Anda di halaman 1dari 38

HIV / AIDS

Medical Education Laboratory


OVERVIEW
Demam < 7 hari Demam > 7 hari
• Chikungunya • Tifus abdominalis
• DHF • Malaria
• Pneumonia • Leptospirosis
• Lymphadenitis TB, TB abdomen, TB
• Varicella
Millier
• Encephalitis, Meningitis • Hepatitis kronis
• ISK • Keganasan (Hodgkin lymphoma, NHL,
• Faringitis neuroblastoma)
• Mastoiditis • HIV / AIDS
• Penyakit autoimun (SLE)
OVERVIEW
Demam < 7 hari Demam > 7 hari
• Chikungunya • Tifus abdominalis
• DHF • Malaria
• Leptospirosis
• Pneumonia
• Lymphadenitis TB, TB abdomen, TB
• Varicella Millier
• Encephalitis, Meningitis • Hepatitis kronis
• ISK • Keganasan (Hodgkin lymphoma, NHL,
neuroblastoma)
• Faringitis
• HIV / AIDS*
• Mastoiditis
• Penyakit autoimun (SLE)
OVERVIEW
Definisi

Etiologi,
Pemeriksaan
Transmisi,
Penunjang
Patogenesis

Tatalaksana Diagnosis
OVERVIEW
Definisi

Etiologi,
Pemeriksaan
Transmisi,
Penunjang
Patogenesis

Tatalaksana Diagnosis
HIV & AIDS
Definisi

• HIV (Human immunodeficiency virus) adalah virus famili


retroviridae yang menyerang sel-sel kekebalan tubuh

• AIDS (Acquired immunodeficiency syndrome) = kumpulan gejala


atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan
tubuh akibat infeksi oleh virus HIV (tahap akhir dari infeksi HIV)

Djoerban Z, Djauzi. HIV/AIDS di Indonesia. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi ke-VI. Setiati, dkk (eds). 2014.
Jakarta Pusat : InternaPublishing. P887-87
OVERVIEW
Definisi

Etiologi,
Pemeriksaan
Transmisi,
Penunjang
Patogenesis

Tatalaksana Diagnosis
Etiologi & Transmisi
Etiologi

• Human Immunodeficiency Virus


• Familiy : Retroviridae
• Genus : Lentivirus
• RNA virus
• HIV-1 (Global) , HIV-2 (West Africa)

Transmisi

• Kontak seksual tanpa pengaman


• Produk darah
• Dari ibu ke janin

Djoerban Z, Djauzi. HIV/AIDS di Indonesia. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi ke-VI. Setiati, dkk (eds). 2014.
Jakarta Pusat : InternaPublishing. P887-87
HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS

Swiss Intitute of Bioin Formatics


PATOGENESIS

http:// HIV tanpa komplikasi.slideshare


OVERVIEW
Definisi

Etiologi,
Pemeriksaan
Transmisi,
Penunjang
Patogenesis

Tatalaksana Diagnosis
DIAGNOSIS HIV
HIV (Diagnosis : 2 Mayor + 1 Minor) AIDS
• Kriteria Mayor : • (+) IO atau CD4 < 350 sel/mm3
– Penurunan BB ≥ 10%
– Demam > 1 bulan
– Diare > 1 bulan
• Kriteria Minor :
– Batuk > 1 bulan
– Generalized pruritic dermatitis
– Riwayat Herpes Zoster
– Candidiasis orofaring
– Herpes Simpleks Disseminata
– Generalized lymphadenopathy

Djoerban Z, Djauzi. HIV/AIDS di Indonesia. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi ke-VI. Setiati, dkk (eds). 2014.
Jakarta Pusat : InternaPublishing. P887-87
STADIUM KLINIS HIV
Stadium Keterangan
I • Tidak ada gejala
• Limfadenopati generalisata persisten
II • BB  <10% BB dasar yang tidak diketahui penyebabnya
• Infeksi saluran nafas berulang (sinusitis, tonsilitis, otitis media,
faringitis)
• Herpes zoster
• Kelitis angularis
• Ulkus mulut berulang
• Ruam kulit (papul gatal/ papular pruritic eruption)
• Dermatitis seboroik
• Infeksi jamur pada kuku
Djoerban Z, Djauzi. HIV/AIDS di Indonesia. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi ke-VI. Setiati, dkk (eds). 2014.
Jakarta Pusat : InternaPublishing. P887-87
STADIUM KLINIS HIV (lanjutan)
Stadium Keterangan
III • BB  > 10% dari BB dasar yang tidak diketahui penyebabnya
• Diare kronis > 1 bulan tanpa penyebab yang jelas
• Demam menetap tanpa penyebab yang jelas
• Oral hairy leukoplakia
• TB paru
• Infeksi bakteri berat (contoh: pneumonia, meningitis, infeksi tulang
atau panggul)
• Stomatitis nekrotikans ulseratif akut, gingivitis, periodontitis
• Anemia yang tidak diketahui penyebab (Hb <8 g/dl), netropeni (<0,5 x
10 g/dl) dan/ atau trombositopenia kronis (<50 x 10 g/dl)

Djoerban Z, Djauzi. HIV/AIDS di Indonesia. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi ke-VI. Setiati, dkk (eds). 2014.
Jakarta Pusat : InternaPublishing. P887-87
STADIUM KLINIS HIV (lanjutan)
Stadium Keterangan
IV • Sindrom wasting HIV • Pneumonia kriptokokus ekstrapulmoner,
• Pneumonia Pneumocystis jiroveci termasuk meningitis
• Pneumonia bakteri berat berulang • Infeksi mycobakteria non Tb yang
• Infeksi herpes simplex kronis menyebar
• Kandidiasis esofageal/ trakea/ • Leukoencephalopathy multifocal
bronkus/ paru progresif
• TB ekstra paru • Cryptosporodiosis kronis
• Sarkoma kaposi • Isosporiasis kronis
• Penyakit cytomegalovirus • Mikosis diseminata
• Toksoplasmosis di SSP • Septikemia berulang
• Ensefalopati • Limfoma
• Karsinoma cervix invasif
• Leishmaniasis diseminata atipikal
• Nefropati/ kardiomiopati terkait HIV
Djoerban Z, Djauzi. HIV/AIDS di Indonesia. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi ke-VI. Setiati, dkk (eds). 2014.
Jakarta Pusat : InternaPublishing. P887-87
OVERVIEW
Definisi

Etiologi,
Pemeriksaan
Transmisi,
Penunjang
Patogenesis

Tatalaksana Diagnosis
TES HIV

Prinsip 5c :
 Counseling
 Consent
 Confidentially
 Correct test results
 Connection to care, treatment, and prevention services

Macam pendekatan tes HIV :


1. VCT (Voluntary counseling & testing)
2. PICT (Provider-Initiated Testing and Counseling)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengobatan Antiretroviral. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 : 1-12
TARGET PEMERIKSAAN

Kebijakan pemerintah untuk dilaksanakan di pelayanan kesehatan. Pemeriksaan


dilakukan pada :
Ibu hamil
Pasien TB
Pasien yang menunjukkan tanda dan gejala HIV,
Pasien berisiko
Pasien IMS
Seluruh pasangan seksualnya

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengobatan Antiretroviral. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 : 1-12
Pedoman Nasional Tes & Konseling HIV-AIDS

VCT PITC
Target Sehat + risiko Sakit (gejala HIV) + risiko
Sakit non-HIV + risiko Sakit non-HIV + risiko
Inisiatif Voluntary Opt-out
**Kecuali Anda keberatan, maka kami akan
melakukan tes HIV
Pelaksana VCT counselor Dokter/Counselor

Tempat Komunitas Sarana Kesehatan


Sarana Kesehatan
Alur • Konseling pra-tes • Pemberian informasi singkat HIV/AIDS
• Informed Consent • Informed Consent
• Tes HIV • Tes HIV
• Konseling pasca tes • Konseling pasca tes/rujuk ke VCT

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengobatan Antiretroviral. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 : 1-12
STRATEGI PEMERIKSAAN HIV
Strategi 1
Pemilihan reagensia strategi I :
sensitivitas > 99%

Departemen Kesehatan. 2003. Buku Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan bagi
ODHA, Ditjen P2M dan PL.
Strategi 2

Pemilihan reagensia strategi II


(Surveilans) :
- Pertama : Sensitivitas > 99%
- - Kedua : Spesifisitas > 98%

Departemen Kesehatan. 2003. Buku Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan bagi
ODHA, Ditjen P2M dan PL.
Strategi 3

Departemen Kesehatan. 2003. Buku


Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan,
dan Pengobatan bagi ODHA, Ditjen P2M dan
PL.
• Pemilihan reagensia strategi III :
- Pertama : Sensitivitas tertinggi > 99%
- Kedua : Spesifisitas > 98%
- Ketiga Spesifisitas > 99%

• Untuk individu yang baru didiagnosis, hasil reaktif harus dikonfirmasi dengan
melakukan pemeriksaan ulang dengan bahan pemeriksaan baru (perlu diambil
bahan pemeriksaan lagi) yang diambil sedikitnya 14 hari setelahnya.
• Untuk bahan pemeriksaan yang memberikan hasil “indeterminate” perlu
dilanjutkan dengan pemeriksaan konfirmasi Western Blot serta pemeriksaan perlu
diulang dengan bahan baru yang diambil sedikitnya 14 hari sesudah pengambilan
yang pertama.
• Bila hasil pemeriksaan kedua juga “indeterminate”, perlu dipantau ulang lebih lama
yaitu pada 3, 6 atau 12 bulan. Bila hasil tetap menunjukan “indeterminate” setelah 1
tahun, maka individu tersebut dianggap sebagai anti -HIV negatif

Departemen Kesehatan. 2003. Buku Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan bagi ODHA, Ditjen P2M dan PL.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Screening

• Rapid Test

Diagnosis

• ELISA 3 Metode
• Western Blot

Antibodi baru dapat terdeteksi dalam waktu 2 minggu-3 bulan (window period)

Djoerban Z, Djauzi. HIV/AIDS di Indonesia. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi ke-VI. Setiati, dkk (eds). 2014.
Jakarta Pusat : InternaPublishing. P887-87
PEMERIKSAAN PENUNJANG (lanjutan)
Minimal

• Darah lengkap
• Jumlah CD4
• SGOT/SGPT
• HbsAg
• Urinalisis

Dianjurkan

• Kreatinin serum
• Anti-HCV (untuk orang dengan riwayat IDU)
• Profil lipid serum
• Gula darah
• VDRL/ TPHA/PRP
• Rontgen dada (terutama bila ada infeksi paru)
• Tes kehamilan (untuk perempuan usia reproduktif dan harus ditanya HPHT)
• Pap smear/ IFA-IMS (Ca cervix pada ODHA dapat bersifat progresif)

Djoerban Z, Djauzi. HIV/AIDS di Indonesia. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi ke-VI. Setiati, dkk (eds). 2014.
Jakarta Pusat : InternaPublishing. P887-87
OVERVIEW
Definisi

Etiologi,
Pemeriksaan
Transmisi,
Penunjang
Patogenesis

Tatalaksana &
Diagnosis
Pencegahan
TATALAKSANA
• Asupan nutrisi dengan gizi yang baik serta multivitamin.
Suportif • Psikososial dan dukungan agama
• Istirahat yang cukup

Simptomatik • Antipiretik, antiinflamasi, obat diare, dan lain- lain

Antiretroviral • NNRTI, NRTI, PI

• Pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi,


Oportunistik contoh pengobatan pencegahan kotrimoksasol (PPK)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengobatan Antiretroviral. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 : 1-12
TERAPI ARV

2 NRTI + 1
Lini 1
NNRTI
Terapi ARV
PI + Ritonavir
Lini 2
+ 2NRTI
Keterangan:
•NRTI = Nucleoside reverse transcriptase inhibitor
•NNRTI = Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor
•PI = protease inhibitor

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengobatan Antiretroviral. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 : 1-12
REKOMENDASI TERAPI ARV
Target Populasi Stadium Klinis Jumlah sel CD4 Rekomendasi
ODHA I & II > 350 sel/mm3 Belum mulai terapi, monitor
gejala klinis dan jumlah sel CD4
setiap 6-12 bulan
< 350 sel/mm3 Mulai terapi
III & IV Berapapun Mulai terapi
Pasien dengan I-IV Berapapun Mulai terapi
koinfeksi TB
Paisien dengan I-IV Berapapun Mulai terapi
koinfeksi Hep B kronik
aktif
Ibu Hamil I-IV Berapapun Mulai terapi

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengobatan Antiretroviral. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 : 1-12
ARV LINI PERTAMA
Target Populasi Rekomendasi terapi Catatan
Dewasa & anak AZT (atau TDF) + 3TC
(atau Pilihan yang sesuai untuk sebagian
besar pasien
FTC) + EVF (atau NVP)
Gunakan FDC jika tersedia
Ibu hamil AZT + 3TC + EFV (atau NVP) Tidak boleh menggunakan EFV pada
trimester pertama, dapat diganti
dengan TDF
Ko-infeksi HIV/TB AZT (atau TDF) + 3TC (atau Mulai terapi ARV segera setelah terapi
FTC) + EFV TB dapat ditoleransi (antara 2-8
minggu)
Gunakan NVP atau 3NRTI bila EFV
tidak dapat digunakan)
Ko-infeksi HIV/ Hep B TDF + 3TC (FTC) + EFV (atau Pertimbangkan pemeriksaan HbsAg
aktif NVP) terutama bila TDF dipakai sebagai lini
pertama
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengobatan Antiretroviral. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 : 1-12
DOSIS TERAPI ARV
Golongan Nama obat Dosis
NRTI Abacavir (ABC) 300 mg setiap 12 jam

Lamivudine (3TC) 150 mg setiap 12 jam atau 300 mg 1x1

Stavudine (d4T) 40 mg setiap 12 jam


(Jika BB <60 kg = 30 mg setiap 12 jam)

Zidovudine (ZDV/ AZT) 300 mg setiap 12 jam

Tenofovir (TDF) 300 mg 1x1

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengobatan Antiretroviral. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 : 1-12
DOSIS TERAPI ARV (lanjutan)
Golongan Nama obat Dosis
NNRTI Efavirenz (EFV) 600 mg 1x1
Nevirapine (NVP) 200 mg 1x1 (14 hari), kemudian 200 mg setiap 12 jam

PI Lopinavir/ritonavir 400 mg/ 100 mg setiap 12 jam (533 mg/133 mg


(LPV/r) setiap 12 jam bila dikombinasi dengan EFV atau NVP

ART kombinasi AZT-3TC (Duviral) 2x sehari

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengobatan Antiretroviral. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 : 1-12
PENCEGAHAN

Abstain! Be faithful! Condome!

Do get Educate
tested! yourself!

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengobatan Antiretroviral. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 : 1-12
Checkpoint !
Tn. G, usia 28 tahun, datang dengan keluhan demam
dan diare kurang lebih 1 bulan. Pasien ini juga
mengeluh berat badan berkurang drastis. Badan
pasien terasa lebih hangat dari biasanya sejak 2 bulan
yang lalu.. Semula berat badan pasien 70 kg namun
saat ini beratnya hanya 58 kg. Pasien mengatakan hal
itu terjadi karena nafsu makannya berkurang sejak 3
bulan terakhir. Pasien menjalani pola hidup bebas,
tetapi penggunaan jarum suntik disangkal. BTA
sputum (-), Anti HIV (+) dalam tiga kali pemeriksaan.
•Apakah diagnosis untuk kasus di atas?
•Stadium klinis manakah yang sesuai dengan keadaan
pasien saat ini?
meduPEDIA
HIV
• Stadium 1 : limfadenopati generalisata
• Stadium 2 : BB < 10%, Infeksi berulang
• Stadium 3 : BB > 10%, diare kronis > 1
bulan, TB paru, infeksi penyerta berat
• Stadium 4 : sindrom wasting HIV

HIV stadium III, IV 2 NRTI + 1


Lini 1
HIV + TB NNRTI
HIV + Hep B aktif Terapi ARV
HIB + Hamil PI + Ritonavir
Lini 2
+ 2NRTI
Quotes of the day

Pinterest.com
TERIMA KASIH