Anda di halaman 1dari 30

SINDROMATOLOGI

DIARE

1
• Buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair
• Kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya (>200gr atau
200ml/24), atau
• Buang air besar encer >3 kali/hari
• Dapat atau tanpa disertai lendir/darah

2
Enteral

Infeksi
Parenteral

Obat, antibiotik,
kemoterapi, antasida
Etiologi
Hipergammaglobulin,
Imunodefisiensi defisiensi IgA

Tindakan tertentu Gastroektomi,


gastroenterostomi

3
Onset

Diare Akut

Diare Kronik

4
• World Gastroenterology Org. guideline (2005)
• Pasase tinja cair / lembek dengan jumlah lebih dari normal
• Kurang dari 14 hari
• Lebih dari 90% diakibatkan oleh agen infektif, 10% akibat
obat-obatan, keracunan, dan kondisi lainnya

5
Bakteri: Shigella sp, E. coli patogen,
Salmonella sp, Vibrio cholera

Virus: rotavirus, adenovirus, norwalk virus.


CMV, echovirus

Parasit:
Enteral Protozoa: E. histolystica, G. lamblia,
Balantidium coli
Worm: A. lumbricoides, Necator
americanus, Trichuris trichiuria
Infeksi Fungi: candida

Intoksikasi makanan: makanan beracun,


makanan mengandung bakteri/toksin

Parenteral Alergi: susu sapi, makanan tertentu

Malabsorbsi/maldigesti: karbohidrat,
lemak, protein 6
Viral Bacterial
Involved site Small intestine Colon
Diarrhea Watery Bloody, mucoid
Abdominal pain + or – +++ or ++
Tenesmus - ++ or +
Anorexia + or - +++ or ++
Systemic illness symptom + or - +++ or ++
Vomiting +++ or + + or -

7
Bakteri Non Invasif (enterotoksigenik)

Kegiatan berlebihan
Toksin nikotinamid adenin dinukleotid cAMP
pada dinding sel usus

Diikuti air, ion Sekresi aktif


Tinja berair bikarbonat, kation anion klorida
natrium dan kalium dalam lumen usus

8
• Bakteri/Parasit invasif (Enterovasif)

Merusak dinding Gangguan


Bakteri absorbsi
usus

Sekresi air dan


Diare elektrolit
meningkat

9
• Diare > 15 hari
• Beberapa kriteria mengenai batasan kronik pada kasus diare:
15 hari, 3 minggu, 1 bulan dan 3 bulan
• Indonesia  > 15 hari
• Penyebab: diare osmotik, sekretorik, gangguan motilitas usus,
gangguan organik, infeksi, keganasan

10
Menarik air
Bahan yang Osmolaritas dan elektrolit
tidak dapat dalam dari plasma Diare
diserap rongga usus ke rongga
usus

11
Aktif:
gangguan
Toksin yang Stimulasi Gangguan absorbsi
dikeluarkan cAMP dan Pompa transport dari usus ke
bakteri cGMP Na elektrolit plasma
Pasif:
Tekanan
hidrostatik

12
• Akibat gangguan motilitas dan waktu transit usus yang
abnormal karena hipermotilitas dan irregularitas usus sehingga
menyebabkan absorbsi yang abnormal di usus

• Akibat proses inflamasi yang menyebabkan kerusakan mukosa


usus halus maupun usus besar

13
• Anamnesis

• Akut (<14 hari)


Onset
• Kronik (>14 hari)

• Malam hari atau sepanjang hari,


Organik
• tidak intermiten dan mendadak

Inflamatorik • Perasaan BAB yang tidak bisa ditahan

14
• jumlah tinja banyak,
Kelainan di • diare air,
usus halus
• sering berhubungan dengan malabsorbsi

• jumlah tinja sedikit tetapi sering


Kelainan di • bercampur darah
kolon
• sensasi ingin BAB

• nausea, muntah, nyeri abdomen, demam,


Diare Infektif • tinja yang sering, bisa air atau disertai
darah tergantung patogen

Diare infektif • nausea dan muntah disertai diare tapi


toksik jarang demam

• rasa tidak nyaman di abdomen ringan,


Non Invasif steatorea ringan, perut bergas dan
kembung
15
• Pemeriksaan Fisik
• Tanda Vital: demam, tanda pre syok / syok
• Status Gizi: penurunan berat badan
• Abdomen:
• Inspeksi : cembung, datar, cekung
• Auskultasi : bising usus normal / meningkat
• Palpasi : Nyerti tekan (+/-)
• Perkusi : timpani
• Status Dehidrasi

16
• Turgor kurang
Dehidrasi Ringan • Suara serak
(2-5% BB) • Belum jatuh dalam presyok

• Turgor buruk • Nadi cepat


Dehidrasi Sedang • Suara serak • Napas cepat dan dalam
(5-8% BB) • Presyok atau syok

• Tanda dehidrasi sedang


Dehidrasi Berat • Penurunan kesadaran
(8-10% BB) • Otot kaku
• Sianosis

17
Pemeriksaan darah Pemeriksaan tinja
lengkap
LED tinggi, Hb rendah,
Bentuk: air/cair, berlemak, bercampur
albumin serum rendah  darah
organik

pH tinja : <5,5 (malabsorbsi


Hb rendah  defisiensi karbohidrat), 6,0-7,5 (malabsorbsi
B12, asam folat atau besi asam amino dan asam lemak)

Tes Sudan pertama (asam lemak) dan


Leukositosis  Inflamasi kedua (trigliserida)  insufisiensi
pankreas

Eosinofilia  neoplasma, Mengidentifikasi parasit


alergi, infeksi parasit 18
• Rehidrasi
Minum ringan, sari buah, sup dan keripik asin
• BJ Plasma dengan rumus
BJ Plasma − 1,025
Kebutuhan cairan = x BB x 4 ml
0,001
• Metode Pierce
• Dehidrasi ringan: 5% BB
• Dehidrasi sedang: 8% BB
• Dehidrasi berat: 10% BB
• Metode Daldiyono
Skor
Kebutuhan cairan = x 10% x kgBB x 1 liter
15

19
KLINIS SKOR
Rasa haus / muntah 1
Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg 1
Tekanan darah sistolik <60 mmHg 2
Frekuensi Nadi >120 x/menit 1
Kesadaran apati 1
Kesadaran samnolen, sopor atau koma 2
Frekuensi napas >30 x/menit 1
Fascies cholerica 2
Turgor kulit menurun 2
Washer woman hand 1
Ekstremitas dingin 1 Skor <3 dan tanpa syok :
Sianosis 2 Pemberian cairan peroral
Skor ≥3 disertai syok:
Umur 50-60 tahun -1
pemberian cairan i.v
Umur >60 tahun -2
20
• Pemberian langsung jumlah total kebutuhan cairan
2 Jam dalam 2 jam
pertama

• Didasarkan pada kehilangan cairan selama 2 jam pemberian


cairan rehidrasi inisiasi
Jam ke-3 • Tidak ada syok atau skor Daldiyono < 3 diganti cairan peroral

• Berdasarkan kehilangan cairan melalui tinja dan


Jam insenssible water loss
berikutnya

21
• Diet
• Tidak dianjurkan berpuasa kecuali muntah hebat
• Dianjurkan minum sari buah, the, minuman tidak bergas
• Makanan mudah dicerna seperti pisang, nasi, keripik dan sup

22
• Obat anti diare
• Kelompok antisekresi selektif
• Hidrasec 3 x 1 tab / hari
• Antimotilitas
• Kodein sulfat 15-60 mg 3 kali sehari
• Loperamid HCL 2-4 mg 3-4 kali per hari
• Lomotil 5 mg 3-4 kali per hari
• Kelompok absorbent
• Atapulgit tiap BAB 1 tab, maksimal 12 tab/hari

23
• Obat anti mikroba
• Ciprofloxacin 500 mg 2x per hari selama 2-7 hari
• Cotrimoxazole 250-500 mg 4x per hari
• Metronidazole 250 gr 3x per hari

24
25
26
• Dengan penggantian cairan yang adekuat, perawatan yang
mendukung dan terapi antimikrobial  prognosis diare
infeksius hasilnya sangat baik dengan morbiditas dan mortalitas
minimal

27
Karena penularan diare menyebar melalui jalur fekal oral,
penularannya dapat dicegah  menjaga hygine yang baik

28
1. Simadibrata M, Daldiyono. Diare Akut. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B,
editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. VI. Jakarta: Internal Publishing; 2014.
p. 1923-08
2. Simadibrata M, Daldiyono. Pendekatan dan Penatalaksanaan Diare Akut.
Buku Ajar Gastroenterologi. Jakarta: Internal Publishing; 2011. p. 73-67
3. Sibernagl S, Lang F. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2007. p.150-1
4. Isselbacher, Braundwald, Wilson, Martin, Fauci, Kasper. Harrison Prinsip-Prinsip
Ilmu Penyakit Dalam. 13th ed. Asdie AH, editor. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2000
5. Zein U, Sagala KH, Ginting, Josia (Divisi Ilmu Penyakit Dalam FK USU). Diare
Akut disebabkan Bakteri [Internet]. Sumatera Utara; 2014. p. 1-15. Available
from: repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3371/3/penydalam-
umar.pdf
6. Butterton JR, Caldrwood SB. Diare Akut Infeksiosa dan Keracunan Makanan
Bakterial. Dalam: Sandra F, Ayuningtyas P, editors. Harrison
Gastroenterohepatologi dan Hepatologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2014. p.208
7. Amin Lukman. Tata Laksana Diare Akut Dapartemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.
Jakarta
29
30