Anda di halaman 1dari 31

 Saliva adalah suatu cairan oral yang kompleks

dan tidak berwarna yang terdiri atas campuran


sekresi dari kelenjar ludah besar dan kecil yang
ada pada mukosa oral.
 Saliva memiliki beberapa fungsi diantaranya
 Membantu proses pencernaan makanan melalui
aktivitas enzim ptyalin (amilase ludah) dan lipase
ludah
 Membersihkan rongga mulut dari sisa makanan
dan kuman
 Mempunyai aktivitas antibacterial dan sistem
buffer
 Kelenjar ludah
terbagi menjadi dua,
yaitu :
 Kelenjar ludah
mayor
• Kelenjar Parotis
• Kelenjar
Submandibula
• Kelenjar Sublingual
 Kelenjar ludah minor
 Kelainan kelenjar saliva adalah
suatu keadaan abnormal dalam
kelenjar saliva yang dapat merujuk
pada kondisi yang menyebabkan
pembengkakan atau nyeri.
 Kelainan kelenjar saliva ini dibagi
menjadi dua, yaitu kelainan non
neoplastik dan neoplastik.
 Sialolitiasis atau
peradangan akibat
adanya batu saliva
merupakan
keadaan patologis
yang umumnya
sering terjadi pada
orang dewasa,
tetapi dilaporkan
juga terjadi pada
anak-anak.
 Adanya substansi dan bakteri dari rongga
mulut yang migrasi kedalam duktus salivary
dan menjadi nidus kalsifikasi.
 Hipotesis lainnya mengatakan bahwa
terdapat proses biologi terbentuknya batu,
yang ditandai menurunnya sekresi kelenjar,
perubahan elektrolit, dan menurunnya
sintesis glikoprotein. Hal ini terjadi karena
terjadi pembusukan membran sel akibat
proses penuaan.
Pemeriksaan Fisik
Batu dapat dideteksi
dengan palpasi
pada bagian sulkus,
bibir bawah,
palatum dan lidah.
Biasanya merupakan
massa kecil yang
solid, keras, dapat
digerakkan, bisa
dengan atau simtom.
 Pemeriksaan 2. CT Scan
Dapat diidentifkasi adanya
penunjang

iregularitas pada dinding duktus
dengan melihat adanya penebalan
1. Sialografi dan penyangatan pada dinding
duktus.
Sialograf dapat memberikan
gambaran yang jelas pada duktus  Pada obstruksi yang disebabkan
secara keseluruhan. karena batu, kalsifkasi dapat dilihat
berupa masa hiperdens tanpa
Kekurangan dari pemeriksaan penyangatan pada pemeriksaan
sialografi adalah paparan radiasi tomograf komputer. Adanya
dan hasil positif palsu pada penyangatan dapat merupakan
pemeriksaan batu karena adanya air indikasi adanya obstruksi sialodenitis
bubble (gelembung udara) akut.
 Non Pembedahan  Pembedahan
Dilakukan Dilakukan bila batu
pengobatan secara berukuran lebih dari 10
simptomatik: mm dan berada di
• Bila nyeri diberikan lokasi yang sulit
anti inflamasi  Minimal Invasive
• Bila ditemukan infeksi Dengan metode ESWL
bakteri diobati mengurangi ukuran
dengan antibiotik kalkuli menjadi
golongan penisilin fragmen yang kecil
dan sefalosporin sehingga
tidak mengganggu
aliran saliva dan
mengurangi simptom.
 Sialadenitis merupakan
keadaan klinis yang
lebih sering dari pada
pembengkakan parotid
rekuren dan
berhubungan erat
dengan penyumbatan
batu duktus
submandibularis.
penyumbatan tersebut
biasanya hanya
sebagian dan oleh
karena itu gejala !ang
timbul berupa rasa sakit
dan pembengkakan
 Sialadenitis biasanya terjadi setelah
obstruksi tetapi dapat berkembang tanpa
penyebab yang jelas. Peradangan kronis
dapat terjadi pada parenkim kelenjar atau
duktus seperti batu (sialolithiasis) yang
disebabkan karena infeksi (sialodochitis)
dari Staphylococcus aureus, Stertococcus
viridians atau pneumococcus. Selain itu
terdapat komponen obstruksi skunder dari
kalkulus air liur dan trauma pada kelenjar.
 Sialadenitis akut
Kemungkinan penyakit ini disebabkan karena adanya
stasis saliva, akibat adanya obstruksi atau berkurangnya
produksi saliva. Faktor predisposisi lain terjadinya penyakit
ini adalah striktur duktus atau kalkuli. Berkurangnya
produksi kelenjar saliva bisa disebabkan karena konsumsi
beberapa obat.
 Sialadenitis kronis / Sialodochitis
Sialadenitis kronis lebih sering terjadi pada orang dewasa.
Keadaan ini merupakan episode berulang sialadenitis
akut yang berjalan dalam waktu yang lama dengan tipe
unilateral pada kelenjar liur mayor dan bersifat episodik.
Sialadenitis kronis dapat disebabkan oleh virus, bakteri,
penyakit autoimun, atau obstruksi dari duktus kelenjar liur
oleh batu liur atau karena penyakit lain.
 Sialadenitis supuratif akut lebih jarang
terjadi pada glandula submandibularis,
dan jika ada, seringkali disebabkan oleh
sumbatan duktus dari batu saliva atau
oleh benturan langsung pada duktus.
 Anamnesa  Pemeriksaan Fisik
Pasien dengan Ditemukan
sialadenitis biasa pembengkakan pada
datang dengan kelenjar ludah,
keluhan nyeri dengan eritema dan
unilateral disertai edema pada kulit di
dengan atasnya
pembengkakan dan
trismus ringan
 Jika terjadi infeksi
dapat disertai dengan
demam, dan
menggigil
 Non Pembedahan  Pembedahan
1. Pada kasus sialadenitis Dengan melakukan insisi
akut, harus melakukan dan hidrasi serta massage
hidrasi yang memadai (kalkuli, tumor, sclerosing
sehingga sialadenitis atau abses).
ketidakseimbangan Batu pada duktus dapat
elektrolit dapat diperbaiki dikeluarkan dengan
2. Diberikan kompres hangat membuat insisi ke duktus
serta dapat diberikan dari mukosa mulut.
antipiretik dan analgesi  Batu yang terletak lebih di
3. Pemberian antibiotic dalam, memerlukan insisi
klindamisin (900 mg linear eksternal.
secara/IV atau 300
mg/Oral) selama 7-10 hari
 Penyakit Gondongan
(Mumps atau Parotitis)
adalah suatu penyakit
menular dimana
sesorang terinfeksi oleh
virus (Paramyxovirus)
yang menyerang
kelenjar ludah
(kelenjar parotis) di
antara telinga dan
rahang sehingga
menyebabkan
pembengkakan pada
leher bagian atas atau
pipi bagian bawah.
 Penyakit ini
disebabkan oleh
virus Mumps yaitu
virus berjenis RNA
virus yang
merupakan anggota
famii
Paramyxoviridae
dan genus
Paramyxovirus.
 Virus masuk tubuh via hidung maupun
mulut. Proliferasi terjadi di parotis atau
epitel traktus respiratorius kemudian
terjadi viremia (menyebar melalui
darah) dan selanjutnya virus berdiam di
jaringan kelenjar atau saraf dan yang
paling sering terkena adalah kelenjar
parotis. Pada manusia, selama fase akut
virus mumps dapat diisoler dari saliva,
darah, air seni dan liquor.
 Anamnesa  Pemeriksaan Fisik
 Pasien datang  Ditemukan
dengan keluhan pembengakan
bengkak pada kelenjar parotis yang
daerah parotis disertai mula-mula unilateral
demam, anoreksia, kemudian dapat
sakit kepala, muntah bilateral (tidak selalu).
dan nyeri otot Pembengkakan
terasa nyeri, baik
 Pernah melakukan spontan maupun
kontak dengan perabaan terlebih
penderita penyakit bila pasien makan
gondong (Mumps dan minum yang
atau Parotitis) 2-3 terasa asam.
minggu sebelumnya
a. Istirahatkan penderita selama masih demam
dan pembengkakan masih ada karena
terdapat gangguan menelan atau
mengunyah. Sebaiknya diberikan makanan
lunak dan hindari makanan dan minuman
yang asam karena dapat menimbulkan nyeri.
b. Daerah pipi atau leher bisa juga dikompres
secara bergantian panas dan dingin.
c. Obat pereda nyeri (asetaminofen dan
ibuproven) bisa digunakan untuk mengatasi
sakit kepala dan tidak enak badan. Aspirin
tidak boleh diberikan pada anak-anak karena
memiliki risiko terjadinya Syndroma Reye.
 Mukokel merupakan
lesi mukosa oral
yang terbentuk
akibat rupturnya
duktus glandula
saliva minor dan
penumpukan mucin
pada sekeliling
jaringan lunak.
 Berdasarkan etiologi,
patogenesis, dan secara umum
mukokel dapat diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu :
 Mukokel ekstravasasi mukosa
yang sering disebut sebagai
mucocele superfisial dimana
etiologinya trauma lokal atau
mekanik
 Mukokel retensi mukosa atau
sering disebut kista retensi mukus
dimana etiologinya plug mukus
akibat sialolith atau inflamasi
pada mukosa mulut yang
menyebabkan duktus glandula RETENSI
saliva tertekan dan tersumbat EKSTRAVASASI
secara tidak langsung. MUKOSA
 Anamnesa  Pemeriksaan Fisik
Pasien dengan mukokel Ditemukan massa atau
biasa datang dengan pembengkakan lunak
keluhan muncul benjolan berdiameter 1 mm hingga
pada daerah bibir bagian beberapa sentimeter, yang
dalam berfluktuasi, berwarna
translusen kebiruan apabila
massa belum begitu dalam
letaknya, kadang-kadang
warnanya normal seperti
warna mukosa mulut
apabila massa sudah
terletak lebih dalam,
apabila dipalpasi pasien
tidak sakit. Dapat pecah
sendiri.
 Untuk mukokel yang berukuran kecil, jenis lesi ini tidak
berumur panjang, bervariasi dari beberapa hari
hingga beberapa minggu, dan dapat hilang
dengan sendirinya.
 Pada umumnya pasien yang berkunjung ke dokter
gigi dan meminta perawatan, memiliki ukuran
mukokel yang relatif besar.
 Perawatan yang dilakukan meliputi
penanggulangan faktor penyebab dan
pembedahan massa.
 Pembedahan massa dibagi atas tiga jenis, yaitu
eksisi, marsupialisasi, dan dissecting. Pemilihan teknik
pembedahan tergantung kepada ukuran dan lokasi
massa
 Ranula adalah istilah
yang digunakan untuk
menyebut mukokel
yang letaknya di dasar
mulut. Merupakan
pembengkakan dasar
mulut yang
melibatkan glandula
sublingualis, dapat
juga melibatkan
glandula salivari minor.
 Ada dua konsep patogenesis ranula superfisial.
Pertama pembentukan kista akibat obstruksi
duktus saliva dan kedua pembentukan
pseudokista yang diakibatkan oleh injuri duktus
dan ekstravasasi mukus.
 Obstruksi duktus saliva dapat disebabkan oleh
sialolith, malformasi kongenital, stenosis,
pembentukan parut pada periduktus akibat
trauma, agenesis duktus atau tumor.
 Ekstravasasi mukus pada glandula sublingual
menjadi penyebab ranula servikal
 Anamnesa  Pemeriksaan Fisik
Keluhan yang paling Ditemukan massa lunak
sering diungkapkan berukuran 1 sampai
pasien adalah mulutnya dengan beberapa
terasa penuh dan lidah sentimeter yang
terangkat ke atas berfluktusi dan berwarna
translusen kebiruan,
yang terleletak di dasar
mulut atau bagian
bawah lidah. Apabila
dipalpasi, massa ini tidak
akan berubah warna
menjadi pucat dan tidak
terasa
 Pada gambaran radiologis akan ditemui
adanya massa yang radiopak dan
berbatas tegas.
 Umumnya pasien yang berkunjung ke dokter
gigi dan meminta perawatan, memiliki ukuran
ranula yang relatif besar. Perawatan ranula
umumnya dilakukan untuk mengurangi dan
menghilangkan gangguan fungsi mulut yang
dirasakan pasien akibat ukuran dan
keberadaan massa.
 Penatalaksanan ranula meliputi eksisi lesi
(enukleasi) dan Marsupialisasi. Marsupialisasi
adalah tindakan incisi dari sebagian dinding
kista dan melakukan penjahitan disekelilingnya
kemudian dimasukan tampon untuk 7 sampai
10 hari kemudian dipotong sedikit demi sedikit
TERIMA KASIH