Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN PNEUMONIA PADA LANSIA

Aditia Mustikasari P27220017 001


Fitri Nur Aisyah P27220017 014
Definisi

Pneumonia adalah peradangan paru dimana asinus paru terisi cairan


radang dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang kedalam
dinding alveoli dan rongga interstisium. (secara anatomis dapat
timbul pneumonia lobaris maupun lobularis / bronchopneumonia.

Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan


yang terbanyak didapatkan dan sering merupakan penyebab kematian
hampir di seluruh dunia. Di Indonesia berdasarkan survei kesehatan
rumah tangga tahun 1986 yang dilakukan Departemen Kesehatan,
pneumonia tergolong dalam penyakit infeksi akut saluran nafas,
merupakan penyakit yang banyak dijumpai.
Etiologi
Menurut Corwin (2001), Penyebab tersering
pneumonia bakterialis adalah bakteri positif-gram,
streptococcus pneumonia yang menyebabkan
pneumonia steptrokokus. Bakteri staphylococcus
aureus adalah streptokokus beta-hemolitikus grup
A yang juga sering menyebabkan pneumonia,
demikian juga pseudomonas aeroginosa.
Pneumonia lain disebabkan oleh virus misalnya
influenza. Pneumonia mikoplasma, suatu
pneumonia yang relative sering dijumpai yang
disebabkan oleh suatu organisme yang
berdasarkan beberapa aspeknya berada diantara
bakteri dan virus.
PATHWAY
Pe↑ suhu tubuh (Mansjoer, A.2000 & Suriadi dan rita Y,2006)

Jamur,virus, protozoa
Metabolisme me↑ Keringat >>

Terhirup
Resti kekurangan
volume cairan
Masuk alveoli
Infeksi

Proses peradangan
Kerja sel
goblet me↑
Eksudat & serous masuk Pe↑ konsentrasi protein
dalam alveoli cairan alveoli
Produksi sputum Tertelan ke
me↑ lambung

SDM & leukosit PMN Tekanan hidrostatik me↑, tekanan


Akumulasi sputum di mengisi alveoli osmosis me↑
jalan nafas Akumulasi sputum (sputum
bersifat basa) di lambung
Difusi me↓
Bersihan jalan nafas Konsolidasi di alveoli
inefektif Lambung mengadakan usaha Meningkatkan
untuk menyeimbangkan asam keasaman di
Akumulasi cairan di alveoli
basa lambung Konsolidasi di paru

Peningkatan asam Compliance paru me↓ Cairan menekan syaraf Gangguan


lambung pertukaran gas

Resti nutrisi kurang dari


kebutuhan Mual, muntah Pola Nafas Inefektif Suplai 02 Nyeri pleuritik

Intoleransi
aktivitas
Manifestasi Klinis
Menurut Corwin (2001), gejala-gejala pneumonia serupa
untuk semua jenis pneumonia, tetapi terutama mencolok
pada pneumonia yang disebabakan oleh bakteri. Gejala-
gejala mencakup:
Demam dan menggigil akibat Batuk yang sering Krekel (bunyi paru
proses peradangan produktif dan purulen tambahan).

Rasa lelah akibat reaksi Mungkin timbul tanda- Hemoptisis, batuk darah, dapat terjadi akibat
peradangan dan edema. tanda sianosis cedera toksin langsung pada kapiler atau akibat
reaksi peradangan yang menyebabkan kerusakan
kapiler.
Pemeriksaan Penunjang
Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar, bronchial); dapat juga

01 menyatakan abses) luas /infiltrasi, empiema (stapilococcos), infiltrasi menyebar atau


terlokalisasi (bakterial), atau penyebaran/perluasan infiltrasi nodul (lebih sering virus). Pada
pneumonia mikoplasma, sinar x dada mungkin bersih.
Pemeriksaan fungsi paru: volume mungkin menurun (kongesti
02 dan kolaps alveolar); tekanan jalan nafas mungkin meningkat
dan komplain. Mungkin terjadi perembesan (hipoksemia)

03 Bilirubin : Mungkin meningkat.

04 Elektrolit : Natrium dan Klorida mungkin rendah


Penatalaksanaan

2. IVFD (Intra Venous


Fluid Drug)/ (pemberian
obat melalui intra vena)

3. Jika sesak tidak terlalu hebat,


1. Oksigen 1-2 L / menit
dapat dimulai dengan makanan
entral bertahap melalui selang
nasogastrik dengan feding drip.

6. Antibiotik sesuai hasil biakan atau berikan :


Untuk kasus pneumonia komuniti base:
- Ampicilin 100 mg / kg BB / hari dalam 4 hari pemberian
- Kloramfenicol 75 mg / kg BB / hari dalam 4 hari pemberian
5. Koreksi gangguan Untuk kasus pneumonia hospital base :
keseimbangan asam - - Sevotaksim 100 mg / kg BB / hari dalam 2 kali pemberian
4. Jika sekresi lendir basa dan elektrolit. - Amikasim 10 - 15 mg / kg BB / hari dalam 2 kali pemberian.
berlebihan dapat
diberikan inhalasi dengan
salin normal dan beta
agonis untuk
memperbaiki
transpormukosilier.
( Arif mansjoer, dkk, 2001, Hal 468)
Komplikasi Pneumonia

Abses kulit, abses jaringan lunak, otitis media, sinus sitis,


meningitis pururental, perikarditis dan epiglotis kaang
ditemukan pada infeksi H. Influenzae tipe B.

(Arif mansjoer, 2001, Hal 467)


Pencegahan dan faktor resiko
Dengan mempunyai pengetahuan tentang faktor-faktor dan setuasi yang
umumnya menjadi redispredisposisi individu terhadap pnumonia akan
membantu untuk mengidentifikasi psien-pasien yang beresiko terhadap
pneumonia. Tindakan preventif memberikan perawatan antisipatif dan
preventif adalah tindakan perawatan yang penting(Suzanne C.
Smeltzer,dkk , Hal 573).
· Setiap kondisi yang menghasilkan lendir atau obstruksi bronkial dan mengganggu
draniase normal paru menahun (PPOM) meningkat kerentanan pasien terhadap
pneumonia. Tindakan preventif :tingkankan batuk dan pengaluaran sekresi.
· Pasien imunosupresif dan mereka dengan jumlah neutrofi rendah (neutropeni)
adalah mereka yang berisik. Tindakan preventif : lakukan tindak kewaspadaan khusus
terhadap infeksi.
· IndIvidu yang merokok berisik, kerena asap rokok mengganggu baik aktifitas
mukosiliari dan makrofag. Tindaka preventif : ajurkan individu untuk berhenti merokok.
· Setiap pasien yang diperbolehakan berbaring secara pasif di tempat tidur dalam
waktu yang lama yang secara relatif imobil dan bernafas dangkal berisiko terhadap
bronkopneumonia. Tinadakan preventif : sering mengubah posisi.
· Setiap individu yang mengalami depresi reflek batuk (karna medikasi, keadaan yang
melemahkan atau otot-otot pernafasan lemah), telah mengaspirasi benda asing ke dalam
paru-paru selama periode tidak sadar (cedera kepala,anestesia), atau mempunyai
mekanisme menelan abnormal adalah mereka yang hampir pasti mengalami
bronkopneumonia. Tindakan preventif : penghisan trakeobronkial, sering mengubah
posisi, bijakan dalam memberikan obat-obat yang meningkatkan resiko aspirasi dan terafi
fisik dada.
(Suzanne C. Smeltzer,dkk , Hal 573)
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian Lengkap Riwayat Kesehatan
1. Biodata / Data Biografi a. Keluhan utama
Identitas Klien: Pasien mengatakan:
Nama : Tn.E Tn. E (70 th) datang ke RS dr. Moewardi Surakarta pada tanggal
Umur : 70 Thn 25 Mei.2019, jam 10.20 wib dengan keluhan batuk berdahak dan
Suku/bangsa : Jawa sesak napas.
Status Perkawinan : menikah
Agama : Islam b. Riwayat Kesehatan Sekarang :
Pendidikan : SLTP o Faktor pencetus: Keluarga mengatakan sesak napas didahului oleh
Pekerjaan : Petani batuk pilek seminggu sebelum masuk RS.
Alamat :- o Muncul keluhan : Keluarga mengatakan sesak napas sejak 6 hari
sebelum masuk RS.
Tanggal masuk RS : 25 Mei 2019
o Sifat keluhan : Keluarga mengatakan sesak napas timbul perlahan-
Tanggal Pengkajian : 26 Mei 2019 lahan, sesak napas terus menerus dan bertambah dengan aktivitas.
o Berat ringannya keluhan : Keluarga mengatakan sesak napas
cenderung bertambah sejak 2 hari sebelum masuk RS.
Keluarga Terdekat yang dapat dihubungi: o Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi : Keluarga mengatakan
Nama/Umur : Ny.N / 29 upaya untuk mengatasi sesak adalah dengan istirahat dan minum obat
No telepon : (0736)23145 batuk ( OBH ).
o Keluhan lain saat pengkajian : Keluarga juga mengatakan batuk dengan
Pendidikan : S1
dahak yang kental dan sulit untuk dikeluarkan, sehingga terasa lengket di
Pekerjaan : PNS tenggorokkanKeluarga mengatakan kesulitan bernapas.Keluarga
Alamat :- mengutarakan kondisi badan terasa lemah dan ujung - ujung jarinya terasa
Sumber Informasi : Pasien dan keluarga dingin.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD) : 2. Pola nutrisi dan metabolisme
Keluarga mengatakan tidak ada riwayat alergi terhadap Pasien mengatakan:
makanan, debu, dan lain-lain. - Diet/suplemen khusus: tidak ada
- Intruksi diet sebelumnya: -
d. Riwayat kesehatan keluarga (RKK) : - Nafsu makan (nomal, meningkat, menurun): menurun
Keluarga mengatakan tidak ada anggota keluarga yang - Penurunan sensasi kecap, mual-muntah, stomatitis :
mempunyai penyakit sesak napas seperti yang dialaminya dan pasien mual-mual
tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit keturunan - Kesulitan menelan (disfagia): tidak ada
dan penyakit menular lainnya seperti penyakit jantung, hipertensi, - Gigi (gigi palsu)
asma,TB dan lain-lain. - Riwayat masalah kulit/penyembuhan
(ruam,kering,keringat berlebihan, penyembuhan abnormal: tidak
Pola Fungsi kesehatan ada
- Jumlah minimum/24 jam dan jenis (kehausan yang
1. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan sangat): tidak ada
Pasien mengatakan: - Frekuensi makan: Normal (3X sehari)
- Persepsi terhadap penyakit: - Jenis makanan : KH, protein, lemak
Orang tua pasien tidak mengetahui penyakit yang dideritanya. - Pantangan/alergi : tidak ada
Penggunaan :
- Alergi (obat-obatan, makanan, plester, dll): pasien tidak ada
alergi.
3. Pola Eliminasi
Pasien mengatakan:
Buang air besar (BAB) :
-Frekuensi : 1x 2 hari Waktu : Pagi
- Warna : Kuning Konsistensi : Lembek
-Kesulitan (diare, konstipasi, inkontinensia) : Tidak ada

Buang air kecil (BAK) :


- Frekuensi : 2X sehari Warna : pagi dan sore hari
-Kesulitan (disuria, nokturia, hematuria, retensi inkontinensia):
Tidak ada
- Alat bantu (kateter intermitten, indwelling, kateter eksternal): tidak ada
4. Pola aktivitas dan latihan
Saat Sakit
Kemampuan perawatan dari:
0 ═ Mandiri 3 ═ Dibantu orang lain dan peralatan
1 ═ Dengan alat bantu 4 ═ ketergantungan/tidak mampu
2 ═ Dibantu orang lain

Kegiatan/aktivitas 0 1 2 3 4

Makan/minum √
- Kemampuan ROM : Tidak ada keterbatasan rentang

gerak
Mandi
- Keluhan saat beraktivitas :

Berpakaian/berdandan
Nyeri dada dirasakan ketika pasien melakukan aktivitas
Toileting √ seperti : berjalan, berlari dan melakukan pekerjaan berat.
Mobilisasi di tempat tidur √ Alat bantu (kruk,pispot, tongkat, kursi roda): Pispot

Berpindah √

Berjalan √

Menaiki tangga √
5. Pola istirahat dan tidur 7.Persepsei Diri Dan Konsep Diri
Pasien mengatakan: Pasien mengatakan:
- Lama tidur : 7 jam/malam - Perasaan klien tentang masalah kesehatan ini : Pasien
Tidur siang: 2 Jam merasa tidak nyaman
Tidur sore: - - Lain-lain : -
- Waktu : malam 21.00 WIB
Siang 13.00 WIB 8. Pola Peran Hubungan
-Kebiasaan menjelang tidur : - Pasien mengatakan:
- Masalah tidur (insomnia, terbangun dini, mimpi buruk): mimpi - Pekerjaan : Petani
buruk - Sistem pendukung : pasangan (√ ), tetangga/teman (
- Lain-lain (merasa segar/tidak setelah bangun) : merasa segar ), tidak ada ( ), keluarga serumah (√), keluarga tinggal
berjauhan ( )
6.Pola Kognitif Dan Persepsi - Masalah keluarga berkenaan dengan perawatan di RS :
Pasien mengatakan: Tidak ada
- Status mental (sadar/tidak, orientasi baik/tidak) : orientasi baik - Kegiatan sosial :
- Bicara : Normal (√), tak jelas ( ), gagap ( ), aphasia ekspresif Pasien aktif pada kegiatan sosial di masyarakat
( )
- Kemampuan berkomunikasi : Ya ( √ ), tidak ( ) 9. Pola Seksual Dan Reproduksi
- Kemampuan memahami : Ya ( √ ), tidak ( ) Pasien mengatakan:
- pasien mengatakan pola seksual dan reproduksi normal
- Pendengaran : DBN ( √ ), tuli ( ), kanan/kiri, tinnitus ( ), alat 10. Pola koping dan toleransi stress
bantu dengar ( ) Pasien mengatakan:
- Penglihatan (DBN, buta, katarak, kacamata, lensa kontak, dll) : - Perhatian utama tentang perawatan di RS atau penyakit (financial,
DBN perawatan diri) : Pasien tidak mengalami kesulitan mengeanai biaya
-Vertigo : Ada perawatan rumah sakit.
- Ketidak nyamanan/nyeri (akut/kronik) : Pasien mengalami nyeri - Kehilangan/perubahan besar dimasa lalu : tidak ada
akut pada daerah dada - Hal yang dilakukan saat ada masalah (sumber koping) : pasien
bersifat terbuka terhadap masalahnya
- Penatalaksanaan nyeri : Pasien beristirahat untuk mengurangi - Penggunaan obat untuk menghilangkan stress : tidak ada
nyeri
11. Keyakinan agama dalam kehidupan
- Agama : Pasien beragama Islam - Inspek : RR : 32x/i, penggunaan otot bantu pernapasan (+),
- Pengaruh agama dalam kehidupan : Pasien beranggapan bahwa takipnea (+),dispnea (+),pernapasan dangkal, dan rektrasi dinding dada
penyakit yang dideitanya adalah cobaan. tidak ada.
- Palpasi : fremitus menurun pada kedua paru
- Perkusi : redup
Pemeriksaan Fisik - Auskultrasi : bunyi napas bronkial, krekels (+),stridor (+).
ü Keadaan umum : Klien tampak lemah, klien tampak kesulitan bernapas Ø Vaskular periper : akral dingin, capilarry repille kembali dalam 5 detik
dan klien tampak gelisah.
ü TTV : Pemeriksaan Penunjang
- TD : 130 / 90 mmHg a. Hasil foto rontgen : menunjukkan infiltrasien lobaris (sebagianlobus
- ND : 120 x / i pada kedua paru).
- RR : 32 x / i b. AGD :menunjukkan alkalosis respiratorik (pH naik,PCO2 turun,HCO3
- S : 39 ºC normal)
c. Pemeriksaan sputum: ditemukan kuman Stapilococcus aureus dan
ü Sistem integumen (kulit) : turgor kulit buruk (tidak elastis) dan pucat Diplococcus pneumonia
ü Kepala : Simestris dan rambut warna hitam, tidak ada ketmbe, bersih. d. Pemeriksaan darah rutin didapatkan :
ü Mata : DBN, konjuntiva tidak anemis,ukuran pupil normal. - Leokosit = 16.000/mm3
ü Telinga : DBN - Hb = 10,5 gr/dl
ü Kuku : Kuku pucat dan sedikit sinosis - Trombosit =265.000/mm3
ü Hidung : Pernapasan cuping hidung - Hematokrit = 44%
ü Mulut : Mukosa bibir kering dan pucat - Albumin = 3,01 gr/dl
ü Thorak /paru - Protein total = 5,86 gr/dl
Analisa Data :
Nama klien : Tn. E (70 th)
Ruang rawat : Anggrek, RSUD dr. Moewardi Surakarta
Diagnosa medik : Pneumonia
No Data Etiologi Masalah

1. DS: Inflamasi trakeo bronkial dan farenkim Bersihan Jalan nafas tidak efektif
- Klien mengatakan batuk berdahak dan sesak napas paru, pembentukkan edema dan peningkatan
- Klien mengatakan batuk dengan dahak yang kental dan sulit untuk dikeluarkan produksi sputum.
- Klien mengatakan dahaknya terasa lengket di tengorokkan
- Klien Mengatakan Kesulitan bernapas
DO:
- Klien tampak kesulitan bernapas
- TTV:
o TD: 130/90 mmHg
o N : 12X/i
o RR : 32x /i
- Pernafasan Cuping Hidung
- Takipnea (+)
- Dispnea (+)
- Pernafasan dangkal
- Penggunaan otot bantu pernafasan (+)
- Perfusi paru redup
- Premetus menurun pada kedua paru
- Bunyi nafas bronkial, kreleks (+), stridor (+)
- Hasil Rontgen : menunjukkan infiltrasi lobaris
- Pemeriksaan seputum : ditemukan kuman stapilococcus aureus dan
No Data Etiologi Masalah

2. DS: Inflamasi parenkim paru, reaksi seluler terhadap Nyeri


- Klien mengatakan nyeri dada sirkulasi toksin dan batuk menetap.
- Klien mengatakan sakit kepala
- Klien mengatakan sendi nyeri
DO:
- Klien tampak gelisah
- Klien tampak meringis kesakitan akibat nyeri
- Klien tampak memegang di daerah dada dan melindungi daerah yang sakit
- TTV:
o TD : 130/90 mmhgs
o N : 120x/i
o RR : 32x /i
- Akral dingin
- Kuku pucat dan sedikit sianosis
- Mukosa bibir kering dan pucat
- Kapilary reffill kembali dalam 5 detik
- Takipnea (+)
Data Etiologi Masalah
DS: Anoreksia, akibat Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
- Klien mengatakan batuk berdahak toksin bakteri, bau
- Klien mengatakan dahaknya terasa lengket ditenggorokkan dan rasa sputum
- Klien mengatakan tidak nafsu makan dan hanya mampu menghabiskan ½ porsi setiap kali makan
(pagi,siang dan malam)
- Klien mengatakan mual
- Klien mengatakan berat badan turun 4 Kg dari 65 Kg menjadi 64 Kg
- Klien mengatakan lemah
DO:
- Klien tampak mengeluarkan sputum saat batuk
- Klien tampak lemah
- Klien tampak hanya mampu mengabiskan makanan ½ porsi setiap kali makan
- Kulit klien tampak kering
- Turgor kulit buruk
- Mukosa bibir klien kering
- Hb : 10 gr / dl
- Protein total : 5,86 gr / dl
- Albumin 3,00 gr / dl
- BB : 61 kg
- TTV:
o TD : 130/90 mmhgs
o N : 120 x/i
o RR : 32x /i
- Akral dingin
- Kuku pucat dan sedikit sianosis
- Mukosa bibir kering dan pucat
4. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul
1.Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi
trachea bronchial, peningkatan produksi sputum
2.Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, reaksi
seluler terhadap sirkulasi toksin dan batuk menetap.
3.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia, akibat toksin bakteri, bau dan rasa sputum
Thank You