Anda di halaman 1dari 15

Penilaian dari Keterlibatan

Furkasi
• Perkembangan penyakit periodontitis disekitar gigi berakar jamak 
pengerusakannya melibatkan struktur penyangga/pendukung di
daerah furkasi
• Furkasi (furca) : area gigi dimana akar terbagi dari bentuk batang akar
pada umumnya menjadi bifurkasi atau trifurkasi

Gambar 26-12 Kerusakan jaringan periodontal di daerah furkasi bukal, gigi 46 “Superfisial/dangkal”
gigi 16 “Deep/dalam”
• Menentukan tingkat keterlibatan furkasi sangat penting  menegakkan
diagnosis, prognosis, dan menyusun rencana pengobatan dari keberadaan
dan perluasan kerusakan jaringan periodontal di dalam daerah furkasi
• Keterlibatan furkasi dinilai dari orifis pada lesi periodontal gigi berakar jamak

• Molar Premolar RB : dari bukal dan/atau lingual
• Molar dan Premolar RA : dari bukal, disto-palatal, mesio-palatal
Furkasi antara mesio-bukal dan akar palatal dari M1 RA lebih baik diperksa dari aspek
palatal

Gambar 26-13 Lokasi anatomi untuk penilaian keterlibatan furkasi di rahang atas dan rahang bawah
• Keterlibatan furkasi diperiksa dan diekplorasi  probe periodontal
curved/yang melengkung dengan ukuran 3 mm (Naber furcation
Probe)

Gambar 26-14 Keterlibatan furkasi diekplorasi menggunakan probe periodontal curved/melengkung


dengan ukuran 3mm
• Keterlibatan furkasi diklasifikasikan  kedalamannya secara
horisontal sebagai “superficial/dangkal” atau “deep/dalam”
• 3 tahapan kalsifikasi berdasarkan pengukuran milimeter untuk
membedakan tingkat keparahan keterlibatan horizontal :
• Derajat I : Keterlibatan awal  Orifis furkasi dapat dirasakan saat probing dan
kedalaman probing horisontalnya kurang dari 3 mm / kurang dari 1/3 lebar gigi
• Derajat II : Keterlibatan sebagian  Kehilangan perlekatan horizontal dengan
kedalaman diatas 3 mm / lebih dari 1/3 lebar gigi tetapi tidak mencapai lebar
total daerah furkasi
• Derajat III : Keterlibatan “through and through”  Pemeriksaan horizontal
dengan kedalaman di atas 3 mm di dua atau lebih daerah orifis furkasi
biasanya diwakili sebagai Through and through destruction (hancur berulang
kali) dari jaringan pendukung di dalam furkasi. Dengan kata lain probe dapat
melewati seluruh daearah furkasi
Gambar 26-15 Derajat keterlibatan furkasi diilustrasikan dalam bagan periodontal. Pada lingkaran
yang terbuka merupakan keterlibatan furkasi yang dangkal (yaitu kedalaman probe horisontalnya ≤
3mm) sedangkan lingkaran yang hitam merupakan keterlibatan furkasi yang dalam (yaitu
kedalaman probe horisontalnya ≥3mm)
Penilaian Mobilitas Gigi
• Peningkatan dari mobilitas gigi dapat disebabkan oleh:
• Kehilangan jaringan penyangga/pendukung gigi secara terus menerus selama
perkembangan penyakit periodontal
• Trauma oklusi
• Penyakit periodontal yang berhubungan dengan plak
• Kelebihan beban gigi
• Lesi periapikal
• Sesudah dilakukannya operasi/pembedahan periodontal
• Peningkatan mobilitas gigi  hasil dari ligament periodontal yang
melebar atau berkurangnya perlekatan jaringan pendukung atau
kombinasi keduanya
• Klasifikasi peningkatan mobilitas gigi menurut Miller (1950) :
• Derajat 0: “fisiologis” mobilitas diukur pada tingkat mahkota gigi. Gigi bergerak
didalam alveolus berkisar 0.1-0.2 mm dalam arah horizontal
• Derajat 1: peningkatan mobilitas dari mahkota gigi paling banyak 1mm dalam arah
horizontal (labiolingual)
• Derajat 2: peningkatan mobilitas mahkota gigi terlihat dengan jelas melebihi 1mm
dalam arah horizontal (labiolingual)
• Derajat 3: mobilitas yang parah dari mahkota gigi baik dalam arah vertical (atas
bawah ke arah aksial) maupun horizontal (labiolingual) dan berpengaruh kepada
fungsi gigi
• Teurapeutik  penting untuk menilai bukan saja derajat peningkatan
kegoyangan/mobilitas gigi tetapi juga penyebab dari hipermobilitas yang
terus diamati.
• Semua data dikumpulkan bersamaan dengan pengukuran PPD, PAL dan
juga bersama dengan penilaian keterlibatan furkasi dan kegoyangan gigi
dimasukan ke dalam Periodontal Chart
Tulang Alveolar
• Tinggi dari tulang alveolar dan garis besar puncak tulang alveolar
dapat dilihat dalam radiografi
• Radiografi memberikan informasi tentang tinggi dan bentuk dari
interproksimal dari tulang alveolar
• Analisis dari radiograf harus dikombinasikan dengan evaluasi dari
chart periodontal untuk mendapatkan hasil perkiraan yang akurat
mengenai pergerakan/kerusakan tulang secara horizontal dan angular.
• Tehnik radiografi harus digunakan untuk menghasilkan radiografi yang
dapat direproduksi  tehnik paralel long-cone
Diagnosa dari Lesi Periodontal
• Klasifikasi pasien dan diagnosis kondisi berbagai macam struktur
periodontal (yaitu gingiva, ligamen periodontal, dan tulang alveolar)
dari setiap gigi
Diagnosis Kriteria Utama kriteria tambahan Tabel 26-1 Diagnosis
Bleeding on Probing (BOP)/ berdarah saat probing kondisi jaringan
tidak ada kehilangan PAL dan tulang Alveolar periodontal di sekitar
Gingivitis setiap gigi geligi yang
PPD ≤ 3mm
diberikan menggunakan
Pseudopocket/falsepocket kriteria utama (yaitu
grafik periodontal dan
PPD ≤ 5mm, terlepas dari morfologi lesi periodontal analisis radiografi) dan
Parodontitis Superfisialis BOP
kriteria tambahan (yaitu
Kehilangan tulang alveolar angular dan/atau
perdarahan saat probing/
horisontal
BPO)

PPD ≥6mm, terlepas dari morfologi lesi periodontal


Parodontitis Profunda BOP
Kehilangan tulang alveolar angular dan/atau
horisontal
PPD Horisontal ≤3mm : Keterlibatan furkasi
Parodontitis interradikular superfisial BOP
PPD Horisontal ≥3mm : Keterlibatan furkasi deep
18 17 16 15 14 13 12 11 21 22 23 24 25 26 27 28
Gingivitis
Parodontitis Superfisialis
Parodontitis Profunda X X X X X X X X X X X X X X X
Parodontitis Interradicularis X X X X
Parodontitis Interradicularis X X X X
Parodontitis Profunda X X X X X X X X X X X X X X
Parodontitis Superfisialis
Gingivitis
48 47 46 45 44 43 42 41 31 32 33 34 35 36 37 38

Gambar 26-17 bagan diagnosis gigi individu dari pasien yang ditampilkan pada gambar 26-1
Status Kebersihan Mulut
• Dalam hubungan dengan pemeriksaan jaringan periodontal Kebersihan mulut
pasien harus dievaluasi
• Tidak adanya/ adanya plak pada setiap permukaan gigi di gigi dicatat dalam cara
dikotomi (O'Leary 1972).
• Endapan bakteri dapat diwarnai dengan cairan disclosing solution
• Plak ditandai dalam bidang yang sesuai dalam bagan plak yang ditunjukkan pada
26-18. skor plak rata-rata untuk pertumbuhan gigi diberikan sebagai persentase
dalam korespondensi dengan sistem yang digunakan untuk BoP
Pemeriksaan Mulut Tambahan
• Penilaian plak, faktor-faktor retensi untuk plak, seperti supra dan
kalkulus subgingival dan margin restorasi gigi yang rusak, juga harus
diidentifikasi.
• Penilaian sensitivitas gigi sangat penting untuk perencanaan
perawatan yang komprehensif.
• Kepekaan terhadap perkusi dapat menunjukkan perubahan akut
dalam vitalitas pulpa dan mengarah ke penanganan darurat sebelum
terapi sistematik periodontal.
• Pemeriksaan lengkap dan penilaian pasien akan harus mencakup
pencarian lesi karies baik secara klinis maupun radiografi.
• Skrining gangguan fungsional  menggunakan tes singkat (yaitu 1/2
menit) menurut Shore (1963).
• Dalam tes ini, fungsi harmonis rahang dengan simultan palpasi pada
sendi temporomandibular selama pembukaan, penutupan, dan
gerakan ekskoris diverifikasi.
• Pembukaan mulut maksimal dinilai dan akhirnya, pengangkatan otot
pterygoid lateral dipalpasi untuk nyeri otot.
• Sehingga karakteristik morfologi dari gigi serta kontak oklusal dan
artikulasi dapat diidentifikasi
Kesimpulan
• Metode yang dijelaskan di atas untuk pemeriksaan pasien
sehubungan dengan penyakit periodontal memberikan analisis
menyeluruh tentang keberadaan, luas dan keparahan penyakit di gigi.
• Klasifikasi pasien dan diagnosis yang benar untuk setiap gigi individu
harus menjadi dasar untuk prognosis pratheraputik dan perencanaan
perawatan pasien individual.

Anda mungkin juga menyukai