Anda di halaman 1dari 11

JOURNAL READING

Clinical Study Infection Rates in Open


Fractures of the Tibia: Is the 6-Hour
Rule Factor Fiction?
JUDUL JURNAL
LATAR BELAKANG PENELITIAN

 Open frakatur tibia perawatan standar adalah operasi emergency dilakukan untuk mencegah komplikasi deep
infection
 Sampai saat ini golden period yang diterima secara luas untuk waktu terbaik dilakukan operasi emergency untuk
debridement luka adalah 6 jam, namun Asal-usul yang tepat dari manajemen open frakture “six-hour rule” masih
banyak kontroversi
 Penelitian terbaru menunjukan bahwa “six-hour rule” tidak bisa menjadi aturan baku untuk manajemen open
frakture tibia
 Penelitian ini bertujuan untuk meninjau tentang manajemen open fraktur tibia dengan membandingkan tingkat
infeksi yang dioperasi dalam waktu ≤ 6 jam dan dioperasi setelah 6 jam
METODE PENELITIAN
 Penelitian Retrospektive
 Sampel penelitian: 103 pasien open fraktur tibia yang didata selama 10 tahun terakhir.
 Lokasi Penelitian : Tiga RS di wilayah Wellington Selandia Baru
 Kriteria Inklusi :
a. Pasien yang didiagnosa open frakture tibia
b. Pasien berusia di atas 16 tahun
c. Pasien yang teregistrasi di salah satu dari tiga rumah sakit yang berpartisipasi
 Kriteria Eksklusi :
a. Pasien open frakture tibia dengan fraktur intra-artikular
b. Pasien open frakture tibia yang memiliki cedera kepala, dada, atau perut yang mengancam jiwa
c. Pasien open frakture tibia dengan penyakit mental
d. Pasien open frakture tibia dengan luka bakar tingkat tiga
METODE PENELITIAN

 Tingkat keparahan fraktur diukur berdasarkan sistem klasifikasi dari Gusto dan Anderson yaitu diklasifikasikan sesuai
grade I, II, IIIa, IIIb, dan IIIc
 Kejadian infeksi diobservasi selama periode tiga bulan paska trauma
 Perawatan Luka sebagai berikut :
1. Pemberian awal antibiotik spektrum luas i.v, baik 2g Cefuroxime atau Cephazolin 3x 1 selama minimal 48 jam,
diikuti oleh 1g Flucloxacillin oral 4 x 1/hari selama tujuh hari setelah keluar
2. Irigasi luka di IGD
3. Debridemen luka intraoperatif dan irigasi menyeluruh dengan 3 L normal saline
4. Penutupan primer luka jika mungkin,
5. Penutupan sekunder pada luka yang sangat terkontaminasi,
6. Fiksasi terdiri dari fiksasi internal, fiksasi eksternal atau imobilisasi gips
7. Analgesia dan cairan intravena berdasarkan kebutuhan,
8. dressing / casting sesuai jenis fikasi. / imobilisasi.
METODE PENELITIAN

Spektrum infeksi akan mencakup


1) Selulitis,
2) Kerusakan luka,
3) Abses jahitan,
4) Muncul cairan purulen
5) Pengumpulan abses yang ditetapkan
6) Infeksi perangkat logam yang digunakan
7) Osteomielitis.
Pasien dibagi menjadi dua kelompok.
1) Kelompok pertama adalah mereka yang dibawa ke RS dalam waktu 6 jam, dan
2) Kelompok kedua adalah pasien yang dibawa ke rumah sakit setelah 6 jam. Tingkat infeksi ditentukan oleh
jumlah pasien yang terinfeksi dibagi dengan jumlah pasien di setiap kelompok.
HASIL PENELITIAN

103 pasien open fraktur tibia


 62 pasien dibawa ke RS dalam waktu 6 Jam
 41 pasien dibawa ke RS setelah 6 jam.
 49 pasien dengan fraktur Grade I,
 19 pasien dioperasi selama 6 jam pertama,
 30 pasien dioperasi setelah 6 jam.
 32 pasien dengan fraktur Grade II,
 21 pasien dioperasi dalam waktu 6 jam,
 11 pasien dioperasi setelah 6 jam.
 22 pasien dengan fraktur Grade III,
 12 dioperasi dalam 6 jam,
 10 dioperasi setelah 6 jam
HASIL PENELITIAN

Sehubungan dengan waktu,


 Rerata waktu untuk di bawa ke RS pada kelompok 1
(kelompok 6 jam) adalah 3,25 jam.
 Rerata waktu untuk kelompok 2 (kelompok 2 jam). adalah
9,15 jam.
 12 dari 103 kasus mengalami infeksi, yaitu tingkat infeksi
11,6%. 7 di antaranya dibawa ke rumah sakit dalam waktu 6
jam, dan 5 setelah 6 jam
 Dari 12 kasus infeksi, 1 adalah fraktur Grade I (8,3%), 3
fraktur Grade II (25%), 4 fraktur Grade IIIA (33,3%), dan 4
fraktur grade IIIB (33,3%)
HASIL PENELITIAN

Dari 12 kasus infeksi maka :


 6 pasien menderita selulitis di sekitar tepi luka,
 3 menderita kerusakan luka,
 1 pasien mederita a formal pus-filled collection
 2 mengalami osteomielitis.
 Tingkat infeksi pasien yang dibawa ke rumah sakit dalam waktu 6 jam adalah 11% sedangkan pasien yang dioperasi
setelah 6 jam 12,1%
 (P> 0,05) menunjukan tidak ada hubungan signifikansi ketika membandingkan pasien dengan infeksi dalam kategori
Grade IIIA dan IIIB, juga tidak ada signifikansi yang terkait dengan fraktur kominuti.
 Dari 12 pasien yang mengalami infeksi, 10 tidak memiliki penyakit medis yang signifikan sebelumnya seperti
diabetes, obesitas, atau hipertensi.
 Tidak ada hubungan statistik antara infeksi dengan manajemen penanganan open frakture tibia baik itu yang < 6
jam dan > 6 jam
KESIMPULAN

 Data yang dikumpulkan selama dekade terakhir menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan
dalam hal waktu operasi baik < 6 jam atau > 6 jam hal ini dikarenakan tingkat infeksi tidak tergantung pada
waktu operasi
 Antibiotik harus diberikan sesegera mungkin pada kasus open fraktur tibia.
 Waktu debridemen yang lebih awal tetap penting meskipun terdapat bukti terbatas yang mendukung
“aturan enam jam”
 Tidak ada perbedaan Signifikan antara infeksi dengan metode fiksasi dan komorbiditas pasien.
 Intervensi dasar awal seperti irigasi luka di gawat darurat, dressing dengan antiseptik steril, dan yang paling
penting, pemberian antibiotik spektrum luas intravena memainkan peran penting dalam pencegahan infeksi
open fraktur tibia.
 Waktu operasi sendiri mungkin tidak begitu penting dalam manajemen open frakture tibia
TERIMA KASIH