Anda di halaman 1dari 18

ASPEK- ASPEK SOSIAL BUDAYA

YANG BERKAITAN DENGAN


PRAKTIK PERKAWINAN,
KEHAMILAN, PERSALINAN,
NIFAS, DAN BAYI BARU LAHIR
Diskusi…
2

Apa manfaat petugas kesehatan


mempelajari unsur-unsur budaya
dalam upaya perbaikan kesehatan
masyarakat ?
Aspek Sosial Budaya meliputi

 Sosiologi
 Antropologi
 Psikologi
 Ilmu sosial lain (ekonomi, komunikasi massa,
hukum, dll)
Aspek Sosial yang
Mempengaruhi
4 Kesehatan

 Umur :
misal penyakit infeksi v.s penyakit degeneratif
 Jenis kelamin
Misal kanker payudara
 Pekerjaan
Pekerja tambang v.s petani
 Sosial ekonomi
Aspek Budaya Yg Mempengaruhi
Status Kesehatan & Derajat Kesehatan
 Pengaruh tradisi
 Pengaruh sikap fatalistis
 Pengaruh sikap ethnocentris
 Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
 Pengaruh norma
 Pengaruh nilai
 Pengaruh unsur budaya yg dipelajari pada tingkat
awal dr proses sosialisasi
 Pengaruh konsekuensi dari inovasi
Pengaruh tradisi terhadap perilau kesehatan dan status
kesehatan.
• Ada beberapa tradisi dalam masyarakat yang dapat berpengaruh negatif
terhadap kesehatan masyarakat, misalnya di New Guinea, pernah terjadi
wabah penyakit kuru.penyakit ini menyerang susunan saraf otak dan
penyebabnya adalah virus.penderita hamya terbatas pada anak-anak dan
wanita.setelah dilakukan penelitaian ternyata penyakit ini menyebar
karena adanya tadisi kanibalisme.

Pengaruh sikap fatalism terhadap perilaku dan status


kesehatan
• Hal ini adalah sikap fatalism yang juga mempengaruhi perilaku
kesehatan,beberapa anggota masyarakat di kalangan kelompok yang
beragama Islam percaya bahwa anak adalah ttipan Tuhan,dan sakit atau
mati itu adalah takdir,sehingga masyarakat kurang berusaha untuk
mencari pertolongan pengobatan bagi anaknya yang sakit,atau
menyelamatkan seseorang dari kematian.
Pengaruh sikap Ethnosentris terhadap perilaku dan
status kesehatan
• Sikap ethnosentrime adalah sikap yang memandang bahwa
kebudayaan sendiri yang paling baik jika dibandingkan dengan
kebudayaan pihak lain.misalnya orang-orang barat merasa
bangga terhadap kemajuan ilmu dan teknologi yang
dimilikinya,dan selalu beranggapan bahwa kebudayaannya paling
maju,sehingga merasa superior terhadap budaya dari masyarakat
yang sedang berkembang.

Pengaruh perasaan bangga pada statusya,terhadap


perilaku kesehatan.
• Suatu perasaan bangga terhadap budayannya berlaku bagi setiap
orang.hal tersebut berkaitan dengan sikap ethnosentrisme.
Pengaruh norma terhadap perilaku kesehatan
• Seperti halnya dengan rasa bangga terhadap statusnya,norma
dimasyarakat sangat mempengaruhi perilaku kesehatan dari anggota
masyarakatnya yang mendukung norma tersebut. sebagai contoh,untuk
menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami hambatan
karena adanya norma yang melarang hubungan antara dokter sebagai
pemberi layanan dengan ibu hamil sebagai pengguna layanan
Pengaruh nilai terhadap perilaku kesehatan
• Nilai yang berlaku dalam masyarakat berpengaruh terhadap perilaku
kesehatan. Nilai-nilai tersebut ada yang menunjang dan ada yang
merugikan kesehatan. Beberapa nilai yang merugikan kesehatan misalnya
adalah penilaian yang tinggi terhadap beras putih meskipun masyarakat
mengetahiu bahwa beras merah lebih banyak mengandung vitamin B1
jika dibandingkan dengan beras putih,masyarakat ini memberikan nilai
bahwa beras putih lebih enak dan lebih bersih.
• Contoh lain adalah masih banyak petugas kesehatan yang merokok
meskipun mereka mengetahui bagaimana bahaya merokok terhadap
kesehatan.
Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari proses
sosialisasi terhadap perilaku kesehatan
• Pada tingkat awal proses sosialisasi,seorang anak diajakan antara lain bagaimana cara
makan,bahan makanan apa yang dimakan,cara buang air kecil dan besar,dan lain-lain.
kebiasaan tersebut terus dilakukan sampai anak tersebut dewasa dan bahkan menjadi
tua.kebiasaan tersebut sangat mempngaruhi perilaku kesehatan yang sangat sulit untuk
diubah.

Pengaruh konsekuensi dari inovasi terhadap perilaku kesehatan


• Apabila seorang pendidik kesehatan ingin melakukan perubahan perilaku kesehatan
masyarakat,maka yang harus dipikirkan adalah konsekuensi apa yang akan terjadi jika
melakukan perubahan,menganalisis faktor-faktor yang terlibat/berpengaruh terhadap
perubahan,dan berusaha untuk memprediksi tentang apa yang akan terjadi dengan
perubahan tersebutapabila ia tahu budaya masyarakat setempat dan apabila ia tahu
tentang proses perubahan kebudayaan,maka ia harus dapat mengantisipasi reaksi yang
muncul yang mempengaruhi outcome dari perubahan yang telah direncanakan.
Perkawinan dalam Aspek Sosial Budaya

Program kesehatan komunitas berfokus


Masa pra perkawinan adalah masa
pada promosi kesehatan dan pencegahan
pasangan untuk mempersiapkan diri
penyakit. Disini dibutuhkan peran bidan
ke jenjang perkawinan dimana
dalam memberikan promosi kesehatan
individu mengalami perubahan-
melalui program deteksi dini dan
perubahan sikap untuk lebih dewasa
pengajaran. Misalnya deteksi dini penyakit
dan saling terbuka dan mengerti satu
kanker payudara, dan penyakit-penyakit
sama lain.
lain pada pasangan pra perkawinan.

Usia perkawinan dini yang cukup tinggi


pada perempuan mengindikasikan
rentannya posisi perempuan di masyarakat.
pengajaran bagi pasangan pra Sedangkan bagi perempuan, menikah
perkawinan dengan usia dini dimana artinya harus siap hamil pada usia sangat
perkawinan dini masih menjadi muda. Bila disertai kekurangan energi dan
masalah penting dalam kesehatan protein, akan menimbulkan masalah
reproduksi perempuan di Indonesia. kesehatan yang dapat berakibat kematian
bagi ibu saat melahirkan dan juga bayinya
dan resiko hamil muda sangat tinggi.
Perkawinan dalam Aspek Sosial Budaya

•Menurut aspek sosial budaya faktor pendukung


keberhasilan penyesuaian perkawinan terletak dalam hal
saling memberi dan menerima cinta, ekspresi afeksi, saling
menghormati dan menghargai, saling terbuka antara suami
istri.

•Hal tersebut tercermin pada bagaimana pasangan suami


istri menjaga kualitas hubungan antar pribadi dan pola-
pola perilaku yang dimainkan oleh suami maupun istri,
serta kemampuan menghadapi dan menyikapi perbedaan
yang muncul, sehingga kebahagiaan dalam hidup berumah
tangga akan tercapai.
Perkawinan dalam Aspek Sosial Budaya

•Menurut aspek sosial budaya faktor penghambat yang


mempersulit penyesuaian perkawinan terletak dalam hal
baik suami maupun istri tidak bisa menerima perubahan
sifat dan kebiasaan di awal pernikahan, suami maupun istri
tidak berinisiatif menyelesaikan masalah, perbedaan budaya
dan agama diantara suami dan istri, suami maupun istri
tidak tahu peran dan tugasnya dalam rumah tangga.
Kehamilan dalam Aspek Sosial Budaya
Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu diperhatikan
untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketika persalinan, disamping
itu juga untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin.

Memahami perilaku perawatan kehamilan (ante natal care) adalah penting untuk
mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri.

Di berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, masih banyak ibu-ibu yang


menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan kodrati. Mereka merasa
tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter.

Masih banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan


kehamilan ke bidan menyebabkan tidak terdeteksinya faktor- faktor risiko tinggi
yang mungkin dialami oleh mereka.
Kehamilan dalam Aspek Sosial Budaya

 Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada


kehamilan adalah masalah gizi.
 Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan-
kepercayaan dan pantangan-pantangan terhadap
beberapa makanan.
 Sementara, kegiatan mereka sehari-hari tidak berkurang
ditambah lagi dengan pantangan-pantangan terhadap
beberapa makanan yang sebenamya sangat dibutuhkan
oleh wanita hamil tentunya akan berdampak negatif
terhadap kesehatan ibu dan janin. Tidak heran kalau
anemia dan kurang gizi pada wanita hamil cukup tinggi
terutama di daerah pedesaan.
Kehamilan dalam Aspek Sosial Budaya

 Misalnya di Jawa Tengah adanya anggapan bahwa ibu


hamil pantang makan telur karena akan mempersulit
persalinan dan pantang makan daging karena akan
menyebabkan perdarahan yang banyak.
 Jawa Barat ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan
sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang
dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan
 Masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin,
ikan laut, udang dan kepiting karena dapat
menyebabkan ASI menjadi asin.
 Sikap seperti ini akan berakibat buruk bagi ibu hamil
karena akan membuat ibu dan anak kurang gizi.
 Selama kehamilan juga ada pantangan yang harus
diperhatikan ibu dan bapak misal: tidak boleh menyiksa
atau membunuh binatang dan tidak boleh mengejek
orang yang cacat supaya si bayi dapat lahir dengan
selamat dan tidak cacat.

 Sebagian besar masyarakat di Kabupaten Jepara masih


memperingati upacara 7 bulan bayi dalam kandungan
khususnya bagi anak pertama.

 Di daerah lain pada suku Jawa upacara tersebut disebut


mitoni , sedangkan di Kabupaten Jepara disebut munari
.
 Munari merupakan upacara selamatan dengan nasi
tumpeng yang puncaknya adalah nasi ketan berwarna
kuning yang diibaratkan cahaya sebagai simbol bahwa
pada usia kehamilan ketujuh si janin sudah mempunyai
roh atau nyawa.
 Acara munari ini seringkali dilengkapi dengan upacara
seperti halnya mitoni yaitu si ibu ganti kain tujuh kali,
memecahkan kelapa gading yang berukir gambar tokoh
wayang Dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih (dua dewa
/ dewi dalam pewayangan yang terkenal ketampanan
dan kecantikannya) dengan harapan si bayi nantinya
akan tampan seperti Dewa Kamajaya dan cantik seperti
Dewi Kamaratih
TUGAS KELOMPOK

 Buatlah 8 kelompok
 Carilah jurnal dengan tema sosial budaya terkait
persalinan, nifas, dan bayi baru lahir (pilih salah
satu)
 Print out jurnal disertakan dengan nama anggota
kelompok dan NIM
 Presentasikan jurnal dengan membuat ppt.

Anda mungkin juga menyukai