Anda di halaman 1dari 78

Policy Paper, draft 2

Pengurangan kematian ibu dan anak


melalui
reformasi kebijakan sistem kesehatan dan
penguatan manajemen
di tingkat kabupaten

1
Isu Utama
• Angka Kematian Bayi • Apa akar
dan Ibu yang permasalahannya?
Mengapa Jampersal
meningkat.
belum memberikan efek?
• Sasaran MDG4 dan • Bagaimana kita
MDG5 sulit tercapai mengatasinya?
• Apakah mungkin turun?
• Kebijakan apa yang harus
dilakukan di Kabupaten?
• Apa harus kebijakan
luarbiasa?
2
Catatan awal 1: Perspektif Kabupaten
Siapa yang diharapkan mendapatkan manfaat
dari pengembangan ini?
• Pelaku-pelaku di kabupaten, antara lain: KaDinKes,
Direktur RS pemerintah-swasta, SpOG, SpA, Bidan,
Bupati, anggota DPRD, LSM, konsultan manajemen.
• Pelaku –pelaku di propinsi, antara lain: KaDinKes,
Ketua Cabang Ikatan Profesi Propinsi, Bappeda
• Pelaku –pelaku di nasional, antara lain: Pejabat
Kemenkes, Bappenas, Ketua Ikatan Profesi nasional,
Kemenkeu, Pengelola organisasi Donor internasional,
Pengelola LSM nasional

3
Catatan awal 2: Materi yang bersifat
open-system
• Dokumen ini masih dalam pengembangan, tidak
untuk kutipan ilmiah.
• Fungsi dokumen ini sebagai bahan untuk
pengembangan kebijakan dan manajemen
pelayanan kesehatan ibu-anak di Indonesia.

4
Catatan awal 3: Penggunaan
metode sense making
1. Dalam perspektif kabupaten: Terjadi
penurunan/peningkatan kematian ibu dan
bayi
2. Perubahan ini perlu dipahami dan dimaknai
dengan perspektif berbagai konsep
3. Pemahaman dan pemaknaan data
menghasilkan respon di level kabupaten
yang making sense
4. Respon dipilih yang evidence based dan
akan menghasilkan evidence lebih kuat
5
Diskusi

Apakah anda memahami dan


sepakat dengan cara bertindak
common-sense? Apakah ada
cara berfikir yang lain untuk
melakukan tindakan? Silahkan
mendiskusikannya.

6
Langkah 1: Menggunakan konsep-
Isi
konsep universal untuk memahami
masalah yang terjadi di KIA Langkah 2.
Mengidentifikasi
fakta di lapangan
Langkah 3: Melakukan pemahaman dan
pemaknaan mengenai data dengan
perspektif konsep-konsep universal

Langkah 4. Melakukan usulan respon


dalam kebijakan dan manajemen
program

Langkah 5: Usulan respon kebijakan dan Langkah 6. Melakukan aksi


manajemen program tertuang dalam perubahan berbasis respon
dokumen yang berisi kebijakan dan di berbagai tempat dan
manual manajemen yang komprehensif. dimonitor proses dan
evaluasi dampaknya

Langkah 7. Melakukan evaluasi terhadap aksi


perubahan yang dilakukan.
7
Langkah 1: Menggunakan konsep-
Langkah-langkah
Proses
konsep universal untuk memahami
masalah yang terjadi di KIA Langkah 2.
Mengidentifikasi
fakta di lapangan
Langkah 3: Melakukan pemahaman dan
pemaknaan mengenai data dengan
perspektif konsep-konsep universal

Langkah 4. Melakukan usulan respon


dalam kebijakan dan manajemen
program

Langkah 5: Usulan respon kebijakan dan Langkah 6. Melakukan aksi


manajemen program tertuang dalam perubahan berbasis respon
dokumen yang berisi kebijakan dan di berbagai tempat dan
manual manajemen yang komprehensif. dimonitor proses dan
evaluasi dampaknya

Langkah 7. Melakukan evaluasi terhadap aksi


perubahan yang dilakukan.
8
Langkah 1: Menggunakan konsep-konsep
universal untuk memahami masalah yang
terjadi di KIA
• Konsep pendekatan sistem kesehatan
• Konsep Continuum of Care
• Konsep Berwick untuk mutu dan
keselamatan ibu dan bayi

9
Diskusi

Apakah anda sepakat dengan 3


konsep universal tersebut? Apakah
ada yang lain? Ataukah terlalu
banyak? Silahkan
mendiskusikannya.

10
Langkah 1: Menggunakan konsep-
Langkah-langkah
konsep universal untuk memahami
masalah yang terjadi di KIA Langkah 2.
Mengidentifikasi
fakta di lapangan
Langkah 3: Melakukan pemahaman dan
pemaknaan mengenai data dengan
perspektif konsep-konsep universal

Langkah 4. Melakukan usulan respon


dalam kebijakan dan manajemen
program

Langkah 5: Usulan respon kebijakan dan Langkah 6. Melakukan aksi


manajemen program tertuang dalam perubahan berbasis respon
dokumen yang berisi kebijakan dan di berbagai tempat dan
manual manajemen yang komprehensif. dimonitor proses dan
evaluasi dampaknya

Langkah 7. Melakukan evaluasi terhadap aksi


perubahan yang dilakukan.
11
Data dari Propinsi NTT dan
Kabupaten Tegal

12
Propinsi NTT
• Revolusi KIA: Upaya yang
Kematian Ibu dan Bayi tinggi sungguh-sungguh untuk
Persalinan banyak di non percepatan penurunan kematian
faskes ibu melahirkan dan bayi baru
lahir dengan cara-cara yang luar
biasa (Pergub NTT No. 42
Tahun 2009)
• Persalinan dilakukan di
faskes
• Perbaikan hulu dan hilir
(Sister Hospital)

13
14
Hasil Sister
Hospital

15
Angka Kematian pada kasus-kasus non normal
Data Kabupaten Tegal

16
KASUS KEMATIAN IBU

17
SARANA –TENAGA
PELAYANAN
SARANA KESEHATAN
Puskesmas : 29 (5 RI – 1
PONED)
RSUD : 2 Buah
RS Swasta : 5
RST : 1

TENAGA
Dokter : 52 org
Dokter Obsgin : 5
Bidan : 375 (179 di Desa)
Bidan Koord : 29 org
Dukun : 627 org

18
KEMATIAN IBU
(Jan – Sept 2011 : Jumlah 35 kasus)

KELOMPOK UMUR PERSALINAN KE

19
20
RINCIAN PENYEBAB KEMATIAN LAIN-LAIN

21
22
23
KEJADIAN KEMATIAN DI RS DI KAB. TEGAL

24
25
Rujukan di daerah yang hanya satu RS: Kasus NTT

A
Pola Rujukan
C

RS B
Pemerintah
RS Swasta

RS DKT Rujukan di daerah yang banyak RS: Kasus Tegal

Puskesmas, RB, (pelayanan kesehatan primer)

A D

B
RS Pemerintah

RS Swasta

RS DKT

Puskesmas, RB, (pelayanan kesehatan primer)

26
Bagaimana situasi di kabupaten anda?
Apakah mirip dengan di Tegal atau di
NTT, atau samasekali berbeda .
Silahkan menggambarkannya di
bawah ini untuk didiskusikan.

27
Langkah 1: Menggunakan konsep-
Langkah-langkah
konsep universal untuk memahami
masalah yang terjadi di KIA Langkah 2.
Mengidentifikasi
fakta di lapangan
Langkah 3: Melakukan pemahaman dan
pemaknaan mengenai data dengan
perspektif konsep-konsep universal

Langkah 4. Melakukan usulan respon


dalam kebijakan dan manajemen
program

Langkah 5: Usulan respon kebijakan dan Langkah 6. Melakukan aksi


manajemen program tertuang dalam perubahan berbasis respon
dokumen yang berisi kebijakan dan di berbagai tempat dan
manual manajemen yang komprehensif. dimonitor proses dan
evaluasi dampaknya

Langkah 7. Melakukan evaluasi terhadap aksi


perubahan yang dilakukan.
28
Langkah 3: Melakukan pemahaman dan
pemaknaan mengenai data dengan perspektif
konsep-konsep universal
1. Penggunaan jumlah kematian absolut
sebagai indikator
2. Perkembangan tempat persalinan dan
sistem rujukan
3. Koordinasi antar berbagai pelaku
kegiatan KIA di Kabupaten
4. Penggunaan Jampersal untuk pelayanan
yang bermasalah
29
Apakah pemahaman dan pemaknaan
data tersebut cukup? Ataukah
kurang? Ataukah tidak tepat. Silahkan
mendiskusikan secara spesifik.

30
Langkah 1: Menggunakan konsep-
Langkah-langkah
konsep universal untuk memahami
masalah yang terjadi di KIA Langkah 2.
Mengidentifikasi
fakta di lapangan
Langkah 3: Melakukan pemahaman dan
pemaknaan mengenai data dengan
perspektif konsep-konsep universal

Langkah 4. Melakukan usulan respon


dalam kebijakan dan manajemen
program

Langkah 5: Usulan respon kebijakan dan Langkah 6. Melakukan aksi


manajemen program tertuang dalam perubahan berbasis respon
dokumen yang berisi kebijakan dan di berbagai tempat dan
manual manajemen yang komprehensif. dimonitor proses dan
evaluasi dampaknya

Langkah 7. Melakukan evaluasi terhadap aksi


perubahan yang dilakukan.
31
Langkah 4. Melakukan usulan respon dalam
kebijakan dan manajemen program

1. Melakukan penyusunan Tata Kelola


pelayanan KIA dengan baik.
2. Mengusulkan reformasi kebijakan
pelayanan KIA di Kabupaten.

32
Penyusunan Tata Kelola
Sistem pelayanan kesehatan perlu diperkuat
dengan memerinci:
• Tugas Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Propinsi dan
Dinas Kesehatan Kabupaten sebagai regulator sistem
pelayanan kesehatan.
• Tugas Pemberi anggaran: Kementerian Kesehatan/Pemerintah
pusat. Pemerintah Daerah, Masyarakat, dan lembaga swasta
• Tugas Pemberi pelayanan: RS pemerintah dan swasta,
Puskesmas pemerintah dan swasta.
• Tugas Pengembangan SDM: Perguruan tinggi kedokteran dan
kesehatan, dan lembaga pelatihan tenaga kesehatan.

33
Reformasi Kebijakan di
Kabupaten

34
Berbagai Kebijakan yang diusulkan di Kabupaten

Memperbaiki
Pembiayaan

Memperbaiki
sistem
pembayaran

Memperbaiki
Pengorganisa
sian

Mengembang
kan Regulasi

Menata
Perilaku
Masyarakat

35
Kebijakan Pengorganisasian

Memperbaiki
Pengorganisa
sian

36
Kebijakan Pengorganisasian
pelayanan KIA di Kab

1. Kebijakan untuk menguatkan RS (hilir)


2. Kebijakan untuk menguatkan sistem Rujukan
3. Kebijakan untuk menguatkan penanganan di
Puskesmas, Pustu dan masyarakat (hulu)
4. Kebijakan pendanaan untuk non-medik
5. Kebijakan penguatan Sistem Informasi Kesehatan
6. Kebijakan memperkuat Dinas Kesehatan Kabupaten
7. Kebijakan memperkuat sistem kerja yang
interprofesi

37
Kebijakan menguatkan RS
(Hilir)
• RS Pemerintah • Minimal satu RS di
• RS Swasta Kabupaten harus
Dalam mampu memberikan
pelayanan emergency
• Aspek Mutu
24 Jam (JAGA ON SITE)
Pelayanan Klinik untuk ibu-ibu
• Manajemen SDM melahirkan
• Fasilitas emergency • Sistem rujukan KIA
• ... berpusat di RS rujukan
PONEK 24 jam
38
Kebijakan untuk
menguatkan RS DINKES
Bidang Kesga dan
Bidang Pelayanan
Data Based
Rumah SIKDA
Sakit Puskesmas-
Puskesmas

Masyarakat
Ibu Hamil normal
Ibu Hamil terdeteksi dalam ANC
akan bermasalah di persalinan
Ibu Hamil bermasalah di persalinan 39
Tapi tidak terdeteksi di ANC
Berbagai kegiatan di RS
• Mengembangkan Prosedur- • Penanganan di RS
prosedur Tetap
• Penanganan Rujukan
• Pengembangan Protap
(termasuk Rujukan) dipimpin dari Puskesmas dan
oleh spesialis Bidan
• Dokter spesialis ikut aktif dan • Rujukan tergantung
bertanggung-jawab atas penyakit penyerta.
kematian di RS
• Dokter spesialis ikut aktif dan
bertanggung-jawab atas Contoh:
pembinaan rujukan Untuk pasien dengan
Decomp dikembangkan
oleh SpPD
40
Kebijakan menguatkan sistem
rujukan
• Standar operasional rujukan disusun berdasarkan resiko
ibu melahirkan
• Penulisan standar operasi untuk rujukan dipimpin oleh
spesialis berdasarkan standar nasional.
• Para bidan diberi regulasi untuk merujuk. Para
bidan/dokter umum tidak boleh melakukan penanganan
pada ibu-ibu yang sudah di beri predikat risiko tinggi.
• RujukanIbu hamil yang diprediksi di ANC mempunyai
masalah dapat dilakukan 1-2 minggu/beberapa hari
sebelum HPL. Dana perawatan pasien menggunakan
Jamkesmas/Jampersal+berbagai sumber lain

41
Kebijakan
menguatkan DINKES
Bidang Kesga dan
Rujukan Bidang Pelayanan
Data Based
Rumah SIKDA
Sakit
Puskesmas-
Puskesmas, RB-RB
Ibu-ibu yang dalam
swasta dll
emergency diharuskan
di rujuk ke RS PONEK
Ibu-ibu yang diprediksi
dalam ANC membutuhkan
RS akan diantar dan
dijemput Bidan ke RS
PONEK

Masyarakat
Ibu Hamil normal
Ibu Hamil terdeteksi dalam ANC
akan bermasalah di persalinan
Ibu Hamil bermasalah di persalinan 42
Tapi tidak terdeteksi di ANC
Kebijakan untuk menguatkan penanganan di
Puskesmas, Pustu dan masyarakat (hulu)

• Peningkatan mutu pelayanan Bidan


• Peningkatan fasilitas Puskesmas
• Pelatihan dokter puskesmas untuk
PONED dan kemampuan mengeloka
tindakan KIA
• Perbaikan pencatatan
• Penajaman kemampuan diagnosis dini
untuk ibu hamil
43
Kebijakan Hulu
DINKES
Bidang Kesga dan
Bidang Pelayanan
Data Based
Rumah SIKDA
Sakit
Puskesmas-
Puskesmas, RB-RB
Ibu-ibu yang dalam
swasta dll
emergency diharuskan
di rujuk ke RS PONEK
Ibu-ibu yang diprediksi
dalam ANC membutuhkan
RS akan diantar dan
dijemput Bidan ke RS
PONEK

Masyarakat
Ibu Hamil normal
Ibu Hamil terdeteksi dalam ANC
akan bermasalah di persalinan
Ibu Hamil bermasalah di persalinan 44
Tapi tidak terdeteksi di ANC
Kebijakan pendanaan untuk
non-medik
• Dana rujukan dari pemerintah, termasuk
penjemputan ibu-ibu yang tidak mampu.
Bagaimana pengaturannya?
• Apakah akan memanfaatkan dana tabulin
yang dikelola sendiri oleh masyarakat?
• Para penunggu di RS diberi fasilitas
makanan dan tempat menunggu
• Dari mana sumber dananya? Dari dana
BLUD RSD, atau dari pemerintah daerah
45
Kebijakan penguatan Sistem
Informasi Kesehatan
• Data diharapkan akan sampai ke RS.
• Sistem informasi ini dapat
menghubungkan masyarakat dengan
fasilitas pelayanan, dan dapat melalui
SMS
• Merupakan bagian dari sistem surveilans
untuk kesehatan ibu dan anak.

46
Kebijakan memperkuat Dinas
Kesehatan Kabupaten
• Pemimpin dan pengelola jaringan sistem KIA
• Mengembangkan sistem informasi yang baik
• Meningkatkan ketrampilan perorangan KaDInKes dan
stafnya: Advokasi kebijakan, Melakukan koordinasi,
termasuk staf lembaga lain yang bukan bawahannya
• Menyusun perencanaan multi-years,
• Menyusun pembiayaan strategis dari berbagai sumber.
• Menyiapkan proses monitoring dan evaluasi

47
Kebijakan memperkuat
Dinas Kesehatan DINKES
Kabupaten Bidang Kesga dan
Bidang Pelayanan
Data Based
Rumah SIKDA
Sakit Puskesmas-
Puskesmas. RB-RB
swasta dll

Masyarakat
Ibu Hamil normal
Ibu Hamil terdeteksi dalam ANC
akan bermasalah di persalinan
Ibu Hamil bermasalah di persalinan 48
Tapi tidak terdeteksi di ANC
Kebijakan memperkuat sistem
kerja yang interprofesi
• Adanya Kelompok Anggota:
Kerja KIA • Spesialis: SpOG,
Anak, Penyakit
Dalam, Anastesi
• Dokter Umum
• Bidan
• Perawat

49
Kerjasama interprofesi
• Peran dokter umum dalam tim PONEK dan rujukan perlu
dirumuskan
• Mekanisme taskshifting perlu dirumuskan dengan rinci
• Peran Bidan dan perawat perlu dirumuskan kembali
Pendanaan
• Dana rujukan dari pemerintah, termasuk penjemputan
ibu-ibu yang tidak mampu
• Para penunggu di RS diberi fasilitas makanan dan
tempat menunggu

50
Apakah anda sepakat
dengan usulan paket
kebijakan tersebut?
Silahkan
mendiskusikan .

51
Langkah 1: Menggunakan konsep-
Langkah-langkah
konsep universal untuk memahami
masalah yang terjadi di KIA Langkah 2.
Mengidentifikasi
fakta di lapangan
Langkah 3: Melakukan pemahaman dan
pemaknaan mengenai data dengan
perspektif konsep-konsep universal

Langkah 4. Melakukan usulan respon


dalam kebijakan dan manajemen
program

Langkah 5: Usulan respon kebijakan dan Langkah 6. Melakukan aksi


manajemen program tertuang dalam perubahan berbasis respon
dokumen yang berisi kebijakan dan di berbagai tempat dan
manual manajemen yang komprehensif. dimonitor proses dan
evaluasi dampaknya

Langkah 7. Melakukan evaluasi terhadap aksi


perubahan yang dilakukan.
52
Prinsip penulisan manual untuk
manajemen program:
Memperhatikan secara maksimal ibu-ibu yang masuk
dalam:
• Kelompok A. Mengalami masalah dalam
kehamilan saat di ANC dan di prediksi akan
mempunyai masalah dalam persalinan;
• Kelompok B. Ibu-ibu yang dalam ANC
diprediksi tidak bermasalah, ternyata
bermasalah dalam persalinan sehingga
membutuhkan penanganan emergency.

53
Dinas
Kesehatan
persalinan normal

Rumahsakit RS PONEK persalinan tidak


Pemerintah 24 Jam normal
dan Swasta
Puskesmas
dan RB Ada
swasta melahirkan
masalah: Normal: Di RS,
Emergency RB, PKM
C
A B
Diprediksi Diprediksi
Rumahtangga
dan Masyarakat
dalam ANC dalam ANC
Persalinan Persalinan
akan Tidak
Bermasalah Bermasalah

Penulisan manual:
•Menekankan pada koordinasi antar lembaga dan pelaku
•Memberikan petunjuk rinci dan jelas mengenai pembiayaan,
khususnya untuk mendanai ibu-ibu kelompok A dan kelompok
B.
54
Isi Manual
• Alur kegiatan berdasarkan continuum of
care lengkap dengan Pedoman dan SOP
yang terkait dengan sumber pembiayaan.
• Job description lembaga dan profesi
• Penguatan manajemen: di Dinas
Kesehatan, Di Rumahsakit, Di rujukan,
dan di Rumahtangga/masyarakat.

55
Catatan tentang manual

• Manual ini akan disusun di level kabupaten


bersama atas dasar pedoman nasional dengan
tanggung jawab berbagai pihak termasuk:
spesialis, Bidan/Perawat dan pimpinan/staf
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Propinsi,
serta staf Kemenkes yang terkait.
• Dapat menjadi pegangan untuk konsultan
manajemen KIA

56
Peran dan Tugas Lembaga di
pelayanan KIA

57
Peran dan Tugas
Lembaga dan DINKES
Profesional di Bidang Kesga dan
dalamnya Bidang Pelayanan
Data Based
Rumah SIKDA
Sakit Puskesmas-
Puskesmas. RB-RB
swasta dll

Masyarakat
Ibu Hamil normal
Ibu Hamil terdeteksi dalam ANC
akan bermasalah di persalinan
Ibu Hamil bermasalah di persalinan 58
Tapi tidak terdeteksi di ANC
Catatan khusus untuk
Spesialis: Perlu DINKES
seorang Pemimpin Bidang Kesga dan
Klinik Bidang Pelayanan
Data Based
Rumah SIKDA
Sakit Puskesmas-
Puskesmas. RB-RB
swasta dll

Spesialis pemimpin MDG

Spesialis follower

Masyarakat
Ibu Hamil normal
Ibu Hamil terdeteksi dalam ANC
akan bermasalah di persalinan
Ibu Hamil bermasalah di persalinan 59
Tapi tidak terdeteksi di ANC
Respon ini rencananya disusun sebagai
suatu rencana dan manual pelaksanaan
yang detil untuk setiap kabupaten. Ada
kemungkinan manual berbeda sesuai
kondisi sistem kesehatan, geografis dan
demografis, ekonomis, sosial, dan
budaya. Silahkan mendiskusikan

60
Langkah 1: Menggunakan konsep-
Langkah-langkah
konsep universal untuk memahami
masalah yang terjadi di KIA Langkah 2.
Mengidentifikasi
fakta di lapangan
Langkah 3: Melakukan pemahaman dan
pemaknaan mengenai data dengan
perspektif konsep-konsep universal

Langkah 4. Melakukan usulan respon


dalam kebijakan dan manajemen
program

Langkah 5: Usulan respon kebijakan dan Langkah 6. Melakukan aksi


manajemen program tertuang dalam perubahan berbasis respon
dokumen yang berisi kebijakan dan di berbagai tempat dan
manual manajemen yang komprehensif. dimonitor proses dan
evaluasi dampaknya

Langkah 7. Melakukan evaluasi terhadap aksi


perubahan yang dilakukan.
61
Jika Kab Tegal (misal) akan memulai reform kebijakan:
Bagaimana mengukur dampak dan kapan
pengukurannya?

• Dampak diukur dengan jumlah kematian


absolut
• Menggunakan pendekatan time-series
(before and after)

Data dasar: Data Data


2009-2010-2011 2012 2013

Apakah akan ada Kabupaten Kontrol? 62


Langkah 1: Menggunakan konsep-
Langkah-langkah
konsep universal untuk memahami
masalah yang terjadi di KIA Langkah 2.
Mengidentifikasi
fakta di lapangan
Langkah 3: Melakukan pemahaman dan
pemaknaan mengenai data dengan
perspektif konsep-konsep universal

Langkah 4. Melakukan usulan respon


dalam kebijakan dan manajemen
program

Langkah 5: Usulan respon kebijakan dan Langkah 6. Melakukan aksi


manajemen program tertuang dalam perubahan berbasis respon
dokumen yang berisi kebijakan dan di berbagai tempat dan
manual manajemen yang komprehensif. dimonitor proses dan
evaluasi dampaknya

Langkah 7. Melakukan evaluasi terhadap aksi


perubahan yang dilakukan.
63
Berapa lama akan memberikan hasil berupa penurunan
jumlah kematian ibu? Berapa targetnya? Bagaimana
evaluasi kebijakannya?

• 5 tahun?
• 4 tahun?
• 3 tahun?
• 2 tahun?
• Tahun depan?

64
Implikasi Praktis di
Kabupaten
• Bagaimana mengorganisir strategi luar
biasa ini? Menggunakan konsep jaringan.
• Bagaimana sistem jaringan KIA akan
dikembangkan?
• Bagaimana struktur organisasi kerja
Jaringan.

65
Langkah-langkah
• Identifikasi anggota Jaringan
• Mengelompokkan menjadi hulu dan hilir
• Menetapkan koordinator
• Melakukan rencana kerja:
memahami,memaknai, dan melakukan
respon.

66
Jaringan KIA
• Dipimpin oleh KaDinKes Kabupaten dengan dukungan
sistem manajemen dan pembiayaan
• Kelompok kerja:
A. Kelompok Hulu
1. Penanganan di masyarakat
2. Penanganan di keluarga
B.Kelompok Hilir
1. Pelayanan RS
2. Pelayanan rujukan
C. Kelompok manajemen dan pembiayaan
67
A. Siapa yang berada di Hulu
1. Penanganan di • Lintas Sektoral
masyarakat • Bidan Desa
2. Penanganan di • Perawat
keluarga
• Dokter Puskesmas
• Kader Kesehatan
• ......

Siapa yang
memimpin?
Ka Bidang Kesga? 68
Apa yang akan dikerjakan?
Melakukan identifikasi Hasil Respon:
Data keadaan di • Dapat dipergunakan
masyarakat dan untuk persiapan
rumahtangga: Musrenbang
• Mengidentifikasi • Dipergunakan oleh
• Memaknai. seluruh lembaga
• Dapat anggota jaringan
menggunakanmodel untuk melakukan
bottleneck analysis perencanaan
dan investment case
69
B. Siapa yang berada di Hilir
Lembaga –lembaga Para profesional:
yang: • Bidan desa
• Memberikan • Dokter Puskesmas
pelayanan rujukan • Bidan Puskesmas
• Mulai dari Pkm/BP • Dokter Umum
sampai ke RS
• Dokter Spesialis
Obsgin, Anak,
Siapa yang memimpin? Interna, Anastesi, dll
Spesialis Obsgin?
Spesialis Anak? 70
Apa yang akan dikerjakan?
Melakukan identifikasi • Dapat dipergunakan
Data keadaan di untuk persiapan
sistem rujukan dan Musrenbang dan
rumahsakit penyusunan RBA RS
• Mengidentifikasi yang sudah BLUD
• Memaknai.
• Dapat
menggunakanmodel
bottleneck analysis
dan investment case
71
C. Siapa yang mendukung sistem
manajemen dan pendanaannya?
• Merupakan tim yang • Pemerintah daerah
mendukung agar dan DPRD
kegiatan di hulu dan • KaDinKes
hilir dapat berjalan • KaBid-Kabid terkait
dengan baik
• Pengelola Sistem
Informasi dan
telematika
• Konsultan
Siapa yang memimpin?
Manajemen
Kepala Dinas Kesehatan?
72
Tantangan
1. Bagaimana Dinas Kesehatan mampu
berperan secara inovatif dan komprehensif
dalam akselerasi pencapaian MDG4 dan
MDG5?
Dalam konteks jaringan KIA di kabupaten ada 3 pemimpin
yang perlu aktif:
• Pemimpin politik: Bupati/Walikota
• Pemimpin sistem kesehatan: Kepala Dinas Kesehatan
• Pemimpin teknis medik: Dr.SpOG, Dr.SpA

73
Tantangan
2.Bagaimana sistem pelayanan KIA di kabupaten ini
dapat mempunyai berbagai penanggung-jawab yang
berbeda namun terintegrasi dan terdiri atas:
• Kegiatan di RS (hilir): Dr.SpOG dan Dr.SpA
• Kegiatan di masyarakat dan Pustu (hulu): Ketua IBI
setempat (?)
• Kegiatan di Puskesmas dan Rujukan: Pimpinan
Puskesmas.
• Penanggung-jawab keseluruhan:Kepala Dinas
Kesehatan ( mencakup pembiayaan, sistem informasi
dan surveillans KIA di kabupaten).
74
Tantangan-tantangan lain
3.Bagaimana melakukan pengaktifan Spesialis
(mengaktifkan non-playing captain)
4.Bagaimana memperkuat kerjasama antar profesi
di bidang kesehatan
5.Bagaimana menggalang dukungan pemerintah
daerah dan masyarakat.
6.Secara keseluruhan: bagaimana menganalisis
penerimaan dan penentangan stakeholders KIA
terhadap usulan perubahan ini?

75
Penutup
1. Apakah Visi ini mengenai kebijakan dan manajemen
KIA ini logis dan making sense?
2. Apakah mengandung pembaharuan untuk lembaga?
Apa saja pembaharuannya yang dapat disebut luar
biasa?
3. Apakah dapat berjalan di masa depan?
4. Bukti apa yang dapat mendukung visi ini? (harap check
kasus NTT)
5. Andaikata visi ini diprediksi tidak dapat diaplikasikan,
apakah ada alternatif strategi/aksi perubahan untuk
mengurangi kematian ibu dan anak?
76
Catatan penutup sebagai prinsip
1. Kematian satu ibu atau satu bayi merupakan
tragedi.
2. Keberanian untuk melakukan perubahan riil di
lapangan diperlukan.
3. Keberanian perubahan ini perlu dipantau
dengan sistem monitoring yang ketat agar tidak
ada pihak yang dirugikan dengan inovasi ini.
4. Pengembangan perubahan menggunakan
pendekatan open-system.

77
Lampiran-Lampiran
A..Pedoman-Pedoman (sebaiknya disusun oleh Kemenkes dan akan diacu
oleh Dinas Kesehatan Kabupaten).
• Pedoman Tata-Kelola Sistem pelayanan KIA
• Pedoman Sistem Rujukan.
• Pedoman Sistem Surveilans KIA dan responnya.
• Pedoman Sistem Informasi Kesehatan
B. Standar Operating Procedures (berisi prosedur klinik dan sumber
pembiayaannya). Disusun oleh organisasi profesi dan ditetapkan
bersama Dinas Kesehatan.
– Rujukan Terencana: Rujukan Ibu-ibu dengan penyulit hipertensi, Rujukan Ibu-Ibu dengan
penyulit decomp, dll....
– Rujukan ibu-ibu yang emergency
– Taskshiftng dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak
C. Petunjuk-petunjuk Teknis (Khususnya untuk pembiayaan)
– Petunjuk Teknis Jampersal 2012
– Petunjuk Teknis pembiayaan persalinan berasal dari Pemerintah Daerah

78