Anda di halaman 1dari 35

PERLINDUNGAN HUKUM

TERHADAP PERAWAT DARI


TINDAKAN KEKERASAN DALAM
PELAYANAN KESEHATAN

DISAMPAIKAN PADA ACARA SEMINAR KEPERAWATAN


DI HOTEL BROTHERS SOLO BARU
MINGGU, 12 AGUSTUS 2018
PARADIGMA BARU PELAYANAN KESEHATAN

Patient-Family centered care’ sebagai “asuhan


yang menghormati dan responsif terhadap pilihan, kebutuhan


dan nilai-nilai pribadi pasien. Serta memastikan bahwa nilai-
nilai pasien menjadi panduan bagi semua keputusan klinis”
Pelayanan Profesi
(professional services)

Selalu berbasis kompetensi kompetensi professional


(professional competence).
Mencakup sikap, tingkah laku profesi, etika profesi, pengetahuan
ilmiah dan teknologi professional, serta keterampilan
professional; dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
HAK DASAR PASIEN DALAM PELAYANAN KESEHATAN

Hak pasien
Hak pasien untuk mendapatkan Hak pasien
mendapatkan pelayanan kesehatan menentukan nasibnya
informasi (the right sesuai standar (the sendiri (the right self
self to information) right self to health to determination)
care)

Hak pasien Hak pasien


mendapatkan mendapatkan
perlindungan atau
privacy (the right self informasi pihak kedua
to protection of (the right self to
privacy) second opinion)
REGULASI
• UU No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 27 ayat 1
• “Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan dan
pelindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai
dengan profesinya”.
• Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga
Kesehatan pasal 57
• “Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik memperoleh
perlindungan hukum sesuai dengan standar profesi, standar
pelayanan rumah sakit, standar prosedur operasional
yang berlaku, etika profesi, menghormati hak pasien dan
mengutamakan keselamatan pasien
• UU No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit Pasal
29 Ayat 1
• “RS mempunyai kewajiban melindungi dan
memberikan bantuan hukum semua petugas
rumah sakit dalam melaksanakan tugas”
• UU No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit Pasal
30 Ayat 1
• “ RS mempunyai hak mendapatkan perlindungan
hukum dalam melaksanakan pelayanan
kesehatan”
• UU No 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan
Pasal 36 Ayat 1
• Perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan
berhak memperoleh pelindungan hukum sepanjang
melaksanakan tugas sesuai dengan standar
pelayanan, standar profesi, standar prosedur
operasional, dan ketentuan Peraturan Perundang-
undangan;
Latar belakang
Setiap orang berhak untuk mendapat
perlindungan hukum atas apa yang
dilakukannya dalam menjalankan tugas
profesinya.

Perawat seringkali menjadi sasaran


kemarahan pasien atas pelayanan
Rumah Sakit.

Persepsi masyarakat yang masih


memandang rendah profesi ini.
• Perlindungan hukum adalah suatu perlindungan
yang diberikan kepada subyek hukum sesuai
dengan aturan hukum, baik itu yang bersifat
preventif (pencegahan) maupun dalam bentuk
yang bersifat represif (pemaksaan), baik yang
secara tertulis maupun tidak tertulis dalam rangka
menegakkan peraturan hukum.
• Perlindungan hukum merupakan
gambaran dari bekerjanya fungsi
hukum untuk mewujudkan tujuan-
tujuan hukum, yakni keadilan,
kemanfaatan dan kepastian hukum.
Menurut Hadjon seorang pakar Hukum Administrasi
Negara UNAIR, bahwa perlindungan hukum bagi rakyat
atau seseorang
• Pertama: Perlindungan Hukum Preventif, yakni bentuk
perlindungan hukum dimana kepada rakyat atau
seseorang diberi kesempatan untuk mengajukan
keberatan atau pendapatnya sebelum suatu keputusan
pemerintah mendapat bentuk yang definitif;
• Kedua: Perlindungan Hukum Represif, yakni bentuk
perlindungan hukum dimana lebih ditujukan dalam
penyelesian sengketa.
Pelaku
berhubungan Keluarga pasien
dengan perawat dan atau pasien

Pelaku
mempunyai Dokter, teman
Pelaku verbal sejawat
bullying terhadap hubungan
perawat pekerjaan dengan
Perawat

Verbal bullying Dimarahi, dihina,


yang dialami oleh beda pendapat,
perawat berantem, dibentak
• National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH),
yaitu sebuah Lembaga Keselamatan dan Kesehatan Kerja
berbasis di Amerika Serikat yang fokus meneliti dan berjuang
menegakan Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
menyatakan, bahwa kekerasan di rumah sakit dapat terjadi pada
siapa saja, baik perawat, dokter maupun pekerja lainnya (tenaga
administrasi,petugas kebersihan maupun petugas keamanan).
• "Namun, karena perawat yang lebih sering kontak langsung dan
menghabiskan waktu lebih lama dengan pasien dan keluarganya,
maka perawat yang paling rentan mengalami kekerasan
dibanding profesi lain," ungkap NIOSH, sebagaimana tertuang
dalam latar belakang penelitian, Stanly Rawung, Jimmy
Panelewen, dan Steven R. Sentinuwo dari Universitas Sam
Ratulangi Manado, berjudul, "Faktor - Faktor yang Berhubungan
dengan Kekerasan pada Perawat Instalasi Gawat Darurat (IGD)
Rumah Sakit di Kota Manado." yang dipublikasikan di
ejournalhealth.com terbitan tahun 2017.
Menurut Gillespie Gates dalam
penelitiannya “Violence Against Nurses
and its impact on stress and
productivity” risiko tindakan kekerasan
pada perawat empat kali lebih besar
saat di IGD / UGD.
Seorang perawat di Holon, Tel Aviv, Israel tewas
dibakar hidup-hidup oleh pasien karena tak puas
dengan pelayanan yang diterimanya.
• Tova Kararo, sebelumnya terlibat adu mulut
dengan si pasien, sampai akhirnya pasiennya
kesal dan membakar Kararo yang sedang tidur
pulas.

Di Jepang, seorang perawat


tewas ditusuk oleh orang
suruhan pasiennya karena
operasi plastik wajah yang gagal.
Selain kekerasan dari pasien, para
perawat juga kerapkali mendapatkan
kekerasan dari dokter.

Seperti yang terjadi Bandar Lampung sekitar


lima tahun lalu, seorang perawat dipukul oleh
salah seorang dokter hingga hidungnya luka.

Seorang perawat juga pernah harus


menerima pukulan dari seorang dokter di
kamar bedah.
• Hal ini diperkuat oleh penelitian Michelle
Christlevica pada perawat di Instalasi Gawat
Darurat Rumah Sakit Advent (RSA) Bandung yang
dimuat pada Jurnal Skolastik Keperawatan edisi
Januari-Juni 2016 mengungkapkan pelaku
kekerasan terhadap perawat di IGD RSA Bandung
selain pasien juga keluarga pasien, dan dokter.
Semua responden penelitian tersebut
mengatakan penyebab kekerasan yang terjadi di
IGD dikarenakan ketidakpuasan dari pasien.
• Seperti merasa tersinggung, perawat terlalu banyak
bertanya, atau pelayanan yang lama.

Penyebab kekerasan oleh dokter dikarenakan


ketidakpuasan

• seperti penjelasan yang kurang, perawat merasa tidak adil,


prosedur yang dilakukan perawat sangat lama, kesibukan
yang berlebihan, dan bercanda yang berlebihan.
Penelitian Michelle juga mengungkapkan beragam perlakuan kasar
serta kekerasan verbal yang didapat para perawat pada akhirnya
menimbulkan dampak intelektual, seperti bertambahnya beban
pikiran, kurang fokus, hingga membuat enggan untuk menjalankan
tugas.

Dua dari enam responden penelitian itu mengatakan


tindak kekerasan menimbulkan dampak sosial,
menjadi pendiam, dampak fisiologis : capek fisik, tidak
bisa tidur.
Serta dampak afektif, yakni perasaan tidak nyaman
dan emosional.
Penelitian Veny Elita terhadap 61 RESPONDEN di
RSJ Tampan Pekanbaru juga menggambarkan hal
yang tak jauh berbeda.
• Terjadi tindakan perilaku kekerasan berupa ancaman
fisik kepada perawat sebanyak 79%,
• Penghinaan kepada perawat 77%,
• Kekerasan verbal sebanyak 70%.
• Lebih dari separuh responden, yakni 51% mengalami
kekerasan fisik yang berakibat cedera ringan.
• Sebagian kecil responden, 20% pernah mengalami
kekerasan fisik yang menyebabkan cedera serius.
Perawat wanita lebih sering mengalami
gangguan
• Yang berhubungan dengan seksual lebih
banyak jumlahnya yaitu 10 orang (16,4%)
dibandingkan perawat laki-laki sebanyak 3
orang (4,92%).
• Sementara perawat berumur 31-50 tahun,
yakni sebanyak 7 orang paling banyak
mengalami ancaman (16,2%).
Diperkirakan hanya kurang
dari 30% perawat yang
pada akhirnya melaporkan
masalah mereka.
Kebanyakan memilih untuk
mengalah karena tak mau
cari ribut.
“Sebagai perlindungan
kepada institusi juga, kalau
lapor-lapor bisa dianggap
memberikan citra buruk
pada rumah sakit,”
• Para perawat punya risiko mengalami perilaku
kekerasan verbal maupun serangan secara fisik.
• Akar dari masalah ini salah satunya bisa dipicu dari
persepsi publik terhadap profesi seorang perawat
pada umumnya.
• “Seringkali pasien komplain masalah pelayanan
dokter ke perawat, padahal saat dokternya datang,
mereka diam saja”. Tak berani bicara
DATA KEKERASAN TERHADAP PERAWAT
• Medianers ~ Tersiar kabar, tindakan penganiayaan dan kekerasan
masih terjadi pada Perawat saat menjalankan tugas. Paling
menyedihkan meninggalnya Perawat Berny Fellery Kunu, berusia
24 tahun, di Kampung Yabasorom, Distrik Pamek, Kabupaten
Pegunungan Bintang, Propinsi Papua, pada hari Kamis (29/3
2018) lalu.
• Diduga, Perawat Berny Fellery Kunu dianiaya dan dibunuh oleh
sekelompok orang bersenjata, saat menjalankan tugas perawatan
komunitas pada masyarakat pedalaman.Terkait apa motif
pembunuhan belum diketahui secara pasti. Yang jelas, tindakan
kekerasan yang berakhir dengan kematian tersebut, mendapat
kecaman keras dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia
(PPNI).
• Di Instalasi Gawat Darurat, Rumah Sakit Umum
Daerah Abdoel Moeloek (RSUDAM) Lampung, terjadi
pula penganiayaan dan pengeroyokan terhadap
seorang perawat bernama Fery Fadly.
• Kasus pengeroyokan ini berawal saat Fery
menyampaikan aturan di IGD. Diduga, keluarga
pasien tak terima saat ditegur Fery, agar bisa tertib,
lalu terjadi pengeroyokan oleh 4 orang keluarga
pasien, hingga Fery dirawat. Sementara kasus ini
sedang dalam proses pengusutan oleh pihak
kepolisian.
• Tanggal 15 Maret 2018, terlihat jelas rekaman CCTV
pengeroyokan terhadap Perawat oleh tiga orang
keluarga pasiensaat bertugas di salah satu rumah
sakit di daerah Sulawesi Utara.
• Saat Medianers konfirmasi via messenger, Perawat
bernama Asael Saerang mengaku, " kasus
pengeroyokan terhadap saya, sudah ditangani oleh
pihak yang berwajib dan saat ini para pelaku
sebanyak 3 orang sudah ditahan di Polres. Sekarang
Saya sedang menunggu untuk panggilan berikutnya,"
jelas beliau.
• Persepsi masyarakat menganggap perawat lebih
rendah dari dokter. Sehingga, pasien atau keluarga
atau lainnya merasa berhak untuk melakukan
kekerasan kepada perawat. “Padahal, terkadang itu
bukan salah kita, tapi memang sistem atau
pelayanan dokternya yang kurang. Kita dianggap
pembantu dokter jadi bisa seenaknya marah-marah.”
• Ia membenarkan bahwa kekerasan tak hanya didapat
perawat dari pasien, tapi juga dokter. Beberapa
kasus di Indonesia malah melibatkan dokter sebagai
pelaku kekerasan fisik kepada perawat. “Di Indonesia
belum ada kasus hingga hilangnya nyawa seorang
perawat. Tapi kekerasan fisik sudah sering kita
terima,”
FAKTOR PEMICU KEKERASAN
TERHADAP PERAWAT
Banyak faktor sebagai pemicu terjadinya kekerasan pada
Perawat di tempat kerja.
• Salah satunya, karena kontak dengan publik yang begitu luas dan akses terbuka
hingga 24 jam menjadikan Perawat dan petugas kesehatan lainnya berisiko
mengalami kejahatan di tempat kerja.

Faktor risiko lainnya, seperti diutarakan NIOSH, adalah karena :

• Lingkungan fisik pelayanan kesehatan yang kurang baik,


• Ruangan tunggu yang tidak nyaman dan terlalu padat,
• Jumlah staf yang kurang,
• Petugas kemanan yang kurang,
• Akses publik yang tidak dibatasi,
• Kurangnya pelatihan untuk mengenal dan menghadapi potensi kekerasan,
• Peningkatan jumlah pasien yang menderita sakit mental akut dan kronis yang
datang berobat ke IGD.
Mengapa hal ini bisa terjadi

Menurut UU No 38 tahun 2014 Tentang Keperawatan Pasal 36


secara umum perawat memiliki kewajiban diantaranya “
menghormati hak pasien, memberi informasi, meminta persetujuan
terhadap tindakan yang akan dilakukan dan memberikan
pelayanan keperawatan sesuai dengan standar profesi dan kode
etik keperawatan”.

Sehingga kewajiban perawat tersebut menjadi


hak bagi pasien.
Mengapa hal ini bisa terjadi

“Hubungan antara prawat dan pasien merupakan


hubungan hukum (perjanjian) yang menimbulkan
hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak.

Oleh karena itu, aspek keperdataan dalam


pelayanan keperawatan berpokok pangkal pada
hubungan pasien dan perawat.
• Adanya kesepakatan antar pihak, bebas dari
Dalam KUH paksaan, kekeliruan dan penipuan.
Perdata BW Pasal • Para pihak cakap untuk membuat perikatan
1320 memuat 4 • Adanya suatu sebab yang halal, yang dibenarkan,
syarat sahnya dan tidak dilarang oleh peraturan perundang
undangan serta merupakan sebab yang masuk
suatu perjanjjian akal untuk dipenuhi.

Jika sepakat maka


berlaku sebagai
undang-undang
bagi kedua belah
pihak (Pasal 1338
KUH Perdata)
Solusi Mengatasi Kekerasan Pada Perawat
Mengutip dari penelitian Stanly Rawung,dkk, bahwa menyarankan, "bagi
manajemen rumah sakit, penting untuk memberikan pendidikan dan pelatihan
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi yang efektif dan
penerapan teknik deeskalasi untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan dari
pasien maupun keluarganya demi keselamatan petugas maupun pasien."

Disarankan juga tiap-tiap rumah sakit perlu membuat sistem


pelaporan tertulis mengenai kekerasan yang dialami oleh
petugas kesehatan di rumah sakit, sehingga dapat menjadi
data aktual untuk mengenal potensi.
Sementara itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan zero tolerance
terhadap tindakan kekerasan pada insan kesehatan yang bertugas dimana saja.
Zero tolerance, adalah sebuah kebijakan yang memberikan hukuman berat bagi
para pelanggar suatu aturan, dengan tujuan menyingkirkan para pelanggar
tanpa pandang bulu.
DALAM HAL APA PRAKTIK TENAGA KESEHATAN
DIANGGAP BURUK ATAU SALAH ?