000 HPK,
KESEHATAN KERJA DAN OLAHRAGA anak sekolah, Rematri, ASI ekslusif,
1. Peningkatan kapasitas teknis dan PMBA, Tatalaksana gizi buruk)
manaj bagi petugas Kesjaor di 1. PMT Bumil KEK
Pusk, Kab, Prov DUKUNGAN MANAJEMEN 2. PMT Balita
2. GP2SP 1. Koordinasi Perencanaan dan Anggaran 3. PMT AS
3. KIT APD nelayan 2. Penggerakan program kesmas 4. Surveilans dan PSG
4. Sistem informasi dan surveilans 3. Pelaporan, Monitoring dan Evaluasi Program 5. Buku/Modul dan Media KIE
Kesjaor 4. Pengelolaan Keuangan
5. Media promosi 5. Hukum dan Organisasi 38
APA KEBIJAKAN PERBAIKAN GIZI
MASYARAKAT 2015-2019?

39
Legislasi Dasar Kebijakan Nasional Perbaikan Gizi
Pembangunan pangan dan
perbaikan gizi dilaksanakan
secara lintas sektor meliputi
produksi, pengolahan, UU Nomor 17 Tahun 2007 Arah perbaikan gizi adalah
distribusi, hingga konsumsi RPJP 2005-2025 MENINGKATNYA MUTU GIZI
UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang RPJP 2005-2025
pangan dengan kandungan
gizi yang cukup, seimbang,
perorangan dan masyarakat.
Pemerintah, pemerintah
serta terjamin keamanannya UU Kesehatan daerah, dan/atau masyarakat
bersama-sama menjamin
Nomor 36 Tahun 2009 tersedianya bahan makanan
Arah Pembangunan yang bergizi secara merata dan
Pangan dan Gizi yaitu terjangkau
meningkatkan Perpres No. 5 Tahun 2010
ketahanan pangan dan
status kesehatan dan
RPJMN 2010-2014 Perlunya disusun dokumen
Rencana Aksi Nasional Pangan
gizi masyarakat dan Gizi (RAN-PG) 2011-2015
Inpres Nomor 3 Tahun 2010 dan Rencana Aksi Daerah
Pangan dan Gizi (RAD-PG)
Pemerintah menetapkan
kebijakan di bidang Gizi untuk 2011-2015 di 33 provinsi
perbaikan status gizi
masyarakat. Pemerintah dan
UU Pangan Nomor 18 Tahun 2012
Pemerintah Daerah menyusun
Rencana Aksi Pangan dan Gizi Upaya penggalangan
setiap 5 (lima) tahun Perpres No. 42 tahun 2013 Gerakan partisipasi dan kepedulian
pemangku kepentingan secara
Nasional terencana dan terkoordinir
Percepatan Perbaikan Gizi untuk percepatan perbaikan
gizi pada 1000 hari pertama
kehidupan. 40
PRIORITAS PEMBANGUNAN KESEHATAN

a. Penurunan AKI & AKB (Kesehatan Ibu & Anak


termasuk Imunisasi
b. Perbaikan Gizi khususnya stunting
c. Pengendalian Penyakit Menular (ATM: HIV/ AIDS,
Tuberkulosis & Malaria
d. Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Hipertensi,
Diabetes Melitus, Obesitas & Kanker)

41
ARAH KEBIJAKAN 2015 - 2019
6 Penguatan peran Linsek
Peningkatan surveilans dalam rangka intervensi
gizi termasuk 1 sensitif dan spesifik
pemantauan
pertumbuhan
Penguatan
PERBAIKAN GIZI pelaksanaan 5
dan pengawasan
Peningkatan promosi regulasi dan standar
perilaku masyarakat gizi
tentang kesehatan, gizi, 2
dll 4
Peningkatan peran
serta masyarakat
Peningkatan akses dan dalam perbaikan gizi
mutu paket yankes dan
3
gizi 42
KOMITMEN PEMERINTAH
DALAM PERCEPATAN PERBAIKAN GIZI

PERPRES 42/2013
TENTANG
 Menurunkan balita stunting 40%
GERAKAN NASIONAL  Menurunkan balilta kurus (wasting) <5%
PERCEPATAN
PERBAIKAN GIZI  Menurunkan anak BBLR 30%
 Tidak ada kenaikan % anak gizi lebih
Upaya bersama
 Menurunkan WUS anemia 50%
pemerintah & masy
untuk percepatan  Meningkatkan ASI ekslusif paling kurang
perbaikan gizi 50%
dengan prioritas
1000 HPK 43
44
PENDEKATAN KELUARGA SEHAT

45
Pendekatan Lintas Sektor Mutlak diperlukan dalam
menanggulangi masalah gizi

Masalah Gizi
pada Balita

Perawatan Ibu dan Anak, Pencegahan dan


Respon Langsung Penanggulangan Infeksi, Pemberian
Makanan Tambahan

Kebijakan
Penyediaan
Ketahanan Pendidikan Pola dan Sistem
Respon Institusi Air Bersih dan
Pangan Asuh Informasi Gizi
Sanitasi

Program
Respon Perlindungan Sosial Perlindungan Sosial:
BLT, PKH
46
PERAN PEMANGKU KEPENTINGAN
LEMBAGA SOSIAL
KEMASYARAKATAN/CSOs
MEDIA MASSA DUNIA USAHA
Advokasi untuk penyempurnaan
Mempublikasikan informasi Pengembangan produk dan
inisiasi, kajian strategis dan
yang mendukung program yang mendukung
pelaporan situasi pelaksanaan di
pembangunan kesehatan (Berbagi informasi distribusi
lapangan/ masyarakat,
secara terus menerus sumber daya, penerapan
pemberdayaan masyarakat
CSR sesuai dasar hukum)

MITRA PEMBANGUNAN PARLEMEN


Memperkuat Inisiasi, PERCEPATAN Menjalankan fungsi
Kolaborasi, dan Monev PERBAIKAN GIZI legislatif

ORGANISASI PROFESI BADAN-BADAN PBB


DAN AKADEMISI Memperluas dan
mengembangkan kegiatan serta
Think Tank
PEMERINTAH PUSAT DAN fasilitasi pemerintah untuk
DAERAH keberhasilan program
Inisiator, Fasilitator, dan
Motivator
47
ORGANISASI PROFESI 1 Peningkatan surveilans gizi termasuk
DAN AKADEMISI
pemantauan pertumbuhan
Think Tank
2 Peningkatan promosi perilaku
masyarakat tentang kesehatan, gizi, dll
PERAN SARJANA GIZI
PENELITI 3 Peningkatan akses dan mutu
PENYULUH KESEHATAN ARAH paket yankes dan gizi
ADMINISTRATOR KES. KEBIJAKAN
ANALIS KEBIJAKAN PUBLIK
4 Peningkatan peran serta
NUTRISONIS
DIETISEN masyarakat dalam perbaikan gizi

5 Penguatan pelaksanaan
dan pengawasan regulasi dan standar gizi

6 Penguatan peran Linsek


dalam rangka intervensi sensitif dan spesifik
48
PETA STRATEGI
UPAYA MENINGKATKAN DERAJAT KESEHATAN MASYARAKAT
DAMPAK 1. MASYARAKAT YANG SEHAT DAN MANDIRI
PENINGKATAN DERAJAT KESMAS

2. TERWUJUDNYA MASYARAKAT
OUTCOME PEDULI KESEHATAN (KESGA, KESLING, 3. TERWUJUDNYA PELAYANAN
PROMKES, GIZI, KESJAOR) KESEHATAN YANG PARIPURNA
OUTPUT

17.. KERANGKA PEMBIAYAAN & REGULASI


4. PENERAPAN PIS – PK SECARA 5. INTENSIFIKASI 6. PENGUATAN YANKES 7. OPTIMALISASI SISTEM
TOTAL COVERAGE GERMAS PADA K/L PRIMER UTK SPM RUJUKAN

8. SINERGI PUSAT – DAERAH & PENGUATAN PERAN PEMERINTAH DAERAH

STRATEGI
OPERASIONAL 9. INTENSIFIKASI KOLABORASI 10. PENINGKATAN 11. PENGUATAN
PERGURUAN TINGGI & KEMITRAAN BISNIS & MASYARAKAT MADANI, LSM&
AKADEMISI FILANTROPI MEDIA

PENGUATAN SISTEM KESEHATAN

12. TERSEDIANYA 13. TERSEDIANYA 14. TERWUJUDNYA 15.TERWUJUDNYA 16.TERWUJUDNYA


SDM KESEHATAN SARANA, ALKES & OBAT MANAJEMEN YANG PEMBERDAYAAN LITBANG UTK HEALTH
PROFESIONAL YANG BERMUTU HANDAL MASYARAKAT POLICY
49
ARAH KEBIJAKAN 2015 - 2019
6 Penguatan peran Linsek
Peningkatan surveilans dalam rangka intervensi
gizi termasuk 1 sensitif dan spesifik
pemantauan
pertumbuhan
Penguatan
PERBAIKAN GIZI pelaksanaan 5
dan pengawasan
Peningkatan promosi regulasi dan standar
perilaku masyarakat gizi
tentang kesehatan, gizi, 2
dll 4
Peningkatan peran
serta masyarakat
Peningkatan akses dan dalam perbaikan gizi
mutu paket yankes dan
3
gizi 50
Definisi Surveilans Gizi
1. Mengamati keadaan gizi dan faktor-faktornya
secara terus menerus, tepat waktu dan teratur
untuk: tindakan segera, perumusan kebijakan,
perencanaan program dan evaluasi kinerja
program pembinaan gizi masyarakat PENGUATAN:
2. Melalui pengumpulan data secara teratur, baik PENGEMBANGAN
yang dilakukan secara khusus untuk keperluan PENCATATAN
surveilans maupun dari data laporan rutin yang DAN PELAPORAN
sudah ada, atau keduanya (RR)
3. Data atau informasi yang dikumpulkan harus
akurat dan tepat waktu agar dapat
diinterpretasikan dan digunakan untuk tindakan
yang tepat waktu
KEBIJAKAN
1.Surveilans Gizi Dilakukan oleh
1 Puskesmas/Dinas Kesehatan: versi offline

Satu sumber Laporan Rutin Program Gizi


2
melalui Sigizi Terpadu

Data Laporan Rutin digunakan untuk kepentingan


3 Monev dan intervensi Program (diperlukan data by
name by address),

Besaran masalah (prevalensi) sampai tingkat


Kabupaten/Kota menggunakan data Riskesdas dalam 5
4 tahunan dan Survey Status Gizi Balita Indonesia dalam
Susenas setiap tahun.
INTEGRASI

1 Sistem PIS - PK

1.Pemantauan Perkembangan balita


2 2.(kedepan, seluruh program kesehatan keluarga
akan terintegrasi)
1.Dengan berbasis NIK sebagai kode unik, ePPGBM dapat pula
di integrasikan dg sistem serupa; termasuk MIS PKH dari
3 Kemsos (sehingga seluruh balita miskin stunting mendapatkan
program PKH).
PROPORSI STATUS GIZI SANGAT PENDEK DAN PENDEK
PADA BALITA, 2007-2018
2007 2013 2018

18.8 18.0 18.0 19.2 19.3


• 2013: Sangat pendek dan
11.5 pendek 37.2%
• 2018: Sangat pendek dan
pendek 30.8%

Sangat Pendek Pendek


Balita gizi sangat pendek dan pendek
Riskesdas 2018 Target RPJMN 2019
30.8% (balita) VS 28% (baduta)

54
10
20
30
40
50
60

0
DKI Jakarta

17.7
27.5
DI Yogyakarta
Bali
Kepulauan Riau
Bangka Belitung
Sulawesi Utara
Banten
Kalimantan Utara

⋆ Sangat pendek : TB/U<-3SD


Lampung
Riau
Papua Barat
Bengkulu

Indikator tinggi badan menurut umur (TB/U):


Sulawesi Tenggara
Kalimantan Timur
Sumatera Barat
Jambi
INDONESIA
2013
30.8
37.2

Jawa Barat
⋆ Pendek: TB/U ≥-3SD s/d <-2SD

Jawa Tengah
Maluku Utara
2018

Sumatera Selatan
Sumatera Utara
Sulawesi Tengah
Gorontalo
MENURUT PROVINSI, 2013-2018

Jawa Timur
Papua
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
PROPORSI STATUS GIZI STUNTING PADA BALITA

Nusa Tenggara Barat


33.5
45.2

Maluku
Kalimantan Tengah
Sulawesi Selatan
Aceh
55

Sulawesi Barat
48

Nusa Tenggara Timur


42.6
51.7
10
15
20
25
35
40

30

0
5
DKI Jakarta

18
9.2
DI Yogyakarta

Banten

Bangka Belitung

Bali

Riau

•Pendek
Nusa Tenggara…

Sulawesi Tenggara

Sulawesi Utara

Lampung

Sulawesi Tengah

•Sangat pendek : TB/U<-3SD


Gorontalo

Sumatera Barat

Bengkulu

: TB/U ≥-3SD s/d <-2SD


Jawa Barat

Indikator tinggi badan menurut umur (TB/U):


Pendek

Sumatera Selatan

INDONESIA
12.8
17.1
29.9

Kalimantan Timur

Kepulauan Riau

Papua Barat

Jambi

Kalimantan Utara
Sangat pendek

Kalimantan Barat
13.1
18.3

Kalimantan Selatan

Maluku

Maluku Utara

Sumatera Utara

Jawa Tengah
PROPORSI STATUS GIZI SANGAT PENDEK DAN

Jawa Timur
PENDEK PADA BADUTA MENURUT PROVINSI, 2018

• INDONESIA: sangat pendek dan pendek 29.9%


• 18 provinsi dengan prevalensi tinggi (30% - <40%)

Sulawesi Selatan

Papua

Kalimantan Tengah

Nusa Tenggara…

Sulawesi Barat
56

Aceh
19

18.9
Persentase Entry Data E-PPGBM
Prov. Kalimantan Barat Tahun 2018 ( 26 Februari 2019 )

51.5
46.8
40.6 39.0
37.1
31.5 29.9 28.1 27.0 26.7
21.8 21.8 21.8
19.1 17.3
Trend besaran mslh gizi
prov Kalbar,
PSG 2016 – 2018

Prevalensi
Indikator
2016 2017 2018

BB/U (Kurang+Buruk) 27,5 26,0 18,9 (sedang)

TB/U (Pendek+Sangat pendek) 34,9 36,5 28,4 (ringan)

4,7
BB/TB (Gemuk) 4,8 4,6
(baik)

9,6
BB/TB (Kurus+Sangat kurus) 14,4 13,2
(ringan)
Besaran masalah gizi
Menurut Kabupaten/Kota, Tahun 2018

Kab/Kota Buruk+Krg Pendek+SP Gemuk Kurus+SK

SAMBAS 17,01 27,26 3,16 5,83


BENGKAYANG 20,59 32,69 5,31 10,26
LANDAK 23,03 34,14 5,12 13,45
MEMPAWAH 13,56 22,53 3,26 6,21
SANGGAU 18,63 33,39 7,28 8,67
KETAPANG 13,49 18,76 4,54 8,71
SINTANG 22,89 30,60 6,52 13,67
KAPUAS HULU 27,20 35,69 4,32 15,21
SEKADAU 22,53 33,06 5,15 13,64
MELAWI 25,32 33,39 4,89 13,47
KAYONG UTARA 20,63 32,84 4,56 8,90
KUBU RAYA 13,11 23,36 5,20 9,46
KOTA PONTIANAK 13,53 20,74 4,83 5,59
KOTA SINGKAWANG 11,44 17,70 4,73 3,02
PROV KALBAR 18,99 28,41 4,73 9,63
STATUS GIZI KURANG PROV. KALBAR
RISKESDAS 2018
35
31.2 31.5
29.4 29.5
30 28.2
26.0 26.1
23.4 23.8 24.4
25
20.9 21.2
20 16.7 16.8
15.8
15

10

0
STATUS GIZI BALITA PENDEK PROV. KALBAR
RISKESDAS 2018
45.0 42.0 42.7
40.6 40.8
39.0
40.0

33.2 33.3 33.4 33.4


35.0 31.9 31.9
28.7
30.0 26.6
24.8
25.0 22.3
20.0

15.0

10.0

5.0

-
STATUS GIZI BALITA KURUS PROV. KALBAR
RISKESDAS 2018
25.0
22.1
20.7
20.0 18.0
17.2 17.7
16.6
15.0 15.1
14.2 14.3
15.0
12.5
10.8 11.0
9.4 9.7
10.0

5.0

-
PERBANDINGAN RISKESDAS DAN E-PPGBM TAHUN 2018
PREVALENSI STATUS GIZI KURANG

31.2 31.5
26.1 29.4 29.5
27.2 28.2
26.0 25.3
23.4 23.8 24.4 23.0
22.9 22.5
20.9 21.2 20.6 20.6
19.0 18.6 17.0
15.8 16.7 16.8
13.5 13.1 13.6 13.5
11.4

Riskesdas E-PPGBM
PERBANDINGAN HASIL RISKESDAS DAN E-PPGBM TAHUN 2018
PREVALENSI GIZI PENDEK
42.0 42.7
40.6 40.8
39.0
33.2 33.3
33.1 33.4 33.4 35.7 33.4 34.1
31.9 31.9
30.6
28.7 28.4 32.8
24.8 26.6 27.3
22.3 32.7
33.4 22.5
23.4
20.7 18.8
17.7

Riskesdas E-PPGBM
PERBANDINGAN HASIL RISKESDAS DAN E-PPGBM TAHUN 2018
PREVALENSI GIZI KURUS

22.1
20.7
17.2 17.7 18.0
15.0 16.6
15.2 15.1
14.2 14.3 13.5 13.5 13.7 13.6
12.5
9.7 10.8 11.0 10.3
9.4 8.7 9.5 9.6
8.7 8.9
5.8 6.2
5.6
3.0

Riskesdas E-PPGBM
BAGAIMANA DENGAN KASUS
STUNTING DI KEC.SADANIANG?
Stunting disebabkan oleh Faktor Multi Dimensi
Intervensi paling menentukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)
1. Praktek pengasuhan yang tidak baik
• Kurang pengetahuan tentang kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan
• 60% dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI ekslusif
• 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima MP-ASI
2. Terbatasnya layanan kesehatan termasuk layanan ANC-Ante Natal Care,
Post Natal dan pembelajaran dini yang berkualitas
• 1 dari 3 anak usia 3-6 tahun tidak terdaftar di PAUD*
• 2 dari 3 ibu hamil belum mengkonsumsi suplemen zat besi yang memadai
• Menurunnya tingkat kehadiran anak di Posyandu (dari 79% di 2007 menjadi 64% di
2013)
• Tidak mendapat akses yang memadai ke layanan imunisasi
3. Kurangnya akses ke makanan begizi**
• 1 dari 3 ibu hamil anemia
*PAUD = Pendidikan Anak Usia Dini • Makanan bergizi mahal
**Komoditas makanan di Jakarta
94% lebih mahal dibanding dengan 4. Kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi
di New Delhi, India. Buah dan • 1 dari 5 rumah tangga masih BAB diruang
sayuran di Indonesia lebih mahal
dari di Singapura. terbuka
• 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses
Sumber: RISKESDAS 2013, SDKI
2012, SUSENAS berbagai tahun
ke air minum bersih
Sumber: Kemenkes dan Bank Dunia (2017)
Kerangka Penanganan Stunting

Intervensi yang ditujukan kepada anak


dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan

1
Intervensi Gizi Spesifik (HPK). Kegiatan ini umumnya dilakukan
(berkontribusi 30%) oleh sektor kesehatan. Intervensi spesifik
bersifat jangka pendek, hasilnya dapat
dicatat dalam waktu relatif pendek.

Intervensi yang ditujukan melalui berbagai


Intervensi Gizi

2
kegiatan pembangunan diluar sektor
Sensitif
kesehatan. Sasarannya adalah masyarakat
(berkontribusi 70 %)
umum, tidak khusus untuk 1.000 HPK.
1| Intervensi Gizi Spesifik
I. Intervensi dengan sasaran Ibu Hamil:
1. Memberikan makanan tambahan pada ibu hamil untuk mengatasi kekurangan energi
dan protein kronis.
2. Mengatasi kekurangan zat besi dan asam folat.
3. Mengatasi kekurangan iodium.
4. Menanggulangi kecacingan pada ibu hamil.
5. Melindungi ibu hamil dari Malaria.

II. Intervensi dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 0-6 Bulan:
1. Mendorong inisiasi menyusu dini (pemberian ASI jolong/colostrum).
2. Mendorong pemberian ASI Eksklusif.

III. Intervensi dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 7-23 bulan:
1. Mendorong penerusan pemberian ASI hingga usia 23 bulan didampingi oleh
pemberian MP-ASI.
2. Menyediakan obat cacing.
3. Menyediakan suplementasi zink.
4. Melakukan fortifikasi zat besi ke dalam makanan.
5. Memberikan perlindungan terhadap malaria.
6. Memberikan imunisasi lengkap.
7. Melakukan pencegahan dan pengobatan diare.
2 | Intervensi Gizi Sensitif
1. Menyediakan dan Memastikan Akses pada Air Bersih.
2. Menyediakan dan Memastikan Akses pada Sanitasi.
3. Melakukan Fortifikasi Bahan Pangan.
4. Menyediakan Akses kepada Layanan Kesehatan dan Keluarga Berencana (KB).
5. Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
6. Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal).
7. Memberikan Pendidikan Pengasuhan pada Orang tua.
8. Memberikan Pendidikan Anak Usia Dini Universal.
9. Memberikan Pendidikan Gizi Masyarakat.
10. Memberikan Edukasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi, serta Gizi pada Remaja.
11. Menyediakan Bantuan dan Jaminan Sosial bagi Keluarga Miskin.
12. Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Gizi.
1| Identifikasi Program Gizi Spesifik

Program: Gerakan 1.000 HPK


1. Intervensi dengan sasaran (Hari Pertama Kehidupan)
Ibu Hamil: Pelaksana: Kementerian Kesehatan
1. Memberikan makanan melalui Puskesmas, Balai Kesehatan
tambahan pada ibu Masyarakat dan Posyandu
hamil untuk mengatasi Kegiatan:
kekurangan energi dan 1. Suplementasi besi folat minimal 90
protein kronis tablet.
2. Mengatasi kekurangan
2. Periksa kehamilan minimal 4 kali.
zat besi dan asam folat
3. Imunisasi Tetanus Toksoid (TT).
3. Mengatasi kekurangan
iodium 4. Pemberian makanan tambahan
4. Menanggulangi pada ibu hamil.
kecacingan pada ibu 5. Penanggulangan cacingan pada
hamil ibu hamil.
5. Melindungi ibu hamil 6. Pemberian kelambu dan
dari Malaria. pengobatan bagi ibu hamil yang
positif malaria.
1| Identifikasi Program Gizi Spesifik

Program: Gerakan 1.000 HPK


(Hari Pertama Kehidupan)
2. Intervensi dengan sasaran
Pelaksana: Kementerian Kesehatan
Ibu Menyusui dan Anak Usia melalui Puskesmas, Balai Kesehatan
0-6 Bulan: Masyarakat dan Posyandu
1. Mendorong inisiasi Kegiatan:
1. Persalinan ditolong oleh tenaga
menyusui dini
kesehatan.
(pemberian ASI 2. Inisiasi Menyusui Dini (IMD).
jolong/colostrum) 3. Promosi menyusui ASI eksklusif
2. Mendorong pemberian (konseling individu dan kelompok).
ASI Eksklusif 4. Imunisasi dasar.
5. Pantau tumbuh kembang secara
rutin setiap bulan.
6. Penanganan bayi sakit secara tepat.
1 | Identifikasi Program Gizi Spesifik
3. Intervensi dengan Program: Penyelenggaraan
sasaran Ibu Menyusui Program: Gerakan 1.000 HPK (Hari Program Pemberian Makanan
dan Anak Usia 7-23 Pertama Kehidupan) Tambahan (PMT) Balita Gizi
bulan: Pelaksana: Kementerian Kesehatan Kurang)
1. Mendorong
melalui Puskesmas, Balai Pelaksana: Kementerian
penerusan pemberian
Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan melalui Puskesmas,
ASI hingga usia 23
Posyandu Balai Kesehatan Masyarakat dan
bulan didampingi
oleh pemberian MP- Kegiatan: Posyandu
ASI. 1. Pemberian makanan Kegiatan:
2. Menyediakan obat pendamping (MP) ASI, ASI 1. Pembinaan Posyandu dan
cacing. diteruskan sampai usia 2 Penyuluhan serta penyediaan
3. Menyediakan tahun atau lebih. makanan pendukung gizi
suplementasi zink. 2. Pemberian kapsul vitamin A untuk balita kurang gizi usia
4. Melakukan fortifikasi serta melengkapi imunisasi 6-59 bulan berbasis pangan
zat besi ke dalam dasar. lokal (misalnya melalui Hari
makanan. 3. Pemantauan tumbuh kembang Makan Anak/HMA).
5. Memberikan secara rutin setiap bulan. 2. Anggran program berasal dari
perlindungan 4. Penanganan anak sakit secara Bantuan Operasional
terhadap malaria. tepat. Kesehatan (BOK) - Dana
6. Memberikan
5. Pemberian suplementasi zink. Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik
imunisasi lengkap.
6. Pemberian obat cacing dan; sebesar Rp.200.000.000 per
7. Melakukan
pencegahan dan 7. Pemberian fortifikasi zat besi. tahun per Puskesmas di
pengobatan diare. daerahnya masing masing.
2| Identifikasi Program Gizi Sensitif
1. Menyediakan dan Memastikan Akses pada Air Bersih
PAMSIMAS (Program Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi berbasis Masyarakat)
Pelaksana: Lintas K/L (Bappenas, KemenPU, Kemenkes dan Kemendagri)
Kegiatan:
1. Meningkatkan praktik hidup bersih dan sehat di masyarakat.
2. Meningkatkan jumlah masyarakat yang memiliki akses air minum dan sanitasi yang berkelanjutan.
3. Meningkatkan kapasitas masyarakat dan kelembagaan lokal (pemerintah daerah maupun masyarakat)
alam penyelenggaraan layanan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat.
4. Meningkatkan efektifitas dan kesinambungan jangka panjang pembangunan sarana dan prasarana air
minum dan sanitasi berbasis masyarakat.

2. Menyediakan dan Memastikan Akses pada Sanitasi


Kebijakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
Pelaksana: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU)
Kegiatan: Diimplemetasi sebagai bagian dan gerakan peningkatan gizi/Scaling Up Nutrition (SUN)
Movement yang hingga 2013 telah menjangkau 14.181 desa/kelurahan.

Kebijakan PHSB (Perilaku Hidup Sehat dan Bersih)


Pelaksana: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud).
Kegiatan: intervensi yang berfokus pada perubahan perilaku kesehatan dan hidup bersih (terutama akses
terhadap air dan lingkungan yang bersih).

3. Melakukan Fortifikasi Bahan Pangan  Fortifikasi Garam, Terigu, dan Minyak Goreng
2| Identifikasi Program Gizi Sensitif

9. Memberikan Pendidikan Gizi Masyarakat


Program Perbaikan Gizi Masyarakat Pelaksana: Kementerian Kesehatan
(melalui Puskesmas dan Posyandu)
Kegiatan:
1. Peningkatan pendidikan gizi.
2. Penanggulangan Kurang Energi Protein.
3. Mengurangi anemia gizi besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yaodium (GAKY) dan
Kurang Vitamin A.
4. Perbaikan keadaan zat gizi lebih.
5. Peningkatan Survailans Gizi.
6. Pemberdayaan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga/Masyarakat.

10. Memberikan Edukasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi, serta Gizi pada Remaja
Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja Pelaksana: Kementerian Kesehatan melalui
Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR).

Kegiatan:
Pelayanan konseling dan Peningkatan kemampuan remaja dalam menerapkan
Pendidikan dan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS).
Terima Kasih
76