Anda di halaman 1dari 35

Presentasi Tugas

“PERSIAPAN PREOPERATIF PADA PASIEN


DENGAN DIABETES MELITUS DAN HIPERTENSI
SEBELUM TINDAKAN BEDAH MINOR”

PEMBIMBING:
DRG. MEISKE E. PAOKI, SP.BM

BENEDIKTUS RENALD KAYAME


0120840040
Pendahuluan

OPERASI MERUPAKAN SUATU TINDAKAN PEMBEDAHAN PADA


SUATU BAGIAN TUBUH.

PREOPERATIF ADALAH FASE DIMULAI KETIKA KEPUTUSAN


UNTUK MENJALANI OPERASI ATAU PEMBEDAHAN DIBUAT
DAN BERAKHIR KETIKA PASIEN DIPINDAHKAN KE MEJA
OPERASI
Tipe Pembedahan
MENURUT LUAS DAN TINGKAT RESIKO:

A. MAYOR
OPERASI YANG MELIBATKAN ORGAN TUBUH SECARA LUAS DAN MEMPUNYAI
TINGKAT RESIKO YANG TINGGI TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP KLIEN.
CONTOH: LAPAROTOMI, SECTIO SESAREA, BTKV DLL
B. MINOR
OPERASI PADA SEBAGIAN KECIL DARI TUBUH YANG MEMPUNYAI RESIKO
KOMPLIKASI LEBIH KECIL DIBANDINGKAN DENGAN OPERASI MAYOR.
CONTOH: EKSISI KISTA SUBKUTAN, SIRKUMSISI, PENCABUTAN GIGI DLL.
Manajemen Preoperatif

TUJUAN:

SEBELUM DILAKUKAN SUATU TINDAKAN BEDAH


PADA PASIEN DENGAN KELAINAN SISTEMIK HARUS
DI TINJAU KESIAPANNYA UNTUK MENJALANI
PROSES BEDAH, HAL INI DILAKUKAN AGAR
MENGHINDARI TERJADINYA RESIKO POST BEDAH.
HIPERTENSI
PENGERTIAN

 Hipertensi adalah suatu keadaan di mana tekanan darah meningkat


melebihi batas normal (>120/90 mmHg) yang terjadi karena
gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai
oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke
jaringan tubuh yang membutuhkannya
 Penyebab tekanan darah meningkat adalah peningkatan kecepatan
denyut jantung, peningkatan resistensi (tahanan) dari pembuluh
darah dari tepi dan peningkatan volume aliran darah
KLASIFIKASI
ETIOLOGI

 Hipertensi Esensial (Hipertensi Primer) : Hipertensi yang penyebabnya


tidak diketahui. Terjadi pada sekitar 90% penderita hipertensi
 Hipertensi Sekunder : Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi,
penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%,
penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat
tertentu
Etiologi

UMUMNYA HIPERTENSI TIDAK MEMPUNYAI PENYEBAB YANG SPESIFIK. NAMUN ADA BEBERAPA FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA HIPERTENSI ANTARA LAIN :
 GENETIK
 OBESITAS
 JENIS KELAMIN
 STRES
 KURANG OLAHRAGA
 POLA ASUPAN GARAM DALAM DIET
 KEBIASAAN MEROKOK
GEJALA

• Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala


• Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, pusing, wajah kemerahan dan
kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun
pada seseorang dengan tekanan darah yang normal
• Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul
gejala antara lain sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas,
gelisah, pandangan kabur, dan lain-lain
Manajemen persiapan:
1. MENURUNKAN TINGKAT STRESS DAN KECEMASAN PASIEN
DENGAN KOMUNIKASI YANG BAIK.
2. PASIEN YANG AKAN DILAKUKAN TINDAKAN INVASIF HARUS
DENGAN TEKANAN DARAH YANG TERKONTROL BAIK.
3. PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH, PERNAFASAN HARUS
DILAKUKAN SEBELUM TINDAKAN DAN BERKALA PADA SAAT
TINDAKAN
Manajemen persiapan cont….

4. MEMASTIKAN TIDAK TERJADI ASPIRASI TERUTAMA APABILA ANESTESI LOKAL


MENGANDUNG VASOKONSTRIKTOR.
5. DIUSAHAKAN SEMINIMAL MUNGKIN MENGGUNAKAN VASOKONSTRIKTOR.
6. PERUBAHAN POSISI DUDUK PASIEN DI DENTAL CHAIR DILAKUKAN SECARA
PERLAHAN.
Manajemen persiapan cont….

7. PROSEDUR PERAWATAN GIGI UNTUK HIPERTENSI HARUS DI PERHATIKAN


SEBELUM MELAKUKAN TINDAKAN BEDAH MINOR UNTUK MENGHINDARI RESIKO
PERDARAHAN PASCA OPERASI DAN VASOKONSTRIKSI YANG TERJADI AKIBAT
PENGGUNAAN ANESTESI LOKAL.
8. PADA PASIEN YANG SANGAT CEMAS BISA DIBERIKAN DOSIS KECIL DIAZEPAM (5
MG) ATAU SHORT ACTING BENZODIAZEPIN, SEPERTI OXAZEPAM (30 MG)
MALAM SEBELUMNYA DAN 1 JAM SEBELUM KE DOKTER GIGI.
DIABETES MELLITUS
Pasien dengan Diabetes Melitus (DM)

DIABETES MELITUS : SUATU PENYAKIT HORMONAL DIMANA TUBUH TIDAK BISA


MENGHASILKAN HORMON INSULIN SESUAI KEBUTUHAN ATAU TUBUH TIDAK BISA
MEMANFAATKAN SECARA OPTIMAL INSULIN YANG DIHASILKAN SEHINGGA
TERJADI KENAIKAN KADAR GULA DALAM DARAH MELEBIHI NORMAL.
Faktor Resiko Diabetes Melitus (DM)
•KELOMPOK USIA DEWASA TUA (45 TAHUN KE ATAS).
•KEGEMUKAN
• TEKANAN DARAH TINGGI (> 140/90 MMHG).
•RIWAYAT KELUARGA DM
•RIWAYAT KEHAMILAN DENGAN BB LAHIR BAYI > 4000 GRAM.
•RIWAYAT DM PADA KEHAMILAN.
•DISLIPIDEMIA (HDL < 35 MG/DL DAN ATAU TRIGLISERIDA >250 MG/DL.
•PERNAH TGT (TOLERANSI GLUKOSA TERGANGGU) ATAU GDPT (GLUKOSA DARAH PUASA
TERGANGGU).
Klasifikasi Diabetes Melitus
 Autoimun
Tipe 1  Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut
 Idiopatik
 Bervariasi mulai yang dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek sekresi
Tipe 2 insulin disertai resistensi insulin.
 Defek genetik fungsi sel beta
Tipe lain  Defek genetik kerja insulin
 Penyakit eksokrin pankreas
 Endokrinopati
 Karena obat atau zat kimia
 Infeksi
 Sebab imunologi yang jarang
 Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM (Sindrom Down2, sindrom Klinefelter2, sindrom Turner2 dan lain-lain.

Diabetes Mellitus Gangguan toleransi glukosa yang dipicu oleh kehamilan, biasanya menghilang setelah melahirkan.
Gestasional
PATOGENESIS

1. DM TIPE 1

- INSULIN PADA DM TIPE 1 MENJADI TIDAK ADA KARENA PADA JENIS INI TERDAPAT REAKSI
AUTOIMUN

- PADA INDIVIDU YANG RENTAN TERHADAP DM TIPE 1 TERDAPAT ADANYA ICA (ISLET CELL
ANTIBODY) YANG AKAN MENINGKAT KADARNYA PADA BEBERAPA KEADAAN ANTARA LAIN
INFEKSI VIRUS (VIRUS COKSAKIE, RUBELLA, CMV), SEHINGGA TIMBUL PERADANGAN PADA SEL
BETA (INSULITIS) YANG AKHIRNYA MENYEBABKAN KERUSAKAN PERMANEN SEL BETA. YANG
DISERANG PADA INSULITIS HANYA SEL BETA, SEL ALFA DAN DELTA TETAP UTUH
LANJUTAN

2. DM TIPE 2

- DITANDAI DENGAN ADANYA RESISTENSI INSULIN PERIFER,


GANGGUAN HEPATIC GLUCOSE PRODUCTION (HGP) DAN
PENURUNAN FUNGSI SEL BETA YANG AKHIRNYA MENUJU KE
KERUSAKAN SEL BETA

- ETIOLOGI KEGAGALAN FUNGSI SEL BETA PADA DM TIPE 2 YAITU


GLUKOTOKSISITAS, LIPOTOKSISITAS, RESISTENSI INSULIN,
DEPOSIT AMILOID, DAN EFEK INKRETIN
Diagnosis DM
Gejala Klasik DM + Glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dL (11,1 mmol/L)
Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa
memperhatikan waktu makan terakhir
Atau
Gejala Klasik DM
+
Kadar glukosa plasma puasa ≥126 mg/dL (7.0 mmol/L)
Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam
Atau

Kadar glukosa darah plasma 2 jam pada TTGO ≥200 mg/dL (11.1 mmol/L)
TTGO dilakukan dengan standard WHO, yang menggunakan beban glukosa yang setara dengan
Deteksi DM Terkontrol

UNTUK MENGETAHUI APAKAH PENDERITA DM TERKONTROL ATAU TIDAK DAPAT


MENGGUNAKAN PEMERIKSAAN HBA1C.

Nilai HbA1c Keterangan


< 7,5 % Diabetes terkontrol
>8,5 % Diabetes tidak terkontrol

Tabel 2. Kategori Nilai HbA1c pada Pasien DM


Resiko Pasien DM

Resiko Tinggi Resiko Rendah

• Pencabutan gigi • Perawatan saluran akar


• Insisi abses
• Pemasangan implan
• Bedah periodontal
• Bedah flap

Resiko berupa: terhambatnya proses penyembuhan


luka dan infeksi
PRE BEDAH MINOR PADA DM

 Pemeriksaan laboratorium : Hb, leukosit, urin, gula darah, dan EKG


 Pengontrolan atau pencapaian konsentrasi gula darah yang di harapkan (120-
180 mg/dL)
 Semua pengobatan umum seharusnya diteruskan sampai waktu pagi operasi
kecuali pasien yang meminum obat kerja lama harus diberhentikan terapinya 2-
3 hari sebelum operasi (digantikan obatnya).
 Pada pasien dengan terapi insulin dianjurkan mengurangi dosis insulin waktu
tidur (malam) sebelum waktu operasi untuk mencegah hipoglikemia
Lanjutan

 Apabila pasien mulai hipoglikemia, gula darah <100 mg/dL; berikan suplemen
dekstrosa (setiap ml glukosa 50% dapat menaikkan glukosa darah kira-kira sebesar 2
mg/dL pada orang dengan BB 70 kg).
 Sebaliknya bila terjadi intraoperatif hiperglikemia (>150-180mg/dL) dapat diberikan
insulin intravena. Satu unit insulin dapat menurunkan gula darah sebesar 20-30 mg/dL
PRE BEDAH MINOR
• DM TIPE 1: DITANGANI DENGAN 2 CARA

1. PASIEN PUASA YANG TERKONTROL BAIK DAPAT DIBERI SETENGAH DOSIS INSULIN
KERJA SEDANG SECARA SUBKUTAN BILA GLUKOSA DARAH PAGI SEKURANG-
KURANGNYA 126 MG/DL SEBELUM PEMBEDAHAN, DISERTAI DENGAN INFUS
DEKSTROSA 5% SAAT MULAI PEMBERIAN INSULIN DENGAN KECEPATAN 100-150
ML/JAM. GULA DARAH DIPERIKSA 1 JAM PREOPERASI DAN MINIMAL 1 KALI
INTRAOPERASI SERTA SETIAP 2 JAM SETELAH OPERASI

2. CARA KEDUA PADA BEDAH MINOR ADALAH DENGAN MENGHENTIKAN SEMUA


PEMBERIAN INSULIN PRA BEDAH, PASIEN TETAP DIPUASAKAN DAN TIDAK DIBERI
GLUKOSA.
Lanjutan

• DM TIPE 2: HENTIKAN PEMBERIAN HIPOGLIKEMIK ORAL PADA HARI


OPERASI, GULA DARAH DIUKUR 1 JAM SEBELUM OPERASI DAN SEKURANG-
KURANGNYA 1 KALI SELAMA OPERASI.
POST OPERASI

 DM tipe 1: Hentikan infus saat pasien makan dan minum.


Kalkulasi total dosis insulin penderita preoperatif dan
berikan insulin solubel (actrapid) subkutan yang terbagi
dalam 3-4 dosis per hari. Sesuaikan dosis selanjutnya
hingga level glukosa stabil.

 DM tipe 2: Hentikan infus IV dan mulai


pemberian obat oral anti diabetik (50% dosis
insulin biasanya) saat penderita makan dan
minum.
 Pasien bedah minor yang puasa sebaiknya dijadwalkan
sebagai operasi minor pertama untuk mengurangi efek
puasa dan ketosis.

 Hindari penggunaan larutan RL karena laktat dapat


meningkatkan konsentrasi gula darah
HUBUNGAN PENYAKIT DM & KERUSAKAN GIGI

• DI DALAM RONGGA MULUT, GIGI DILINDUNGI OLEH SISTEM IMUN, YANG


DIHASILKAN OLEH KELENJAR LUDAH. DI DALAM SALIVA TERDAPAT
IMUNOGLOBULIN A, SEKRETORI DAN KOMPONENE-KOMPONEN ALAMIAH NON
SPESIFIK SEPERTI PROTEIN KAYA PROLIN (PRP), LAKTOFERIN,
LAKTOPEROKSIDASE, LISOZIM SERTA FAKTOR-FACTOR AGREGASI DAN
AGLUTINASI BAKTERI YANG BERPERAN MELINDUNGI GIGI DARI KARIES
(DELIYANTI, 2008).
• PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TAK TERKONTROL TERJADI XEROSTOMIA,
RASA KERING PADA MUKOSA MULUT, AKIBAT PENURUNAN SEKRESI AIR LUDAH
(AMERONGEN, 1991; HASKET & GAYFORD, 2001).
• AKIBATNYA FUNGSI SALIVA SEBAGAI PENGONTROL PERTUMBUHAN BAKTERI DI
MULUT DAN PEMBERSIH SISA MAKANAN YANG MENEMPEL DI GIGI MENJADI
TERGANGGU (PUCHER, 2004).
• PADA PENDERITA DM TAK TERKONTROL JUGA TERJADI PENINGKATAN
KADARGLUKOSA PADA CAIRAN SALIVA DAN DARAH (CARRANZA, 2006).
GLUKOSA DALAM LUDAH INI AKAN DIMETABOLISME OLEH BAKTERI MULUT
SEPERTI STREPTOCOCCUS MUTANS SEHINGGA MENGHASILKAN ASAM DAN
MENURUNKAN PH AIR LUDAH (AMERONGEN, 1991).
• DI DALAM RONGGA MULUT TERJADI PROSES DEMINERALISASI DAN
REMINERALISASI. REMINERALISASI MERUPAKAN FENOMENA BIOLOGIS YANG
MERUPAKAN PROSES TERHENTINYA ATAU KEBALIKAN DARI LESI KARIES, YANG
DISEBABKAN MENINGKATNYA KETAHANAN GIGI DAN MENURUNNYA
SERANGAN KARIES (PANJAITAN, 2000).
• APABILA PH AIR LUDAH MENJADI ASAM, MAKA AKAN MEMPERCEPAT PROSES
DEMINERALISASI DAN AKAN MENIMBULKAN KARIES (PANJAITAN, 2000;
SCHUURS, 2002).
TERIMA KASIH