Anda di halaman 1dari 25

Asuhan Keperawatan

Meningitis pada Anak

Oktavianti Noor Rachmadi (131711133048)


Tiara Rosa Indah Krismawati (131711133049)
Definisi

Meningitis adalah inflamasi yang terjadi pada meningen otak dan medula
spinalis. Gangguan ini biasanya merupakan komplikasi bakteri (infeksi
sekunder) seperti Sinusiotis, Otitis Media, Pneumonia, Edokarditis atau

Osteomielitis.

Meningitis bakterial adalah inflamasi arakhnoid dan piameter yang mengenai


CSS, Meningeotis juga bisa disebut Leptomeningitis adalah infeksi selaput

arakhnoid dan CSS di dalam ruangan subarakhnoid (Lippincott Williams &

Wilkins 2012)
Klasifikasi
Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang
terjadi pada cairan otak, yaitu:
1. Meningitis serosa
Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan
otak yang jernih (serous).Penyebab terseringnya adalah Mycobacteriu
m tuberculosa. Penyebab lainnya Virus, Toxoplasmagondhii dan Ricke
tsia.
2. Meningitis purulenta
Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak da
n medula spinalis.Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae
(pneumokok), Neisseria meningitis(meningokok), Streptococus haemo
lyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae,Escherichia
coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa
Etiologi

1 Meningitis Bakteri

2 Transmisi infeksi

3 Meningitis virus

4 Transmisi HIV
Patofisiologi
Otak dilapisi oleh tiga lapisan, yaitu: duramater, arachnoid, dan piamater. Cairan otak dihasil
kan di dalam pleksus choroid ven rikel bergerak / berpindah melalui sub arachnoid dalam sistem
ventrikuler dan seluruh otak dan sumsum tulang belakang, direabsorbsi melalui villi arachnoid
yang berstruktur seperti jari-jari di dalam subarachnoid.
Organisme (virus / bakteri) yang dapat menyebabkan meningitis, mengalirkan cairan otak
melalui aliran darah di pembuluh darah otak. Cairan hidung (sekret hidung) atau sekret telinga
yang disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan meningitis karena hubungan
langsung antara cairan otak dengan lingkungan (dunia luar), mikroorganisme yang dapat diakses
dengan cairan otak melalui subarachnoid. Adanya mikroorganisme yang patologis merupakan
penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel. Invasi kuman ke
selaput otak
WOC
WOC
Manifestasi Klinis
1. Pada awal penyakit, kelelahan, perubahan daya mengingat, perubahan tingkah laku.
2. Sesuai dengan cepatnya perjalanan penyakit pasien menjadi stupor
3. Sakit kepala Your Text Here Your Text Here
4. Sakit-sakit pada otot
5. Reaksi pupil terhadap cahaya. Photofobia apabila cahaya diarahkan pada mata pasien
6. Adanya fungsi pada saraf III, IV, dan VI
7. Pergerakan motorik pada masa awal penyakit biasanya normal dan pada tahap lanjut bisa terjadi hemiparase, hemiplegia,
dan penurunan tonus otot
8. Refleks brudzinki dan refleks kernig(+) pada bakterial meningitis dan tidak terdapat pada virus meningitis
9. Nausea
10. Vomiting
11. Demam
12. Takikardia
13. Kejang yang bisa disebabkan oleh iritasi dari korteks cerebri atau hiponatremia
14. Pasien merasa takut dan cemas
Pemeriksaan Penunjang Meningitis
1. Pemeriksaan cairan serebrospinalis
a) Berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, mengitis, dibagi menjadi dua golongan yaitu meningitis serosa dan meningitis
purulenta.
a) Pada meningitis purulenta, diagnosa diperkuat dengan hasil positif pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop dan hasil biakan.
Pada pemeriksaan diperoleh hasil cairan serebrospinal yang keruh karena mengandung pus (nanah) yang merupakan campuran leukosit
yang hidup dan mati, serta jaringan yang mati dan bakteri.
b) Pada meningitis serosa, diperoleh hasil pemeriksaan cairan serebrospinal yang jernih meskipun mengandung sel dan jumlah protein
yang meninggi.
2. Pemeriksaan Darah
Dilakukan dengan pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah leukosit, laju endap darah (LED), kadar glukosa ,kadar ureum,elektrolit,
dan kultur.
a) Pada meningitis purulenta didapatkan peningkatan leukosit.
b) Pada meningitis serosa didapatkan peningkatan leukosit saja. Di samping itu, pada meningitis tuberkulosa didapatkan juga
peningkatan LED.
3. Pemeriksaan radiologi
a) Pada meningitis purulenta dilakukan foto kepala (pemeriksaan mastoid,sinus paranasal) dan foto dada.
b) Pada meningitis serosa dilakukan foto dada, foto kepala, dan bila mungki dilakukan CT Scan
Komplikasi
1. Kehilangan penglihatan
2. Kejang
3. Gangguan ingatan
4. Migrain
5. Kehilangan pendengaran
6. Migrain
7. Artritis atau radang sendi
8. Gagal ginjal
9. Kesulitan berkonsentrasi
10.Kerusakan otaka
Penatalaksanaan
1. Berikan pengobatan antibiotik lini pertama sesegera mungkin.
• seftriakson: 100 mg/kgBB IV-drip/kali, selama 30-60 menit setiap 12 jam atau
• sefotaksim: 50 mg/kgBB/kali IV, setiap 6 jam.
2. Pada pengobatan antibiotik lini kedua berikan:
• Kloramfenikol: 25 mg/kgBB/kali IM (atau IV) setiap 6 jam
• ditambah ampisilin: 50 mg/kgBB/kali IM (atau IV) setiap 6 jam
3. Jika diagnosis sudah pasti, berikan pengobatan secara parenteral selama sedikitnya 5 hari, dilanjutkan dengan pengobatan per
oral 5 hari bila tidak ada gangguan absorpsi. Apabila ada gangguan absorpsi maka seluruh pengobatan harus diberikan secara
parenteral. Lama pengobatan seluruhnya 10 hari.
4. Jika tidak ada perbaikan :
• Pertimbangkan komplikasi yang sering terjadi seperti efusi subdural atau abses serebral. Jika hal ini dicurigai, rujuk.
• Cari tanda infeksi fokal lain yang mungkin menyebabkan demam, seperti selulitis pada daerah suntikan, mastoiditis,
artritis, atau osteomielitis.
• Jika demam masih ada dan kondisi umum anak tidak membaik setelah 3–5 hari, ulangi pungsi lumbal dan evaluasi hasil
pemeriksaan CSS
5. Jika diagnosis belum jelas, pengobatan empiris untuk meningitis TB dapat ditambahkan. Untuk Meningitis TB diberikan OAT
minimal 4 rejimen :
• INH: 10 mg/kgBB /hari (maksimum 300 mg) - selama 6–9 bulan
• Rifampisin: 15-20 mg/kgBB/hari (maksimum 600 mg) – selama 6-9 bulan
• Pirazinamid: 35 mg/kgBB/hari (maksimum 2000 mg) - selama 2 bulan pertama
• Etambutol: 15-25 mg/kgBB/hari (maksimum 2500 mg) atau Streptomisin: 30-50 mg/kgBB/hari (maksimum 1g) – 2 bulan
Asuhan Keperawatan Teoritis
1. PENGKAJIAN
A. Pengkajian : Perawat mengumpulkan data untuk menentukan penyebab meningitis, yang membantu mengembangkan rencana
keperawatan.
B. Riwayat kesehatan sekarang : yang harus dikaji meliputi adanya keluhan sakit kepala, demam, nausea, vomiting dan nuckal rigidity.
Kaji adanya tanda-tanda peningkatan TIK. Penurunan LOC, seizure, perubahan tanda-tanda vital dan pola pernafasan, dan papiledema.
Perawat menanyakan pada klien untuk menjelaskan gejala yang dialami, kapan waktunya, apakah itu semakin bertambah buruk lagi.
C. Riwayat kesehatan masa lalu : Perawat berkata pada klien untuk mengingat peristiwa khusus yang pernah
dialami, seperti riwayat alergi, ISPA, trauma kepala atau fraktur tengkorak, riwayat pemakaian obat-obatan.
D. Pengkajian fisik: Dilakukan dengan pemeriksaan metode head to toe atau pemerikasaan organ dengan cara inspeksi, auskultasi, palpasi
dan perkusi.
E. Tanda-tanda vital meliputi pemeriksaan kesadaran, tekanan darah, denyut nadi, pernafasan dan temperatur tubuh.
F. Sistem pernafasan: mengkaji apakah ada keluhan seperti sesak nafas, irama nafas tidak teratur, takipnea, ronchi, sumbatan jalan nafas
dan apnea.
G. Sistem kardiovaskuler: dikaji adanya hipertensi, takhikardi, bradikardi
H. Sistem gastrointestinal: adanya muntah, menurun atau tidak adanya bising usus.
I. Sistem urinaria: dikaji frekuensi BAK, jumlah, inkontinensia.
J. Sistem persarafan meliputi: tingkat kesadaran,kejang, GCS, pemeriksan saraf kranial II (optikus), III (oculomotorius), V (trigeminal),
IV (troklearis), VI (abdusen), VII (fasialis), atau VIII (vestibulocochlear), pemeriksaan status system sensori dan motorik, pemeriksaan
refleks, kerniq atau brudzinski positif.
K. Pemeriksaan Penunjang: Pemeriksaan penunjang pada klien dengan meningitis bervariasi, protein di csf cenderung meningkat, glukosa
serum meningkat, sel darah putih sedikit meningkat dengan peningkatan neutropil (infeksi bakteri), CT scan dan MRI hasilnya akan normal
pada meningitis yang tidak kompleks, sputum dan secret nasopharingeal diambil untuk kultur sebelum dimulai terapi antibiotik untuk
mengidentifikasi organisme penyebab meningitis (Lewis, 2005)
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan klien dengan meningitis mencakup :
A. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan TIK atau edema serebral
B. Resiko terjadinya penyebaran infeksi berhubungan dengan penekanan respon inflamasi
(akibat obat), status cairan tubuh.
C. Nyeri berhubungan dengan adanya proses infeksi/inflamasi, toksin dalam sirkulasi, inefektif
manajemen terapautik berhubungan dengan berbagai kondisi yang dialami yang ditandai oleh
masalah sensorik dan motorik.
D. Keterbatasan aktifitas, Hipertermia berhubungan dengan infeksi dan gangguan regulasi
temperatur pada hipotalamus karena peningkatan TIK ditandai peningkatan suhu.
3. INTERVENSI
A. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan TIK atau edema serebral
Tujuan : perfusi jaringan serebral membaik
1) Kaji tingkat kesadaran dan tanda vital dengan menggunakan parameter neurologi secara teratur (GCS)
2) Atur lingkungan yang aman dan tenang untuk mencegah agitasi yang dapat meningkatkan TIK, kejang, gangguan pernapasan yang
menandakan kegawatan.
B. Resiko terjadinya penyebaran infeksi berhubungan dengan penekanan respon inflamasi (akibat obat), status cairan tubuh
Tujuan : cairan terkontrol agar tidak memperburuk keadaan
1) Berikan cairan IV sesuai program, cegah kelebihan cairan yang dapat memperburuk edema cerebral
2) Monitor input dan output
C. Nyeri berhubungan dengan adanya proses infeksi/inflamasi, toksin dalam sirkulasi, inefektif manajemen terapautik berhubungan dengan
berbagai kondisi yang dialami yang ditandai oleh masalah sensorik dan motorik.
Tujuan : mengurangi nyeri
1) Berikan nalgesik sesuai terapi, monitor respon klien
2) Bantu posisi yang nyaman, dengan leher diekstensikan
D. Keterbatasan aktifitas, Hipertermia berhubungan dengan infeksi dan gangguan regulasi temperatur pada hipotalamus karena peningkatan
TIK ditandai peningkatan suhu.
Tujuan : memulikan keadaan dan membuat klien dapat beraktifitas kembali
1) Berikan kompres pada klien
2) Beritahukan klien agar tidak banyak melakukan aktivitas dan memakai baju yang dapat mempermudah panas keluar
3) Anjurkan pasien banyak minum air putih
4) Monitor suhu tubuh secara teratur
5) Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai terapi
4. EVALUASI
A. Klien dapat dengan mudah menerima rangsangan
B. Tanda vital dan CVP stabil
C. Klien mengatakan nyeri hilang
D. Suhu kurang dari 380C
Kasus II

Seorang balita usia 4,5 tahun, datang ke UGD Rumah Sakit. Diagnosa medis anak adalah
Meningoenchepalitis bacterial. Ibu mengatakan anak demam selama 5 hari, sebelum dibawa
ke UGD, mengalami kejang selama kurang lebih 5 menit dalam satu hari anak mengalami
kejang sebanyak 3 kali, dan anak mengeluh nyeri kepala dua hari yang lalu.
Hasil pemeriksaan fisik GCS 3 2 4, adanya kaku kuduk, Nadi: 100x/mnt, TD: 110/80mmHg,
Suhu 39֯ C.
Buatlah analisa data dari kasus diatas, tentukan diagnosa keperawatan dan susunlah intervensi
keperawatan yang tepat pada diagnosa keperawatan yang prioritas.
A. Pengkajian
1. Identitas klien :
a) Nama : Anak B
b) Ttl : Surabaya, 27 juli 2014
c) Usia : 4,5 tahun
d) Jenis kelamin : Perempuan
e) Tempat tinggal : Mulyorejo
f) Diagnosa medis : Meningoenchepalitis bacterial

2. Identitas wali :
a) Nama : Ny. N
b) Usia : 32 tahun
c) Status dengan klien : Ibu
B. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama :
Ibu klien mengatakan anaknya demam sejak 5 hari yang lalu disertai
dengan kejang dan nyeri pada kepala sejak 2 hari yang lalu.
2) Riwayat penyakit sekarang :
Diagnosa medis mengindikasikan bahwa anak B menderita
meningoenchepalitis bacterial.
3) Riwayat penyakit terdahulu :
Anak B sering menderita flu dari ringan hingga berat
4) Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada
5) Riwayat imunisasi :
Anak B telah diberi imunisasi dasar lengkapan
Asuhan Keperawatan
Analisa data
No Data Etiologi Masalah

1. Ds : - Gangguan transmisi impuls Risiko tinggi terhadap


Do :
Klien mengalami kejang, gangguan cedera
motorik
Kejang

Risiko tinggi terhadap cedera


No Data Etiologi Masalah
2. DS : Klien mengeluh nyeri kepala 2 hari yang l C02 Gangguan perfusi jaringan
alu. serebral
DO : Hipoksia serebri
Penurunan kesadaran, kejang, perubahan motori
k, dekortikasi, deserebrasi. Permiabilitas vaskuler

Transudasi cairan

Edema serebri

Volume tengkorak

Tekanan intrakranial

Vasospasme pembuluh darah sere


bri

Sirkulasi terhenti

Gangguan perfusi jaringan


Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermia b.d proses infeksi
2. Gangguan perfusi jaringan b.d peningkatan tekanan intrakranial
Asuhan Keperawatan
No Diagnosa NOC NIC

1. Hipertermia b.d proses Setelah dilakukan asuhan a. Ukur suhu badan anak setiap
infeksi keperawatan selama 1 x 24 jam, suhu t 4 jam
ubuh klien menurun a. Pantau suhu lingkungan
dan kembali normal b. Berikan kompres hangat
c. Berikan selimut pendingin
Kriteri hasil : d. Kolaborasi dengan tim medis :
1. Suhu tubuh klien dalam rentang e. pemberian antipiretik
normal
2. Nadi dan RR dalam rentang
normal
3. Tidak ada perubahan warna kulit
dan tidak ada pusing
Asuhan Keperawatan
No Diagnosa NOC NIC

2. Gangguan perfusi jaringan Setelah diberikan asuhan keperawatan 1x24 jam pasien a. Pasien bed rest total dengan posisi tid
b.d peningkatan kembali pada keadaan status neurologi sebelum sakit, ur terlentang tanpa bantal
tekanan intrakranial meningkatnya kesadaran pasien dan fungsi sensoris. b. Monitor tanda- tanda status neurologi
Kriteria hasil : s dengan GCS
a) TTV dalam batas normal c. Monitor TTV seperti TD, Nadi, Suhu,
b) Rasa sakit kepala berkurang resoirasi dan hati – hati pada hipertens
c) Kesadaran meningkat i sistolik
d) Adanya peningkatan kognitif dan tidak ada atau hil d. Monitor intake dan output
angnya tekanan intrakranial yang meningkat e. Bantu pasien untuk membatasi munta
h, batuk. Anjurkan pasien untuk meng
eluarkan napas apabila bergerak atau
berbalik di tempat tidur
f. Kolaborasi berikan cairan perinfus de
ngan perhatian ketat
g. Monitor AGD bila diperlukan pembe
rian oksigen
h. Berikan terapi sesuai advice dokter se
perti : steroid, aminofel, antibiotika
Evaluasi Keperawatan

1. Anak tidak mengalami kejang dan suhu tubuh menjadi


normal
2. Tingkat kesadaran anak B kembali normal
THANK YOU!!!