Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN

KEPERAWATAN
IBU dengan Disusun oleh :
HEMORAGIC POST Kelompok 3
PARTUM
Definisi Postpartum

 Postpartum atau yang biasa disebut masa


nifas pada ibu pasca melahirkan merupakan
periode yang sangat penting untuk
diketahui. Pada fase inilah terjadi beberapa
perubahan pada ibu baik fisiologis maupun
psikologis. (Dyan, 2016)
Definisi Hemoragic
Postpartum

 Perdarahan postpartum adalah perdarahan


lebih dari 500cc yang terjadi setelah bayi
lahir pervaginam atau lebih dari 500-600 ml
setelah persalinan abdominal, jumlah
perdarahan disebutkan sebagai
perdarahan yang lebih dari normal. Akan
tetapi kehilangan darah sekalipun dengan
jumlah yang lebih kecil dapat menimbulkan
akibat yang berbahaya pada wanita yang
anemis. (Hikmah, 2015)
 Perdarahan dapat terjadi sebelum atau sesedah
lahirnya plasenta. Kondisi dalam persalinan
menyebabkan kesulitan untuk menentukan jumlah
perdarahan yang terjadi,
 menyebabkan perubahan tanda vital, antara lain
pasien mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin,
menggigil, hiperpnea, tekanan darah sistolik < 90
mmHg, denyut nadi > 100 x/menit, kadar Hb < 8
g/dL. Perdarahan postpartum sangat mempengaruhi
morbiditas nifas karena anemia mengurangkan daya
tahan tubuh. Tori (Sutherland, Suellen
Miller,dkk.2013).
 (pasien mengeluh lemah, limbang, berkeringat dingin,
menggigil, hiperpnea, sistolik <90 mmHg, nadi
>100x/mnt, kadar Hb <8 g%). (Syaifudin, 2006)
Etiologi

 Plasenta tertahan
 Laserasi pada jalan lahir
 DIC (Disseminated Intravascular Coagulation)
 Tumor pada uterus atau serviks
 Inversi uterus
 Komplikasi medis seperti defisiensi vitamin K
 Infeksi
 Subinvolusi uterus
 Atonia uteri
Pembagian

1. Perdarahan Post Partum Dini / Perdarahan Post


Partum Primer (early postpartum hemorrhage)
Perdarahan post partum dini adalah perdarahan
yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah kala
III.

2. Perdarahan pada Masa Nifas / Perdarahan Post


Partum Sekunder (late postpartum hemorrhage)
Perdarahan pada masa nifas adalah perdarahan
yang terjadi pada masa nifas (puerperium) tidak
termasuk 24 jam pertama setelah kala III.
Manifestasi Klinis

 Antonia Uteri
 Robekan jalan lahir
 Retensio plasenta
 Tertinggalnya sisa plasenta
 Inversio uterus

Terjadi perdarahan rembes atau mengucur, saat


kontraksi uterus keras, darah berwarna merah muda,
bila perdarahan hebat timbul syok, padapemeriksaan
inspekulo terdapat ronekan pada vagina, serviks
atauvarises pecah dan sisa plasenta tertinggal.
Gejala klinis berdasarkan
penyebab:
1. Perdarahan karena atonia uteri :
 Uterus tdk berkontraksi dan lembek
 Perdarahan segera stlh bayi lahir
 Darah berwarna merah tua karena berasal dari vena
 Kadang timbul syok (TD rendah, nadi cepatdan kecil,
ekstermitas dingin, gelisah, mual dll).

2. Perdarahan karena robekan cervix :


 Kontraksi uterus kuat
 Perdarahan segera, drh segar mengalir segera stlh bayi lahir
 Darah berwarna merah muda karena berasal dari arteria
 Biasanya timbul setelah persalinan operatif
 Kadang timbul pucat, lemah, menggigil.
3. Retensio plasenta
 Plasenta blm lahir sampai 30 mnt, perdarahan segera,
kontraksi uterus baik
 Gejala yg kadang timbul : tali pusat putus krn traksi
berlebihan, inversi uteri akibat tarikan,perdarahan
lanjutan

4. Tertinggalnya sisa plasenta


 Plasenta atau sebagian selaput tdk lengkap, perdarahan
segera.
 Gejala kadang timbul : uterus kontraksi baik, tp TFU
tdk berkurang.

5. Inversio uteri
 Uterus tdk teraba, lumen vagina terisi massa, tampak
tali pusat (jika plasenta blm lahir), perdarahan segera
 Nyeri sedikit sampai berat
 Kadang timbul : syok neurogenik dan pucat
Faktor risiko

 Riwayat persalinan yg kurang baik (riwayat


HPP persalinan yg lalu, grandemulti,jarak
kehamilan dekat, bekas SC,pernah abortus
 Riwayat persalinan sekarang (kala 2 terlalu
cepat, uterus teregang berlebihan :
polihidramnion, gemelli, janin besar), uterus
kelelahan (persalinan lama), uterus lembek
krn narkose, inversi uteri.
Menurut Claudio, 2010 bahwa perdarahan postpartum
dalam pengiriman vagina lebih sering terjadi pada:

 Nulipara
 Multipara
 Lama dan ditambah tenaga kerja
 Preeklamsia
 Setelah episiotomi
 Kehamilan ganda
 Forceps atau pengiriman vakum
 Asia atau etnis Hispanik
 Retensi plasenta
3 hal yg perlu diperhatikan dlm
menolong persalinan dg
komplikasi perdarahan

 Menghentikan perdarahan
 Mencegah timbulnya syok
 Mengganti darah yg hilang
Penanganan/penatalaksan
aan
 Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi
lokasi laserasi dan sumber perdarahan
 Lakukan irigasi pada tempat luka dan
berikan larutan antiseptik.
 Jepit dengan klem sumber perdarahan
kemudian ikat dengan benang yang dapat
diserap.
 Lakukan penjahitan
Pencegahan

 Memberikan obat oksitosin 10 IU segera


setelah bahu bayi lahir
 Melakukan penegangan tali pusat terkendali
 Masase uterus segera setelah plasenta
dilahirkan agar uterus tetap berkontraksi.
Komplikasi

 Segera : syok hipovolemik dan kematian krn


perdarahan tiba2 dan berlebihan.
 Tertunda : anemia, infeksi puerperal dan
tromboembolisme.
KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian

a. Identitas klien :
Sering terjadi pada ibu usia dibawah 20 tahun dan
diatas 35 tahun.
b. Keluhan utama :
Perdarahan dari jalan lahir, badan lemah, limbung,
keluar keringat dingin, kesulitan nafas, pusing,
pandangan berkunang-kunang
c. Riwayat Peyakit sekarang :
Kehilangan darah dalan jumlah banyak (>500 ml),
nadi lemah, pucat, lokea berwarna merah, haus,
pusing, gelisah, letih, TD rendah, ekstremitas dingin,
dan mual.
d. Riwayat kesehatan dahulu :
Riwayat hipertensi dalam kehamilan,
preeklamsi/eklamsia, bayi besar, gamelli,
hidroamnion, grandmulti gravida, primimuda, anemia,
perdarahan saat hamil. Persalinan dengan tindakan,
robekan jalan lahir, partus precipitatus, partus
lama/kasep, chorioamnionitis, induksi persalinan,
manipulasi kala II dan III.
e. Riwayat kesehatan keluarga :
Keluarga mempunyai riwayat hipertensi.
f. Pola fungsi kesehatan :
 Pola nutrisi dan metabolisme
- Nafsu makan menurun
 Pola eliminasi
- Penurunan BAK, konstipasi
 Pola kebutuhan cairan dan elektrolit
- Dehidrasi
 Pola aktivitas
- Kelemahan, malaise umum
- Kehilangan produktifitas
- Kebutuhan istirahat dan tidur lebih banyak
 Pola integritas ego
- Cemas dan ketakutan
 Pola seksualitas
- Terjadi perdarahan per vagina
- Tinggi fundus uteri menurun dengan lambat
g. Pemeriksaan fisik
1. Status kesehatan umum
Keadaan umum lemah, nyeri kepala dan abdomen, gelisah dan cemas.
sementara kesadaran menurun sampai apatis. tanda-tanda vital
terjadi penurunan tekanan darah (hipotensi), takikardi, peningkatan
suhu dan takipnea
 Kepala
Nyeri kepala, muka pucat, mukosa bibir kering, gangguan
penglihatan atau mata berkunang-kunang, berkringat dingin.
 Dada
Takipnea dan takikardi, kesulitan bernafas.
 Abdomen
Fundus uteri lembek, tidak ada kontraksi uterus
 Genetalia
Keluar darah dari vagina, lochea dalam jumlah lebih dari 500cc, dan
terdapat robekan serviks.
 Ekstremitas
Keluar keringat dingin, lemah, malaise, CRT > 3 detik
h. Pemeriksaan diagnostik/penunjang
 Pada pemeriksaan jumlah darah lengkap
ditemukan penurunan Hb (<10 mg%),
penurunan kadar Ht (normal 37% - 41%),
dan peningkatan sel darah putih (SDP).
 Pada urinalisis ditemukan kerusakan
kandung kemih.
 Pada sonografi ditemukan adanya jaringan
plasenta yang tertahan.
Diagnosis Keperawatan
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer yang berhubungan
dengan kurang pengetahuan tentang faktor pemberat (mis.,
merokok,gaya hidup monoton, trauma, obesitas, asupan garam,
imobilitas) ditandai dengan edema dan warna kulit pucat saat
elevasi.
2. Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan
cairan aktif ditandai dengan haus dan penurunan pengisian vena.
3. Resiko infeksi yang berhubungan dengan masuknya
mikroorganisme melalui pembuluh darah ditandai dengan
penurunan hemoglobin.
4. Ansietas yang berhubungan dengan ancaman kematian ditandai
dengan gemetar, peningkatan denyut nadi.
5. Nyeri akut yang berhubungan dengan agens cedera fisik
ditandadai dengan kontraksi uterus.
Rencana dan Intervensi
Keperawatan

1. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer


yang berhubungan dengan kurang pengetahuan
tentang faktor pemberat (mis., merokok,gaya
hidup monoton,trauma,obesitas,asupan
garam,imobilitas) ditandai dengan edema dan
warna kulit pucat saat elevasi
 Tujuan : tanda vital dan gas darah dalam
batas normal
 Rencana tindakan :
 Monitor tanda vital tiap 5-10 menit
 Rasional : perubahan perfusi jaringan yang menimbulkan
perubahan pada tanda vital.
 Catat perubahan warna kuku, mukosa bibir, gusi dan
lidah, suhu kulit
 Rasional : dengan vasokontiksi dan berhubungan dengan
keorgan vital, sirkulasi di jaringan perifer berkurang
sehingga menimbulkan cyanosis dan suhu kulitnya
dinggin.
 Kaji ada / tidak adanya produksi ASI
 Rasional : perfusi yang jelek menghambat produksi
prolaktin dimana diperlukan dalam produksi ASI
 Tindakan kolaborasi :
 Monitor kadar gas darah dan PH (perubahan gas darah
dan PH merupakan tanda hipoksia jaringan)
 Berikan terapi oksigen (oksigen diperlukan untuk
memaksimalkan trasportasi sirkulasi jaringan)
2. Kekurangan volume cairan yang
berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
ditandai dengan haus dan penurunan pengisian
vena.
 Tujuan : mencegas disfungsional bleeding
dan memperbaiki volume cairan
 Rencana tindakan :
 Tidurkan pasien dengan psisi kaki lebih tinggi sedangkan
badannya tetep terlentang
 Rasional : dengan kaki lebih tinggi akan meningkatkan venous
dan memungkinkan darah ke otak dan organ lainnya.
 Monitor tanda vital
 Rasional : perubahan tanda vital terjadi bila perdarahan
semakin hebat
 Monitor intake dan output setiap 5-10 menit
 Rasional : perubahan output merupakan tanda adanya gangguan
fungsi ginjal
 Evaluasi kandung kencing
 Rasional : kandung kencing yang penuh menghalangi konraksi
uterus
 Lakukan masage uterus dengan satu tangan serta tangan
lainnya diletakan diatas simpisis
 Rasional : massage uterus merangsang kontraksi uterus dan
membantu pelepasan, plasenta, satu tangan diatas simpisis
mencegah terjadinya inversio uteri
 Batasan pemeriksaan vagina dan rectum
 Rasional : trauma yang terjadi di daerag vagina serta
rectum meningkatkan terjadinya pendarahan yang lebih
hebat, bila terjadi laserasi dan serviks / perineum atau
terdapat hemotom.
 Tindakan kolaborasi:
 Berikan infus atau cairan intravena
 Rasional : cairan intravena mencegah terjadinya syok
 Berkan uetro tonika (bila perdarahan karena atonia
uteri)
 Rasional : uterotonika merangsang kontraksi uterus dan
mengontrol perdarahan
 Berikan antibiotik
 Rasional : antibiotik mencegah infeksi yang mungkin
terjadi katena perdaraha subinvolusio
 Berikan transfusi whole blood (bila perlu)
 Rasional : whole blood membantu menormalkan volume
cairan tubuh