Anda di halaman 1dari 72

PRESENTASI KASUS

SPACE OCCUPYING LESION


(SOL)

PEMBIMBING :

D R . d r. R I TA S P. S , M . K E S

DISUSUN OLEH :

C A LV I N A F F E N D Y 11 2 0151 5 3

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF


RUMAH SAKIT KEPRESIDENAN RSPAD GATOT SOEBROTO
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
PERIODE 7 AGUSTUS 2017 – 9 SEPTEMBER 2017, JAKARTA
IDENTITAS PASIEN
Nama • Tn. M

Umur • 40 Tahun
Agama • Budha
Pekerjaan • wirawasta
Status pernikahan • Menikah
Suku • Tionghoa

Tanggal Masuk • 4 Agustus 2017

Tanggal Pemeriksaan • 14 Agustus 2017


ANAMNESA (Autoanamnesa dan lloanamnesa tanggal 14 Agustus 2017,
pukul 08.00 WIB di ruang perawatan umum lantai 6)

Keluhan Tambahan
Keluhan Utama :
: Nyeri kepala,
Sering lupa sejak 6
batuk, penglihatan
bulan SMRS
terganggu
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Pasien mengalami Batuk dan tidak


membaik hingga sekarang. Batuk
tidak berdahak tidak berdarah
disertai sesak.

6 Bulan SMRS

pasien sering lupa saat beraktivitas sehari- Pasien mengalami nyeri kepala.
hari. Pasien sering lupa mengenai Nyeri kepala hilang timbul, tempat
berpindah-pindah seperti ditusuk-
peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi,
tusuk
lupa mengenai informasi-informasi yang
baru saja disampaikan sehingga saat
bekerja pasien sering bertanya mengenai
suatu hal hingga berkali-kali. Pasien tidak
lupa terhadap masa lalunya dan hal-hal
yang sudah lama terjadi.
Pasien mengalami
gangguan penglihatan
mata kiri. Pandangan
seperti berbayang. Hiang
timbul.

1 Minggu SMRS

3 Bulan SMRS
Pasien mengalami kebingungan jalan
pualng setelah bekerja.
Sejak 6 bulan SMRS menurut keluarga pasien, pasien sering lupa saat
beraktivitas sehari-hari. Pasien sering lupa mengenai peristiwa-peristiwa yang
baru saja terjadi, lupa mengenai informasi-informasi yang baru saja
disampaikan sehingga saat bekerja pasien sering bertanya mengenai suatu hal
hingga berkali-kali. Pasien tidak lupa terhadap masa lalunya dan hal-hal yang
sudah lama terjadi.
Hal ini mengganggu pekerjaan pasien yang merupakan seorang pedagang.
Pada mulanya keluarga menganggap hal ini merupakan hal yang biasa namun
semakin hari lupa ini dirasakan semakin berat. Pada pasien tidak terdapat
adanya gangguan emosi atau perubahan sifat. Menurut keluarga, Pasien
memiliki perasaan lebih banyak ingin tidur dibandingkan sebelumnya. Jika
pasien tidur, pasien masih dapat mudah dibangunkan.
Pasien juga mengeluh adanya nyeri kepala sejak 6 bulan SMRS. Nyeri
kepala timbul mendadak kurang lebih 15 -30 menit dirasakan sering terjadi pada
saat pagi hari ketika bangun tidur sehingga pasien tidak bisa langsung
beraktivitas. Nyeri kepala tidak disebabkan oleh perubahan posisi. Nyeri kepala
seperti ditusuk-tusuk terasa di bagian tertentu, tidak seluruh kepala, namun
lokasinya berpindah-pindah tidak hanya ada di satu tempat.
Saat nyeri kepala pasien tidak merasakan adanya kunang-kunang,
mencium bau-bau sebelumnya atau mendengar suara-suara yang khas. pasien
tidak mengetahui adanya pemicu dari nyeri kepala ini. Nyeri kepala tidak disertai
dengan mual dan muntah, pasien tidak pernah pingsan atau penurunan
kesadaran. Pasien sudah berobat untuk keluhan ini dengan obat paracetamol,
setelah minum obat keluhan dirasakan membaik namun nyeri kepala sering
timbul kembali.
Sejak 6 bulan terakhir, pasien juga mengeluh adanya batuk.
Batuk tidak berdahak, tidak berdarah. Batuk kadang-kadang
dirasakan disertai sesak. Pasien mengatakan lebih nyaman dengan
posisi duduk. Sesak dirasakan pada waktu-waktu tertentu. Tidak ada
demam, keringat malam, tidak ada penurunan berat badan yang
signifikan. Pada keluarga tidak ada yang menderita hal yang serupa.
Pasien sering berobat menggunakan obat batuk yang ia beli sendiri
namun belum pernah periksa ke dokter.
Sejak 3 bulan yang lalu, pasien juga mengeluh adanya gangguan pada penglihatan
mata kiri. Pasien mengatakan bahwa mata kiri sering timbul berbayang namun gangguan ini
sering hilang timbul. Saat tidak ada gangguan, pasien tidak merasa ada gangguan sama sekali.
Penglihatan mata kanan tidak terasa ada gangguan. Saat terjadi gangguan pasien tidak
merasakan nyeri pada mata, keluar cairan yang berlebihan, muntah ataupun nyeri kepala hebat.
Pasien tidak memiliki riwayat penggunaan kacamata sebelumnya. Pasien belum berobat untuk
keluhan ini karena terasa hilang timbul.
Satu minggu SMRS pasien tidak pulang karena bingung jalan pulang setelah bekerja.
Hal ini membuat keluarga memutuskan untuk membawa pasien ke dokter poliklinik syaraf untuk
diperiksa. Nyeri kepala masih dirasakan pasien dengan intensitas yang sama sejak dari 6 bulan
yang lalu.
Pasien tidak mengalami adanya kelemahan pada anggota gerak, tidak pernah mengalami
demam, tidak ada riwayat penurunan kesadaran dan kejang. Tidak ada gangguan nafsu makan
Pasien tidak memiliki riwayat merokok namun lingkungan sekitar pekerjaan pasien merupakan
perokok aktif. Pasien tidak mengkonsumsi alkohol ataupun obat terlarang. Pasien jarang
berolahraga. Gangguan BAB BAK disangkal pasien. Keluarga pasien mengaku pasien tidak
memiliki riwayat darah tinggi, kencing manis, alergi, asma, penyakit jantung dan penyakit ginjal,
riwayat trauma, riwayat kejang. Keluarga pasien mengaku terdapat 1 anggota keluarganya yang
memiliki riwayat tumor, yaitu saudara dari ibu pasien.
ANAMNESA
Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat Pengobatan :
• Hipertensi (-), DM (-), Infeksi (-), • Terdapat 1 anggota keluarga yang •-
Tumor (-), Penyakit jantung (-), alergi memiliki riwayat kanker , namun
(-) tidak terdapat anggota keluarga
yang memiliki riwayat darah tinggi,
atau diabetes, sakit jantung, sakit
ginjal.

Riwayat Kebiasaan : Riwayat Perkembangan :


• Merokok (-) • Berkembang sesuai umur.
• Jarang berolah raga
• Alkohol (-), Obat-obatan terlarang (-)
PEMERIKSAAN FISIK
STATUS INTERNUS
• Keadaan umum : Tampak sakit sedang
• Gizi : Cukup
• Tanda vital
• TD kanan : 120/ 80 mmHg
• TD kiri : 120 / 80 mmHg
• Nadi : 85 x/mnt, reguler, kuat angkat
• Pernapasan : 20 x /mnt, teratur, kedalaman normal
• Suhu : 36,5oC
• Kepala : Normocephal
• Leher : Kelenjar getah bening tidak teraba
• Jantung : Bunyi jantung I-II regular, murmur (-), gallop (-)
• Paru : Bunyi nafas vesikuler (+/+), suara nafas lemah pada paru kanan,
ronki (-/-), wheezing (-/-)
• Hepar dan lien : Tidak teraba pembesaran
• Extremitas : Akral hangat, CRT <2 detik, sianosis (-), edema (-), ikterik (-)
PEMERIKSAAN FISIK
STATUS PSIKIATRI
• Tingkah Laku : wajar
• Perasaan Hati : wajar
• Orientasi : baik
• Jalan Pikiran : baik sulit dinilai
• Daya Ingat : ingatan jangka pendek terganggu,
ingatan jangka panjang baik
PEMERIKSAAN FISIK
STATUS NEUROLOGIS
• Kesadaran : Compos mentis,
E4M6V5 (15)
• Sikap Tubuh :
Berbaring
• Cara Berjalan : Normal
• Gerakan Abnormal : Tidak
ada
PEMERIKSAAN FISIK

Leher
Kepala • Sikap : Normal
• Gerakan : Bebas tidak
Bentuk : Normocephal Terbatas
Simetris : Simetris • Vertebrae : Dalam batas
Pulsasi : Teraba normal
• Nyeri tekan : Tidak dapat
Nyeri Tekan : Tidak ada
dinilai
• Pulsasi a. Carotis : Teraba
PEMERIKSAAN FISIK

Gejala Rangsang Meningeal


Kanan Kiri
Kaku duduk : -
Laseque : - -
Kernig : - -
Brudzinky I : - -
Brudzinky II : - -
Pemeriksaan Nervi Cranialis

N II (Optikus)
N I (Olfactorius)
Kanan Kiri
Daya penghidu
: Ketajaman penglihatan :Baik Baik
Normosomia/ Pengenalan warna : Baik Baik
Normosomia Lapang pandang : Baik Baik
Fundus : tidak dilakukan
Pemeriksaan Nervi Cranialis
N III (Oculomotorius) / N IV (Trochlearis) / N VI (Abducens)
Kanan Kiri
Ptosis : - -
Strabismus : - -
Nistagmus : - -
Enopthalmus : - -
Gerakan Bola Mata
Lateral : + +
Medial : + +
Atas Lateral : + +
Atas Medial : + +
Bawah Lateral : + +
Bawah Medial : + +
Atas : + +
Bawah : + +
Pemeriksaan Nervi Cranialis

Pupil
Kanan kiri
Pupil : 3 mm 3 mm
Bentuk Pupil : Bulat Bulat
Isokor / anisokor : Isokor Isokor
Posisi : ditengah ditengah
Reflek cahaya langsung : + +
Reflek cahaya tidak langsung : + +
Reflek akomodasi/konvergensi : sulit dinilai
Pemeriksaan Nervi Cranialis
N. V (Trigeminus)
Kanan Kiri
Menggigit : Baik Baik
Membuka mulut : Simetris
Sensibilitas atas : + +
Sensibilitas tengah : + +
Sensibilitas bawah : + +
Reflek Masseter : + +
Reflek Zigomatikus : + +
Reflek kornea : Tidak dilakukan
Reflek Bersin : tidak dilakukan
Pemeriksaan Nervi Cranialis
Pasif Aktif
• Kerutan kulit dahi : Simetris • Aktif
kanan dan kiri
• Mengkerutkan dahi : Simetris
• Mengkerutkan alis : Simetris
• Kedipan mata : Simetris
• Menutup mata : Simetris
kanan dan kiri
• Meringis : Simetris
• Mengembungkan pipi : Simetris
• Lipatan nassolabial : Simetris
kanan dan kiri • Gerakan bersiul : Simetris
• Daya pengecapan lidah 2/3 depan : Tidak dilakukan
• Sudut mulut : Simetris • Hiperlakrimasi : tidak Ada
kanan dan kiri • Lidah kering : tidak ada
Pemeriksaan Nervi Cranialis
N VIII (Acusticus)
Mendengarkan suara gesekan jari tangan : + +
Mendengarkan detik jam arloji : + +
Test swabach : Tidak dilakukan
Test Rinne : Tidak dilakukan
Test weber : Tidak dilakukan

N IX (glosopharynyeus)
Arcus pharynk : simetris
Posisi uvula : ditengah
Daya pengecapan lidah 1/3 belakang : Tidak dilakukan
Reflek muntah : tidak di lakukan
Pemeriksaan Nervi Cranialis

N X (Vagus)
N XI (accesorius)
Denyut nadi : Teraba
Memalingkan kepala : Normal
Arcus pharynx : simetris
Sikap bahu : Simetris
Bersuara : baik
Mengangkat bahu : Simetris
Menelan : baik
Pemeriksaan Nervi Cranialis

N XII (hipoglosus)
Menjulurkan Lidah : Simetris
Kekuatan Lidah : Baik
Atrofi Lidah : Tidak ada
Artikulasi : Baik
Tremor Lidah : Tidak ada
Pemeriksaan Fisik
Sistem Motorik
Gerakan : Bebas Bebas
Bebas Bebas Reflek Fisiologis
Reflek tendon Kanan Kiri
Kekuatan : 5555 5555
Reflek bisep :+++ meningkat +++ meningkat
5555 5555 Reflek trisep : +++ meningkat +++ meningkat
Tonus : Normotonus Normotonus Reflek patella : ++ ++
Normotonus Normotonus Reflek achiles : ++ ++
Reflek periosteum: Tidak dilakukan
Trofi : Eutrofi Eutrofi
Eutrofi Eutrofi
Pemeriksaan Fisik

Reflek Patologis
Kanan Kiri
Hoffman tromer : - -
Reflek permukaan
Babinski : - -
Dinding perut :Tidak dilakukan Chaddok : - -
Openheim : - -
Cremaster :Tidak dilakukan Gonda : - -
Gordon : - -
Spincter ani :Tidak dilakukan Schaffer : - -
Rosolimo : - -
Mendel bechtere : - -
Klonus paha : - -
Klonus kaki : - -
Pemeriksaan Fisik
Koordinasi dan keseimbangan
Sensibilitas
Test romberg :-
Kanan Kiri
Eksteroseptif Test tandem :-
Nyeri : + + Test fukuda :-
Suhu : Tidak dilakukan Disdiadokokenesis :-
Taktil : + + Rebound phenomen :-
Propioseptif
Dismetri :-
Posisi : + +
Vibrasi : Tidak dilakukan
Test tunjuk hidung :-
Tekanan dalam : Tidak dapat dinilai Test telunjuk-telunjuk :-
Test tumit lutut :-
Pemeriksaan Fisik
Fungsi Otonom
Miksi (terpasang kateter) Fungsi Luhur
Inkontinentia : tidak ada kelainan Fungsi bahasa : Baik
Retensi : tidak ada kelainan Fungsi orientasi : Baik
Anuria : tidak ada kelainan Fungsi memori : Baik
Defekasi
Fungsi emosi: Baik
Inkontinentia : tidak ada kelainan
Fungsi kognisi: Baik
Retensi : tidak ada kelainan
Diagnosis Kerja
Diagnosis klinis : Demensia, Cephalgia, Bronchitis Kronik
Diagnosis topik : Kedua Hemisfer Serebri
Diagnosis etiologi : Suspek SOL intracranial ec tuberkuloma
Suspek SOL intracranial ec dd/abses cerebri
Suspek Stroke Non Hemoragic
Diagnosis Sekunder : Diplopia OS, Bronkhitis Kronis
Diagnosis Banding : Demensia Alzheimer, Demensia Vaskuler,
Efusi Pleura, Tuberculosis paru, Carsinoma Paru
Pemeriksaan Anjuran

Pemeriksaan Darah Rutin


Pemeriksaan Rontgen Thorax AP
Pemeriksaan Sputum BTA
Pemeriksaan MRI Brain
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium tanggal 8 Agustus2017

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan


HEMATOLOGI RUTIN

Hemoglobin 12,1* 13.0-18.0 g/dL

Hematokrit 38* 40-52%

Eritrosit 4,5 4.3 - 6.0 juta/µL

Leukosit 27370* 4,800 – 10,800/µL

Trombosit 523000 150,000 – 400,000/µL


Laboratorium tanggal 21 Maret 2017 dari IGD RSPAD

Hitung Jenis
Basofil 0 0-1%
Eosinofil 0* 1-3%
Neutrofil 90* 50-70%
Limfosit 6* 20-40%
Monosit 4* 2-6%
MCV 4 80 – 96 fL
MCH 85 27 – 32 pg
MCHC 32 32-36 g/dL
RDW 14,30 11,5-14,5%
Hitung Jenis
Basofil 0 0-1%
Eosinofil 0* 1-3%
Foto Thorax AP (Tanggal 7 Agustus 2017)
Kesan :
Efusi Pleura kanan
Aorta elongasi dan kalsifikasi
MRI BRAIN tanpa dan dengan kontras
(Tanggal 7 Juli 2017)
Kesan :
Massa suprasellar (ukuran 2,6x2,3x2,3 cm) yang mengisi sisterna
basalis disertai edema di basal ganglia bilateral dan mesensefalon
sampai superior pons yang mencurigakan optical pathway glioma
DD/meningioma
Multiple rim enhancement di kortikal, subkortikal, dan white matter
kedua hemisfer serebri yang mencurigakan proses infeksi. DD/ -
Tuberkuloma, TORCH
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium tanggal 8 Agustus2017

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan


HEMATOLOGI RUTIN

Hemoglobin 12,1* 13.0-18.0 g/dL

Hematokrit 38* 40-52%

Eritrosit 4,5 4.3 - 6.0 juta/µL

Leukosit 27370* 4,800 – 10,800/µL

Trombosit 523000 150,000 – 400,000/µL


PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium tanggal 8 Agustus2017

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

Hitung Jenis
Basofil 0 0-1%
Eosinofil 0* 1-3%
Neutrofil 90* 50-70%
Limfosit 6* 20-40%
Monosit 4* 2-6%
MCV 4 80 – 96 fL
MCH 85 27 – 32 pg
MCHC 32 32-36 g/dL
RDW 14,30 11,5-14,5%
Hasil pemeriksaan cairan Efusi Pleura
(Tanggal 10 Agustus 2017)
Kesimpulan : Sediaan sitologi cairan pleura mencurigakan suatu adenokarsinoma
Anjuran : pemeriksaan imunohistokimia untuk konfirmasi diagnosis
RESUME
Pasien seorang laki – laki usia 40 tahun datang dengan keluhan sering lupa disertai cephalgia,
batuk dan gangguan penglihatan.
Sejak 6 bulan SMRS pasien memiliki gangguan memori jangka pendek yang menggangu
pekerjaan semakin hari semakin berat, gangguan emosi atau perubahan sifat (-) namun lebih
banyak ingin tidur dibandingkan sebelumnya. Keluhan ini disertai nyeri kepala yang timbul
mendadak kurang lebih 15 -30 menit, sering terjadi pada saat pagi hari ketika bangun tidur
sehingga pasien tidak bisa langsung beraktivitas. Nyeri kepala seperti ditusuk-tusuk terasa di
bagian tertentu, lokasinya berpindah-pindah tidak disertai dengan aura.
Pasien juga mengeluh batuk. Batuk tidak berdahak, tidak berdarah. Batuk kadang-kadang
dirasakan disertai sesak. Pasien mengatakan lebih nyaman dengan posisi duduk. Sesak dirasakan
pada waktu-waktu tertentu. Demam (-), keringat malam (-), penurunan berat badan (-) yang
signifikan. Pada keluarga tidak ada yang menderita hal yang serupa.
Sejak 3 bulan yang lalu, terdapat diplopia OS sedangkan OS normal. Keluhan ini hilang timbul.
Nyeri (-), hiperlakrimasi (-), muntah (-) nyeri kepala hebat (-)
Satu minggu SMRS pasien tidak pulang karena bingung jalan pulang setelah bekerja sehingga
dibawa ke poliklinik saraf.
kelemahan pada anggota gerak , demam, penurunan kesadaran dan kejang tidak ada.
Merokok (-) alcohol (-) obat-obatan terlarang (-) Gangguan BAB BAK normal. pasien tidak
memiliki riwayat darah tinggi, kencing manis, alergi, asma, penyakit jantung dan penyakit ginjal,
riwayat trauma, riwayat kejang.
Terdapat 1 anggota keluarganya yang memiliki riwayat tumor, yaitu saudara dari ibu pasien.
RESUME
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum tampak sakit sedang
Kesadaran compos mentis dengan GCS E4 M6 V5 (15)
Tanda- tanda vital dalam batas normal
Suara nafas vesikuler melemah pada paru kanan
Pemeriksaan Neurologis didapatkan
◦ Reflex Biceps dan Triceps Meningkat (+++)
Laboratorium darah tanggal 8 Agustus 2017:
◦ Hb : 12,1 g / µL

◦ HT : 38%

◦ Leukosit : 27370 juta/µL

Foto Thorax AP Tanggal 7 Agustus 2017


◦ Kesan : Efusi Pleura kanan

MRI BRAIN tanpa dan dengan kontras Tanggal 27 Juli 2017


◦ Kesan :

◦ Massa suprasellar (ukuran 2,6x2,3x2,3 cm) yang mengisi sisterna basalis disertai edema di basal ganglia bilateral dan mesensefalon sampai superior

pons yang mencurigakan optical pathway glioma DD/meningioma

◦ Multiple rim enhancement di kortikal, subkortikal, dan white matter kedua hemisfer serebri yang mencurigakan proses infeksi. DD/ - Tuberkuloma,

TORCH

Hasil pemeriksaan cairan Efusi Pleura Tanggal 10 Agustus 2017


◦ Kesimpulan : Sediaan sitologi cairan pleura mencurigakan suatu adenokarsinoma
DIAGNOSIS
1. Diagnosis klinis : 3. Diagnosis etiologis :
 Demensia SOL Intrakranial ec dd/ Meta ca
paru
 Cephalgia SOL Intrakranial ec dd/ abses
cerebri
4. Diagnosis sekunder :
2. Diagnosis topis :
Susp. Adenocarcinoma Paru
Kedua Hemisfer Cerebri
Efusi Pleura Dextra
TERAPI
Tatalaksana umum : 5 B ( Breathing, Blood, Brain, Bladder, Bowel)

Non medikamentosa Medikamentosa


• Head Up 30o • IVFD RL 500cc/8 jam
• Konsultasi ke dokter spesialis bedah • Deksametason 5 mg / 8 jam IV
Syaraf • Manitol 20% 125cc / 6 jam IV
• Konsultasi ke dokter spesialis paru • Citicolin 500mg / 8 jam IV
• Konsultasi ke Dokter Spesialis Mata • Ranitidin 50mg /12 jam IV
• Menerangkan kepada pasien dan
keluarganya mengenai adanya tumor di
otak.
PEMERIKSAAN ANJURAN

CT Scan Thorax
PROGNOSIS

Ad vitam : Dubia ad malam


Ad fungsionam : Dubia ad malam
Ad sanam : Dubia ad malam
Ad cosmeticum : Dubia ad malam
15-8-2017 16-8-2017
S : Tidak ada keluhan S: tidak ada keluhan
O: Tampak sakit sedang, kesadaran : GCS 15 E4M6V5 O: Tampak sakit sedang, kesadaran : GCS 11
TD : 120/70 N : 90 x/mnt RR : 21x/mnt E4M6V5
S : 36.5 oC TD : 110/80 N : 88 x/mnt RR : 20x/mnt
Suara nafas vesikuler melemah pada paru kanan S : 36,6 oC
Reflex Biceps dan Triceps Meningkat (+++) Suara nafas vesikuler melemah pada paru kanan
Reflex Biceps dan Triceps Meningkat (+++)
A: Diagnosa klinis : Demensia, Cephalgia, A : Diagnosa klinis : Demensia, Cephalgia,
Diagnosa Topis : Kedua Hemisfer Cerebri Diagnosis etiologi : Diagnosa Topis : Kedua Hemisfer Cerebri Diagnosis etiologi :
SOL intracranial ec metastasis adenocarcinoma paru SOL intracranial ec metastasis adenocarcinoma paru
SOL intracranial ec dd/abses cerebri SOL intracranial ec dd/abses cerebri
Diagnosis Sekunder : Diagnosis Sekunder :
Susp. Adenocarcinoma paru, Diplopia OS, Efusi Pleura Dextra, Susp. Adenocarcinoma paru, Diplopia OS, Efusi Pleura Dextra
Leukositosis Leukositosis

P : Ranitidin 50mg / 12 jam IV P : tidak ada terapi khusus dari bagian saraf, terapi sesuai dengan TS
paru, alih rawat spesialis paru
Analisa Kasus
Diagnosis pada pasien ini adalah :
Diagnosis klinis : Demensia, Cephalgia
Diagnosis topik : Kedua Hemisfer cerebri
Diagnosis etiologi : SOL intracranial ec metastasis adenocarcinoma paru
SOL intracranial ec dd/abses cerebri
Diagnosis Sekunder : Susp. Adenocarcinoma paru, Diplopia OS, Efusi
Pleura Dextra, Leukositosis
TEORI Demensia
Demensia adalah sindrom penurunan fungsi intelektual dibanding sebelumnya yang
cukup berat sehingga mengganggu aktivitas sosial dan professional yang tercermin dalam
aktivitas hidup keseharian, biasanya ditemukan juga perubahan perilaku dan tidak disebabkan
oleh delirium maupun gangguan psikiatri mayor.1
Diagnosis klinis demensia ditegakkan berdasarkan riwayat neurobehavior, pemeriksaan fisik
neurologis, dan pola gangguan kognisi.

Gejalanya dibagi 2: Kognisi dan Non Kognisi

Keluhan tersering adalah depresi, gangguan tidur, dan gejala psikosa seperti delusi dan
halusinasi. 1
Analisis klinis
Pasien ini didiagnosis dengan demensia dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.
 Pada anamnesis pasien ini didapatkan adanya penurunan fungsi intelektual yaitu sering lupa
terutama kemampuan belajar materi baru. Saat anamnesis pasiennya dilakukan anamnesis
autoanamnesis dan alloanamnesis.
 Pada mulanya keluarganya (ibu) bercerita bahwa pasien sering lupa hal-hal yang baru
diajarkan. Kemudian saat dilakukan autoanamnesis, pasien sulit sekali mengingat dan tidak
yakin untuk menjawab. Hal ini sesuai dengan teori yaitu gangguan kemampuan belajar
materi baru. Keluhan kognisi lainnya pada pasien juga terdapat kejadian pasien tidak pulang
karena lupa arah jalan setelah pergi. Pada gejala non-kognisi yang ada pada pasien ini
adalah gangguan tidur yaitu pasien yang mau tidur terus-menerus karena lemah.
Teori Cephalgia
Nyeri kepala adalah suatu rasa nyeri atau rasa yang tidak enak pada daerah kepala termasuk
meliputi daerah wajah dan tengkuk leher.2 Rasa nyeri ini timbul dari struktur yang sensitif nyeri.

Struktur • Intrakranial
yang • Ekstrakranial
Pengaruh (Otot, Sinus, Telinga, Gigi)

• Menahun
Perjalanan • Mendadak
Penyakit • Subakut
Jenis Sifat Lokasi Durasi Intensitas dan Gejala Ikutan
Frekuensi
Migren Berdenyut Unilateral 4-72 jam Sedang-berat, Nausea,
tanpa aura mengganggu vomitus,
aktivitas fotofobia,
fonofobia
Migren Berdenyut Unilateral 4-72 jam Sedang-berat, Gangguan
dengan Aura 5-60 mengganggu sensorik
aura detik aktivitas reversible
Klaster Tajam, Unilateral 15-180 detik Sangat berat Lakrimasi,
menusuk rhinorrea
TTH Tumpul, Bilateral 30 menit – 7 Ringan-sedang, Depresi,
menekan hari mengganggu cemas
aktivitas
Analisis Klinis
• Pada kasus ini pasien didiagnosis dengan cephalgia berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
• Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien sering mengeluh nyeri kepala pada pagi hari sejak 6 bulan
SMRS. Nyeri kepala ini sering terjadi pada pagi hari, terasa seperti ditusuk-tusuk tidak berdenyut
dan sudah terjadi cukup lama. Jika keluhan ini dibandingkan dengan cephalgia primer dan keluhan
yang sudah berlangsung lama, hal ini tidak masuk dalam ciri-ciri ketiga jenis cephalgia primer
sehingga dipikirkan bahwa nyeri kepala ini merupakan nyeri kepala sekunder. Pada kasus ini nyeri
kepala yang dirasakan pasien hilang timbul dan tidak secara mendadak sehingga penyebab nyeri
kepala mendadak seperti pendarahan subarachnoid, penyakit pembuluh darah di otak
(serebrovaskular) lainnya, radang selaput otak (meningitis) atau radang otak (ensefalitis), dan
penyakit mata (glaucoma) dapat disingkirkan
• Dengan adanya hiperreflex pada pemeriksaan reflex biseps dan triseps menandakan adanya
gangguan neurologis di otak yang perlu diselidiki dengan pemeriksaan penunjang. Salah satu
penyebab dari cephalgia sendiri menurut teori di atas adalah massa di rongga intracranial, neuralgia
trigeminal dan neuralgia glosofaringeal.
• Dibutuhkan pemeriksaan penunjang lebih lanjut yaitu CT Scan atau MRI kepala untuk melihat
kondisi dari otak sehingga diagnosis cephalgia ini dapat ditegakkan etiologinya dan pada kasus ini.
Teori SOL
SOL adalah lesi yang menempati tempat pada tengkorak, lesi tumbuh sebagai massa namun
dapat berkembang secara difus dan menginfiltrasi jaringan. Lesi adalah jaringan abnormal yang
ditemukan pada organisme, biasanya akibat penyakit atau trauma. Akibatnya berupa kompresi
dan infiltrasi pada jaringan, dan menyebabkan beberapa gejala patologis seperti peningkatan
tekanan intrakranial, aktivitas kejang, dan tanda neurologis. Lesi seperti abses, hematoma, dan
tumor yang terbentuk menempati tempat dimana sudah tidak ada tempat kosong yang tersisa,
akibatnya lesi mendesak struktur normal yang terdapat di sekitarnya.5
Tumor intrakranial dapat mengarah kepada gangguan fungsi serebral secara umum dan
menunjukkan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial. Karena itu, dapat terjadi
perubahan personalitas, penurunan intelektual, labilitas emosi, kejang, sakit kepala, mual dan
malaise. Jika tekanan meningkat di dalam ruangan kranial tertentu, jaringan otak dapat
mengalami herniasi ke dalam ruangan dengan tekanan rendah. Tumor intrakranial dapat
mengarah kepada defisit fokal tergantung pada lokasinya.6
Space Occupying Lesion (SOL) pada otak sering disebabkan oleh malignancy tetapi dapat
juga disebabkan oleh abses dan hematoma. Tumor dapat berinfiltrasi dan menghancurkan
struktur yang penting, ia dapat mengobstruksi aliran cairan dan dapat menyebabkan
hydrocephalus (aliran CSS) atau dapat menginduksi pembentukan pembuluh darah yang baru
(angiogenesis) dan merusak blood brain barier yang menyebabkan edema.7
Pada dewasa, 80-85 persen terjadi supratentorial. Tumor terbanyak adalah glioma,
metastase dan meningioma. Pada anak-anak 60 persen terjadi infratentorial. 8
Analisis Klinis
Pada pasien ini didiagnosis dengan SOL intracranial melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
• Dalam kasus ini pasien didapatkan beberapa keluhan yaitu adanya gangguan kognitif berupa
kehilangan memori jangka pendek, nyeri kepala yang belum jelas penyebabnya dan adanya
gangguan penglihatan berbayang yang hilang timbul mencurigakan adanya suatu masalah di
otak. Menurut teori adanya lesi di otak dapat menyebabkan kompresi dan infiltrasi pada jaringan,
kemudian akan menimbulkan beberapa gejala patologis Tumor intrakranial dapat mengarah
kepada defisit fokal tergantung pada lokasinya. Gangguan penglihatan pada satu mata yaitu
mata kiri pasien yang dikeluhkan berbayang jika digabungkan dengan adanya nyeri kepala hebat
sesuai dengan tanda edema serebri.
• Pada pasien ini tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial baik kaku kuduk,
laseque, kernig, brudzinsky 1 dan 2. Tidak ada juga kejang namun dari pemeriksaan fisik
ditemukan adanya hiperreflex pada pemeriksaan reflex biseps dan triseps. Dari anamnesis dan
pemeriksaan fisik tersebut dapat dicurigai bahwa adanya SOL (Space Occupying Lession).
• Pada kasus ini yang paling dicurigai adalah adanya malignancy atau keganasan pada otak
karena pasien tidak mengeluh adanya penurunan kesadaran, demam dan trauma. Selain itu
dari pemeriksaan penunjang juga tidak ditemukan adanya abses maupun hematoma.
• SOL yang ada pada pasien ini dicurigai terletak di jaras nervus optikus sehingga terdapat
penglihatan yang terganggu berupa bayangan yang semakin hari semakin terasa pada pasien.
Hal ini dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan MRI kepala yakni Massa suprasellar (ukuran
2,6x2,3x2,3 cm) yang mengisi sisterna basalis disertai edema di basal ganglia bilateral dan
mesensefalon sampai superior pons yang mencurigakan optical pathway glioma
DD/meningioma.
• Penyebab terbanyak pada tumor intracranial sendiri adalah glioma dan metastase maka jika
ditemukan adanya SOL di otak perlu dicari primer dari tumor itu sendiri. Dengan
mengetahui adanya keluhan batuk pada pasien, maka dicurigai bahwa tumor intracranial ini
mempunyai hubungan batuknya.
Teori Metastasis Otak
Metastasis otak adalah tumor otak sekunder yang jumlahnya empat
kali melebihi jumlah tumor otak primer. Di Amerika utara terdapat
98.000-170.000 kasus baru metastasis otak per tahunnya. Tumor primer
dapat beraswal dari kanker paru (50%), payudara (15-25%), melanoma 5-
20%) kolorektal dan ginjal.9
Kebanyakan metastasis adalah supratentorial; dengan cerebellum dan
batang otak merupakan lokasi tersering. Sekitar 10% pasien memiliki lebih
dari 5 lesi dan pada pasien-pasien ini keganasan primer yang sering
ditemukan adalah kanker paru-paru dan melanoma.10
Gejala klinis dari Tumor metastatic otak yang tersering muncul adalah sakit kepala, diikuti
dengan perubahan status mental dan defisit neurologi fokal. Seperti pada tumor primer otak,
gejala klinis berhubungan dengan lokasi ukuran, dan efek seunder dari lesi. Gejala fokal yang
paling sering adalah hemiparesis, gangguan sensoris, afasia, dan ataksia. kejang muncul pada
10% pasien dan perdarahan pada sekitar 15% pasien.
Pemeriksaan laboratorium dan radiologis digunakan untuk mengevaluasi pasien dengan
metastase adalah pasien yang digambarkan dengan neoplasm primer. Ini termasuk MRI dan CT-
Scan yang dilakukan dengan atau tanpa kontras. MRI dan CT scan memberi gambaran lesi
multipel, sering pada gray-white cortical junction. Lesi dapat diperjelas dengan kontras.
Gambaran lesi multipel kemungkinan metastasis tumor. Diagnosis diferensialnya meliputi
malignant glioma, limfoma SSP primer, abses dan nekrosis radiasi.
Analisis Klinis
Pada pasien ini didiagnosis dengan SOL intracranial susp. Metastasis adenokarsinoma paru melalui
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
• Menurut teori gejala klinis dari tumor metastatic paru yang tersering adalah hemiparesis,
gangguan sensoris, afasia dan ataxia. Pada pasien ini dapat kita temukan adanya gangguan
sensoris yaitu gangguan penglihatan yaitu pandangan berbayang di mata kiri pasien.
• Dari pemeriksaan radiologis yaitu MRI pada pasien sesuai dengan gambaran tumor metastasis
yaitu adanya Multiple rim enhancement di kortikal, subkortikal, dan white matter kedua hemisfer
serebri dan Massa suprasellar (ukuran 2,6x2,3x2,3 cm) yang mengisi sisterna basalis disertai
edema di basal ganglia bilateral dan mesensefalon sampai superior pons. Lokasi dari massa
tumor juga sesuai dengan lokasi tersering dari tumor metastasis yaitu di batang otak.
• Pada kasus ini juga didukung dengan adanya hasil punksi pleura yang menyatakan adanya
adenocarcinoma paru namun perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan PA dan CT Scan Thorax
agar diagnosis adenocarcinoma paru dapat ditegakkan
Teori DDx
Abses otak digambarkan dengan lesi space-occupying lesions secara intrakranial dan timbul
sebagai sekuale penyakit daripada telinga atau hidung. Komplikasi dari infeksi di bagian tubuh lain,
atau dapat terjadi daripada infeksi yang didapat secara intrakranial dari trauma atau prosedur bedah.
Infeksi yang sering terjadi adalah streptococci, staphylococci, dan bakteri anaerob; infeksi bercampur
sering terjadi.6
Pusing, sakit kepala, susah konsentrasi, bingung dan kejang adalah gejala awal, diikuti dengan
tanda peningkatan tekanan intrakranial dan kemudian berlanjut kepada gangguan defisit neurologis
fokal. Dapat terjadi gejala sistemik akibat infeksi yang ada.6
CT-Scan kepala akan menunjukkan daerah peningkatan kontras yang dikelilingi oleh kantung
yang berdensitas rendah. Kelainan yang sama dapat ditemukan pada pasien dengan neoplasma
metastatik. MRI seringkali menunjukkan gambaran serebritis fokal atau suatu abses. Arteriography
akan memberikan gambaran space occupying lesions, di mana akan muncul secagai suatu massa
avaskular dengan gangguan letak pembuluh darah serebral yang normal. Aspirasi jarum stereostatik
dapat menentukan etiologi spesifik organisme. Leukositosis perifer kadang dapat muncul.6
Analisis Klinis
• Pada kasus ini masih dapat di diagnosis banding dengan adanya Abses cerebri karena dari
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
• Dari anamnesis jika dikaitkan dengan teori dapat kita lihat bahwa gejala yang sama seperti
pada pasien yaitu sakit kepala dan kebingungan.
• Dari pemeriksaan penunjang juga didapatkan adanya leukositosis yang merupakan penanda
infeksi yang merupakan patofisiologi dari abses cerebri.
• Sedangkan dari hasil pemeriksaan penunjang dengan adanya gambaran SOL dengan
peningkatan kontras dikelilingi kantung berdensitas rendah seperti pada gambaran
neoplasma metastatic.
Teori Tatalaksana
Pemberian kortikosteroid sangat efektif untuk mengurangi edema serebri dan
memperbaiki gejala yang disebabkan oleh edema serebri, yang efeknya sudah dapat terlihat
dalam 24-36 jam. Agen yang direkomendasikan adalah deksametason dengan dosis bolus
intravena 10 mg dilanjutkan dosis rumatan 16-20mg/hari intravena lalu tappering off 2-16 mg
(dalam dosis terbagi) bergantung pada klinis. 11
Efek samping pemberian steroid yakni gangguan toleransi glukosa, stress-ulcer, miopati,
perubahan mood, peningkatan nafsu makan, Cushingoid dan sebagainya. Sebagian besar dari
efek samping tersebut bersifat reversible apabila steroid dihentikan. Selain efek samping, hal-
hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian steroid yakni interaksi obat. Kadar
antikonvulsan serum dapat dipengaruhi oleh deksametason seperti fenitoin dan karbamazepin,
sehingga membutuhkan monitoring.11
Pasien dengan peningkatan TIK dapat diberikan agen osmotik untuk menurunkan TIK.
Pasien dengan kemungkinan lesi metastatik harus dievaluasi secara menyeluruh, diikuti dengan
biopsi otak atau biopsi tumor primer bila ditemukan. 10 Dosis Manitol untuk menurunkan edema
cerebri adalah sebanyak 1,5-2 g/kg IV diberikan dalam 30-60 menit.12
Citicolin efektif dan dapat ditoleransi untuk pasien dengan gangguan kognitif vascular.
Citicolin mengaktivasi biosintesis fosfolipid di membrane neuron, meningkatkan metabolism
otak seperti norepinefrin dan dopamine di system saraf pusat dan mempunyai efek
neuroprotektif selama hipoksia dan iskemia. Maka dari itu, citicolin direkomendasi untuk pasien
dengan gangguan kognitif ringan akibat vaskuler. 13
Dosis terapeutik harian yang biasa digunakan pada manusia adalah 500-2000 mg perhari
sekitar 7-28mg/kg pada pasien dengan berat rata-rata 70kg. sesuai data penelitian klinis
mengenai toksikologi dan keamanan obat, hanya sedikit kejadian mengenai efek samping yakni
kebanyakan mengenai gangguan system digestif akibat penggunaan oral. 14
Pada metastasis otak multipel operasi kraniotomi dapat dipertimbangkan bila: 11
 Satu lesi dapat dicapai dengan operasi terbuka dan lesi tersebut menyebabkan gejala klinis yang jelas
dan atau mengancam jiwa
 Bila semua lesi dapat dambil semua saat operasi
 Diagnosis tidak diketahui

Pada pasien yang hanya mempunyai metastase serebral yang boleh dibedah, dengan tiada atau
gangguan fungsi yang minimal, dapat dilakukan pengangkatan lesi dan kemudian diobati dengan
irradiasi; pada pasien dengan metastase ganda atau penyakit sistemik yang menyebar, prognosis
dapat memburuk; stereotactic radiosurgery, whole-brain radiotherapy atau keduanya, dapat
membantu tetapi terapi lain hanya bersifat paliatif.6
Analisis Klinis
• Menurut teori pasien dengan tumor otak diberikan pengobatan dengan kortikosteroid untuk menugangi
edema serebri. Pada pasien ini terapi diberikan kortiksteroid deksametason 3 x 5mg = 15mg per hari sesuai
dengan dosis rumatan secara intravena untuk mengurangi edema cerebri.
• Untuk mengurangi efek samping dari kortikosteroid yaitu dapat menyebabkan stress ulcer diberikan
Ranitidin 50mg /12 jam IV.
• Selain mengurangi edema cerebri, salah satu manifestasi dari SOL yaitu peningkatan tekanan intracranial
perlu diberikan agen osmotic yaitu mannitol 20% dengan dosis 4x125cc IV.
• Sesuai dengan teori, penggunaan citicolin direkomendasikan untuk pasien dengan gangguan kognitif dengan
dosis rumatan 500-2000mg perhari. Pada kasus ini diberikan 3x500mg sesuai dengan teori yang menunjang.
• Head up 30O Posisi ini bertujuan untuk menurunkan TIK, jika elevasi lebih tinggi dari 30 maka tekanan
perfusi otak akan turun. Elevasi kepala antara 15 – 300, yang mana penurunan ICP tanpa menurunkan
tekanan perfusi otak. Aliran darah otak tergantung CPP (cerebral perfusion pressure), dimana CPP adalah
perbedaan antara mean arterial pressure ( MAP) dan ICP. CPP = MAP – ICP. MAP = ( 2 diastolik + sistolik )/ 3.
CPP, 70 – 100 mmHg untuk orang dewasa, > 60 mmHg pada anak diatas 1 tahun, > 50 mmHg untuk infant 0-
12 bulan.
Teori Prognosis
Kanker otak meliputi sekitar 85-90% dari seluruh kanker susunan saraf pusat. Di Amerika
Serikat insidensi kanker otak ganas dan jinak adalah 21.42 per 100.000 penduduk per tahun
(7.25 per 100.000 penduduk untuk kanker otak ganas, 14.17 per 100.000 penduduk per tahun
untuk tumor otak jinak). Angka insidens untuk kanker otak ganas di seluruh dunia berdasarkan
angka standar populasi dunia adalah 3.4 per 100.000 penduduk. Angka mortalitas adalah 4.25
per 100.000 penduduk per tahun. Mortalitas lebih tinggi pada pria.Biasanya, pasien dengan
metastasis tumor memiliki prognosis buruk. Intervensi bertujuan untuk memperpanjang usia
pasien dan meningkatkan kualitas hidup.9
Analisis Klinis
Maka dengan adanya penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa angka kematian masih tinggi
pada pasien – pasien dengan tumor otak. Maka prognosis lebih ke arah dubia ad malam.
TERIMAKASIH