Anda di halaman 1dari 33

PATOLOGI NIFAS

1
NIFAS
 Masa nifas adalah:..
Adalah waktu yang diperlukan untuk
pulihnya alat kandungan kepada keadaan
normal 6 minggu/ 42 hari
 Alat genitalia interna dan eksterna
berangsur pulih seperti keadaan sebelum
hamil

2
Evaluasi 6 minggu pasca persalinan
 Keadaan umum
 Keadaan payudara dan puting
 Dinding perut  TFU, adanya hernia
 Keadaan perineum
 Kandung kemih  sistokel, uretrokel
 Rektum  rektokel, tonus m sphincter
ani
 Fluor albus
 Keadaan servik, uterus, adneksa

3
PATOLOGI NIFAS
 Infeksi nifas
 Kelainan lain dan penyakit lain dalam nifas
◦ Kelainan pada mammae
◦ Kelainan pada uterus
◦ Kelainan lain dalam nifas  inkontinensia urin
dan feses, trombosis, embolisme dan
trombophlebitis, nekrosis pars anterior
hipofisis postpartum

4
Proses involusi uterus

Involusi Tinggi fundus Berat uterus


Plasenta lahir sepusat 1000 gr
7 hari Pertengahan 500 gr
pusat- simfisis
14 hari Tak teraba 350 gr
42 hari Sebesar hamil 2 50 gr
mg
56 hari normal 30 gr
5
6
Pengeluaran lokia
 Lokia rubra 1-3 hari berisi sel decidua,
vernik kaseosa, lanugo, sisa mekoneum,
sisa darah
 Lokia sanguinolenta 3-7 hari , warna
putih campur darah
 Lokia serosa  7-14 hari, warna
kekuningan
 Lokia alba 14 hari, warna putih

7
INFEKSI NIFAS
 Adalah infeksi/ radang pada alat genitalia
pada masa nifas
 Peningkatan suhu badan > 38 C berturut-
turut selama 2 hari dalam 10 hari
postpartum
 Lokia menjadi media kultur yang baik bagi
kuman

8
 Menjadi penyebab tersering kematian
maternal  menurun dengan
meningkatnya pengetahuan tentang sebab
dan pencegahan, penemuan obat-obat
baru
 Organisme menyerang bekas implantasi
plasenta atau pada laserasi/ luka-luka di
jalan lahir oleh penghuni normal dari
serviks dan jalan lahir atau dari luar.

9
10
Penyebab infeksi nifas
 Persalinan lama
 Tindakan operasi persalinan
 Tertinggalnya plasenta/selaput, bekuan darah
 Ketuban pecah dini
 Perdarahan/ anemia
 Malnutrisi/ kelelahan
 Infeksi saat hamil
 Manipulasi penolong
 Infeksi nosokomial
 Hubungan seks menjelang persalinan  bila
mengakibatkan ketuban pecah
 Infeksi intrapartum

11
Gejala klinis infeksi
A. Lokal  terbatas pada perineum, vulva,
vagina, serviks, endometrium
◦ Pembengkakan luka episiotomi
◦ Pernanahan
◦ Perubahan warna
◦ Lokia campur nanah
◦ Mobilisasi terbatas nyeri
◦ Nyeri tekan pada uterus
◦ Temperatur naik

12
Hematom vulva

13
Hematom vulva

14
 Jenis infeksi yang paling sering :
endometritis  kuman masuk melalui
bekas insersio plasenta menyebar ke
seluruh endometrium.
◦ Pada postpartum endometritis infeksi bisa
mengenai endometrium, miometrium hingga
parametrium.
◦ Faktor risiko endometritis: chorioamnionitis,
ketuban pecah dini, pemeriksaan dalam (tidak
steril), alat monitor intrauterin (kateter
pressure intrauterine.
15
◦ Pada endometritis infeksi secara asenden terjadi
oleh mikrobia penghuni vagina dan servik.
Diantara kuman penyebab Streptocoocus Grup B,
Escherichia coli, Enterococcus faecalis.
◦ Endometritis yang tidak diterapi secara adekuat
dapat menyebar langsung atau secara limfogen,
menyebabkan terjadinya pelvic peritonitis,
parametritis, salpingitis, ooforitis, septik pelvic
tromboplebitis, pelvik abses disertai bakteriemia,
dan sepsis.
◦ Sepsis puerpuralis merupakan salah satu
penyebab kematian maternal yang penting.

16
B. Umum
 penyebaran dari infeksi lokal melalui vena,
pembuluh limfe, permukaan endometrium 
SEPTIKEMIA, PIEMIA
◦ Tampak sakit dan lemah
◦ Temperatur > 39C, nadi naik, RR naik, TD dapat
turun
◦ Keadaan gelisah sampai koma
◦ Gangguan involusi uterus
◦ Lokia berbau dan bernanah

17
 Pada septikemia
◦  kuman-kuman dari sarangnya di uterus
langsung masuk ke peredaran darah umum
dan menyebabkan infeksi umum  dibuktikan
dg pembiakan kuman dari darah
 Piemia
◦  trombophlebitis vena-vena di uterus dan
sinus-sinus tempat insersi plasenta menjalar ke
vena uterina, vena hipogastrika, vena ovarii,
melepaskan emboli shg terjadi abses
18
19
20
Pengobatan infeksi nifas
 Perbaikan keadaan umum
◦ Tranfusi, infus cairan, vitamin, penurun panas
 Terapi infeksi
Antibiotika broadspektrum.
 Uteronika untuk mengeluarkan isi cavum
uteri

21
Pencegahan infeksi nifas
 Perbaiki anemia, gizi baik
 Mencegah partus lama,
 meminimalkan trauma,
 mencegah terjadinya perdarahan banyak,
 peralatan steril,
 pemeriksaan dalam dilakukan bila ada
indikasi

22
KEADAAN ABNORMAL LAIN
 Kelainan pada mammae  bendungan asi/
mrangkai, galaktokel, mastitis/ abses
payudara, kelainan puting
 Kelainan pada uterus  subinvolusi,
perdarahan nifas sekunder
 Kelainan lain dalam nifas  inkontinensia
urin dan feses, trombosis, embolisme dan
nekrosis pars anterior hipofisis
postpartum
23
 Kelainan pada mammae:
◦ bendungan asi/ mrangkai  mammae keras
pada perabaan dan nyeri. Produksi asi
berlimpah sementara bayi belum pandai
minum.
◦ Galaktokel  sumbatan saluran oleh asi yang
membeku. Air susu terkumpul pada suatu
bagian pada mamae menyebabkan tumor
kistik.

24
◦ Mastitis/ abses payudara  infeksi terjadi
melalui luka pada puting susu. Mammae
membesar, nyeri, tanda peradangan (+). Jika tidak
segera ditangani dapat menjadi abses.
Bila terjadi abses, incisi dilakukan sejajar dg
duktus lactiferus  untuk mencegah kerusakan
duktus laktiferus
◦ Kelainan puting  datar atau cekung

25
Kelenjar mammae

26
 Penghentian laktasi
◦ Dilakukan pada stillbirth, IUFD, ibu tidak
menyusui.
◦ Dapat dengan pembebatan, kompres es, atau
pemberian estrogen.

27
 Kelainan pada uterus:
◦ Subinvolusi  proses mengecilnya uterus
terganggu.
 Penyebab : retensi sisa plasenta, endometritis,
mioma uteri.
 Lokia bertambah banyak, kdg perdarahan.
◦ perdarahan nifas sekunder
 Terjadi ≥24 jam pasca persalinan

28
 Abnormalitas lain masa nifas:
◦ inkontinensia urin dan feses,
◦ trombosis, embolisme
 perubahan susunan darah  saat terlepas plasenta
kadar fibrinogen dan faktor pembekuan meningkat
 perubahan laju peredaran darah  peredaran darah
dalam kaki menjadi lebih lambat
 perlukaan lapisan intima pembuluh darah

29
Fistula

30
◦ Nekrosis pars anterior hipofisis postpartum
(sindrom Sheehan),
 terjadi tidak lama sesudah persalinan akibat syok
karena perdarahan.
 Hipofisis berinvolusi sesudah persalinan dan diduga
pengaruh syok pada hipofisis yang berinvolusi dapat
menimbulkan nekrosis pada pars anterior.
 Terdapat agalaktia, amenorea, gejala insufisiensi pada
alat-alat lain yang fungsinya dipengaruhi hormon
pars anterior hipofisis (glandula thiroid, glandula
suprarenalis).

31
Infeksi luka SC

32
Pustaka
1. Cunningham FG, MacDonald PC, Gant NF. Obstetri Williams.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 1995.
2. DeCherney AH, Pernoll ML. Current Obstetric & Gynecology
Diagnosis & Treatment. A Lange medical book. 8th edition. Jakarta.
1994.
3. Luesley DM, Baker PN. Obstetrics and Gyneacology, An evidence-
based text for MRCOG. Arnold. 2004.
4. Pearlman MD, Tintinalli JE, Dyne PL. Obstetric & Gynecologic
Emergencies, Diagnosis and Management. American Collage of
Emergency Physicians. McGraw-Hill Companies. 2004.
5. Wiknjosastro H. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.
1994.

33