Anda di halaman 1dari 42

1.

FUNGSI & PRINSIP KERJA GLAND STEAM SEAL


2. KOMPONEN UTAMA GLAND STEAM SEAL SISTEM
3. SOP PENGOPERASIAN GLAND STEAM SEAL SISTEM
4. TROUBLE SHOOTING GLAND STEAM SEAL SISTEM
1. FUNGSI & PRINSIP KERJA GLAND
STEAM SEAL SISTEM
TURBINE STEAM SEAL SYSTEM
 Turbin uap adalah mesin tenaga yang berfungsi untuk mengubah energi
thermal (energi panas yang terkandung dalam uap) menjadi energi poros
(putaran).
 Untuk menjaga agar uap tidak bocor keluar lewat poros turbin maka
disisi poros HP & LP Turbine dipasang perapat dari uap yang harus
bersirkulasi (mengalir) secara kontinyu., dimana tekanannya selalu
dijaga antara 0.01~0.05 MPa. Setelah memberi perapat didalam
labyrinth, uap ini menjadi basah dan cenderung terkondensasi karena
tekanannya sangat rendah. Oleh karena itu uap perapat ini dialirkan ke
gland steam condenser.
 Agar tidak terjadi thermal stress pada metal area Gland Steam Seal maka
temp uap perapat dijaga delta temperaturenya tidak terlalu jauh dengan
uap utama penggerak turbine (± 50 ᵒC).
 Pada awal start turbin maka uap perapat disuplai dari uap utama
penggerak turbin dan setelah unit normal operasi uap perapat
diambilkan dari extraction steam dan dari gland MSV & Gov Vlv.
 Untuk mendapatkan temp yang diinginkan Gland Steam Seal disprey
secara auto/ manual dengan air kondensat
TURBINE STEAM SEAL SYSTEM
 Turbin uap adalah mesin tenaga yang berfungsi untuk
mengubah energi thermal (energi panas yang terkandung
dalam uap) menjadi energi poros (putaran).
 Untuk menjaga agar uap tidak bocor keluar lewat poros turbin
maka disisi poros HP & LP Turbine dipasang perapat dari uap
atau yang disebut “ Shaft Seal “
 Shaft Seal berupa bagian yang berkelak-kelok pada poros
dan casing yang kedua sisinya saling bertemu secara berselang-
seling yang disebut “Labyrinth”. Antara labyrinth poros
dg labyrinth casing ada sedikit rongga dengan jarak tertentu.
 Uap sebagai perapat (seal) harus bersirkulasi (mengalir) secara
kontinyu., dimana tekanannya selalu dijaga antara 0.01~0.05
MPa.
TURBINE STEAM SEAL SYSTEM
 Setelah memberi perapat didalam labyrinth, uap ini
menjadi basah dan cenderung terkondensasi karena
tekanannya sangat rendah. Oleh karena itu uap perapat ini
dialirkan ke gland steam condenser.
 Agar tidak terjadi thermal stress pada metal area Gland
Steam Seal maka temp uap perapat dijaga delta
temperaturenya tidak terlalu jauh dengan uap utama
penggerak turbine (± 50 ᵒC).
 Pada awal start turbin maka uap perapat disuplai dari uap
utama penggerak turbin dan setelah unit normal operasi
uap perapat diambilkan dari extraction steam dan dari
gland MSV & Gov Vlv.
 Untuk mendapatkan temp yang diinginkan Gland Steam
Seal disprey secara auto/ manual dengan air kondensat 
lebih jelasnya lihat PID berikut
1. Labyrinth
2. Gland Steam Condensor
3. Gland Steam Exh.Fan
4. Steam Seal Press Kontrol
5. Steam Seal Temperatur Kontrol
Labyrinth terdiri dari suatu slip cincin tipis dipasang berderet
sedemikian rupa sehingga jarak yang sangat kecil terbentuk
antara bagian yang bergerak dengan bagian yang diam. Tiap-tiap
sirip dilengkapi dengan suatu ruangan ekspansi. Begitu uap
masuk ke sirip labyrinth kecepatannya naik dan membentuk
energi kinetik dan tekanannya turun. Uap tersebut kemudian
masuk keruangan ekspansi dan sebagian besar energi kinetik
tersebut dirubah dengan turbulensi menjadi panas. Maka
tekanannya makin rendah.
• Setelah memberi perapat didalam labyrinth, uap ini
cenderung terkondensasi karena tekanannya sangat rendah.
Maka uap perapat harus cepat dialirkan ke Gland Steam
Condensor
• Untuk mempercepat laju aliran uap perapat tekanan ruang
GSC dibuat vacuum oleh Gland Steam Exh Blower ( > - 500
mmHg). Didalam GSC uap bekas perapat mendapat
pendinginan dari aliran air kondensat yang menuju
Deaerator.
• Selanjutnya kondensasi uap ekas perapat didalam shell GSC
dialirkan ke kondensor utama dengan pengaturan secara
auto oleh drain trap atau diatur secara manual.
• Sebagaiman diuraikan diatas bahwa kerja
uap perapat yaitu begitu uap masuk ke sirip
labyrinth kecepatannya naik dan
membentuk energi kinetik dan tekanannya
turun. Uap tersebut kemudian masuk
keruangan ekspansi dan sebagian besar
energi kinetik tersebut dirubah dengan
turbulensi menjadi panas. Maka tekanannya
makin rendah. Untuk menghindari
terjadinya kondensasi didalam komponen
uap perapat maka uap perapat harus segera
bisa mengalir ke gland condensor.
• Untuk mempercepat laju aliran uap perapat
maka tekanan ruang GSC dibuat vacuum
dengan bantuan Gland Steam Exh Fan.
(Vacuum > 500 mmhg)
• Untuk menjaga keandalan maka dipasang 2
unit GSExh Fan yang beroperasi bergantian.
• Pada tahap awal mengoperasikan
Gland Steam Seal, uap perapat
diambilkan dari Main Steam Line.
Setelah memenuhi syarat
temperatur (> 350 ºC) dan press
(3,5 Mpa) maka Steam Press
Regulator dibuka untuk mensuplai
uap perapat ke Equal Press Tank.
Di Equal Press tank tekanan uap
perapat dijaga konstan (± 0,003
Mpa) oleh press regulator
selanjutnya uap perapat dialirkan
HP & LP turbin.
• Uap perapat yang menuju ke LP
turbin terlebih dahulu diturunkan
temperaturnya dengan disprey
dengan air kondensat. Temp
Kontrol Valve dapat bekerja auto
• Setelah unit berbeban > 30% suplai
uap perapat dari Main Steam ke
Extraction no3 (ke Deaerator)
Kondensor adalah suatu alat penukar kalor (heat
exchanger) yang digunakan untuk merubah uap
bekas dari turbin menjadi air. Uap setelah
melakukan kerja didalam turbin didinginkan
dengan air pendingin sehingga terkondensasi
menjadi air. Untuk mengoperasikan Condensor
selain dibutuhkan air pendingin ruang condensor,
ruangan juga harus vacuum.
Sebelum masuk kedalam kondensor, air laut
biasanya melewati debris filter yang berfungsi untuk
menyaring kotoran-kotoran yang terbawa air laut.
Agar uap dapat bergerak turun dengan lancar dari
sudu terakhir turbin, maka vacuum kondensor harus
dijaga karena dengan adanya vacuum pada
kondensor sehingga membuat uap akan cepat
bergerak menuju kondensor

Penyebab Vacuum turun :


- Adanya kebocoran udara
- Aliran pendingin kurang
- Pipa pendingin kotor
- Vacuum ejector terganggu
Pengaruh udara / gas
dalam kondensor :
- Merupakan hambatan heat
transfer ( air blanket)
- Menyebabkan kenaikan
tekanan dalam kondensor
(vacuum turun)
Sistem Penghisap Udara dan Gas dalam Condensor
ada 2 macam :
1. Dengan sistem Ejector
2. Dengan sistem Pompa
Peralatan penghisap udara/gas kondensor harus
mampu memenuhi dua keadaan, yaitu :
1. Membuang udara/gas selama opeasi normal
2. Membuat vakum kondensor pada saat start
Starting Ejector & Main Ejector
Untuk Smembuat vakum kondensor pertama kali disediakan starting
atau hoging ejector menggunakan uap dari auxiliary. Uap keluar dari
starting ejector dibuang langsung ke atmosfir (tidak dikondensasikan
Setelah vakum kondensor mencapai harga normal, maka tugas starting
ejector selesai. Selanjutnya vakum kondensor dinaikkan hingga
mencapai harga optimal dan menjaganya pada rentang kerjanya dengan
menggunakan main ejector
Pada saat normal operasi Stating Ejector sudah tidak dioperasikan yang
menjaga vacuum di Condensor adalah Main Ejector
Ada perbedaan pola operasi Starting dengan Main Ejector. Untuk Main
Ejector uap sehabis digunakan di nozle ejector tidak lansung dibuang
diudara bebas akan tetapi diarahkan ke elemen pendingin . Dimana air
pendinginya uap bekeas Main Ejector adalah air kondensat. Agar terladi
percepatan aliran uap bekas nozle ke ruang elemen pendingin maka
dipasang ejector kecil diruang shell pendingin. Sehingga uap bekas
cepat mengalir ke shell pendingin dan mempercepat pula proses
kondensasinya. Air kondensat hasil kondensasi uap bekas nozle tidak
dibuang ke PIT akan tetapi dimasukkan lagi ke Condensor.
Untuk lebih jelasnya lihat gambar.
Sebagaimana diuaraikan diatas Peralatan penghisap udara/gas
kondensor harus mampu memenuhi dua keadaan, yaitu :
 membuat vacuum kondensor pada saat start
 pembuang udara/gas Condensor selama opeasi normal
Hal ini juga berlaku bagi Vacuum Pump juga harus mampu membuat
vacuum sebagaimana tersebut diatas.
Prinsip Kerja Vacuum Pump dpat dilihat di PI Diagram sebagai berikut :
Vacuum Pump dengan design khusus dengan water sealing kemudian
suctionnya dihubungkan ruang Condensor dan disch nya dihubungkan
Separator Tank. Setelah diputar maka water sealing akan sirkulasi
keSeparator tank bersamaan dengan udara/ gas yang terhisap dari
dalam Condensor. Akhirnya ruang Condensor akan menjadi vacuum.
Sealing water yang masuk ke Separator tank disirkulasikan lagi ke
Vacuum Pump setelah melalui Heat Exchanger. Begitu seterusnya
hingga vacuum condensor tercapai.
Water sealing Vacuum Pump harus dijaga temperaturnya akan dapat
mempengaruhi daya mampu Vacuum Pump dalam menarik gas gas
yang tidak terkondensasi dlm condensor ( kebersihan Heat Exch harus
dijaga)
Vacuum breaker pada kondensor adalah katup
yang dipasang pada shell kondensor untuk
memutuskan vakum kondensor dengan
tekanan atmosfir ketika unit shut down. Katup
ini digunakan untuk mengisolasi kondensor
terhadap atmosfir ketika kondensor dibuat
vakum. Katup vacuum breaker biasanya
dioperasikan secara manual, dan dibuka pada
saat turbin mencapai putaran tertentu dan
ditutup ketika akan membuat kondensor
vakum
Pengukuran tekanan
1.Parameter Tekanan
1. Tekanan adalah gaya yang
bekerja pada suatu
penampang tertentu.
2. Satuan tekanan adalah :
bar, kg/cm2, N/m2, mmHg,
mmH2O.
3. Ada beberapa istilah
penggunaan tekanan, yaitu :
a. Tekanan mutlak (absolut)
b. Tekanan atmosfir
(atmospheric pressure)
c. Tekanan pengukuran
(gauge)
d. Tekanan vakum (minus)
Ada beberapa proteksi turbin baik dari turbin itu sendiri
maupun proteksi dari sistim lain.
1. Putaran lebih (over speed)

2. Over speed protection control

3. Tekanan minyak pelumas (very-low)

4. Turbin thrust oil pressure high

5. Condenser vacuum low

6. Initial pressure regulator

7. Hydraulic pressure low

8. Vibrasi dan temperature bearing (very-high)


3. SOP Steam Seal System
dibagi dalam tiga tahap :

3.1 Persiapan
3.2 Pemantauan kondisi operasi
3.3 Penanganan gangguan
3.1 Persiapan Operator sebelum bekerja
Dalam melakukan aktivitas kerja maka operator
yang bertugas harus mematuhi persyaratan
keselamatan kerja (K2). Melengkapi diri dengan
APD antara lain :
• Sepatu pengaman (safety shoes)
• Helmet
• Penutup telinga
• Kacamata
• Sarung Tangan
• Masker (bila perlu)
• Dll
3.2 Persiapan Lub Oil Sistem
Lakukan pemeriksaan semua peralatan yang terkait dengan
Steam Seal System sesuai SOP/check list yang berlaku :
• Pastikan sudah tidak ada pekerjaan di instalasi Steam Seal
System
• Posisi valve/katub line sikus Steam Seal System posisi benar
• Steam press & temperature telah memenuhi syarat
• Periksa Steam press Regulator & temp.regulator normal
• Pastikan Gland Steam Condensor sudah siap operasi
• Pastikan Gland Steam Exh. Fan siap operasi
• Pastikan Condensate Pump normal operasi
• Pastikan Sistem kontrol Instrumen siap operasi
3.3 Pelaksanaan Pengoperasian GSS System

• Sebelum Regulator Control Valve dibuka maka


lakukan warming terlebih dahulu Equal Header
Tank dan line sistem
• Setelah main steam press dan temperatur telah
memenuhi syarat maka Regulator Control Valve
dapat dibuka.
• Operasikan Gland Steam Condensor dan Gland
Steam Exh. Fan
• Naikkan Equal header steam press dengan
mengatur steam regulator valve hingga normal
press (0,003 Mpa)
3.4 Pemantauan Saat Normal Operasi – 1 :
 Pastikan penunjukan parameter Gland Steam Seal kondisi
baik dan benar, Jika ada kelainan segera buatkan laporan
kerusakan.
 Teliti dalam pengamatan jangan tergesa-gesa, masukkan
hasil pemantauan operasi peralatan pada log sheet.
 Pemantauan terus dilakukan sesuai jadual/scedule yang
ditetapkan dengan penuh tanggung jawab.
 Segera lakukan FLM sedini mungkin jika ada kerusakan
 Buatkan Laporan kerusakan jika kerusakan tambah
membesar
 Semua kejadian harus dilaporkan ke CCR / Spv dan
dicatat dalam Log book / Log sheet
 Informasikan ke shift berikutnya kondisi yang perlu
pengamatan khusus
3.5 Pemantauan Saat Normal Operasi – 2 :
Lakukan pemantauan melalui Patrol Check
secara periodik sesuai dengan Patrol Sheet yang
ada dan yang harus diperhatikan dalam patrol
diantaranya :
- Tekanan Gland Steam Seal
- Temperature Gland Steam Seal
- Gland Steam Condensor
- Gland Steam Exh Blower
- Suara, bau, kebocoran, kebersihan
- dll
Kelainan operasi merupakan suatu data hasil pengukuran atau kondisi
operasi yang nilainya menyimpang dari standar yang ada pada manual.
 Jika hasil pengukuran menunjukkan nilai melebihi batas maksimum
atau minimum maka Unit akan terjadi alarm dan kalau tidak segera
dilakukan penanganan bisa berakibat Condensor Vacuun turun atau
thermal stress pada labyrinth rotor turbin.
 Peran Operator bertugas menjaga agar kondisi operasi tetap aman,
semua penunjukan parameter pengukuran selalu berada dalam
batas nilai sesuai dengan standar pada manual ( SOP ).
 Sebagai operator harus peka terhadap kondisi kelainan operasi
suatu mesin. Karena tidak semuanya bisa tunjukkan dalam suatu
indikator parameter. Misalnya kelainan : Suara, Bau, Temperature,
Kebocoran, dll
 Jika ada penyimpangan/ ketidak normalan maka segera dilakukan
tindakan preventive (FLM) koordinasi dengan Spv dan kalau tidak
bisa agar diibuatkan laporan yang berisikan laporan gangguan /
kerusakan operasi.
 Peringatan terhadap adanya gangguan secara umum ditampilkan
munculnya alarm di panel/ DCS. Namun sebagai Operator Lokal
juga harus punya pedoman batasan – batasan operasi yang diijinkan
(batasan operasi tidak perlu dihafal sebaiknya dimasukkan kolom
tersendiri didalam Logsheet).
 Bila mengetahui penujukan Indikator parameter melebihi batasan
yang ditentukan segera ambil tindakan indentifikasi penyebab
terjadinya penyimpangan tersebut
 Setelah diketahui penyebab gangguan, selanjutnya segera lakukan
pendataan, evaluasi & tindakan penormalan .
 Dalam hal identifikasi yang harus di perhatikan antara lain :
o Jenis gangguan (penyimpangan alat ukur, kebocoran , vibrasi dll)
o Lokasi gangguan
o Waktu terjadinya gangguan
o Saat identifikasi gangguan sebaiknya bersama Senior/ Spv
o Pelaporan gangguan hal ini sangat penting karena ini sebagai
data riwayat.

Anda mungkin juga menyukai