Anda di halaman 1dari 37

PTERIGIUM STADIUM III OS

Oleh:
dr. Krisna Aprilya

Pembimbing:
dr. Hendra Kusuma, Sp.M, M.Kes

Pendamping:
dr. Hikmawaty K
dr. Rahmaniar
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. S
Tanggal lahir : 11 Juli 1965
Umur : 53 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Suku/Bangsa : Makassar/Indonesia
Alamat : Pa’rasangan Beru, Sinoa
Pekerjaan : Petani
Tanggal pemeriksaan : 11 Juni 2019
Tempat pemeriksaan : Poli Mata RSUD Bantaeng
ANAMNESIS
• KELUHAN UTAMA
Rasa mengganjal pada mata kiri.
• ANAMNESIS TERPIMPIN
Keluhan dialami sejak ± 3 tahun yang lalu sebelum datang ke Poli
Mata RSUD Bantaeng. Awalnya tampak selaput kecil dan tipis
berwarna putih pada mata kiri, tidak terlalu mengganjal. Kemudian
secara perlahan, selaput tersebut semakin meluas dan terasa
mengganjal sehingga mengganggu aktivitas. Keluhan disertai air mata
yang berlebih sesekali dan perih saat mengedipkan mata.
Penglihatan kabur atau berasap ada pada mata kanan, tidak
silau, tidak ada kotoran mata berlebih, riwayat mata merah
sebelumnya disangkal, riwayat menggunakan kacamata tidak
ada, riwayat trauma pada daerah mata tidak ada, riwayat
sering terpapar sinar matahari ada (saat bekerja sebagai
petani di sawah). Riwayat operasi tanggal 15 Mei 2019 pada
mata kanan dengan keluhan yang sama.
Riwayat menderita DM atau Hipertensi tidak ada, riwayat
keluhan yang sama dalam keluarga tidak ada, riwayat
menderita penyakit mata sebelumnya disangkal.
PEMERIKSAAN
I. INSPEKSI

I. INSPEKSI OD OS

1. Palpebra Edema (-), ptosis (-) Edema (-), ptosis (-)

2. Apparatus lakrimalis Lakrimasi (-) Lakrimasi (-)

3. Silia Sekret (-) Sekret (-)

4. Konjungtiva Hiperemis (-) Hiperemis (+), tampak selaput


berbentuk segitiga di daerah
nasal bola mata dengan apeks
sudah melewati limbus dan
telah mencapai pupil
5. Bola mata Intak Intak
OD OS

6. Mekanisme muskular

7. Kornea Jernih Jernih

8. Bilik mata depan Normal Normal

9. Iris Coklat, kripte (+) Coklat, kripte (+)

10. Pupil Bulat, posisi sentral, refleks Bulat, posisi sentral, refleks
cahaya (+) cahaya (+)
11. Lensa Keruh Keruh
II. PALPASI OD OS

1. Tensi okular TN TN

2. Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada

3. Massa tumor Tidak ada Tidak ada

4. Glandula pre-aurikuler Pembesaran (-) Pembesaran (-)


III. TONOMETRI : 14 mmHg/16 mmHg
IV. VISUS : VOD 20/80f ; VOS 20/30f
V. CAMPUS VISUAL : tidak dilakukan pemeriksaan
VI. COLOR SENSE : tidak dilakukan pemeriksaan
VII. LIGHT SENSE : tidak dilakukan pemeriksaan
VIII. PENYINARAN OBLIK OD OS

1. Konjungtiva Hiperemis (-) Hiperemis (+), tampak selaput


berbentuk segitiga di daerah nasal
bola mata dengan apeks sudah
melewati limbus dan telah
mencapai pupil
2. Kornea Jernih Jernih

3. Bilik mata depan Normal Normal

4. Iris Coklat, kripte (+) Coklat, kripte (+)

5. Pupil Bulat, posisi sentral, refleks cahaya Bulat, posisi sentral, refleks cahaya
(+) (+)
6. Lensa Keruh Keruh
IX. OFTALMOSKOPI : tidak dilakukan pemeriksaan.
X. SLIT LAMP :
•SLOD: konjungtiva hiperemis (-), BMD normal, iris coklat, kripte (+),
pupil bulat, posisi sentral, refleks cahaya (+), lensa keruh.
•SLOS: konjungtiva hiperemis (+), tampak jaringan fibrovaskuler
berbentuk segitiga di daerah nasal bola mata dengan apeks sudah
melewati limbus dan telah mencapai pupil, BMD normal, iris coklat,
kripte (+), pupil bulat, posisi sentral, refleks cahaya (+), lensa keruh.
XI. USG B-SCAN : tidak dilakukan pemeriksaan
XII. LABORATORIUM : GDS : 97 mg/dL
HBsAg: (-)
HCV : (-)
FOTO KLINIS

Gambar 1. Pre Operasi Gambar 2. Post Operasi


RESUME
Seorang laki-laki, 53 tahun, datang ke Poli Mata RSUD Bantaeng dengan keluhan rasa
mengganjal pada mata kiri dialami sejak ± 3 tahun yang lalu. Awalnya tampak selaput
kecil dan tipis berwarna putih pada mata kiri. Namun secara perlahan, selaput
tersebut semakin meluas dan terasa mengganjal. Penglihatan kabur atau berasap ada
pada mata kanan. Keluhan disertai air mata yang berlebih sesekali dan perih saat
mengedipkan mata, riwayat sering terpapar sinar matahari ada (saat bekerja sebagai
petani di sawah), riwayat operasi tanggal 15 mei 2019 pada mata kanan dengan
keluhan yang sama, riwayat menderita penyakit mata sebelumnya disangkal.

VOD 20/80f ; VOS 20/30f

• OD: konjungtiva hiperemis (-).


• OS: konjungtiva hiperemis (+), tampak selaput berbentuk segitiga di daerah nasal
bola mata dengan apeks sudah melewati limbus dan telah mencapai pupil.
DIAGNOSIS
• Pterigium stadium III OS

DIAGNOSIS BANDING
• Pseudopterigium
• Pinguekula
RENCANA PENATALAKSANAAN
• OS eksisi pterigium + graft konjungtiva

PROGNOSIS
• Qua ad vitam : Bonam
• Qua ad sanam : Bonam
• Qua ad visam : Bonam
• Qua ad cosmetisum : Dubia ad Bonam
DISKUSI KASUS
Pasien ini didiagnosis dengan Pterigium stadium III OS berdasarkan dari
hasil anamnesis dan pemeriksaan fisis. Dari hasil anamnesis,
didapatkan keluhan adanya rasa mengganjal pada mata kiri yang
dialami sekitar ± 3 tahun sebelum datang ke Poli Mata RSUD Bantaeng.
Pada pemeriksaan slit lamp, OS didapatkan adanya jaringan
fibrovaskuler berbentuk segitiga pada konjungtiva dengan tepi apeks
melewati limbus dan telah mencapai pupil, yang menunjukkan tanda
pterigum stadium III.
Tidak ada pengobatan medikamentosa yang spesifik untuk pterigium.
Tujuan pengobatan medikamentosa adalah untuk mengurangi
peradangan. Bila terjadi peradangan dapat diberikan steroid topikal.
Tindakan pembedahan pada pterigium adalah suatu tindakan definitif
untuk mengangkat jaringan pterigium dengan berbagai teknik operasi.
Teknik operasi yang direncanakan pada pasien ini adalah teknik graft
konjungtiva dengan alasan karena teknik ini dianggap paling rendah
dalam tingkat rekurensinya. Diharapkan agar penderita sedapat
mungkin menghindari faktor pencetus timbulnya pterigium yaitu sinar
UV serta rajin merawat dan menjaga kebersihan kedua mata. Oleh
karena itu, dianjurkan untuk selalu memakai kacamata pelindung atau
topi pelindung bila keluar rumah atau beraktivitas yang cukup lama
terpapar sinar matahari. Menurut kepustakaan, umumnya pterigium
bertumbuh secara perlahan dan jarang sekali menyebabkan kerusakan
yang bermakna sehingga prognosisnya baik.
PTERIGIUM
DEFINISI
Pterigium didefinisikan sebagai pertumbuhan jaringan
fibrovaskuler pada subkonjungtiva dan tumbuh
menginfiltrasi permukaan kornea, bersifat degeneratif
dan invasif, dan umumnya bilateral pada sisi nasal
ataupun pada sisi temporal yang meluas ke daerah
kornea, biasanya berbentuk segitiga dengan bagian
apeks menghadap ke sentral kornea dan basis
menghadap lipatan semilunar pada cantus.
ANATOMI KONJUNGTIVA
Secara anatomi, konjungtiva terdiri dari 3 bagian :
1. Konjungtiva palpebra
2. Konjungtiva bulbi
3. Konjungtiva fornix
Gambar 3. Anatomi konjungtiva penampang sagittal
Gambar 4. Anatomi konjungtiva penampang depan
ETIOLOGI
• Belum diketahui secara pasti
• Teori yang dikemukakan : Paparan sinar matahari (UV)

Keluhan memberat terutama bila terpapar


angin dan debu
FAKTOR RISIKO
1. Usia
2. Pekerjaan
3. Tempat tinggal
4. Herediter
5. Infeksi
6. Faktor risiko lainnya
KLASIFIKASI
1. Berdasarkan tipe, pterigium dibagi atas 3 :
a. Tipe I : pterigium kecil, dimana lesi hanya terbatas pada limbus atau
menginvasi kornea pada tepinya saja. Lesi meluas < 2 mm dari
kornea.
b. Tipe II : disebut juga pterigium tipe primer advanced atau
ptrerigium rekuren tanpa keterlibatan zona optik.
c. Tipe III : pterigium primer atau rekuren dengan keterlibatan zona
optik. Merupakan bentuk pterigium yang paling berat. Keterlibatan
zona optik membedakan tipe ini dengan yang lain. Lesi mengenai
kornea > 4 mm dan mengganggu aksis visual.
2. Berdasarkan stadium, pterigium dibagi ke dalam 4 stadium, yaitu :
a. Stadium I: jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea
b. Stadium II: jika pterigium sudah melewati limbus dan belum
mencapai pupil, tidak lebih dari 2 mm melewati kornea.
c. Stadium III: jika pterigium sudah melebihi stadium II tetapi tidak
melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal
(diameter pupil sekitar 3-4 mm).
d. Stadium IV: jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil
sehingga mengganggu penglihatan.

Gambar 5. Gambar 6.
Pterigium Pterigium
stadium II stadium IV
3. Berdasarkan perjalanan penyakitnya, pterigium dibagi menjadi 2,
yaitu :
a. Pterigium progresif: tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di
kornea di depan kepala pterigium (disebut cap dari pterigium).
b. Pterigium regresif: tipis, atrofi, sedikit vaskular. Akhirnya menjadi
bentuk membran, tetapi tidak pernah hilang.

4. Berdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera di pterigium dan


harus diperiksa dengan slit lamp, pterigium dibagi 3 yaitu :
a. T1 (atrofi): pembuluh darah episkleral jelas terlihat
b. T2 (intermediet): pembuluh darah episkleral sebagian terlihat
c. T3 (fleshy, opaque): pembuluh darah tidak jelas.
PATOFISIOLOGI
- Paparan UV
-Iritasi kronik
mata

↑ regulasi kolagen Degenerasi kolagen elastoid


Pelepasan sitokin
↑ migrasi sel +
berlebihan
angiogenesis Jaringan fibrovaskular subepithelial

Merusak
TGF-β membran bowman
VEGF +
Peradangan
GAMBARAN KLINIS
Pterigium terdiri dari tiga
bagian :
1. Bagian kepala atau
apeks
2. Bagian whitish
Gambar 7. (A) Cap: Biasanya datar, terdiri atas zona abu-
3. Bagian badan atau ekor abu pada kornea yang kebanyakan terdiri atas
fibroblast, menginvasi dan menghancurkan lapisan
bowman pada kornea. (B) Whitish: Setelah cap, lapisan
vaskuler tipis yang menginvasi kornea. (C) Badan:
Bagian yang mobile dan lembut, area yang vesikuler
pada konjunctiva bulbi, area paling ujung.
DIAGNOSIS
ANAMNESIS
Didapatkan adanya keluhan pasien seperti mata merah, gatal, mata sering
berair, ganguan penglihatan. Selain itu perlu juga ditanyakan adanya riwayat
mata merah berulang, riwayat banyak bekerja di luar ruangan pada daerah
dengan pajanan sinar mathari yang tinggi, serta dapat pula ditanyakan
riwayat trauma sebelumnya.

PEMERIKSAAN FISIS
Pada inspeksi pterigium terlihat sebagai jaringan fibrovaskular pada
permukaan konjuntiva. Pterigium dapat memberikan gambaran yang
vaskular dan tebal tetapi ada juga pterigium yang avaskuler dan flat, paling
sering ditemukan pada konjungtiva nasal dan berekstensi ke kornea nasal,
tetapi dapat pula ditemukan pterigium pada daerah temporal.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan pada
pterigium adalah topografi kornea untuk menilai
seberapa besar komplikasi berupa astigmatisme
ireguler yang disebabkan oleh pterigium.
PENATALAKSANAAN
• KONSERVATIF
Penanganan pterigium pada tahap awal adalah berupa
tindakan konservatif seperti penyuluhan pada pasien
untuk mengurangi iritasi maupun paparan sinar
ultraviolet dengan menggunakan kacamata anti UV dan
pemberian air mata buatan (topical lubricating drops).
• OPERATIF Menurut Guilermo Pico :
Indikasi operasi menurut Ziegler • Progresif, resiko rekurensi > luas
dan Guilermo Pico • Mengganggu visus
• Mengganggu pergerakan bola
Menurut Ziegler: mata
• Mengganggu visus • Masalah kosmetik
• Mengganggu pergerakan bola • Di depan apeks pterigium
mata terdapat Grey Zone
• Berkembang progresif • Pada pterigium dan kornea
• Mendahului suatu operasi sekitarnya ada nodul pungtat
intraokuler • Terjadi kongesti (klinis) secara
• Kosmetik periodik
Teknik operasi yang digunakan dalam penanganan
Terapi operatif
pterigium :

Bare sclera: Tidak ada jahitan

Simple closure: menyatukan langsung sisi


konjungtiva yang terbuka
Sliding flap: Dibuat insisi berbentuk huruf L
disekitar luka bekas eksisi

Rotational flap: Dibuat insisi berbentuk huruf U


disekitar luka bekas eksisi

Conjungtival graft: graft diambil dari konjungtiva bulbi


bagian superior, dieksisi sesuai dengan ukuran luka 
dipindahkan dan dijahit
DIAGNOSIS BANDING
Pterigium Pseudopterigium Pinguekula

Reaksi tubuh Iritasi atau kualitas


Sebab Proses degeneratif penyembuhan dari luka higienitas air yang
bakar, GO, difteri,dll. kurang.

Kekambuhan Residif Tidak Tidak


Dewasa dan anak-
Usia Dewasa Anak-anak
anak
Subkonjunctiva yang
Bisa terjadi darimana Terbatas pada
Lokasi dapat mencapai
saja konjuntiva bulbi
kornea

Tes Sonde negatif positif -


KOMPLIKASI
INTRA OPERATIF
• Nyeri
PREOPERATIF • Iritasi
PASCA
• Astigmat • Kemerahan OPERATIF
• Kemerahan
• Graft oedema • Infeksi
• Corneoscleral • Pterigium
• Diplopia dellen (menipis)
• Perdarahan rekuren
subkonjungtival
PROGNOSIS
Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah
baik. Kebanyakan pasien dapat beraktivitas lagi setelah
48 jam post operasi. Pasien dengan pterigium rekuren
dapat dilakukan eksisi ulang dan graft dengan
konjungtiva autograft atau transplantasi membran
amnion.
TERIMA KASIH