Anda di halaman 1dari 39

Malabsorpsi dan Intoleransi

Laktosa

DR. HJ RAHMINI SHABARIAH, SP.A


Malabsorpsi

 Ketidakmampuan suatu jaringan untuk menyerap


zat yang ada dalam tubuh
 Sindrom malabsorpsi adalah suatu kondisi di mana
nutrisi termasuk karbohidrat, protein, lemak, air,
elektrolit, mineral, dan vitamin yang tidak efektif
diserap oleh mukosa usus, mengakibatkan ekskresi
pada tinja.
Malabsorpsi dan Intoleransi Laktosa

 Malabsorpsi laktosa adalah hidrolisis laktosa yang


tidak lengkap, yang diukur dengan uji yang objektif.
 Intoleransi laktosa adalah timbulnya berbagai
macam gejala setelah mengkonsumsi laktosa dan
defisiensi laktase sebagai keadaan berkurangnya
aktivitas laktase yang diukur pada spesimen biopsi
mukosa usus halus
Karbohidrat

 Tiga macam bentuk karbohidrat :


 Monosakarida (glukosa, fruktosa, dan galaktosa),
Disakarida (laktosa, sukrosa, dan maltosa) dan
Polisakarida (pati, glikogen, selulosa).
 Karbohidrat yang kompleks dihidrolisis menjadi
struktur yang mudah diabsorpsi melalui reaksi
enzimatik dan kimiawi
 Disakarida (laktosa) oleh enzim laktase dihidrolisis
menjadi glukosa dan galaktosa kemudian diabsorpsi
secara cepat ke dalam pembuluh darah porta.
Laktosa

 Laktosa adalah salah satu unsur penting sebagai


sumber kalori yang terdapat dalam susu baik itu ASI,
susu sapi murni maupun susu formula.
 ASI mengandung laktosa 6,8 - 7,3 g % , susu sapi
murni 4,2 - 5,0 g % sedangkan dalam susu formula
yang banyak dijumpai di pasaran sangat bervariasi.
 Di usus halus, laktosa dihidrolisis oleh enzim laktase
yang terdapat dalam brush border pada vili usus
menjadi glukosa dan galaktosa
Laktosa dalam Air Susu Ibu
 Aktivitas enzim laktase maksimal terjadi di
proksimal hingga pertengahan yeyunum. Pada bayi
yang sehat, laktosa dihidrolisis dan diabsorpsi
seluruhnya di usus halus sehingga tidak ada laktosa
yang mencapai usus besar.
 Jika terjadi kekurangan enzim dan terjadi gangguan
hidrolisis maka osmolaritas di dalam lumen usus
meningkat yang berakibat air tertarik ke dalam
lumen dan merangsang meningkatnya peristaltik.
 Laktosa yang tidak dihidrolisis dan diabsorpsi akan
mencapai usus besar.
 Laktosa akan difermentasi oleh bakteri di usus besar
dan hasilnya berupa asam lemak rantai pendek, pH
yang rendah, dan gas yang mana salah satunya
adalah hidrogen.
 Lebih kurang 14 - 21 % gas hidrogen tersebut akan
dieksresi melalui udara nafas, sedangkan sisanya
dieksresi melalui rektum.
Defisiensi Laktase

 Defisiensi laktase primer dapat berupa genetik,


kongenital dan developmental yaitu didapatkan
kecenderungan meningkatnya malabsorpsi laktosa
sesuai dengan bertambahnya umur
 Defisiensi laktase sekunder adalah defisiensi laktase
yang disebabkan akibat rusaknya mukosa usus halus
karena infeksi akut atau kronik, radiasi, obat-obatan
atau toksin.
Gejala Klinis

 Diare yang sangat frekuen/ sering


 Diare berbentuk cair, bulky, dan berbau asam
 Meteorismus, flatulens dan
 Kolik abdomen
 Pertumbuhan anak terlambat
 Malnutrisi.
Pemeriksaan Penunjang

 Pemeriksaan pH tinja , menjadi asam kurang dari 6 ,


pada keadaan normal memiliki pH 7-8 ,
 Penentuan kadar gula dalam tinja dengan tablet
“Clinitest” . Berdasarkan terjadinya reduksi ion cupri
(CuSO4). Dengan hasil lebih dari 0,5% bahan pereduksi
(++ - ++++).
 Lactose Tolerance test  gula darah tidak naik
 Barium Lactose Meal  malabsorpsi laktosa bila tampak
dilatasi usus halus, pengenceran barium dan kenaikan
kecepatan waktu singgah.
Pemeriksaan Penunjang

 Breath Hydrogen Test  Peningkatan gas hidrogen nafas


di atas 20 ppm sebelum 2 jam setelah pemberian larutan
laktosa
 Biopsi usus halus sangat penting dan merupakan baku
emas untuk mendiagnosis berbagai macam penyakit
yang menyerang mukosa usus halus. Biopsi biasanya
dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan endoskopi
selanjutnya dilakukan pemeriksaan sitologi di bagian
patologi Anatomi
Tata Laksana

 Pada bayi dan anak-anak, susu tentunya harus


diganti dengan susu yang kandungan laktosanya
rendah atau sama sekali tidak mengandung laktosa.
 Pada anak yang lebih besar juga disarankan untuk
tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung
laktosa seperti es krim, keju, kue-kue dan yogurt
Alergi Makanan
Alergi Makanan
Alergi Makanan

Di berbagai daerah di Indonesia, angka kejadian alergi


bervariasi mulai 3% hingga 60%. Semakin banyak kejadian
alergi dilaporkan dibandingkan periode sebelumnya
Alergi

 Penentuan risiko alergi pada anak merupakan hal


penting untuk menentukan populasi yang perlu
diberikan pencegahan primer.
 Risiko alergi pada seorang anak ditentukan
berdasarkan riwayat penyakit atopik dalam
keluargaseperti dermatitis atopik, asma, dan atau
rinitis alergi,baik pada orangtua maupun saudara
kandung.
 Penentuan risiko alergi berdasarkan riwayat
penyakit atopik dalam keluarga memiliki sensitifitas
61% dan spesifisitas 83%.
Alergi Makanan

 Alergi makanan adalah reaksi imunologik yang


menyimpang dimana sebagian besar reaksi ini
melalui reaksi hipersensitivitas tipe I.
 Faktor penyebab alergi makanan dapat berupa
faktor genetik (riwayat atopi pada orang tua),
imaturitas usus (sistem pertahanan mukosa usus
yang lemah sehingga memudahkan alergen masuk
ke dalam tubuh), dan pajanan alergen.
 Pemberian ASI eksklusif mengurangi jumlah bayi
yang hipersensitif terhadap makanan pada tahun
pertama kehidupan.
Alergi Makanan

 Terjadi pada berbagai organ sasaran dan organ


sasaran yang terkena dapat berpindah.
 Pada saluran cerna, gejala dapat berupa gatal pada
bibir, mulut, dan faring; sembab tenggorok, mual-
muntah, nyeri perut, kembung, diare, perdarahan
usus, protein-losing enteropathy.
 Gejala pada saluran napas berupa rinitis, asma
bronkial, atau batuk kronik berulang.
 Pada kulit dapat timbul urtikaria, sembab Quincke
(angioedema), atau dermatitis atopik.
Alergi Susu Sapi

 Penyakit alergi susu sapi (ASS) adalah penyakit yang


didasarkan reaksi imunologik yang timbul sebagai akibat
pemberian susu sapi atau makanan yang mengandung
susu sapi dan reaksi ini dapat terjadi segera atau lambat.
 Protein susu sapi merupakan protein asing yang pertama
kali dikenal olah bayi dan merupakan alergen tersering
pada berbagai reaksi hipersensitivitas.
 Pada susu sapi terdapat sedikitnya 20 komponen protein
yang dapat merangsang produksi antibodi manusia
Alergi Susu Sapi

 Biasanya dimulai pada usia 6 bulan pertama


kehidupan.
 Pada bayi, manifestasi klinis biasanya timbul pada 3
sistem organ tubuh, yaitu :
1. Kulit (urtikaria, kemerahan kulit, pruritus, dan
dermatitis atopik),
2. Saluran napas (hidung tersumbat, rinitis, batuk
berulang, dan asma),
3. Saluran cerna (muntah, kolik, konstipasi, diare,
dan buang air besar berdarah).
Faktor Genetik

 Individu yang memiliki riwayat alergi atopi pada


keluarga dapat meningkatkan risiko berkembangnya
sensitisasi antibodi IgE.
 Adanya faktor ini dapat menyebabkan
berkembangnya penyakit alergi seperti asma, rinitis
alergi, konjungtivitis, atau dermatitis atopik
 Anak yang lahir dari keluarga atopi dapat berisiko
mengalami alergi tiga sampai empat kali lebih tinggi
(50-80%) dibanding dengan anak dari keluarga
tanpa riwayat alergi atopi (20%).
 Risiko dapat meningkat lebih tinggi bila kedua orang
tua mengalami alergi (60-80%). Peningkatan risiko
juga terjadi jika ibu (dibandingkan dengan ayah)
memiliki riwayat alergi
Faktor Lingkungan

1. Paparan alergen selama kehamilan. Penghindaran paparan


antibiotik dan beberapa jenis alergen makanan .
2. Pemberian ASI. Durasi menyusui yang singkat berhubungan
dengan meningkatnya insidensi penyakit alergi pada awal
kehidupan bayi. ASI memiliki beragam manfaat kesehatan
dan memiliki efek protektif terhadap timbulnya gejala awal
alergi.
3. Penghindaran alergen selama menyusui. Makanan yang
memiliki potensial alergen (susu, telur, dan ikan)
diperkirakan dapat menurunkan risiko dermatitis atopik
pada tahun pertama kehidupan.
4. Susu formula. Susu formula terhidrolisa dapat menurunkan
risiko alergi pada bayi dibandingkan dengan susu formula
dari sapi.
Faktor Lingkungan

5. Makanan bayi. Penundaan pemberian makanan


padat pada bayi diperkirakan dapat mengurangi
atau menunda awitan penyakit alergi pada tahun
pertama kehidupan.
6. Paparan tungau rumah. Pengurangan level tungau
rumah selama masa kehamilan dan postnatal dapat
meningkatkan risiko sensitisasi terhadap tungau.
Sensitisasi terhadap tungau rumah merupakan
faktor risiko dari asma persisten, mengi, dan
hiperaktivitas bronkus.
Pengaruh Polutan dan Iritan

 Ibu yang merokok selama kehamilan memiliki efek


samping terhadap perkembangan paru bayi. Paparan
asap rokok dapat meningkatkan risiko atopi pada
bayi.
 Paparan polusi udara dalam ruangan maupun polusi
kendaraan dapat meningkatkan sensitisasi bayi
terhadap tungau rumah dan menimbulkan gejala
gangguan pernapasan
Paparan Dini Infeksi / Mikroba

 Bakteri merupakan imunostimulan T helper type 1


(Th1) yang kuat sedangkan virus juga berperan
sebagai pemicu gejala asma. Respiratory syncytial
virus (RSV) atau jenis infeksi virus lainnya pada bayi
berhubungan dengan faktor risiko asma yang
berulang pada 6 tahun pertama kehidupan
Pengaruh Makanan Imunomodulator

 Komponen makanan yang memiliki efek


imunomodulator seperti antioksidan dan
polyunsaturated fatty acids (PUFA) diperkirakan
memiliki peranan dalam perkembangan penyakit alergi.
 Peran suplementasi omega-3 (n-3) PUFA pada bayi
dianggap dapat menurunkan prevalensi mengi pada usia
18 bulan 16 dan batuk alergi pada usia 3 tahun tetapi
tidak berpengaruh terhadap mengi pada usia 3 tahun.
Namun komponen makanan tersebut tidak memberikan
efek pada sensitisasi makanan atau dermatitis atopik
Keracunan Makanan

 Foodborne disease adalah penyakit yang disebabkan


karena mengkonsumsi makanan atau minuman yang
tercemar.
 Foodborne disease disebabkan oleh berbagai macam
mikroorganisme atau mikroba patogen yang
mengkontaminasi makanan.
 Selain itu, zat kimia beracun, atau zat berbahaya lain
dapat menyebabkan foodborne disease jika zat-zat
tersebut terdapat dalam makanan.
Keracunan Makanan

 Kadang-kadang penyakit ini disebut “keracunan


makanan” (food poisoning) walaupun istilah ini
tidak tepat.
 Makanan yang berasal baik dari hewan maupun
tumbuhan dapat berperan sebagai media pembawa
mikroorganisme penyebab penyakit pada manusia
Faktor Penyebab

 Industrialisasi, urbanisasi, perubahan populasi dan


gaya hidup, pariwisata dan proses pengolahan,
pencemaran lingkungan dan kurangnya
pengetahuan pada konsumen makanan dan
konsumen tentang pengendalian penggunaan
makanan.
 Virus, bakteri, jamur, protozoa dll : cholera,
helminthic infections, disentri, Salmonella,
Staphylococcus dll
Botulismus

 Botulisme adalah suatu penyakit yang disebabkan


keracunan makanan oleh bakteri Clostridium
botulinum.
 Botulisme berarti sosis.
 Penyakit ini diberi nama demikian karena selama
bertahun-tahun sosis yang tidak dimasak
dihubungkan dengan penyakit ini.
 Botulin, juga dikenal sebagai botox, yaitu toksin
bakteri paling mematikan yang dapat terbentuk pada
makanan kaleng yang tidak diproses dengan benar
atau cukup dipanasi.
 Toksin ini menyerang urat syaraf, dengan
menghambat pembebasan asetilkolin oleh serabut
syaraf ketika impuls syaraf lewat di sepanjang syaraf
tepi.
 Clostridium botulinum tersebar luas di lingkungan
darat dan perairan.
 Jika sporanya mencemari makanan yang sudah
diolah atau mengadakan kontak dengan luka maka
dapat berkembang biak menjadi sel-sel vegetatif dan
menghasilkan toksin.
Gejala Klinis

 Gejala penyakit ini biasanya mulai muncul sekitar 12


– 48 jam setelah mengkonsumsi makanan yang
sudah tercemar.
 Gejala tersebut meliputi kesulitan berbicara, pupil
melebar, penglihatan ganda, mulut terasa kering,
mual, muntah, dan tidak dapat menelan.
 Kelumpuhan dapat terjadi pada kantung kemih dan
semua otot yang bekerja di daerah tersebut.
Gejala Klinis

 Gejala botulisme pada bayi yaitu tampak lesu,


mengangis lemah, sembelit, nafsu makan buruk, otot
lisut. Jika gejala penderita penyakit ini tidak segera
teratasi, maka akan terjadi kelumpuhan dan
gangguan pernafasan.
Tata Laksana

 Rehidrasi
 Mengidentifikasi penyebab keracunan makanan
 Pemberian antibiotik yang sesuai
 Simptomatis
Pencegahan

 Kebanyakan keracunan dapat terjadi akibat cara


pengawetan pangan yang keliru .
 Misalnya pengalengan, fermentasi, pengawetan
dengan garam, pengasapan, pengawetan dengan
asam atau minyak.
 Bakteri ini mencemari produk pangan dalam kaleng
yang beredar asam rendah, ikan asap, kentang
matang yang kurang baik penyimpanannya, pie
beku, telur ikan fermentasi, seafood, dan madu.