Anda di halaman 1dari 24

DIPLOPIA

Oleh
Ery Yuliando Nepa Bureni
1408010022
Pembimbing
dr. Eunike Cahyaningsih, Sp.M
dr. Komang Dian Lestari, Sp.M., M. Biomed

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


SMF/BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA
1
KUPANG 2019
BAB 1 PENDAHULUAN

Diplopia adalah
penglihatan ganda atau
DIPLOPIA  diplous
keluhan berupa melihat
(ganda) dan ops (mata)
dua gambaran dari satu
objek

Diplopia binokuler terjadi


akibat tidak sejajarnya
kedua aksis visual yang Diplopia sendiri terbagi atas
menyebabkan kedua diplopia monocular dan
retina secara serentak diplopia binocular
melihat obyek atau area
yang berbeda. 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

CAHAYA
DIREFRAKSI KORNEA LENSA RETINA
MASUK

3
Otot penggerak bola mata dipersarafi oleh
Otot Penggerak Mata 1. Nervus III (N. Oculomotorius) mempersarafi Musculus rectus superior,
Musculus rectus medial, Musculus rectus inferior, dan Musculus obliquus
inferior
2. Nervus IV (Nervus Trochlearis) mempersarafi Musculus obliquus superior
4
3. Nervus VI (Nervus Abducens) mempersarafi Musculus rectus lateralis
Definisi

Diplopia atau penglihatan ganda adalah keluhan


berupa melihat dua gambaran dari satu objek

Diplopia binokuler terjadi akibat tidak


sejajarnya kedua aksis visual yang
menyebabkan kedua retina secara serentak
melihat obyek atau area yang berbeda, satu
bayangan jatuh tepat di fovea sedangkan
bayangan pada mata lainnya jatuh di luar
fovea.

5
Patofisiologi

Syarat terjadinya penglihatan normal:


1. Retina kedua mata menerima kedua
gambaran secara simultan
2. Fusi: saat kedua retina membuat
impresi visual yang sama, yakni
transmisi gambar-
gambar identik ke otak, 2 gambar re
tina akan
bercampur menjadi persepsi tunggal
3. Susunan syaraf pusat mampu
menerima rangsangan yang datang
dari kedua retina dan
menyatukannya menjadi bayangan
tunggal
6
Patofisiologi

Dua mekanisme utama diplopia adalah


 Aberasi okuler -> Diplopia Monokuler
 Misalignment okuler -> Diplopia Binokuler

Objek fiksasi dicitrakan pada fovea dari satu mata dan daerah nonfoveal dari mata yang
salah sehingga terjadi diplopia

 Diplopia horizontal disebabkan oleh impaired abduksi atau adduksi (berhubungan


dengan kontrol dan pergerakan otot rektus medial, rektus lateral, atau keduanya).
 Diplopia vertikal disebabkan oleh impaired elevasi atau depresi (`berhubungan dengan
kontrol dan pergerakan otot rektus inferior, rektus superior, oblik inferior, oblik superior,
atau kombinasi dari otot-otot ini)
10
ETIOLOGI & KLASIFIKASI

Berdasarkan mekanismenya maka diplopia dapat dibagi menjadi:


1. Diplopia monokular( 11%),adalah penglihatan ganda yang tetap ada saat mata yang
sehat ditutup  kelainan media refraksi
PENYEBAB DIPLOPIA MONOCULAR
Refractive error
Corneal disease (irrelugel astigmatism)
Iris injury
Cataract
Media opacity
Macular disease
Primary or secondary visual corte disorder
8
2. Diplopia binokular (89%), adalah penglihatan ganda terjadi bila melihat dengan kedua
mata dan menghilang bila salah satu mata ditutup  misaligment okular
PENYEBAB DIPLOPIA BINOCULAR
Orbital disease Trauma, tumor, thyroid-associated ophthalmopathy

Extraocular muscle thyroid-associated ophthalmopathy, extraocular muscle injury or


disorder hematoma due to ocular surgery, congenital myopathies, muscular
dystrophy

Neuromuscular Myastenia gavis, botulism


junction dysfunction
Palsies of the third, Microvascular ischemia-diabetic neuropathy, hemorrhage, tumor,
fourth or sixth cranial vascular malformation, aneurysm, meningitis, multiple sclerosis
nerves

Central nervous Ischemia, hemorrhage, tumor, vascular malformation, multiple sclerosis, 9


system injury
DIAGNOSIS

1. Anamnesis
bedakan diplopia monokular dan diplopia binokular
onset : mendadak, progresif, hilang timbul?
letak obyek bayangan : horizontal, vertical atau oblique?
faktor memperberat/ringan?
gejala penyerta?
riwayat trauma? Riwayat penyakit mata? Riwayat penyakit? Riwayat
pengobatan?

10
2. Pemeriksaan Fisik
diplopia monocular  pin hole test, membaik = kelainan media refraksi
diplopia binocular
pemeriksaan bola mata
pemeriksaan pergerakan bola mata
pemeriksaan lapangan pandang
pemeriksaan saraf III, IV dan VI
Cover test

Pemeriksaan Pergerakan Bola Mata 11


Test Konfrontasi

Cover tests

9
3. Pemeriksaan Penunjang
Foto Rontgen Kepala
CT-Scan, MRI
Pemeriksaan Laboratorium
TSH, T3, T4

13
TATALAKSANA

1. Non-Operative
 Menutup satu mata
 Lena oklusif stick-on
 Pengobatan miastenia gravis (mestinon, agen antikolinergik, kortokosteroid)
2. Operative

14
Komplikasi

 Vertigo
 Sakit Kepala
 Infeksi  implanted materials (Plate, screws)
 Kompresi pada nervus opticus

15
BAB 3 LAPORAN KASUS

Identitas Pasien

 Nama : Ny. RB
 Umur : 63 tahun
 No. MR : 264419
 Jenis Kelamin : Perempuan
 Agama : Kristen
 Pekerjaan : Pensiunan
Anamnesis

 Keluhan Utama : Penglihatan ganda


 Riwayat Penyakit Sekarang :
 Pasien datang diantara oleh keluarganya disertai konsul dari saraf dengan keluhan penglihatan
ganda dan tidak fokus saat kedua mata dibuka pada seluruh lapangan pandang. Keluhan ini
dirasakan kurang lebih 1 bulan yang lalu disertai dengan keluhan nyeri kepala berputar yang
dirasakan hilang timbul. Penglihatan ganda dan tidak fokus menghilang jika pasien menutup
mata kanan dan membuka mata kiri. Pasien juga mengeluhkan mata kiri terasa lemah dan sulit
menoleh ke arah samping kiri. Keluhan lain gatal (-), berair (-), silau melihat cahaya (-),
bayangan di depan mata (-). Mual (-), muntah (-), demam (-).
 Riwayat Penyakit Dahulu : Hipertensi, SNH Trombosis, Dispepsia, Vertigo, Jantung (-), DM (-)
 Riwayat Pengobatan : Simvastatin 1x20mg, Betahistine 3x6mg, amlodipine 1x10mg, Ranitidine
2x150mg, Miniaspi 1x80mg
Pemeriksaan Fisik

Tanda-tanda Vital
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 80 x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,5˚C
Status
Oculi Dextra Oculi Sinistra
oftalmologis

Pemeriksaan Fisik Edema (-),


hematoma (-),
Edema (-),
hematoma (-),
Hiperemis (-), Palpebra Hiperemis (-),
entropion (-), entropion (-),
ektropion (-) ektropion (-)
Hiperemis (-), Hiperemis (-), Injeksi (-
Injeksi(-) , Jaringan Conjungtiva ) , Jaringan
fibrovaskular (-) fibrovaskular (-)
Keruh (-), Sikatrik (-) Keruh (-), Sikatrik (-),
Cornea
Ulkus (-),Corpal (-) Corpal (-), Ulkus (-)
Dalam, Hipopion (-), Dalam, Hipopion (-),
COA
Hifema (-) Hifema (-)
Intak, regular Iris Intak, Reguler
Bulat, Sentral, RCL Bulat, tidak sentral,
(+), RCTL (+) Pupil RCL (+), RCTL (+)
Diameter 2 mm Diameter 2 mm
Keruh (-) Lensa Keruh (-)
- Funduskopi -
Pemeriksaan
Fisik
Reflex Hirschberg : Esotropia 30
derajat
Pemeriksaan Force Duction : -
Pemeriksaan Cover dan
Uncover : -

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Slit lamp : -
Funduskopi : -
Tonometri :-
Pemeriksaan Radiologi : -
Diagnosis dan Tatalaksana

DIAGNOSIS
Diplopia Binokuler
Parese Nervus VI Oculi Sinistra

TATALAKSANA
Oklusi OD 2 jam/hari (Oklusi OS => Pusing)
Lyters 6x1 ODS
Mecobalamin 1x1
BAB 4 PEMBAHASAN

Pada kasus ini atas nama Ny. RB, 63 tahun datang dengan keluhan
penglihatan ganda dan tidak fokus saat kedua mata dibuka pada
seluruh lapangan pandang. Keluhan ini dirasakan kurang lebih 1
bulan yang lalu disertai dengan keluhan nyeri kepala berputar
yang dirasakan hilang timbul. Penglihatan ganda dan tidak fokus
menghilang jika pasien menutup mata kanan dan membuka mata
kiri. Pasien juga mengeluhkan mata kiri terasa lemah dan sulit
menoleh ke arah samping kiri. Keluhan lain gatal (-), berair (-), silau
melihat cahaya (-), bayangan di depan mata (-). Mual (-), muntah
(-), demam (-), BAB dan BAK dalam batas normal.
BAB 4 PEMBAHASAN

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maka pasien didiagnosa


Diplopia Binokuler dan Parese Nervus VI Oculi Sinistra. Terdapat beberapa
faktor predisposisi terjadinya diplopia binokuler yakni adanya Hipertensi
dan Dislipidemia pada pasien. Selain itu pasien juga memiliki riwayat SNH
Trombosis yang menjadi penyebab Parese Nervus VI Oculi Sinistra.
Pemberian terapi dengan patching pada salah satu mata dengan cara
bergantian, untuk mengurangi keluhan pusing. Pada pemeriksaan
oftamologi didapatkan Esotropia 30 derajat disertai pasien kesulitan
menggerakan bola mata kiri ke arah lateral.

29
24