Anda di halaman 1dari 10

Etos Kerja

Etos berasal dari bahasa Yunani yang memberikan arti sikap,


kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap
ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok
bahkan masyarakat. Dalam kamus besar bahasa Indonesia etos
kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan
keyakinan seseorang atau sesuatu kelompok.
Secara terminologis kata etos, yang mengalami perubahan
makna yang meluas. Digunakan dalam tiga pengertian berbeda
yaitu:
• Suatu aturan umum atau cara hidup.
• Suatu tatanan aturan perilaku.
• Penyelidikan tentang jalan hidup dan seperangkat aturan
tingkah laku.
Fungsi dan tujuan etos kerja

• Secara umum, etos kerja berfungsi sebagai


alat penggerak tetep perbuatan dan kegiatan
individu. Menurut A. Tabrani Rusyan, fungsi
etos kerja adalah :
• Pendorong timbulnya perbuatan.
• Penggairah dalam aktivitas.
• Penggerak.
Komitmen Organisasi

Kompleksitas komitmen organisasi ditentukan oleh


sejumlah variabel dai personal dan organisasi seperti umur,
disposisi yaitu perasaan positif dan negatif keluar masuk
organisasi,tanggung jawab, hubungan dengan atasan, rasa
diperlakukan adil,dan kesemptan kerja lain.
Komitmen organisasi terbentuk dari keseharian
seseorang dalam memahami situasi dan kondisi
organisasi,sehingga membentuk suatu proses mental yang
kuat,yang mampu menghidupkan ghirah atau semangat
dalam berorganisasi dengan berusaha melakukan segala
aktifitas organisasi dengan segala ketekunan dan
kekosistenan.
Armstrong ( dalam Yuwono dkk,2015 : 134) menyatakan bahwa
pengertian komitmen mempunyai tiga area persaan atau perilaku
terkait dengan perusahaan tempat seseorang bekerja:

1. Kepercayaan, pada area ini seseorang melakukan penerimaan


bahwa organisasi tempat bekerja atau tujuan – tujuan
organisasi didalamnya merupakan sebuah nilai yang diyakini
kebenarannya

2. Keinginan untuk bekerja atau berusaha di dalam organisasi


sebagai kontrak hidupnya.

3. Keinginan untuk bertahan dan menjadi bagian dari


organisasi.
Bentuk-bentuk komitmen organisasi
Greenberg (1997) mengelompokkan profil komitmen organisasi setiap
individu menjadi empat bagian, yakni:
1. Individu yang komitmen rendah kepada kelompok kerja dan atasan,
disatu pihak,dan dipihak lain kepada manajemen puncak dan organisasi
ini dinamakan tidak komit.
2. Sebaliknya individu dengan komitmen tinggi kepada kedua pihak
tersebut dinamakan komit
3. Kelompok dengan komitmen yang tinggi kepada kedua pihak dinakaman
komit.
4. Kelompok dengan komitmen yang tinggi kepada kelompok kerja dan
atasan, tetapi rendah kepada menejemen puncak dan organisasi
dinamakan komitmen secara lokal. Kelompok dengan komitmen yang
tinggi kepada menejemen puncak dan organisasi, tetapi rendah
kekelompok kerja dan atasan di kenal sebagai komitmen secara global.
(Wijaya dan Rifa’i, 2016: 169-170)
Pembentukan komitmen
Komitmen dalam berorganisasi dapat terbentuk karena adanya
beberapa faktor, baik dari organisasi, maupun dari individu
sendiri. Dalam perkembangannya affective commitment,
continuance commitment, dan normative commitment, masing-
masing memiliki pola perkembangan tersendiri (Allen & Meyer,
1997):

1. Proses terbentuknya Affective commitment


2. Proses terbentuknya Continuance commitment
3. Proses terbentuknya Normative commitment
Ciri-ciri komitmen organisasi
1. Goleman (1998) menyatakan bahwa ciri-ciri seseorang yang memiliki
komitmen organisasi adalah:
2. Memiliki inisiatif untuk mengatasi masalah yang muncul, baik secara
langsung terhadap dirinya atau kelompok
3. Bernuansa emosi, yaitu menjadikan sasaran individu dan sasarn organisasi
menjadi satu dan sama atau mersakan keterikatan yang kuat.
4. Bersedia melakukan pengorbanan yang diperlukan, misalnya menjadi
“patriot”
5. Memiliki visi strategis yang tidak mementingkan diri sendiri.
6. Bekerja secara sungguh-sungguh walaupun tanpa imbalan secara langsung
7. Mersa sebagai pemilik atau memandang diri sendiri sebagai pemilik sehingga
setiap tugas diselesaikan secepat dan sebaik-baiknya
8. Memiliki rumusan misi yang jelas untuk gambaran tahapan yang akan dicapai
9. Memiliki kesadaran diri dengan perasaan yang jernih bahwa pekerjaan
bukanlah suatu beban.
Faktor – faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi
Steers (1980) membedakan faktor-faktor yang
mempengaruhi komitmen terhadap organisasi menjadi
empat kategori yaitu:

1. Karakter personal
2. Karakteristik pekerjaan
3. Karakteristik structural
4. Pengalaman kerja
Aspek-aspek komitmen organisasi

Menurut Steers (1980), komitmen organisasi


dapat dikelompokkan menjadi tiga faktor:

a. Identifikasi dengan organisasi


b. Keterlibatan
c. Loyalitas
Menciptakan komitmen organisasi

Menurut Martin dan Nicholss ( dalam


Srimulyani, 2009:15-20), ada tiga pilar besar
dalam komitmen. Ketiga pilar itu meliputi:
1. Perasaan memiliki perusahaan ( A sense of
belonging to the organization )
2. Perasaan bergairah terhadap pekerjaan ( A
sense of excitement in the job )
3. Pentingnya rasa memiliki ( ownership)