Anda di halaman 1dari 18

Gangguan Pendengaran Akibat

Bising Kerja

Letidebora ET
102012300
D6
Bising
 Bising adalah suara atau bunyi yang mengganggu atau
tidak dikehendaki.
 NAB : 85 dBA 8 jam/hari
 Intensitas bising yang tinggi dan lama terpapar bising
dapat menimbulkan ketulian.
Evaluasi Pendengaran:
1. Test berbisik
2. Test rinne/weber
3. Audiometri nada murni
4. Otoskopi
Dampak Kesehatan
Auditori :
 Trauma akustik
 Tuli sementara
 Tuli menetap/permanen

Non-auditori :
 Gangguan komunikasi
 Gangguan fisiologis
 Gangguan perilaku
Diagnosis Okupasi
1. Diagnosis klinis
2. Pajanan yang dialami
3. Hubungan pajanan dengan penyakit
4. Jumlah pajanan
5. Faktor individu
6. Faktor lain diluar pekerjaan
7. Menentukan diagnosis PAK
1. Diagnosis Klinis
Anamnesis :
 Berapa lama bekerja
 Pekerjaan sebelumnya
 Alat kerja, bahan kerja, proses kerja
 Waktu kerja perhari
 Pajanan yg dialami
 Pemakaian APD
 Pekerja lain yg mengalami hal sama
Pemeriksaan Penunjang dan tempat kerja :
 Sound Level Meter (SML)
 Audiometri nada murni
 Dosimeter
2. Pajanan yang dialami
 Frekuensi kebisingan
 Intensitas kebisingan
 Lama waktu paparan
 Lama bekerja
 Jarak dari sumber suara
3. Hubungan Pajanan-Penyakit
 Lamanya pemaparan bising berpengaruh terhadap
munculnya suatu penyakit.
 Pasien bekerja di pabrik mobil bag.perakitan dgn
intensitas 100 dBA.
 Tahapan yg terjadi adaptasi, peningkatan ambang
dengar sementara  hearing loss
4. Jumlah Pajanan
 Adanya gangguan pada organ sensorik auditorik
bersamaan dengan kerusakan sel sensorik atau
kerusakan total organ corti didalam koklea.
 Pajanan yg lama dan intensitas bising melebihi NAB.
 Pengukuran besarnya pajanan ditempat kerja dgn
SML.
Pemakaian APD :
5. Faktor Individu
 Kondisi fisik
 Status mental
 Riwayat penyakit dlm keluarga
 Higiene perorang
6. Faktor Lain diluar Pekerjaan
 Hobi
 Kebiasaan
 Pajanan yang ada dirumah
 Pekerjaan sambilan
 Riwayat pekerjaan dahulu
7. Diagnosis PAK

 Gangguan Pendengaran Akibat Pekerjaan ( Noise


Induce Hearing Loss)
Penatalaksanaan
 Pindah kerja / pindah bagian
 Gunakan APD
 Alat bantu dengar
 Latihan pendengaran
 Membaca gerakan bibir
 Rehabilitasi
Preventif
1. Pengukuran pendengaran
2. Pengendalian suara bising
3. Analisa bising
4. Pengendalian administratif
5. APD
6. Pelatihan dan pendidikan / penyuluhan
7. MCU
Prognosis
 Tuli akibat bising sifatnya menetap, maka yng perlu
diperhatikan adalah tindakan preventif yg sesuai dan
tepat.
Kesimpulan
 Bising dalam intensitas dan frekuensi tertentu dapat
menyebabkan ketulian yg bersifat permanen.
Pemeriksaan fisik audiometri secara berkala dan MCU
diperlukan untuk melakukan diagnosis dini.
 Pasien mengalami gangguan pendengaran akibat kerja
(noise induce hearing loss). Hal terpenting yg dapat
dilakukan adalah tindakan preventif.